Ayah tinggalkan Ibu : Tanya Jawab Edisi 26

07 Aug 2009 KH. Muyiddin Abdusshomad
1985 times
Assalamu’alaikum wr. wb.
Sudah satu tahun ini ayah kami meninggalkan saya, ibu dan 2 orang adik yang masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD) tanpa kabar dengan membawa surat-surat rumah dan tanah. Padahal surat-surat itu masih atas nama kakek kami. Kami sudah mencari ke mana-mana, juga ke tempat ayah bekerja, tapi kata kawan-kawannya, ayah sudah lama tidak bekerja di perusahaan itu, bahkan ia telah membawa lari uang perusahaan.
Untuk menghidupi kami (kami tinggal dengan kakek dan nenek dari pihak ayah), ibu bekerja apa saja. Di antaranya menjadi sales asuransi. Dengan pekerjaannya, ibu bertemu banyak klien, di antaranya seorang bapak yang sangat ingin menjadikan ibu sebagai istri kedua. Alasan bapak itu, untuk membantu ibu dalam membiayai ekonomi kami, anak-anaknya. Namun, ibu masih bingung mengingatkan statusnya yang belum menjadi janda, juga bingung karena harus menjadi istri kedua.
Demikian, saya mohon jawaban dari Pak Kyai, apa yang harus ibu saya lakukan?
Terimakasih.
Wassalam,

Na. di Tangerang

Wa’alaikum salam Wr. Wb.       
Saudari Na,
Secara pribadi, saya turut prihatin atas kejadian yang dialami ibu Anda. Sekaligus saya kagum sekali atas ketabahan serta kegigihannya. Memang tidak mudah menjalani ujian hidup seperti itu.
Terkait dengan “sahabat” ibu anda tersebut, maka ada dua pertimbangan yang dapat saya berikan. Pertama, dalam aturan fiqh seorang perempuan yang ditinggal pergi suaminya tanpa kabar berita tidak secara otomatis berakibat pada rusaknya sebuah ikatan pernikahan. Oleh karena itu, dalam kondisi demikian, ia tidak boleh menikah lagi dengan laki-laki lain.
Namun istri boleh mengajukan gugatan percerain (khulu’) kepada hakim di pengadilan. Imam Syafi’i ra. meriwayatkan dari Sayyidina Umar ra. dan Usman ra. bahwa perempuan tersebut boleh menikah lagi setelah empat tahun, kemudian mengajukan tuntutan ke pengadilan dan menjalani iddah empat bulan sepuluh hari.  Tuntutan bisa juga dilakukan dengan alasan tidak adanya nafkah dari suami kepada istrinya, tanpa perlu menunggu empat tahun.
Intinya adalah bahwa selama seseorang masih dalam status pernikahan yang sah, dan palu hakim belum diketuk sebagai tanda telah terjadi perceraian, maka ia tidak boleh menerima ajakan orang lain untuk menikah, apalagi melakukan pernikahan.
Kedua, mempertimbangkan status laki-laki tersebut yang sudah beristri. Masalah poligami memang masih menjadi pro-kontra di kalangan ulama. Namun satu hal sulit dibantah bahwa perlakuan adil merupakan sesuatu yang sangat sulit. Alquran memerintahkan untuk berbuat adil, bukan belajar (mencoba) untuk berbuat adil.
Dalam banyak kasus, poligami banyak mendatangkan kesusahan dan penderitaan. Adakalanya istri pertama yang menderita, atau terkadang istri kedua yang merana. Bisa juga sebaliknya atau bahkan dua-duanya menderita, beserta anak-anaknya. Ada kecenderungan kuat laki-laki yang beristri lebih dari satu akan lebih berat kepada salah satu istri. Demikian diisyaratkan alam Alquran:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا [النساء/129]

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu, jika kamu menikah lebih dari satu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai saja), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa’: 129)

”Niat mulia” yang awalnya menjadi tujuan seseorang berpoligami, misalnya untuk membantu anak-anak, meringankan beban hidup ibu janda, dan sebagainya, seiring berjalannya waktu bisa menjadi sesuatu yang sulit terwujud. Bahkan, tak jarang akan berbenturan dengan kepentingan-kepentingan yang saling tarik-menarik, yang mengantarkan seseorang pada kondisi harus memilih satu di antara dua. Akhirnya bukan bantuan atau kebahagiaan yang didapat, bahkan sebaliknya, menjadi tambahan beban hidup dan derita.
Berangkat dari pertimbangan inilah, maka sikap tegas diperlukan untuk menolak ajakan laki-laki tersebut. Tentu dengan cara-cara yang baik dan tidak meninggalkan sakit hati. Ini demi menjaga status Ibu yang masih ada ikatan pernikahan dan menjaga juga keutuhan rumah tangga laki-laki tersebut.
Hal ini dilakukan pula untuk menjaga kesucian lembaga perkawinan, yang telah diikrarkan tidak hanya di hadapan wali atau hakim, tapi di hadapan Allah swt. Tidak menodainya dengan sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan.
Selain itu, kita tentu tidak ingin kebahagiaan yang didapat (menikah lagi dengan seseorang) berada di atas linangan air mata orang lain yang sangat mungkin dirugikan atau tersakiti. Kitapun tidak ingin keputusan yang diambil sekarang bakal menjadi bumerang bagi diri sendiri di masa yang akan datang.
Keyakinan kepada janji Allah swt. harus terus ditanam, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan ujian atau cobaan di atas kemampuan seseorang. La yukallifullahu nafsan illa wu’aha, demikian penegasan Allah di akhir Surat Al-Baqarah. Pesan Tuhan juga bahwa di balik semua kesulitan yang terjadi, pasti akan datang banyak kemudahan (inna ma’al-’usri yusra), asalkan seorang hamba dapat menyikapinya dengan positif, berusaha keras untuk keluar dari masalah, dan tidak berburuk sangka kepada Allah swt.
Terkait soal ekonomi rumah tangga, tentu pekerjaan ibu Anda di perusahaan asuransi itu tetap perlu dikembangkan. Tidak hanya itu, mungkin juga ditambah dengan menggunakan hari libur atau waktu senggang berwiraswasta dengan dibantu anak-anak yang mungkin sudah bisa diajak belajar mandiri. Tentang modal usaha, mungkin bisa meminjam dana pada orang-orang yang ibu percayai dan ia percaya pada ibu Anda. Siapa dapat menyangka, usaha mandiri ini akan jadi besar dan dapat menghidupi ekonomi keluarga agar tidak tergantung pada orang lain.
Terakhir, kami mengajak Ibu Anda dan keluarga untuk tetap tegar dan sabar. Yakinlah perjuangan akan membuahkan hasil yang terbaik. Allah swt. berpesan di bagian awal Surat Al-Thalaq: Wa man yattaqillaha, yaj’al lakum makhraja wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib wa man yatawakkal ’alallah fa huwa hasbuhu. Artinya: ”Jika kamu bertakwa, berusaha dan berdoa, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan memberi rezeki yang tidak terkira sebelumnya. Dan siapa saja bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya”. Wallahu al-musta’an.
Last modified on Thursday, 17 August 2017 17:53
Rate this item
(0 votes)