Ustadz Imam Nakha’i, Spirit Waris adalah Mengembalikan Insaniyah Perempuan : Opini 1 Edisi 37

19 Mar 2012
1071 times

Lucu, nyentrik dan kritis. Itulah kesan sosok Imam Nakha’i, narasumber Swara Rahima edisi ini. Nakha’i lahir di Malang, 12 Pebuari 1970. Menempuh pendidikan dasar di SDN Ringinsari  Sumbermanjing Wetan Malang. Pendidikan menengah ditempuh di MTsN Harjokuncaran Sumbermanjing Wetan Malang,  selanjutnya belajar di MAN II Banjarejo Gondang legi Malang. Pendidikan tingginya dijalaninya di Fakultas Syari’ah IAI Ibrahimi Sukorejo Situbondo, 1990-1996, yang sempat ngadat  dua tahun, karena dana yang dibutuhkan tidak tersedia.
Imam Nakha’i, juga mengeyam pendidikan di beberapa pesantren, antara lain PP Zainul Ulum II Gondanglegi Malang, dan pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo. Nakha’i juga pernah mengikuti Pendidikan Pengkaderan Ulama, Majlis Ulama Indonesia (PKU-MUI) selama tujuh bulan dijakarta angkatan ke VI, 1996-1997. Program pasca sarjana (S-2)  konsentrasi Hukum Islam  ia selesaikan di Unisma Malang, 1999-2002. Ia juga belajar Di Ma’had Aly Situbondo, sebuah lembaga prestisius yang “konon“ membuatnya “lebih dewasa” dalam  bidang  Fiqih dan Usul Fiqih. Ia pernah juga mendapat beasiswa  S-2 Timur Tengah bersama 50 teman lainnya. Namun karena ketidak becusan pemerintah ia dan 20 temannya gagal berangkat. Saat ini ngaji kembali di jenjang S3 di IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Saat ini ia tercatat sebagai pengajar pada almamater yang sangat dicintainya, Institut Agama Islam Ibrahimi (IAII) Situbondo dan Ma’had Aly Situbondo dengan mengampu mata kuliah Fiqh dan Usul Fiqih. Aktif  diundang sebagai Narasumber maupun peserta dalam seminar-seminar regional, nasional dan internasional. Ia di kalangan mahasiswa santrinya dikenal sebagai kontekstualis tulen. Karnya-karyanya ,sekalipun belum banyak  yang ia lahirkan, di ataranya  Fiqh Anti Trafficking (2006), ditulis bersama kawan-kawan seperjuangannya, seperti KH. Husain Muhammad, Marzuki Wahid¸ Faqihuddin Abdul Kadir, dan Abd. Muqsith Ghazali. Karya lainnya yaitu Fiqih Perempuan, yang diterbitkan oleh Ibrahimi Press.

_______________________

Menurut anda, bagaimana Islam berbicara tentang harta warisan?
Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa waris bukanlah ajaran khas Islam, melainkan telah ada jauh sebelum Islam. Islam datang bukan untuk mensyari’atkan waris, melainkan untuk mengatur ajaran waris jahiliyah yang zalim itu, khususnya pada kaum perempuan. Dimasa jahiliyah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir, perempuan tidak saja tidak menerima harta waris dari keluarga, melainkan ia sendiri  justru menjadi harta waris, yang dibagi-bagikan. Jadi Islam datang untuk meluruskan kedhaliman dalam pelaksanaan waris, khususnya tadi itu, kepada kaum perempuan. Saya kira hampir semua ajaran Islam begitu adanya. Sebutlah perkawinan misalnya. Perkawinan juga bukan khas ajaran Islam, melainkan sudah ada bahkan sejak manusia pertama di bumi ini. Jadi salah kalau mengatakan waris atau perkawinan dan ajaran-ajaran lain sebagai khas ajaran Islam, yang seakan akan sebelumnya tidak ada ajaran itu.

Mengapa ada perbedaan harta waris yang diterima antara laki-laki dan perempuan (2:1)?
Perlu ditegaskan bahwa perbedaan pembagiaan harta waris antara laki-laki dan perempuan bukan  didasarkan pada insaniyahnya (kemanusiannya) bukan pula pada akramiyahnya (kemulyaan dihadapan allah), melainkan didasarkan pada afdhaliyahnya (kelebih utamaannya). Saya membagi relasi laki-laki perempuan dalam tiga level; level insaniyah, level akramiyah, dan level afdhaliyah. Dalam tataran insaniyah relasi laki-laki dan perempuan adalah setara (equal), artinya laki-laki tidak lebih manusia dari perempuan dan begitu pula sebaliknya. Itulah pesan Al-qur’an  “Wahai manusia bertaqwalah pada tuhannya yang telah menciptkan kalian dari jiwa yang satu...” . dalam level akramiyah antara laki-laki dan perempuan bisa jadi tidak sederajat. Bisa saja perempuan lebih mulia ketimbang laki-laki dan bisa jadi laki-laki lebih mulia dari perempuan dan bisa jadi pula setara.  Perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam konteks ini sangat ditentukan oleh kualitas taqwanya. Yang berhak menentukan siapa yang lebih mulia adalah Allah swt (‘inda allahi), bukan manusia (‘inda an-nas). Inilah pesan ayat “ sesungguhnya yang paling mulya ‘inda allahi adalah yang paling mulia diantara kalian” . sedangkan dalam level afdhaliyah-nya relasi laki-laki perempuan sangat ditentukan oleh peran-peran sosial-ekonominya, sosial politik dan sosial budaya.  inilah isyarat firman allah “ laki-laki adalah qawwam  atas perempuan , sebab fadhal allah yang diberikan kepada sebagian laki-laki atas sebagian perempuan, dan sebab laki-laki telah memberikan nafkah ..”

Nah, perbedaan pembagian harta waris antara laki-laki dan perempuan didasarkan pada aspek afdhaliyah-nya ini. Sehingga kalau peran-peran sosial itu berubah maka pembagian harta waris sebagaimana disebut dalam Alqur’an tidak bisa diterapkan begitu saja, melainkan perlu modifikasi disana-sini.

Bagaimana konteks sosial di belakang turunnya ayat waris di dalam Alqur’an?
Saya kira jelas sekali konteks sosial ekonomi dan sosial budayanya. Pada saat itu perempuan tidak hanya kehilangan hak individunya melainkan juga hak-hak publiknya pun dirampas. Secara individu perempuan saat itu masih dianggap “sesuatu” bukan “seseorang”. Dalam Alqur’an,  masih ada ayat mengabadikan budaya itu, misalnya Alqur’an menyebut perempuan dengan kata “maa” bukan “man” dalam konteks perkawinan “ fankihuu maa thaba lakum mi an-nisa’”. Kata “maa” dalam bahasa arab memang bisa berarti sesuatu dan seseorang, tapi penggunaan dasarnya kata “maa” itu untuk sesuatu atau barang. Jadi perempuan masih di anggap barang atau setengah barang.

Demikian pula dalam sosial ekonomi. Secara ekonomi perempuan seratus persen tergantung pada laki-laki. Keadaan ini bukan hanya terjadi pra Islam, akan tetapi juga masih terjadi setelah Islam datang. Kitab-kitab fiqih misalnya menampilkan dengan jelas bagaimana ekonomi perempuan masih sangat tergantung pada laki-laki. Hampir semua kebutuhan ekonomi istri (nafaqah) diserahkan pada suaminya, kewajiban istri hanya melayani aja.

Saya kira dalam konteks sosial ekonomi seperti itulah aturan waris syari’atkan. Tapi memang kita harus akui, bahwa Islam bukan hanya melakukan tranformasi budaya, akan tetapi revulosi budaya. Perempuan yang sebelum datangnya Alqur’an dianggap barang dan diwariskan, setelah Islam datang ia dianggap manusia, bahkan juga di beri hak menerima waris walaupun hanya setengah dari laki-laki. Saya anggap itu sudah terobosan Islam yang luar biasa.

Bagaimana pandangan ulama-ulama klasik (fiqh) terkait dengan harta warisan?
Ulama-ulama fiqh menganggap pembagian harta waris itu sudah final, tidak bisa diubah-ubah, karena ayat-ayat yang mengaturnya  bersifat qhat’iyu ad-dalalah, jelas terang benderang. Mereka tidak melihat, didasarkan pada level mana, dari level-level tadi, pembedaan waris laki-laki dan perempuan. Jadi seakan-akan perbedaan waris itu karena perbedaan kemanusiaannya, bukan peran-peran sosialnya. Jadi hukum waris menurut ulama klasik adalah ketentuan Allah yang bersifat qath’i dan berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu tidak mungkin untuk diubah. Mengubah ketentuan waris, menurut ulama klasik sama saja melawan hukum Tuhan. 

Pembagian yang tidak seimbang terhadap harta waris antara laki-laki dan perempuan (2:1) seringkali dituduh sebagai bentuk ketidakadilan Islam terhadap kaum perempuan, bagaimana pendapat anda tentang tuduhan tersebut?
Kalau kita tidak melihat konteks sosial ekonomi dan budayanya, memang tidak adil. Lho kok tiba-tiba dua banding satu, itu kan aneh. Akan tetapi kalau kita melihat konteks pembagian  sebagaimana di dalam Alqur’an itu, maka kita akan mengatakan  bahwa pembagian itu sangat adil sekalipun tidak setara (equal). Sangat tidak adil jika beban yang diberikan kepada kedau belah pihak tidak sama, akan tetapi pembagian warisnya kok sama.

Di samping itu kita harus melihat bahwa pembagian dua banding satu itu sebagai proses, bukan final. Ya samalah dengan ajaran tentang perbudakan. Perbudakan  dalam Islam itu sebagai proses untuk mengentaskan dan mengakhiri perbudakan, bukan mengabadikan perbudakan manusia atas manusia. Yang salah adalah menganggap waris maupun perbudakan dianggap final, sehingga seakan-akan Islam mengabadikan ketidakadilan dan perbudakan.

Beberapa tokoh di Indonesia pernah melontarkan gagasan tentang perlunya pembagian waris yang sama antara laki-laki dan perempuan, seperti Munawir Syadzali (almarhum), namun mendapat reaksi yang keras dari sebagian umat Islam karena dianggap menentang ketentuan Allah. Bagaimana pandangan anda?
Ya, saya kira ada beberapa faktor. Pertama, ketidaksiapan masyarakat muslim Indonesia menerima gagasan-gagasan baru. Masyarakat muslim kita kan masih harfiyun (tekstualis) yang masih memandang teks sebagai satu-satunya kebenaran. Jadi apa yang tidak diakatakan teks atau bertentangan  secara lahiriyah dengan teks dianggap sebagai kesalahan. Kedua, soal kapasitas dan strategi penyampaian gagasan. Umat Islam Indonesia masih senang melihat “man qaala/siapa yang mengatakan” ketimbang “Ma qaala/apa yang dikatakan,” berbeda dengan maqalah yang sering diucapkannya sendiri “undhur man qaala wa la tandhur man qaala”.  Mungkin masyarakat muslim Indonesia melihat bahwa penyamaan laki-laki dan perempuan adalah  produk pendidikan Barat, bukan genuin Islam. jadi ketika ide Munawir Sadzali itu dilontarkan ketiga faktor tadi menjadi penghambatnya.

Bagaimana memahami ketentuan waris 2:1 untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan?
Saya kira yang paling penting diwujudkan dalam relasi laki-laki dan perempuan bukan kesetaraan (equality), tetapi keadilan (justice). Ya syukur kalau sampai pada tingkat equality.  Keadilan antara laki-laki dan perempuan terjadi bila lima indikatornya dapat diwujudkan, yaitu akses yang sama, hak mendapatkan pendidikan yang sama, kesempatan yang sama dalam segala bidang, fasilitas dan budget. Saya berkeyakinan jika lima hal ini dapat diwujudkan maka akan tercipta keadilan antara laki-laki dan perempuan. Pembagian waris dalam Islam itu harus dipahami dalam konteks mewujudkan justice itu.  Keadilan itu tidak harus sama. Keadilan itu universal, tetapi bagaimana wujud keadilan dalam tataran praktisnya sangat tergantung pada peran-peran sosialnya.

Dengan demikian jika peran-peran sosial berubah, maka ketentuan waris itu juga harus diubah. Jika tidak mungkin diubah karena terbentur oleh teks, pakai hukum Allah yang lain aja, seperti hibah, shadaqah dan lain-lain. Jadi peninggalan si mayit tidak harus dibagi lewat media waris, tetapi bisa menggunakan hibah atau shadaqah. Menurut saya perintah pembagian harta waris itu bukan “amru ijabin/perintah wajib” melainkan “amru irsyadin/ perintah sebaiknya”. Jadi tidak harus dilaksanakan, sama dengan menuliskan hutang-piutang itu.

Bagaimana pandangan ulama Islam kontemporer tentang pembagian waris  bagi laki-laki dan perempuan?
Saya kira udah banyak ulama kontemporer yang tidak sreg dengan pembagian waris 2:1 itu. Di dalam memahami ajaran waris itu, mereka menempuh metode atau pendekatan yang berbeda, sebagian memahami secara kontekstual-maslahi. Dengan pendekatan ini mereka mencoba memberikan konteks sosial ekonomi dan sosial budaya kelahiran ketentuan waris.  Saya kira Fatimah Mernissi, Nasr Hamid Abu Zaid, Abdullah an-Nna’im dan lain-lain termasuk kelompok ini. Muhammad Shahrur juga menawarkan teori limitnya. Bagi teorinya, ketentuan 2:1  adalah batas minimal (al-haddu al-aqsha) yang tidak boleh dilewati. Bukan  al-haddu al-a’la (batas maksimal) artinya ketentuan waris bisa saja lebih dari ketentuan itu. Saya kira menarik juga mendengarkan atau mengamati pandangan-pandangan semacam itu. Karena bisa jadi itulah kebenaran yang dikehendaki Allah.

Menurut anda, apa sebenarnya spirit yang ingin disampaikan oleh Islam terkait dengan dari hak waris bagi perempuan?
Menurut saya ada dua spirit mendasar ketentuan waris dalam Islam, yaitu mengembalikan kemanusian perempuan dan menciptakan keadilan relasi, itu aja. Zaman jahiliyah perempuan dianggap sebagai barang, bukan seseorang. Artinya insaniyah perempuan dicerabut dari dirinya. Islam, dengan ketentuan warisnya hendak mengembalikan kepada perempuan sifat insaniyah-nya. Disamping itu, Islam ingin menciptakan keadilan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan peran-peran sosialnya.


Last modified on Wednesday, 16 August 2017 09:13
Rate this item
(0 votes)
Super User

Curabitur ultrices commodo magna, ac semper risus molestie vestibulum. Aenean commodo nibh non dui adipiscing rhoncus.

Website: www.themewinter.com