Memahami Seluk Beluk Seksualitas : Fokus Edisi 40

28 Dec 2012 AD. Kusumaningtyas
1836 times

Ada yang menarik setiap kami menyimak isian Pre Test para peserta Pelatihan Sensitivitas Gender yang selama ini dilaksanakan oleh Rahima sebelum mereka mengikuti proses belajar bersama di forum pelatihan. Untuk mendapatkan pemahaman awal mengenai perbedaan antara ‘kodrat’ dan ‘gender’, biasanya dalam kuesioner kami cantumkan pertanyaan : apa yang Anda pahami mengenai istilah ‘Seks’. Dan spontan biasanya mayoritas menjawab : hubungan suami istri,  hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, jima’,  bersetubuh, dan istilah lain yang memiliki makna yang sejenis. Sangat jarang di antara mereka yang menerjemahkan istilah ‘seks’ sebagai  ciri-ciri dan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan; yang di antaranya berupa alat kelamin laki-laki (penis) dan alat kelamin perempuan (vagina).

Makanya, tak heran bila ada anekdot  mengenai  cara si Si Fulan  mengisi formulir ketika dia hendak  mengurus paspor untuk  pergi ke luar negeri pertama kalinya. Di formulir itu terdapat kolom isian  tentang ‘sex’ (jenis kelamin), yang semestinya diisi dengan kata ‘male’ atau ‘female’. Namun Fulan menjawabnya dengan rangkaian kata ‘three times in a week’;  karena ia salah persepsi mengartikan pertanyaan tersebut  dengan ‘berapa kali Anda biasa melakukan hubungan seksual ?’

Fenomena masyarakat yang naïf, lucu, dan lugu  dalam memahami seksualitas ini muncul karena perbincangan mengenai hal tersebut selama ini dipandang sebagai hal tabu. Namun, ironisnya, akibat minimnya informasi yang benar dan tepat mengenai hal ini justru menghadirkan banyaknya mitos-mitos seputar seksualitas yang berkembang di masyarakat. Melakukan hubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan kehamilan, melompat-lompat dapat menghentikan kehamilan, makan nanas muda dapat mengakibatkan keguguran, mengkhayalkan hubungan sejenis akan membuat orientasi seksual berubah, banyak melakukan masturbasi akan mengakibatkan ‘dengkul kopong’, perawan atau tidaknya seorang perempuan dapat dilihat dari bentuk pinggulnya, dan sebagainya. Kenapa mitos-mitos ini hadir dan berkembang? Apa sebenarnya seluk beluk isu ‘seksualitas’ ini?

Memahami Pengertian di Seputar Seksualitas
Istilah seksualitas sering disederhanakan pengertiannya hanya untuk hal-hal yang mengacu pada aktivitas biologis yang berhubungan dengan organ kelamin baik laki-laki maupun perempuan. Padahal, lebih dari sekedar soal hasrat tubuh biologis, seksualitas adalah sebuah eksistensi manusia yang mengandung di dalamnya aspek emosi, cinta, aktualisasi, ekspresi, perspektif dan orientasi atas tubuh yang lain. Dalam konteks ini seksualitas merupakan ruang kebudayaan manusia untuk mengekspresikan dirinya terhadap yang lain dengan arti yang sangat kompleks. Menurut Irwan M. Hidayana,  seksualitas sangat terkait dengan kehidupan kita sebagai manusia  yang memiliki beragam hasrat seperti kepada siapa kita memiliki rasa ketertarikan, dengan siapa kita ingin berkeluarga, dan dari siapa kita ingin mempunyai anak.  Selain itu, seksualitas juga memiliki keterkaitan dengan identitas mengenai bagaimana masyarakat melihat seseorang sebagai sexy woman, atau sebagai laki-laki yang macho. Sehingga pengertian seksualitas ini sangatlah luas.  Sementara, menurut Sri Kusyuniati perbincangan mengenai seksualitas juga semakin luas semenjak hadirnya International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo tahun 1994 yang memperkenalkan pembahasan soal Hak dan Kesehatan Reproduksi . Semenjak saat itulah, perbincangan mengenai seksualitas juga senantiasa dikaitkan dengan persoalan ‘hak’, terutama hak-hak reproduksi.

Seksualitas dapat ditinjau dari berbagai dimensi. Yaitu dimensi biologis, dimensi psikologis, dimensi sosial, dan dimensi kultural atau budaya.  Seksualitas dari dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan seksual. Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran atau jenis.  Dari dimensi sosial dilihat pada bagaimana seksualitas muncul dalam hubungan antar manusia, bagaimana pengaruh lingkungan dalam membentuk pandangan tentang seksualitas yang akhirnya membentuk perilaku seks. Dimensi perilaku menerjemahkan seksualitas menjadi perilaku seksual, yaitu perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan atau hasrat seksual. Dimensi kultural menunjukkan perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat.4

Beragam pengertian yang termasuk dalam ruang lingkup seksualitas di antaranya adalah seks atau jenis kelamin yang mengacu pada ciri-ciri fisik atau biologis sehingga seseorang disebut laki-laki atau perempuan. Namun, belakangan juga terdapat katagori ketiga yang disebut dengan interseks; yaitu (seseorang memiliki karakteristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan)5. Sedangkan orientasi seksual adalah rasa ketertarikan secara emosi dan seksual pada orang lain berdasarkan jenis kelamin tertentu.

Secara umum, ada tiga  kategori   terkait dengan orientasi seksual. Yakni : pertama, hetero seksual  atau perasaan ketertarikan terhadap lawan jenis. Lalu kedua, homoseksual atau ketertarikan terhadap sesama jenis, baik laki-laki kepada laki-laki maupun perempuan kepada perempuan. Dan ketiga ada biseksual, yaitu ketertarikan kepada keduanya, kepada perempuan dan juga laki-laki7.    Dalam konteks pandangan dominan masyarakat yang heteroseksual, ketertarikan seksual harus diarahkan kepada lawan jenis. Oleh karena itu, orang harus menampilkan secara jelas identitas gendernya. Sehingga, dalam banyak ajaran di masyarakat didengungkan bahwa laki-laki harus macho, gagah, kuat dan sebagainya untuk mengukuhkan identitasnya sebagai laki-laki. Perempuan harus lemah lembut dan feminin, sehingga mereka dilarang menyerupai laki-laki. Secara ekstrem, bahkan ada yang beranggapan bahwa memakai celana panjang untuk perempuan itu pun harus dilarang untuk menghindarkan dirinya bertingkah laku seperti laki-laki. Dewan Fatwa Malaysia bahkan pernah mengeluarkan fatwa agar perempuan tidak mengenakan pakaian yang biasa dikenakan oleh kaum laki-laki dan berpenampilan tomboy, dengan alasan untuk menghindari praktik homoseksual dan lesbian. Bahkan belakangan, Pengadilan Tinggi Malaysia menolak gugatan warganya atas undang-undang Islam Malaysia yang menyatakan bahwa seorang pria dilarang mengenakan busana perempuan.

Selain pengertian di atas, ada pula yang disebut dengan perilaku seksual, yaitu tindakan yang dilakukan dalam rangka memenuhi dorongan seksual untuk mendapatkan kepuasan seksual.   Menurut Sarlito Wirawan Sarwono, bentuk-bentuk perilaku ini bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik, berkencan, bercumbu  hingga bersenggama. Siapa yang menjadi obyek seksual? Bisa orang (baik sejenis maupun lawan jenis), orang dalam khayalan, atau diri sendiri. Sebagaimana pemaparan Irwan Hidayana, ekspresi dari perilaku seksual ini juga sangat terkait dengan situasi sosial budaya yang ada di masyarakat.

Dalam kultur yang patriarkis, nilai-nilai seksualitas pada laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Seksualitas laki-laki dianggap aktif sedangkan perempuan adalah pasif. Oleh karenanya, masyarakat cenderung permisif terhadap perilaku seksual laki-laki, sehingga seringkali menganggap wajar bila laki-laki memiliki kecenderungan berganti-ganti pasangan, perilaku ‘jajan’ atau membeli seks pada penjaja seks komersial, maupun poligami sebagai jalan untuk menyalurkan hasrat seksualnya kepada lebih dari satu istri secara sah. Sementara,  perempuan dipandang sebagai pihak yang harus pasif secara seksual, namun mereka seringkali juga dianggap sebagai makhluk penggoda kaum laki-laki yang diwariskan semenjak Hawa menggoda Adam dan mengakibatkan kejatuhan keduanya dari surga. Oleh karenanya, dalam beragam teks keagamaan baik di bibel maupun hadis yang dipandang dha’ief,  perempuan sering diibaratkan sebagai tulang rusuk yang bengkok, yang tidak mungkin diluruskan karena justru akan membuatnya patah. Untuk itu beragam cara harus dilakukan untuk melakukan kontrol atas seksualitas perempuan ini. Mulai dari melakukan praktik khitan perempuan dengan memotong sebagian kecil dari klitorisnya sehingga tidak bisa mendapatkan kenikmatan seksual  mengingat ada anggapan bahwa klitoris merupakan sumber kenikmatan seksual dimana perempuan tidak layak memilikinya, melarang perempuan keluar malam, mengisolir perempuan  untuk tidak bepergian ke luar rumah  dan kalaupun  ia hendak keluar rumah harus ditemani oleh mahram atau anggota keluarga terdekat sebagai pelindungnya.

Anggapan-anggapan ini yang membuat perempuan selalu dikorbankan. Mereka dianggap layak diperkosa, paling tidak mengalami pelecehan seksual karena keperempuanannya. Perempuan yang gagal mempertahankan kehormatannya, akan dianggap menjadi aib bagi keluarga. Sehingga, di Pakistan hingga kini masih banyak dijumpai perempuan yang mengalami ‘honor killing’ (pembunuhan atas alasan membela kehormatan), meskipun dia adalah korban incest yang dilakukan oleh paman atau saudara laki-lakinya.

Seksualitas di Ranah Budaya
Sesungguhnya, seksualitas merupakan perbincangan yang  hadir sejak dulu kala.  Pada zaman kerajaan di Jawa, Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Buku karya Susuhunan Pakubuwana V ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Centhini, Kekasih yang Tersembunyi  oleh Elizabeth D. Inandiak seorang penyair asal Lyon, Perancis. Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang (lagu Jawa) itu antara lain memang bicara soal seks dan seksualitas.  Di antaranya,  bertutur mengenai tata krama dalam melakukan hubungan seksual antar suami-istri. Dalam berhubungan, misalnya, harus empan papan (memahami situasi,  kondisi, dan keadaan) tidak tergesa-gesa, dan juga merupakan keinginan bersama.11

Senada dengan Serat Centhini, di kalangan masyarakat Bugis Makassar terdapat Kitab berjudul Assikalaibineng. Kitab ini berisi pengetahuan seks yang dipraktikkan masyarakat Bugis sejak lama, yang diabadikan dalam teks ’lontara' dan tersebar di banyak pelosok Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Inti dari sekian banyak teks itu mencakup konsep hubungan seks, pengetahuan alat reproduksi, tahap hubungan seks, teknik rangsangan, doa dan mantra seks, gaya persetubuhan, teknik sentuhan titik sensual perempuan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam berhubungan, tata cara pembersihan tubuh, hingga pengobatan kelamin.12

Seksualitas juga dapat ditemukan dalam artefak-artefak kebudayaan kuno. Salah satunya, pada relief-relief candi seperti yang terdapat di Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. Di Candi Sukuh ini, kita dapat menjumpai bentuk-bentuk relief yang menggambarkan seksualitas, seperti kelamin laki-laki dan kelamin perempuan maupun adegan-adegan erotis antara lelaki dan perempuan. Di candi ini, terdapat beberapa patung dan arca menggambarkan Lingga sebagai perwujudan kemaluan laki-laki (penis) dan Yoni sebagai perwujudan kemaluan perempuan (vagina) yang dipandang sebagai lambang kesuburan dan hal natural tidak bisa dipisahkan dari manusia.13

Namun, berbagai peninggalan kebudayaan juga tak berbicara tentang seksualitas dalam makna yang sangat sempit. Budaya juga berbicara tentang beragam katagori jenis kelamin manusia. Seperti di Bugis yang mengenal ada 5 jenis kelamin. Yaitu laki-laki, perempuan, calalai (perempuan yang berpenampilan laki-laki atau tomboy), atau sebaliknya calabai (laki-laki cenderung berpenampilan feminin, keperempuanan), dan bissu (orang atau individu yang dianggap  mempunyai karakter maskulin dan feminin  yang seimbang di dalam dirinya).   Dalam perbincangan sehari-hari, kita juga sering mendengar istilah waria, wadam, wandu, banci, bencong, dan lain sebagainya untuk menyebut mereka yang tidak terkategori sebagai lelaki atau perempuan. Oleh karenanya, terdapat beragam sebutan untuk melihat identitas seseorang berdasarkan keragaman identitas seksualnya.  Di antaranya adalah lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, dan queer. Bahkan menurut Dede Oetomo, jumlahnya jauh lebih banyak dibanding sekedar laki-laki, perempuan dan keenam kategori yang disebut di atas. Oleh karenanya, berbagai penjelasan ini menerangkan bahwa seksualitas manusia itu tidak tunggal dan sangatlah beragam.

Refleksi tentang Seksualitas Perempuan di Ruang Publik
Salah satu tweet yang cukup popular beberapa bulan yang lalu mengatakan ”Serba salah di negeri ini : Naik busway → digrepe ., Naik kereta → dicopet ., Naek angkot → diperkosa ., Udah jalan kaki pun → ditabrak Xenia.. Bahkan Ngesot aja → masih ditendang satpam..”.   Fenomena ini menunjukkan betapa parahnya pelayanan publik di negeri ini, terutama dalam hal transportasi publik yang aman bagi perempuan.

Tweet ini tentu muncul bukan tanpa sebab. Berbagai pemberitaan sebelumnya menyorot banyaknya fenomena pelecehan seksual di kendaraan umum yang merupakan alat transportasi publik. Salah satunya adalah pelecehan seksual  yang menimpa seorang penumpang bus Transjakarta bernama Eti (19 tahun) yang tengah  berada di busway jurusan Lebakbulus- Harmoni. Saat bus melaju dalam keadaan penuh sesak ke halte Sasak di sekitar Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, seorang lelaki kedapatan ejakulasi di belakang seorang mahasiswi, saat berdesak-desakan di angkutan umum tersebut.

Sementara, seorang karyawati berinisial Is (30) nyaris menjadi korban pemerkosaan yang dilakukan secara berkelompok di dalam angkutan mikrolet C01 jurusan Ciledug-Kebayoran bernomor polisi B 1106 VTX pada Senin (23/7/2012) tengah malam. Saat itu, Is pulang dari tempat kerjanya naik angkot yang dikendarai oleh Ari Anggara bersama empat orang lainnya17. Sayangnya, komentar pejabat publik seringkali justru menyalahkan korban (blaming the victim) dan semakin melecehkan korban. Misalnya seperti  pernyataan Foke (yang saat itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta), yang disampaikannya di Balai Kota Jakarta, 16 September 2011, "Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet, orang yang duduk di depannya pakai rok mini. Agak gerah juga, kan? Kalau orang naik motor pakai celana pendek, ketat lagi, bayangin aja. Itu yang ikut di belakangnya, bisa goyang-goyang."18 Pernyataan itu akhirnya memaksa dirinya untuk minta maaf  kepada publik melalui press release di media.19

Selain persoalan tersebut, isu ’keperawanan’ (virginity) merupakan pembicaraan penuh kontroversi yang senantiasa mencuat di ruang publik. Gagasan mengenai tes keperawanan pernah muncul dari Bupati Indramayu (yang pada pilkada 2013 yang bersangkutan mencalonkan diri menjadi Cagub Jabar) pada sekitar tahun 2007, namun mendapatkan penolakan keras dari anggota DPRD setempat maupun dari berbagai kalangan masyarakat.20 Gagasan yang sama, juga kembali dilontarkan oleh Bambang Bayu  Suseno, salah satu anggota DPRD Propinsi Jambi  dari PAN 2010 yang lalu.21 Pernyataan ini memicu perdebatan di publik dan penolakan dari berbagai pihak termasuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari,22 dan  juga menjadi salah satu pertanyaan yang dilontarkan Dewan Juri dalam ajang Pemilihan Puteri Indonesia 2010 lalu.23

Karena anggapan mengenai perlunya untuk mengontrol seksualitas perempuan di ruang publik ini, maka tak heran bila semenjak era reformasi tahun 1998 banyak bermunculan perda-perda maupun kebijakan-kebijakan diskriminatif bernuansakan agama yang kebanyakan isinya mengatur soal seksualitas perempuan. Perda-perda yang isinya mengatur tata cara berpakaian (atau yang lebih dikenal dengan Perda atau Aturan Berjilbab) bagi siswi di sekolah, atau bagi para karyawati di lingkungan pemerintah daerah, perda ataupun kebijakan yang mengatur soal ’jam malam’ bagi perempuan. Belakangan, masyarakat juga sempat dibuat heboh oleh hadirnya Peraturan Menteri Kesehatan  (Permenkes) No. 1636/Menkes/Per/XI/2010 tentang Sunat Perempuan. Banyak analisis menyebutkan bahwa adanya Peraturan ini terkait dengan kehadiran Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Keputusan Fatwa No 9A tahun 2008 tentang Hukum Khitan terhadap Perempuan. Dalam Fatwa tersebut disebutkan di antaranya adalah bahwa khitan perempuan adalah makrumah (kemuliaan), dan pelaksanaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan. Hadirnya Permenkes ini seolah-olah merupakan justifikasi negara terhadap praktik sunat perempuan yang masih  ada dan berkembang  secara kultural  di sebagian masyarakat; sehingga oleh kalangan masyarakat sipil hal ini dinilai sebagai langkah mundur. Mengingat, empat tahun sebelumnya, pada 20 April 2006, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI telah  mengeluarkan Surat Edaran Depkes RI Nomor HK 00.07.1.31047  yang melarang medikalisasi sunat perempuan.

Beragam pemaparan di atas ini merupakan contoh dimana perempuan selama ini dipandang sebagai objek seksual. Negara dan masyarakat juga dianggap wajar melakukan kontrol atas seksualitas perempuan dengan berbagai aturan, kebijakan, maupun instrumen-instrumen kebudayaan lainnya. Pejabat publik, institusi pendidikan, lembaga agama juga telah menempatkan dirinya  sebagai ’penjaga moral’. Namun sayang, pemaknaan moralitas telah direduksi sedemikian rupa  sebatas moralitas seksual, namun lagi-lagi atas nama moralitas itu perempuan dibatasi, dikontrol, bahkan dikebiri hak-hak seksualitasnya.

Seksualitas dalam Perbincangan Khazanah Islam
Dalam khazanah muslim,  dapat kita temukan kitab-kitab yang sangat gamblang membincang seksualitas seperti Uquud al-Lujjayn maupun Qurratul ‘Uyuun dengan segala plus-minusnya (baca: dengan keterbatasan  atau bahkan bias dalam  perspektif gendernya). Bahkan, mengomentari penggambaran mengenai seksualitas dalam diskursus mengenai Pornografi, Abdurrahman Wahid  (Gus Dur almarhum)  pernah berseloroh bahwa Alquran merupakan kitab yang paling ‘porno’. Sebuah statemen yang memerahkan telinga. Namun bila dikaji lebih arif, akan banyak kita temukan kebenarannya mengingat dalam kitab suci kaum muslim ini  spirit ajaran dan nilai-nilai tentang bagaimana hubungan sosial bahkan relasi seksual antara suami istri  diperbincangkan.

Perbincangan seksualitas dalam Islam, tentu sangat terkait dengan kritik atas praktik seksualitas yang terjadi pada masyarakat Jahiliyah pra-Islam. Jauh sebelum kehadiran Islam, praktik memiliki istri hingga ratusan bahkan ribuan, harem, selir dan pergundikan banyak terjadi. Terdapat  beragam jenis perkawinan yang merupakan praktik perilaku seksual pada masa Jahiliyah ini sehingga kemudian dilarang. Bentuk-bentuk pernikahan yang dilarang tersebut adalah tersebut adalah :  1) Nikah al-Maqt yaitu menikahi bekas istri ayah yang sudah meninggal, 2)  Nikah al-Syighaar yaitu pertukaran anak perempuan untuk dinikahi tanpa mahar, 3) Nikah al-Istibdha' yaitu pernikahan dengan menempatkan perempuan sebagai bidha’ah atau barang dagangan, 4) Nikah al-Rahth yaitu pernikahan untuk kepuasan seksual tanpa batasan jumlah istri, 5) Nikah al-Badal atau praktik tukar – menukar istri, dan 6) Nikah al-Baghaaya atau hidup bersama tanpa nikah (kumpul kebo).24

Soal ketertarikan seksual kepada pihak lain, adalah fitrah yang sangat manusiawi.  Dalam Alquran dinyatakan :

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:   Kaum perempuan, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS.Ali Imran : 14)

Meskipun redaksi ayat tadi hanya menyebut kata ’perempuan’, namun konteks  pemaknaan ayat ini lebih terkait pada isu ketertarikan pada lawan jenis. Mengingat dalam Islam, kata untuk menerangkan jenis kelamin secara fisik hanya mengacu pada dua jenis. Yaitu dzakar (laki-laki) dan untsa (perempuan). Oleh karenanya, perbincangan tentang seksualitas dalam Islam lebih mengacu pada norma-norma heteroseksual.

Akan tetapi, dalam kitab-kitab fiqh dikenal pula jenis kelamin yang lain yang disebut dengan ”khuntsa”. Secara umum para ulama mendefinisikan ”khuntsa” sebagai orang yang terlahir mempunyai dua alat kelamin, laki-laki dan perempuan. Atau, bahkan terlahir tidak mempunyai alat kelamin, baik kelamin laki-laki maupun perempuan. Artinya, dia bukan laki-laki juga bukan perempuan. Khuntsa terbagi menjadi 2 (dua) yakni  al-khuntsaghairu musykil” (tidak sulit) dan al-khuntsa “al-musykil” (sulit).

Khuntsa ghairu musykil, yaitu orang khuntsa yang jelas tanda-tanda kelelakiannya atau tanda-tanda keperempuanannya. Tanda-tanda ini bisa dilihat secara fisik, mana yang lebih dominan. Untuk yang belum baligh, biasanya dilihat dari saluran mana dia kencing. Jika air kencing keluar dari kemaluan laki-laki, maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Dan jika keluar dari kelamin perempuan, maka dihukumi sebagai perempuan. Sedangkan setelah baligh, jika dia mimpi junub, penisnya lebih menonjol dari sebelumnya, suaranya lantang, menyukai tantangan, keluar jenggot atau kumis, dan sebagainya; maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Adapun jika dia mengalami menstruasi, payudaranya membesar, suaranya lembut, dan sebagainya; maka dia dihukumi sebagai perempuan. Sementara  khuntsa al-musykil, yaitu orang khuntsa yang mempunyai tanda-tanda maskulinitas dan feminitas dalam dirinya, misalnya; dia buang air kecil dari saluran kencing perempuan dan laki-laki secara bersamaan, atau tumbuh jenggot dan payudara dalam satu waktu; sehingga tidak diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan. Dan, sejatinya yang dimaksud dengan kata al-khuntsa dalam kitab-kitab fiqih adalah khuntsa ini, yakni khuntsa musykil. Namun demikian, jika seorang khuntsa musykil mengaku sebagai laki-laki, maka dia dihukumi sebagai laki-laki. Dan jika dia mengaku sebagai perempuan, maka dia dihukumi sebagai seorang perempuan.25

Islam mengajarkan agar manusia tidak mengumbar hasrat seksualnya, dan menjaga kemaluan  (alat-alat reproduksinya) secara bertanggung jawab. Dalam  QS Al Mu’minun disebutkan bahwa menjaga kemaluan (alat reproduksi) termasuk salah satu tanda keberuntungan orang-orang yang beriman.

Dan orang-orang yang selalu menjaga faraj (kelamin) mereka.”(QS.Al Mu’minun : 5)

Selain itu,  dalam berbagai ajaran Islam pernikahan  dipandang  sebagai jalan untuk berpasang-pasangan menyalurkan kebutuhan seksual secara sehat dan ber-tanggungjawab, menumbuhkan dan merawat cinta dan kasih sayang, sehingga manusia mendapatkan ketenangan hati. Oleh karenanya, menikah sangat dianjurkan kepada mereka yang telah dewasa, berkemampuan, dan memiliki hasrat untuk hidup berpasangan. Namun, bila mereka belum berkemampuan, maka puasa merupakan solusi yang dapat dilakukan untuk mengontrol hasrat seksual individu. Dalam Alquran maupun hadis ditegaskan :   

Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir”. (QS Ar Rum : 21)

"Wahai para pemuda, apabila siapa di antara kalian yangtelah memiliki ba’ah (kemampuan) maka menikahlah, kerena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung.” HR Muttafaq  `Alaih.

Hubungan seks sehat menurut Islam adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan (bukan perzinahan), dan dengan cara-cara yang halal (antar penis dan vagina) yang bisa mendatangkan kasih sayang dan kebahagiaan bagi keduanya.  Hubungan seks bukanlah ajang pelampiasan hawa nafsu, tetapi merupakan bagian mu’asyarah yang prinsipnya berlandaskan pada mawaddah dan rahmah. Oleh karenanya, dalam kehidupan seksual, hubungan suami istri pun harus berangkat dari perasaan kerelaan kedua belah pihak dan tidak boleh terjadi karena pemaksaan seseorang atas pasangannya. Karena itu mu’asyarah-nya harus bil ma’ruf yakni: kenikmatan yang dihasilkan harus dirasakan bersama-sama (bukan sepihak, yang mengecewakan bahkan menyakitkan pihak lain). Jadi suami harus menggauli istrinya dengan cara yang baik dan menyenangkan,26 sebagaimana hadis Rasulullah saw:

Sebaik-baik kalian adalah orang yang baik terhadap keluarganya, dan saya adalah orang yang paling baik pada keluargaku. Tidaklah menghormati perempuan kecuali orang yang mulia dan tidaklah menghinakannya kecuali orang yang tercela.

Masih banyak perbincangan mengenai seksualitas yang dapat diungkap. Dan banyak  ajaran yang disampaikan senantiasa bermuara pada nilai-nilai universal agama seperti kesetaraan, keadilan, penghormatan atas hak asasi manusia, toleransi, dan tentunya kesanggupan untuk bertanggungjawab pada pilihan. Sanggupkah? {} AD.Kusumaningtyas

_________________________

  1. Husein Muhammad,  dalam tulisannya Islam, Seksualitas dan Budaya Indonesia, di rubrik Tafsir Alquran, majalah Swara Rahima edisi 40.
  2. Berdasarkan wawancara dengan Irwan M.Hidayana, di rubrik Opini, majalah Swara Rahima edisi 40.
  3. Berdasarkan wawancara dengan Sri Kusyuniati, di rubric Opini, majalah Swara Rahima edisi 40.
  4. Lihat artikel berjudul Seks, Seksualitas, Kesehatan Seksual, dalam situs htttp://www.kesrepro.info/ ?q=node/382
  5. Lihat Modul Pelatihan Intervensi Perubahan Perilaku untuk Pencegahan Penularan IMS dan HIV Melalui Hubungan Seksual, Paket 1 Modul B3 Pelatihan Intervensi Perilaku, entang Seks, Seksualitas, dan Jender, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), USAID, Aksi Stop AIDS (ASA), Family Health Internasional (FHI) dan UNDP,  Jakarta 2009.
  6. Lihat kembali Modul Pelatihan Intervensi Perubahan Perilaku untuk Pencegahan Penularan IMS dan HIV Melalui Hubungan Seksual, 2009
  7. Lihat kembali wawancara dengan Irwan M. Hidayana
  8. Lihat www.jongjava.com,  Indonesia Online Magazine dalam artikel  Cewek Tomboy Diharamkan, diposting  Rabu, 29 Oktober 2008 12:04 dan diakses Selasa, 09 Oktober 2012.
  9. Lihat dalam tulisan Aulia Akbar, Waria Malaysia Tak Boleh Pakai Pakaian Perempuan, Kamis, 11 Oktober 2012, sebagaimana dikutip dari situs http://international.okezone.com/read/2012/10/11/411/702529/waria-malaysia-tak-boleh-pakai-pakaian-perempuan
  10. Lihat kembali Modul Pelatihan Intervensi Perubahan Perilaku untuk Pencegahan Penularan IMS dan HIV Melalui Hubungan Seksual, 2009
  11. Lihat dalam tulisan  Jayeng Resmi,  Mengintip Seksualitas Serat Centhini; yang diposting 9 November 2009, dapat diakses  di  http://seratcenthini.wordpress.com/2009/11/09/mengintip-seksualitas-serat-centhini/
  12. Lihat dalam tulisan Muhlis Hadrawi, Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis, diakses  dari situs http://www.goodreads.com/book/show/6255314-assikalaibineng
  13. Lihat dalam tulisan Jelajah Loka, Candi Sukuh, Candi Erotis, yang diposting 26 Agustus 2012. Dapat diakses di
  14. Berdasarkan wawancara dengan Irwan M.Hidayana, di rubrik Opini, majalah Swara Rahima edisi 40.
  15. Lihat  http://www.indotwit.com/view/post:38800346
  16. Lihat pemberitaan berjudul Lagi Pelecehan Seks di Bus Transjakarta, di http://poskota.co.id/berita-terkini/2011/02/08/lagi-pelecehan-seks-di-bus-transjakarta, Selasa, 8 Februari 2011 - 9:33 WIB
  17. Lihat pemberitaan berjudul Ini Motif Percobaan Pemerkosaan di Angkot C-01, di /http://megapolitan.kompas.com/read/      2012/08/16/09365817/Ini.Motif.Percobaan.Pemerkosaan.di.Angkot.C01?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=
  18. Lihat pemberitaan berjudul Foke Minta Maaf soal Rok Mini, Kamis 17 September 2011, diakses di situs http://regional.kompas.com/read/2011/09/17/09363348/Foke.Minta.Maaf.soal.Rok.Mini
  19. Pernyataan ini merupakan informasi yang kami kutip sebagaimana press release yang diterima oleh vivanews.com 17 September 2011.
  20. Lihat pemberitaan  Rencana Tes Keperawanan di Indramayu Ditolak, Kamis, 16 Agustus 2007, di akses dari situshttp://www.tempointeractive.com/hg/nusa/jawamadura/2007/08/16/brk,20070816-105735,id.html
  21. Lihat pemberitaan berjudul  DPRD Jambi, Para Siswi Sekolah Harus Tes Keperawanan, Rabu, 29 September 2010, di http://www.whooila.com/2010/09/dprd-jambi-para-siswi-sekolah-harus-tes.html
  22. Lihat komentar Linda Amalia Sari dalam tulisan berjudul Kekerasan Simbolis dalam Uji Keperawanan, Jumat, 8 Oktober 2010, sebagaimana yang  dikutip oleh Swara Rahima dari situs http://www1.kompas.com/read/xml/2010/10/08/03371717/kekerasan.simbolis.dalam.uji.keperawanan
  23. Lihat dalam tulisan Putri Jambi Tolak Tes Keperawanan, Kompas.com, Minggu, 10 Oktober 2010, sebagaimana dikutip dari situs http://regional.kompas.com/read/2010/10/10/12191994/Putri.Jambi.Tolak.Tes.Keperawanan?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=
  24. Lihat dalam tulisan berjudul Struktur Keluarga Arab, yang dikutip dari situs http://honeypoenyablog.wordpress.com/2011/04/20/struktur-keluarga-arab/
  25. Lihat dalam tulisan Aldi Farisi , Pandangan Islam Terhadap Kelamin Ganda (Khuntsa), sebagaimana dikutip dari situs http://www.tumblr.com/tagged/khuntsa
  26. Lihat tulisan Ikhsanuddin, et.al (editor). Hubungan Seks Antara Hak dan Kewajiban,  dalam Panduan Pengajaran Fiqh Perempuan di Pesantren. Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Fatayat, 2002

 

Last modified on Thursday, 17 August 2017 13:55
Rate this item
(0 votes)