Santri Juga Manusia : Suplemen Edisi 50

27 Nov 2015 Suhmawardi
2942 times

Bagian Pertama

Pendahuluan : Santri Juga Remaja !


Ungkapan “Santri juga remaja!” adalah sebuah ungkapan dan harapan yang ingin mengembalikan dan membumikan kembali pandangan umum yang selama ini seolah tercerabut dari ruang kesadaran masyarakat. Problematika khas yang jamak terjadi dalam fase transisi kehidupan seorang anak menuju tahap dewasa kerapkali keberadaannya dianggap tidak ada pada kelompok remaja santri yang belajar di pesantren. Santri memang tinggal dan menetap di lingkungan sosial dimana norma-norma agama dan religiusitas dijunjung tinggi. Namun tidak berarti mereka menjadi aman dan bebas dari segala problematika remaja.

Mengabaikan kesadaran bahwa remaja santri juga remaja biasa telah membuat remaja yang belajar di pesantren (non-formal) maupun yang belajar di sekolah formal berbasis agama seperti madrasah kurang mendapatkan perhatian yang cukup berkaitan dengan isu-isu kesehatan reproduksi (kespro) dan seksualitas remaja. Padahal sejatinya remaja santri juga mengalami aneka persoalan sebagaimana remaja kebanyakan. Bahkan remaja santri memiliki kekhasan masalah tersendiri sebab mereka sehari-hari tinggal dan menetap di suatu lingkungan sosial yang berbeda dari kebanyakan remaja yang tinggal di rumah.

Maka itu penting untuk menempatkan kembali kesadaran yang tercerabut agar kelompok remaja santri juga mendapatkan perhatian yang cukup sehingga mereka bisa melalui fase transisi kehidupan remaja yang penuh gejolak itu. Terlebih lagi populasi remaja santri di Indonesia tidak dapat dibilang sedikit. Mengacu pada data sebagaimana dilansir dari situs kemenag.go.id menunjukkan bahwa ada 3.759.198 remaja santri dari total 63,4 juta populasi remaja Indonesia. Remaja santri itu tersebar di 27.230 pesantren di seantero wilayah Nusantara, mulai dari jenis pesantren tradisional (salafiyah), modern (khalafiyah), hingga kombinasi keduanya.

Oleh karena itu, sejumlah temuan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Rahima setidaknya dapat membuka kesadaran masyarakat luas bahwa remaja santri juga mengalami problematika remaja. Sekaligus apa yang telah dihasilkan dari penelitian juga dapat mendorong perhatian publik untuk tidak mengabaikan isu-isu kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja dari wilayah pesantren. Dengan perhatian yang cukup diharapkan remaja santri dapat melalui tahap kehidupan remajanya dengan baik dan sehat serta penuh prestasi. Amin.

1.1.    Seputar Penelitian Rahima
Tulisan ini sepenuhnya didasarkan pada hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan oleh Rahima di wilayah Jawa Timur pada 11-30 Januari 2015 silam. Selain bersandar pada data kuantitatif, beberapa bagian tulisan ini juga didasarkan pada hasil wawancara dengan para pengurus pesantren (pengasuh pesantren/kyai/ibu nyai, dan santri pengurus). Pengambilan data di lapangan dilakukan oleh tim Rahima yang terdiri dari AD Eridani, Maman Abdurrahman, Nurkhayati Aida, dan Mawardi. Selain itu, tim Rahima juga dibantu oleh beberapa mitra Rahima yang berada di wilayah penelitian seperti Mukani dan Fathurrohman (Jombang), Zulfi Zumala Dwi Andriyani (Banyuwangi), Anis Su’adah (Lamongan), Nailal Muna dan Achmat Mascurahman (Kediri). 

Penelitian yang telah dilakukan tersebut bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai pandangan, sikap, dan perilaku santri remaja putra maupun putri seputar kesehatan reproduksi dan kesehatan diri serta lingkungan. Jumlah santri yang menjadi responden sebanyak 1.046 santri (54,5 % laki-laki dan 43,4 % perempuan, 2,2 % tidak menjawab) berusia antara 11-24 tahun dengan latar belakang pendidikan baik pendidikan formal mulai MTs/SMP dan MA/SMA dan juga pendidikan non-formal seperti madrasah diniyah. Para santri responden tersebut berasal dari 27 pesantren yang ada di empat kabupaten: Jombang, Kediri, Lamongan, dan Banyuwangi. Pesantren-pesantren yang terlibat tidak semuanya memiliki lembaga pendidikan formal tetapi hanya memiliki pendidikan non-formal.

Berdasarkan kelompok usia santri responden sebagian besar adalah kelompok usia 14-16 tahun, lalu disusul berikutnya santri dengan kelompok usia 17-19 tahun, serta 11-13 tahun. Sementara kelompok usia lebih dari 20 tahun hanya sedikit jumlahnya, yakni tidak lebih dari 6 persen. Sementara itu, santri responden dilihat dari segi lama mondok rata-rata paling banyak adalah mereka yang telah tinggal atau mondok di pesantren antara 1-3 tahun. Mengenai latar belakang pendidikan formal orang tua mayoritas hanya pada tingkat MA/SMA. Dan sangat sedikit sekali, tidak lebih dari 6 persen, dari orang tua yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi.

Penelitian ini sendiri menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumennya. Sedangkan cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah proportionate random sampling yaitu teknik yang digunakan bila populasi memiliki unsur atau anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Dan untuk menentukan santri respondennya menggunakan sistem sampling sistematis, yaitu menentukan sampel berdasarkan urutan populasi yang telah diberikan nomor urut.

Terdapat beberapa hal yang perlu dicatat mengenai hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahima ini. Pertama, penelitian ini tidak dapat dilihat sebagai representasi dari keseluruhan santri maupun pesantren yang berada di Jawa Timur. Kedua, persebaran sampel atau responden tidak merata di tiap kabupaten. Dan terakhir, terdapat sejumlah kelemahan pada kuesioner sebagai pengukuran karena pengisian dilakukan oleh para santri sendiri sebagai subyek penelitian.

1.2.    Arus Informasi Santri
Penelitian yang dilakukan oleh Rahima ini sejak awal mengasumsikan bahwa para santri responden tidak memiliki pengetahuan komprehensif mengenai kesehatan reproduksi (kespro) dan seksualitas. Meski tidak memiliki pengetahuan komprehensif, tapi setidaknya mayoritas pernah mendengar mengenai informasi Kespro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas santri pernah mendengar mengenai informasi kesehatan reproduksi. Sumber utama informasi kesehatan reproduksi ini berasal dari sejumlah orang sebagaimana tampak pada grafik.

Guru merupakan sumber utama informasi santri mengenai kesehatan reproduksi. Guru menjadi gerbang uama dan tempat informasi bagi santri. Intensitas pertemuan antara santri dan guru menjadi poin utama. Santri sehari-hari lebih banyak di sekolah formal maupun madrasah diniyah/pengajian dimana sumber narasumber utama disitu adalah guru atau ustadz/ustadzah. Selain itu pada pesantren besar yang dilihat dari segi jumlah santrinya, biasanya intensitas pembelajaran antara para santri langsung dengan pengasuh atau kyai sangat sedikit sekali atau bahkan ada juga yang tidak sama sekali.

Dengan tingginya intensitas pertemuan dan kedekatan guru dengan santri menempatkan guru sebagai sumber utama aliran informasi masuk pada santri. Sedangkan dari posisi keluarga, orang tua tidak terlalu dominan dalam informasi santri kesehatan reproduksi. Ini tidak lain karena para santri mondok di pesantren sehingga intensitas pertemuan dengan orang tua sangat jarang sekali. Atau bahkan juga sebelum mereka masuk pesantren, orang tua memang tidak memberikan informasi dan pembelajaran tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Lebih lanjut, para santri responden merupakan juga kelompok remaja yang familiar dengan media sosial sebagaimana remaja pada masa kini. Meski ruang gerak akses internet sangat dibatasi dan bahkan terlarang di pesantren, faktanya mayoritas santri hampir 90 persen memiliki akun sosial media populer seperti Facebook dan Twitter serta Instragram. Santri menggunakan media sosial paling banyak dilakukan di waktu liburan atau meminjam HP siswa non-santri sewaktu di sekolah, atau juga ketika di luar. Kemudian juga ada yang mengakses karena pesantren membolehkan santrinya menggunakan internet dalam proses pembelajaran dengan waktu tertentu, khususnya santri yang bersekolah di kejuruan teknik informasi di SMK.

Namun demikian yang perlu digarisbawahi mengenai media sosial ini yaitu media sosial bagi santri responden bukanlah menjadi sumber utama santri dalam mendapatkan informasi kesehatan reproduksi. Hal itu sebagaimana terlihat dari aktivitas yang paling sering santri lakukan pada saat menggunakan media sosial: 1. Chatting, 2. Membaca status teman atau orang, 3. Menulis status, 4. Mencari teman, 5. Mencari tahu aktivitas teman, 6. Jual-beli online.

Demikian pendahuluan pada bagian ini, pada bagian berikutnya akan dibahas mengenai kehidupan santri di pesantren.*

Bagian Kedua

Menelisik Kehidupan Santri di Pesantren


Hidup bersama di pesantren bersama puluhan, ratusan, bahkan ribuan santri dalam jangka waktu lama menimbulkan sejumlah persoalan, khususnya masalah kebersihan lingkungan pesantren dan kebersihan diri santri. Pada satu sisi pesantren sebagai lembaga pendidikan agama dituntut untuk dapat menjadi cermin bagi penerapan dan manifestasi nilai dan ajaran Islam seperti kebersihan. Akan tetapi pada sisi lainnya, pesantren juga menghadapi sejumlah kendala dan tantangan.

Kendala dan tantangan itu antara lain: terbatasnya sumber daya pengurus, rendahnya kesadaran santri dalam menjaga kebersihan, hingga fasilitas dan infrastruktur yang kurang memadai dan mendukung bagi terciptanya lingkungan dan santri yang bersih dan sehat. Meskipun para santri mayoritas memahami dengan baik arti penting kebersihan berikut dalil-dalil agama seputar kebersihan, tapi pada kenyataannya pemahaman itu seringkali belum sejalan dengan praktik dan pola hidup santri sehari-hari di pesantren.

Pada bagian ini akan dibahas mengenai masalah kebersihan lingkungan seperti sampah, kebersihan kamar tidur, dan lainnya. Selain kebersihan lingkungan juga dibahas mengenai persoalan kebersihan yang berkaitan dengan diri para santri, khususnya kebersihan organ reproduksinya.

2.1. Kebersihan Lingkungan
2.1.1. Masalah sampah dan penanganannya.

Persoalan sampah menjadi salah satu masalah yang menjadi perhatian di lingkungan pesantren akibat didiami oleh banyak orang. Berbagai jenis sampah setiap harinya dihasilkan setiap hari mulai dari sisa-sisa makanan dan jajanan, sampah plastik, dedaunan, hingga sampah pembalut. Bila tidak ditangani dengan baik tumpukan sampah akan berdampak pada kebersihan lingkungan hingga masalah kesehatan santri.

Umumnya pengelolaan sampah-sampah yang dihasilkan dari lingkungan pesantren tersebut ditangani dengan cara-cara sederhana. Sampah dikumpulkan di beberapa tempat sampah sementara yang tersebar di lingkungan pesantren dan asrama untuk kemudian dikumpulkan dan dibuang secara berkala ke tempat pembuangan akhir pesantren. Dari informasi para pengurus pesantren, biasanya pengambilan sampah dari berbagai titik sementara tersebut dilakukan setiap hari di waktu pagi atau sore, seminggu sekali, dan ada juga diambil kapan pun tergantung pada volume sampah.

Di tempat pembuangan akhir, sampah-sampah yang ada kemudian dimusnahkan dengan beberapa cara. Cara yang paling dan sering banyak dilakukan adalah dengan cara dibakar. Berikutnya ada juga sampah yang dimusnahkan dengan cara dikubur atau dipendam. Selain dibakar dan dikubur, ternyata ada juga pesantren yang langsung membuang sampah ke sungai. Meski mayoritas sampah dibuang begitu saja, tapi ada juga beberapa pesantren yang melakukan pemilahan sampah lebih lanjut.

Seperti ada salah satu pesantren di Jombang yang melakukan pemilahan sampah plastik dari sampah-sampah lainnya. Sampah plastik tersebut dikumpulkan dan dibersihkan untuk kemudian dijual. Di samping itu, ada juga yang pesantren yang mengolah sampah pesantren menjadi bahan dasar pupuk kompos. Seperti satu pesantren di Lamongan yang memiliki tempat pembuangan akhir di sebuah gunung milik pesantren. Sampah ditimbun di lubang bekas bidang tanah yang telah dikeruk tanahnya untuk dijadikan bahan timbunan pembangunan atau untuk urukan. Bila lubang itu telah penuh barulah sampah ditimbun dengan tanah dan dibiarkan untuk beberapa lama. Setelah itu dikeruk untuk dijadikan pupuk tanaman.

Selain itu sesungguhnya inisiasi pengelolaan sampah lebih lanjut juga ada di beberapa pesantren lainnya. Akan tetapi hal itu kemudian mandegk, tidak berjalan sebab tidak ada petugas khusus yang mengelolanya.

Adapun petugas kebersihan yang menangani masalah sampah di mayoritas pesantren adalah para santri sendiri, baik itu santri biasa maupun santri pengurus.   Hampir tidak ditemui pesantren yang menggunakan petugas khusus non-santri yang dibayar untuk membersihkan lingkungan. Kendati begitu, ada satu pesantren di Banyuwangi pernah menggunakan petugas kebersihan non-santri. Itu dilakukan agar santri dapat lebih fokus belajar.

Namun apa nyana! Justru keberadaan petugas kebersihan non-santri itu malah terbilang tidak efektif bagi kondisi kebersihan lingkungan pesantren. Karena para santri di pesantren menjadi merasa tidak bertanggungjawab untuk ikut menjaga kebersihan. Mereka membuang sampah sembarang sebab dianggap telah ada petugas yang akan membersihkannya. Oleh karena itu, keberadaan petugas kebersihan non-santri itu akhirnya ditiadakan.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan dan asrama,  para santri diwajibkan untuk melakukan piket yang dilakukan secara rutin. Untuk kebersihan lingkungan dan halaman piket dilakukan setiap dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Pengurus pesantren yang biasanya mengatur dan membagi tugas piket dan penjadwalan giliran para santri. Aturan kebersihan biasanya diikuti dengan sanksi atau ta`zir. Akan tetapi ada juga pesantren yang tidak memiliki aturan khusus mengenai kebersihan seperti terjadi di satu pesantren di Kediri. Menjaga kebersihan dilakukan secara sukarela, namun ini biasanya berlaku pada pesantren dengan jumlah santri yang sedikit.

Selain membuat aturan untuk menjaga kebersihan, ada juga pesantren yang melakukan terobosan dengan cara tertentu. Seperti pesantren di Jombang yang menerapkan sistem “kresekisasi” untuk menjaga agar para santri tidak membuang sampah di sembarang tempat. Sistem ini mewajibkan santri untuk membawa kantong kresek pada waktu jam sekolah. Kantong kresek itu menjadi wadah sementara bagi santri yang nantinya dikumpulkan untuk dibuang ke tempat sampah sementara.

Upaya-upaya lain yang dilakukan oleh pengurus yaitu melakukan pengawasan dan kontrol secara rutin. Selain itu pengurus juga melakukan himbauan, anjuran, wejangan, hingga penyuluhan kepada para santri untuk menjaga kebersihan dirinya serta lingkungannya. Biasanya hal itu tidak bersifat rutin dan biasanya dilakukan pada momen seperti usai shalat berjamaah, acara malam Jumatan, dan sebagainya.

2.1.2. Penanganan Sampah pembalut.
Di antara berbagai jenis sampah pesantren, ada salah satu jenis sampah yang menjadi perhatian pesantren, yaitu sampah pembalut. Sampah pembalut memang dinilai perlu perhatian khusus dalam penanganannya. Penanganan terhadap sampah ini amat penting karena mengandung bakteri dari sisa darah yang melekat dan termasuk jenis sampah yang tidak dapat hancur dengan sendirinya. Masalah sampah pembalut ini memang kerap menimbulkan masalah bagi pengurus pesantren. Khususnya pesantren yang memiliki jumlah santri perempuan cukup banyak. Seperti satu pesantren di Banyuwangi dengan jumlah santri mencapai 2000-an. Bayangkan saja bila dalam satu hari ada setengah santri perempuan sedang menstruasi, maka berapa banyak sampah pembalut yang dihasilkan?

Mengenai persoalan pembalut ini ada beberapa pesantren memiliki aturan khusus tapi beberapa lainnya tidak memiliki. Adapun pesantren yang memiliki aturan khusus salah satunya di pesantren di Kediri melarang penggunaan pembalut pabrikan sekali pakai. Sebagai gantinya pihak pesantren mengharuskan para santrinya menggunakan pembalut khusus yang dibuat oleh pesantren dari bahan kaos yang lembut yang bisa dicuci ulang dan digunakan kembali. 

Di samping itu ada pesantren yang khusus menangani persoalan sampah pembalut ini dengan cara ditimbun dalam satu lobang sampah khusus untuk sampah pembalut. Santri dilarang membuang sampah sembarangan di luar area pesantren. Karena pernah ada satu pesantren di Lamongan mendapat teguran dari petani pemilik sawah sekitar pesantren lantaran didapati sampah pembalut di sawah mereka. Karena dua hal tersebut, pesantren lalu membuat aturan, santri putri dilarang menggunakan pembalut produksi pabrik. Sebagai gantinya, pihak pesantren menyediakan handuk kecil ukuran segi empat yang digunakan santri putri sebagai pembalut.

Sebagian besar pesantren, mewajibkan sampah pembalut sebelum dibuang agar dicuci terlebih dahulu dari sisa darah. Jika merasa jijik mencuci pakai tangan bisa menggunakan kaki. Bagi yang tidak mengindahkan aturan ini biasanya diberi ta`zir yang betuknya bermacam macam, mulai dari denda berupa uang, piket, hingga ada juga yang dibuat jera dan malu pelakunya dengan dijemur di asrama santri laki-laki sambil menenteng papan keterangan kesalahannya seperti dilakukan salah satu pesantren di Jombang. Setelah dicuci bersih, sampah pembalut dikumpulkan di tempat sampah sementara yang diletakkan di kamar mandi dan ada juga di kantong kresek khusus di depan kamar. Untuk tempat dan cara pembuangan tidak ada perbedaan dengan sampah lainnya. Hanya bedanya sampah pembalut rata-rata dibakar.

2.1.3.    Kebersihan kamar tidur dan MCK.
Selain persoalan kebersihan lingkungan dan halaman pesantren, hal yang menjadi sorotan juga adalah kebersihan ruang kamar tidur dan fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Di pesantren, santri tinggal dalam sebuah kamar, bilik, atau gotakan. Sebagian besar ruang kamar di pesantren sudah berbentuk bangunan permanen. Hanya segelintir pesantren saja yang masih memiliki ruangan kamar santri berupa bangunan semi-permanen, bahkan ada juga yang masih ada kamar gubuk bambu.

Rata-rata di pesantren yang diteliti kapasitas ruang kamar tidak sebanding dengan jumlah santri atau penghuni kamar. Antara satu pesantren dengan lainnya perbandingan luas kamar dan jumlah penghuninya bervariasi. Tetapi pada intinya semuanya tidak memiliki ruang kamar yang memadai dari segi jumlah santri.  Seperti misalnya ada satu pesantren yang memiliki luas kamar sebesar 2x2 m2 diisi oleh 16 santri, 3x2 m2 diisi 12-13 santri, 4x4 m2 diisi 10 santri, 5x5 m2 diisi 8 santri, 7x5 m2 diisi 25-30 orang, 7x6 m2 diisi 10 santri, dan bahkan ada kamar berukuran 5x4 m2 diisi oleh 40 santri.

Kepadatan jumlah penghuni kamar memang menjadi perhatian serius bagi pesantren. Dari sudut pandang santri sendiri sesungguhnya mayoritas mendukung perlunya ketersesuaian antara luas kamar dengan jumlah penghuninya. Semua pesantren sejatinya juga memiliki harapan yang sama dengan pandangan para santri tersebut. Akan tetapi selain keterbatasan finansial sehingga hanya mampu menyediakan fasilitas dan infrastrukur yang sederhana, pesantren juga memiliki tanggung-jawab moral untuk tidak boleh menolak santri yang ingin belajar meski sudah tidak memadai lagi. Siapapun yang datang untuk thaolabul ilmi di pesantren tidak pernah ditolak, berapapun nilai si calon santri dan apapun latarbelakangnya. Dengan prinsip semacam itu pada akhirnya membawa dampak pada ketidaksesuaian antara fasilitas dan infrastruktur yang ada dengan jumlah santri

Dengan kondisi keterbatasan di pesantren seperti di atas, kamar tidur santri pada umumnya hanya menjadi tempat untuk menaruh barang, baju dan perlengkapan santri. Untuk tidur para santri kebanyakan memilih tidur di berbagai ruangan yang ada di lingkungan pesantren, seperti masjid, mushala, aula, ruang kelas, dan lain-lain. Sebagian besar santri tidak menggunakan alas tidur dari kasur. Umumnya yang digunakan untuk alas tidur adalah sajadah, sarung, karpet, tikar, dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit santri yang tidur langsung di lantai tanpa alas apapun. Sementara itu santri yang menggunakan kasur pun hanya segelintir santri saja. Jenis kasur pun sebatas kasur lipat dan penggunanya terbatas di kalangan santri putri dan santri tingkat madrasah ibtidaiyyah atau usia kanak-kanak atau di pesantren yang memiliki model pendidikan kelas unggulan.

Sebagaimana ruangan kamar, kondisi fasilitas MCK juga tak jauh berbeda. Jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah santri. Pada beberapa pesantren bahkan tidak memiliki fasilitas kamar mandi yang cukup sehingga santri, khususnya santri laki-laki, mandi di sungai atau di kolam besar. Untuk menjaga kebersihan fasilitas MCK hampir semua pesantren membuat jadwal rata-rata seminggu satu kali. Biasanya kerja membersihkan kamar mandi dan WC dilakukan pada hari Jumat pagi (jadwal libur kebanyakan pesantren). Nyaris tidak ada jadwal piket untuk MCK yang dilakukan setiap hari. Kalau toh pun dilakukan piket pada selain hari Jumat biasanya ketika ada tamu dari luar pesantren.

2.2. Kebersihan dan Kesehatan Diri Santri
2.2.1. Kebersihan alat reproduksi

Organ reproduksi laki-laki maupun perempuan memerlukan perhatian yang baik agar kesehatan dan kebersihannya senantiasa terjaga. Untuk itu perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana cara merawat dan menjaga kesehatan organ reproduksi agar dapat berfungsi dengan baik dalam proses reproduksi nantinya. Terlebih lagi bagi para santri yang tinggal di pesantren sangat perlu untuk mengetahui informasi yang tepat karena mereka tinggal dan hidup bersama di pesantren bersama banyak orang lain yang seringkali tidak peduli dengan masalah kebersihan. Berbeda halnya jika tinggal di rumah yang lebih terjaga kebersihannya, baik kamar tidur, kamar mandi, air, hingga lingkungan rumah.

Setiap kali usai  buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB) tangan dan alat kelamin harus dibersihkan dengan sabun dan air yang bersih. Bagi santri putri hendaknya membersihkan daerah alat kelamin dengan arah dan cara yang tepat yaitu dari arah depan ke belakang. Sebagian besar santri responden telah dapat memahami cara yang benar dalam membersihkan daerah alat kelamin dengan baik. Akan tetapi hanya sebagian kecil saja santri yang mengeringkan organ reproduksi dengan handuk setelah BAK ataupun BAB.

Agar organ reproduksi senantiasa terjaga kebersihannya maka rambut-rambut di sekitar organ reproduksi (pubis) perlu rutin dicukur atau dirapihkan. Sebanyak 61 persen santri perempuan dan 59 persen santri laki-laki mengaku secara rutin mencukur atau merapihkan rambut-rambut di sekitar kemaluannya. Artinya terdapat 40 persen santri yang jarang melakukan perawatan untuk menjaga kesehatan organ reproduksinya sendiri.

Di samping itu, untuk merawat kesehatan organ reproduksi juga harus mengetahui jenis bahan yang tepat bagi kesehatan organ reproduksi. Karena ada beberapa jenis bahan pakaian dalam yang tidak baik untuk kesehatan reproduksi seperti bahan dari karet atau nilon. Penggunaan celana dalam juga diharuskan tidak terlalu ketat agar peredaran darah dapat lancar. Dari data penelitian masih ada sebagian kecil santri yang menggunakan bahan celana dalam dari bahan karet/nilon dan juga menggunakan celana dalam yang ketat.

Terkait pembalut, santri perempuan yang mengalami menstruasi, sebanyak 54,9 persen atau 202 mengaku mengganti pembalut dalam sehari 4 sampai 5 kali. Dan yang mengatakan kurang dari itu jumlahnya mencapai 45,1 persen atau 166 orang.

Selain menjaga dan merawat sendiri organ kesehatan reproduksi, upaya mengobati organ reproduksi ataupun memeriksakannya ke tenaga ahli atau dokter juga penting dilakukan bila terjadi sesuatu. Terlebih lagi kondisi lingkungan dan air mandi di pesantren ummnya kurang terjaga kebersihannya sehingga para santri sangat rentan mengalami gatal-gatal, khususnya di bagian alat kelamin.

Dari hasil penelitian menunjukkan sebagian besar santri yang mengalami gatal-gatal pada alat kelaminnya cenderung lebih memilih mengobati sendiri. Akan tetapi lain halnya jika alat kelamin mengalami lecet maka pergi ke dokter baru menjadi pilihan. Tercatat ada 83 persen santri perempuan dan 76 persen santri laki-laki yang memilih pergi ke dokter jika alat kelamin mengalami lecet.

Sedangkan untuk santri yang melakukan pemeriksaan dan deteksi kanker organ reproduksi nyaris mayoritas tidak ada yang melakukannya secara rutin. Hanya ada tujuh persen dari santri perempuan saja yang melakukan hal tersebut secara rutin.

2.2.2. Penyakit Scabies dan Keputihan
Salah satu konsekuensi dari kondisi lingkungan dan pola hidup santri yang kurang terjaga kebersihannya adalah rentan terkena penyakit gatal-gatal yang disebut dalam istilah medis dengan scabies. Penyakit scabies disebabkan virus scabies yang umumnya hidup di tempat yang kurang terjaga kebersihannya. Santri di pesantren menyebut scabies dengan istilah populer gudiken. Penyakit gudiken terbilang penyakit paling banyak menyerang para santri, baik santri laki-laki maupun perempuan.

Dari sejumlah wawancara dengan para pengurus pesantren terungkap bahwa santri yang terkena scabies umumnya santri baru dan santri tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah karena kurang dapat menjaga dan kurang memiliki kepedulian dengan kebersihan dan kerapihan dirinya sehingga pola hidupnya cenderung lebih jorok. Berbeda halnya dengan santri yang lebih dewasa yang telah dapat menjaga dan peduli dengan kebersihan diri sehingga lebih sedikit yang terkena penyakit gudik. Mengacu pada data hasil penelitian mengungkapkan sejumlah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para santri yang membuat mereka lebih rentan terserang penyakit gudik. Kebiasaan-kebiasaan itu antara lain:   

  • Meminjam atau bertukar pakaian, handuk, sabun milik teman.
  • Mandi tanpa menggunakan sabun mandi.
  • Tidak mandi setelah aktivitas berolahraga.
  • Tidur di lantai atau alas tidur yang kotor.
  • Air kolam yang kurang bersih karena hanya seminggu sekali dikuras.
  • Dll.


Dalam menangani gudik ini, pengurus pesantren sudah melakukan sejumlah upaya dan langkah. Di antaranya ada satu pesantren di Jombang yang secara khusus mendatangkan dokter untuk memeriksa kondisi dan mencari cara agar santrinya tidak terserang gudik. Meskipun langkah itu belum berhasil memberantas keberadaan penyakit gudik.

Namun secara umum, sesunguhnya tidak ada penanganan dan pencegahan khusus terhadap penyakit gudik. Hal itu tidak terlepas dari pandangan sebagian besar pengurus pesantren yang masih memandang gudik sebagai suatu penyakit khas santri. Bahkan tidak sedikit yang mengutarakan bahwa seseorang tidak sah menjadi santri di pesantren bila belum terkena gudik. Dengan kesadaran semacam itu, maka semangat memberantas sumber-sumber penyebab gudik tidak menjadi perhatian penting bagi pengurus pesantren.
Untuk masalah keputihan yang dialami santri perempuan menunjukkan data yang mengkhawatirkan. Hampir sebagian besar santri perempuan yakni sebanyak 70,2 atau 391  orang mengalami keputihan. Dari 391 santri tersebut, sebanyak 184 santri perempuan mengaku bahwa keputihannya itu berwarna, berbau dan terasa gatal.

2.2.3. Poskestren dan Ikhtiar Pesantren.
Pengurus pesantren sesungguhnya telah melakukan berbagai upaya berkaitan dengan masalah kesehatan santri. Misalnya dengan bekerjasama dengan lembaga pemerintah maupun organisasi masyarakat hingga lembaga swadaya masyarakat. Misalnya Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) yang merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kemenkes menjadikan Poskestren sebagai salah satu upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) yang memberikan layanan promotif dan preventif, kuratif dan rehabilitatif di pesantren. Tidak semua pesantren yang terlibat dalam penelitian memiliki Poskestren. Hanya segelintir saja yang memiliki Poskestren. Jumlahnya tak lebih dari tujuh dari 27pesantren yang terlibat. Umumnya pesantren yang memiliki Poskestren adalah pesantren-pesantren besar dari segi jumlah santri dan tata kelola pesantren yang baik. Atau juga pesantren yang pengasuhnya ataupun alumninya adalah tokoh terpandang di daerahnya dan memiliki banyak jaringan.

Mengenai kondisi dan aktivitas Poskestren di pesantren bervariasi di sejumlah pesantren yang diteliti. Pertama, Poskestren menjadi tempat transit, perlintasan, dan ruang isolasi bagi santri yang sakit. Kedua, ada Poskestren yang dari segi layanan hanya memberikan kuratif yakni pengobatan.

Lebih lanjut, kesadaran pengurus pesantren merupakan komponen penting dalam mewujudkan kondisi lingkungan pesantren maupun kondisi diri santri yang bersih dan sehat, khususnya kesehatan reproduksinya. Dapat disebut misalnya salah satu pesantren besar yang juga terlibat dalam penelitian sekaligus juga peserta program PKRS Rahima di Banyuwangi yang terbangun kesadaran santri dan pengurusnya mengenai kesehatan diri dan kebersihan santri. Pengurus pesantren menginiasi adanya iuran kesehatan sebesar Rp 2000 rupiah yang terintegrasi dalam SPP bulanan santri.  Sebelumnya tidak ada perhatian dan kesadaran mengenai iuran kesehatan santri.

Kesadaran lain yang bersemai akibat PKRS, yaitu dibuatnya peraturan khusus berkaitan dengan persoalan sampah pembalut. Isi peraturan itu mengharuskan agar sampah pembalut dibersihkan terlebih dahulu dari darah sebelum dibuang ke tempat sampah. Sebelumnya sampah pembalut dibuang begitu saja tanpa dibersihkan terlebih dahulu. Peraturan itu mungkin terlihat sepele.  Tapi bagi pesantren dengan jumlah santri perempuan yang mencapai 2000-an itu adanya peraturan menjadi hal yang sangat penting dan bermanfaat. Sebab dalam sehari saja terdapat sekitar 700 santri perempuan yang mengalami menstruasi. Bisa dibayangkan berapa banyak  volume sampah pembalut yang dihasilkan.

Menurut sejumlah pengurus pesantren, jalinan kerjasama pesantren terkait Poskestren dengan pemerintah yakni Dinas Kesehatan umumnya berujung pada bantuan fisik Poskestren dan fasilitasnya. Setelah itu tidak kelanjutan lagi dan pengelolaan menjadi urusan pesantren sepenuhnya. 
Selain Poskestren, pihak pesantren juga menjalin kerjasama dengan pihak Puskesmas setempat. Di antaranya pada setiap tahun ajaran baru pihak Puskesmas melakukan survei pemeriksaaan tentang kesehatan fisik santri utamanya santri baru. Ini dilakukan secara berkala di salah satu pesantren di Lamongan dan Jombang. Sementara itu salah satu pesantren di Jombang juga menjalin kerjasama untuk pengadaan tenaga kesehatan di Poskestren yang telah ada.

Di samping itu, ada juga yang bersifat insidental seperti penyuluhan mengenai penggunaan dan pemakaian pembalut bagi santri perempuan seperti di salah satu pesantren di Jombang. Namun tidak semua santri dilibatkan dalam penyuluhan tapi terbatas pada santri pengurus utamanya divisi atau seksi yang menangani kesehatan asrama. Selepas itu, barulah kemudian para pengurus itu menyambungkan informasi yang mereka dapat kepada seluruh santri perempuan.

Akan tetapi upaya-upaya pesantren mewujudkan lingkungan dan diri santri yang bersih dan sehat mayoritas lebih merupakan upaya swadaya dan mandiri pengurus pesantren. Untuk ketersediaan obat-obatan bagi santri yang sakit, para santri ditarik iuran dengan jumlah yang tidak lebih dari ribuan rupiah saja per bulan. Begitupun dengan pengadaan fasilitas sanitasi bagi santri dilakukan secara mandiri dengan mengumpulkan berbagai bantuan dari para donatur. Atau juga pesantren mengembangkan pusat kesehatan sendiri yang telah ada seperti UKS (Unit Kesehatan Sekolah).
Pesantren juga mendorong tumbuhnya kesadaran dari para santri sendiri dengan memberi ruang bagi santri untuk terlibat kelompok remaja seperti dalam PIK-KKR versi pemerintah, atau juga mendirikan organisasi santri tersendiri. Dan juga masih ada lainnya.*


Bagian Ketiga
Seputar Perilaku Seksual Santri

Perilaku seksual adalah tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai melakukan onani atau masturbasi, berciuman, hingga berhubungan seksual. Pada bagian ini akan dibahas mengenai aktivitas dan perilaku seksual santri.

3.1.    Keragaman Orientasi Seksual Santri
Orientasi seksual dipahami sebagai ketertarikan seseorang terhadap orang lain. Ada beberapa jenis orientasi seksual, yaitu homoseksual, heteroseksual, dan biseksual. Homoseksual merupakan ketertarikan terhadap sesama jenis seperti laki-laki terhadap laki-laki, perempuan terhadap perempuan (disebut dengan istilah lesbian). Kebalikan dari homoseksual yaitu heteroseksual yang dipahami sebagai ketertarikan terhadap lain jenis seperti perempuan terhadap laki-laki atau sebaliknya. Dan yang terakhir, biseksual dipahami sebagai orang yang memiliki ketertarikan, baik pada sesama jenis maupun lain jenis.

Hasil penelitian menunjukkan orientasi seksual santri responden tidak melulu seratus persen hetero. Jumlah santri perempuan yang hetero sebanyak 62,9 persen atau 358 orang, dan jumlah santri laki-laki hetero sebanyak 66,9 persen atau 303 orang. Sedang santri laki-laki dengan orientasi seksual homo jumlahnya sebanyak 2,9 persen atau 13 orang dan pada santri perempuan sebanyak 2,5 persen atau 14 orang. Khusus data santri dengan orientasi biseksual pada santri perempuan jumlahnya cukup banyak yakni sebesar 4,9 persen atau 28 orang. Sementara pada santri laki-laki sebanyak 2,2 persen atau 10 orang.

Dari data tersebut di atas sesungguhnya hanyalah menegaskan tentang seseorang dengan kecenderungan hasrat pada sesama jenis sebagai sesuatu yang eksistensial, nyata, dan ada sepanjang dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia pesantren. Misalnya, hubungan yang didasari ketertarikan pada sesama jenis di kalangan santri laki-laki misalnya populer disebut oleh para santri, khususnya di pesantren Jawa Timur, dengan istilah mairil atau mairilan.

Akan tetapi mairil biasanya juga dipakai untuk menyebut santri laki-laki junior yang berparas ganteng, imut, dan putih, atau dalam istilah kitab kuning dikenal isitlah amrod. Selain itu, ada juga pendapat yang menyebut kata mairil sebagai plesetan dari bahasa Arab, mar`atul lail, maksudnya laki-laki yang menjelma menjadi ‘perempuan’ di waktu malam.

Santri mairil ini menjadi objek ketertarikan seksual dari santri yang dikenal dalam istilah santri dengan warok, yakni santri yang memiliki kecenderungan seksual pada sesama jenis. Aktivitas untuk melampiaskan hasrat seksual yang dilakukan oleh santri warok terhadap santri mairil biasanya disebut dalam istilah santri dengan nama sempetan atau nyempet. Perilaku sempetan paling umum adalah dengan menggesek-gesekkan penis ke bagian pantat atau paha santri mairil atau juga memegang-megang penis si mairil. Itu biasanya dilakukan secara diam-diam di malam hari sewaktu korban tidur. Akan tetapi ada juga yang melakukannya didasari atas hubungan suka-sama suka.

Keberadaan ragam orientasi seksual santri tidak terlepas dari kondisi dan pola kehidupan santri di pesantren. Dimana para santri hidup bersama dengan sesama jenis dalam jangka waktu yang lama, pelarangan menjalin hubungan pacaran, ruang gerak yang dibatasi untuk bersosialiasi dengan lawan jenis bahkan ada juga yang tidak ada sama sekali, dan lain-lain. Semua itu menjadi latarbelakang bersemainya hasrat seksual santri pada jenis kelamin yang sama. Karena orientasi seksual sesungguhnya sangat cair dan bisa berubah tergantung kondisi. Disini faktor lingkungan sosial ikut memengaruhi orientasi seksual santri.

Selain ketiga jenis orientasi di atas, ada sekitar 2,7 persen dari total santri responden yang tidak menjawab dan 1,6 persen santri yang menjawab “lain-lain”, yakni selain orientasi yang disebutkan. Melihat pola para santri responden yang cenderung mengosongkan jawaban pada pertanyaan-pertanyaan sensitif, ada kemungkinan peta data orientasi seksual santri di atas dapat berubah. Kemungkinannya bisa jadi santri homo dan biseks jumlahnya lebih dari dua persen.

Asumsi tersebut didasari bahwa seseorang biasanya malu atau takut diketahui pihak lain bila dirinya memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan orang kebanyakan. Di samping itu, dapat disebut bahwa santri responden yang tidak menjawab atau mengosongkan jawaban terdapat kecenderungan bersifat kesengajaan. Bukan karena mereka tidak mengerti mengenai arti ketiga jenis orientasi tersebut sebab sudah terdapat keterangan yang mudah dimengerti pada poin pertanyaan  sekaligus juga ada panduan dari peneliti di lapangan.

3.2.    Akses Terhadap Media Pornografi

Masa remaja sebagai masa transisi salah satunya ditandai dengan rasa ingin tahu remaja pada hal-hal berbau seksual. Sebagaimana remaja pada umumnya, remaja santri juga mengalami hal-hal serupa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata banyak santri yang mengakses media pornografi meskipun hidup di lingkungan pesantren. Dari segi jenis kelamin santri laki-laki cenderung paling aktif dibandingkan perempuan dalam mengakses media pornografi, baik film porno maupun buku atau majalah porno.

Jumlah santri laki-laki yang mengaku pernah menonton film porno sebanyak 70 persen atau 317 orang, sedangkan perempuan sebanyak 42,7 persen atau 243 orang. Kemudian untuk yang membaca buku porno jumlah santri laki-laki sebanyak 56,5 persen atau 256 orang dan pada perempuan sebanyak 43,8 persen atau 249 orang. Dari data tersebut terlihat perbedaan yang cukup jelas bahwa santri laki-laki cenderung melampiaskan rasa penasarannya terhadap hal-hal berbau seksual dengan menonton film porno dibandingkan membaca buku atau majalah porno. Sedangkan pada santri perempuan cenderung relatif sama jumlahnya pada aktivitasnya antara menonton maupun membaca buku porno.

Mengenai tempat favorit untuk menonton atau mengakses film porno terdapat perbedaan antara santri laki-laki dan perempuan. Warnet menjadi tempat favorit bagi santri laki-laki, tetapi menjadi pilihan terakhir bagi santri perempuan. Santri perempuan paling banyak menonton di rumah temannya. Perbedaan pilihan tidak terlepas dari radius keluar santri laki-laki biasanya lebih luas ketimbang santri perempuan. Disamping itu, waktu keluar santri laki-laki biasanya lebih leluasa dibandingkan santri perempuan yang umumnya lebih ketat dan terbatas pada hari libur saja.

Sementara untuk bacaan buku atau majalah porno umumnya diperoleh dengan cara meminjam, baik pada santri laki-laki (59,5%) maupun pada santri perempuan (74,7%). Akan tetapi tidak sedikit juga santri yang rela mengeluarkan uang untuk membeli buku atau majalah porno demi memenuhi rasa penasarannya itu. Untuk yang membeli, santri perempuan cenderung lebih tinggi jumlahnya sebesar 6,6 persen dibanding santri laki-laki yang hanya 2,4 persen saja.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana remaja santri dapat mengakses media pornografi padahal mereka tinggal di pesantren? Mengenai hal tersebut ada beberapa kemungkinan: sewaktu mereka sedang izin keluar pesantren untuk membeli keperluan, pulang ke rumah, main ke rumah teman, atau sekedar jalan-jalan. Karena tidak semua pesantren menerapkan aturan yang ketat terhadap santri perihal izin keluar pesantren. Terlebih lagi tidak semua pesantren terpisah oleh tembok dengan masyarakat dimana santri juga bebas membaur.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan santri menonton film porno di pesantren. Karena ada jawaban keempat yaitu “lain-lain” selain tiga tempat di atas yang jumlahnya juga cukup banyak. Dari perbincangan dengan para santri, mereka mengakui bahwa ada santri yang menonton film porno melalui telepon genggam sewaktu jam istirahat sekolah.

Hal tersebut dimungkinkan karena sejumlah sekolah formal di pesantren menerima siswa yang berasal dari masyarakat sekitar pondok dimana mereka hanya bersekolah dan juga tidak mondok. Para siswa dari luar ini biasanya membawa handphone (HP) karena memang tidak semua pesantren atau sekolah menerapkan aturan ketat tentang pelarangan membawa HP di lingkungan sekolah.

Di samping menonton melalui HP, kemungkinan lainnya adalah menonton melalui laptop. Karena di beberapa pesantren yang model pendidikannya berbasis akses internet, para siswa boleh membawa laptop.

3.3.    Onani / Masturbasi
Mudahnya para remaja mengakses media pornografi sesungguhnya dapat mendorong dan membangkitkan hasrat seksual. Sebagian remaja mungkin ada yang bisa menahan hasrat seksualnya. Akan tetapi sebagian lainnya boleh jadi tidak. Nah remaja yang tidak dapat menahan hasrat seksualnya biasanya melampiaskannya melalui onani/masturbasi (selanjutnya disebut onani saja) karena menganggap resikonya lebih kecil dibanding melakukan hubungan seksual.

Onani dipahami sebagai suatu rangsangan yang bersifat lokal pada alat kelamin yang sengaja dilakukan untuk mencapai kenikmatan atau kepuasan seksual tanpa melakukan senggama. Istilah onani dalam kitab kuning dikenal dengan istilah al-istimta`u bi al-yad, mencari kenikmatan seksual dengan tangan, istimta’, dan lain-lain. Selain itu, ada juga istilah lokal seperti ngocok, ngoclok, lima satu, lima satu kosong, dan ngocro. Dari istilah-istilah tersebut, istilah atau sebutan lokal lebih populer di kalangan remaja santri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja santri juga melampiaskan hasrat seksualnya melalui onani. Santri laki-laki cenderung paling banyak melakukan onani dibandingkan santri perempuan. Sebanyak 30,9 persen atau 140 santri laki-laki pernah melakukan onani. Sebaliknya santri perempuan justru yang melakukan onani jumlahnya hanya sedikit, yakni 4,6 persen atau 26 orang. Mayoritas santri perempuan mengaku tidak pernah melakukan onani dimana jumlahnya mencapai 84,5 persen atau 481 orang.

Intensitas remaja santri melampiaskan hasrat seksualnya melalui onani bervariasi. Rata-rata remaja santri melakukan onani sebanyak satu kali setiap dua minggu sekali sampai satu bulan sekali. Di urutan kedua, ada yang melakukannya satu hingga tiga kali dalam rentang waktu seminggu. Dan bahkan ada juga yang sampai melakukannya lebih dari tiga kali dalam seminggu.

Dari hasil data silang antara santri yang melakukan onani dengan aktivitas menonton film porno dan membaca buku porno terungkap fakta yang cukup memprihatinkan. Dari fakta itu menunjukkan mayoritas santri yang melakukan onani adalah mereka yang pernah mengakses media pornografi, baik film maupun buku. Hal itu sebagai hasil data silang berikut:

•    Dari 140 santri laki-laki yang pernah onani:
◊ sebanyak 93,6 persen di antaranya juga pernah menonton film porno.
◊ sebanyak 75,7 persen di antaranya adalah mereka yang juga pernah membaca buku porno.
•    Dari 26 santri perempuan yang pernah onani:
◊  sebanyak 76,9 persen di antaranya juga pernah menonton film porno dan membaca buku porno.


3.4.    Perilaku Berpacaran Santri
Perilaku pacaran remaja santri juga diwarnai dengan berbagai aktivitas seksual seperti berciuman, meraba tubuh pasangan, bahkan juga ada yang sampai melakukan aktivitas seksual beresiko seperti oral seks hingga berhubungan seksual.

Pacaran remaja pada masa kini memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja, khususnya remaja santri dimana 58 persen atau 605 santri, yakni setengah lebih dari total responden mengaku pernah berpacaran sebagaimana bisa dilihat pada grafik. Dari 605 yang berpacaran, perempuan sebanyak 312 orang (53,4 %) dan laki-laki sebanyak 272 orang (46,6 %).

Tidak sedikit dari santri yang beranggapan melakukan pacaran agar disebut remaja gaul, dan ada juga yang tidak. Santri laki-laki umumnya yang cenderung sepakat bahwa pacaran itu tanda remaja gaul. Santri perempuan justru cenderung menolak. Tercatat sebanyak 25 persen santri laki-laki yang mengakui setuju dan sangat setuju terhadap pandangan demikian. Sementara jumlah santri perempuan setuju dan sangat setuju jumlahnya jauh lebih sedikit yakni hanya 13 persen.

Mengenai apa saja yang dilakukan oleh santri sewaktu pacaran mengungkapkan suatu kenyataan yang mengkhawatirkan. Dimana perilaku berpacaran santri diwarnai dengan berbagai aktivitas seksual mulai dari yang tidak beresiko sampai perilaku seksual yang beresiko seperti hubungan seksual. Hal itu sebagaimana terlihat pada data tentang perilaku berpacaran santri pada grafik di bagian bawah.

Dari data di atas tampak apa saja yang dilakukan oleh santri sewaktu berpacaran mulai dari yang paling ringan resikonya seperti berpegangan tangan hingga paling berat resikonya yaitu berhubungan seksual. Meskipun hanya segelintir saja yang melakukan perilaku seksual beresiko, tapi angka itu tetaplah menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Sebab mereka telah melakukan hubungan seksual beresiko dan tidak bertanggungjawab, tidak sehat dan tidak aman, dan bertentangan dengan ajaran agama.

Dan juga yang paling mengkhawatirkan adalah melihat gejala umum aktivitas berpacaran santri yang banyak diwarnai dengan aktivitas seksual dimana hal tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju ke tahap perilaku seksual yang lebih beresiko.

Mengenai hasil penelitian tentang aktivitas pacaran santri ada sejumlah kemungkinan terkait waktu mereka melakukannya. Kemungkinan adalah itu sebagai berikut:
1.    Dilakukan oleh santri pada saat liburan pesantren.
2.    Mereka melakukannya pada saat belum masuk pesantren.
3.    Mereka melakukannya pada saat izin keluar pesantren untuk membeli kebutuhan mereka dan lain-lain.
4.    Dilakuan pada waktu kegiatan pesantren atau sekolah dimana para santri diharuskan berinteraksi seperti dalam kepanitian, ekstrakurikuler, dan lain-lain.

3.5.    Resiko Perilaku Seksual
Pembicaran mengenai perilaku seksual remaja tidak terlepas dari berbagai penyakit yang mungkin timbul akibat dari aktivitas seksual yang tidak aman dan beresiko seperti HIV/AIDS dan kehamilan tidak diinginkan (KTD).

Pengetahuan mengenai HIV/AIDS dimaksud adalah informasi yang menerangkan berbagai aspek HIV/AIDS beserta ciri, cara, penyebaran serta pencegahannya, dan lain-lain. Pengetahuan dan informasi yang tepat mengenai akibat dari berbagai aktivitas yang beresiko diharapkan dapat menekan resiko penularan penyakit seksual menular (PMS) dan HIV/AIDS, serta dapat terhindar dari KTD. Pada bagian terakhir ini membahas mengenai pengetahuan dan pandangan santri mengenai hal tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan santri tentang akibat dari berhubungan seksual masih memprihatinkan. Sebagian besar santri, 60,7 persen laki-laki dan 60,6 persen perempuan, memahami bahwa kehamilan baru bisa terjadi jika telah melakukan hubungan seks berkali-kali. Minimnya pengetahuan proses terjadinya kehamilan ini dapat berpotensi terjadinya kehamilan tidak diinginkan pada usia remaja atau pra-nikah. Padahal kehamilan pada perempuan itu dapat terjadi meski hanya dengan satu kali berhubungan seksual saja.
Selain mitos mengenai kehamilan tadi di atas akibat minimnya informasi dan pengetahuan santri, masih ada mitos lain yang juga masih berkembang di kalangan sejumlah santri mengenai HIV/AIDS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada 33 persen atau 153 santri laki-laki dan 23 persen atau 131 santri perempuan yang menganggap bahwa HIV/AIDS sebagai suatu penyakit kutukan. Jika dilihat secara umum dari total responden santri tanpa melihat pembagian berdasarkan jenis kelamin maka santri yang menggangap penyakit kutukan jumlahnya mencapai angka 28 persen. Selain itu, pengetahuan santri tentang orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tampak masih sangat minim khususnya pendapat tentang pengidap HIV positif sebagai tanda kematian, atau dengan kata lain pengidapnya pasti akan mati.

Hasilnya, kelompok yang berpendapat bahwa HIV positif bukan tanda kematian hanya sebanyak 8,3 persen atau 36 santri laki-laki dan 4,5 atau 25 santri perempuan. Sementara kelompok yang berpendapat bahwa HIV positif adalah tanda kematian baik yang setuju maupun sangat setuju jumlahnya mencapai 61,1 persen atau 265 laki-laki, dan pada perempuan jumlahnya 64,3 persen atau 357 orang.

Mengenai cara penularan penyakit ini juga masih memprihatinkan seperti soal penyakit HIV dan AIDS yang sesungguhnya dapat menular melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah, dan hubungan seksual. Namun ternyata masih ada sekitar 24 persen santri yang menyatakan bahwa hal-hal tersebut tidak dapat menularkan HIV dan AIDS. Di samping itu, pada hal-hal yang  sesungguhnya tidak menularkan penyakit ini justru dianggap oleh sebagian besar santri dapat menularkan penyakit HIV dan AIDS. Hal sama juga terjadi pada masalah metode penggunaan kondom sebagai salah satu metode pencegahan penularan penyakit ini ketika berhubungan seksual. Masih ada sekitar 44 persen santri yang menyatakan bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan.

Dan tabel di bawah ini adalah perbandingan persentase antara santri laki-laki dan perempuan dari segi sikapnya mengenai isu-isu berkaitan dengan HIV/AIDS yang baru saja telah dijelaskan.*

PANDANGAN SANTRI TENTANG HIV / AIDS

HIV Positif Adalah Tanda Kematian

HIV/ADS Dapat

Menular Melalui Keringat /Sentuhan /Ciuman

Penularan HIV/AIDS Dapat Dicegah Dengan Kondom Saat Melakukan Hubungan Seksual

Menggunakan Kondom Saat Hubungan Seksual Adalah Cara Menghindari HIV/AIDS

HIV/AIDS Tidak Dapat Menular Melalui Jarum Suntik/Hubungan Seksual/Transfusi Darah

HIV/AIDS Adalah Penyakit Kutukan

 

STS

RR

S

SS

TDK JAWAB

YA

TIDAK

TDK JAWAB

YA

TIDAK

TDK JAWAB

YA

TIDAK

TDK JAWAB

YA

TIDAK

TDK JAWAB

YA

TIDAK

 

LAKI-LAKI

8,3

30,6

35,5

25,6

3,3

55,6

41,1

3,3

58,1

38,6

3,1

58,1

38,9

3,3

28,3

68,4

3,3

33,8

62,9

PEREMPUAN

4,5

31,2

30,8

33,5

3,3

63,4

33,2

5,4

57,5

37,1

5,8

44,8

49,4

3,3

19,9

76,8

3,9

23,0

73,1

 

Bagian Keempat
Menyingkap Kekerasan Dalam Pacaran

Pada bagian ini akan dibahas mengenai berbagai kekerasan yang dialami oleh para santri, khususnya kekerasan dalam pacaran. Dan kemudian juga menjelaskan mengenai sikap-sikap remaja santri terhadap berbagai kekerasan, sebab-sebab, dan sikap mereka tentang kekerasan seksual yang terjadi.

 

4.1. Kekerasan yang dialami oleh Santri

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat 39 persen atau 400 santri dari total santri responden yang mengaku telah mengalami kekerasan. Namun jumlah tersebut meningkat menjadi 412 santri (189 perempuan atau 33,2 persen dan 211 laki-laki atau sekitar 46,6 persen) ketika diajukan pertanyaan yang lebih spesifik mengenai jenis kekerasan yang pernah dialami beserta contoh-contoh yang mudah dipahami.

Penelitian yang dilakukan oleh Rahima ini sejak awal memang mengasumsikan bahwa santri responden belum memiliki pengetahuan mengenai jenis-jenis kekerasan.

Sehingga ketika pertanyaan awal diajukan mengenai apakah pernah mengalami kekerasan, kemungkinan besar kekerasan yang dipahami oleh responden adalah kekerasan fisik sebagaimana jamak dipahami. Barulah kemudian ketika dispesifikasi jenis kekerasannya melalui pertanyaan berikutnya barulah mereka mengerti bahwa, misalnya, dimintai uang dengn paksa (kekerasan ekonomi), intimidasi (kekerasan psikis), diraba-raba bagian tubuh (kekerasan seksual), dimaki (kekerasan verbal), adalah suatu bentuk kekerasan.

Dari lima jenis kekerasan yang tersaji dalam daftar pilihan, kekerasan fisik merupakan jenis kekerasan yang paling banyak dialami oleh para santri, baik terjadi pada santri laki-laki maupun perempuan yakni sebanyak 53,3 persen. Lalu diikuti di urutan kedua kekerasan verbal sebanyak 16,5 persen, kekerasan psikis sebanyak 13 persen, kekerasan ekonomi 7,6 persen. Dan kekerasan yang paling sedikit jumlahnya adalah kekerasan seksual yakni hanya 2,9 persen.

Mengenai pelaku kekerasan merupakan orang-orang dalam lingkaran terdekat santri yaitu teman, orang tua, pacar. Hanya sedikit yang menyebut orang tak dikenal atau orang asing. Teman menjadi pelaku yang paling banyak melakukan kekerasan pada santri laki-laki maupun perempuan. Jenis kekerasan yang dilakukan oleh teman mencakup lima jenis kekerasan. Sementara untuk pelaku berupa orang tak dikenal mencakup tiga jenis kekerasan selain jenis kekerasan seksual dan ekonomi. Lalu pacar sebagai pelaku kekerasan juga melakukan lima jenis kekerasan yang ada. Sementara pelaku dari orang yang tak dikenal melakukan empat jenis kekerasan selain kekerasan seksual.

Dari hasil hubungan antara berbagai jenis kekerasan dengan pelaku kekerasan mengungkapkan bahwa kekerasan fisik, psikis, ekonomi, dan verbal paling banyak dilakukan oleh teman. Sedangkan kekerasan seksual paling banyak dilakukan oleh pacar.

 

 
   
 

ncEE9oKai.png

 

Data silang antara bentuk kekerasan dengan pelaku kekerasan

PELAKU KEKERASAN

BENTUK KEKERASAN

TIDAK JAWAB

TEMAN

PACAR

ORANG TUA

ORANG TAK DIKENAL

LAINNYA

Total

TDK JAWAB

582

14

13

4

5

8

626

93,0%

2,2%

2,1%

0,6%

0,8%

1,3%

100,0%

FISIK

1

125

9

67

11

20

233

0,4%

53,6%

3,9%

28,8%

4,7%

8,6%

100,0%

PSIKIS

2

41

4

5

3

3

58

3,4%

70,7%

6,9%

8,6%

5,2%

5,2%

100,0%

SEKSUAL

0

5

6

0

0

2

13

0,0%

38,5%

46,2%

0,0%

0,0%

15,4%

100,0%

EKONOMI

0

24

4

0

2

1

31

0,0%

77,4%

12,9%

0,0%

6,5%

3,2%

100,0%

VERBAL

4

50

3

7

1

6

71

5,6%

70,4%

4,2%

9,9%

1,4%

8,5%

100,0%

LAINNYA

1

5

0

1

1

6

14

7,1%

35,7%

0,0%

7,1%

7,1%

42,9%

100,0%

TOTAL

590

264

39

84

23

46

1046

56,4%

25,2%

3,7%

8,0%

2,2%

4,4%

100,0%

 

4.2. Kekerasan dalam Pacaran.

4.2.1. Tidak Mentolerir Berbagai Kekerasan

Berbagai bentuk kekerasan: ekonomi, fisik, psikis, dan seksual, yang dilakukan dalam suatu hubungan pacaran biasa disebut dengan kekerasan dalam pacaran (KdP). Dari penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa pacar menjadi salah satu pelaku kekerasan terbanyak nomor tiga. Kekerasan yang dilakukan oleh pacar di antaranya: fisik (23%), seksual (15,4%), psikis (10,3%), ekonomi (10,3%), dan verbal (7,7%). Bagaimana sikap remaja santri terhadap berbagai kekerasan yang terjadi dalam sebuah jalinan kasih sayang ini? Ini menjadi pertanyaan penting mengingat data -sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya- menunjukkan bahwa banyak santri yang menjalin hubungan pacaran. Bahkan untuk kekerasan seksual paling banyak pelakunya adalah pacar sendiri. Seperti terjadi pada santri perempuan dimana dari tujuh kasus kekerasan seksual yang terjadi enam diantaranya dilakukan oleh pacar.

Sikap tegas menolak terjadinya berbagai kekerasan dalam hubungan pacaran adalah salah satu hal yang dapat mencegah dan menghindari terjadinya kekerasan.

Namun sayangnya hasil penelitian menunjukan hasil yang memprihatin-kan. Hanya sebagian dari total santri responden saja yang memiliki sikap tegas untuk tidak mentolerir berbagai kekerasan dalam pacaran. Kelompok yang menyatakan dirinya untuk tidak mentolerir (setuju dan sangat setuju) pada santri laki-laki hanya 51,6 persen dan perempuan sebanyak 52,9 persen. Kelompok yang sikapnya masih ragu-ragu mencapai 32,8 persen pada laki-laki dan 26,7 persen pada perempuan.

Sikap yang mengkhawatirkan tampak pada jumlah santri yang menyatakan sikap negatif, yakni sikap mentolerir dan membiarkan terjadinya berbagai kekerasan dalam pacaran. Jumlahnya mencapai 20,5 persen pada perempuan dan 15,6 persen pada laki-laki. Kecenderungan santri perempuan dengan sikap ragu-ragu dan tidak tegas amat mengkhawatirkan karena perempuan rentan menjadi korban kekerasan.

Sikap ini tentu mengkhawatirkan khususnya pada santri yang menjalin hubungan pacaran. Dari hasil data silang (lihat tabel pada akhir bagian ini) antara 605 santri yang berpacaran dengan sikap mereka mengungkapkan bahwa 48,3 persen santri laki-laki rentan menjadi pelaku KdP karena memiliki sikap permisif dan masih ragu-ragu terhadap kekerasan. Sementara 46,4 persen santri perempuan yang berpacaran rentan menjadi korban KdP karena sikap permisif dan ragu-ragu terhadap kekerasan dalam hubungan pacaran.

 

4.2.2. Sikap Terhadap Rayuan Seksual

Selain sikap untuk tidak mentolerir terhadap berbagai bentuk kekerasan dalam pacaran, para santri juga harus memiliki sikap tegas terhadap berbagai rayuan dan ajakan yang dapat menjurus pada terjadinya kehamilan tidak diinginkan (KTD).

ncEE9oKai.pngHasil penelitian menunjukkan bahwa masih ada 7 dan 7,4 persen dari santri laki-laki dan perempuan yang memiliki sikap permisif terhadap rayuan seksual. Dan juga masih ada 21,3 santri laki-laki dan 15,1 persen santri perempuan yang sikapnya masih tidak jelas dan ragu-ragu dalam masalah ini. Hasil ini tentu amat mengkhawatirkan dan membuat santri, khususnya santri perempuan, rentan mengalami KTD.

Sebaliknya santri yang memiliki sikap tegas (setuju dan sangat setuju) terhadap berbagai rayuan selama pacaran pada santri laki-laki jumlahnya mencapai 71,7 persen. Dan pada santri perempuan jumlahnya sebanyak 77,5 persen. Kemudian jika sikap ini dihubungkan khusus dengan santri yang menjalin hubungan pacaran (lihat pada tabel pada akhir bagian ini), maka hasilnya menunjukkan ada 8,5 persen santri perempuan yang berpacaran sangat rentan mengalami KTD. Hal demikian itu karena mereka punya sikap yang tidak sependapat atau sangat tidak setuju jika KTD disebabkan oleh rayuan.

 

4.2.3. Melaporkan Kekerasan Seksual.

Pada umumnya kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di tengah masyarakat jumlahnya sangat kecil. Kasus-kasus kekerasan seksual yang muncul ke permukaan publik pada umumnya ibarat puncak gunung es, dimana sesungguhnya ada banyak kasus kekerasan seksual yang tidak pernah terungkap. Para korban kekerasan seksual umumnya menyimpan tragedi yang dialaminya sendiri. Tragedi itu seringkali dilihat sebagai aib bagi dirinya maupun keluarganya bila diketahui oleh orang lain atau masyarakat. Maka korban cenderung diam dan tidak melaporkan kejadian itu. Sehingga banyak kasus kekerasan seksual tidak pernah dilaporkan sehingga yang muncul hanya sedikit sekali jumlahnya. Sebagaimana hasil penelitian ini juga yang menunjukkan kekerasan seksual paling sedikit dari lima jenis kekerasan. Jumlahnya hanya 2,9 persen saja.

Maka tidak heran jika upaya penanggulangan terhadap korban kekerasan seksual menghadapi hambatan dari sikap korban atau keluarga korban yang cenderung menutupi dan tidak melaporkan kasusnya. Bagaimana sikap santri mengenai apakah menceritakan atau melaporkan kekerasan seksual yang terjadi itu sebuah aib atau bukan? Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap santri tampak masih tarik-menarik antara yang menyatakan aib dan bukan aib. Kelompok santri laki-laki yang menyatakan bukan aib jumlahnya mencapai 38,1 persen, dan pada kelompok santri perempuan jumlahnya 32.4 persen.

Kemudian kelompok santri yang menyatakan menceritakan kekerasan seksual itu sebagai sebuah aib dikelompokkan pada jawaban sangat tidak setuju dan ragu-ragu. Hasilnya ialah setengah lebih santri laki-laki yakni 60 persen memiliki sikap negatif, yakni mereka menyatakan hal itu sebagai sebuah aib. Dan lebih memprihatinkan lagi sikap santri perempuan dimana jumlahnya mencapai 62 persen.

Dengan sikap sebagian besar santri seperti demikian itu maka dapat dipahami mengapa hasil penelitian yang menunjukkan jumlah kekerasan seksual paling sedikit dari lima jenis kekerasan yang ada. Jumlahnya sangat kecil sekali tidak lebih dari 3 persen atau tidak lebih dari 2,9 persen atau 13 orang dari total 1.046 santri. 13 korban kekerasan seksual itu diantaranya 7 santri perempuan yang mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh pacarnya.

Maka perlu kiranya ditumbuhkan sikap tegas remaja dapat menyikapi berbagai kekerasan, khususnya kekerasan seksual yang terjadi sewaktu berpacaran. Dengan melaporkan atau memberitahukan kasus kekerasan yang dialaminya agar dapat ditangani dengan baik sehingga mereka tidak lagi sendiri dan diam atas tragedi itu. Jika remaja diam saja, maka pelaku kekerasan akan semakin berani karena merasa aman sebab tidak akan mendapatkan sanksi atau hukuman apapun atas perilakunya.*

 

 

 

 
 
 

 

SANTRI BERPACARAN

KTD Dapat Disebabkan Oleh Kekerasan Seksual Dengan Rayuan

Tidak mentolelir Tindak Kekerasan Dalam Bentuk Apapun Dalam Pacaran

Menceritakan Kejadian Kekerasan Seksual Yang Dialami Bukanlah Aib

STS

RR

S

SS

STS

RR

S

SS

STS

RR

S

SS

Laki-Laki

15

50

121

80

31

98

91

47

88

82

63

36

5,6%

18,8%

45,5%

30,1%

11,6%

36,7%

34,1%

17,6%

32,7%

30,5%

23,4%

13,4%

Perempuan

26

36

123

121

59

80

73

88

100

98

79

32

8,5%

11,8%

40,2%

39,5%

19,7%

26,7%

24,3%

29,3%

32,4%

31,7%

25,6%

10,4%

Total

41

86

244

201

90

178

164

135

188

180

142

68

7,2%

15,0%

42,7%

35,1%

15,9%

31,4%

28,9%

23,8%

32,5%

31,1%

24,6%

11,8%

 

 

 

 

 

 

 

Last modified on Friday, 01 September 2017 07:32
Rate this item
(0 votes)