Jomblo Bukan Haram : Khazanah Edisi 50

25 Nov 2015 Risma Hikmawati
675 times

Judul : Memilih Jomblo ( Kisah para Intelektual Muslim yang Berkarya sampai Akhir Hayat

Penulis : KH. Husein Muhammad

Penerbit           :  Glosaria Media, Yogyakarta

Tahun terbit      :  2015

Jumlah Halaman: xv+130

Ukuran               : 14 x 20 cm

 

Isu pernikahan terutama dalam tradisi ketimuran seperti di Indonesia sangatlah menarik. Pernikahan hampir dianggap sebagai keharusan. Dan mereka yang  memilih untuk  tidak menikah pasti mengundang seribu pertanyaan. Namun, ini rupanya yang menginspirasi KH. Husein Muhammad untuk menuliskan kisah 21 tokoh muslim terkemuka, yang memilih untuk ‘tetap menjomblo’ dengan berbagai alasan.

Pada kata pengantar buku ini, KH. Husein bercerita soal kebimbangan, kecemasan, dan pradigma-paradigma variatif yang muncul tentang “jodoh” dan “nikah”. Betapa “mencari teman hidup”, “masa depan”, “keturunan”  bisa menimbulkan ketegangan psikologis, hingga  ide kompromi antara “hidup dengan menikah” dengan “hidup tanpa menikah” memiliki jurang stigma khusus. Yang lebih rumit ketika timbul pertanyaan, bagaimana jika benar-benar tidak menikah selama hidup?

Beragam pertanyaan dan hiruk pikuk itu, justru memotivasi Kyai Husein  untuk menulis tentang “Orang-orang terkemuka yang Jomblo”. Menariknya tokoh yang beliau suguhkan berasal dari berbagai zaman dan dari latar belakang madzhab yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh tersebut merepresentasikan madzhab Mu`tazilah, Salafi, Cendikia, Spiritualis, serta ditambahkan tiga perempuan berpengaruh dan terkenal: Rabiah al-Adawiyah, Layla (Majnun), dan Karimah Ahmad Al-Marwaziyyah. Tentu saja perwakilan ulama zaman modern beliau kisahkan juga.

Siapa yang tidak mengenal Ibnu Jarir ath-Thabari, Imam Zamakhsyari, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, juga seorang tokoh yang disebut disini sebagai “Perempuan Ikon Cinta Tuhan”  Rabiah al-Adawiyah. Dalam ranah sejarah keilmuan Islam, mereka adalah orang-orang hebat yang terkenal sepanjang zaman.

Seorang sahabat ath-Thabari menghitung lembar demi lembar karya-karya ath-Thabari sambil mengonversikannya dengan usianya yang 80 Tahun. Maka ditemukan bahwa Ibnu Jarir setiap hari menghasilkan tulisan sebanyak 14 halaman. Begitu pun Ibnu Taimiyah, ia menguasai betul hafalan hadis-hadis Nabi beserta ucapan para sahabatnya.

Setelah menelusuri kehebatan jalan kehidupan para tokoh yang dikisahkan dalam buku ini, kemudian didapatkan kenyataan bahwa mereka tidak menikah. Tidak menikah bukan karena mereka tidak menghayati hadis Nabi tentang menikah, dengan kecerdasan dan semangat riset para tokoh tersebut, justru muncul penafsiran hukum nikah yang beragam.

Di samping itu, alasan tidak menikah ada yang karena memperoleh kesan buruk ketika masih kanak-kanak  seperti yang dialami seorang feminis Mesir, Nabawiyah Musa. Ia mengatakan “Suatu hari, di sebuah jalan, aku mendengar pertengkaran suami istri. Sang Suami mengatakan: ”Perempuan hanya tempat bagi pelampiasan hasratku.” Perempuan itu menjelaskan kepadaku maksud kata-kata suaminya itu. Oleh karena itu aku tidak ingin mendengar kata “menikah”. Manakala aku telah dewasa, meski aku hanya mengatakan “tidak ingin menikah” banyak orang mengecam. Tak ada kata-kata menyakitkan selain itu.”

Zamakhsyari memiliki alasan yang berbeda, ia memiliki cara pandang pesimitis tentang berkeluarga. Zamakhsyari memandang mendidik anak itu sulit, serta mendidik anak menurutnya bisa menjadi sesuatu yang membebankan. Padahal menurut para ulama, anak itu adalah “Taman Wangi Kehidupan”. Mereka adalah para penerus kehidupan ini. Alasan Zamakhsyari hampir mirip dengan alasan Abu `ala al-Ma`arri yang skeptis, yang hidup dalam ketidakpastian dan kecemasan, bahkan syair yang dibuatnya berbunyi:

“Aku wasiat kepadamu, janganlah menikah

Bila kau takut dosa, nikahlah, tapi jangan berketurunan

Kuatkanlah”

Abu A`la begitu takut menjadi penyebab penderitaan anak-anaknya atau orang lain, ia menyesali ayahnya telah melahirkan dirinya.

Kisah paling miris adalah kisah Jamilah al-Hamdaniyah, seorang perempuan cantik jelita yang mati tragis karena menolak lamaran Sultan. Ia dihukum Sultan dengan cara membawanya ke ruang publik dan membiarkan orang lain melakukan kekerasan seksual kepadanya. Sebuah sikap memang bukan berarti tanpa resiko. Namun, setidaknya pilihan Jamilah menyadarkan kita tentang kerentanan resiko yang membayangi perempuan pembela HAM (human rights defenders), yang harus dihadapi dan diantisipasi.

Sebagian tokoh lain, memilih tidak menikah karena semangat tinggi untuk tak hentinya mengabdi untuk agama. Mereka menyedekahkan dirinya untuk kemaslahatan umat. Sebagaimana ungkapan yang dikutip dari  Sayikh Abu Ghuddah dalam buku ini, tentang mengapa para tokoh besar memilih “lajang” sepanjang hidupnya:

“Mereka menghabiskan seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Mereka memilih hidup tidak menikah dan mengendalikan dirinya dari hasrat manusia, kenikmanatan paling berharga yang tidak dilarang dan diharamkan oleh agama. Ia adalah kenikmatan hubungan seks, kenikmatan memiliki anak dan memiliki keluarga. Tak ada yang mereka harapkan dan persembahkan, kecuali menggali dan menyebarkan ilm pengetahuan, mengabdi pada agama, dan memberi kebahagiaan kepada kaum muslimin”.

Berbagai kisah tersebut mencerminkan betapa para tokoh memiliki cerita tersendiri diluar pemikiran ilmiahnya. Lingkungan berpegaruh besar akan jalan kehidupan seseorang. Begitupun pemikiran, mewarnai cara sejarah kehidupannya terbentuk. Adapun Rabiah, tidak pernah memilih untuk menyendiri, justru karena ia memilih untuk menghayati percintaannya dengan Sang Khaliq, ia tak berharap untuk mencoba cinta yang direfleksikan oleh makhluk.

Diawali dengan pemaparan kisah-kisah para tokoh besar yang memilih jalan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya, dimana dalam setiap bab memuat judul-judul kecil sehingga mudah untuk dinikmati, dan difahami. Kyai Husein kemudian memberikan ulasan di akhir untuk menjawab kemudian mana yang lebih utama, menikah atau beribadah?

Dalam dua bab akhir, terdapat pemaparan penafsiran beberapa ulama mengenai hukum nikah dan pula dari pendapat yang berbeda. Pada akhirnya kita dapatkan ungkapan moderatsebagaimana harapan sang penulis, bahwa semoga dengan disusunnya buku ini, akan menjadi bahan pengetahuan, pemikiran, permenungan, atau perbincangan bersama.

Buku ini menjadi kaya, karena memuat pemikiran dari tokoh yang memiliki latar madzhab hingga masa yang berbeda. Menjadi menyenangkan untuk dibaca, karena mengusung kisah yang unik tanpa menghakimi. Dengan membaca buku ini, dapat memperluas pemahaman,wawasan dan ikatan emosional kita terhadap tokoh dalam kesejarahan Islam.

{} Risma Hikmawati, mtra Rahima di Bandung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Last modified on Saturday, 02 September 2017 09:04
Rate this item
(0 votes)