EKSISTENSI PEREMPUAN INDONESIA DALAM ERA GLOBALISASI

26 Oct 2010 Ashfa Zakiyatul Wardah
6018 times

Globalisasi
Globalisasi adalah suatu realitas yang bukan untuk dihindari atau dijauhi, namun kita harus meresponnya. Istilah ini sering didefinisikan berbeda yang satu dengan yang lainnya. Globalisasi merupakan produk kemajuan sains dan teknologi, khususnya teknologi informasi yang juga merupakan kelanjutan dari modernisasi. Globalisasi juga dapat didefinisikan sebagai agenda penguasa barat yang memaksa negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, untuk menjalankan dasar ekonomi dan sosial yang lebih sesuai dengan agenda global penguasa antar bangsa. Contoh konkrit dari agenda globalisasi ini adalah diberlakukannya AFTA (ASEAN Free Trade Agreement), yaitu perjanjian kawasan perdagangan bebas ASEAN pada tahun 2003. Kawasan Asia Pasifik juga akan mengalami diberlakukannya APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) pada tahun 2020 nanti. AFTA dan semacamnya pada hakikatnya merupakan perwujudan dari globalisasi.

Prinsip globalisasi mengacu pada perkembangan-perkembangan yang cepat dalam teknologi komunikasi, transformasi, dan informasi yang bisa membawa bagian-bagian dunia menjadi hal yang mudah dijangkau. Kini dunia seolah sudah tidak memiliki batas-batas wilayah dan waktu.

Istilah globalisasi dapat diartikan juga sebagai alat dan dapat pula diartikan sebagai suatu ideologi. Globalisasi sebagai alat, merupakan suatu perwujudan dari keberhasilan techno-science, terutama dalam komunikasi. Kondisi seperti ini, globalisasi bersifat netral, tergantung dari pemakainya. Ketika globalisasi diartikan sebagai suatu ideologi, maka tidak sedikit akan terjadi benturan nilai, antara nilai yang dianggap sebagai suatu ideologi globalisasi dan nilai agama, termasuk agama Islam.

Kesan mengenai globalisasi dapat dilihat dari dua aspek yaitu sebagai ancaman dan tantangan. Pertama, sebagai ancaman, dengan adanya berbagai macam alat komunikasi maka dapat dengan mudah hal-hal negatif diserap. Hal ini dapat membuat kita terjebak pada pergaulan global atau menjadikan dunia barat sebagai role model kehidupan. Kedua, sebagai tantangan. Ketika globalisasi memberi pengaruh nilai-nilai dan praktek yang positif, maka seharusnya menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk mampu menyerapnya. Misalnya, budaya disiplin, bertanggungjawab, kerja keras, dan menghargai prestasi orang lain. Keyword dari globalisasi adalah kompetisi. Ketika berkaitan dengan nilai budaya atau agama, maka persiapan mentalitas dari masing-masing pribadi sangatlah penting. Kita dituntut untuk memiliki self preparation yang meliputi mentalitas dan skill.

Tantangan globalisasi bagi perempuan
Akhir-akhir ini kita sering dihadapkan pada sebuah permasalahan yang menyangkut tugas dan tanggung jawab seorang perempuan baik dalam posisinya sebagai istri, ibu rumah tangga, dan juga sebagai anggota masyarakat. Globalisasi bagi perempuan dapat berkesan baik dan buruk, namun hal yang terpenting adalah suatu realitas bahwa globalisasi merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh masyarakat, termasuk perempuan.

Tidak sedikit tantangan yang diberikan globalisasi terhadap perempuan. Dalam segala bidang perempuan ditantang untuk mampu survive, sehingga tidak dijadikan objek yang termarginalisasi atau tersubordinasi. Tantangan tersebut terletak pada pendidikan keluarga, ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya yang kemudian dikerucutkan menjadi dua tantangan, yaitu tantangan domestik dan publik.

Pertama, tantangan yang bersifat domestik. Seorang perempuan harus memainkan peranannya sebagai bagian dari keluarga, yaitu tantangan untuk meningkatkan kualitas keluarganya baik dari sisi mental maupun skill untuk menghadapi globalisasi saat ini. Kedua, tantangan yang bersifat publik, merupakan tantangan bagi seorang perempuan sebagai bagian dari masyarakat, seperti menghadapi situasi perekonomian di negara ini. Sistem liberal sudah mulai terjadi dengan ditandai kecenderungan pendominasian perusahaan-perusahaan besar terhadap perusahaan-perusahaan kecil. Dalam situasi seperti ini, perempuan akan lebih merasakan dampaknya, karena lebih banyak terlibat dalam bisnis-bisnis kecil. Hal tersebut belum belum sepenuhnya terjadi, dan merupakan tantangan bagi kaum perempuan untuk menghadapinya agar tidak menjadi korban dari sistem perekonomian tersebut. Dalam dunia perpolitikan, perempuan juga dituntut untuk turut aktif dalam menyuarakan aspirasinya dengan cara mampu memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan oleh pemerintah untuk membuat berbagai macam kebijakan publik secara maksimal. Perempuan juga ditantang untuk meminimalisir dan menyelesaikan permasalahan sosial, antaralain angka kematian ibu dan anak yang semakin meningkat, semakin dieksploitasinya perempuan sebagai konsumsi publik yang tidak pada tempatnya dan sebagainya.
Tantangan-tantangan ini adalah akibat dari realitas kondisi sumber daya perempuan di Indonesia yang masih mengalami ketertinggalan dibanding laki-laki. Di bidang pendidikan, rasio kelulusan laki-laki terhadap perempuan di sekolah lanjutan tingkat atas adalah 92,8% pada tahun 2002. Bidang kesehatan, gizi perempuan masih menjadi masalah utama. Dalam kondisi kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki jauh lebih tinggi dari perempuan. Berdasarkan sensus tahun 2000 angka pengangguran perempuan 12%, sedangkan laki-laki 7,6%. Upah perempuan hanya 70% dari laki-laki.

Tidak sedikit perempuan yang berkutat pada masalah penampilan atau gaya hidup. Maka lahirlah rubrik kecantikan dengan segala pernak-perniknya, kontes-kontes yang menjadikan fisik sebagai standar penilaian. Hal-hal tersebut memang merupakan bagian dari kebutuhan perempuan, namun tidak harus dengan porsi yang besar seperti saat ini. Perempuan juga sudah terbiasa menjadi eye-catching belaka. Perhatikan saja sampul-sampul media massa, kemasan, dan iklan produk, banyak sekali yang ’menempelkan’ begitu saja gambar perempuan bahkan terkesan memaksakan. Sayangnya tidak semua perempuan merasa rugi atas eksploitasi fisik ini. Hal-hal tersebut harus dijadikan motivator bagi perempuan untuk semakin mengembangkan potensi dirinya. Sehingga, perempuan akan mampu menghadapi tantangan dalam bentuk apapun.

Peranan perempuan dalam menjawab tantangan globalisasi
Berbicara tentang perempuan memang selalu menarik. Di era technoscience seperti saat ini, sudah waktunya perempuan memikirkan hal yang besar. Bukankah DR. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa secara kuantitas, perempuan adalah separuh dari umat, namun pengaruhnya dalam kehidupan manusia di sekitarnya bisa lebih dari jumlahnya. Bagi semua yang merasa perempuan, saatnya kita membuktikan pernyataan beliau, bahwa kita bisa mendulang prestasi dalam segala hal sesuai minat kita.

Mengawali langkah dalam menjawab tantangan globalisasi, perempuan harus meyakini bahwa mereka mampu memainkan peranannya masing-masing sesuai minat dan skill yang dimilikinya, dan harus yakin bahwa segala bidang dapat dikuasai oleh siapapun tanpa adanya sex barier. Keyakinan akan hal tersebut akan membentuk mainset kehidupan mereka untuk tidak merasa memiliki keterbatasan gerak, sehingga dapat memainkan peran dengan baik dan maksimal.

”...........Yang kamu kerjakan ini adalah pekerjaan-Nya. Dia akan mengkaruniai kami tenaga untuk melakukan pekerjaan itu. Kami bersedia, bersedia berbuat apapun. Bersedia memberikan diri kami sendiri. Bersedia menerima luka hati. Air mata, darah, akan mengalir. Banyak, banyak, tetapi tidak apalah. Itu semuanya akan menuju kemenangan. Tidak ada cahaya yang tidak didahului gelap gulita. Hari fajar lahir daripada hari malam”. Rangkaian kata dalam surat Ibu Kartini ini ditulis untuk teman korespondensinya Tuan E.C. Abendanon. Ibu Kartini memang bukan satu-satunya perempuan yang dengan perjuangannya telah menorehkan makna mendalam bagi perempuan. Bahkan ratusan tahun sebelumnya juga telah banyak pejuang perempuan dalam berbagai bidang.

Benang biru yang dapat ditarik dari sosok-sosok tersebut (mulai dari Khadijah sampai Kartini) bahwa mereka  adalah perempuan-perempuan pemberani yang rela bekerja keras, pantang menyerah, tegar, dan kuat. Last but not least, mereka adalah sosok-sosok yang cerdas, memiliki cara berpikir yang brilian.
Perempuan masa kini perlu merestrukturisasi cara berpikir, yakni membangun pikiran kritis dan selektif, tanpa menyerah, konstruktif, dan independen. Cara berpikir independen merupakan spirit bagi tiga cara berpikir sebelumnya. Kita harus independen dalam menangkap ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasul secara benar, karena akan menghasilkan karya-karya yang inovatif dan produktif dalam menghadapi persoalan. Sebaliknya jika selalu bergantung pada pemikiran orang lain maka kita hanya dijadikan robot-robot kehidupan.

Ilmu genetika membuktikan bahwa peran ibu sangat besar dalam memberikan kontribusi sifat kecerdasan pada sang anak, karena gen ini terletak pada lokus kromosom X yang dibawa oleh ibu. Dalam ilmu psikologi,emosi ibu hamil juga sangat mempengaruhi perkembangan janin. Dunia etika pun mengatakan bahwa kebiasaan yang dilakukan pada saat ibu hamil dan sewaktu mengasuh anaknya, akan mewarnai sikap anak kelak. Sungguh ini merupakan fakta yang tidak dapat ditolak. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya yang automatically juga memberi peran besar dalam pembangunan peradaban sosial dan politik umat manusia.

Perempuan yang siap menjadi ibu berarti siap mengemban tanggung jawab pendidikan sosial dan politik anak-anaknya, terutama pada usia 6 tahun pertama. Saat itulah hubungan anak dengan keluarga sangat erat. Meskipun lingkungan turut mempengaruhi watak sang anak, tapi karakter dan intelektualitas ibu tetap akan menentukan artikulasi sosial politik anak di kemudian hari. Ini berarti bahwa seorang ibu ikut andil dalam menentukan kebijakan anak negeri. Besarnya peranan ibu dalam mengubah peradaban dan mencetak kader-kader yang produktif juga setara dengan peranannya dalam merusak peradaban. Oleh karena itu, kaum perempuan harus dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun peradaban Islam agar tidak terjebak oleh suatu tujuan jangka pendek yang dapat menghancurkan tujuan jangka panjang.

Terkait dengan visi dan misi peradaban, ada tuntutan bagi para pemuda untuk mencari istri yang tepat, yaitu ibu yang mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan kecerdasan pikirannya dan keluhuran budi pekertinya. Dan bagi para perempuan, kita harus membekali diri untuk menjadi ibu yang dapat merubah peradaban dengan mempersiapkan generasi yang amanah. Ini merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi kaum perempuan. Titik tolak untuk mengeluarkan umat dari jatuhnya peradaban yang dilaluinya tidak akan dapat dilakukan kecuali dengan adanya partisipasi aktif perempuan dalam perbaikan dan pengembangan masyarakat. Agar madrasah ini mampu melahirkan jiwa-jiwa besar yang sesuai dengan jaman.

Masalah peran publik seorang perempuan, dalam realitas masyarakat masih nampak sesuatu yang dianggap tabu atau bahkan menakutkan bagi kalangan laki-laki, sebab bisa saja akan menggeser peran laki-laki dalam dunia publik. Padahal perempuan juga berpeluang besar untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan publik, karena pada dasarnya setiap orang atau warga negara berhak melakukan hal tersebut berdasarkan kemampuan dan wewenang yang dimilikinya. Salah satu konsekuensi dari era globalisasi adalah adanya persaingan atau kompetisi yang ketat antar individu. Oleh karena itu perempuan harus mampu berperan dalam segala bidang sehingga mampu bertahan dalam menghadapi ancaman dan tantangan globalisasi. Namun yang perlu diingat adalah segala gerak langkah perempuan tidak dapat terlepas dari peran para laki-laki, begitupun sebaliknya. Pada kondisi seperti ini perbedaan tugas dan tanggung jawab lebih cenderung berfungsi sebagai mitra untuk mencapai kesempurnaan goals yang kita tuju. #

Penulis adalah alumni Madrasah Aktifis Mahasiswa Rahima

Last modified on Thursday, 17 August 2017 16:17
Rate this item
(0 votes)