Apakah Islam Memperbolehkan Istri Bekerja Keluar Rumah? : Tanya Jawab Edisi 12

18 Aug 2009 KH. Muhyiddin Abdusshomad
5688 times
Assalamu’alaikum...
Saya seorang karyawan swasta (umur 27 th) dan istri saya (umur 27 th) bekerja di sebuah Bank BUMN di daerah terpencil. Kami berasal dari keluarga yang berlatar  belakang  berbeda.  Saya  berasal  dari keluarga  pedagang  kecil  yang untuk  makan  saja susah,  sementara  istri  dari  keluarga  cukup  berada (pegawai  pertamina)  yang  semua  fasilitas dan kebutuhan  dengan  mudah  terpenuhi.
Pada waktu saya memutuskan menikah, pertimbangan saya terlalu sederhana, ingin mempunyai istri yang  bekerja sehingga  dapat  menabung  dengan lebih  cepat,  dan  mertua  yang  dapat  membantu  bila dalam  keadaan  kesulitan ekonomi.
Pertanyaan  saya,  apakah  dalam  Islam  diperbo- lehkan  istri  bekerja?
Bagaimana  hukumnya  jika  istri  saya  harus  kerja ke  luar  kota  sedangkan  saya  agak  berkeberatan untuk mengizinkannya  karena  dia  tidak  ditemani siapapun  sedangkan  saya  khawatir,  apakah  saya harus menemaninya atau siapakah kira-kira laki-laki yang  dipandang  pantas  menemaninya  dan  sesuai aturan agama?

Salam

Setiyadi
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Jawab:

Wa’alaikum  Salam  Wr.  Wb.
Agama  Islam  memandang  bahwa  kaum  perem- puan bukan hanya sebagai makhluk domestik yang tidak diperkenankan  merambah  wilayah  publik. Sebagai makhluk Tuhan yang setara di hadapanNya. Laki-laki atau perempuan diberikan hak yang sama dalam segala bidang, baik,  sosial, politik dan sema- camnya.  Termasuk  juga  hak  untuk berkarir dalam bidang ekonomi. Allah SWT   berfirman:
Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh dari golongan  laki-laki  dan  perempuan  dalam  keadaan beriman,  pastilah akan kami  berikan  mereka kehidupan yang baik. Kami akan memberikan mereka  pahala  yang  baik  dari  hasil  pekerjaan mereka.(QS.  Al-Nahl,97)
Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hak yang sama untuk bekerja sekaligus untuk menikmati buah  dari  hasil  jerih payah  mereka.  Allah  SWT., berfirman :
Bagi  laki-laki  di  anugerahkan  hak  dari  apa  yang diusahakannya, dan bagi perempuan dianugerahkan hak  dari  apa yang  diusahakannya.  (QS.  Al  Ahzab, 33)
Biasanya masyarakat umum beranggapan bahwa bagi  perempuan  yang  belum  berkeluarga,  bekerja tidak akan menjadi masalah karena dianggap bahwa perempuan  tersebut  belum  memiliki  tanggungan pengasuhan  anak.  Namun, pertanyaannya  apakah kemudian  ketika  si  perempuan  menikah  dan  dia masih tetap ingin bekerja maka hal tersebut otomatis menjadi  masalah.  Bagaimana  jika  dibandingkan dengan Siti Khadijah (istri Rasulullah Saw) yang tetap menjadi pengusaha disamping mengasuh anak dan mendampingin Nabi berda’wah. Justru masalah yang harusnya diangkat adalah apakah harus ada “peran ganda”  untuk  perempuan  menikah  dan  bekerja mencari  nafkah.
Pada  dasarnya  Islam  tidak  pernah  melarang perempuan yang ingin bekerja   di luar rumah. Lalu bagaimana jika si perempuan tersebut harus bekerja jauh  dari  rumahnya,  apakah  ia  harus  ditemani suaminya? Menjawab pertanyaan ini sebagian ulama sepakat bahwa seorang perempuan boleh bepergian sendirian  walaupun  tanpa  mahramnya  walaupun dengan  beberapa  alasan  misalnya  karena  ingin berpindah  dari  daerah  yang  rawan  menuju  daerah yang aman, khawatir akan keselamatan jiwanya atau membayar  hutang.  Berbeda  dengan  pendapat sebagian  ulama  lain  yang berpendapat  tentang kewajiban  mahram  bagi  seorang  perempuan  yang melakukan  perjalanan  untuk  menunaikan ibadah haji.  Mayoritas  ulama  berpendapat  perempuan tersebut wajib ditemani oleh mahramnya atau wanita- wanita lain yang dapat dipercaya. Walaupun ada juga ulama  yang  memahami  bahwa  hadits  Nabi  Saw tersebut bersifat sunnah. Bahkan ada satu pendapat dari  Imam  Syafi’i  yang  menyatakan  bahwa  dalam kondisi  yang  aman  seorang  perempuan  boleh melakukan perjalan tanpa di dampingi mahramnya. (Subulus salam, Juz II, hal 183-184)
Perlu  digarisbawahi  bahawa  latar  belakang adanya  hadits  yang  mewajibkan  mahram  kepada perempuan  ketika  dia bepergian  adalah  karena memang  pada  zaman  jahiliah  dulu  situasi  sangat tidak  aman  bagi  perempuan.  Situasi dan kondisi ketika itu tidak cukup aman bagi seorang perempuan untuk berjalan sendirian. Alat transportasi dan letak geografis  yang  sulit,  ditambah  dengan  belum terbangunnya tatanan hukum yang dapat menjamin keamanan setiap warga.
Namun, jika dibandingkan untuk saat ini, dimana kondisi sosiologis dan geografis serta sistem pemerintahan yang terbentuk sudah dapat memberi rasa aman kepada seorang perempuan untuk keluar rumah tanpa khawatir terhadap keselamatannya, maka kewajiban adanya mahram bagi perempuan nampaknya bisa gugur. Karena hukum bisa berubah mengikuti kondisi  kekinian.  Di  setiap  wilayah  sudah  ada petugas  keamanan  yang  akan  memberikan  perlindungan kepada masyarakat. Karena itu, perempuan diperkenankan  beraktivitas  di  luar  rumah  sekalipun tanpa  ada  yang mendampinginya.  Kecuali  daerah-daerah tertentu yang masih rawan, seperti di daerah konflik,  maka  seorang perempuan  harus  ditemani oleh  mahramnya  atau  orang  yang  dapat  dipercaya kalau mereka melakukan perjalanan.
Disamping itu dapat dibayangkan kesulitan yang akan  dialami,   baik  bagi  si  perempuan  itu  sendiri ataupun  bagi keluarga  yang  harus  menjaganya. Misalnya  bagaimana  keadaan  seorang  isteri  yang selalu diawasi suaminya ketika melakukan aktivitas di  luar  rumah,  juga  nasib  sang  suami  yang  harus menemani  isterinya  ketika  bekerja  di  luar rumah, padahal ia memiliki rutinitas sendiri. Andaikata semua siswi atau mahasiswi setiap hari harus diantar oleh orang tuanya  ke  sekolah  atau  kampusnya,  maka berapa besar biaya yang harus dikeluarkan dan bagaimana  sesaknya  jalan raya.  Ini  tentu  akan  menimbulkan  kesulitan  (Masyaqqoh)  yang  sebenarnya sangat  dihindari  dalam  agama  Islam. Kaidah  Fiqh mengatakan  Al  Masyaqqatu  Tajlibuttaisir (Setiap kesulitan  dapat  mendatangkan  kegampangan).
Jadi, sekali lagi, agama Islam tidak melarang seorang  perempuan  untuk  beraktivitas  di  luar  rumah. Dan juga, selama situasi masih aman terkendali tidak ada  kewajiban  untuk  menemani  dan  mengawasi perempuan  tersebut  selam  ia melakukan  aktivitasnya. Maka dibutuhkan sikap bijak dari seorang suami dengan merelakan isterinya mengembangkan karunia Allah  SWT  yang  telah  diberikan  kepadanya.  Harus ada  sikap  saling  percaya  dan  mendukung  diantara kedua belah pihak, sehingga keduanya dapat bekerja secara  proporsional  dan  mengembangkan  karirnya masing-masing menuju  kehidupan  dalam  rumah tangga yang bahagia. Wallahu a’lam!
Last modified on Thursday, 17 August 2017 17:53
Rate this item
(0 votes)