Ketika Ustad/Ustadzah dari Berbagai Pesantren di Banyuwangi Belajar Kespro Featured

03 Apr 2013 Zulfi Zumala
2054 times

 Sesuai dengan rancangan program Rahima yang bekerjasama dengan HIVOS tentang penguatan pengetahuan kesehatan reproduksi di kalangan komunitas Muslim, Rahima menyelenggarakan pelatihan tentang kesehatan reproduksi untuk para ustadz dan ustadzah dari beberapa pesantren di Banyuwangi pada tanggal 20-22 Desember 2012. Peserta diambil dari empat pesantren di Banyuwangi yakni pondok pesantren Darul Aitam, pondok pesantren Mamba’ul Huda, pesantren Bustanul Makmur dan Pesantren Mamba’ul Ulum total peserta adalah 25 orang.

Tuan rumah pelatihan kali ini adalah pondok pesantren Darul Aitam, yang terletak di desa Blok Agung Tegalsari Banyuwangi. Dalam pembukaan pelatihan, pengasuh Pondok PEsantren Darul Aitam, ibu Nyai Hj. Mahmudah Ahmad menyampaikan bahwa pentingnya para komunitas pesantren belajar tentang isu kesehatan reproduksi yang sebenarnya sudah diajarkan di pesantren, namun apa yang akan Rahima berikan adalah penjelasan yang lebih dalam dan mendetail. Ibu Nyai Mahmudah juga berpesan agar para peserta semangat mengikuti pelatihan dengan niat mencari ilmu. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh ibu AD.Eridani selaku direktur Rahima, beliau menjelaskan tentang keberadaan dan visi-misi Rahima. Acara pembukaan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh ibu Nyai Hj. Mahmudah, selanjutnya acara diberikan kepada fasilitator.

Acara pelatihan Pendidikan kesehatan Reproduksi (PKRS) untuk guru ini berlangsung selama tiga hari. Hari pertama (20/12)dengan materi gender dan kesehatan reproduksi yang difasilitatori oleh ibu Farha Ciciek. Pada hari pertama, peserta diajak untuk lebih memahami tentang apa itu gender, seks dan seksualitas dan juga dampak-dampaknya dalam pemahaman masyarakat seperti marginalisasi, subordinasi, pelabelan negatif dan kekerasan. Peserta kali pertama diminta untuk menuliskan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan sebagai laki2/ perempuan. Selanjutnya dari sini dimulai diskusi tentang perbedaan seks dan gender. Pemahaman awal ini menggiring para peserta untuk memahami bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sejajar dalam proses reproduksi, dan bahwa ketimpangan gender disebabkan oleh kontruksi social bukan bersifat kodrati.

Hari kedua (21/12), materinya adalah pengenalan organ reproduksi, hak reproduksi dan seksual serta konseling dengan fasilitator DR. Budi Wahyuni dari PKBI Yogya. Pada hari kedua ini peserta sangat anstusias sehingga pelatihan menjadi ajang konsultasi seputar masalah kesehatan reproduksi. Ibu budi dengan alat peraganya menjelaskan tentang fase pertumbuhan laki2 dan perempuan, organ reproduksi, kemudian dilanjutkan dengan proses pembuahan, alat kontrasepsi hingga IMS (infeksi menular seksual) termasuk HIV/AIDS tak lupa juga penjelasan tentang hak-hak kesehatan reproduksi yang dimiliki masing-masing individu. Materi terakhir yang disampaikan ibu Budi yakni tentang konseling, peserta dijelaskan tentang tahapan-tahapan konseling, tekniknya hingga simulasi konseling.

Hari terakhir (22/12) adalah materi tentang keislaman, yakni bagaimana pandangan Islam terhadap kesehatan reproduksi dan bagaimana konsep Islam tentang Gender, kali ini peserta ditemani oleh ustadz Imam Nakha’I dari Ma’had Aly Situbondo. Materi diawali dengan terbentuknya suatu hokum dalam Islam, yang dijelaskan oleh ustadz Imam Nakha’I secara kronologis, berawal dari kalam Allah hingga hukum fiqh.

Pelatihan berakhir dengan membuat rencana tindak lanjut (RTL) secara berkelompok sesuai dengan pesantren masing-masing. Salah satu bentuk RTL dari pelatihan PKRS untuk guru ini adalah mensosialisasikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di pesantren masing-masing dan kepada masyarakat disekitar pesantren.#ditulis oleh mitra lapangan Rahima Zumala Zulfi

Last modified on Friday, 01 September 2017 07:43
Rate this item
(0 votes)