Potret Edisi 2: Nyai Ruqayyah Ma'shum : "Kekerasan Tak Boleh Didiamkan Lagi"

12 Jun 2009 Redaksi
1844 times

Ini adalah sejumput kisah tentang perempuan yang lahir dari rahim (baca: keluarga) pesantren "tradisonal". Perempuan ini dengan lugas bertutur tentang pasang surut kehidupannya. Sekalipun berasal dari ndalem pesantren yang oleh sementara kalangan dianggap "sakral dan aman" ternyata ia telah menjalani kehidupan yang tidak selalu ramah. Alasannya gamblang, karena ia seorang perempuan. Berikut petikan wawancara Farha Ciciek dari Swara Rahima dengan Nyai Ruqayyah Ma'shum. Dari bahasa dan tuturannya sendiri ia berceritra tentang diri, orang-orang yang dekat dengannya dan sekilas dunia pesantren. Sebuah kisah yang mengalir dari lubuk hati yang bergolak.

Swara Rahima (SR) : Omomg-omong soal perkawinan, kabarnya anda dikawinkan ketika masih kanak-kanak. Bagaimana ceritranya? Ruqayyah
(R) : Sejak kelas 3 SD saya telah dijodohkan dengan seorang lelaki putra kyai. Kala itu sepenuhnya saya tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi. Dunia saya masih dunia bermain. Ketika menginjak usia remaja (14 tahun), sewaktu masih mondok di Pesantren di wilayah Probolinggo, ayah wafat. Saya diharuskan menikah. Alasannya supaya kepemimpinan pesantren tidak vakum. Dan suami saya diharapkan sebagai calon kyai penerus. Kawin muda saya jalani dengan setengah hati. Bagaimana tidak, saat itu saya tengah senang-senangnya belajar dan masih ingin menikmati masa muda eh...terpaksa harus menikah. Berat rasanya.

SR: Apa yang terjadi setelah menikah?
R: Saya mengalami peristiwa aneh. Di hari pertama perkawinan, masih dalam gaun pengantin tiba tiba saja saya pingsan. Dan hal ini sering terjadi hingga 1 tahun usia perkawinan. Menurut banyak orang, saya kena teluh. Tetapi ada pendapat lain bahwa ini sebenarnya bentuk perlawanan terhadap tradisi kawin paksa yang harus saya jalani. Wallahualam.

SR: Sebenarnya bagaimana hubungan anda dengan suami waktu itu ?
R: Saya belum pernah merasakan apa itu cinta. Yang saya tahu, menurut pendidikan pesantren, suami adalah segala-galanya. Karenanya, istri harus taat, harus manut. Saya berusaha melakukan itu.Tetapi terus terang, perasaan saya masih seperti santri, masih mbocahi. Ini sangat berlawanan dengan kenyataan dimana saya harus berlaku sebagai orang dewasa, khususnya ketika menghadapi suami. Sesungguhnya, saya merasa tersiksa. Belum lagi ketika harus berhubungan dengan keluarga suami. Ada mertua, ipar dan kerabat suami lainnya. Mereka tentu tidak sama dengan keluarga saya sendiri. Untungnya, ayah mertua telaten dan sayang terhadap saya. Saya tidak diperlakukan seperti anak sendiri.

SR: Adakah Pengaruh keluarga suami terhadap kehidupan mbak?
R: Mungkin, karena memasuki perkawinan dalam keadaan belum siap lahir dan batin maka saya mengalami berbagai peristiwa menyedihkan. Saking tidak siapnya, sampai-sampai ketika saya punya anak, sayapun tidak tahu bagaimana harus mengasuh anak itu. Faktor inilah yang mungkin mengundang besarnya campur tangan kerabat suami. Apalagi saya tinggal bersama mereka dalam kompleks pesantren.

SR: Sampai dimana pengaruh keluarga suami ?
R: Mereka selalu mengintervensi keluarga baru kami. Konsekuensinya apa-apa tidak bisa diputuskan antara saya dan suami. Keputusan harus mengikuti atau menampung beberapa pendapat keluarga yang kadang-kadang tidak berpihak kepada saya. Semua ini didukung tradisi masyarakat bahwa yang namanya ikut mertua harus tunduk apa katanya mertua (dan keluarganya). Apalagi dari segi ekonomi, kami masih ditanggung mertua. Waktu itu suami saya belum punya pekerjaan tetap. Apapun yang kami nikmati berasal dari orang tua suami. Akibatnya tidak ada kemandirian, baik ekonomi juga dalam hal pengambilan keputusan apapun. Termasuk cara mendidik anak.

SR: Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
R: Setelah ayah mertua meninggal, perceraian tak bisa dihindarkan. Pemicunya masalah sepele. Tetapi saya sadar itu adalah puncak dari berbagai ketegangan yang sudah menumpuk. Saya dan anak (waktu itu berumur 5 tahun) dipulangkan oleh keluarga suami ke rumah ibu saya. Tak ada alasan yang jelas apa kesalahan saya. Sangat menyedihkan.

SR : Bagaimana anda mensikapi kejadian itu ?
R : Yah., meskipun terpukul saya berusaha mengambil hikmah dari berbagai peristiwa itu. Bahwa, perkawinan dini sangat beresiko tinggi misalnya dominannya campur tangan keluarga. Perkawinan dini memusnahkan banyak kesempatan berkembang bagi seorang perempuan. Perkawinan dini menorehkan luka karena seringkali berakhir dengan perceraian. Dan korbannya bukan hanya suami istri saja tetapi juga anak anak. (Nyai Ruqayyah menerawang, menghela nafas kemudian melanjutkan...) Tapi babak kehidupan selama rentang usia perkawinan itu tidak semua bersifat negatif. Diantara sejumlah penderitaan, saya mengalami proses penguatan. Itu bersumber dari bapak mertua. Sesuatu yang tak pernah saya lupakan...

SR : Bisa diceritrakan ?
R : Ayah mertua sayang sekali kepada saya. Saya mendapat banyak didikan dari mertua. Saya diajari membaca kitab, mengaji, memperdalam ilmu, berceramah, tata cara berpidato dalam menyambut acara-acara di pesantren seperti maulidan, imtihan dll. Tapi apa yang menjadi pucuk kebahagian saya, tidak bagi pihak lain. Curahan perhatian besar dari bapak mertua, ternyata menjadi sumber masalah di antara kerabat suami. Timbul kecemburuan. Kok Ruqayyah yang diberi perhatian, bukan kami yang asli orang sini.

SR: Apa yang anda lakukan setelah bercerai ?
R : Setelah menjanda, hampir setiap hari saya terus berda'wah. Mungkin itu salah satu hiburan ketika itu. Dengan berda'wah, beban yang saya rasakan sedikit berkurang. Ada kesenangan tersendiri. Itu terus berlanjut, sampai suatu saat saya kenal dengan seorang lelaki yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Seorang sarjana agama. Dari perkenalan itu timbul perasaan, mungkin orang ini cocok untuk menjadi pendamping. Saya berharap ia bisa mendukung profesi saya sebagai juru da'wah. Saya bisa belajar ilmu lebih banyak darinya. Tapi untuk sampai ke jenjang perkawinan dengan laki-laki tersebut, bukan hal mudah. Timbul perbedaan nasab. Saya berasal dari keluarga pesantren, dia bukan. Karena itu, keluarga saya menolaknya. Saya berupaya melawan. Saya memberi alasan bahwa tidak ada perbedaan antara orang berdarah biru dengan yang bukan. Saya ingin membongkar pandangann keluarga dengan meyakinkan mereka, bahwa laki-laki itu adalah orang yang tepat karena berlatar belakang pendidikan tinggi. Akhirnya kami menikah dan tinggal bersama Ibu di Prajekan. Oh ya...suami saya duda dengan 2 anak. Menurut surat cerai yang ditunjukkan, perceraian terjadi karena istrinya selingkuh.

SR :Bagaimana dengan perkawinan kedua ini?
R: Di awal pernikahan, segala sesuatu berjalan baik-baik saja, meskipun masing-masing membawa seorang anak. Masalah mulai timbul setelah kami pindah dari Prajekan ke kota Bondowoso karena pertimbangan untuk mendekati kantor suami. Saat itu ia bekerja di departemen agama. Nah, sejak itulah mulai kelihatan watak aslinya. Semula tampak sabar, kini sering marah-marah. Kami sering bertengkar. Penyebab pertengkaran tak ada yang pinsip. Kadang cemburu tidak beralasan. Kadang bertengkar karena pembagian tugas di rumahtangga atau pendidikan anak. Semakin lama sifat jeleknya semakin menjadi-jadi. Ia mulai main kasar, misalnya memukul. Jika diingatkan, ia semakin berang. Saya berusaha merahasiakan hal ini dari keluarga. Terus terang saya malu. Toch saya yang dulu ngotot untuk menikah dengannya, walau dilarang keluarga. Tetapi, meskipun saya tutup-tutupi akhirnya ibu tahu juga apa yang dilakukan suami terhadap saya. Beliau mengisyaratkan supaya kami bercerai. Saya belum mantap waktu itu. Saya masih mencoba bagaimana caranya supaya keluarga tetap utuh.

SR : Mengapa bersikap demikian?
R : Saya masih berharap ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau saya bercerai untuk kedua kalinya, tentu akan merupakan pukulan lagi bagi keluarga, terutama ibu.

SR: Lalu ?
R: Memang ada perkembangan keadaan, terutama ketika terjadi perubahan sosial politik di tanah air. Suami saya berhenti sebagai pegawai Departemen Agama dan masuk partai politik.

SR : Apakah ada proses perubahan ke arah yang lebih baik ?
R : Dalam beberapa waktu, ya. Perubahannya kelihatan sekali. Malah overacting. Saya cenderung dimanja. Misalnya ketika ia pergi ke rapat partai, saya sering di belikan baju. Biasanya tidak seperti itu.

SR : Kira kira mengapa ia berubah ?
Semula saya fikir mungkin karena dia akan menjadi anggota DPR RI. Atau paling tidak, merupakan ungkapan terima kasih kepada saya. Saya sempat berkampanye untuk partai politik dimana ia dijagokan untuk menjadi anggota DPR. Dan akhirnya dia memang lolos. Tetapi belakangan saya baru tahu, itu dilakukan untuk menutupi atau paling tidak agar tidak memancing kecurigaan saya bahwa ia mulai berselingkuh. Ia akhirnya menikah di bawah tangan tanpa sepengetahuan saya. Yah, ternyata sikap baiknya yang aneh itu merupakan salah satu taktik untuk membohongi istri. Saya terpukul dan sedih. (Dan ...Suaranya terhenti sejenak.Nyai Ruqoyyah kembali menghela nafas panjang dan melanjutkan dengan nada rendah...) . Satu hal lain yang membuat saya sedih adalah seluruh teman laki-lakinya berupaya melindungi suami . Bagi saya itu menjadi semacam temuan. Alangkah kuatnya persekongkolan laki-laki ketika menutupi perbuatan serong kawannya. Ketika saya bertanya, tidak ada satu orang yang mengakui akan hal itu. Mereka seperti melindungi satu sama lain. Sampai akhirnya segala sesuatu tak bisa disembunyikan lagi. Saya punya bukti kuat. Saat itu saya ingin memproses itu ke jalur hukum. Tetapi mereka semua keberatan. Mereka bahkan meminta-minta saya dengan hormat janganlah kasus ini diungkap demi nama baik organisasi dan partai.

SR : Apa tindakan anda selanjutnya?
R : Saya masih berusaha bersabar waktu suami meminta saya untuk memberi kesempatan untuk memperbaiki perbuatannya. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya itu. Yah ...bagaimanapun waktu itu saya masih menerima dan ingin memberi kesempatan padanya. Saya pikir, mungkin setelah ia menjadi anggota DPR-RI, ia akan berubah sikap. Ternyata, itu tak terjadi. Karena, tidak berapa lama setelah pindah ke Jakarta, ternyata istri mudanya menyusul. Ia dititipkan di rumah teman akrab suami. Ketika saya menggugat, suami semakin berang. Ia semakin sering melakukan tindak kekerasan. Saya dihina, dipukul, ditendang bahkan pisau dapur pernah ditempelkan ke leher. Perbuatan itu bukan sekali dua kali. Itu sering dilakukan.

SR : Adakah pihak lain yang tahu perbuatannya?
R : Semula hanya anggota rumah seperti adik saya, pembantu dan anak-anak. Tetapi pada akhirnya, hal ini diketahui beberapa tetangga di komplek DPR, famili dan kawan-kawan di partai.

SR : Ada tindakan pertolongan dari mereka ?
R : Nyaris tidak. Orang rumah tidak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak ketakutan. Anak saya sendiri, sampai saat ini sering gagap dan minder. Menurut para ahli, ini dampak ia sering melihat tindak kekerasan. Pihak lain tidak mau langsung terlibat, karena mengganggap ini urusan suami-istri. Kalau ikut campur malah salah nanti. Saya pernah ke ketua Fraksi tapi saya disuruh bersabar dan katanya kasus saya hanya bersifat kasuistik, bukan kasus umum.

SR : Apa yang selanjutnya anda lakukan untuk keluar dari kemelut ini?
R : Saya bingung sekali. Bagaimana mungkin saya bisa menghadapi persoalan ini sendiri. Alhamdulillah, saya diberi karunia ingat kepada tabloid SEHAT terbitan divisi Fiqh an Nisa P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat). Saya lalu menelpon ke sana. Saya berharap mereka bisa membantu memecahkan masalah saya. Syukurlah akhirnya kawan kawan FN P3M (kini Rahima) bisa membantu. Saya lalu diperkenalkan dengan banyak kawan di jaringan kerja penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Ada kalyanamitra, LBH APIK, PUAN Amal Hayati dll. Hal ini membangkitkan semangat saya untuk memperjuangkan ketidakadilan yang terjadi pada saya. (Nyai Ruqoyyah kembali menerawang. Ada kilau di bola matanya yang bening. Beberapa saat ia terdiam, dengan suara tertahan ia kemudian berkata...) Saya tak habis fikir apa sebenarnya yang dikehendaki suami saya. Ia telah menyiksa saya lahir-bathin. Dan itu rupanya belum cukup. Entah mengapa ia berupaya memperkosa salah satu keluarga saya. Sampai ditingkat ini saya sudah tak dapat bertoleransi lagi. Saya harus melakukan sesuatu. Tapi saya belum bisa berbuat banyak. Saya masih harus bersabar lagi. Hal itu saya lakukan, karena waktu itu saya harus menunggu anak selesai ujian. Saya masih harus bertahan demi anak. Oleh sebab itu, perlawanan yang lebih terbuka belum saya lakukan. Akibatnya dalam beberapa waktu saya tetap menerima kekerasan, fisik maupun psikis. (Nyai Ruqayyah menunduk beberapa saat. Waktu seakan beku. Suasana hening itu pecah ketika ia mulai berbicara kembali. Suaranya lirih...) Sekarang saya bisa berkata bahwa tidak ada jaminan, seorang lelaki yang berpendidikan tigggi, agamawan, seorang wakil rakyat otomatis akan menjelma menjadi suami dan ayah yang baik. Saya menyimpulkan itu dari pengalaman sendiri. Kenyataan ini tak boleh lagi disembunyikan. Masyarakat harus disadarkan, karena sampai sekarang mereka masih percaya mitos bahwa lelaki elit itu selalu baik dan benar. Untuk itu, saya memberanikan diri untuk mengungkap kasus ini, meski saya tahu itu tidak mudah. SR : Pada akhirnya anda menuntut secara hukum khan ? R : Ya. Meskipun rumit, berbelit belit dan lama, saya tetap menuntut suami lewat jalur hukum. Selain itu bersama kawan kawan yang peduli, saya akan menempuh upaya mencari keadilan lewat jalur lain. Misalnya baru baru ini kawan-kawan Jaringan Kerja pendamping perempuan korban kekerasan menulis press release tentang kejadian yang saya alami. Press Release ini kemudian disebar luaskan ke berbagai pihak. Diharapkan langkah ini akan membantu saya dalam mencapai keadilan.

SR : Tadi anda katakan bahwa jalur hukum berbelit-belit ?
R : Ya. memang ! Saya mengalami sendiri betapa rumitnya seorang perempuan yang mengalami kekerasan untuk memproses secara hukum mulai dari laporan, pengisian BAP, kesaksian segala macam. Harus wira-wiri. Harus mengatur waktu untuk bertemu dengan penyidik. Rumit sekali. Sementara kuasa hukum saya, LBH APIK, yang dipimpin ibu Nursyahbani Katjasungkana tidak hanya menangani satu kasus. Sehingga, ketika mengatur jadwal untuk ketemu di polres misalnya, tidak selalu bisa. Belum lagi karena orang yang saya tuntut adalah anggota DPR. Prosedurnya bertambah rumit lagi karena harus ada izin presiden untuk menyidiknya. Hal lain adalah tarik ulur dengan partai. Terus terang saya dan kawan kawan pendamping kadang sengaja "menahan" langkah karena tidak mau terjebak dalam ladang permainan politik, karena kasus ini. Walau kasus ini di blow up, kami tak bermaksud melabrak partai tertentu. Kami justru ingin membersihkan organisasi kerakyatan, termasuk dewan perwakilan rakyat dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya rasa seorang pejabat publik harus punya reputasi yang baik, bukan hanya di dunia publik. Perilakunya di tengah keluarganya harus diperhitungkan juga.

SR : Terakhir, ada yang ingin disampaikan?
R : Saya sadar bahwa pengungkapan ini bukan tanpa resiko. Saya sadar reaksi negatif mungkin akan muncul baik dari kalangan sendiri, keluarga, pesantren maupun pihak lain yang merasa "terganggu" dengan pengakuan ini. Tapi saya sudah bertekad untuk terus bicara dan membuka diri. Itu semua, selain untuk menolong diri saya, Insya Allah saya berharap akan juga membantu perempuan lain. Termasuk yang hidup dilingkungan pesantren. Mereka yang oleh satu dan lain sebab, terpaksa masih bungkam. Semoga penuturan ini akan memberi inspirasi dan kekuatan kepada mereka, agar segera bangkit. Tidak lagi sebagai korban yang pasrah saja terhadap kesewenang-wenangan yang dialami tetapi menjadi manusia yang aktif berjuang untuk keluar dari ketertindasan yang didasari karena keperempuanannya. Karena, di atas semua itu, saya yakin Allah Maha Rahman dan Rahim. Allah Maha Adil. Dan Allah berkehendak terhadap membuminya keadilan. Saya melakukan semua itu karena misi ini Selanjutnya, saya ingin menghimbau kepada seluruh lembaga pelayanan perempuan korban kekerasan, terutama aparat hukum di kantor polisi, maupun lembaga peraadilan, agar menata diri kembali. Berdasarkan pengalaman saya, proses yang dijalani para korban sungguh berbelit belit dan sering penuh ketidak pastian. Hal ini membuat korban tambah menderita

SR: Semoga himbauan anda menggugah pihak-pihak yang terkait
R: Amin (Ruqayyah tersenyum. Ada rona diwajahnya ketika mengantar Swara Rahima pamit pulang. Di kejauhan terdengar alunan lagu "...Kesadaran adalah matahari, adalah matahari, adalah matahari...". Yah, matahari telah terbit di hati seorang Nyai untuk memecahkan kebisuan yang selama ini telah membelenggu kehidupannya.

Last modified on Wednesday, 16 August 2017 10:11
Rate this item
(0 votes)