Ibu, Dengarlah Curhatku : Cerpen Edisi 48

10 Mar 2015 Masthuriyah Sa’dan
1213 times

Awal Tahun 2000
Ibu, teman sekelasku sudah menikah sebelum ikut ujian UN  SD. Tapi aku ingin melanjutkan sekolah ke bangku MTs di desaku, ya, Bu? Tidak apa-apa sekolah di kampung sendiri. Dekat dengan rumah, bisa lari dari sawah menuju sungai dan langsung ke sekolah kalau lonceng tanda pukul tujuh berdering. Tidak apa-apa berdiri 5-15 menit di depan kelas atau di halaman sekolah karena terlambat, toh yang melihat hanya anak-anak kampung saja. Lagipula, Bu, kalau sekolah di kampung, bayarannya sedikit. Bisa dicicil, atau malah bisa dihutang.

Peraturan di keluarga kita, jika anak-anak ibu lulus SD, maka tidak ada lagi uang jajan harian. Bagiku itu tidak apa-apa, Bu. Aku bisa bolak-balik dari sekolah ke rumah saat jam istirahat berlangsung bila perutku sedang lapar. Jika hujan atau panas terik yang membuat aku tidak mampu lari, tidak apa-apa aku tidak jajan, Bu. Aku akan duduk sendirian di kelas di saat teman-temanku datang dari kantin dengan membawa segenggam kue dan snack. Aku juga tidak apa-apa tidak dibelikan buku paket, Bu. Biar nanti aku pinjam buku teman-teman jika ada tugas di rumah. Yang penting, Ibu bersedia membayar SPP tiap bulan atau bersedia berhutang ke kepala sekolah bila Ibu sedang tidak ada uang. Aku ingin sekolah, Bu.

Tahun 2003
Melawan tradisi di Madura itu ternyata tidak mudah ya, Bu. Selama aku sekolah MTs hingga lulus ini, tawaran pinangan dari beberapa laki-laki, baik dari pihak keluarga maupun tetangga membuatku merasa terpojokkan jika berkumpul bersama sanak saudara. Kekhawatiran dianggap ”tidak laku” atau ”perawan tua”, membuat adat dan tradisi menuntut anak perempuan di kampung kita untuk segera memiliki tunangan dan segera menikah. Akan tetapi saat ini aku belum ada keinginan dan rencana ke arah itu. Di usiaku yang masih belia ini, aku hanya ingin fokus pada pelajaran sambil membantu ibu di sawah biar bisa bertahan hidup dan membayar SPP. Rencanaku setelah tamat MTs, aku ingin melanjutkan sekolah ke M A di kecamatan. Aku tidak mau mengikuti jejak kakak perempuanku, Bu, yang setamat MTs langsung Bapak Ibu nikahkan secara paksa dengan lelaki dua sepupu nenek yang belum dia kenal sama sekali.

Bu, aku sedih sekali ketika ibu, bapak dan nenek menyetujui pertunanganku dengan salah satu lelaki pilihan keluarga. Apalagi tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan  padaku, atau sekedar pemberitahuan ke aku. Padahal ada beberapa anak tetangga yang  seperti dia bisa sekolah hingga tamat perguruan tinggi.  Aku ingin seperti mereka yang memiliki kebebasan untuk bersekolah tanpa belenggu garis adat dan tradisi. Menurut Ibu, mereka orang kaya yang mampu membayar biaya sekolah sedangkan kita orang miskin yang buat makan saja susah. Bila soal ekonomi yang jadi hambatan, kenapa kakak laki-lakiku tidak  dipertunangkan sepertiku, Bu ?

Aku takut dan malu dengan dengan sikap bapak, yang mengejarku hingga ke jalan raya sambil membawa sapu lidi hanya karena aku mau mendaftar ke MA, Bu. Padahal, ternyata dari beberapa anak perempuan seangkatanku di SD dulu, hanya aku dan salah satu temanku yang bisa bersekolah hingga MA. Bukankah aku tidak minta biaya pendaftaran sekolah MA ke ibu dan bapak? Memang aku mendapatkannya dari berjemur memetik cabai seharian. Maafkan aku, Bu yang telah mencuri cabai milik ibu di sawah. Uangnya bukan sekedar untuk jajan, tapi untuk membayar pendaftaran sekolah.    

Bulan Mei tahun 2005
Alhamdulillah, kini anak perempuan Ibu bisa lulus M A. Rasanya, itu patut disyukuri, Bu, mengingat selama di MA, aku sering berdiri di halaman sekolah setelah upacara bendera hari Senin selama 10-25 menit karena terlambat membayar SPP tiap bulan. Terkadang aku seorang diri  dijemur di halaman sekolah yang luas dan menyengat. Dan itu aku jalanin selama tiga tahun, Bu.  Sengaja aku tak pernah bercerita soal ini karena khawatir  ibu dan bapak kurang berkenan  dengan  cita-cita anakmu untuk bersekolah tinggi.  Tahukah Ibu bagaimana caraku untuk bisa membayar SPP? Anakmu jualan baju lho, Bu dengan cara mengkreditkannya ke teman-teman dari modal yang aku dapatkan dari upah bayaran memetik cabai seharian di sawah.

Sementara, untuk uang transport dari kampung ke kecamatan aku terpaksa berhutang kepada dua sepupuku yang sama-sama sekolah di MA. Untungnya, mereka tidak terlalu perhitungan. Mereka tidak ingat berapa jumlah hutangku, tetapi aku selalu ingat, kok, Bu. Bagiku hutang itu dibawa mati.

Aku juga pernah diancam oleh TU akan mengeluarkanku dari sekolah bila dalam seminggu aku tak bisa melunasi tunggakan SPP hingga 10 bulan, Bu. Aku sempat menangis di kantor sekolah, lalu tanpa malu menghadap kepala sekolah, sambil menangis menceritakan masalahku pada beliau. Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian aku justru mendapatkan beasiswa SPP selama satu tahun.

Selama di MA itu, Bu, namaku selalu setia nongkrong di papan pengumuman sekolah karena telat bayar SPP. Oleh karenanya, aku menjadi terkenal. Masa itu, aku tak punya teman dekat apalagi pacar.  Namun  tak lekang cita-citaku untuk melanjutkan sekolah hingga S2, agar menjadi contoh bagi  anak-anak perempuan lain dan masyarakat di kampung, bahwa laki-laki dan perempuan seharusnya memiliki  akses dan kesempatan yang sama dalam pendidikan.

Saat ada seorang anak tetangga yang berprofesi sebagai penjaga karcis di pasar kecamatan melihatku, dia tahu bahwa aku adalah anak ibu. Berapa hari setelah itu, dia datang ke rumah dan melamarku. Namun aku bersikukuh tak menerima lamarannya karena masih ingin kuliah. Aku kecewa pada ibu saat berkata padaku, ”Kemana pun kamu pergi, aku tidak akan meridhai.” Kewenangan orang tua dianggap sebagai otoritas mutlak menentukan nasib anak. Ungkapan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu, telah Ibu selewengkan. Padahal  aku hanya ingin kuliah untuk merubah nasib agar menjadi lebih baik.  Aku hanya bisa menangis menyadari kenyataan bahwa tingkat pengetahuan kita yang berbeda telah menyulitkan komunikasi kita.

Syukurlah, Bapak kemudian mengirimkanku ke sebuah Pondok Pesantren Modern di Madura, dimana aku bisa kuliah S1 pada jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin.  Belum tergambar di benakku, dimana aku akan bekerja setelah itu. Tapi aku cukup senang, karena di tahun ini hanya aku satu-satunya alumni perempuan dari MAdi kecamatan yang bisa kuliah ke Perguruan Tinggi.  Sementara teman-teman perempuanku yang lain sudah sibuk dengan dirinya sendiri. Sebagian besar  telah menikah dan sebagian lagi masih menganggur di rumah.

Pertengahan Juni 2009
Bu, meskipun bapak memasrahkan aku ke Kyai di pesantren, bukan berarti segala kebutuhan hidup dan biaya kuliahku ditanggung oleh Kyai. Selama bertahun-tahun aku menjalani hari-hari di pesantren dengan penuh cobaan dan ujian. Saat teman-temanku membayar SPP di awal semester, aku menyicil tiap bulan. Saat teman-temanku ke kantin untuk membeli  lauk tambahan, aku hanya makan dengan tahu dan tempe goreng jatah dari dapur umum.  Di saat teman-temanku tengah tidur siang seusai sekolah pagi, aku menyetrika dan merapikan baju keluarga Kyai.  Mungkin Bapak dan Ibu menganggap bahwa semua biaya kuliah dan tinggal di pesantren itu gratis. Tidak, Bu. Aku mendapat keringanan pembayaran 50% karena berasal dari keluarga miskin, sementara untuk makan aku tetap membayar full dengan cara berhutang terlebih dahulu pada teman-teman dan Bu Nyai yang bersedia memberiku pinjaman tanpa bunga dari tabungan yang mereka miliki.

Bu, saat di pesantren ini aku menemukan cinta. Dia teman seangkatanku, salah seorang santri putra keturunan Sunda. Dia pintar dan tidak banyak tingkah. Dia membuatku terpikat dan menyimpan perasaan cinta hampir dua tahun lamanya. Namun sayang, ternyata dia memilih bertunangan dengan temanku yang sama-sama satu angkatan dan satu pesantren.

Di tahun ketiga di pesantren, seorang teman memperkenalkanku dengan kakak kelasnya di pesantren mereka, dulu. Mahasiswa pascasarjana di Yogyakarta, muslim taat dari suku Sasak, alumnus sebuah pesantren modern di NTB.  Meskipun wajahnya biasa saja, di mataku dia tetap rupawan. Namun pada saat yang sama aku juga tertarik pada sosok lain, Bu. Pria berdarah Bugis alumni tahun 2006 pesantren ini yang telah menjabat sebagai sekretaris rektor di kampusku. Tapi sayang, dia tidak mengenalku. Aku hanya mengenalnya lewat suara dan foto di komputer BEM. Oleh karenanya, aku menjalin hubungan dengan lelaki Sasak itu dan berharap setelah wisuda nati, kami segera menikah.

Namun ternyata, Ibu menolak lelaki berlainan suku untuk menjadi calon suamiku. Oleh karenanya, kucoba untuk menemukan pasangan sesama warga Madura. Kami bertemu di Jakarta saat ada cara yang diselenggarakan oleh kantor Kemenag Pusat. Dia adalah putra seorang Kyai seperti dambaan Ibu, alumni pesantrenku yang kini tengah melanjutkan studi pascasarjananya di Jakarta. Namun, hubungan kami tak berlangsung lama, Bu. Karena lelaki itu lebih memilih untuk bertunangan dengan seorang  putri Kyai salah satu pesantren besar di Jawa Timur.

Awal tahun 2010
Bu, aku sangat bahagia telah  menjadi seorang Sarjana Aqidah dan Filsafat. Rencanaku setelah wisuda, aku akan mengabdi di pesantren ini sebagai tanda terimakasih dan balas budi atas kebaikan pesantren yang telah menampung orang miskin yang memiliki cita-cita tinggi sepertiku. Sambil mengabdi, aku akan berikhtiar soal jodoh kok, Bu. Rencana aku menikah di tahun 2012 dengan seorang lelaki yang ikhlas menerima aku apa adanya dan aku merasa bahagia bersamanya.

Ibu, aku tidak mau menerima lamaran lelaki putra kyai itu, meski ia baik, memiliki mobil dan rumah sendiri, memiliki sekolah dan pesantren. Walaupun menurut Ibu dan keluarga, dengan menikahinya masa depanku akan terjamin, tapi hati kecilku menolak, Bu. Aku tidak mau menikah dengan  seseorang yang  tidak ”sreg” di hatiku. Aku tidak bisa menerima seseorang yang atas nama strata sosial Ibu coba paksakan untuk menikah denganku. Aku lebih ikhlas menikah dengan lelaki pilihanku sendiri, meski ia bukan keluarga atau putra Kyai. Tapi hatiku senang. Dan itu yang aku tunggu bu, kesenangan hati itu tidak bisa dibeli. Sedangkan masa depan itu siapapun tidak ada yang tahu.

Bulan Kedua tahun 2011
Kini aku telah sempurna menyelesaikan pengabdian di pesantrenku, Bu. Aku ingin pulang. Tadi Bapak telah datang ke kediaman pimpinan umum pesantren dan mudir (ketua) pesantren putri serta Rektorku dan menyatakan bahwa beliau lebih ikhlas dan bahagia jika aku tetap tinggal di pesantren. Namun aku tidak mau, Bu. Terpaksa aku berpamitan sendiri kepada para guru tanpa didampingi  Bapak dan Ibu, karena memang aku ingin pulang. Pada mereka aku katakan rencanaku selajutnya, ”Kalau ketemu jodoh menikah, dan jika ada rezeki melanjutkan kuliah S2 di Jakarta”. Dengan wajah berbinar, guru-guru merespon baik ucapanku, bu.

Tiga bulan di rumah tanpa aktivitas mengajar seperti di pesantren, membuat aku bosan bu. Aku memilih merantau ke Pekanbaru dan Bangka Belitung untuk mengajar. Alhamdulillah bu, di Pekanbaru-Riau aku menjadi pembina asrama mahasiswi STIKES. Dan di Bangka Belitung aku mengajar mata pelajaran Sosiologi, Sejarah dan Kepesantrenan di Islamic Centre Bangka Belitung.    

Bulan Ketiga 2012
Bu, kini aku merantau ke Jakarta untuk kuliah S2. Di sini aku bertemu dengan seorang lelaki berdarah Bugis yang pernah terlintas di benakku 2 tahun yang lalu. Namanya Alif Fiqri. Dia manis, hidungnya mancung, sikapnya baik, tidak perhitungan, tidak banyak bicara, humoris dan membuat aku tentram dan nyaman berada di sampingnya. Dia telah menggantikan posisi lelaki lain yang pernah singgah di hatiku dulu bu, dia telah mengobati rasa sakit hati yang aku pendam selama ini. Aku mencintainya bu, sepertinya aku ke Jakarta untuk menjemput jodoh. Ibu pasti senang kabar bahagia ini, karena Alif adalah alumni pesantren, bisa berbicara bahasa Madura dan bapaknya adalah seorang Takmir Masjid.

Dia mengajakku mengenali kota Jakarta. Beberapa kali dia mengajakku makan bersama dan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata. Bu, aku betah di Jakarta meski belum memiliki pekerjaan dan hidup serba terbatas. Tapi dengan mengingat Alif, hatiku langsung berpelangi. Dia seperti mentari pagi yang mampu memberikan aku semangat dari kondisi hidupku yang serba kekurangan. Ibu tahu, dia memancarkan spirit yang menguatkan aku berjuang sekuat tenaga untuk kuliah S2 hingga selesai. Aku ingin satu kampus dengan Alif di Pascasarjana Jakarta ini.

Ketika untuk pertamakalinya Alif memegang telapak tanganku, hatiku berbunga-bunga, bu. Kukatakan padanya agar segera datang ke rumah untuk  melamarku. Tapi dia menolak, Bu. Meski begitu, aku akan tetap menunggunya dan mempertahankan cinta ini hingga aku diwisuda S2 nanti.

Minggu ke-2 di bulan Agustus 2014
Ibu, masih ingat Alif ? Dia lah calon suami yang aku tunggu tiga tahun yang lalu, Bu. Aku yakin ibu pasti suka bermenantukan dia, meskipun dia bukan keluarga dan orang Madura asli. Tapi dia telah berhasil meluluhkan hati Ibu dengan sikapnya saat dia hadir dan bertemu Ibu pada acara wisudaku. Aku akan memperjuangkan cintaku, Bu. Akan kuminta lagi dia untuk melamarku.Mudah-mudahan anak ibu yang ketiga ini segera menikah di tahun ini, dengan lelaki pilihannya sendiri.

Tapi ternyata Alif tidak mencintaiku, Bu. Dia hanya menganggap aku sebagai adiknya, tidak lebih dari itu. Aku tahu, ibu kecewa dengan kabar ini. Terlebih aku, sangat kecewa dengan penuturan ini. Ternyata kebaikan hati Alif selama ini, hanyalah tanda saudara. Alif telah memilih perempuan lain bu. Kesetiaan dan ketulusan cintaku  kepadanya tak juga membuat hati Alif terketuk. Hati dia telah terkunci untukku, Bu.

Akhir Bulan di Tahun 2014
Tiga bulan lamanya aku berkabung duka karena kehilangan yang mendalam. Kehilangan sosok seseorang yang kuharapkan bisa merenda waktu bersama, dalam masa depan keluarga dan karierku. Berkali-kali ibu menawarkan aku untuk menikah dengan sepupu Ibu. Namun, tetap aku akan merasa bahagia bila menikah dengan lelaki pilihanku.

Ibu, maafkan aku belum bisa mewujudkan permintaanmu untuk menikah dengan segera. Saat in teman-teman sebayaku telah  berkeluarga, sementara di usiaku yang ke-27 dengan ijazah S2 di tanganku masih tetap sendiri. Daripada mendengarkan komentar negatif dari orang-orang di sekitar kita, lebih baik aku tinggal di rantau,  mengembangkan bakat, mengamalkan ilmu, hingga  aku menemukan pasangan hidup. Aku janji bu, aku pasti pulang dengan membawa calon menantu untuk ibu.

Tidak ada istilah ”telat menikah”, karena menikah bukan urusan siapa yang cepat dia yang menang. Ibu tidak usah takut dengan kekhawatiran yang ibu buat sendiri, bahwa aku belum menikah di usia sekarang karena dulu saat usiaku masih anak-anak sering menolak lamaran laki-laki sehingga sekarang aku kena guna-guna (santet). Ibu, anakmu mudah bergaul dengan siapapun, berpendidikan, dan rajin menunaikan panggilan Tuhan. Insyaallah, pintu jodoh bakal terbuka dari berbagai pintu yang di Kehendaki oleh-Nya. Kuncinya, ibu meyakini Tuhan. Mudah-mudahan keajaiban dari-Nya itu segera datang. {} 

Yogyakarta, 31122014.

*) Masthuriyah Sa’dan, lahir dan besar di Ambunten Sumenep Madura. Selain menjadi tenaga pengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga aktivis perempuan di Rifka Annisa Yogyakarta.

Last modified on Saturday, 02 September 2017 09:00
Rate this item
(0 votes)