Yahya: Hijrah Kespro dari Al Ghozaliyah ke Brawijaya: Profil Edisi 50

25 Nov 2015 AD. Eridani
867 times

…Ketika pada 2014 PKRS menjadi mata pelajaran (mapel)wajib bagi siswa kelas X jurusan IPA dan IPS di MA Al Ghozaliyah, saya sudah duduk di kelas XII…. (suaranya tiba tiba terhenti. Lalu di kejauhan terdengar seseorang berkata, “Mas, nyuwun artone kagem tumbas (minta uangnya untuk beli) beras…”. Hening. Tak lama kemudian, “Maturnuwun Mas.”). Penuh penasaran saya bertanya,”Siapa yang datang?” “Seorang Ibu peminta,” jawabnya.

 

Lelaki yang sedang penulis ajak ngobrol melalui telpon itu bernama Yahya Arifin, kelahiran Jombang 17 Juli 1996. Putra ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan bapak Martono (tukang bangunan) dan ibu Suprapti (ibu rumah tangga) ini sejak Madrasah Ibtidaiyah (MI) bersekolah di Yayasan pondok Pesantren Al Ghozaliyah yang letaknya tak jauh dari rumahnya di dukuh Sumber Mulyo, Kebon Melati, Jogoroto, Jombang. Ketika MI prestasi akademik Yahya tidak terlalu menonjol, “Belum fokus belajar, masih suka bermain,” jelasnya. Tetapi ketika memasuki Tsanawiyah, prestasi akademiknya mulai menonjol. Ia selalu berada di peringkat 1 atau 2 hingga lulus Aliyah. “Pernah juga saya di ranking 5, tapi waktu itu karena saya…..,” gelak santri kalong di pesantren yang diasuh oleh KH Nasrullah ini.

Meski menjadi santri kalong, Yahya aktif mengikuti kegiatan santri baik di sekolah (pengurus OSIS) maupun di pondok. Karena itulah ia kemudian terpilih menjadi salah satu wakil dari pesantrennya untuk ikut program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) bagi santri yang diadakan oleh Rahima.

****

“Pertama kali mengenal kata kespro ya… ketika saya hadir di acara penyusunan modul santri yang diadakan Rahima (2012) di PP Al Hikmah, Purwoasri, Kediri. Rasanya aneh, mbahas kok hal hal yang  tabu. Jadinya di awal saya lebih banyak diam karena malu. Tetapi karena pemateri dan fasilitatornya asyik banget, kami peserta dari 7 pesantren jadi gak canggung lagi. Apalagi pembahasannya juga menggunakan tinjauan Islam, jadi lebih bisa menerima,” terang Yahya yang sejak itu aktif mengikuti pertemuan belajar santri hingga 2014.

Di forum pertemuan belajar itu, santri memperoleh dan berbagi pengalaman serta pengetahuan juga keterampilan tentang gender, kesehatan reproduksi, studi Islam, pengorganisasian, advokasi dan penggunaan teknologi sebagai media sosialisasi kespro. “Senang bisa bertemu santri dari pondok dan kota yang berbeda (Jombang, Kediri, Lamongan). Kami jadi bisa saling tukar informasi mengenai berbagai hal. Tukar informasi juga dilanjutkan melalui medsos yang kami punya. Rata-rata sih melalui facebook. Saat itu pesantren memang menyediakan fasilitas wifi gratis di jam sekolah. Tujuannya utamanya untuk pembelajaran di kelas,”urai Yahya.

Setelah kembali ke pesantren, Yahya beserta empat kawannya (Syakoh, Arif, Ishom, Ani dan Alif) menyusun strategi sosialisasi juga advokasi kespro. Ada berbagai cara yang mereka lakukan, pertama, sosialisasi melalui mading. Kedua, membuat pertemuan dalam forum forum kecil. Ketiga, sosialisasi dari kelas ke kelas, keempat, secara personal, dan yang terakhir melalui forum MOS di awal tahun ajaran baru sekolah dan pondok. “Tema yang kami sampaikan antara lain KDP (Kekerasan Dalam Pacaran), kespro, pacaran sehat, bahaya narkoba, bullying, kespro dan pacaran,” jelas Yahya. “Kenapa temanya sering tentang pacaran?” tanya penulis. “Itu permintaan teman-teman,” jawab salah satu anggota tim lomba info grafis tingkat nasional yang diadakan oleh SEPERLIMA di Jakarta pada Oktober 2014. Ketika itu tim Yahya mengangkat tema KTD, dan menjadi juara kedua.

Gerakan yang dilakukan Yahya dan kawan kawan, yang juga mendapat dukungan dari para guru ini pada perkembangannya mendapat respon positif dari pihak pengambil kebijakan pesantren yang menyetujui PKRS menjadi mapel wajib siswa kelas X MA jurusan IPA dan IPS mulai tahun ajaran 2014. Pihak pesantren kemudian bekerjasama dengan WCC Jombang untuk penyediaan tenaga pengajar. Disepakatilah Bapak Lukman Hadi yang memang sudah sangat familiar dengan isu PKRS dan remaja. “Kata adik-adik kelas, mereka menjadi semangat masuk kelas jika ada mapel itu. Alasan mereka materi pelajarannya seru, gurunya juga asyik, cara mengajarnya berbeda dengan guru kebanyakan, siswa diperlakukan sebagai teman diskusi. Di situ serunya.”

PKRS di kelas X memang terdiri dari 10 bab, di antaranya pentingnya PKRS, Makna kesetaraan gender, arti penting seks dan sekualitas, , pubertas dan organ reproduksi, resiko reproduksi dan resiko seksual, NAPZA, dunia remaja dan lingkungannya, dll. “Setelah memperoleh salah satu materi, ada saja santri yang kemudian menjadi penasaran lalu mencari informasi di internet yang belum tentu bisa dipertanggung jawabkan. Kepada mereka saya sampaikan agar rasa penasaran itu jangan dituruti karena masa depan kita masih panjang.”

Meski telah ada mapel wajib di sekolahnya, Yahya tetap menjadi pendamping bagi adik adik kelasnya terkait isu kespro. “Salah satu kasus yang dihadapi santri putri yang tidak mondok ketika pulang sekolah adalah  mendapat perilaku tak terpuji dari sebagian remaja luar pondok. Mereke sering disuit-suit. Itu kan sudah masuk salah satu bentuk pelecehan sekual. Jadi saya sampaikan ke adik adik agar lebih waspada, kalau pulang sekolah sebaiknya bersama sama, dan tidak pulang terlalu sore,” ujar juara pertama cerdas cermat lomba tingkat SMA se kabupaten Jombang tahun 2014 dengan tema narkoba ini.

*****

Tahun 2015 ini, Yahya lulus dari MA Al Ghazaliyah. Ia bertekad mengikuti jejak kakak perempuannya yang masuk kuliah tanpa tes di Malang. “Ia satu-satunya kakak saya yang kuliah.” Alhamdulillah, doa Yahya terkabul. Ia diterima sebagai mahasiwa baru di Fakultas Perikanan Jurusan Agrobisnis Perikanan di Universitas Brawijaya, tanpa tes. Sama seperti Mbak-nya. “Saya ikut program Bidik Misi, program beasiswa pendidikan bagi calon mahasiwa berprestasi dari keluarga kurang mampu,” jelas penyuka ikan ini.

Di kota Apel itu, Yahya indekos. Jaraknya? “10 menit naik sepeda onthel ke kampus. Kalau berangkat kuliah waktu tempuhnya lebih cepat karena jalannya menurun. Pulangnya yang rada ngosngosan karena  jalannya nanjak,” urainya sambil tergelak. Yahya memang harus berhemat, karena beasiswa per bulan yang diperolehnya hanya cukup untuk hidup sederhana. “Tetapi itu bukan masalah karena di pondok kami diajari untuk hidup sederhana,” terangnya. Meskipun begitu tekadnya tidak sederhana. “Setelah ini saya akan masuk BEM, lalu akan mulai sosialisasi tentang kespro disana.” Go Go Go Yahya!!! {} AD. Eridani

 

 

Last modified on Wednesday, 16 August 2017 09:06
Rate this item
(0 votes)