Hikmah di Balik Pusara Nita : Cerpen Edisi 49

24 Apr 2015 Diah Rofika
918 times

Suasana di area pemakaman desa Tegal Jambu mulai sepi. Para pengantar jenazah sudah meninggalkan tanah pekuburan sejak setengah jam yang lalu. Hanya ibu kepala panti asuhan dan beberapa stafnya saja yang masih berada di sana. Berdiri di samping gundukan tanah merah yang masih basah bertabur wewangian bunga, wajah-wajah mereka terlihat begitu sendu, seperti mendung yang bergelayut di angkasa. Sepasang nisan bertuliskan nama seorang gadis belia yang terlihat dari tahun kelahiran yang juga tertera di sana, tertancap kokoh di kedua ujung makam. Ibu kepala panti asuhan sebentar-sebentar mengelus salah satu nisan itu sambil sesekali menyeka air mata yang membasahi kedua kelopak matanya.

“Sudah, Bu. Jangan bersedih terus seperti ini. Ikhlaskan Nak Nita pergi. Ini sudah takdir Allah, Nak Nita harus pergi dengan cara seperti ini,“  ucap salah satu perempuan yang berdiri di samping ibu pengasuh.

“Saya masih tidak percaya kalau dia pergi secepat ini. Gadis manis yang sebelumnya selalu ceria dan menghangatkan panti asuhan kita. Lalu tiba-tiba berubah menjadi murung, depresi, karena perbuatan laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Kenapa harus Nita yang mengalaminya? Kenapa harus gadis sebaik dan sepintar dia yang harus menanggung akibatnya?” ibu kepala panti asuhan berucap di antara isak tangis yang tidak bisa dihentikannya. Rasa penyesalan yang dalam membuatnya terus menerus meratapi kepergian salah satu anak asuhnya itu.

“Tidak ada orang yang menginginkan musibah ini terjadi pada Nita dan juga pada gadis-gadis kita lainnya, Bu. Peristiwa ini harus menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua, pengasuh panti dan juga masyarakat luas untuk lebih banyak memberikan perhatian kepada anak-anak kita. Kita harus lebih banyak lagi memberikan informasi dan juga pendidikan tentang kesehatan reproduksi kepada anak-anak kita agar kasus Nita ini tidak terulang lagi. Saya usul, mulai tahun ini kita ikutkan anak-anak asuh kita pada pelatihan Hak dan Kesehatan reproduksi yang sering diadakan di Pesantren desa sebelah. Kabarnya pesantren itu bekerjasama dengan salah satu LSM dari Jakarta untuk menyelenggarakan pelatihan itu. Dengan begitu anak-anak asuh kita bisa mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi serta seksual secara benar.“

“Sampeyan benar, Bu. Kadang kita masih menabukan hal-hal yang semestinya sudah harus diketahui oleh anak-anak. Seandainya saja sejak awal kita membekali Nita dengan informasi-informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi yang benar, saya yakin dia akan lebih bisa menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Nasi sudah menjadi bubur.  Nita sudah pergi.  Anak gadisku telah menjadi tumbal atas kebodohanku.  Oh Nita, maafkan Ibu, Nita. Ibu yang menyebabkan kamu pergi secepat ini, Nak.” Ibu kepala panti asuhan itu kembali tertunduk sambil mencengkeram kuat nisan Nita. Airmatanya kembali bercucuran.

“Sudah, Bu. Jangan menyalahkan diri terus seperti ini. Sebaiknya kita segera kembali ke panti. Ingat bu, ada warisan Nita yang jauh lebih membutuhkan perhatian kita. Biarkan Nita tenang di alamnya. Kita doakan dia bahagia. Mari, Bu…..,” staf yang lain mencoba membimbing ibu kepala panti asuhan untuk meninggalkan makam Nita. Area pemakaman semakin sepi. Tidak ada lagi satu orangpun terlihat berada di sana.
******

Nita adalah salah satu penghuni panti asuhan yang ada di desa Tegal Jambu. Kedua orang tuanya meninggal akibat tanah longsor yang menimpa desa itu ketika usia Nita baru tiga tahun. Seluruh keluarga Nita menjadi korban tewas kejadian naas itu. Kemudian oleh Kepala Desa Nita dititipkan di panti asuhan.

Nita seorang gadis yang pintar dan menyenangkan. Sebelum meninggal dia tercatat sebagai salah satu siswi sekolah menengah pertama. Parasnya yang manis dengan sorot mata yang indah serta pembawaannya yang selalu ceria membuat Nita terlihat lebih menonjol di antara teman-temannya. Daya tariknya yang kuat itu pula yang telah membuat seorang pemuda yang tengah mengadakan penelitian di desa itu menjadi jatuh cinta kepadanya.

Nita gadis lugu itu pun tidak sanggup menampik perhatian pemuda tampan, berasal dari kota dan sudah bekerja di sebuah perkantoran. Bayangan masa depan yang indah bersama sang pemuda telah membuat gadis beliau itu dimabok kepayang. Sampai akhirnya peristiwa itu terjadi. Beberapa hari menjelang berakhirnya masa tugas sang pemuda, keduanya tidak sanggup lagi melampiaskan gejolak muda mereka dalam sikap yang biasa-biasa saja. Menegaskan bukti bahwa mereka memang saling mencintai, telah menjerumuskan keduanya untuk melakukan sebuah perbuatan terlarang. Pemuda itu, yang seharusnya bisa menjadi pelindung justru memanfaatkan keluguan gadis bau kencur seperti Nita sehingga sanggup melakukan apapun karena tak ingin kehilangan dirinya. Namun, pengorbanan Nita tetaplah tak bisa mencegah kekasihnya pergi dari sisinya.

Bulan demi bulan berlalu sepeninggal pemuda itu. Perut Nita kian hari kian membesar tanpa dia tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ibu kepala dan para pengasuh panti yang akhirnya menyadari perubahan itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menjaga dan merawat kehamilan Nita. Tetapi mental Nita menjadi tidak sehat. Jiwanya terguncang begitu mengetahui jika dirinya hamil. Dia menjadi stres, pendiam, murung dan selalu mengurung dirinya di kamar, tidak mau makan dan minum. Akibatnya tidak banyak nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. Kondisinya menjadi lemah. Nita mengalami anemia akut, hemoglobinnya sangat rendah dari batas normal. Nita mengalami pendarahan hebat saat melahirkan sehingga membuat nyawanya tidak tertolong. Persediaan darah di klinik tempatnya bersalin tidak ada. Sementara jarak rumah sakit dari desa Tegal Jambu lumayan jauh.
Nita telah mengalami resiko kehamilan yang tidak direncanakan akibat kurangnya informasi dan pendidikan tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Nita juga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan reproduksi yang baik karena minimnya sarana kesehatan yang ada di desanya, Nita juga merupakan korban tipu daya laki-laki yang tidak bertanggungjawab.
*****
Bayi laki-laki mungil menangis menjerit-jerit di salah satu kamar panti asuhan seolah-olah dia tahu bahwa ibu yang melahirkannya telah pergi untuk selama-lamanya. Ibu kepala panti asuhan mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Dalam hati perempuan setengah baya itu bertekad, tidak akan ada lagi gadis-gadis lain di desa ini yang kelak mengamani nasib buruk seperti yang Nita alami.

Pamulang, 10.03.15, Pkl. 09.00 – 10.27. wib



Last modified on Saturday, 02 September 2017 08:58
Rate this item
(0 votes)