Perempuan Membatalkan Shalat?

25 Nov 2013 Ahmad Saikhu
1529 times

Hadis yang menyebutkan bahwa perempuan, keledai dan anjing dapat memutuskan shalat jika ia melintas di hadapan seseorang yang sedang shalat merupakan salah satu hadis yang tetap hangat diperbincangkan hingga sekarang. Hadis ini oleh para pemikir feminis dipandang sebagai hadis misoginis dan diskriminatif.

Sejauh pengetahuan penulis, hadis-hadis tentang terputusnya shalat karena melintasnya anjing, keledai dan wanita dalam al-kutub al-tis'ah jumlahnya sangat banyak, yakni sekitar 34 hadis. Di dalam kitab Sahih Bukhari terdapat 2 buah, SahihMuslim 4 buah, Sunan al-Tirmiżī 2 buah, Sunan Abū Dawud 3 buah, Sunan al-Nasa’i 2 buah, Sunan Ibn Majah sebanyak 5 buah, Sunan al-Darimī 1 buah, dan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal sebanyak 15 buah.

Dalam Şahīh Muslim, salah satu redaksi hadis menyebutkan bahwa shalat seseorang akan terputus (يَقْطَعُ) bila melintas di depannya seorang wanita, seekor keledai, dan anjing. Bunyi redaksi hadis tersebut adalah:

و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا الْمَخْزُومِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَصَمِّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ وَيَقِي ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

Dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dapat memutuskan salat, yaitu wanita, keledai, dan anjing. Dan tinggallah hal itu seperti seukuran ekor kendaraan."

Redaksi yang bunyinya sama dengan hadis riwayat Muslim ini juga terdapat pada hadis riwayat Ibn Majah nomor 940 dan Ahmad ibn Hanbal nomor 9126 dan 7642. Dari segi sanad, para periwayat hadis ini tidak ada yang dinilai cacat (jarh) oleh para ulama’ ahli hadis. Kesemua periwayatnya dinilai positif (ta’dil). Oleh karena itu, dari segi sanad hadis ini dapat diterima.

Ketiadaan penilaian negatif terhadap para periwayat oleh para ulama’ hadis juga terjadi pada hadis yang diriwayatkan melalui sahabat ‘Abdillah ibn Mugaffal. Keseluruhan periwayat hadis ini, sejauh analisa penulis, tidak ada ulama’ yang men-jarh-nya. Kesemuanya dinilai siqah (kredibel).

Isi dari hadis Mugaffal ini persis sama dengan yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Yang mana dikatakan bahwa akan terputus (يَقْطَعُ) shalat seseorang bila melintas di depannya seorang wanita, seekor keledai, dan anjing. Keberadaan hadis ini bisa ditemukan pada kitab Sunan Ibn Majah dengan nomor hadis 941 dan Musnad Ahmad bin Hanbal nomor hadis 19663. bunyi redaksi hadis yang terdapat pada Musnad Ahmad bin Hanbal adalah:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ

Dari Abdillah ibn Mugaffal, dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Dapat memutuskan salat, yaitu perempuan, keledai dan anjing”.

Sedangkan pada hadis lain, yang diriwayatkan melalui sahabat Ibn ‘Abbas yang terdapat dalam Sunan Abu Dawud dengan sedikit perbedaan redaksi, disebutkan bahwa yang memutus shalat adalah perempuan yang haid dan anjing. Sedangkan keledai tidak disebutkan.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ زَيْدٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَفَعَهُ شُعْبَةُ قَالَ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ الْحَائِضُ وَالْكَلْبُ قَالَ أَبُو دَاوُد وَقَفَهُ سَعِيدٌ وَهِشَامٌ وَهَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ

Dari Ibn Abbas dan dimarfu’kan oleh Syu’bah (bahwa) ia berkata: “Dapat memutuskan salat, yaitu perempuan yang haid dan anjing. Abu Dawud berkata (bahwa) Sa’id, Hisyam dan Hammam mencegahnya dari Qatadah, dari Jabir ibn Zaid atas Ibn ‘Abbas.

Namun pada riwayat Ibn Majah, masih melalui sahabat Ibn ‘Abbas ditambahkan dengan anjing hitam.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ وَالْمَرْأَةُ الْحَائِضُ

Dari Ibn Abbas, Dari Rasulullah saw. Beliau bersabda: “Dapat memutuskan salat, yaitu anjing hitam dan wanita yang haid”.

Dari aspek sanad, para periwayat hadis yang melalui jalur sahabat Ibn Abbas ini juga tidak ada yang cacat (jarh) di mata para ulama’ hadis. Oleh karena itu, sebagaimana hadis-hadis yang lain sebelumnya, hadis Ibn Abbas ini juga dapat diterima dari aspek sanad atau rangkaian perawinya.

Meskipun dari aspek sanad hadis ini dapat dipertanggung jawabkan, bukan berarti bahwa hadis ini dapat begitu saja diterima dengan tanpa reserve. Seperti diketahui bahwa dalam studi hadis selain aspek sanad, aspek matan hadis pun juga perlu diteliti. Jadi, meskipun dari aspek sanad suatu hadis dinilai shahih, tidak menutup kemungkinan dari aspek matannya tidak demikian.

Pada salah satu hadis yang terdapat dalam Sahih Bukhari dan beberapa al-Kutub al-Tis’ah yang lain dikisahkan bahwa Aisyah, istri Nabi saw. menggugat terhadap eksistensi hadis tentang perempuan, keledai dan anjing dapat membatalakan shalat ini. Aisyah secara lantang mengatakan bahwa "Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing. Demi Allah, aku telah melihat Rasulullah saw. shalat dan aku berbaring di atas tempat tidur, posisiku adalah di antara beliau dan kiblat". Gugatan Aisyah ini secara lengkap adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ يَعْنِي ابْنَ صُبَيْحٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُ ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ فَقَالُوا يَقْطَعُهَا الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ قَالَتْ لَقَدْ جَعَلْتُمُونَا كِلَابًا لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي لَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ وَأَنَا مُضْطَجِعَةٌ عَلَى السَّرِيرِ فَتَكُونُ لِي الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَسْتَقْبِلَهُ فَأَنْسَلُّ انْسِلَالًا
وَعَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ

Dari 'Āisyah: Sesungguhnya dikatakan (sebuah pertanyaan) dekat ‘Āisyah tentang apa yang dapat memutuskan shalat? Para sahabat (audiens) menjawab (bahwa) anjing, keledai dan wanita dapat memutuskan shalat. Kemudian 'Āisyah berkata: “Sungguh telah kalian jadikan (samakan) kami (wanita) dengan anjing. Sesungguhnya aku melihat Nabi saw. shalat dan aku berbaring di atas tempat tidur antara Nabi dan kiblat (di hadapan Nabi). Kemudian ada bagiku suatu keperluan dan aku tak ingin berhadapan dengan beliau, maka aku mundur secara perlahan.”

Dalam riwayat lain, seperti yang terdapat dalam Sahih Muslim, kritik Aisyah juga tampak begitu keras. Ia mengatakan bahwa jika perempuan dapat memutuskan shalat sebagaimana keledai dan anjing berarti perempuan adalah “binatang” yang buruk. Kata binatang yang diucapkan Aisyah ini mengindikasikan bahwa pada dasarnya orang Arab awal pun juga memahami bahwa hadis ini telah menyamakan kaum perempuan dengan binatang. Redaksi hadis yang penulis maksud ini adalah:

و حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَفْصٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ قَالَ فَقُلْنَا الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ فَقَالَتْ إِنَّ الْمَرْأَةَ لَدَابَّةُ سَوْءٍ لَقَدْ رَأَيْتُنِي بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَرِضَةً كَاعْتِرَاضِ الْجَنَازَةِ وَهُوَ يُصَلِّي

Dari Urwah ibn al-Zubair. Ia berkata (bahwa) Aisyah bertanya (kepada Urwah dan teman-teman) apakah yang dapat memutuskan shalat? kami menjawab, “wanita dan keledai”. Kemudian Aisyah mempertanyakan: "Jadi, kalau begitu, perempuan adalah binatang buruk. Tahukah kalian bahwa aku pernah berbaring melintang di hadapan Rasulullah saw. seperti melintangnya jenazah dan sedangkan beliau sedang shalat."

Beberapa kritik yang dilontarkan oleh Aisyah di atas mengindikasikan bahwa sejak semula hadis tentang perempuan dapat memutuskan shalat ini memang bermasalah, terutama dalam aspek muatan isi atau matannya.. Sehingga tidak aneh bila kemudian di kalangan para ulama’ terdapat perbedaan interpretasi dan kesimpulan. Sebagian mereka mengambil hadis Abu Hurairah dkk., sedangkan sebagian lagi mengambil pendapat Aisyah.

Imam Nawawi dalam kitabnya merangkum beberapa pendapat para ulama’ terkait seputar hadis ini. Nawawi menyebutkan bahwa sebagian ulama’ berpendapat bahwa hadis ini telah dinasakh oleh hadis lain, yaitu hadis yang berbunyi “shalat seseorang tidak terputus oleh sesuatu apa pun, dan hindarilah sekuat tenaga kalian.” Hadis ini di antaranya terdapat dalam Sunan Abi Dawud dengan nomor hadis 617 yang berbunyi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ مُجَالِدٍ عَنْ أَبِي الْوَدَّاكِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ وَادْرَءُوا مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Namun, menurut Nawawi pendapat ini tidak dapat diterima karena baginya naskh hanya digunakan terhadap hadis-hadis yang tidak bisa ditafsirkan dan dikompromikan (الْجَمْع). Selain itu, hadis “shalat seseorang tidak terputus oleh sesuatu apa pun’ ini juga merupakan hadis daif.

Nawawi melanjutkan, mayoritas ulama memandang bahwa melintasnya salah satu dari tiga faktor, yakni perempuan, keledai dan anjing tidak membatalkan shalat. Di antara para ulama’ yang berpendapat demikian adalah Malik, Abu Hanifah, Syafi'i., dan mayoritas ulama dari kalangan salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan). Mereka menginterpretasikan lafad يَقْطَعُ (terputus) dengan berkurangnya kwalitas shalat karena hati disibukkan dengan salah satu ketiga hal tersebut. Lafad يَقْطَعُ tidak berarti membatalkan shalat. Adapun Ahmad ibn Hanbal berpendapat sedikit berbeda. Ia mengatakan bahwa anjing hitam dapat membatalkan (يَقْطَعُ) shalat. Sedangkan perempuan dan keledai dapat mengganggu kekhusyukan.

Sedanglan Aisyah dan para ulama sesudahnya yang mengikuti pendapat Aisyah berargumentasi bahwa wanita bukanlah termasuk faktor yang menyebabkan terputusnya shalat seorang laki-laki. Oleh karenanya, diperbolehkan mengerjakan shalat meskipun ada wanita lewat di depannya.

Dari sini, yakni dari beberapa analisa di atas, tampak bahwa hadis ini memiliki masalah, terutama kaitannya dengan relasi gender. Adanya gugatan dari Aisyah dan ulama’ yang lain, seperti dijelaskan Nawawi adalah cermin dari adanya problem tersebut. Oleh karena itulah kiranya hadis tentang wacana shalat dan perempuan ini kemudian perlu dilihat kaitannya dengan relasi gender. (sch)

Last modified on Wednesday, 16 August 2017 10:20
Rate this item
(0 votes)