Sunshine : Cerpen Edisi 50

25 Nov 2015 Nor Ismah
757 times

“Tak salah aku memanggilmu Sunshine karena hadirmu membuat terang hati seperti cahaya matahari.”

 

Aku tersenyum. Lagi-lagi laki-laki itu membuat status yang melambungkan hati. Di antara beberapa status serius atau link-link menarik yang ia pasang pada halaman facebook-nya. Apakah aku kege-eran? Haha emang iya, aku kege-eran. Aku berandai-andai menjadi sosok pada dhamir ‘mu’ di antara barisan kata-kata puitis itu. Begini saja rasanya sudah bahagia bukan main. Aku sudah bahagia hanya menjadi pemuja rahasia, menjadi secret reader setiap update yang ia lakukan pada akunnya yang aku tandai sebagai close friend.

Aku memanggilnya Mas Amrin Nathiq. Lelaki dengan wajah tidak terlalu tampan namun pantas untuk dilihat karena senyuman manis yang ia sunggingkan pada foto profilnya. Pada dunia nyata, ia juga sosok yang menarik. Selain karena bibirnya yang selalu terlihat tersenyum saat berbicara, ia senang menyapa dan pandai membuat lawan bicaranya merasa dihargai. Salah satunya, tentu saja aku yang di hadapannya hanyalah gadis tujuh belas tahun, salah satu santrinya di Madrasah Diniyyah Mushalla Al-Huda di pelosok Ngantru Tulungagung.

Aku memang mencintai Mas Amrin. Sejak ia menjadi guru ngaji di mushalla kami, sejak itu pula mata remajaku yang masih berusia lima belas tahun waktu itu sudah bisa menatapnya takjub penuh kekaguman. Aku berani bilang kalau aku tidak sekadar kagum, tapi cinta. Cinta yang membuatku bersemangat untuk selalu berangkat mengaji, menghafal bait-bait imrithy dan nazhaman yang lain, kosakata bahasa Arab hingga aku selalu bisa memberikan contoh kalimat Arab setiap ia meminta, dan karena itu aku pun terlihat lebih menonjol di hadapannya dibandingkan santri yang lain. Ia jadi sering menyapaku, memperhatikanku meski lewat tatapan sekilas dan senyumannya, dan mengandalkan aku untuk lomba-lomba atau tugas lainnya.

Suatu hari ketika pelajaran fiqh kami sampai pada bab zakat, sosok yang usianya delapan tahun lebih tua dari aku ini menjelaskan tentang konsep fiqih sosial. “Fiqh itu semestinya dapat memecahkan persoalan sosial di dalam kehidupan kita dengan mempertimbangkan kemaslahatan bagi seluruh warga masyarakat,” tuturnya, di bawah tatapan tanpa kedip mataku. Oh Mahasuci Allah yang telah menciptakan manusia pintar dan manis di hadapanku ini. Seperti masuk dalam gelombang hipnotis, tiba-tiba aku menekadkan dalam hati kalau aku juga ingin kuliah tinggi-tinggi seperti Mas Amrin. Tak apalah cintaku tidak berbalas, asal aku bisa juga memajang gelar tinggi seperti dirinya.

 

******

 

“Salihaaaa…! Selamaaat…!” Fatin memelukku kegirangan begitu aku keluar dari ruang Kepala Sekolah dan mengatakan kepadanya kalau aku lulus ujian untuk program beasiswa studi S1 ke Maroko. Tak cukup memeluk, ia menggoyang-goyangkan tubuhku hingga hampir jatuh terjerembab. “Aduh-aduh, maaf,” lanjutnya sambil terengah-engah. “Aku seneng sekali. Eh kapan berangkatnya? Kamu harus bikin passport dulu kan ya? Gampang itu, Mbakyu-ku sebelum jadi TKW juga bikin passport, nggak lama kok prosesnya,” Fatin terus saja nyerocos, sampai ia kemudian sadar kalau aku tampak seperti handphone kehabisan batere.

Ia menyelidik lewat tatapan mataku. “Ada apa, Liha? Kamu tidak suka dengan berita bagus ini? Atau kamu mengurungkan niatmu untuk kuliah di Maroko?”

“Aku tetap ingin, Tin. Aku bisa gila kalau melewatkan kesempatan emas ini. Kamu tahu kan bagaimana aku sudah berjuang keras menghafalkan beberapa juz  Alquran untuk memenuhi persyaratan seleksi,” cerocosku tak mau kalah.

“Iya, lalu apa masalahnya tiba-tiba wajahmu jadi mendung gitu?”

“Mas Amrin, Tin. Semalam ia dengan tiba-tiba berkirim pesan lewat inbox,” ucapku pelan.

Mata Fatin mendelik. “Pesan apa? Apakah ada hubungannya dengan beasiswa ini?” ia tak sabar.

“Dia bilang dia mencintaiku, dia ingin aku menjadi ibu dari anak-anak kami, dan dalam waktu dekat akan datang bersama keluarganya untuk melamarku.”

“Hah? Ya Allaaah,” ekspresi Fatin seperti baru saja melihat Buroq, kendaraan Nabi sewaktu isra’. “Nikmat mana lagi yang sudah Engkau berikan pada sahabatku ini!” ucapnya setengah berteriak. “Ohhh, dua kabar gembira datang secara bersamaan. Akhirnya, putri malu mendapatkan sambutan atas cinta terpendamnya.”

“Iya kalau mereka mengizinkan aku kuliah di Maroko, kalau tidak, maka pilihannya hanya dua, aku menolak lamaran Mas Amrin, atau tidak jadi belajar ke Maroko,” lanjutku dengan suara parau.

Kali ini Fatin baru menyadari kebimbangan yang sedang aku rasakan. Menentukan pilihan antara impian untuk sekolah tinggi atau menikah dengan pujaan hati.

 

******

Di ruang tengah, kami semua berkumpul. Kami baru saja menerima silaturahim dari keluarga Mas Amrin, keluarga besar Pesantren An-Nuriyah. Kunjungan ini bisa jadi merupakan sejarah baru bagi keluarganya, yaitu akan berbesanan dengan keluarga petani sederhana seperti keluargaku , dan mengambil aku yang hanya santri madrasah sebagai menantu.

“Kalau aku jadi kamu, aku nggak bakal pakai mikir, langsung aku terima, Liha,” Mbak Us memecah sunyi di antara kami. “Lamaran Mas Amrin itu anugerah buat keluarga kita,” lanjutnya dengan suara tertahan.

Mbak Uswatun Hasanah adalah kakak sulungku yang usianya terpaut lima tahun denganku. Kami lima bersaudara. Ada Mbak Us, aku, lalu dua orang adik laki-laki dan seorang adik bungsu perempuan. Mbak Us seorang kakak yang baik. Setelah lulus Tsanawiyah An-Nuriyah, ia bekerja sebagai kasir di swalayan dekat pasar. Dengan penghasilannya itu ia membantu bapak ibu membayar biaya sekolah adik-adiknya, termasuk aku yang sebentar lagi akan lulus Aliyah An-Nuriyah.

Sayangnya, Mbak Us belum juga menikah. Di usia yang menurut pandangan warga kampung sudah sedikit terlambat karena rata-rata mereka menikahkan anak gadis mereka di usia belasan tahun. Dulu, sempat ada tetangga yang melamar, namun seminggu sebelum hari pernikahan, tiba-tiba keluarga besan membatalkan lamaran dan malah menikahkan puteranya dengan gadis dari desa yang lain. Tentu saja kejadian itu menusuk perasaan keluarga kami, terutama Mbak Us. Ia membutuhkan waktu untuk dapat berdiri dan hidup kembali seperti sebelumnya.

“Kamu nggak usah banyak memikirkan keadaanku. Aku rela kok kamu langkahi,” seperti mengerti isi pikiranku, Mbak Us coba menghalau kekhawatiran-kekhawatiran. “Soal kuliah di Maroko, menurutku tak lebih penting dari mendapatkan suami yang bisa menjadi Imam kita dunia akhirat. Madharat-nya bisa jadi lebih banyak juga, karena kamu akan sendirian di Maroko sebab Mas Amrin tidak bisa meninggalkan kuliah S2-nya di Unair, bukan?”

Bapak Ibu dan adik-adikku belum juga bersuara. Di hadapan keluarga Mas Amrin, Bapak sekadar menerima kedatangan mereka, dan mengatakan akan bersilaturahim sebagai balasan atas kunjungan.

“Ini pilihan yang sulit, Mbak. Aku tahu, keluarga kita ibarat kejatuhan durian mendapatkan lamaran dari keluarga Kiai Saifuddin. Tapi, aku bukan adik yang egois. Menari di atas penderitaan Mbak. Lagi pula, Mbak tahu bagaimana aku ingin sekali mendapatkan beasiswa ke Maroko ini.”

“Hai, penderitaan siapa, Nduk? Aku justru senang, adikku yang cantik ini akan menjadi istri orang besar, bagian dari trah keluarga Pesantren An-Nuriyah. Ini rezekimu, yang insyaallah akan membawa kebaikan buatku, buatmu, juga keluarga kita,” Mbak Us menatapku dengan lembut.

“Mbakyu-mu benar, Liha. Tidak baik juga kita menolak lamaran dari Kiai Saifuddin. Apa kata orang nanti, dikiranya kita sok-sokan dan mereka malah akan mendoakan jelek kepada keluarga kita. Cukuplah pengalaman pahit menimpa Mbak yumu saja, kebetulan ada nasib baik di hadapanmu, jangan kamu sia-siakan,” Bapak akhirnya bersuara.

Tapi, suara Bapak justru membuatku semakin bimbang dan tak tahu arah.

 

*******

 

“Mas, kenapa aku harus memilih? Tidak bisakah aku mendapatkan keduanya, melanjutkan sekolah ke Maroko dan mendapatkan suami laki-laki menarik, seperti Mas Amrin.”

“Hidup itu pilihan, my Sunshine. Kita tidak bisa serakah ingin mendapatkan semuanya secara bersamaan.”

“Tidak bersamaan. Izinkan aku melihat dunia dengan belajar di Maroko. Sambil Mas menyelesaikan kuliah Mas. Pada saatnya nanti kita bisa berkumpul bersama.”

“Aku akan gila kalau hidup berjauhan denganmu, My Sunshine. Padahal kita sudah resmi menjadi suami istri. Toh, setelah aku lulus, kamu bisa kuliah di negara mana pun kamu suka, bersamaku.”

 

Aku terdiam. Membaca kalimat Mas Amrin pada layar Facebook messenger di handphone-ku. Aku juga akan gila jika hidup berjauhan. Tapi, kupikir akan lebih realistis jika belum ada ikatan pernikahan di antara kami. Aku masihlah terlalu muda untuk menjadi istri seseorang.

 

“My Shine ….”

“Hmmm …”

“Apakah kamu keberatan jika menunda sekolahmu untukku?”

“Hmmm …”

“Ucapkan sesuatu …”

“Hmmm, Mas, apakah kamu keberatan jika menungguku hingga aku genap berumur 20 tahun? Pada saat aku tumbuh menjadi perempuan yang sempurna secara fisik dan mental untuk memasuki kehidupan rumah tangga. Lamaran ini begitu tiba-tiba. Meruntuhkan bangunan mimpi-mimpi untuk menjadi menara menjulang seperti lelaki yang ternyata juga mencintaiku.”

 

Chat kami terhenti. Mas Amrin tak juga membalas kalimat panjangku.

 

*******

Apa yang menimpaku benar-benar seperti mimpi indah yang berakhir dengan nestapa. Aih, sebegitu tragisnyakah? Sesaat aku bahagia dengan kejutan kelulusanku dan sambutan atas perasaan terpendamku. Namun, tiba-tiba aku harus menghadapi ketidakjelasan nasib karena Mas Amrin seperti hilang dari peredaran. Ia tak lagi mengajar kami di Mushalla karena ia tak bisa meninggalkan studinya di Unair yang baru saja dimulai. Sebagai penggantinya, ada Mas Attabiq, adiknya yang baru lulus dari Mesir. Sementara untuk menghubunginya, aku tak cukup punya kekuatan.

Aku sudah berusaha menjelaskan keadaanku kepada Bapak, Ibu, Mbak Us juga adik-adikku. Bahwa aku ingin mengambil kesempatan kuliah di Maroko dengan menunda pernikahan bersama Mas Amrin. Diterima atau tidak permohonanku, tak ada tempat pasrah terpercaya selain Allah yang Mahakuasa. Namun aku bersyukur, keluarga Kiai Saifuddin ternyata bisa memahami keadaanku, dan selebihnya menyerahkan semua keputusan kepada kami berdua. Namun persoalannya, bagaimana bisa kami membuat keputusan jika tidak ada komunikasi di antara kami?

Selama beberapa bulan ini aku disibukkan dengan persiapan ujian akhir sekolah dan urusan administrasi keberangkatanku ke Maroko. Sesekali, setiap membuka halaman facebook, ruang batinku kembali terusik. Tergoda untuk melihat wall Mas Amrin yang lebih banyak memajang link artikel atau video-video lucu. Aku jadi rindu dengan rasa girangku karena ge-er membaca status puitisnya. Rasa girang yang membuatku bersemangat untuk menjadi santri paling pintar dan membanggakan. Rasa girang yang membuatkan tak pernah lelah berusaha untuk bisa juga bersekolah tinggi seperti Mas Amrin. Ah, aku benar-benar rindu.

Malam itu, alam raya tengah siap menuju peraduan. Aku baru saja selesai menutup semua daun pintu dan jendela. Sambil menahan letupan-letupan rindu dalam hati aku membuka halaman Facebook. Sebuah notifikasi aku baca bahwa Amrin Nathiq baru saja mengupdate status. Aih, jantungku berdegup kencang ketika jariku refleks mengklik notifikasi itu. Mataku tak berkedip membaca status barunya:

 

“Sunshine mengajariku bagaimana berbagi cahaya dan terang, meruntuhkan egoisme perseorangan, karena masing-masing aku dan kamu bisa tumbuh menjadi apa yang kita inginkan. Mencintai Sunshine meniscayakan kerelaan untuk berbagi dan kepercayaan yang teguh bahwa meski setiap sore menghilang, setiap pagi kamu pasti akan datang membawa kehangatan. My Sunshine, tumbuhlah dan mengembaralah ke segala penjuru kota.”

 

Mataku berair, bahkan hampir tumpah membasahi pipi. Lebih-lebih ketika tiba-tiba sebuah pesan messenger masuk menyentakkan kesadaranku.

 

“My Sunshine, aku merindukanmu.”

 

 

Yogyakarta, 02 November 2015

 
Last modified on Saturday, 02 September 2017 08:53
Rate this item
(0 votes)