PEREMPUAN ULAMA DALAM PANGGUNG SEJARAH

26 Sep 2014 KH. Husein Muhammad
9312 times

Saya selalu ingin menyanyikan puisi-puisi gubahan Raja Penyair Arab terkemuka : Ahmad Syauqi, ini.

Inilah Utusan Tuhan
Ia tak pernah mencatut hak-hak perempuanberiman
Ilmu pengetahuan menjadi jalan hidupkeluarganya
Mereka menjadi ahli hukum,
aktivis politik, kebudayaan dan sastra
Berkat putri-putri Nabi
Gelombang pengetahuan menjulang ke puncaklangit
Lihatlah, Sukainah
Namanya menebar harum diseluruh pojok bumi
Ia mengajarkan kata-kata Nabi
Dan menafsirkan kitab suci

Lihatlah
Buku-buku dan kaligrafi yang indah
Bercerita tentang ruang
Perempuan-perempuan Islam yang gagah

Baghdad
adalah rumah perempuan-perempuan cerdas
Padepokan perempuan-perempuan elok
Yang mengaji huruf dan menulis sastra

Damaskus zaman Umayyah
adalah sang ibu bagi gadis-gadis cendekia
Tempat pertemuanseribu perempuan piawai.

Taman-taman Andalusia
merekah bunga warna-warni
Perempuan-perempuan cantik bernyanyi riang
Dan gadis-gadis anggun membaca puisi



Puisi-puisi di atas menggambarkan fenomena perempuan Islam dalam panggung sejarah Islam awal. Pusat-pusat peradaban Islam, paling tidak di tiga tempat : Damaskus, Baghdad dan Andalusia, memerlihatkan aktifitas, peran dan posisi kaum perempuan. Fakta-fakta sejarah dalam peradaban awal Islam ini menunjukkan dengan pasti betapa banyak perempuan yang menjadi ulama, cendikia dan intelektual, dengan beragam keahliandan dengan kapasitas intelektual yang relatif sama dengan bahkan sebagian mengungguli ulama laki-laki. Fakta ini dengan sendirinya telah menggugat anggapan banyak orang bahwa akal dan intelektualisme perempuan lebih rendah dari akal intelektualisme laki-laki. Islam memang hadir untuk membebaskan penindasan dan kebodohan menuju perwujudan kehidupan yang berkeadilan dan memajukan ilmu pengetahuan untuk semua manusia : laki-laki dan perempuan.

Nama-nama perempuan ulama/intelektual/cendikia, perjalanan hidupdan karya-karya mereka terekam dalam banyak buku. Ibnu Hajar, ahli hadits terkemuka dalam bukunya : “Al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah”, menyebut 500 perempuan ahli hadits. Nama-nama mereka juga ditulis ahli sejumlah ulama : Imam Nawawi, dalam “Tahzib al-Asma wa al-Rijal”, Khalid al-Baghdadi dalam “Tarikh Baghdad”, Ibn Sa’d dalam “Al-Thabaqat”dan al-Sakhawi dalam “al-Dhaw al-Lami’ li Ahli al-Qarn al-Tasi’”dan lain-lain. Imam al-Dzahabi, ahli hadits masyhur, penulis buku “Mizan al-I’tidal”,  menyebut 4000 Rijal Hadits, terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ia selanjutnya mengatakan : “Ma ‘Alimtu min al-Nisa Man Uttuhimat wa La Man Turika Haditsuha” (Aku tidak mengetahui ada perempuan yang cacat dalam periwayatannya dan tidak dipakai haditsnya). Katanya lagi : “Tidak ada kabar yang menyebutkan bahwa riwayat seorang perempuan adalah dusta”.

Belakangan Umar Ridha Kahalah menulis buku khusus tentang ulama-ulama Perempuan di dunia Islam dan Arab: “A’lam al-Nisa fi ‘Alamay al-‘Arab wa al-Islam”(Ulama Perempuan di Dunia Islam dan Arab). Buku ini yang terdiri dari 3 jilid/volume ukuran tebal inimerekam dengan indah nama-nama perempuan ulama berikut keahlian, aktifitas dan peran mereka, berdasarkan urutan abjad. Ia mengatakan :

وقد حاولت جهد استطاعتى فى البحث والتفتيش عن اكبر عدد يمكننى جمعه من شهيرات النسآء اللاتى خلدن فى مجتمعى العرب والاسلام أثرا بارزا فى العلم والحضارة والادب والفن والسياسة والدهاء والنفوذ والسلطان والبر والاحسان و الدين والصلاح والزهد والورع الخ. مما يميط اللثام عن الادوار المختلفة التى قضتها المرأة فى تاريخ العرب والاسلام.

“Aku telah bekerja sungguh-sungguh mencari dan meneliti sebanyak mungkin tokoh-tokoh perempuan terkenal dan tercatat dalam sejarah Arab dan Islam. Mereka mempunyai pengaruh yang besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kebudayaan,sastra, seni, dan politik dan kepemimpinan social. Mereka juga terkenal tentang kecerdasan, kebaikan, ketakwaan, kezuhudan dan kebersihan diri Mereka memainkan peran yang beragam dalam perjalanan sejarah Islam dan Arab ”.

Ignaz Goldziher, intelektual, peneliti dan orientalis masyhur menyebut paling tidak 15 % ulama ahli hadits adalah perempuan. Harap dicatat bahwa dalam konteks Islam awal, makna “ilmu pengetahuan”, tidak terbatas hanya menunjuk pada ilmu pengetahuan keagamaan atau “al-Ulum al-Diniyyah”, melainkan semua disiplin ilmu pengetahuan, seperti kedokteran (al-thibb), fisika (fiziya), matematika (al-riyadhiyat), astronomi (al-falak) dan sastra (al-Adab).  

Jumlah ulama perempuan yang lebih sedikit dari ulama laki-laki bukanlah sesuatu yang essensial. Satu atau dua orang perempuan ulama saja sebenarnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa perempuan tersebut memiliki potensi dan kwalitas intelektual dan moral yang tidak selalu lebih rendah atau lebih lemah dari kaum laki-laki. Ini merupakan konstruksi social, kebudayaan dan politik. Soalnya adalah terletak kepada apakah orang, masyarakat, budaya, politik, instrumen-instrumen hukum, pandangan agama dan kebijakan lain memberi ruang dan akses yang sama untuk laki-laki dan perempuan.

Para ulama perempuan tersebut telah mengambil peran-perannya sebagai tokoh agama, tokoh ilmu pengetahuan, tokoh politik dan tokoh dengan moralitas yang terpuji. Aktifitas mereka tidak hanya dari dan dalam ruang domestik (rumah) melainkan juga dalam ruang publik politik dalam arti yang lebih luas. Mereka bekerjasama dengan ulama laki-laki membangun peradaban Islam.

Adalah menarik bahwa kehadiran tubuh mereka di ruang publik bersama kaum laki-laki tidak pernah dipersoalkan.Umm Darda al-Shughra, seorang perempuan ulama terkemuka. Popularitasnya menandingi ulama besar Al-Hasan Bashri dan Ibnu Sirin. Setiap hari ada diamenyampaikan kuliah kepada para ulama laki-laki dan perempuan di dalam masjid Jami’ Damaskus. Dia juga berdiskusi dan memberikan fatwa keagamaana di sana. Penulis kitab “Mu’jam al-Syuyukh”, Abd al-Aziz bin Umar bin Fahd, menyebut 1100 ulama yang memiliki “pesantren” atau “majlis ilmi”. Di antaranya ada 130 perempuan ulama.

Sukainah bint al-Husain, cicit Nabi adalah tokoh perempuan ulama terkemuka pada zamannya. Pemikirannya cemerlang, budipekertinya indah. Ia sering memberikan kuliah umum di hadapan public laki-laki dan perempuan, termasuk para ulama, di masjid Umawi. Ia dikenal juga sebagai tokoh kebudayaan. Rumahnya dijadikan sebagai pusat aktifitas para budayawan dan para penyair.

Ulama Besar Laki-laki Murid Perempuan Ulama

Sejarah orang-orang besar adalah sejarah perempuan-perempuan. Mereka dilahirkan dan dididik oleh seorang perempuan. Sebagian para perempuan itu adalah ulama. Keulamaan perempuan dan peran mereka sebagai guru para ulama laki-laki telah hadir sejak awal sejarah Islam. Sebagianmereka menjadi guru para sahabat laki-laki. Antara lain :

Aisyah bint Abu Bakar. Ia disebut sebagai “A’lam al-Nas wa Afqah al-Nas wa Ahsan al-Nas Ra’yan fi al-‘Ammah” (orang paling pandai, paling faqih dan paling baik di antara semua orang). Al-Dzahabi dalam “Siyar A’lam al-Nubala”(riwayat hidup ulama-ulama cerdas)mengatakan: “tidak kurang dari 160 sahabat laki-laki mengaji pada Siti Aisyah”. Sebagian ahli hadits lain menyebut : murid-murid Aisyah ada 299 orang: 67 perempuan dan 232 laki-laki. Umm Salamah binti Abi Umayyah mengajar 101 orang : 23 perempuan dan 78 laki-laki. Hafshah binti Umar : 20 murid: 3 perempuan dan 17 laki-laki. Hujaimiyah al-Washabiyyah : 22 murid laki-laki. Fatimah binti Qais : 11 murid laki-laki.

Pada periode berikutnya sejarah mencatat nama-nama perempuan ulama yang cemerlang. Beberapa di antaranya adalah Sayyyidah Nafisah (w. 208 H), cicit Nabi. Namanya dikenal sebagai perempuan cerdas, sumber pengetahuan keislaman (Nafisah al-‘Ilm), pemberani, sekaligus ‘abidah zahidah (tekun menjalani ritual dan asketis). Sebagian orang bahkan mengkategorikannya sebagai Waliyullah perempuan dengan sejumlah keramat. Ia adalah guru Imam al-Syafi’I dan kemudian Imam ahmad bin Hanbal.Imam al-Syafi’i adalah “ulama yang paling sering bersamanya dan mengaji kepadanya, padahal ia seorang ahli fiqh besar (Aktsar al-Ulama Julusan ilaiha wa Akhdzan ‘anha fi al-Waqt al-Ladzi balagha fihi  min al Imamah fi al-Fiqh Makanan ‘Azhiman). Pada bulan Ramadan al-Syafi’i juga acap salat Tarawih bersama Nafisah di masjid perempuan ulama ini.(Kana Yushalli biha al-Tarawih fi Masjidiha fi Syahri Ramadhan).

Ibn Arabi, adalah sufi terbesar, (al-Syekh al-Akbar) sepanjang zaman. Kebesarannya diperolah antara lain dari paling tidak tiga orang perempuan ulama. Ia banyak menimba ilmu dari mereka. Pertama, Fakhr al-Nisa. Perempuan ini adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Kepadanya dia mengaji kitab hadits  “Sunan al-Tirmidzîy”. Kedua, Qurrah al-Ain. Pertemuannya dengan perempuan ini terjadi ketika Ibn Arabi tengah asyik tawaf, memutari Ka’bah. Katanya, “Hubunganku dengannya sangat dekat. Aku mengaji kepadanya. Aku memandang dia seorang perempuan yang sangat kaya pengetahuan ketuhanan”. Perempuan ketiga adalah Sayyidah Nizham (Lady Nizham). Ia biasa dipanggil “Ain al-Syams” (mata matahari), dan “Syaikhah al-Haramain” (Guru Besar untuk wilayah Makkah dan Madinah). Ibn Arabi mengatakan : “Ia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan. Wajahnya jelita, tutur bahasanya lembut, otaknya sangat cemerlang, kata-katanya bagai untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun. Jika dia bicara semua yang ada menjadi bisu”.

Ibnu Asakir, sejarawan Damaskus terkemuka dan bergelar “Hafizh al-Ummah” adalah murid/mahasiswa dari banyak ulama, delapan puluh lebih di antaranya adalah perempuan.   Syuhdaaah bin al-Abri, perempuan ulama, guru sejumlah ulama besar, antara lain Ibn al-Jauzi dan Ibn Qudamah al-Hanbali. Umma Habibah al-Ashbihani, adalah salah seorang guru al-Hafiz Ibn Mundzir. Fathimah bin ‘Ala al-Din al Samarqandi adalah faqihah jalilah, ahli fiqh besar, suami Syeikh Ala al-Kasani, penulis buku “Al-Badai’ al-Shanai’”.

Tokok cemerlang lain dalam dunia keilmuan Islam dan mujtahid besar adalah Ibn Hazm dari Andalusia. Pengetahuannya diperoleh pertama-tama dari kaum perempuan. Dari mereka ia belajar membaca al-Qur’an sekaligus mengafalnya, menulis, dan memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan dasar. Dalam bukunya “Thauq al-Hamamah” (Kalung Merpati), ia menceritakan :

لقد شاهدت النساء وعلمت من اسرارهن ما لا يكاد يعلمه غيرى لانى ربيت فى حجورهن ونشأت بين أيديهن ولم أعرف غيرهن ولا جالست الرجال الا وأنا فى حد الشباب وحين تفيل وجهى . وهن علمننى القرآن ورويننى كثيرا من الاشعار ودربننى فى الخط "

“Aku sering bertatap muka dengan para perempuan dan aku mengetahui banyak rahasia-rahasia mereka, karena aku dididik di pangkuan mereka. Aku tumbuh besar di tangan mereka. Aku tak mengenal laki-laki kecuali setelah aku menjadi dewasa. Para perempuanlah yang mengajari aku Al-Qur’an, puisi-puisi dan kaligrafi”.

Perempuan-perempuan termarginalkan dari panggung Sejarah


Demikianlah beberapa saja ulama besar yang belajar dan berguru kepada para perempuan ulama.  Sayangnya, sejarah kaum muslimin sesudah itu, memasukkan kembali kaum perempuan ke dalam kerangkeng-kerangkeng rumahnya. Aktivitas intelektual dibatasi, kerja sosial-politik mereka dipasung. Perempuan-perempuan Islam tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan dan dipinggirkan (al-muhammasyat) dari dialektika social-kebudayaan-politik. Sistem sosial patriarkhis kembali begitu dominan. Konon itu dilakukan atas nama kasih sayang, perlindungan dan penghormatan terhadap perempuan. Dengan kata lain, sikap dan tindakan tersebut dilakukan agar mereka tidak menjadi sumber "fitnah" (kekacauan sosial). Dr. Muhammad al-Habasy, sarjana Suriah, dalam bukunya : “Al-Mar’ah Baina al-Syari’ah wa al-Hayah” mengatakan bahwa peminggiran kaum perempuan itu didasarkan pada argumentprinsip “Sadd al-Dzari’ah” (menutup pintu kerusakan). Keikutsertaan atau keterlibatan kaum perempuan dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, baik sebagai pelajar maupun guru, dipandang mereka dapat menimbulkan “fitnah” dan “inhiraf” (penyimpangan) moral. Pandangan ini muncul menyusul kehancuran peradaban kaum muslimin akibat serbuan tentara Mongol ke wilayah-wilayah kekuasaan Islam, tahun 1256 M. Kehancuran di wilayah kekuasan Islam ini diikuti oleh kehancuran peradaban Islam di Andalusia tahun 1492 M. Akan tetapi sejumlah peneliti berpendapat bahwa peminggiran kaum perempuan dari ruang publik dan dalam dunia ilmu pengetahun secara khusus, sesungguhnya lebih disebabkan oleh pembekuan aktivitas intelektual dan kebebasan berpikir serta hilangnya kritisisme terhadap kekuasaan. Keadaan ini berlangsung berabad-abad.

Fajar Baru : Ulama Perempuan Hari ini

Sejak awal abad 20 sampai hari ini kita menyaksikan upaya-upaya baru yang menggugat keterpinggiran perempuan. Rifa’ah Rafi’ al-Thahthawi (1801-1873 M)adalah orang pertama yang membawa pembaruan pemikiran Islam sekaligus tokoh yang mengkritik pandangan-pandangan konservatif yang merendahkan dan memarjinalkan kaum perempuan.Ia mengkampanyekan kesetaraan dan keadilan gender serta menyerukan dibukanya akses pendidikan yang sama bagi kaum perempuan. Ia menuliskan gagasan dan kritik-kritik ini dalam bukunya yang terkenal ; “Takhlish al-Ibriz fi Talkish Paris” dan “al-Mursyid al-Amin li al-Banat wa al-Banin”.  Tokoh inilah yang kemudian memengaruhi pikiran para cendikiawan muslim progresif sesudahnya, antara lain Muhammad Abduh. Tetapi tokoh paling menonjol dan controversial dalam isu-isu perempuan adalah Qasim Amin. Tahun 1899, ia menulis bukunya yang terkenal; “Tahrir al-Mar’ah” (pembebasan perempuan), dan “al-Mar’ah al-Jadiddah” (Perempuan Baru).

Dari mereka kemudian lahirlah para ulama dan aktifis perempuan di banyak negara muslim.Tidak sedikit para ulama perempuan tampil kembali ke panggung sejarah. Pengetahuan mereka dalam bidang ilmu-ilmu agama (Islam) sangat mendalam dan luas. Beberapa di antaranya adalah Huda Sya'rawi, Aisyah Taymuriyah, Batsinah, Nabawiyah Musa, Zainab al-Ghazali,Aisyah Abdurrahman bint Syathi, Aminah Wadud dan lain-lain. Seorang perempuan ulama lain yang menarik hati saya adalah Nazhirah Zainuddin (1908-1976). Dia, dengan beranimelancarkan kritik terhadap pemikiran keagamaan konservatif yang memasung hak-hak kaum perempuan. Nazhirah menulis sebuah buku "al-Sufur wa al-Hijab". Melalui buku ini Nazhirah mengkritik keras pandangan ulama pada masanya, terutama para ulama besar al Azhar, tentang Hijab, Jilbab dan isu-isu perempuan yang lain. Argumen-argumennya mengambil sumber-sumber otoritatif Islam; Al Qur-an dan hadits nabi saw. sambil melakukan kajian atas kitab-kitab Tafsir klasik seperti tafsir Baidhawi, Khazin, Nasafi, Thabari, kitab-kitab fiqh klasik dan lain-lain. Ulama perempuan kelahiran Aleppo ini juga banyak mengutip sekaligus menganalisis pikiran-pikiran tokoh besar lainnya seperti Muhyiddin ibnu Arabi. Kemampuannya memahami kitab-kitab klasik tersebut tidak diragukan lagi. Dia mengajak para ulama untuk melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi atas wacana keagamaannya dengan melihat fakta-fakta perkembangan dan perubahan sosial, budaya dan politik yang tidak bisa dilawan.

Nabawiyah Musa, ulama perempuan Mesir, juga menarik. Ia menuntut dibukanya akses pendidikan bagi kaum perempuan negerinya. Dalam sebuah ceramahnya dia mengatakan :

أريد ان تحيا المصريات حياة حقيقية . فيقبلن على العلم ويسعين سعيا متواصلا . فلا يمضى زمان حتى أرى فى هذه الدار مائة من السيدات

"Uridu an Tahya al Mishriyyat Hayah Haqiqiyyah. Fayaqbalna 'ala al 'Ilm wa Yas'ayanna Sa'yan Mutawashilan. Fa La Yamdhi Zaman Hatta Ara fi Hadzihi al Dar Mi-at min al Sayyidat"(Aku berharap kaum perempuan Mesir bisa hidup dengan baik, mengapresiasi ilmu pengetahuan dan bekerja keras tanpa henti, sampai tiba masanya aku dapat melihat lahirnya ratusan tokoh/pemimpin perempuan dalam negeri tercinta ini).    

Di Indonesia, kita juga mengenal sejumlah ulama perempuan, antara lain yang popular adalah Rahmah el-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri, Padang Panjang. Dia memeroleh gelar doctor honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo. 

Hari ini kita semua sangat membutuhkan lahirnya para ulama perempuan dengan seluruh makna keulamaanya. Mereka dibutuhkan untuk bersama kaum laki-laki membangun negara dan bangsa ini demi terwujudnya cita-cita bersama : keadilan, kemajuan dan kesejahteraan. Mereka dibutuhkan untuk memberi makna-makna baru atas keadilan dan kemanusiaan.

Abu Bakar al Razi (w. 865 M), salah seorang pemikir besar Islam abad pertengahan menyatakan : "Tujuan tertinggi untuk apa kita diciptakan dan kemana kita diarahkan bukanlah kegembiraan atas kesenangan-kesenangan fisik. Akan tetapi pencapaian ilmu pengetahuan dan praktik keadilan". Keadilan adalah kebajikan tertinggi. Bila kehidupan kita hari ini masih belum mau melihat dengan jujur bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk mengubah dunia, dan jika kita masih terus mengabaikan bahkan mengingkari fakta bahwa sebagian perempuan lebih unggul daripada sebagian laki-laki, secara intelektual maupun spiritual, maka sesungguhnya kita sedang melakukan ketidakadilan.

Indonesia adalah negara yang sedang menghadapi sejuta problem kehidupan ; kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Lebih dari separoh bangsa ini adalah perempuan. Negara ini mengarapkan lahirnya banyak cendekiawan dan ulama perempuan untuk memberikan kontribusi, bersama laki-laki, bagi upaya-upaya memecahkan problem-problem besar tersebut. Pengalaman negara bangsa yang sejahtera di sejumlah negara maju menunjukkan bahwa negara-negara tersebut dikelola oleh banyak perempuan cerdas,terpelajar, intelektual atau "ulama". Lebih dari itu perempuan-perempuan Indonesia tengah mengalami problem besar : kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam berbagai bentuknya, dan berlangsung hampir di semua ruang dan waktu kehidupan. Mereka harus dibebaskan dan dicerdaskan. Kehadiran banyak ulama perempuan niscaya akan memberikan dampak positif bukan hanya bagi kehidupan mereka saja, melainkan dan dengan sendirinya juga bangsa, Negara dan dunia. Terbukanya akses pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan dan kehidupan demokrasi yang berkembang sehat akan membuka ruang bagi kaum perempuan untuk meraih kemajuan, keadilan dan kesejahteraan bersama. Saya sangat optimis akan terwujudnya harapan-harapan ini di masa depan. Semoga.

Cirebon, 13 September  2014

*Makalah disampaikan dalam Launching Buku dan Seminar Ulama Perempuan, Diselenggarakan oleh Rahima, Sabtu, 13 September 2014, Hotel Cailendra, Yogyakarta,

Last modified on Tuesday, 29 August 2017 03:08
Rate this item
(0 votes)