PROFIL SR 51: Nyai Hj. Shinto Nabilah, Menebar Manfaat untuk Umat Featured

10 Apr 2017 Ulya Izzati
2689 times

Profil SR 51

Nyai Hj. Shinto’ Nabilah :

 

 

Menebar Manfaat untuk Umat

“Saya selalu terkenang dengan masa kecil saya. Kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan oleh orang tua saya, baik Ibu maupun Abah, membentuk saya menjadi seperti sekarang ini.”

Penuturan itu menjadi awal pembicaraan kami dengan Ibu Nyai Hj. Sintho’ Nabilah Asrori. Putri kedua pasangan almarhum KH. Asrori Ahmad (Tempuran Magelang) dan Ibu Nyai Hj. Ma’munatun (Rembang) Kholil ini mengisahkan masa kecilnya dengan sesekali menitikkan air mata. Peran orangtuanya dalam hal pendidikan, merawat diri, menjaga kebersihan, unggah-ungguh (tata krama), bergaul dengan orang lain, beliau rasakan sangat membekas hingga usianya yang ke-56 ini. Kesemuanya menjadi modal utama dalam menjalani kehidupannya.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Hidayat yang beralamatkan di Kedunglumpang, Salaman, Magelang, Jawa Tengah ini menamatkan pendidikan dasarnya di SD I Prajegsari Tempuran Magelang. Di usia belia,beliau sudah diajarkan membaca dan memahami isi kitab berbagai cabang ilmu. Salah satu alasan ketertarikannya dalam mendalami kitab-kitab tersebut karena sang ayah adalah seorang penerjemah puluhan kitab klasik. Inilah yang menjadi inspirasi beliau hingga akhirnya kini berhasil menyusun kitab panduan fiqh keseharian dan telah dipakai rujukan dalam pembelajaran fiqh di berbagai pesantren. Selain kitab Fasholatanbeliau juga menyusun buku syi‘iran berbahasa Jawa.

Sintho’ kecil sering diajak silaturrahim ke para ulama’ oleh orang tuanya. Sowan yang mentradisi hingga sekarang ini menjadikan beliau dikenal sebagai orang yang enthengan (senang bersilaturahim). “Harapan saya, sampai akhir hayat saya selalu dimudahkan untuk mengunjungi orang sakit, orang susah dan orang yang membutuhkan,” tutur perempuan yang pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja ini. “Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika diajak silaturahim ke Ibu Nyai Nuriyah Lasem Rembang Jawa Tengah, Ibunda KH.Ali Maksum Jogjakarta. Ibu saya asli Rembang, jadi ke Lasem lumayan sering. Bertemu dengan Ibu Nyai Nuriyah membuat kagum dan tergugah. Beliau perempuan yang hafal Tafsir Jalalain, ” lanjut Ibu Nyai.

Dalam sebuah kesempatan, pada tahun 1971 beliau ikut hadir dan mendengarkan pidato pengajian oleh Ibu Nyai Elok Faiqoh dari Jember. Duduk di barisan pertama, membuat beliau dengan jelas mendengarkan setiap kata dan gaya pidato penceramah perempuan itu. Dalam hati beliau berdoa agar suatu saat beliau juga mampu menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

Cerita lain penghafal al-Qur’an ini, pernah suatu kali Ayahnya mendatangkan KH. Hamdani seorang Hafidz Mangkuyudan Solo untuk sima’an Alquran. Alih-alih penyima’nya jama’ah laki-laki semua, Sintho’ kecil diminta menyima’ dekat dengan sang Hafidz. Kekagumannya terhadap bacaan Alquran yang indah, membuatnya bercita-cita menjadi seorang penghafal al-Qur’an.

Setamat pendidikan sekolah dasarnya, Sintho’ dipesantrenkan di Pesantren Mathaliul Falah Kajen, Pati pada tahun 1972. Saat itu beliau diantar oleh neneknya, Nyai Masfi’atun Kholil. Neneknya menghadap pengasuh sambil menyampaikan harapannya bahwa sang nenek ingin Sintho’ menjadi obor. Mendengarnya Sintho’ tidak bisa mengartikan maksud perkataan itu. Hingga akhirnya saat dewasa beliau mencoba mencerna kata-kata sang nenek. Obor beliau artikan sebagai penerang.

Selesai pendidikan Ibtidaiyah di Pati, beliau diminta KH. Ma’mun Kholil pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang yang juga pamannya untuk melanjutkan pendidikan di pesantrennya. Kyai Ma’mun mendidik Sintho’ menjadi pribadi yang kuat, sehingga selain mengikuti pendidikan formal di MTs dan MA Muallimat beliau juga aktif di organisasi intra sekolah. Bahkan beliau sempat terpilih menjadi ketua OSIS selama dua periode. Rupanya bermula dari organisasi ini mulai tumbuh semangat perjuangannya. Baginya perjuangan itu dimana saja dan tidak harus menjadi ketua.

Selain aktif di OSIS, beliau juga beberapa kali menjadi peserta terbaik dalam lomba Pramuka. “Berkah prestasi ini saya diberikan kesempatan study banding di sekolah unggulan di Kudus. Saat itu saya diminta memberikan sambutan. Saya bersyukur, meskipun saya orang ndeso, tapi diberikan pengalaman yang luar biasa,” kata Ibu Nyai Sintho’ dengan penuh semangat.

Di Rembang, manis pahit perjuangan beliau rasakan. Kiriman yang sering telat sudah menjadi hal biasa yang tidak menggugurkan semangat belajarnya. Beliau menyadari kondisi ekonomi orang tuanya yang memprihatinkan sehingga membuatnya berpikir keras agar tidak terlalu memberatkan orang tuanya yang juga membiayai ke-delapan saudaranya. Hal ini yang membuat beliau tidak gentar saat dicemooh teman-teman sekolahnya karena berjualan tape singkong dan kerupuk. Beliau selalu teringat perkataan ayahandanya, “Jika dicaci jangan benci, jika dipuja jangan bangga”.

Satu tahun di Rembang, Sintho’ mulai menjadi perbincangan masyarakat. Sosoknya mampu menarik perhatian. Permintaan mengajar privat dan undangan pengajian mulai berdatangan. Di saat mendengar kabar bahwa teman-teman di kampungnya sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak, Sintho’ justru termotivasi untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin. “Bagaimana akan mempunyai generasi yang shalih dan shalihah solihah, kalau ibunya tidak berpendidikan?” kata perempuan yang lahir pada 18 Maret 1960 ini.

Tiba saatnya beliau meninggalkan Rembang untuk pulang ke kampung halamannya. Dalam hal pendidikan tidak ada kata diskriminasi dalam kamus keluarganya. Walaupun jenjang pendidikannya paling tinggi dibanding perempuan lain di desanya, Sintho’ dirasa belum cukup. Ayahnya pun membawa beliau ke pesantren al-Hidayat Berjan Purworejo bersama tiga adik laki-lakinya. Di sinilah Allah swt. mempertemukan jodohnya, KH. Ahmad Lazim Zaeni, laki-laki ‘alim yang humoris pembimbing adiknya di pesantren menjadi pilihan hatinya. Pada tahun 1983 beliau menikah dan menetap sementara di rumah mertuanya, sambil tetap melanjutkan perjuangannya di organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama.

Tempat baru tidak menjadikan beliau canggung dalam berorganisasi. Namanya pun lambat laun mulai dikenal oleh masyarakat. Kiprahnya di organisasi itu mejadikan perempuan-perempuan di masyarakatnya bangkit, baik dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. “Berawal dari organisasi, dari teman-teman itu ada yang pengen jadi santri. Lha, bagaimana? saya saja belum punya pondok. Mereka ini agak memaksa, ya Alhamdulillah mertua menyediakan kamar untuk mereka,” tutur Ibu dari lima anak ini.

Pesantren di rumah mertuanya berlangsung selama 4 tahun. Pada tahun 1990 beliau boyong ke rumah sendiri dan membangun pemondokan sederhana. Keaktifannya bererorganisasi tidak mengurangi intensitasnya mengajar di pesantren. Manajemen waktu yang diajarkan orangtua, bekal pendidikan di pesantren dan dukungan suaminya turut memuluskan setiap aktivitasnya.

Seiring berkembangnya pesantren yang beliau asuh, beliau juga mempunyai santri perempuan lanjut usia. Berawal dari tiga orang yang ingin mengaji dari dasar, kini santri sepuhnya berjumlah kurang lebih 300 orang. Santri yang dikenal dengan sebutan S3 (Santri Sudah Sepuh) ini mengkaji berbagai kitab. Dari Fasholatan hingga tafsir Alquran. Adapun yang mengajar adalah dari santri-santri menetap yang dirasa sudah mampu.

Datang seminggu sekali di hari Selasa, tidak sedikit dari santri S3 ini yang juga meminta solusi berbagai persoalan. Meskipun direpotkan dengan berbagai keluhan mereka, Ibu Nyai Sintho’ tetap merasa bersyukur bahwa mereka menyadari bahwa setiap masalah harus dicarikan jalan keluar. Menurutnya, sekecil apapun masalahnya jika tidak langsung dicari solusinya akan menimbulkan masalah baru. “Terlebih persoalan-persoalan perempuan. Kalau perempuannya baik, dalam arti baik perilakunya dan baik kondisinya maka negaranya akan baik. Jadi kalau ada yang berlaku tidak baik pada perempuan atau perempuan tidak baik karena ada sesuatu yang tidak baik, maka kita berfikir bersama mencari jalan keluar,” imbuh perempuan yang senang mengajak jamaahnya untuk membaca wirid dan kini terpilih menjadi Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Kecamatan Salaman Magelang ini.

Ditanya soal pernikahan anak, beliau menjawab dengan cerita santrinya. “Ini salah satu dari kesekian banyak kasus yang saya hadapi. Ada santri lulus SMP. Ini kenapa anak kok murung terus. Baca Alquran belum bagus. Anaknya juga kurang tanggap dengan kebersihan. Kemproh kalau bahasa Jawanya. Ternyata sudah dijodohkan sama seorang calon kyai dan 1 tahun lagi dinikahkan. Bapaknya pengen ngalap berkah sama calon menantunya itu. Saya prihatin, saya panggil bapaknya. Padahal dia kyai juga. Saya bilang saja anaknya belum bisa baca Alquran. Lalu saya tanya, apa mau punya cucu yang bodoh? Akhirnya bapaknya nurut,” cerita alumni PUP Rahima angkatan pertama ini sambil tersenyum.

“Kalau masih kecil kok kebelet nikah, itu kan karena yang dia tahu cuma enaknya. Mungkin sering lihat pornografi atau pornoaksi di TV atau internet. Jadi harus kita ajak untuk berkegiatan yang positif, menyenangkan sesuai dengan usia mereka,” imbuh pengasuh pesantren dengan juara I Sanitasi se Jawa Tengah ini. {} Ulya Izzati

 

Last modified on Wednesday, 16 August 2017 10:11
Rate this item
(0 votes)