Jeruji Mimpiku : Cerpen Edisi 43

11 Dec 2013 Siti Rohmah
1211 times

“Tok..tok...tokk.....!!”
“Emak!! Ini Ida buatin wedang jahe biar badan Emak hangat. Boleh Ida masuk, Mak?”, ujarku dibalik pintu kamar Emak. Penuh harap kumenanti ia berucap mengiyakan tawaranku.

Sekian lama aku menanti jawaban tak kudengar jua Emak mengizinkanku masuk. Aku masih mematung sejauh hatiku yakin bahwa Emak belum terlelap. Walau demikian, aku mengerti mungkin saat ini ia akan tetap menutup hatinya bila aku masih mengatakan bahwa aku akan tetap dengan tekadku. Meski kusadari enam tahun aku hidup dengannya setelah lulus Madrasah Aliyah tanpa pekerjaan yang  jelas.

Selama ini Aku bukan tak ingin berikhtiar untuk mengubah nasibku. Namun sulit bagiku untuk menganggukkan kepala kala Emak menuntut keinginan yang bertentangan dengan angan dan citaku –citaku. Apakah aku harus meluluhlantakkan impian yang telah menggantung selama enam tahun ini, hanya karena patriarkhi kronis yang bercokol dibenak Emak? Aku tak  tahu harus berapa lama lagi menyelami hidup yang tak tentu arah ini.  Kuatnya anganku juga telah menciptakan keegoisan Emak yang pendapatnya yang kokoh untuk  menyudutkan langkahku.

“ Setinggi apapun pendidikanmu,gelarmu, tetap saja kau perempuan yang mesti dipimpin dan dilindungi oleh laki-laki. Pendidikanmu takkan mengubah posisimmu menyaingi laki laki! Hanya menikahlah yang bisa mengubah  nasibmu sekarang. Buktinya, Si Muni yang kuliah di Bekasi,  toh sekarang ia tetap jadi ibu rumah tangga biasa! ”

Kata kata Emak kerapkali membuntukan impianku,terasa anganku terkubur dalam jeruji kegelapan. Seolah impianku hanya celoteh belaka dihadapan Emak.

Tiba- tiba kurasakan dinginnya angin malam yang menusuk-nusuk pori pori kulitku bahkan hingga ke ulu hatiku. Hatiku mulai risau, sekian lama mematung mengharap jawaban Emak namun ku tahu ia sengaja tak menggubrisku. Aku terpukul. Perlahan kuseret kedua kakiku yang lemas  lalu duduk bersandar. Kuletakan wedang jahe yang sudah dingin.  Akupun tak berselera meminumnya. Pandanganku lurus menghadap jendela yang terbuka. Kudapati malam yang amat gelap dengan gumpalan kabut hitam  ditengah derasnya hujan. Lama-lama kedua mataku meniru awan hitam yang memercikkan jutaan bulir air. Aku terisak, seakan pemandangan malam ini adalah  sketsa jiwaku yang sekian lama dibalut nestapa.

***
Pagi ini aku berkemas,  seolah yakin dihari yang penuh kabut  tebal  ini niatku akan terpenuhi. Semoga pekerjaan yang Bi Alma tawarkan minggu lalu masih ada untukku. Sebelum aku pergi kusiapkan sarapan pagi untuk Fahima, Asrul dan Emak. Tak lupa ku tulis sepucuk surat bahwa hari ini aku pergi ke Ciamis rumah Bi Alma.

“Selamat tinggal. Do’akan aku, Emak. Aku pasti pulang dengan membawa kabar baik!, ”lirihku dalam hati seiring lelehan air mata yang sedari tadi berlinang.

Sesampainya di tempat yang kutuju, keadaan lengang. Hanya suara burung sesekali menyibak kesunyian. Berjam-jam kutunggu kedatangan penghuni rumah hingga senja menghampiriku. Tubuhku sudah sangat letih. Tanpa kusadari aku terlelap di depan pintu rumah Bi Alma. Sesaat kemudian kurasakan seseorang tengah menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Ida bangun! Kapan kamu kesini?”, ujar seseorang yang mencoba menegakkan tubuhku.
“Bi Alma...!!! Aku sampai kesini tadi siang. Bibi dari mana?”, jawabku gelagapan sambil mengucek kedua mataku.
“Maafkan Bibi kamu menunggu lama. Tadi baru saja pulang dari undangan pernikahan  anak teman Bibi.”
Adzan maghrib berkumandang. Hatiku berkabut basah tatkala kuingat Emak dan adik-adikku di rumah, Asrul dan Fahima yang harus kubimbing mengaji. Emak harus kuperhatikan kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Mataku berkaca-kaca,  api  saat ini bukan waktunya aku harus berlinang airmata Justru aku mesti segera memburu titah suci yang berbalut Rahmat-Nya dengan mendoakan Abah yang empat tahun lalu meninggalkanku dalam kepiluan.

Aku mulai menyampaikan tujuanku menemui Bi Alma, setelah sekian lama aku menganggur tanpa pekerjaan yang jelas. Tak mungkin jika aku harus selalu diam dengan segala perkataan Emak yang menginginkanku untuk segera menikah. Bi Alma mengerti akan keadaanku. Lalu beliau mengajakku esok lusa untuk menemui sahabatnya di sebuah restoran.  Bi Alma berharap aku bisa diterima kerja di sana.

Tibalah hari yang kutunggu,  ketika aku dan Bi Alma sampai di sebuah restoran yang menurut Bi Alma adalah milik teman baiknya. Kami segera bertemu orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Pak Ikhsan, teman  baik Bi Alma.  Saat Bi Alma mulai menyampaikan tujuan kedatangannya, di tengah obrolan hangat antara Bi Alma dan Pak Ikhsan datang seorang pelayan yang menyajikan minuman ringan. Sesaat aku tertegun memperhatikan penampilan pelayan tersebut.  Tubuhnya tinggi bertumpu diatas kedua  sepatu yang berhak tinggi dengan rambut sebahu ia mengenakan rok mini warna hitam serta atasan kemeja berlengan pendek warna putih. Hatiku risau membayangkan bila aku diterima di restoran ini makan  akupun harus mengubah penampilanku seperti pelayan tadi. Haruskah aku harus rela melepas jilbab yang sudah setia menemaniku selama ini ?
“Ida kok malah bengong. Gimana, kamu senang nggak kalau bekerja sebagai pelayan disini?”,  pertanyaan Bi Alma membuyarkan prahara batin yang menghimpitku.
“Ja...jadi saya diterima Bi Alma??”ucapku terbata,mungkin Bi Alma senang dengan kenyataan ini namun bagiku ini kenyataan pahit dari prahara batinku saat ini. Bi Alma menganggukkan kepala seulas senyum tampak diwajahnya. Keraguanku semakin membuncah lantas Akupun mulai mengatakan kegusaranku.
“Ta..tapi Bi Alma,disinikan pelayannya harus berpenampilan seperti tadi.”ucapku pelan seraya memandang ke arah beberapa pelayan yang sedang menyajikan pesanan.
“Kalau urusan itu anda tidak harus membuka hijab, anda bisa bekerja dengan tetap memakai hijab anda.”Jawab Pak Ikhsan dengan sesungging senyum.
Syukurku membuncah tatkala detik ini kusadari Aku tak lagi pengangguran dan tak harus mendengar ucapan Emak yang menyudutkan anganku. Ia pasti akan berfikir ulang untuk mendesakku segera menikah.

***

“Oh ya kamu diterima kerja? Waah, ... jadi dong kamu nerusin kuliah. Ngomong- ngomong mau kuliah dimana?”, tanya Fatima di seberang sana. Dari suaranya ia tampak lebih dewasa setelah delapan bulan aku tak bertemu dengannya semenjak ia dibawa oleh suaminya ke Batam.
“I..iya, Fat. Kalau soal kuliah, ya aku pengen banget. Tapi meski aku sudah punya pekerjaan, aku masih belum yakin Emak akan mendukung,“ jawabku lemah dalam kekecewaan mengingat Emak yang bersikeras akan pendiriannya.

“Berarti kamu harus membuktikan kalau kamu pun bisa seperti laki laki, bergelar, merintis karier dan bisa mensejajari laki laki dalam pengetahuan“, kata Fatima sedikit serius.
“Tapi bagiku pendirian Emak begitu menyudutkan kaum perempuan, terlebih aku. Padahal beliau kan juga perempuan. Bagiku ini tidak adil. Masa hanya karena aku perempuan tak bisa berpendidikan tinggi seperti laki laki? ”, ucapku seakan di depanku Emak tengah mendengar protesku.
“Tapi kalo Emakmu bersikukuh, kamu harus ingat ridha-Nya tergantung ridha Emakmu, begitupun murka-Nya.!”

Demikian akhir pembicaraanku dengan Fatima. Sejenak aku merenung dengan perkataan Fatima terakhir. Huhh.....Aku menghela nafas berat, lalu beranjak dari kursi di salahsatu sudut ruang restoran.

Tiba-tiba tampak di depanku sesosok badan tegap di tengah temaram cahaya lampu.Tampak di wajahnya sesungging senyum getir. Jiwaku bergetar hebat jeritan batin mulai membuncah.
“Pak, ...Pak Ikhsan. Ehm,  saya pamit pulang, Pak. Kalau ada pesan buat Bi Alma akan saya sampaikan ”,  ujarku menyibak ketegangan dan kekhawatiran. Tapi ia malah terkekeh.
“Kamu tidak usah pulang. Di sini saja, temani aku, ” desisnya pelan tepat di dekat telingaku.  Lalu ia mencengkeram tanganku.
“Pak, .. jangan macam macam, Pak. Saya bisa teriakk!”, ancamku seraya bersusah payah melepaskan cengkeramannya. Namun,ia malah semakin buas. Tenaganya yang kuat tak sebanding denganku.
“Tolonggg!!!!”, teriakku membahana, keringat dan airmata membasahi. Hanya Allah yang mampu menolongku!.
“Idaaa....”, teriak seseorang di belakangku. Hatiku lega dia Laksmi rekan kerjaku.
“Ehm,.... Ida. Kalau kamu mau pulang,  pulang saja. Biar diantar sama Laksmi”, ujar Pak Ikhsan menengahi isakanku dan keterkejutan Laksmi. Sambil menggaruk kepala ia melepaskan cengkeraman tangannya kemudian berlalu,  seolah barusan ia tak sedikitpun melakukan kesalahan padaku.
Aku terisak perih dalam pelukan Laksmi. Tatkala langkahku mulai merajut mimpi dalam senyuman,badai kejam tiba tiba menghantam ganas. Mengapa selalu perempuan yang dijadikan objek? Apakah di dunia ini telah surut hak keamanan bagi perempuan yang seharusnya dilindungi? Batinku semakin terguncang saat sadar bahwa aku harus segera memutuskan pergi dari tempat ini serta mencari pekerjaan lain yang lebih aman.

***
Kakiku terasa sulit berpijak ketika kenyataan membawaku bahwa siang ini Aku sudah tiba di depan rumah Emak dengan tangan hampa tanpa membawa kabar baik yang mungkin bisa merubah pendiriannya.

Tebakanku tak meleset Emak masih dengan sikapnya yang kaku didepanku apalagi saat kukatakan aku tak memiliki pekerjaan apa-apa. Hidupku terasa tak berarti bagai sehelai daun usang yang hanya terambing oleh sehembus angin. Aku tak berani mengatakan hal yang terjadi padaku saat bekerja Ciamis. Emak pasti akan semakin mendesakku untuk menikah dengan alasan baru kalau keberadaan perempuan tanpa mahramnya akan mudah mengundang fitnah.
“Ida tadi siang Pak Lurah datang kesini mencari kamu bersama keponakannya dari jakarta.”
Ucap Emak tiba tiba memecah sunyi ditengah malam yang lengang dan tegang.Kontan hamdalah menyesak didadaku bukan karena apa yang dibicarakan Emak tapi ia mulai bisa berinteraksi lagi denganku.

“Besok pasti mereka kesini lagi.Soalnya urusannya sangat penting. Keponakan Pak Lurah bermaksud meminangmu. Sebaiknya malam ini kamu fikirkan jawaban terbaik untuk mereka, jawaban yang tidak mengecewakan pihak siapapun. Emak percaya kamu sudah dewasa lebih mampu menentukan masa depan yang baik daripada menggantung pada angan yang membuatmu terpuruk.....”

Belum sempat Aku menanggapi perkataan Emak mulutku sudah terkunci rapat mendengar kata ‘‘meminang’’. Hal yang belum pernah  sedikitpun terfikirkan olehku. Dari perkataan Emak bisa kucerna kalau  Aku tak boleh menyia nyiakan kesempatan besok siang. Baru saja hati ini dipenuhi hamdalah kini dia kembali menangis perih. Apakah angan ini buntu dengan kejadian besok siang? Apakah mimpi yang kurajut penuh asa ini berakhir dengan anggukan lemah penuh munafik dihadapan Emak? Mungkinkah jalan tekad ini surut saat waktu menyongsong bersama seseorang yang mampu mengukir sabit indah di wajah Emak? Jiwaku merintih perih,adakah disana singgasana penuh cahaya yang menyampaikan anganku.....???

***

Prahara batinku terkuak. Kulihat senyum indah menghiasi wajah Emak saat kukatakan bahwa Aku mau menerima pinangan  dari keponakan Pak Lurah, yang sudah kuketahui bahwa ia lulusan dari UI dan UIN dengan gelar SE. dan S.Ag. Minggu selanjutnya rumahku dipenuhi hiruk pikuk paratetangga yang sibuk membantu resepsi pernikahanku.

Akad telah selesai, dan kini aku resmi menjadi istri seseorang.  Namun, cita-cita dan anganku untuk sekolah tinggi hingga meraih gelar Ph.D. tak mau hilang. Aku bersyukur menemukan seorang pasangan hidup yang mau memahami cita-citaku. Kuceritakan cita-cita dan pengalamanku pada suamiku tercinta. Dan alhamdulillah, Kang Didin suamiku  mendukungku untuk meneruskan kuliahku.

Hatiku lega melihat Emak tampak riang menyaksikan anak sulungnya kini tak lagi jadi perajut mimpi yang membangkang setiap ucapannya. Kini tak ada lagi aral melintang. Restu Emak telah kukantongi,  dan dukungan suamiku membuatku semakin melangkah pasti. Rabbi, terimakasih atas semua anugerah ini.

Last modified on Thursday, 17 August 2017 14:42
Rate this item
(0 votes)