Waspadai Bila Kekasih Pelaku Kekerasan! : Fokus Edisi 41

06 May 2013 AD.Kusumaningtyas
3162 times

“Saya masih lajang, berusia 22 tahun. Memiliki pekerjaan tetap yang bisa dibanggakan. Saat ini memiliki seorang pacar yang sering memukul atau memaki kalau lagi emosi atau memiliki persoalan. Saya sudah berusaha untuk memperingatkan tetapi masih saja terjadi lagi. Terakhir, saya dipukul karena dianggap tidak menuruti nasehatnya, bagaimana solusinya? Apakah pacar saya memiliki gangguan jiwa?” (Nona T)

Pernyataan di atas penulis kutip dari sebuah rubrik konsultasi di situs Fakultas Psikologi Universitas Muara Kudus. Situasi itu, mungkin saja terjadi di antara sepasang remaja yang tengah menjalin cinta dan pernah beranggapan bahwa “dunia adalah milik kita berdua”.

Namun sejatinya, menurut Nur Hidayati Handayani, Ketua Aliansi Remaja Independen (ARI), berdasarkan pengalamannya melakukan diskusi-diskusi di kalangan remaja, dari 20 orang remaja yang tengah menjalin hubungan khusus (berpacaran) hampir setengahnya pernah mengalami kekerasan (dalam bentuk yang berbeda-beda) justru oleh pacarnya sendiri. Bahkan, belakangan kita disibukkan oleh maraknya pemberitaan kasus kekerasan yang menimpa artis Ardina Rasti oleh pacarnya Eza Gionino yang juga sesama artis. Bentuk kekerasan yang dialaminya cukup beragam dan seringkali terulang. Mulai dari mengontrol SMS, email, maupun BBM milik Rasti, hingga melakukan pemukulan.  Akibatnya, Eza Gionino yang dikenai tuduhan pidana perbuatan tidak menyenangkan dan penganiayaan tersebut, terancam hukuman 2 tahun penjara.

Kekerasan dalam berpacaran atau dating violence merupakan kasus yang sering terjadi setelah kekerasan dalam rumah tangga. Dari data Rifka Annisa didapat fakta yang mengejutkan bahwa dating violence menempati posisi kedua setelah kekerasan dalam rumah tangga. Tercatat dari 1994-2011 (Januari-Oktober), Rifka Annisa telah menangani 4952 kasus kekerasan pada perempuan, posisi pertama kasus KDRT sebanyak 3274 kasus, dan posisi kedua kasus dating violence tercatat 836 kasus.

Senada dengan data di atas, WCC Sumsel telah mencatat sebanyak 237 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sepanjang 2012. 33 kasus di antaranya adalah kasus kekerasan dalam pacaran. Menurut Direktur WCC Sumsel di Palembang, Yeni Roslaini Izzi, berapa kasus kekerasan dalam pacaran yang mereka tangani terjadi lantaran adanya hubungan seksual pra nikah, yang telah dilakukan oleh pasangan yang sedang berpacaran. Para korban kekerasan dalam pacaran ini seringkali kesulitan menjerat pelaku untuk menuju proses hukum, lantaran perbuatan itu  dilaksanakan oleh pelaku dan korban secara diam-diam tanpa saksi. Umumnya, pelaku melakukan tindakan ingkar janji kepada korban setelah sebelumnya menjanjikan menikahi korban setelah melaksanakan hubungan seksual tersebut. Kenyataannya, setelah korban dinodai, pelaku malah memutuskan hubungan pacaran dengan korban.  

Memahami Pengertian “Pacaran”
Sebelum menelaah lebih jauh mengenai ”kekerasan dalam pacaran”, ada baiknya kita memahami bersama pengertian pacaran terlebih dahulu. Ternyata, banyak juga para ahli yang menelaah dan memberikan definisi mengenai pacaran ini. Benokraitis (1996) menyebutkan bahwa pacaran adalah proses dimana seseorang bertemu dengan seseorang lainnya dalam konteks sosial yang bertujuan untuk menjajaki kemungkinan sesuai atau tidaknya orang tersebut untuk dijadikan pasangan hidup. Menurut Saxton (dalam Bowman, 1978), pacaran adalah suatu peristiwa yang telah direncanakan dan meliputi berbagai aktivitas bersama antara dua orang (biasanya dilakukan oleh kaum muda yang belum menikah dan berlainan jenis).

Kyns (1989) menambahkan bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang yang berlawanan jenis dan mereka memiliki keterikatan emosi, dimana hubungan ini didasarkan karena adanya perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing. Menurut Reiss (dalam Duvall & Miller, 1985) pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang diwarnai keintiman. Menurut Papalia, Olds & Feldman (2004), keintiman meliputi adanya rasa kepemilikan. Adanya keterbukaan untuk mengungkapkan informasi penting mengenai diri pribadi kepada orang lain (self disclosure) menjadi elemen utama dari keintiman. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pacaran adalah serangkaian aktivitas bersama yang diwarnai keintiman (seperti adanya rasa kepemilikan dan keterbukaan diri) serta adanya keterikatan emosi antara pria dan wanita yang belum menikah dengan tujuan untuk saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah.

Dalam Islam, terminologi ”pacaran” memang tidak dikenal. Namun, upaya untuk mengenal sesama manusia, adalah fitrah yang dipandang manusiawi. Seiring dengan fitrah umat manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kecenderungan untuk bersosialisasi atau berinteraksi yang dalam bahasa Alquran disebut ta’aruf. Ta’aruf dari kata dasar ‘arafa yang berarti mengenal, mengetahui, mengerti. Dalam bentuk turunannya, ta’aruf bermakna saling mengenal, mengetahui, dan mengerti satu sama lain dalam realitas kemajemukan atau kebhinnekaan umat manusia. Dalam konteks pernikahan, ta’aruf menjadi pendahulu bagi khitbah atau meminang/melamar. Karenanya, ta’aruf menjadi penting agar calon suami dan calon istri (termasuk keluarga besar dari keduanya) menjadi  saling mengenal, khususnya latar belakang keluarga, aspek akhlak, dan budaya masing-masing. Jangan sampai terjadi ketidaktahuan akibat tidak ada ta’aruf tadi berdampak pada kondisi buruk di kemudian hari. Misalnya, setelah menikah diketahui bahwa sang suami atau istri ternyata adalah pecandu narkoba atau memiliki sifat tidak jujur. Seharusnya hal demikian tidak terjadi, jika sejak awal keduanya saling mengenal. Inilah barangkali maksud Rasulullah memerintahkan salah seorang sahabat yang akan menikah untuk “melihat”, yakni memahami dan mengenal, siapa yang akan manjadi istrinya. Tentu ini juga berlaku juga bagi calon istri untuk melihat atau mengenal lebih jauh siapa calon suaminya.

Disebabkan wacana Islam sesungguhnya tidak mengenal istilah pacaran, oleh karena itu komitmen pacaran tidak mempunyai implikasi hukum apapun. Komitmen pra nikah antara laki-laki dan perempuan yang dikenal hanyalah pinangan (khitbah). Dalam Fiqh Wanita Empat Madzhab disebutkan bahwa tujuan disyariatkannya khitbah adalah agar masing-masing pihak baik yang meminang maupun yang dipinang bisa saling mengenal (ta’aruf) sehingga keduanya dapat merasakan kecocokan atau tidak, baik menyangkut perangai, temperamen, kecenderungan, tujuan yang ingin dicapai, maupun menyangkut prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut masing-masing. 

Apa itu “Kekerasan dalam Pacaran”  ?
Kekerasan dalam pacaran adalah tindak kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan yang mencakup kekerasan fisik, psikologi dan ekonomi. Pelaku yang melakukan kekerasan ini meliputi semua kekerasan yang dilakukan di  dalam relasi intim di luar perkawinan seperti oleh mantan suami, mantan pacar, dan pasangan (pacar).

Menurut Office on Violence Against Women (OVW) of the U.S. Department of Justice dating violence “ Dating violence is controlling, abusive, and aggressive behavior in a romantic relationship. It occurs in both heterosexual and homosexual relationships and can include verbal, emotional, physical, or sexual abuse, or a combination of these.” (Kekerasan dalam pacaran adalah tindakan mengontrol, menganiaya, dan perilaku agresif di dalam suatu hubungan yang romantik/intim. Hal ini terjadi di dalam relasi baik yang bersifat heteroksual (berlainan jenis) maupun homoseksual (sesama jenis) dan dapat meliputi tindak kekerasan yang bersifat verbal, emosional, fisik, seksual, maupun kombinasi dari kesemua bentuk ini).

Bentuk-bentuk kekerasan yang cukup  beragam dan relatif umum dijumpai dalam pacaran di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Dari segi fisik, misalnya memukul, menendang, ataupun mencubit,
  • Dari segi mental, biasanya, cemburu yang berlebihan, pemaksaan, dan perlakuan kasar di depan umum”.
  • Dari segi ekonomi, misalnya, ada pasangan yang sering meminjam uang, meminta membelikan sesuatu yan berlebihan tanpa pernah mengembalikannya.
  • Dari segi psikologis, misalnya bila pacarmu suka menghina kamu, selalu menilai kelebihan orang lain tanpa melihat kelebihan kamu, cemburu yang berlebihan dan lain sebagainya
  • Dari segi seksual, adalah pasangan yang memaksa pasangannya untuk melakukan hubungan seksual, pemerkosaan dsb.

Kekerasan seksual dalam pacaran ini juga termasuk dalam kategori pemerkosaan. Situasi ini terjadi dimana pihak lelaki memaksakan kehendak seksualnya terhadap perempuan padahal pihak perempuan menolaknya. Walaupun ini dilakukan oleh pacar sendiri tetapi perbuatan ini tetap dikategorikan perkosaan. Atau dengan kata lain, pemaksaan untuk berhubungan seks antara dua orang yang saling mengenal satu sama lain adalah “date” atau “acquaintance rape” (perkosaan dalam kencan atau perkosaan yang dilakukan oleh orang yang dikenal). Selama ini orang menyangka bahwa perkosaan selalu dilakukan oleh orang yang tidak dikenal (walaupun ini banyak terjadi juga). Padahal menurut data dari Amerika Serikat, 80% korban perkosaan mengatakan bahwa mereka mengenal pelaku perkosaan. Artinya, pelaku adalah orang yang selama ini dikenal oleh korban seperti pacar, teman, paman, dsb. Sedangkan usia korban paling banyak berkisar antara usia 15-25 tahun. Ingat saja bahwa perkosaan adalah bentuk dari kekuasaan dan kontrol dari si pelaku dan tak ada hubungannya sama sekali dengan cinta!

Fenomena dating violence kini juga berkembang dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi sehingga orang bisa saja berpacaran jarak jauh dengan telepon (handphone dating), maupun melalui dunia maya (cyber dating). Penggunaan dua teknologi informasi terakhir  memunculkan kekerasan dalam pacaran melalui dunia maya. Dalam handphone dating,  pelaku kekerasan umumnya menelpon pacarnya pada tengah malam dan memaksanya untuk melayani komunikasi teleponnya selama berjam-jam, melancarkan rayuan dan ujung-ujungnya ajakan untuk berhubungan seksual. Sementara, fenomena cyber dating  violence  semakin marak  semenjak menjamurnya warnet yang memudahkan para pelanggan untuk mengakses situs porno. Di ruang yang bersekat tinggi, si cowok biasanya mengajak sang pacar untuk membuka situs porno bersama dan memaksanya untuk melakukan suatu tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh bukan pasangan suami istri dengan meniru adegan seperti yang dilihatnya dalam situs tersebut, dan adakalanya bahkan merekamnya dan mengunggahnya di situs internet. Bahkan, ada juga pacar yang tega membohongi pasangannya sendiri dan menjadikannya sebagai objek taruhan seksual bagi sesama kalangan peer-groups-nya. Situasi ini pula yangmemicu hadirnya arisan seks di kalangan pelajar seperti  yang terjadi di kota Situbondo sebagaimana  pernah diulas dalam pemberitaan media Beberapa waktu lalu. Kesadaran akan pentingnya upaya sungguh-sungguh untuk memerangi fenomena cyber dating violence ini, menginspirasi hadirnya sebuah gerakan bernama Jangan Bugil di Depan Kamera (JBDK ) yang diluncurkan pada 11 April 2007.  Gerakan ini dimulai oleh sekelompok anak muda dalam sebuah acara diskusi bersama mahasiswa FISIKOM UPN Jogjakarta. Embrio gerakan ini berusaha menyebarkan pesan untuk tidak terjebak dalam arus pornografi. 

Dampak Kekerasan dalam Pacaran terhadap Korban
Telah dijelaskan di atas kekerasan dalam pacaran, mengakibatkan dampak baik yang bersifat fisik maupun psikis pada korban. Mengingat, relasi dalam pacaran bersifat sangat intim dan tak jarang bahkan menganggap sang pacar adalah miliknya, oleh karena itu maka fenomena kekerasan dalam pacaran yang dijumpai pun tak jarang merefleksikan kepemilikan ini. Kekerasan yang dialami seseorang atas perlakukan sang pacar acapkali menyebabkan korban mengalami trauma. Salah satunya adalah kasus R, 28 tahun sebagaimana  penuturan yang kami kutip dari sebuah situs  di bawah ini :

Pacar saya sangatlah posesif. Hanya 4 bulan saja masa pacaran terasa indah, sisanya mulai keluar watak aslinya, yaitu temperamental. Jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendaknya maka dia akan mulai marah besar, dengan cara membanting barang pecah belah di kamar kosnya sampai dia harus membeli piring dan gelas setiap minggu. Dan memasuki tahun kedua, mulailah ringan tangan. Bahkan pernah kedua lengan saya dipegang erat-erat dan digoncang-goncangkan saat ia marah besar sampai menyisakan tanda biru legam di lengan saya berhari-hari.
Perilaku posesif ditunjukkan dengan kontrol yang ketat, dia harus tahu kemana pun saya pergi dan dengan siapa. Bahkan pernah suatu ketika ia sedang berada di luar kota, namun saya tidak berani pergi kemana pun karena takut jika ia menelepon ke tempat kos saya dan saya tidak ada, maka ia bisa marah besar. Saya hanya berani berdiam diri di kamar sambil ketakutan.”

Dalam kasus kekerasan dalam pacaran sebagian besar korbannya adalah perempuan. Hal ini sering diakibatkan adanya ketimpangan  relasi antara laki-laki dan perempuan yang dianut oleh masyarakat luas pada umumnya. Perempuan menurut pandangan laki-laki biasanya dianggap sebagai makhluk yang lemah, penurut, pasif, sehingga menjadi alasan utama terjadinya perlakuan yang semena-mena.  Seiring dengan berjalannya waktu, korban kekerasan dalam pacaran akan menganggap perlakuan yang diterima sebagai sesuatu hal yang wajar. Padahal, hal tersebut bisa menghambat perkembangan remaja dalam mempelajari sebuah hubungan yang sehat. Dampak-dampak yang bisa ditimbulkan antara lain : Depresi, menyalahkan diri sendiri, ketakutan merasa dibayangi okeh teror, rasa malu, merasa sedih, bingung, mencoba bunuh diri, cemas, tidak mempercayai diri sendiri dan orang lain, merasa bersalah. 

Mencari Faktor Penyebab dan Akar Persoalan Kekerasan dalam Pacaran (KdP)
Mengapa terjadi kekerasan dalam pacaran? Apa saja faktor-faktor penyebabnya? Berikut adalah faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam pacaran. Yaitu :

1) Pola asuh dan lingkungan keluarga yang kurang menyenangkan. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang amat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang. Masalah-masalah emosional yang kurang diperhatikan orang tua dapat memicu timbulnya permasalahan bagi individu yang bersangkutan di masa yang akan datang. Misalkan saja sikap kejam orang tua, berbagai macam penolakan dari orang tua terhadap keberadaan anak, dan sikap disiplin yang diajarkan secara berlebihan. Hal-hal semacam itu akan berpengaruh pada peran (role model) yang dianut anak itu pada masa dewasanya. Bisa model peran yang dipelajari sejak kanak-kanak tidak sesuai dengan model yang normal atau model standar, maka perilaku semacam kekerasan dalam pacaran ini pun akan muncul.

2) Peer Group, Teman sebaya memiliki pengaruh yang besar dalam memberikan kontribusi semakin tingginya angka kekerasan antar pasangan. Berteman dengan teman yang sering terlibat kekerasan dapat meningkatkan resiko terlibat kekerasan dengan pasangannya.

3)Media Massa, Media Massa, TV atau film juga sedikitnya memberikan kontribusi terhadap munculnya perilaku agresif terhadap pasangan. Tayangan kekerasan yang sering muncul dalam program siaran televisi maupun adegan seksual dalam film tertentu dapat memicu tindakan kekerasan terhadap pasangan.

4) Kepribadian, Teori sifat mengatakan bahwa orang dengan tipe kepribadian A lebih cepat menjadi agresif daripada tipe kepribadian B (Glass, 1977). Dan hal ini berlaku pula pada harga diri yang dimiliki oleh seseorang. Semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh seseorang maka ia memiliki peluang yang lebih besar untuk bertindak agresif.

5)  Peran Jenis Kelamin, Pada banyak kasus, korban kekerasan dalam pacaran adalah perempuan. Hal ini terkait dengan aspek sosio budaya yang menanamkan peran jenis kelamin yang membedakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki dituntut untuk memiliki citra maskulin dan macho, sedangkan perempuan feminin dan lemah gemulai. Laki-laki juga dipandang wajar jika agresif, sedangkan perempuan diharapkan untuk mengekang agresifitasnya.

Selain itu, fenomena kekerasan dalam pacaran ini terjadi karena adanya sifat tergantung yang begitu kuat pada pasangannya yang kebanyakan terjadi pada remaja perempuan yang sering diistilahkan dengan “co-dependence”. Sifat ketergantungan  seperti  kemana-mana harus diantar atau ditemani pacarnya, tidak bisa membuat keputusan sendiri tanpa persetujuan pacarnya inilah yang membuat perempuan seringkali terjebak dalam siklus atau lingkaran kekerasan. Kekerasan yang dialami dianggap sesuatu yang ‘wajar’ dia terima, sehingga  dengan mudah dapat memaafkan pasangannya.  Setelah memaafkan perilaku pasangannya, mereka dapat berbaikan kembali, dan kemudian terus berharap agar perilaku dan tabiat pacarnya tersebut bisa berubah. Padahal, kekerasan dalam pacaran ini seperti sesuatu berpola, ada siklusnya. Seseorang yang pada dasarnya memiliki kebiasaan bersikap kasar pada pasangannya, akan cenderung mengulangi hal yang sama karena ini sudah menjadi bagian dari kepribadiannya, dan merupakan cara baginya untuk menghadapi konflik atau masalah. 

Perspektif Islam Mengenai  Kekerasan dalam Pacaran
Dalam Islam, memang tidak pernah dikenal istilah “pacaran”, namun  tidak berarti tertutup sama sekali kemungkinan untuk melakukan ta’aruf  dalam arti belajar bersosialisasi dengan pihak lain dan mengembangkan kemampuan bersilaturahmi dengan cara yang ma’ruf. Islam tidak melarang laki-laki dan perempuan saling mengenal dan bersilaturahmi. Mengingat, saling mengenal di antara manusia, apapun jenis kelamin maupun latar belakang dan suku bangsanya adalah hal yang fitrah.  Penilaian terhadap keutamaan mereka, tidak ditentukan oleh jenis kelamin, ras, maupun warna kulitnya. Melainkan ketakwaan mereka kepada Allah swt. Sebagaimana difirmankan-Nya dalam QS. Al Hujurat ayat 13 :


Artinya :
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang  paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS.Al-Hujurat: 13)

Islam juga mengajarkan soal menjaga kemaluan (menjaga alat-alat dan fungsi reproduksi). Ajaran menjaga kemaluan atau memelihara alat-alat dan fungsi reproduksi ini sendiri,  sangat terkait dengan salah satu prinsip dasar ajaran Islam (al –ushuliyyah al-khamsah), yaitu hak mengembangkan keturunan atau reproduksi (Hifzhu al- Nasl). Pemberian informasi yang tepat mengenai Hak-hak dan Kesehatan tentang Reproduksi dan Seksualitas, merupakan salah satu upaya  Hifzhu al- Nasl ini. Hal ini penting agar para remaja memahami,  bila  pernikahan ditujukan untuk mencapai ketenangan dan ketentraman hati (sakinah), yang ditandai dengan adanya cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah);  maka relasi  yang harus dibangun  dalam masa  ta’aruf inipun harus didasarkan atas mu’asyarah bi al-ma’ruf.

Dalam konteks menjaga keturunan (hifzhu al-nasl) tadi, berbagai kemungkinan tindak penistaan terhadap pasangan selama masa ta’aruf  memang sepatutnya dihindari. Mengingat, relasi yang timpang maupun situasi kehilangan kontrol atas kesadaran dapat menyebabkan seseorang  terjebak dalam perilaku keji.  Salah satunya, tidak memberikan ruang bagi hadirnya kekerasan seksual  dengan  mematuhi ajaran  Islam   untuk tidak mendekati zina.  Dalam  salah satu ayat Alquran dinyatakan :

Artinya :
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”  (QS. Al Isra’ : 32)

Istilah “perkosaan” sendiri juga tidak dikenal di dalam Islam, mengingat hubungan seksual yang terjadi sering  diasumsikan dengan suka sama suka atau dikategorikan dengan “zina” tersebut.  Padahal, tidak menutup kemungkinan bahwa banyak hal mengenai apa yang selama ini dipandang sebagai seks bebas yang terjadi di kalangan remaja, pada hakikatnya adalah perkosaan. Di beberapa Negara yang menggunakan Hukum Islam seperti di Iran, Arab Saudi atau Pakistan, pelaku hubungan seksual di luar pernikahan ini dapat dikenai hukuman rajam. Akan tetapi, dalam menyikapi fenomena hubungan seksual sebelum pernikahan di Indonesia, terutama yang mengakibatkan Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD) diselesaikan dengan cara menikahkan pasangan ini, sehingga di masyarakat muncul istilah “married by accident” (MBA). Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam menyatakan : Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Perkawinan dengan wanita hamil tersebut dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir. Kondisi ini tentunya justru potensial memperberat situasi perempuan bila dia  adalah korban perkosaan (meskipun oleh pacar sendiri). Mengingat, karena siklus kekerasan itu membuat mereka seolah-olah harus senantiasa hidup bersama dengan musuh.

Cinta kepada manusia semestinya juga tidak berlebihan sehingga meyebabkan kita kehilangan kontrol atas diri kita sendiri. Sebuah mahfuzhat mengajarkan “ahbib habiibaka haunan maa ‘asaa an yakuuna baghiidhaka yauman maa. Wabghidh baghiidhaka ‘asaa an yakuuna habiibaka yauman maa. “ (Cintailah kekasihmu dengan sederhana, kalau-kalau dia akan menjadi musuhmu suatu ketika. Dan musuhilah musuhmu dengan sederhana, kalau-kalau justru ia akan menjadi kekasihmu suatu ketika). Jadi, cintai dirimu dan belajarlah untuk mencintai seseorang dengan cara yang bijaksana. {} AD. Kusumaningtyas

Last modified on Tuesday, 29 August 2017 02:03
Rate this item
(0 votes)