Dicari!!! Agama Pembela Kesetaraan Featured

12 Jun 2004 Ahmad Dicky Sofyan
4007 times

Saat kaum Muslimin melakukan hijrah untuk pertama kalinya, untuk menghindari cekikan dan penindasan kaum Musyrik Mekah, Rasulullah menunjuk negeri Abbysinia sebagai tempat pengungsian. Alasan penunjukan tempat mengungsi ini disampaikan Nabi karena wilayah ini memiliki seorang raja beragama Kristen yang dikenal Nabi sebagai penguasa yang bijak.

Hijrah pertama ini dilakukan oleh sembilan atau sebelas pengikut Muhammad baik laki-laki ataupun perempuan. Pihak Musyrik Mekah yang mengetahui pelarian tersebut segera saja mengutus beberapa orang diplomatnya untuk meminta agar penguasa Abbysinia berkenan membawa mereka kembali ke Mekah dan tidak memberikan suaka politik kepada kaum Muslim.

Syahdan, setelah menyampaikan maksud tujuan yang disampaikan diplomat tersebut, raja Abbysinia memanggil kaum Muslim untuk dikonfrontir keterangannya di hadapan raja. Dalam sidang terbuka kerajaan diplomat Musyrik “mengompori” raja Abbysinia dengan mengatakan bahwa kaum Muslim telah merusak tatanan sosial yang ada.

Salah satu tatanan sosial yang dihancurkan oleh Muhammad dan pengikutnya adalah konsep kesetaraan umat manusia, kaya-miskin, budak sahaya-manusia merdeka, dan juga laki-perempuan. Namun, propaganda tersebut tidak berhasil dihadapan raja Abbysinia setelah Ja’far bin Abi Thalib yang menjadi juru bicara kaum Muslim membacakan beberapa ayat dalam surat Maryam yang menceritakan banyak perihal Yesus Kristus. Barangkali, raja Abbysinia itu teringat juga dengan ajaran Kasih yang diajarkan Yesus.

Revolusi kesetaraan

Jelaslah sudah dalam kisah diatas bahwa kesetaraan menjadi isu utama keberadaan Islam. Propaganda dengan isu ini sebagai sesuatu yang merusak tatanan sosial saat itu juga menjadi petunjuk bahwa konsep kesetaraan tidak menjadi hal yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Kesetaraan antar sesama manusia masih merupakan barang yang tabu, langka, dan jauh dari peradaban. Kaum Musyrik Mekah berharap bahwa isu tersebut dapat menggoyahkan hati raja Abbysinia karena takut isu itu akan berdampak pada tatanan soaial bangsanya dan pada gilirannya akan mengancam kedudukannya sebagai penguasa.

Rentetan wahyu pertama yang direkam dalam surat al-‘Alaq (ayat 1-5) menyiratkan pentingnya kesadaran penciptaan manusia yang hanya tercipta dari segumpal darah. Dalam surat al-‘Alaq ayat 2 dengan jelas Allah menyatakan, “Dia (Allah) yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Sebelumnya Allah menegaskan bahwa aktifitas membaca yang bisa ditafsirkan sebagai aktifitas peradaban harus disertai tanggung jawab kepada Tuhan yang Maha Pencipta, “Iqra’ bismi rabbikalladzi kholaq”.

Membaca ayat-ayat pertama yang terdapat dalam surat al’Alaq yang menjadi rentetan awal wahyu al-Quran barangkali terkesan sederhana, namun sesungguhnya saat itu dimana penindasan dan ketimpangan yang terjadi menjadi menu sarapan sehari-hari merupakan hal luar biasa. Bagaimana tidak, al-Quran secara tepat menyadarkan posisi kedudukan semua manusia yang hanya tercipta dari segumpal darah tanpa terkecuali.

Seorang budak dan tuan sama-sama tercipta dari segumpal darah begitu juga laki-laki dan perempuan yang tercipta dari hal yang sama. Padahal, konsepsi Paganisme Arab yang dianut Musyrik Mekah saat itu tidaklah demikian. Mereka tetap menganggap bahwa ada diferensiasi penciptaan antara makhluk Tuhan. Diferensiasi itulah yang kemudian melahirkan budak, perempuan, dan kelas-kelas sosial tertentu dalam masyarakat.

Perjuangan Islam yang dikomandoi Muhammad di masa awal yang menentang paganisme bukan saja bertolak dari kenyataan bahwa masyarakat Arab saat itu menyembah berhala, akan tetapi konsep paganisme secara umum yang menempatkan manusia secara tidak setara merupakan akar persoalannya. Kelahiran anak perempuan tidak dapat ditolelir dan dianggap sebagai aib, dan harus direspons dengan cara membunuh anak perempuan merupakan bagian konsepsi pagan.

Belum lagi kenyataan akan ketidak percayaan paganisme terhadap hidup sesudah mati, sebagaimana didokumentasikan dalam al-Quran surat al-Jatsiyah ayat 24 dan al-an’am ayat 29, membuat kaum Musyrik Mekah meyakini bahwa kehidupan yang ada hanya didunia ini dan karenanya kehidupan merupakan ajang adu kekuatan dan penindasan jika tidak ingin ditindas. Ditambah lagi konsep ekonomi pagan Arab yang disinggung al-Quran sebagai harta yang hanya berputar dikalangan elit saja, “kay laa dulatan bainal aghniya’I minkum”.

Rasulullah Muhammad begitu menyadari bahwa konsep sosial Musyrik Mekah tidak cukup dengan hanya melawan konsepsi tersebut dengan slogan dan konsepsi pembebasan yang baru, namun ia juga harus bergerak, bangkit melawan penindasan tersebut dalam praktek nyata dan perlawanan sosial yang komprehensif. Karenanya, Muhammad segera membebaskan Zaid bin Tsabit dan kemudian mengangkatnya sebagai anak angkat, dan juga menyerukan kepada Muslim yang lain untuk membebaskan budak dan hamba sahaya yang mereka miliki, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar yang membeli Bilal –seorang budak hitam- dari seorang Musyrik Mekah untuk kemudian dia bebaskan.

Muhammad juga segera memerintahkan agar kaum Muslim membantu secara ekonomi masyarakat miskin yang ada di Mekah, dan juga memerintahkan kaum Muslim agar berbuat baik dan hormat terhadap ibu dan para perempuan. Karenanya, tidak mengherankan jika pengikut Muhammad di Mekah pada masa awal didominasi oleh kelompok minoritas yang tertindas.

Dalam kehidupan yang lebih established di Madinah, Muhammad tetap berkomitmen terhadap konsep kesetaraan yang menjadi elemen dasar Islam. Perilakunya tidak sekalipun, menyimpang dari konsepsi kesataraan yang telah ia ajarkan sebelumnya, padahal ia telah memegang hak otoritatif penuh di Madinah. Dalam hukum-hukum baru yang telah ia berlakukan, Muhammad tetap menjadikan pembebasan budak sebagai sebuah media untuk membayar atau menebus atas pelanggaran tertentu yang dilakukan kaum Muslim.

Sikapnya yang begitu lembut terhadap orang miskin, anak-anak, dan juga perempuan masih merupakan ciri kepribadian Muhammad yang sangat lekat dengan kesehariannya. Bahkan, konon diceritakan beberapa sahabat Rasulullah menemui Nabi mengadukan istri-istri mereka yang justru setelah Islam “berani” terhadap para suami. Para istri lebih berani meminta suami mereka untuk berbuat lembut sebagaimana Nabi berbuat lembut terhadap istri-istrinya.

Muhammad juga memberikan akses yang sama kepada umat Islam untuk berprestasi. Suatu saat para sahabat Muslimah menemui Nabi, mereka “memprotes” banyaknya kesempatan akses bagi Muslim laki-laki untuk bisa beribadah dan berprestasi. Mendapat pertanyaan seperti itu, Allah menurunkan wahyunya kepada Muhammad dalam surat al-Ahzab ayat ke-35 yang mensejajarkan peluang dan akses antara kaum perempuan dan laki-laki.

Ayat tersebut berbunyi:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Islam, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang patuh, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang tunduk hatinya, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, dan laki-laki dan perempuan yang selalu ingat (berdzikir) kepada Tuhan-nya, bagi mereka itu telah disiapkan Tuhan ampunan dan pahal yang besar”.

Tidak berhenti disitu, pada tahun ke-9 H beberapa bulan sebelum kewafatannya, saat Nabi melaksanakan ibadah haji perpisahan (Hujjatul Wada’), dengan tegas Nabi mengumandangkan pesan-pesan kesetaraanya. Dalam pidatonya Muhammad mengatakan; “ayyuhannas inna linisaikum ‘alaikum haqqon walakin ‘alaihinna haqqun”, wahai manusia sesungguhnya perempuan memiliki hak terhadap laki-laki dan juga laki-laki memiliki hak yang sama dengan perempuan; “wa innama al-Nisa’ ‘indakum ‘awanun”, sesungguhnya perempuan itu adalah kawan bagi kaum laki-laki; “walaa yamlikuna lianfusihinna syaian”, sekali-kali tidaklah kaum laki-laki memiliki hak sedikitpun terhadap kaum perempuan; “akhadztumuhunna bi amanatillah”, (kecuali) jika kalian meminta mereka dengan amanah Allah (nikah). Setelah berpesan seperti itu, Nabi kemudian melanjutkan pesan bahwa kaum Muslim Laki-laki dan Perempuan adalah bersaudara, dan Nabi secara tegas menyatakan bahwa sesungguhnya umat manusia dihadapan Tuhan-nya adalah sama, “inna akromakum ‘indallahi atqokum”.

Belajar dari Sejarah

Perjuangan Nabi dan kaum Muslim awal hakikatnya adalah kesetaraan. Perlawanan Muhammad terhadap paganisme Arab semata-mata dilakukannya demi mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan menjunjung kesetaraan. Pengorbanan yang dilakukan Muhammad adalah pembebasan manusia dari perbudakan dan sikap arogan kelompok afiliasi tertentu –baik etnis, ras, keturunan, maupun gender- terhadap kelompok masyarakat lain yang minor.

Muhammad menetapkan kesetaraan ini sebagai elemen dasar Islam. Yang dapat dikuti sepanjang masa. Dari dahulu hingga kini perjuangan melawan penindasan dan menegakan keadilan merupakan asas dasar kemanusiaan, dan Islam mengakui hal ini.

Umat Islam di berbagai belahan dunia menjadikan teriakan revolusi kemanusiaan ini sebagai ruh untuk berjuang dan bergerak membebaskan ketidak adilan. Perjuangan kaum Muslim terhadap banyak penguasa zalim yang mengebiri hak kemanusiaan menjadi fakta kuat terkait hal ini. Di awal kemerdekaan Republik Indonesia kaum Muslim serentah melawan penjajah karena dianggap telah melakukan tindakan tidak semena-mena terhadap kemanusiaan.

Belajar dari sejarah perjuangan Muhammad, tidak selayaknya kaum Muslim melakukan penindasan dalam berbagai bentuk. Dalam skala kecil –seperti dalam rumah tangga- kaum Muslim tidak diperkenankan melakukan penindasan terhadap anggota keluarganya. Tidak ada kebolehan memukul ataupun menyiksa anak dan istri. Tidak ada argumentasi yang membolehkan kekerasan. Keluarga harus dibina dalam kerangka kasih-sayang yang tidak terputus.

Tidak ada alasan bagi seorang Muslim yang mengaca pada kehidupan Muhammad untuk membenarkan pengekangan hak orang lain untuk hidup dan beraktifitas yang baik untuk kemaslahan diri, keluarga, dan masyarakatnya. Sekalipun itu adalah istri dan anaknya. Semua manusia apapun ras, agama, dan jenis kelaminnya memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menjadi khalifah di bumi, dan untuk berlomba dalam mengembangkan prestasi.

Belajar dari sejarah, belajar dari Muhammad, belajar meneladani sang Nabi, menjadi makhluk terbaik di bumi.

Bogor, 15 Juli 2008
 
 

Last modified on Thursday, 17 August 2017 16:29
Rate this item
(0 votes)