Mengapa Jalan Kekerasan Masih Menjadi Pilihan?

21 Jan 2015 Khotimatul Husna
2156 times

Konflik dan peristiwa keseharian bernuansa kekerasan masih mewarnai kehidupan kita. Di beberapa belahan dunia, terjadi kekerasan dengan isu SARA, seperti kelompok ISIS yang mengatasnamakan kepentingan “jihad” menghancurkan kelompok lain yang tidak sefaham dengan mereka. Juga konflik Israel dan Palestina yang mempertontonkan kekerasan dengan sangat nyata.  Di Myanmar, kasus pembantaian terhadap muslim Rohingnya juga dilandasi kebencian atas golongan lain.  Di Indonesia sendiri, menurut sumber  dari Lemhannas, secara umum, data kasus kekerasan yang diproses melalui jalur hukum, meningkat sejak 2011 hingga kini mencapai 5 juta kasus lebih. Tren kekerasan ini semakin meningkat setiap tahunnya.

Dalam lingkup yang paling kecil, yakni keluarga, sering kali juga terjadi kekerasan (KDRT) yang menyebabkan kelompok lemah, seperti anak-anak dan perempuan, rentan menjadi korban. Menurut data KPAI, Indonesia sudah memasuki darurat kekerasan pada anak. Laporan kasus kekerasan pada anak, tahun 2012, 2626 kasus. Pada tahun 2013, melonjak menjadi 3339 kasus. Pada Juni 2014 ini, mencapai 622 kasus. Itu baru kasus yang dilaporkan, belum lagi kasus yang  “terdiamkan”.

Tidak berbeda dengan kasus kekerasan terhadap anak, kekerasan terhadap perempuan setiap tahunnya juga meningkat. Data dari Kantor Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana, pada tahun 2013, terdapat 391 kasus. Per Juni 2014 ini, kasus yang dilaporkan sudah mencapai 274 kasus. Sedangkan data menurut WCC Rifka Annisa, di DIY saja,pada tahun 2013, KDRT sudah mencapai 700 kasus. Bulan Januari-Maret 2014 mencapai 59 kasus yang dilaporkan.  Adapun data versi Komnas Perempuan, pada tahun 2012, kasus KDRT mencapai 8315 kasus, dan bahkan 60% korban kekerasan tersebut mengalami kriminalisasi.

Kekerasan Berbasis Agama?
Terkait dengan kekerasan, agama sering kali dijadikan komoditas untuk melegitimasi kepentingan di luar agama itu sendiri, seperti ekonomi, politik, dsb. Agama dijadikan alat provokasi, pemicu konflik, politisasi, objek kekuasaan, dan berbagai modus lainnya. Bahkan, dalam rumah tangga, tindak kekerasan pun dicari-cari pengesahannya dari dalil-dalil agama. Pola pikir kekerasan memang sudah mewarnai sejarah panjang umat manusia, termasuk dalam sejarah agama-agama. Perang salib salah satu representasi sejarah buram tentang “misi perang atas nama agama”.

Islam sendiri memiliki dua wajah yang bertentangan dalam masalah kekerasan; Pertama, menekankan kebebasan dalam beragama---tidak ada paksaan dalam agama---di samping menganjurkan sikap lembut dan memaafkan. Kedua, memerintahkan para pemeluknya untuk melakukan perang melawan orang-orang yang dilabeli kekuatan-kekuatan anti iman. (Machasin, 2011). Pada dasarnya, yang pertama merupakan seruan dalam keadaan normal. Sedangkan yang kedua, seruan dalam keadaan di luar kewajaran yang tidak memungkinkan perdamaian. Akan tetapi, dalam perjalanannya, sering kali terjadi penyelewengan dengan menggunakan cara-cara kasar dan keras dalam keadaan wajar dan normal sekalipun.

Lebih miris lagi, orang dengan mudah bertindak di luar kemanusiaan dan bertentangan dengan akal sehat atau nurani, seperti membunuh atau melakukan teror, dengan dalih “jihad” dan memperjuangkan agama. Seakan-akan demi surga pemeluk agama menggunakan berbagai cara, bahkan dengan menjatuhkan nilai kemanusiaan pada titik terendah. Benarkah surga yang indah dan damai itu harus ditebus dengan tetesan-tetesan darah manusia? Serendah itukah nilai  dan paradigma keberagamaan pemeluk agama? Mengapa muncul sikap ekstrim dalam beragama?

Menurut Yusuf Qardhawi (1981), ada beberapa indikator religious extremism. Pertama, fanatisme dan intoleransi, sebagai akibat dari prasangka (prejudice), kekakuan (rigidity), dan kepicikan pandangan (lack of insight). Ini kemudian menggiring pemeluk agama memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinannya, baik dengan cara teror intelektual maupun teror fisik. Dalam tataran ini, orang mudah sekali membid’ahkan orang lain, mengkafirkan, menuduh murtad, memfitnah,dan lainnya. Pada puncaknya, orang akan mudah melakukan teror fisik, seperti pengeboman, pengrusakan, penganiayaan, dan pembunuhan.

Kedua, berlebih-lebihan atau melampaui batas. Pemeluk agama yang ekstrim cenderung menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Mereka menjadi “tuhan-tuhan” kecil yang merasa berhak menentukan nilai kebaikan dan keburukan, yang salah dan yang benar. Otoritas ini membuat mereka tak segan-segan menghukum orang atau kelompok yang tidak sama dalam garis keyakinan mereka karena dianggap melanggar nilai-nilai yang mereka tetapkan.

Ketiga, membebani orang lain tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi. Para ekstrimis cenderung saklek dalam memahami teks agama dan mempraktikkannya secara mentah-mentah tanpa melihat konteks. Penerapan Tadrijiy (bertahap) dalam mengembangkan dakwah hampir tidak dikenal dalam metode dakwah mereka. Situasi ini justru menciptakan beban dan tekanan tersendiri bagi pemeluk agama.

Keempat,keras dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain. Para ekstrimis cenderung melihat diri dan orang lain sebagai objek dari teks agama. Tidak ada bantahan dan alasan dalam menjalankan perintah agama. Tidak juga ada keringanan dan kemudahan dalam perintah agama. Semua harus berjalan sempurna dan ideal.

Secara empirik, pemeluk agama yang ekstrim jelas-jelas membahayakan hak-hak asasi manusia. Tindakan mereka menghilangkan rasa aman dan perlindungan, mengancam stabilitas dan perdamaian, mencabut kemerdekaan individu dan masyarakat.

Fenomena munculnya ekstrimis di antara pemeluk agama menunjukkan masih ada indikator ketertutupan (eksklusifitas) yang mengedepankan klaim kebenaran pada kelompoknya. Indikator inilah yang memicu tindak kekerasan, anarkis, permusuhan dan konflik yang mengatasnamakan agama. Selain itu, fanatisme buta juga turut menciptkan kecurigaan dan permusuhan, sehingga gampang sekali mengkafirkan, menghina agama atau kelompok lain, menghasut atas nama membela iman.

Pertanyaannya, benarkah agama menjadi sumber kekerasan? Bukankah kehadiran agama membawa misi perdamaian dan keselamatan umat manusia?? Hal ini menunjukkan bahwa konsepsi agama yang ideal, yakni agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, ternyata pada tataran praksisnya terjadi distorsi yang luar biasa. Dalam ruang dan waktu tertentu, agama justru bisa dijadikan alat untuk menebar konflik dan permusuhan yang melahirkan kekerasan berbasis agama.

Jarak (distingsi) antara idealita dan realita dalam agama ini bisa dijelaskan karena agama memiliki dua tingkatan. Pertama,  agama langit dengan A besar, yaitu agama yang asli yang tidak tersentuh ruang dan waktu. Agama yang demikian penuh kedamaian dan kasih sayang, karena bebas dari intervensi kemanusiaan, sehingga agama yang demikian tidak mungkin menganjurkan tindak kekerasan. Menurut Schuon, pada tingkat inilah cahaya-cahaya agama (semua agama di dunia) bisa bertemu pada satu titik, yaitu titik perdamaian. Inilah yang disebut dengan agama perennial. Kedua, agama bumi dengan a kecil, yaitu agama yang sudah tersentuh dengan realitas ruang dan waktu. Di sini agama terbentuk oleh realitas sosiologis dan historis, karena sudah diintervensi oleh manusia, maka agama pada tingkatan ini bisa jadi menjadi sumber kekerasan. (Frithjof Schuon, 1975)

Dari pemikiran Schuon, kita bisa melihat dari mana sebetulnya kekerasan yang berbasis agama itu lahir. Tidak lain dan tidak bukan, jawabannya terletak pada penafsiran terhadap teks-teks agama yang dilakukan oleh para tokoh agama yang memiliki otoritas untuk itu.Pada titik inilah distorsi nilai agama dan makna teks yang hakikat tergantikan oleh pengertian teks yang scriptural (apa adanya/lahirnya teks). Sebagai contoh, teks tentang “jihad” selalu diartikan dengan peperangan tanpa melihat konteks, dan makna-makna lain yang ada di baliknya.

Dengan demikian, agama bukanlah motif murni dan genuine dari kekerasan. Agama hanya dijadikan alat solidaritas menggalang massa dan disalahgunakan untuk kepentingan tertentu dengan menggunakan segala cara, termasuk kekerasan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Azyumardi Azra, agama bukan faktor genuine kerusuhan (baca: kekerasan). Agama hanya menjadi justifikasi dari tindakan anarki. Salah satu sisi agama yang menekankan unsur emosional sering disalahgunakan untuk kepentingan kekerasan. (Azyumardi Azra, 2000)
Perempuan dalam Pusaran Kekerasan

Hampir dalam setiap konflik, peperangan, dan kerusuhan, atau peristiwa kekerasan lainnya, kaum lemah, seperti anak-anak dan perempuan, selalu menjadi objek dan korban kekerasan. Sistem budaya dan agama yang melemahkan eksistensi mereka turut memperparah ketidakberdayaan mereka dalam lingkaran konflik. Di dunia internasional, masih lekat dalam ingatan kita, bagaimana ratusan pelajar putri yang disandera kelompok pemberontak Boko Haram. Ada juga perempuan yang dijadikan “budak seks” oleh tentara ISIS dengan dalih jihad nikah. Juga tidak sedikit perempuan dan anak-anak yang menjadi korban konflik antara Israel dan Palestina. Di dalam negeri, peristiwa kekerasan yang mengerikan, yakni Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, berupa perkosaan massal terhadap perempuan keturunan Tionghoa dan sebagian bahkan dibunuh. Peristiwa ini meninggalkan trauma dan juga keprihatinan mendalam bagi kita sebagai bangsa.

Selain kekerasan yang menimpa perempuan di ruang publik, kekerasan juga terjadi di wilayah domestik. Kekerasan di ruang yang sering tidak terekspos karena dianggap privat ini, setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) inilah yang sering kali tidak terjangkau oleh hukum, karena jika korban tidak mengungkapkan atau melapor maka akan sulit muncul ke permukaan.Kekerasan yang terjadi, baik di ruang publik maupun domestik, diyakini tidak terjadi begitu saja. Tapi, di balik tindak kekerasan itu, diyakini pelaku mempunyai alasan yang didasarkan pada nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai itu dibentuk oleh konstruksi sosial budaya yang dilegitimasi oleh institusi agama maupun Negara.

Adapun bentuk-bentuk KDRT yang sering menggunakan Islam sebagai legitimasinya dan disebarkan melalui ajaran fikih klasik, di antaranya:
Pertama, Nusyuz: tindakan pembangkangan istri terhadap suami, seperti penolakan, ketidaktaatan, dan bentuk-bentuk lain yang bernada perlawanan. Ada tiga jenjang sanksi yang bisa diberikan kepada perempuan yang melakukan nusyuz, yakni menasihati, pisah ranjang, dan pemukulan (al-dharb). Hal ini didasarkan pada QS. An Nisa’ ayat 34. Dalil nash inilah yang sering kali digunakan suami untuk melakukan KDRT terhadap istrinya. Padahal, klo kita bertindak adil kepada istri hendaknya memperhatikan juga empat hal: 1) Semangat al- Quran adalah ajaran anti kekerasan yang mengajarkan damai, keharmonisan, dan keselamatan. Jadi, tindakan kekerasan tidak ditolerir dalam Islam. 2) Al –dharb tidak bisa diartikan secara serampangan, yakni memukul. Tapi, padanan kata  al-dharb bisa mendidik. 3)Asbabun nuzul ayat. Kalau kita pahami, maka sesungguhnya Allah tidak menghendaki pemukulan balas Habibah binti Zaid kepada suaminya, Saad, karena dikhawatirkan Saad akan melakukan pemukulan balik yang lebih keras. 4) Hadis-hadis Nabi Saw. yang anti kekerasan. Ditunjukkan sepanjang hidupnya, Rasulullah tidak pernah melakukan tindakan kekerasan terhadap istrinya

Kedua, Qiwamah: kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga. Anggapan bahwa laki-laki sebagai Kepala Rumah Tangga inilah yang sering dijadikan dasar suami berhak berlaku sewenang-wenang dalam keluarga. Padahal, dalam QS An Nisa 34, syarat suami bisa menjadi kepala rumah tangga bila mampu memenuhi dua syarat, pelindung dan pencari nafkah. Tapi, bila dua syarat itu tidak terpenuhi, maka qiwamah bisa beralih di pundak istri.

Ketiga, Poligami. Dalil agama yang biasa dipakai adalah QS.an Nisa ayat 3. Syarat adil yang ditekankan dalam al-Quran tidak pernah dijadikan pertimbangan untuk menghilangkan praktik poligami dalam Islam. Untuk itu, perlu diperhatikan dalil Alquran yang lain, seperti tentang suami  “tidak akan mampu berbuat adil” meskipun ia menghendaki sekalipun (QS.an Nisa ayat 129). Selain itu, penekanan monogami (fawaahidah) harusnya lebih dikedepankan karena suami tidak akan mampu berbuat adil. Persoalan adil bukan hanya kuantitatif, yakni materi semata. Tapi, adil mesti komprehensif yang meliputi kuantitatif dan kualitatif, yakni spirit, rasa,dan  jiwa (menjaga hati)

Keempat, Marital Rape: perkosaan dalam rumah tangga. Dalam fikih tradisional, akad perkawinan adalah akad tamlik, sehingga suami merasa memiliki istri fisik dan psikis. Inilah yang memicu terjadinya perkosaan oleh suami terhadap istri. Untuk itu, perlu dilakukan penafsiran ulang terhadap akad pernikahan. Kepemilikan dalam pernikahan adalah saling memiliki, yakni antara suami dan istri. Keduanya setara dalam kedudukan di dalam rumah tangga, tidak ada yang lebih tinggi atau sebaliknya.

Kelima, Pernikahan di bawah umur (pernikahan anak). Pernikahan anak ini sangat memberikan efek negatif kepada pelaku, karena belum siap secara mental, umur, juga fisik biologis (organ reproduksinya juga belum matang). Hal ini menimbulkan dampak tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi, stress yang tinggi, depresi, tidak terpenuhinya unsur kesehatan reproduksi bagi perempuan,yang akhirnya berujung pada perceraian.

Keenam, Kawin paksa. Konsep wali mujbir dalam fikih atau hak ijbar, yakni hak orang tua (bapak dan kakek) untuk memaksa anaknya untuk menikah. Sesungguhnya, syarat ijbar sangatlah berat, sehingga jika orang tua tidak bisa memenuhi syarat tersebut, maka gugurlah hak ijbar-nya. Adapun syarat tersebut: wali mujbir adalah bapak atau kakek, anak masih gadis, anak dan wali mujbir tidak ada perseteruan, calon suami harus kufu, mahar mitsil (mahar sesuai derajat perempuan), calon suami mampu menjamin nafkah, calon suami dijamin orang baik yang mampu membahagiakan istri.

Pada dasarnya, teks nash al-Quran dan hadits tidak mendorong terjadinya tindak kekerasan, tapi sangat dimungkinkan ditafsirkan untuk melegitimasi tindakan kekerasan. Jadi, persoalannya terletak pada hasil penafsiran sepihak yang menjadi basis legitimasi tindak kekerasan terhadap perempuan, pada ruang publik maupun ruang domestik. Untuk itu, perlu reinterpretasi pada sumber keagamaan dengan perspektif equality gender.
Islam rahmatan lil ‘alamin dan Anti Kekerasan

Agama mana pun melarang penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, termasuk agama Islam. Dilihat dari akar katanya, “aslama, yuslimu, islaman”, Islam adalah agama yang mendambakan keselamatan dan kedamaian. Semangat perdamaian yang dikumandangkan Islam banyak tercantum dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw.

Bahkan, dalam memperjuangkan misi Islam sekalipun, Islam menekankan tidak boleh dengan paksaan. Laa ikraaha fi ad-diin, tidak ada paksaan dalam agama. Artinya, dalam memperjuangkan Islam dianjurkan dengan cara persuasif, bi al-hikmah wa al-mau’izhati al-hasanah.
Rasulullah Muhammad Saw. pun diutus untuk menyebar rahmah berupa kebaikan, anugerah, kenikmatan bagi seluruh alam tanpa terkecuali. Nabi diutus untuk mengajak umatnya memberikan makna bagi kehidupannya dengan senantiasa berbuat kebaikan. Tugas untuk melanggengkan kebaikan dalam hidup inilah yang membuat manusia berguna bagi seluruh makhluk.

Islam menekankan sifat pemaaf dan menyantuni kepada orang yang berbuat aniaya atau dzalim sekalipun agar tidak berbuat yang merugikan orang lain kembali. Firman Allah dalam QS. Asy-Syura: 40):
“Balasan perbuatan buruk adalah perbuatan buruk yang serupa.Namun, barangsiapa yang memaafkan dan berbuat perdamaian, maka pahalanya pasti diberikan Allah. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang yang lalim.”

Atas orang yang berbuat jahat kepada kita sekalipun, Allah menekankan untuk tidak membalasnya dengan kejahatan. Bagi orang yang tidak memiliki kebesaran jiwa akan sulit baginya untuk memberi maaf dan tidak membalas kejahatan orang lain. Allah berfirman, yang artinya:
“Tidaklah sama perbuatan baik dan perbuatan jahat. Balaslah perbuatan yang ditujukan kepadamu dengan yang lebih baik, sehingga orang yang bermusuhan denganmu, akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib. Sifat terpuji ini tidak dapat dilakukan, kecuali orang-orang yang sabar, dan yang mempunyai bagian (anugerah Allah) yang besar. (QS. Al Fushilat: 34-35)
Sebagai agama kasih sayang, Islam mesti disebarkan dengan cara kasih sayang pula. Kasih sayang bukan hanya kepada manusia, tapi bagi semua ciptaan Allah di alam ini. Perwujudan rahman dan rahim Allah inilah yang mesti dikedepankan dalam memperjuangkan Islam. Islam mengajarkan nilai-nilai kasih sayang dan anti kekerasan serta toleransi dalam keragaman yang dapat mengeliminir tindak kekerasan, di antaranya:
1)    Universalitas Islam
Universalitas Islam yang bersifat rahmat (kasih sayang) mencirikannya sebagai agama perdamaian. Sejak didakwahkan Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang, Islam telah dianut oleh berbagai etnis manusia dari seluruh dunia. Perkembangan  Islam memang sangat pesat karena kehadirannya mampu memberikan penghargaan terhadap semua manusia. Islam tidak hadir hanya untuk kepentingan segolongan tertentu, sebagaimana ideologi buatan manusia. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

2)    Titik temu antaragama
Konsep ahl al-kitab dalam Islam menegaskan pengakuan atas agama-agama Ibrahimik. Pengakuan ini mengindikasikan bahwa Islam mengakui agama selain Islam yang memiliki kitab suci. Islam menghargai perbedaan dan memberikan kebebasan bagi semua pemeluk agama untuk beribadah sesuai keyakinannya masing-masing.
Perlakuan adil terhadap ahl al-kitab disebutkan dalam al-Quran surat Ali Imran 113-115. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam mengedepankan toleransi antar-pemeluk agama yang berbeda-beda.

3)    Agama hanif dan inklusif
Sabda Nabi Muhammad Saw. yang artinya: “Agama yang paling dicintai Allah adalah agama yang lurus dan toleran.” (HR. Bukhori)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang hanif merupakan rahmat bagi seluruh alam. Islam diturunkan untuk semua manusia tanpa membedakan kelamin, warna kulit, golongan, bangsa, dan lain-lain. Islam membawa misi perdamaian bagi seluruh umat manusia.

4)    Islam bukan agama sektarian
Islam sebagai agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia bertujuan untuk kemaslahatan manusia secara keseluruhan. Rahmat Islam selalu berada di pihak kaum tertindas karena Islam adalah agama pembebasan.

5)    Islam agama kasih sayang
Sabda Nabi Muhammad Saw. yang artinya: “Siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Bukhori Muslim)
Hadits Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan cinta kasih kepada penganutnya. Kasih sayang dan cinta merupakan media bagi sesama manusia untuk saling mengenal dan menjaga kelangsungan hidup manusia. Dengan cinta pula manusia memiliki gairah untuk memajukan peradaban.

6)    Pluralisme Islam
Sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya: “Hei sekalian manusia, Tuhan kalian adalah satu, bapak kalian juga satu. Setiap kalian berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Tak ada kelebihan bagi seorang Arab atas yang selainnya atau sebaliknya. Juga tidak ada kelebihan bagi seorang berkulit merah atas orang berkulit putih atau sebaliknya, kecuali takwanya.” (HR. Ahmad)
Islam mengakui perbedaan sebagai sunnatullah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al Hujurat: 13. Dalam mengakui kebhinekaan, Rasulullah sendiri telah memberikan keteladanan dalam kepemimpinannya di Madinah. Beliau berhasil mempersatukan berbagai golongan atau kelompok masyarakat yang sudah berpuluh tahun bermusuhan.Bahkan, beliau berhasil membangun solidaritas antar-warga Madinah.

7)    Egalitarianisme dan keadilan
Sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya: “Nasab-nasab kalian tidak bisa dijadikan alasan untuk mencaci maki seseorang. Manusia itu setara (dalam hal nasab) bagai permukaan air di ember yang penuh, dan semuanya adalah keturunan Adam. Tidaklah seseorang lebih unggul dari yang lainnya, kecuali dalam hal agama dan ketakwaannya kepada Allah.” (HR. Ahmad)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa prinsip musawah/kesetaraan dalam Islam adalah landasan dalam sistem hubungan sosial. Kesetaraan dan keadilan sosial diterapkan untuk menjamin dan mengangkat harkat dan martabat nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

8)    Menghormati agama lain
Nabi Muhammad mencontohkan pada masa pemerintahannya dengan memperlakukan hukum yang sama atas muslim dan non-muslim. Pada saat yang bersamaan, Nabi menghormati keyakinan-keyakinan mereka. Nabi tidak menjatuhkan hukuman secara Islam atas non-muslim tentang apa yang tidak mereka haramkan, dan mereka tidak boleh dipanggil ke pengadilan pada hari-hari besar yang mereka yakini atau rayakan. (Khotimatul Husna, 2011)
Demikianlah Islam menganjurkan sikap toleransi dan hormat menghormati untuk menghindarkan ekstrimisme dalam beragama. Ekstrimisme sebuah tindakan yang membahayakan umat manusia. Ekstrimisme adalah awal perpecahan umat manusia yang menghalalkan tindakan kekerasan dalam mencapai tujuan. Ekstrimisme umat beragama membawa pada sikap fanatisme buta yang menjauhkan manusia dari sikap toleransi yang diperintahkan Islam.

Budaya Anti Kekerasan
Kalau agama mempunyai kemungkinan dipergunakan manusia untuk hal-hal positif dan negatif, maka solusinya bisa kembali kepada budaya. Budaya pada dasarnya merupakan ciri yang membedakan dan menaikkan derajat manusia di atas makhluk lainnya (baca: hewan). Spiritualitaslah sebenarnya pangkal dari budaya itu. Karena itu, kehalusan atau kerohanian budi manusia terus dijadikan tuntunan. Dengan kata lain, suatu tindakan atau sikap dapat dikatakan berbudaya manakala spiritualitas menjadi penuntunnya.(Machasin, 2011).

Meskipun agama tidak terlepas dari spiritualitas, tapi terkadang ritual keagamaan hanya sebatas ritual dan kosong dari unsur spiritualitasnya. Pemeluk agama cenderung terfokus dan asyik masyuk dengan rutinitas keberagamaan, sehingga terpisah jauh dari realitas sosialnya. Seyogianya kekhusyukan beribadah meningkatkan nilai spirit yang lebih mengasah kepada kepekaan dan kearifan sosial. Tapi, faktanya, terkadang pemeluk agama justru menjadi sangat individualis.

Untuk itu, pilihan dalam menghadapi berbagai tindak kekerasan adalah dengan membudayakan sikap anti kekerasan. Kita mesti kritis, bila pun terdapat provokasi yang mengatasnamakan agama untuk melakukan tindak kekerasan, maka kita mesti menggunakan budaya berupa kehalusan atau kerohanian budi manusia untuk menolaknya karena spirit agama pada dasarnya juga anti kekerasan. Kita tahu kekerasan telah merampas kemerdekaan orang-orang lemah dan tertindas serta melahirkan banyak penderitaan. Seyogianya kita semua memilih sikap anti kekerasan untuk perdamaian umat manusia di seluruh alam semesta.[] Penulis adalah Editor freelance Penerbit LKiS dan Peserta PUP Angkatan IV 2014.

Last modified on Tuesday, 22 August 2017 04:07
Rate this item
(0 votes)