AIDS Hantu Masa Depan Perempuan

21 Jan 2015 Haliemah Noor Q
1752 times

IDS (Acquired Immune Deviciency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya sistem kekebalan tubuh setelah seseorang terinveksi virus HIV (Human Immunodeficiency Syndrome Virus), HIV bekerja menyerang sistem kekebalan tubuh yang melindungi tubuh dari serangan penyakit. Setiap virus, kuman dan bakteri yang masuk ke dalam aliran darah akan dilawan oleh sel-sel darah putih yang ada di dalam tubuh kita hingga mati. Tetapi, virus HIV tidak bisa dilumpuhkan oleh sel-sel darah putih, karena virus HIV memproduksi sel sendiri yang dapat merusak sel darah putih dan sejenis retrovirus yaitu virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. Virus HIV terdapat dalam aliran darah, cairan sperma dan vagina yang dapat menular melalui kontak darah atau cairan tersebut.1

Data dari UNAIDS menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat tiap tahunnya. Saat ini di dunia terdapat 39,4 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan diperkirakan separuhnya adalah perempuan. Sementara di Asia 8,2 juta ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)  dan 2,3 jutanya adalah perempuan. Di Indonesia sendiri diperkirakan jumlah perempuan pengidap HIV/AIDS mencapai 21% dari 5.701 kasus HIV/AIDS yang dilaporkan. Sangat mencengang melihat data korban ODHA kita, angka tersebut belum termasuk mereka yang belum terdata oleh UNAIDS. Bahkan, lebih akut lagi bahwa sampai hari ini belum ditemukannya obat penawar HIV/AIDS yang dapat menyembuhkan para ODHA dari ancaman maut yang selalu mengejar hari-harinya.

Dari data tersebut dapat diketahui, sebab terinfeksinya perempuan kerap bukan karena kurangnya pemahaman tentang penyakit tersebut, tapi lebih dikarenakan perempuan yang tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi serta posisi tawar yang memadai untuk melindungi diri mereka. Perempuan yang berperan sebagai istri seringkali mengalami diskriminatif dalam hal seksual, dimana hak-hak kesehatan reproduksinya kerap diabaikan oleh pasangan mereka. Sedangkan perempuan yang berperan sebagai gadis juga rentan akan penyebaran virus HIV/AIDS lantaran maraknya pergaulan bebas yang terjadi pada zaman globalisasi ini, dengan dukungan mayoritas  media cetak dan elektronik yang dominan mengarahkan anak-anak dan remaja kita untuk mengenal prilaku seksual pranikah.


Ketimpangan Gender atas HIV

Perempuan memiliki sensitivitas yang tinggi dari penularan HIV/AIDS, mengingat peran perempuan sebagai istri dan ibu bagi bayi mereka yang akan melanjutkan dari segi keturunan. Ketika seorang istri memiliki pengetahuan yang minimalis atas hak-hak kesehatan reproduksi mereka, maka mulai saat itu pula perempuan tidak memiliki keberdayaan untuk melindungi diri mereka sendiri dari paksaan permintaan suami untuk dilayani yang tanpa pandang waktu dan situasi. Walaupun demikian, hal ini terus berlanjut disebabkan oleh pemikiran masyarakat kita yang terbudaya akan kewajiban ketaatan istri terhadap semua intruksi suami yang tak pandang kompromi, telah  diyakini mutlak kebenarannya. Oleh karena itu, budaya patriarki yang sudah mendarah daging di benak masyarakat Indonesia, menjadi faktor utama terabainya implementasi hak-hak kesehatan reproduksi yang selayaknya dimiliki oleh kaum perempuan.

Ketika hal ini terus berjalan tiada henti, maka jangan heran ketika perempuan yang berperan sebagai ibu rumah tangga saja dapat mengidap virus HIV/AIDS. Suatu hal yang kontroversial dengan teori, bahwa virus HIV/AIDS umumnya dapat tertular melalui pergaulan bebas, namun hal ini dapat terjadi sebaliknya. Bahkan, perempuan tersebut harus mendapat stigma negatif dari masyarakat atas penyakit yang dideritanya. Masyarakat tidak mau mengetahui tentang hakekat dari permasalahan ini, bahwa kondisi yang sebenarnya adalah perempuan tersebut tertular virus HIV dari suaminya maupun mengalami penularan lewat jarum suntik. Perempuan tersebut harus mengalami beban negatif ganda, yakni sebagai penderita HIV dan harus dikucilkan dari kehidupan sosial masyarakat.

Hal ini berbeda dengan laki-laki, bagi mereka yang mengidap HIV/AIDS tidak disikapi dengan terlalu diskriminatif di lingkungan masyarakat mereka. Dan laki-laki kerap tidak pernah mau disalahkan ketika perempuan terkena HIV/AIDS adalah lantaran dari penularan dari suaminya. Dan para suami juga enggan untuk diajak bekerjasama dengan  istri mereka untuk menggunakan kondom sebagai solusi alternatif bagi keamanan mereka seksual mereka.  Realitas ini cukup menunjukkan akan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan atas isu HIV/AIDS yang akut bagi masa depan bangsa.

Fenomena ini sangat memilukan bagi kita, akutnya virus HIV ini menyerang masyarakat kita yang masih kuat menganut budaya patriarki. Hal yang lebih tragis lagi, bahwa perempuan yang berperan sebagai istri juga akan berperan sebagai ibu bagi bayi yang dikandungnya. Ketika seorang ibu hamil sudah divonis positif pengidap virus HIV/AIDS, maka  secara otomatis akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya.  Bayi itu akan lahir cenderung otomatis menyandang ODHA tanpa salah dan dosa yang ia perbuat, namun harus ia terima dengan lapang dada sejak kehadirannya di dunia ini. Tak terbayangkan masa depan bayi tersebut dalam menatap masa depannya yang sudah diburamkan sejak kelahirannya sebagai ODHA.

Oleh karena itu, dibutuhkan langkah strategis sosialisasi kepada masyarakat kita mengenai cara penularan virus HIV/AIDS oleh pemerintah dan para pihak terkait mengenai cara-cara penularan virus HIV/AIDS. Yakni : 2)

Melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan/kondom. Ini bisa terjadi karena saat berhubungan seksual sering terjadi lecet-lecet yang ukurannya sangat kecil, hanya bisa dilihat dengan mikroskop pada dinding vagina, kulit penis, dubur dan mulut  yang dapat menyebabkan virus HIV masuk ke dalam aliran darah pasangannya HIV/AIDS dapat menular melalui transfusi dengan darah yang sudah tercemar virus HIV Melalui ibu yang terinveksi HIV/AIDS kepada bayi yang dikandungnya, penularan ini terjadi saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan darah atau cairan anaknya di saat proses melahirkan melalui pemakaian jarum suntik, akupunktur, jarim tindik, dan peralatan lainnya yang sudah dipakai oleh orang yang terinfeksi

Kerentanan Perempuan


Perempuan memiliki kerentanan yang cukup tinggi  terinfeksi HIV maupun Infeksi Menular Seksual (IMS). Secara reproduksi, organ reproduksi perempuan tersembunyi sehingga tidak muah terdeteksi bila ada keluhan. Selain itu juga organ reproduksi perempuan memiliki selaput mukosa yang luas, mudah luka/iritasi, sehingga bila terjadi penetrasi penis dengan kekerasan atau paksaan akan lebih memudahkan terjadinya penularan. Perlu diingat oleh kita semua, bahwa jumlah virus HIV di dalam sperma lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah virus HIV di dalam cairan vagina, sehingga perempuan sebagai pihak penampung sperma lebih besar kemungkinannya untuk terinfeksi.3)

Secara sosial perempuan juga mengalami kerentanan yang berupa:

Adanya pelecehan dan kekerasan seksual
Minimnya akses pendidikan dan pelayanan kesehatan
Menjadi korban  perdagangan perempuan
Menjadi korban perkosaan dan incest
Perempuan dituntut untuk menjalankan peran sebagai pengasuh dan perawat, ketika orang tua dan suami mereka sakit. Namun sebaliknya, ketika dirinya sendiri sakit dan butuh perawatan, dirinya seringkali terabaikan.

Di bidang ekonomi, perempuan  sering kali tidak memiliki penghasilan sendiri, sehingga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi kepada orang lain, dalam hal ini suami atau pasangan dalam menafkahi hidupnya. Kalau pun bekerja, upahnya diberikan lebih rendah dari pekerja laki-laki walawpun ia memiliki kemapuan yang sama dalam mengerjakan tugas tersebut.

Untuk ke sekian kalinya perempuan diposisikan yang serba salah, ketika setiap kampanye dan konseling menyangkut penularan HIV/AIDS menyarankan beberapa langkah pencegahan, seperti: puasa seks, setia dengan satu pasangan dan pemakaian kondom untuk keamanan. Namun dalam kenyataannya di lapangan, perempuan kerap menjadi korban pemerkosaan, pemerasan dan trafficking, dimana hal tersebut sangat membahayakan kesehatan reproduksi mereka. Hal ini harus dipahami oleh semua pihak dalam menangani pencegahan virus HIV/AIDS harus ditekankan dengan pendekatan yang berkesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.

Islam Memandang AIDS
Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan semesta alam (rahmatan lil’aalamiin), dengan seperangkat tata nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umatnya untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Salah satunya adalah mengenai etika dan moral yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku terhadap sesama makhluk Tuhan, termasuk di dalamnya adalah bagaimana memperlakukan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka tidak boleh diperlakukan diskriminasi dalam hal apapun karena sama-sama memiliki derajat sebagai manusia yang dimuliakan Tuhan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 70: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Namun ironisnya, hingga saat ini masih banyak kalangan agamawan (dari Islam) yang meyakini bahwa fenomena HIV/AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan atau identik dengan kaum Luth yang menyukai homoseksual, sebagaimana yang dikisahkan Tuhan dalam Alquran Surat Al-A’raf ayat 80-84, Suarat An-Naml ayat 56. Begitu juga norma masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa HIV/AIDS adalah penyakit menular seksual. Padahal bila dilihat dari cara penularan HIV/AIDS sesuangguhnya bukan merupakan penyakit seksual, karena orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan penderita HIV/AIDS sesungguhnya bukan merupakan penyakit seksual, karena orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan penderita HIV pun bisa tertular seperti penularan melalui transfusi darah, jarum suntik, pisau cukur, dan sebagainya. Pandangan tokoh agama dan masyarakat tersebut harus diluruskan dengan informasi yang benar mengenai HIV/AIDS supaya tidak dianggap sebagai melanggar norma masyarakat. Jika tidak, maka akan berbahaya karena terjebak pada lingkaran normatif yang tidak menguntungkan ODHA.4)

Begitu juga pandangan mengenai kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/AIDS hingga saat ini masih kontroversial karena dikhawatirkan disalahgunakan oleh pasangan di luar nikah, dianggap melegalisir perzinahan dan sebagainya. Pandangan tersebut hendaknya dirubah dengan pendekatan solutif yang menggunakan kaidah fiqhiyyah yaitu: ”memilih bahaya yang lebih ringan di anatara dua bahaya untuk mencegah sesuatu yang lebih membahayakan”. Dalam hal ini mensosialisasikan pemakaian kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/AIDS jauh lebih ringan bahayanya dibandingkan dengan melarang kondom disosialisasikan. Meskipun tidak menutup kemungkinan bisa saja disalahgunakan, tetapi tidak bisa digeneralisir dengan suatu kemungkinan yang belum terjadi. Sedangkan hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang sudah terinfeksi pasti akan menyebabkan terjadinya penularan.

Penutup

Kita harus meyakini bahwa segala ketentuan Tuhan mengenai perintah dan larangan-Nya mempunyai maksud kebaikan bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Sama halnya dengan larangan Tuhan mengenai pergaulan bebas yang berindikasi pada terserangnya penularan virus HIV/AIDS. Maka, benar kiranya ketika Islam mengajarkan kepada umatnya untuk beretika dalam pergaulan antara sesama mereka, baik dalam hal sosial, ekonomi maupun budaya.

Perempuan dengan fungsi reproduksi mereka, memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan kwalitas regenerasi bangsa. Oleh karena itu, semua pihak harus bertanggungjawab untuk melindungi kesehatan reproduksi perempuan dari serangan virus HIV/AIDS yang tiap saat dan waktu menghantui hari-hari mereka. Untuk menangani isu HIV/AIDS ini harus dilandaskan pada perspektif kesetaraan gender, ketika semua pihak dari kita menginginkan dan meyakini keadilan akan menaburkan kebahagian yang hakiki di atas muka bumi ini. [] **Penulis adalah Peserta PUP II

Catatan Belakang:

1.        PPSW, Kesehatan Reproduksi, Jakarta, 2003.

2.       Syaiful W. Harahap, Pers Meliput AIDS, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2000

3.        www.thebody.com

4.       Maria Ulfah Anshor, Nalar Politik Perempuan, Fahmina Institute, Cirebon, 2006





















Last modified on Tuesday, 22 August 2017 04:03
Rate this item
(0 votes)