Kali : Sebuah Arena Sosiologis ; Refleksi Edisi 44

29 Apr 2014 Nurkhayati Aida
853 times

Berbicara tentang kali dan masyarakat disekitarnya, ingatan saya melayang pada  peran seorang arsitektur yang juga rohaniawan Yusuf Bilyarta (YB) Mangunwijaya. Bagaimana ia melakukan rekayasa sosial dan menyulap bantaran kali Code sedemikian rupa hingga layak dihuni, tak hanya sampai disitu, Romo Mangun biasa ia disapa juga menyediakan alternatif pembelajaran untuk anak-anak yang tinggal dilingkungan kali.

Sebenarnya apa yang dilakukan Romo Mangun adalah sebuah pemberontakan atas standar hidup layak yang selama ini dipahamai oleh kebanyakan orang. Bantaran kali dan lingkungan sekitarnya seringkali hanya dipandang sebagai perusak keindahan tata letak kota. Dengan beberapa modifikasi bangunan yang ada di bantaran kali Code, pemukiman yang awalnya akan digusur pemerintah Yogjakarta itu berhasil memenangkan Aga Khan Award  pada tahun 1992 .

Kali dan Rantai Informasi
Kali yang dalam alirannya adalah air merupakan satu dari empat unsur dasar yang dibutuhkan manusia, selain angin, tanah dan api. Seperti tiga saudaranya yang lain, air juga mempunyai dua sifat yaitu menentramkan dan merusak. Dua sifat dasar yang pasti dimiliki oleh tanah, air, angin dan api itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana manusia memperlakukan keempat unsur tersebut. Sebagai dasar kebutuhan manusia, air yang mengalir di kali mengikuti pola struktur tanah yang dilewati. Air dengan alirannya kali mengalir dengan hukum alam, dari atas melandai pada alirannya yang lebih rendah. Ini adalah poin pertama yang harus dihayati keberadaannya, bahwa air dan aliran kali akan terus-menerus turun pada tempat-tempat yang lebih rendah.
Pada titik ini sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah istilah “banjir kiriman”, terminologi yang digunakan untuk menyebut air yang melandai dari atas seolah-olah menyalahkan aliran air dengan debitnya yang tinggi. Lalu kemudian air dari kali itu dari atas menjadi penyebab utama banjir.  Dengan menggunakan istilah “banjir kiriman” sejatinya secara tidak sadar kita telah “menyalahkan” air yang datang dari atas.

Dilihat dari zaman ke zaman, kali-kali yang ada di Indonesia menempati posisi yang penting, kali tidak hanya dianggap sebatas aliran air yang melandai dari atas ke bawah, yang mengalir dari hulu ke hilir, atau hanya dianggap sebatas lintasan perjalanan air. Kali sebagaimana warung kopi pada masa dulu adalah tempat dimana informasi berkembang dan disiarkan, kali lebih dari pada sekedar tempat untuk mencuci dan mandi. Kali menempati rantai penyebaran informasi, bahkan edukasi.

Pada masa dimana modernitas belum banyak menjamah Indonesia atau bahkan saat Negara ini belum bernama Indonesia para orang tua dan nenek moyang kita menggunkan kali sebagaimana tempat bersosialisasi, arena dimana  informasi saling bertukar dan wilayah temu gotong royong, pun juga dengan kearifan. Dengan tidak meragukan peran zaman setelahnya, kali terus menerus mengalami pergeseran fungsi. Kali dianggap tidak memenuhi standar masyarakat modern tentang  sehat dan bersih. Perlahan namun pasti, masyarakat Indonesia mulai berangsung-angsur meningalkan kali sebagai karib pemenuhan kebutuhan harian dan penyebaran informasi.

Berkarib Dengan Kali
Kali juga dianggap sebagai bagian dari sebuah proses terbentuknya kultur unik yang mewarnai satu daerah. Menengok pada kali-kali yang difungsikan sebagai bagian dari kultur masyarakat, kita bisa melihat bagaimana kali difungsikan bagaimana daratan seperti di persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Barito di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yaitu dengan menfungsikan kali sebagai pasar apung. Kali tidak hanya dimaknai sebagai unsur yang cair dalam air yang sebagaimana lazimnya. Tapi air juga dimaknai sebagai pencair mata pencaharian dan saling bertemunya komoditas yang berasal dari pesisir (air) maupun gunung (tanah).

Kali memang (bukanlah) hanya sebatas sebab akibat dari penyebab utama mengapa air bisa mengalir dan meluber, lalu kita menyebutnya banjir. Kali yang tak lagi diperlakukan layaknya seorang karib hanya kan menjadi tempat pembuangan sampah, yang lagi-lagi menganggap bahwa pada kali-lah segala macam kotoran akan terbuang. Dan yang kita saksikan sekarang adalah kali hanya tempat air mengalir tanpa adanya dinamika sosiologis yang dialektik, dimana peran-peran masyarakat yang berada di bantaran kali tidak lagi memfungsikan kali sebagaimana mestinya. {} Nurkhayati Aida

Last modified on Thursday, 17 August 2017 14:42
Rate this item
(0 votes)