Sayap Yang Patah : Cerpen Edisi 44

29 Apr 2014 Fatiya Flowery
1385 times

Malam begitu pekat tanpa kehadiran bintang dan rembulan, sia-sia mencari keindahan dalam gelap. Menggapai tanpa tahu apa yang bisa dijadikan pegangan. Seperti itu pula Safira yang merasa kecewa luar biasa. Sungguh dia ingin membagi beban yang menderanya tapi pada siapa? Bahkan angin serasa enggan menyapa. Dia hanya duduk memeluk resah, amarah,  luka dan kesedihan yang telah ditorehkan makhluk yang kini duduk bersimpuh menanti  jawaban darinya. Sesekali terasa dadanya begitu sesak mengapung di antara sakit dan kehampaan yang sungguh menikam dada.

“Aku bersedia menerima hukuman apapun asal kamu mau memaafkan aku”.  ”Bicaralah sayang, aku tersiksa dengan kebisuanmu”. Kalimat-kalimat itu entah terucap berapa kali, namun Safira seperti tak pernah mendengarnya. Saat ini hatinya terlalu sakit untuk merespon apapun. Dia lebih memilih menenggelamkan diri dalam satu kenangan yang diharapkannya dapat sejenak mengalihkan perhatiannya pada situasi rumit yang ia hadapi.

Di pagi yang berselimut do’a dan senyum, hati Safira membuncah dalam syukur kebahagiaan ketika delapan tahun yang silam ia dapat bersanding dengan laki-laki yang pernah menjadi cinta pertamanya di depan penghulu. Sebelumnya dia tak pernah yakin kalau mereka bisa bersatu menjadi suami istri,  karena mereka telah membangun mahligai pernikahan sendiri dengan pasangan masing-masing. Takdir Tuhan tidak dapat diduga, dua pernikahan itu kandas di tengah jalan. Pertemuan yang tak disengaja ternyata menumbuhkan kembali keindahan rasa yang pernah dimiliki berdua. Sampai akhirnya mereka sepakat untuk mewujudkan impian masa muda. Kisah mereka memang tak seindah dongeng atau setragis sinetron berurai air mata tapi orang-orang terdekat mereka pasti tahu bahwa jalan mereka untuk sampai pada pernikahan, tidak mudah.

Dengan keadaan itu sungguh Safira tidak mengerti kenapa laki-laki sandaran jiwanya ini begitu tega menyakitinya berkali-kali. Kehadiran putra dan putri mereka yang lucu dan sehat tak juga mampu membuat lelaki tercinta itu menggenggam setia hanya kepadanya. Jendela yang terbuka mengirimkan angin yang entah kenapa tak mampu mendinginkan amarahnya. Semua kini terasa menyakitinya. Salah apa yang telah ia perbuat sampai ia harus menerima beban sebesar ini. Tak cukup rasa sakit yang harus ditanggungnya tapi juga malu yang telah dicorengkan di muka keluarga besarnya.

Safira bergeming saat seorang teman memberitahu kalau suaminya ada di tempat praktik dokter kandungan bersama perempuan lain yang ia tahu adalah sekretaris ayah anak-anaknya itu. Padahal dua jam yang lalu ia ada di tempat praktik dokter kandungan yang lain untuk memeriksakan kandungannya. Ia harus datang sendirian ke sana, karena suaminya mengatakan bahwa ia tidak bisa mengantar karena masih ada urusan dengan klien.

Keyakinannya bahwa perempuan lain hanya mencintai harta suaminya dan tak ada perempuan lain yang lebih mencintai laki-laki itu sebesar dirinya membuat ia bertahan untuk menjadi seorang istri sekaligus pendamping di saat sang suami bergelimang suka dan bergumul duka. Dia juga tidak ambil pusing ketika sang suami tak tahu menahu urusan rumah tangga. Bagaimana ia harus mengantarkan buah hati mereka sekolah di dua tempat berbeda dengan motor padahal mobil masih terparkir manis di garasi karena sang kepala keluarga masih malas keluar rumah. Atau saat ia harus menghitung tetes deras hujan yang membasahi sekujur tubuhnya saat harus pulang malam dari tempatnya bekerja karena laki-laki itu tidak bersedia menjemputnya.

Sungguh ia ikhlas menjalani semua itu. Tapi entah kenapa setelah menerima telpon pagi tadi, ia merasa semua kejadian-kejadian itu seperti godam raksasa yang dipukulkan berkali-kali ke dadanya. Dan hal itu  membuatnya sakit dan merasa seperti orang yang linglung.

Pagi itu memang berselimut mendung. Tapi ia sama sekali tak menyangka kalau mendung itu juga akan singgah di hatinya dan siap membuncahkan tsunami di dada. Adik perempuan satu-satunya yang sedang menempuh studi di salah satu kota menelponnya dan memberitahukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Safira tidak peduli pada isaknya atau kata-kata penyesalan yang susul menyusul. Permintaan maaf pun serasa angin lalu. Yang sempat terekam di memorinya hanyalah “ Kami sudah tiga kali melakukannya di hotel yang sama di tiga waktu yang berbeda”. Oh Tuhan, suami dan adik kandungnya sendiri tega mengkhianatinya. Ketegarannya luruh serupa puing-puing reruntuhan yang tak berbentuk lagi. Dia merasa begitu lemah sampai tidak bisa berfikir apa yang harus ia lakukan dan kalimat apa yang akan ia lontarkan.

Selama ini Safira merasa dia adalah perempuan yang kuat dan mandiri. Tipe perempuan yang tidak mudah meminta tolong selagi mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Dia juga bukan perempuan manja yang selalu minta diantar ke mana-mana. Pekerjaan sambilan yang dilakukannya juga cukup membuatnya tidak bergantung penuh kepada suaminya. Pekerjaan di rumah pun beres. Dengan semua itu dia berharap agar suaminya bisa menghormati dan menyayanginya  sebagai istri. Ketika cerita pengkhianatan cinta ditulis suaminya di lembaran-lembaran kisah rumah tangga mereka, dia masih mampu melewatinya dan menganggapnya sebagai amunisi kekuatan untuknya. Tapi kini dia merasa begitu lemah.

“Tolong tinggalkan saya sendiri”, akhirnya kalimat itu terlontar lirih dari mulut Safira. Dilepaskannya perlahan kepala yang terkulai di pangkuannya. Tak dipedulikannya lagi wajah bersimbah air mata itu,  walau pun terbersit tanya kenapa air mata itu  mengalir di pipi suaminya sementara matanya sendiri masih kering? Langkahnya mantap menuju ke kamar mandi untuk bersuci. Saat ini Safira hanya butuh Tuhannya. Dia lega ketika kamarnya telah kosong. Sajadah yang terhampar siap membawanya mengarungi luka mendayung duka agar sampai di pelukan Tuhannya. Safira tahu hanya Tuhan yang bisa memberi kedamaian dan mengantarnya pada keputusan yang tepat dan jauh dari hal-hal yang dipengaruhi emosi sesaat.

Kesunyian malam merayap merangkai harmoni do’a – do’a para hamba Tuhan yang terbelit keresahan, berharap kedamaian segera datang memeluk jiwa-jiwa yang rindu ketenangan. Ada sebongkah beban yang terlepas ketika air mata hadir mengantar keluh kesah pada Sang Penulis Takdir. Ketika air mata itu justru menjadi simbol kekuatan baru untuk Safira. Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan. Tak disesalinya apa yang telah terjadi karena dia yakin memang seperti itulah skenario yang harus dijalankan. Torehan luka itu bukan untuk melemahkannya tapi ia adalah sumber kekuatan untuk langkah-langkah hidupnya setelah ini.

Dia merasa cukup kuat untuk mengikhlaskan semuanya dan kembali melangkah menapaki takdir selanjutnya. Safira yakin dia akan kuat menutup kisah cinta pertamanya. Kekuatannya akan mampu menerbangkan sayapnya yang patah membawa dia bersama anak-anaknya tanpa diwarnai kisah laki-laki yang pernah menjadi mimpi-mimpi indahnya. Dengan kekuatan itu juga dia akan menceritakan semuanya kepada keluarga besar dan bersama-sama mencari solusi yang terbaik. Tapi dia berjanji tak akan mengijinkan seorang pun merubah niatnya untuk menjadi nahkoda tunggal bagi biduk yang ia tumpangi bersama anak-anaknya. Ia perempuan yang kuat dan akan mendidik anak-anaknya menjadi manusia-manusia yang kuat memegang tanggung jawab dan kesetiaan. Secercah senyum terbit di bibirnya bersama bisikan “ Terima kasih Tuhan, Engkau tak pernah meninggalkanku”. {}



Last modified on Wednesday, 16 August 2017 09:43
Rate this item
(0 votes)