Pernikahan Dini Dimata Santri Sumenep Featured

05 Apr 2013 Raudlatul Miftah
1996 times

Pada hari Rabu sore, 16 Januari 2013 ba’dah Asyar, Siswa-siswi MTs An Najah Kelas VII-IX berkumpul di Mushallah MTs. An-Najah, dalam rangka Diskusi Forum Lingkar Baca Swara Rahima yang rutin dilakukan 3 bulan sekali. Diskusi kali ini mengambil tema Pernikahan Dini. Seperti diskusi-diskusi sebelumnya, tema yang diambil terkait dengan tema judul Majalah Swara Rahima maupun suplemennya, kali ini pembahasan menggunakan Suplemen Majalah Swara Rahima Edisi 40 yang berjudul “pernikahan Dini”.

Untuk melengkapi diskusi, penyelenggarakan Ustadzah Raudlatun Miftahmengundang narasumber Wardi, M.Pd untuk menghangatkan diskusi. Dalam pemaparan diawal Nara Sumber bercerita tentang kasus-kasus pernikahan dini yang terjadi di lingkungan sekitar maupun yang menjadi isu nasional. Menurutnya pernikahan dini terjadi karena faktor ekonomi atau kemiskinan, juga ada yang disebabkan dengan MBA (Merried by accident) atau istilahnya “kecelakaan” akibat hubungan seksual sebelum menikah yang menyebabkan pihak perempuan hamil di usia muda, overprotective orang tua karena pergaulan bebas. Selain itu beliau juga mengcounter atau menolak anggapan bahwa perempuan menikah di usia tua maka dianggap perawan tua yang tidak laku,  karena ini yang sering menjadi alasanya banyaknya terjadi pernikahan dini. Selain itu adanya anggapan bahwa pendidikan bagi perempuan tidak penting, karena perempuan urusannya hanya dapur, kasur, dan sumur.

Narasumber juga menegaskan perempuan dan anak adalah pihak yang berdampak langsung dari pernikahan dini. Pelaku pernikahan dini yang bukan atas kehendaknya sendiri maka dia akan merasa malu ketika bertemu dengan temannya. Dampak negatif lainnya dari pernikahan dini adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga, penyakit kelamin, terputusnya akses pendidikan, dan kurang berkualitasnya anak yang dilahirkan baik fisik maupun psikis. Diakhir pemaparan Ustad Wardi menggarisbawahi mengapa Islam sangat menganjurkan untuk menikah jika sudah mampu lahir bathin, tujuannya  untuk menyempurnakan agama, membina keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, menjauhkan diri dari zina, mencegah timbulnya penyakit kelamin

Pemaparan yang sangat menggugahkan, 4 orang santripun sudah siap bertanya saat sesi tanya jawab. Penanya pertama dari Moh. Busri (kelas IX), yang menanyakan tentang pernikahan siti ‘Aisyah yang menikah dengan nabi pada umur 6 tahun, bagaimana kaitannya dengan pernikahan dini?, dan bagaimana dengan pernikahan sirri yang banyak terjadi dengan tujuan untuk melegalkan hubungan. Ustad Wardipun menjawab, menurutnya pernikahan dini (‘Aisyah) itu khusus untuk Nabi, bahkan menurutnya ada sumber yang menyatakan bahwa ‘Aisyah disetubuhi oleh Rasul pada umur 20 tahun. Selain itu narasumber menyinggung isu nasional yang sempat merebak yaitu Syeikh puji menikah sirri dengan Ulfa, menurutnya pernikahan tersebut dapat dikategorikan dengan penjualan anak, walaupun sebenarnya dia memiliki kelainan seksual. Menjawab tentang pernikahan sirri, hal itu boleh tapi sangat merugikan perempuan, karena tidak memiliki bukti apapun.

Penanya kedua yang bertanya Nurul Umamah (Kelas VIII), dirinya bertanya bagaimana kalau perempuan dipaksa menikah dini, kemudian si perempuan menolak untuk diajak hubungan seksual, apakah perempuan itu akan dilaknat oleh malaikat karena menolak ajakan suami tersebut. Narasumber menjawab, bahwa kita harus melihat secara kontekstual terhadap hadis tersebut, jadi antara laki-laki dan perempuan harus sama-sama mendapatkan hubungan seksual yang adil, menurutnya perempuan juga berhak menolak.

Pertanyaan ketiga berasal dari Siti Jamilatul Fitriyah (kelas IX), Bagaimana peranan pelajar untuk meminimalisir pernikahan dini? Ustad Wardi kembali menjawab para pelajar harus bisa menunjukkan prestasinya kepada orang tuanya, dan tidak membuat orang tua menjadi galau dan gelisah. Tugasnya adalah belajar untuk pemberdayaan terhadap perempuan, saudara laki-laki dan orang tua  menuju kehidupan yang lebih baik. Selain itu memberi pemahaman akan pentingnya pendidikan kepada lingkungan sehingga pernikahan dini tidak terjadi.

Pertanyaan terakhir dari Mamluatul Hasanah (kelas IX), Bagaimana jika di usia dini atau baligh dalam versi fikih sudah mampu menikah? Kembali Narasumber menjawab dengan ramah, menurutnya saat ini belum ada perempuan ataupun laki-laki yang menikah di usia dini mampu secara mental, dan sosial.
Diskusi yang berlangsung sejak pukul 15.00-17.00 ini sangat hangat, santri pun tidak malu bertanya baik santri lelaki maupun perempuan, selain itu isu pernikahan dini bukan isu baru tetapi permasalahan yang tidak jauh dari dunia mereka (remaja).  Dilain sisi merekapun mendapatkan informasi baru, semoga semakin membuka dan menambah wawasan santri untuk menggali ilmu lebih banyak dan luas. # disadur dari laporan Raudatul Miftah (odax) dalam kegiatan Forum Lingkar Baca Swara Rahima, MTs An Najah Matanair Rubaru Sumenep


Last modified on Tuesday, 29 August 2017 01:58
Rate this item
(0 votes)