Menjadi Pribadi Yang Bertanggung Jawab

21 Jan 2015 Siti Marfu’ah
1648 times

Manusia sebagai khalifatul fil ardli mempunyai tanggung jawab yang penuh sebagai makhluk individu, makhluk sosial, sebagai makhluk yang beragama dan bernegara. Sebagai makhluk individu kita mempunyai kewajiban sepenuhnya untuk selalu beribadah kepada Allah. Seperti dalam firman Allah: wama khalaqtu al-jinna wa al-insa illa liya’buduun. [QS Adz Dzuriyat: 56] Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.”

Dan pada setiap individu dalam hal ibadah oleh pelakunya ditujukan kepada Tuhannya secara langsung. Bila ia berdo’a kepada Tuhannya maka Tuhan itu dekat kepadanya. Firman Allah:  Kullu nafsin bimaa kasabat rahiinatun. [QS Al Muddasir: 38] Artinya: “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.”

Firman Allah yang ke 2 bahwa setiap orang bertanggung jawab tentang dirinya sendiri yaitu QS Fusilat: 46, yang berbunyi: Man amila shaalihan falinafsihii ;   aman asaa’a faalaihaa; wamaa rabbuka bidhallaamin li-al-‘abiid. Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hambaNya.”

Setiap manusia adalah individu khas karena manusia memiliki perasaan yang tidak sama satu dengan yang lain terhadap suatu hal atau lingkungan hal ini yang menjadi faktor terjadinya hubungan sosial yaitu adanya manusia yang selalu membutuhkan orang lain yang disebut makhluk sosial atau “homo socius”.

Menurut Drs. Mahjanis “bahwa hubungan sosial merupakan terjemahan dari kata, “social interrelation” yang artinya hubungan yang bersifat timbal balik antara manusia dengan lingkungan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.” Karena senantiasa berhubungan dengan orang lain, maka terciptalah situasi dimana manusia  selalu menyelaraskan diri melalui pergaulannya sehari-hari dengan orang lain, baik itu seagama maupun antar umat beragama maupun hubungan dengan pemerintah yaitu hubungan bernegara.

Oleh karena manusia harus berhubungan dengan orang lain, maka muncullah sifat dari dalam diri kita sifat seperti: sifat penyabar, rendah hati, qana’ah, tawadlu’, setia kawan, dsb. Maka orang menilai bahwa pribadi kita mempunyai pribadi yang baik ber-akhlaqul karimah (berbudi pekerti mulia). Sebaliknya apabila yang dominan dalam diri kita itu sifat yang buruk seperti: sombong, bicara kasar, suka memukul, ujub, iri dengki, dsb. Maka muncullah dalam diri kita penilaian dari orang lain bahwa pribadi kita mempunyai pribadi yang jelek yaitu ber-akhlaqus-sayyiah. Padahal Islam mengajarkan kepada manusia hal-hal yang baik.

“Islam itu indah” seperti pada acara di sebuah stasiun TV swasta yang diasuh oleh ustadz Nur Maulana. Apa yang tertuang pada Islam sehingga dikatakan indah….? Ajaran Islam mewajibkan penganutnya apabila sudah baligh untuk melakukan sholat 5 waktu yang telah ditentukan waktunya.
Firman Allah QS. Al Baqoroh: 102, Inna al-shalaata kaanat ‘ala al-mu’miniina kitaabaa mauquutaa. Artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang telah diwaktu-waktukan atas segala orang yang beriman.”

Sholat itu wajib bagi orang mukallaf yaitu orang yang telah aqil baligh, berakal dan sampai umur. Disinilah keindahannya, meski shalat itu wajib hukumnya, namun terkecuali bagi orang yang termasuk di dalamnya yaitu:
a.    Orang yang tak sanggup mengerjakannya dengan isyarat lagi.
b.    Orang yang pingsan hingga keluar waktu.
c.    Orang perempuan yang sedang berhalangan yaitu haid dan bernifas.
d.    Orang yang hilang ingatan / gila sampai ia sembuh.

Kemudian, untuk orang yang sakit atau orang yang sedang bepergian ada rukhsah(keringanan)baginya:
a.    Orang sakit.
Masih diwajibkan untuk mengerjakan shalat namun sesuai kesanggupannya. Boleh dengan berdiri, duduk, atau berbaring.
b.    Orang yang bepergian.
Tetap diwajibkan untuk mengerjakan sholat namun ada rukhsoh untuknya yaitu boleh menjama’ dan meng-qashar shalat, dimana sholat yang bisa dijama’ dan di-qashar adalah shalat yang jumlah rekaatnya 4, yaitu sholat Zhuhur, ‘Ashar, ‘Isya. Shalat Maghrib boleh dijamak dengan sholat ‘Isya tetapi tidak boleh di-qashar karena jumlah rekaatnya 3.

Jadi betapa indahnya Islam. Lalu, mengapa kita tak mempelajarinya yang lebih mendalam? Hal di atas merupakan contoh kecil saja, banyak sekali contoh-contoh yang lain. Karena Islam bukanlah ajaran yang memberatkan untuk hambanya tetapi meringankannya sesuai keadaan yang mereka alami.
Dan sebagai makhluk sosial, makhluk beragama, dan bernegara kita pasti berhubungan dengan orang lain dalam hal ini Islam mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menghina, menganggap rendah orang lain tetapi kita harus menghormati, menyayangi terhadap orang lain baik yang seagama atau dengan antar umat beragama.

Negarapun memberi kebebasan sepenuhnya kepada warganya untuk memilih agama yang mereka anut kemudian menghormati bagi yang lain baik dalam bertindak, berbicara, beribadah maupun yang lain. Apa yang menjadi urusan mereka kita tidak boleh mencampurinya. Seperti dalam firman Allah QS Al Baqarah : 139 yang berbunyi:

Artinya :
“Katakanlah apakah kamu memperdebatkan dengan Kami tentang Allah padahal Dia adalah Tuhan kamu? Bagi Kami amalan Kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaNya kami mengikhlaskan diri.”

Apabila kita cermati dari firman Allah tersebut betapa indahnya Islam yang menunjukkan kepada kita untuk selalu menghormati orang lain, menghormati agama lain meskipun kita satu negara, satu daerah, ataupun satu keluarga. Toleransi beragama tetap dijunjung tinggi, ukhwah Islamiyah tetap dijaga. Agar kita bisa  hidup aman, damai, dan sejahtera. Amin. {} Siti Marfu’ah (peserta anggota PUP angkatan III Jawa Tengah, asal Pati).

Last modified on Tuesday, 22 August 2017 04:06
Rate this item
(0 votes)