Hidupku Bagai Burung dalam Sangkar : Cerpen Edisi 46

03 Nov 2014 Siti Marfu’ah
1453 times

Malam itu sunyi senyap, gelap gulita karena listrik padam. Tiada penerangan cahaya lampu sama sekali, hanya kelap kelip cahaya 2 buah lilin, yang berada di dapur dan di ruang keluarga. Terdengar suara kodok bersahut - sahutan dari pinggir sungai yang aman tentram tiada yang mengganggu, dan suara jangkrik yang mengerik memecah kesunyian malam. Langit mendung, udara panas, menandakan hari akan hujan, padahal tadi siang sudah hujan.Terdengar batuk – batuk dari sebuah  kamar. Kemudian terlelap kembali dalam tidurnya.

Di dekat dapur ada seorang gadis yang gelisah meratapi nasibnya. Ia menangis meratapi nasib yang menimpanya. Apa hendak dikata nasi sudah menjadi bubur. Sudah beberapa bulan ini ia  tinggal di rumah itu. Caci makian, hinaan dan kerja keras dialaminya setiap hari. Mau pulang takut dan malu, mau kabur takut tertangkap, karena penjagaan ketat, selain ia juga harus berpikir kemana arah tujuannya. Bila tetap di rumah ini, maka dia harus menerima segala perlakuan kasar maupun pelecehan dari tuannya. Merasa tak sanggup berbuat apa - apa, ia hanya bisa  menangis di tempat tidur melampiaskan semua isi hatinya dan mencurahkan segala keluh kesahnya kepada Allah bila malam hari tiba.

Ia menerawang jauh ke masa silam. Masa kecilnya penuh bahagia. Apa saja yang diinginkan, selalu dibelikan orang tuanya. Meskipun bukan orang berada, tapi cukup untuk makan sehari-hari.
*****
Gadis belia itu bernama Ristya, anak sulung dari 3 bersaudara. Ia memiliki 2 orang adik, yang  perempuan bernama Sasa, berumur 10 tahun serta adik bungsunya yang lelaki  bernama Beni yang baru berusia 5 tahun. Ristya hidup seperti layaknya anak-anak yang lain. Ia mengenyam bangku sekolah mulai dari TK, SD dan sorenya di Madrasah Diniyah (Madin) . Setelah lulus SD ia melanjutkan ke MTs dan MA.

Inilah awal terjadinya bencana. Ristya gadis cantik berkulit kuning langsat, tinggi semampai dan selalu berkerudung kemanapun ia pergi ini adalah kebanggaan orang tuanya.  Ibunya seorang  ibu rumah tangga biasa, sedangkan ayahnya menarik becak dari pagi hingga sore. Mereka hidup dengan ekonomi pas-pasan, namun cukup untuk makan sehari-hari.

Setelah menamatkan jenjang MA-nya,  Ristya berkeinginan untuk membantu orang tuanya bekerja dan mencari biaya untuk sekolah adik-adiknya. Kebetulan ada salah seorang kerabat tetangganya yang sukses di luar negeri menjadi TKW. Dia adalah Mintarni atau Mimin, yang kebetulan sedang dolan (main) di rumah kerabatnya.

Mimin datang dengan pakaian menyolok, berkalung emas besar, jari-jarinya penuh dengan cincin. Sesekali tangannya dikibas-kibaskan, terdengar gemerincing dari banyaknya gelang yang dipakai.
“Eh Ristya…aduh cantiknya..? Sekarang sudah besar ya…sudah tamat sekolah Ris..,” celetuk Mimin basa-basi.”
“Ah…Mbak Mimin. Ya, Mbak, ini aku masih nganggur. Baru cari-cari kerja,” jawab Ristya.
“Ikut mbak Mimin aja, enak lo…! Gajinya besar, kerjanya ringan..,” kata Mbak Mimin.
“Aduh, Mbak Mimin. Kerja apa itu? Kok enak sekali kedengarannya…? Apa aku pantas, Mbak ?” jawab Ristya.
Mimin mendekati Ristya, sambil menepuk-nepuk bahunya. “Jadi pelayan toko besar di Arab sana. Kamu kan sudah tamat Aliyah jadi bisa berbahasa Arab,”rayu Mimin.
“’Apa bisa, Mbak…aku seperti njenengan. Aku gak punya apa-apa untuk bekal kesana,”jawab Ristya.
“Ah,..gampang.Nanti Mbak Mimin yang menanggung semuanya. Kamu tinggal berangkat, yang penting…kamu mau.” Mimin terus merayu korbannya.
Ibu Ristya yang dari tadi mendengarkan percakapan antara Mimin dan Ristya terus mendekati keduanya. “Iya Ris…ikut aja siapa tahu kamu berhasil seperti Mbak Mimin. Kan bisa membantu adik-adikmu sekolah…,” kata ibu Ristya yang bernama Rosmi.
“Ya, Mbak Ros. Jangan khawatir. Nanti Ristya tak bantu sampai ia betul-betul berhasil..,”jawab Mimin.
“Betul, Ibu mengijinkan Ristya pergi kerja sama Mbak Mimin….?”tanya Ristya sambil memandang ibunya dengan penuh pengharapan.
“Ya…anakku. Kalau untuk kebaikan, mengapa tidak boleh…? Ya boleh dong…! Pergilah. Ibu merestuimu.” Ibu Rosmi merangkul Ristya. “Di sana nanti kamu berhati-hatilah, turuti apa kata Mbak Mimin, jangan seenaknya sendiri, dan jangan tinggalkan shalat lima waktu.”I Ibu Rosmi menasehati Ristya.
“Ya..Bu, Ristya akan menuruti nasehat Ibu. Do’akan ya, Bu… semoga Ristya berhasil.”Kata Ristya.
“Sekarang kemasi pakaian dan barang-barang yang akan kamu bawa, ”perintah  ibu Rosmi.
“Betul…Ristya, karena besok pagi aku harus kembali kesana, aku pulang dulu ya…karena besok pagi kita harus berangkat,”kata Mimin.
“Ya, Mbak….”Kata Ristya.
Sebetulnya Mimin datang ke desa, untuk mencari gadis-gadis belia yang akan ia jual ke penadah. Nanti ia akan mendapatkan uang pengganti. Kalau cantik, ia bisa dapat uang lebih dari tujuh juta, tapi kalau kurang cantik, ia hanya dapat tiga juta sampai lima juta. Mimin tahu trafficking atau menjual gadis (perdagangan manusia)  itu dilarang oleh agama ataupun negara. Tapi…bagaimana lagi, kalau sudah mendapat iming-iming uang, hatinya sudah terbuai, terlena akan harta. Apa saja akan ia lakukan demi mendapatkan uang.

Begitulah manusia yang buta agama, dia hanya mementingkan dunia, tanpa memikirkan akibatnya. Ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan adalah ‘mematikan’ generasi muda. Padahal generasi muda merupakan tunas-tunas bangsa, merupakan kader penerus bangsa yang menjadikan negara menjadi maju dan kuat. Karena maju mundurnya suatu bangsa adalah di tangan pemuda.

Ristya yang tak tahu apa-apa akan dunia luar, begitu percaya akan omongan manis si Mimin. Ristya gadis lugu dari desa yang ingin mengentaskan kemiskinan keluarganya, harus rela berkorban untuk pergi dari rumah demi mendapatkan kerja. Ristya dan orang tuanya percaya sepenuhnya kepada Mimin, karena Mimin sudah akrab dengan keluarganya sejak dahulu, namun keakraban itu disalah gunakan oleh Mimin.

Sang surya masih bertengger di angkasa belum menampakkan kegagahannya, namun di rumah Ristya mereka sudah bangun sebelum subuh. Mereka ikut membantu mempersiapkan barang-barang yang akan  dibawa Ristya. Ayah, ibu, dan adik-adiknya berangkulan dengan Ristya. Air mata  terus mengalir membasahi pipi mereka. Mereka mengucapkan selamat jalan.
“Mbak….Ristya….jangan lupakan kami ya… kalau sudah dapat uang banyak segera pulang ya mbak, Beni belikan mobil…”kata Beni.
“Ya…ya…dik, mbak Ristya akan belikan mobil.”
“Aku juga ya mbak, belikan sepatu.”Kata Sasa.
“Ya…yang penting kalian rajin belajar ya…”Kata Ristya.
“Ayo.. Ristya berangkat keburu siang nanti.”Kata Mimin yang sejak tadi memperhatikan keluarga Ristya.
“Ya, Mbak, Pak, Bu. Ristya berangkat ya, assalamualaikum.” kata Ristya sambil memeluk kedua orang tuanya, dan adik-adiknya seakan tidak mau dipisahkan. Mereka berdua berangkat dengan penuh pengharapan dari keluarga Ristya.
Waktu menunjukkan pukul 13.00. Panas terik matahari menyengat tubuh. Peluh mengucur membasahi badan mereka. Mereka tiba di suatu tempat, namun Mbak Mimin mengajak naik mobil lagi.
“Kita mau kemana Mbak?” tanya Ristya. Dengan halus Mimin  menjawab, “Kamu kubawa di tempat penampungan dulu Ristya, nanti kamu disana banyak temannya, dan kamu diajari dulu tata caranya, kamu di tranning supaya pintar, setelah kamu bisa baru kamu diberangkatkan ke Arab. Jadi nanti kamu ku serahkan disana, besok kalau sudah ada kabar  bahwa kamu akan diberangkatkan, kamu tak (akan) jemput.
”O…gitu ya mbak prosesnya,ya…ya…aku paham.”Kata Ristya.

Akhirnya tibalah mereka di sebuah tempat. Sebuah rumah sederhana tapi asri, enak dipandang mata. Di rumah tersebut mempunyai warung dan salon kecantikan. Di situ Ristya melihat ada tiga orang perempuan sebayanya sekitar umur 19 tahun sedang bercengkrama dengan beberapa pria. Pakaiannya menyolok. Panjangnya sebatas paha. Anak muda menyebut adalah pakaian bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan pakaian sekwilda (seksi wilayah dada). Karena begitu ketat, ia  jadi risih melihatnya. Warung dan salon sama-sama ramai. Banyak orang keluar masuk. Mbak Mimin menggandengnya ke rumah tersebut namun menyuruhnya terlebih dahulu menunggu di halaman. Sedang Mbak Mimin masuk menemui tuan rumah, sehingga Ristya tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Ristya  merasa risih melihatnya. Mereka berpakaian seronok,  sementara hanya dirinya yang berjilbab. Tatap mata mereka memandangnya seperti sosok asing, tapi dia cuek saja. Banyak laki-laki hidung belang yang tersenyum kepadanya, dan ia balas senyuman mereka dengan hormat.  Selama ini gurunya mengajarkan agar ia harus bersikap baik kepada siapa saja, dan senyuman juga merupakan sedekah. Agama melarang suuzhan atau berburuk sangka kepada siapa saja, tapi harus husnuzhan atau berbaik sangka pada semua orang.
“Assalamualaikum mbak…, sedang apa..?” tanya seseorang kepada Ristya.
“Waalaikum salam, ini sedang menunggu Mbak Mimin.”Jawabnya.
“O..gitu, monggo Mbak… mari…”Kata orang tersebut.
“O…inggih, monggo…monggo…”Jawab Ristya.
Dari kejauhan tampak Mbak Mimin keluar rumah lalu menghampirinya seraya berkata,”Ristya ini rumah Bu Ani yang punya penampungan disini. Dia baik sekali kok, halus orangnya.” Kata Mbak Mimin.
“Aku …  nggak mau kalau tempatnya seperti begini, Mbak. Aku risih…?”, sergah Ristya.
“Nggak apa-apa, Ris. Orangnya baik-baik, kok. Nanti kamu juga kerasan. Memang tempatnya seperti ini, karena bu Ani punya warung dan salon, jadi banyak orang yang datang. Makanya seperti yang kamu lihat, ramai sekali, banyak orang keluar masuk untuk membeli atau ke salon. Di sini juga banyak anak sebayamu.” Kata Mbak Mimin menjelaskan.
“Oh…ya..ya..”jawab Ristya.
“Di dalam rumah di ruang belakang juga ada  teman-teman sebayamu yang mau juga jadi TKW. Mereka diajari oleh Bu Ani cara memasak, cara melayani ataupun bersalon. Tinggal kamu pilih, kesukaanmu bidang apa? Jika mereka sudah betul-betul lincah, baru diberangkatkan.”Kata  Mbak Mimin menjelaskan.
”O…ya…ya…, Mbak. Aku paham dan plong rasanya, aku gak takut lagi.”Jawab Ristya.
“Nah, begitu dong…Kasihan orang tua dan adik-adikmu di rumah yang menginginkan kamu sukses,”jawab Mbak Mimin sambil memelukku.
“Ya…ya…, Mbak aku mengerti sekarang. Terima kasih ya, Mbak.”jawab Ristya.
*****
“Ristya,…. Ristya…  Ambilkan aku minum…! Huk…huk….huk…cepat Ristya…ehem…huk…huk.” perintah Bu Ani yang terbangun dari tidur karena batuk. Buyarlah lamunan Ristya. Diusapnya air mata yang meleleh di pipinya yang ranum, yang membuat setiap orang gemas karena kecantikannya.
“Ristya,… dengar, nggak…?”, Panggil Bu Ani lagi.
“Ehm…mm…ya,Bu.”jawab Ristya. Di antara remang-remang cahaya lilin Ristya segera beranjak dari tempat tidur untuk ke dapur mengambil air minum buat bu Ani.

Sudah hampir setahun Ristya tinggal di rumah bu Ani. Ternyata Mbak Mimin yang begitu baik telah merobek angan-angannya. Ia telah menjual Ristya ke seorang mucikari. Dan Bu Ani yang dulu begitu lembut ternyata hanya sementara saja. Setelah itu ia bertindak bagaikan malaikat pencabut nyawa, yang siap menerkam mangsanya. Apa katanya harus dituruti, bila tidak mau, maka siksaanlah yang akan diterima.

Ristya dipaksa melayani lelaki hidung belang. Kerudung yang selalu menutupi kepalanya dirobek-robek oleh Bu Ani. Ristya dipaksa tampil seksi dengan pakaian yang ketat. Apa yang dialaminya tidak sesuai dengan hati nuraninya. Batinnya menjerit, menangis, memberontak, namun tak kuasa melakukannya. Di luar Bu Ani tampak anggun, baik,  memikat. Setiap orang yang bicara dengannya akan terkesima dengan basa-basinya. Bu Ani punya warung remang-remang merangkap salon. Dari luar tampak rapi, tiada kelihatan sama sekali. Rumah Bu Ani dijaga ketat selama 24 jam. Jadi tak mungkin Ristya bisa lolos dari rumah tersebut. Apalagi pulang ke rumah orang tuanya. Ristya harus bersolek sepanjang hari melayani para hidung belang. Kini Ristya hamil yang tak tahu siapa bapaknya, akibat dari perbuatan Mbak Mimin yang mengajaknya kerja keluar negeri. Mengapa dulu ia harus percaya pada omongan manis Mimin ?
*****
Ristya hanya menangis mencurahkan isi hatinya pada Allah. Itu hal yang bisa ia lakukan untuk menenangkan hatinya. Ia terus berdoa semoga bisa keluar dari sarang tersebut.
”Ya, Allah. Ya Rabb. Ampunilah dosa-dosaku. Aku tidak tahu kalau nasibku akan jadi begini. Memang sudah menjadi rahasia-Mu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu yang hina dina ini dari kebejatan moral para hidung belang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hhanya dari tangan-Mu aku bisa keluar dari tempat nista ini. Ya, Rabb. Hanya kepada-Mu aku bersujud dan kuserahkan jiwa dan ragaku ini. Dengarlah do’aku Ya, Allah. “ Begitulah do’a Ristra kepada Allah setelah shalat yang bisa ia lakukan secara sembunyi-sembunyai di sela-sela waktu istirahat.  Nasibhya memang bagai burung dalam sangkar, dari cengkeraman seorang mucikari. seperti dalam syair:

Wahai kau burung dalam sangkar
Sungguh nasibmu malang benar
Tak seorangpun ambil tahu
Duka  dan lara dihatimu

Batin menangis hati patah
Riwayat tertulis dengan
Tetesan airmata
Sungguh ini suatu ujian
Tetapi hendaklah kau bersabar
Jujurlah pada Tuhan

Lirik lagu itu bagaikan kisah Ristya. Ia berada cengkeraman Bu Ami setelah Mbak Mimin pergi dan ia tak tahu lagi dimana rimbanya.
*****
Tiba-tiba terdengar suara seperti orang yang menggebrak pintu. “Brak, … der, ..der…”. Lalu tiba-tiba terdengar suara petugas keamanan dari luar, “”Keluar….? Semua yang di dalam keluar. Anda semua telah dikepung.” Kata orang dari luar lagi. Sepertinya ada banyak orang. Ristya menggigil ketakutan.
“Brak….glodag….glodak…preng…preng.” Terdengar suara meja digebrak dan piring-piring pecah.
”Ayo…! semua keluar…” seperti ada suara orang berlarian. Ristya tetap di dalam kamar. Alhamdulillah, ternyata Allah mendengar do’anya. Mereka adalah polisi yang mengepung rumah Bu Ani, karena baru mengetahui bila rumah itu dijadikan sarang maksiat. Semua keluar dari kamar. Bu Ani dan antek-anteknya digiring keluar oleh polisi, mereka ditangkap.

Akhirnya Ristya dipulangkan ke rumah orang tuaku dengan selamat. Orang tuanya sok melihat keadaannya. Jeruji besi yang mengikanya kini telah lepas. Dia telah bebas, bisa menghirup udara segar. Hasil dari perbuatan Bu Ani yang telah memaksanya melayani para lelaki membuat dirinya berbadan dua. Namun, Ristya berjanji akan tetap merawat anaknya dengan baik, serta tetap tegar dalam menghadapi semua rintangan. Syukurlah kedua orang tuanya menerima dirinya apa adanya. Ia bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang dilimpahkan-Nya..Ia berharap kisah ini menjadi pelajaran bagi banyak perempuan yang hendak mengadu nasib agar tidak mudah terkecoh akan bujuk rayu dan omongan manis seseorang. Mereka harus menyeledikinya sebelum melangkah mengambil keputusan agar tidak menyesal nantinya. {}

Last modified on Thursday, 17 August 2017 15:30
Rate this item
(0 votes)