Tetap Lestarikan Perkawinan dan Perjuangkan Ketahanan Keluarga Featured

04 Mar 2013 Ad. Kusumaningtyas
2048 times

Suasana Auditorium KHM. Rasyidi Kementrian Agama RI yang terletak di Jl. MH. Thamrin Jakarta,  pagi itu Kamis 7 Pebruari 2013 tampak ramai. Beberapa orang masih terlihat mengisi daftar hadir peserta di depan ruangan. Sementara, ruang di dalam auditorium terlihat penuh. Pembukaan acara workshop BP4 dengan judul tema yang cukup panjang “Revitalisasi Peran BP4 dalam Menjawab Tantangan Kehidupan Perkawinan dan Keluarga di Era Teknologi Informasi” tengah berlangsung. Ketua Panitia  Drs.H. Tulus tengah menyampaikan pidato sambutannya. Samar-samar terdengar petikan kalimatnya dalam sambutan. “Suatu  hari, saya melihat ada pasangan kakek-kakek dan nenek-nenek sedang berjalan berduaan mesra sekali. Saya pikir, mereka adalah pasangan yang setia dan harmonis. Namun ternyata saya salah, karena ternyata keduanya adalah pengantin baru…” Lontaran ini beliau sampaikan mengingat begitu banyaknya kasus perceraian di Indonesia, sehingga kemungkinan pasangan tersebut telah menikah untuk kesekian kalinya.

Situasi itu mendasari lahirnya BP4 yang kini merupakan kepanjangan dari  Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Lembaga yang dibentuk pada tanggal 3 Januari 1960 itu hadir karena keprihatinan atas 3 persoalan penting : banyaknya kasus pernikahan di bawah umur,  pernikahan yang tidak tercatat, maupun poligami yang sewenang-wenang. Dalam perkembangannya, BP4 menjadi juru damai bagi pasangan suami-istri yang tengah berselisih, sehingga nama itu dulu adalah akronim dari Badan Penasehatan, Perselisihan Perkawinan dan Perceraian. Secara panjang lebar, sejarah BP4 tersebut dikemukakan oleh Drs.H.Taufiq,  seorang mantan Hakim Agung yang kini mengetuai lembaga tersebut sejak Muktamarnya tahun 2010. Di akhir acara pembukaan disampaikan sambutan tertulis dari Menteri Agama RI Dr. H. Suryadharma Ali yang disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam, Prof.Dr.H.Abdul Jamil, MA.

Acara workshop ini diikuti sekitar 125 orang peserta dengan menghadirkan perwakilan BP4 dari berbagai daerah di Indonesia, maupun undangan dari perwakilan Pengadilan Agama RI, ormas Islam, organisasi non pemerintah atau LSM maupun instansi pemerintah ini sesungguhnya merupakan momen memperingati hari Ulang Tahun BP4 yang ke 50 atau Ulang Tahun Emasnya . Lembaga yang di inisasi oleh KHM. Nazaruddin Latief,  salah seorang pejabat di Kementrian Agama ini awalnya memang merupakan bentukan pemerintah, namun kini berkembang menjadi organisasi yang independen. Dalam momen ini, diberikan apresiasi atau penghargaan terhadap 5 orang tokoh pendiri BP4 yaitu KHM. Nazaruddin Latief  (alm.), Dra.Hj. Aisyah Dahlan (almh.), Dr.H.Ali Akbar (alm.), Dra. Hj.Zubaidah Muchtar dan Dra.Hj.Soehartini Hartono. Melalui acara ini pula, diluncurkan sebuah buku berjudul Buku Panduan Konseling BP4 untuk Konselor BP4 : Perspektif Kesetaraan yang ditulis berdasarkan pengalaman para senior di BP4 dengan bekerjasama dengan Rahima dan menggandeng UNFPA serta Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP dan PA).

Sesi pertama seminar, tiga orang pembicara menyampaikan presentasinya. Sesi yang dimoderatori oleh Dr. Hj. Nurhayati Djamas  ini menghadirkan KH. Dr. Mukhtar Ali, Hj.Khofifah Indar Parawansa dan Dr. Zaim Ukhrowi sebagai pembicara.  KH.Dr. Mukhtar Ali yang merupakan Direktur Urusan Agama Islam (URAIS) menyampaikan presentasi bertemakan Peran dan Fungsi KUA dalam Membangun Ketahanan Keluarga. Khofifah menyajikan 90 slides power point dalam presentasinya berjudul Pendidikan Karakter di Lingkungan Keluarga. Sementara, Dr.Zaim Ukhrowi memaparkan tema Pengaruh Media terhadap Ketahanan Kehidupan Perkawinan dan Keluarga. Sementara pada sesi kedua yang dimoderatori oleh   Bapak Muh. Nadjib Anwar, MH ini menghadirkan pembicara Prof.Dr. Ahmad Mubarok, guru besar Psikologi Islam yang kini juga berkarir sebagai politisi  yang menyampaikan materi mengenai Tantangan Kehidupan Perkawinan dan Keluarga di Era Globalisasi serta Dra.Hj.Zubaidah Muchtar, seorang pelaku sejarah BP4 yang menuturkan refleksinya mengenai BP4 di Masa lalu dan Masa Kini, Revitalisasi Fungsi dan Peran Organisasi BP4.

Banyak isu penting,  pertanyaan maupun komentar yang terlontar dari peserta workshop dalam tanya jawab yang muncul setelah presentasi di masing-masing sesi itu. Di antaranya adalah mengapa KUA dan BP4 dipisahkan? Tidak bisakah kedua ini digabungkan karena sama-sama mengurus soal perkawinan. Bagaimana cara BP4 mendapatkan dana, mengingat dia bukan lagi bagian dari instansi pemerintah dan pemerintah pun juga telah melarang pemungutan dana di luar ketetapan resmi pemerintah dalam pendaftaran perkawinan, dukungan dari pemerintah daerah terhadap kelembagaan BP4 maupun usaha mandiri seperti penjualan majalah Nasehat Perkawinan (yang sekarang bernama majalah Perkawinan)  kepada para calon pengantin atau pasangan muda. Lontaran-lontaran ini membutuhkan jawaban cerdas dan bernash tidak hanya oleh pengurus BP4 Pusat, namun juga lembaga-lembaga negara yang memiliki tujuan yang sama dengan BP4, maupun keterbukaan BP4 sendiri untuk “menjemput bola” dan bekerjasama dengan pihak-pihak lainnya. Selain itu, muncul harapan agar BP4 dapat menjadi lembaga yang tidak sekedar berurusan soal “kawin, cerai, perselisihan, pisah ranjang” dan lain-lain,  namun juga menjadi mitra pemerintah untuk menjadi lembaga yang juga melayani kasus-kasus terkait seputar kekerasan dalam rumah tangga dan perlindungan anak.

Di akhir acara, workshop ini ditutup oleh Bapak Mubarok, Pengurus BP4 Pusat yang juga merupakan Ketua Badan Pelaksana dan Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI). Teriring do’a yang diamini oleh seluruh hadirin agar BP4 dapat menjalankan amanahnya untuk mengantarkan keluarga-keluarga Indonesia agar senantiasa hidup dalam sakinah, mawaddah wa rahmah. Amien!  {} AD. Kusumaningtyas (Dari Momen Ulang Tahun Emas BP4)

Last modified on Friday, 01 September 2017 07:11
Rate this item
(0 votes)