Diskusi Bedah Buku Pluralisme dan Buka Bersama Featured

14 Sep 2009 Ahmad Dicky S.
4205 times
Tradisi bedah buku dan buka bersama telah dilakukan Rahima sejak beberapa tahun lalu. Pada Ramadhan tahun ini dilakukan pada Kamis, 27 Agustus 2009, di ruang pertemuan
yang terletak dilantai dua, kantor Rahima. Acara yang dimulai pada pukul 15.30 ini membedah buku berjudul Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an,
karya Abd. Moqsith Al-Ghazali.
Bedah buku dihadiri langsung oleh penulisnya yang sekaligus menjadi salah satu narasumber. Narasumber lain yang juga hadir dan turut memberikan gagasannya adalah Ahmad Dicky Sofyan, salah seorang staff Rahima.
Awalnya, buku ini merupakan hasil sebuah Disertasi program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai sebuah disertasi tentunya buku ini telah melewati uji ilmiah dalam sidang promosi doktor. Karenanya, tidak heran jika isi buku ini sarat dengan informasi bernilai akademik tinggi.
Ahmad Dicky Sofyan pada saat presentasi menjelaskan bahwa salah satu keistimewaan buku ini adalah pada pemetaan ayat dan argumen secara juxta posisi (berlawanan). Moqsith, sekalipun pada kesimpulan akhirnya berpihak pada konsep pluralisme, namun tidak secara membabi buta menggunakan argumentasi yang hanya mendukung gagasannya saja. Bahkan, secara berani buku ini menampilkan dua ayat yang terkesan bertolak belakang dalam merespon pluralisme.
Dari sisi referensi buku karya Moqsith ini memiliki kekayaan luar biasa pada daftar pustaka. Dengan pengetahuan yang mendalam terhadap teks klasik Islam (kitab kuning) dan juga bacaan kontemporer, kajian Moqsith dapat dinilai otoritatif mewakili diskursus keislaman tradisionalis dan kontemporer.
Menurut penulisnya, cita-cita dibuatnya buku ini adalah sebagai upaya membangun dialog dan komunikasi positif antar umat beragama di Indonesia. Sebagai sebuah negara majemuk, bangsa Indonesia perlu mencari kesepakatan-kesepakatan untuk membangun toleransi terhadap para penganut agama lain. Kesepakatan itu dapat diperoleh lewat pemahaman teologis yang mendalam. Karena sesungguhnya, praktek pluralisme telah ada sejak lahirnya Islam. Dan Nabi Muhammad telah memberikan teladan terkait hubungan dengan umat beragama lain.
Moqsith bahkan menyatakan, kesalahan fatal memahami ayat Alquran khususnya yang terkait dengan umat beragama lain adalah pada pendekatan inkontekstualitas yang kerap digunakan. Pendekatan ini menafikan latar belakang dan konteks ayat saat diturunkan. Kemudian, melakukan generalisasi terhadap semua konteks yang boleh jadi berbeda pada ayat yang lain.
Bedah buku yang dihadiri oleh berbagai kalangan ini berjalan sangat menarik. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para peserta diskusi memiliki daya kritis yang baik. Bedah buku ini berakhir bersamaan dengan adzan Magrib yang menandakan waktu berbuka puasa.
Last modified on Thursday, 17 August 2017 16:17
Rate this item
(0 votes)