Mereka Yang Tercampakkan, Sebuah Catatan Untuk Jugun Ianfu : Cerpen Edisi 47

28 Dec 2014 Diah Rofika
1072 times

Kira-kira seminggu setelah sebuah tengkorak manusia ditemukan, mereka yang setiap malam nongkrong di warung dekat perkebunan karet milik PTP XVIII dikejutkan oleh suara-suara aneh yang menakutkan. Seperti suara kaki-kaki berlari, seperti suara kain yang dikoyak, seperti suara rintihan para perempuan yang menahan kesakitan. Suara-suara rintihan itu menggema di antara rerimbunan pohon-pohon karet, terbawa angin malam ke seluruh pelosok perkebunan sampai ke ujung-ujung desa yang ada di sekitar perkebunan, sehingga seluruh penduduk bisa mendengarnya.

Suara-suara rintihan itu melengking-lengking diselingi jerit kesakitan, terus berhamburan di antara buah karet yang berjatuhan, menimbulkan suara riuh. Lepas Isya’ suara-suara itu terdengar semakin riuh dan mengerikan. Suara jeritan perempuan-perempuan yang mengerang kesakitan, suara kain yang terkoyak,  suara nafas yang terengah-engah, suara benturan benda keras yang membuat ngilu persendian dan akhirnya suara tangisan perempuan yang menyayat hati, sangat mengerikan sekaligus memilukan. Mereka yang mendengar seolah-olah turut hanyut dalam kesedihan dan kepedihan yang dialami oleh perempuan-perempuan itu.

Mereka bisa merasakan betapa hancur dan terhinanya perasaan perempuan-perempuan yang menangis itu. Tangisan yang timbul karena harga diri yang tercabik-cabik, terhina dan tercampakkan. Suara-suara tangisan pilu – suara perempuan-perempuan yang menuntut keadilan atas penderitaan yang telah mereka alami di masa lalu.
“Itu suara perempuan-perempuan yang menjadi tumbal kemerdekaan bangsa kita”, kata mbah Urip. “Mereka adalah arwah yang tidak tenang sehingga bergentayangan”, sambungnya.
“Siapa perempuan-perempuan itu, Mbah?”
“Mungkin nenek atau ibu kita”
“Maksud Mbah Urip?”
“Lha perempuan-perempuan yang hidup dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu pantasnya disebut apa kalau bukan ibu atau nenek kita?”
“Hmm.... berarti mereka hidup di zaman perang kemerdekaan dong, Mbah”
“Betul, mereka adalah pahlawan-pahlawan sejati”
“Tapi tangisan mereka itu seperti tangisan orang yang menderita banget. Jangan-jangan mereka mati dengan cara yang tidak wajar”
“Ya memang, mereka memang mati secara tidak wajar”
“Lalu siapa yang tega melakukan itu semua, Mbah?”
“Tentara musuh”.
Sambil mengembat sepotong singkong rebus yang masih hangat sesepuh desa itu lantas bercerita mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika bangsa asing menduduki daerah ini.
“Apa Mbah yakin mereka yang melakukan?”
“Saya ini sudah lahir sebelum perang dimulai, jadi saya tahu apa yang terjadi ketika perang terjadi. Tentara-tentara asing itu menggiring secara paksa perempuan-perempuan kita, diangkut dengan truk besar dan dibawa ke markas mereka. Lalu dengan paksa dan tanpa belas kasihan mereka bergiliran memperkosa perempuan-perempuan itu. Satu perempuan diperkosa 5, 10 bahkan sampai 12 orang, di seret ke sana kemari. Para tentara itu seperti anjing berebut tulang. Tak hanya itu, ada dari tentara-tentara itu yang kemudian menyiksa tubuh-tubuh lunglai tak berdaya itu. Bahkan kalau tidak mau melayani, mereka ditendang, ditusuk, dan kepala mereka dibenturkan ke dinding. Tanpa di sadari tentara-tentara itu telah menularkan penyakit-penyakit kotor ke tubuh perempuan-perempuan itu. Selain mati karena tidak tahan dengan siksaan, mereka juga mati karena dimakan oleh penyakit-penyakit kotor itu. Mayat mereka lalu dikubur dengan sembarangan, tanpa penghormatan sedikitpun, di antaranya ya di perkebunan karet ini.
“Kok perempuan-perempuan itu mau?”
“Hanya ada dua pilihan, menurut atau nyawa melayang. Mereka dipaksa, kalau tidak mau ya ditembak.”
“Kejam sekali mereka”.
“Mereka tidak pantas disebut manusia”.
“Tengkorak yang kemarin ditemukan itu mungkin membangunkan arwah-arwah yang lain”.
“Bisa jadi”.
“Peristiwa itu telah lama dilupakan, pengorbanan mereka tidak pernah dihargai sebagaimana mestinya. Bangsa kita sendiri menganggap peristiwa itu sebagai aib bangsa dan mereka dianggap sebagai pelacur dan penjaja seks. Bahkan bangsa yang dulu menjajah bangsa kita tak mengakui adanya peristiwa itu. Arwah perempuan-perempuan itu bangkit untuk menuntut keadilan dari kita. Karena banyak dari mereka yang sampai sekarang masih hidup dan dikucilkan dari masyarakat”.
“O.... berarti mereka itu yang disebut Jugun Ianfu, iya tho?”
“Betul”.
“Para pejuang HAM masih terus memperjuangkan keadilan bagi mereka”
“Memang seharusnya begitu”
“Hii…aku jadi merinding nih”.
Begitulah, setiap malam sambil nongkrong di warung – santai setelah seharian bekerja - mereka memperbincangkan peristiwa yang terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sementara suara rintihan dan jeritan masih terus terdengar. Penduduk menjadi terbiasa dan mereka mendengarkan dengan penuh keharuan sambil terkadang dari mulut mereka terlontar cacian, umpatan, makian, kutukan dan sumpah serapah untuk orang-orang yang telah melakukan perbuatan biadab itu.
****
Pada pagi dan siang hari, perkebunan karet itu tampak tenang seolah tak pernah terjadi sesuatu. Para penderas getah terus melakukan pekerjaan mereka, anak-anak berlarian mencari buah karet untuk dijadikan mainan, ada juga yang mencari kayu dari ranting-ranting kering yang tersempal dari pohonnya untuk dijadikan kayu bakar. Namun begitu malam menjelang, suasananya berubah sangat menyeramkan. Pohon-pohon karet berdiri berjejer laksana barisan raksasa sedang mencari mangsa, dan sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah warna hitam pekat. Lalu terdengarlah suara-suara yang memilukan itu, semakin malam suara-suara itu semakin jelas terdengar, melengking-lengking dan akhirnya menjerit penuh kesakitan. Kejadian itu berlalu dari malam ke malam, minggu ke minggu. Mereka yang nongkrong di warung semakin seru memperbincangkan kejadian-kejadian aneh yang kemudian bermunculan.
“Getah karet itu berubah jadi darah”, kata Simin suatu malam kepada yang lain.
Semua yang ada di warung tak percaya. Mereka lalu berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian ingin menyaksikan getah karet yang berubah menjadi darah. Mereka ternganga, mereka tak percaya, getah karet itu benar-benar berubah menjadi darah, terus mengucur seperti kucuran darah yang mengalir dari pangkal-pangkal paha perempuan yang mengalami pendarahan. Malam harinya mereka yang nongkrong di warung melihat kelebatan-kelebatan bayangan hitam berputar menari-nari seperti kelelawar yang keluar dari sarangnya. Mereka melambaikan tangan, seolah meminta sesuatu.
“Mbah, apa itu?”
“Sssssst...., sudah biarkan saja, pura-pura tidak tahu saja”.
Begitulah orang tua Mbah Urip mengajarkan kepadanya jika melihat hantu, tidak usah diusik, mereka hanya numpang lewat, karena dunia mereka berbeda dengan dunia manusia.
“Tapi mereka melambaikan tangan, seperti meminta sesuatu”.
“Iya, kira-kira mau apa dia?“
“Kalau gitu kita tanya saja ke Mbah Sarto Blending atau Mbah Regol”.
“Iya, mereka pasti tahu apa yang arwah-arwah itu mau”.
“Ya sudah, Simin sama Parno kalian panggil Mbah Sarto Blending sama Mbah Regol”, Mbah Urip menyuruh kedua warga itu memanggil dua orang yang dikenal pandai berdialog dengan makhluk halus itu. Sambil menunggu kedatangan kedua orang itu semua yang ada di warung membaca ayat-ayat dan do’a-do’a agar para arwah itu tidak mengganggu mereka.
Setengah jam kemudian, Simin dan Parno datang bersama Mbah Sarto Blending dan Mbah Regol. Kedua orang pintar itu kemudian duduk bersila sambil memejamkan mata, mulut keduanya komat-kamit membaca doa. Tak lama kemudian kelebatan bayangan-bayangan hitam itupun lenyap. Mbah Sarto Blending dan Mbah Regol menyudahi semedi mereka.
“Siapa mereka, Mbah?”, salah seorang warga bertanya.
“Mereka hantu-hantu perempuan. Tenang saja, mereka tidak bermaksud mengganggu kita. Kita juga tidak perlu memusuhi mereka. Mereka bukan musuh kita, tapi kita belum tahu apa maksud mereka menampakkan diri di hadapan kita”, Mbah Regol menjelaskan panjang lebar.
Peristiwa malam itu keesokan harinya tersebar dari mulut ke mulut. Seluruh penduduk desa tahu dan mereka menjadi resah. Beberapa orang pintar kemudian mencoba berdialog dengan mereka, membakar kemenyan, menyembelih ayam putih, membaca mantera-mantera dan ayat-ayat suci. Sampai pada suatu malam sesosok bayangan berdiri di antara rerimbunan pohon karet. Rambutnya awut-awutan dan pakaiannya acak adul tak karuan. Dari selangkangannya mengucur darah segar, merembes dan menggenangi tanah di sekitarnya. Dari matanya yang tampak lebam mengalir air mata, berkilauan ditempa cahaya bulan seperti kristal pada wajah penari India.
“Siapa kamu dan apa maumu?” tanya salah satu dari orang pintar.
Tangan perempuan itu lunglai menggapai-gapai tak berdaya, mulutnya bergerak-gerak seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi yang terdengar adalah suara rintihan dan jeritan yang memilukan, lalu seketika bayangan itu lenyap tak berbekas.
“Tidak apa-apa, mereka tidak akan mengganggu asal kita juga tidak mengganggu mereka”, kata salah satu dari orang pintar itu di depan para penduduk yang menyaksikan peristiwa itu.
“Tetapi jeritan-jeritan itu yang mengganggu, anak-anak menjadi takut dan tidak bisa tidur”.
“Baca do’a dan ayat-ayat suci. Kita akan terus mencoba mencari tahu apa maksud kedatangan mereka.”
“Ada satu cara”, tiba-tiba Pak Petinggi Desa membuka suara.
“Apa?”
“Kalau benar apa yang diceritakan oleh Mbah Urip tentang mereka, berarti mereka mungkin meminta kita untuk membenahi kuburan mereka. Kalau memang itu yang mereka mau, kita harus cari dan gali kuburan mereka, lalu setelah ketemu kita akan kuburkan mereka kembali secara baik-baik”.
“Kalau begitu besok saja kita mulai mencarinya”, timpal salah satu warga.
“Setuju, lebih cepat lebih baik, agar kita desa kita bisa kembali tenang dan kita bisa tidur nyenyak tanpa diganggu oleh suara-suara itu”
“Ide yang bagus tapi tidak cukup hanya itu saja”.
“Lalu apa dong”.
“Sebenarnya yang mereka inginkan adalah keadilan”.
“Keadilan?”
“Mereka minta agar kita membersihkan nama mereka”.
“Para pejuang HAM kita terus berusaha melakukannya. Dengan kita menghormati arwah mereka, itu sama saja dengan kita membersihkan nama mereka. Nah sekarang kalian semua silahkan pulang ke rumah masing-masing. Besok kita akan mulai mencari kuburan mereka” setelah memberi himbauan pak Petinggi lalu meninggalkan tempat itu diikuti oleh warga yang lain.
******
Atas permintaan pak Petinggi, pak Camat dan beberapa polisi dari polsek setempat diminta untuk ikut dalam pencarian itu. Lokasi di mana telah ditemukan sebuah tengkorak diberi garis pembatas berwarna kuning. Kecuali petugas tak satupun yang boleh memasuki garis pembatas itu. Kemudian tempat itu digali untuk mencari tengkorak-tengkorak lainnya yang diduga masih terkubur di situ. Satu harian tim penggali bekerja, mereka berhasil menemukan 10 tengkorak.
Malamnya 11 bayangan terlihat menggapai-gapai dalam balutan pakaian yang compang-camping, mulutnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu tetapi hanya rintihan dan jeritan memilukan yang terdengar.
Tim penggali terus berusaha menggali. Garis pembatas semakin diperlebar hingga tak terlihat lagi ujung yang satu dengan ujung yang lainnya. Berpuluh-puluh tengkorak manusia ditemukan. Tengkorak-tengkorak itu kemudian dibungkus kain kafan dan dikuburkan kembali dengan disertai do’a-doa. Malamnya suara-suara rintihan dan tangisan semakin menggema, memenuhi angkasa raya, ribuan bayangan seperti kelelawar berkelebat, berpencar ke seluruh penjuru desa lalu menghilang. Setelah malam itu, tidak terdengar lagi suara-suara rintihan dan jeritan mereka. Desa kembali nyaman dan damai, sedamai arwah-arwah yang telah dikuburkan dengan layak dan dihargai jasa-jasa mereka semasa hidup.
Perjuangan mencari keadilan bagi mereka terus dikumandangkan. Di televisi diberitakan, para aktivis HAM bersama dengan para korban kejahatan seksual di masa perang yang masih hidup, berangkat ke luar negeri untuk menghadiri Tribunal Internasional, meminta pertanggungjawaban dan keadilan terhadap bangsa-bangsa yang dengan mengatasnamakan perang telah melakukan tindak kekerasan seksual terhadap perempuan. Di samping itu mereka juga menuntut pemerintah untuk memperbaiki nama mereka. Jangan lagi menganggap pengorbanan mereka itu sebagai aib bangsa dan bukan bagian dari perjuangan untuk mencapai kemerdekaan bangsa. Juga yang terpenting adalah pertanggungjawaban pemerintah atas dana yang seharusnya dipergunakan untuk rehabilitasi kehidupan mereka.

Dalam rangka memperingati hari Anti Kekerasan se-Dunia 25 November 2014 dan hari Hak Asasi Manusia se Dunia 10 Desember 2014

Last modified on Wednesday, 16 August 2017 10:35
Rate this item
(0 votes)