Berita

Berita (249)

Pusat Kajian Gender dan Seksualitas FISIP UI hari Selasa, 12 Februari 2013, mengadakan FGD Policy Mapping on SRHR yang bertujuan menggali pengalaman CSO dan kelompok remaja untuk sharing dan refleksi bersama, sebagai bagian dari advokasi untuk Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual di tingkat nasional dan kabupaten/kota. Dalam kesempatan ini beberapa lembaga yang berkecimpung dalam dunia remaja hadir, seperti Rahima, PKBI Jakarta, Samsara Yogyakarta, PMI, Yayasan Pelita Ilmu, Ami pers, YIFOS, Ardhanary Institute, Aliansi Remaja Independent dan Blessburden.com.

Hasil diskusi mengungkap kasus seksualitas banyak terjadi di sekolah, ditandai dengan setiap tahun selalu ada siswi keluar karena hamil, begitu juga tindakan bullying (kekerasan) yang mengarah pelecehan seksual, hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh teman tetapi juga dari guru, baik verbal maupun fisik. Terjadi “pembiaran” terhadap kasus-kasus seksual yang terjadi dari pihak sekolah, demi alasan nama baik sekolah. Solusi yang diberikanpun sepihak dari pihak sekolah baik dengan langsung mengeluarkan  siswa/siswi yang bermasalah, atau mengajak damai bila kasus melibatkan guru.

Menutupi permasalah yang terjadi menjadi boomerang bagi remaja itu sendiri, mereka dipaksa menutup rapat tindakan yang tidak menyenangkan seputar kasus seksualitas yang terjadi pada mereka karena dianggap aib, di satu sisi mereka tidak diperkenankan untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan reproduksi dan seksualitas karena dianggap belum pantas. 

Pendidikan kesehatan reproduksi yang “katanya” sudah terintegrasi di sekolah dalam mata pelajaran IPA, Penjaskes dan Agama ternyata membuat kebingungan siswa, karena masing-masing guru kurang memahami bahkan kurang informasi tentang kesehatan reproduksi itu sendiri. Seperti dalam mata pelajaran agama, informasi terkait kesehatan reproduksi yang disampaikan adalah mengenai hukum agama saja, yang cenderung penuh larangan tanpa penjelasan yang lengkap. Di Penjaskes bahkan tidak membicarakan hal tersebut karena lebih cenderung kegiatan fisik. Sedangkan di mata pelajaran IPA yang seharusnya lebih mengeksplor pengenalan organ reproduksi tetapi yang terjadi gurunya terkesan “malu” atau enggan menyampaikannya.

Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas adalah investasi jangka panjang bagi remaja yang akan dirasakan 10-20 tahun ke depan. Berdasarkan assessment/penelitian yang dilakukan team task force (yang terdiri dari 5 lembaga ; Rahima, Puskagenderseks UI, Jurnal Perempuan, PKBI dan Hivos) menunjukkan bahwa remaja sudah merasa perlu menerima informasi seputar kesehatan reproduksi dari orang yang tepat dan informasi yang utuh.

Tantangan yang harus dihadapi untuk sosialisasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi ke Remaja pun tidak mudah. Masyarakat  masih beranggapan informasi SRHR yang akan disampaikan seputar hubungan seks akan mengarahkan remaja pada perilaku pacaran dan free sex. Kedua hal itu yang masih sangat tabu dibicarakan, tetapi faktanya banyak terjadi pada remaja saat ini. Di lain sisi adanya strata sekolah dimana ada sekolah unggulan dan sekolah non unggulan juga menjadi alasan. Sekolah unggulan lebih sulit menerima informasi baru dengan alasan sibuk dengan kurikulum sendiri, sedangkan sekolah non unggulan cenderung open bahkan ada yang sampai mengadakan kajian kespro dalam diskusi-diskusi lingkup kecil. Secara gerakan pun isu SRHR belum kuat, karena beberapa lembaga masih bergerak masing-masing karena isu kesehatan reproduksi dan seksualitas sangat luas cakupannya, padahal ketika berbicara kesehatan reproduksi seharusnya menjadi satu kesatuan.

Badan Legislatif sendiri masih menganggap membuat kebijakan terkait perlunya Pendidikan Kesehatan Reproduksi di sekolah bukan kebijakan populis, karena ada harga politik yang harus diperhatikan oleh pemerintah yakni terkait dengan apa yang mereka sebut sebagai moral. Di lain pihak di Badan Eksekutif beberapa kementerian memiliki program untuk remaja tetapi ada keengganan untuk kerjasama, karena “gengsi” antar kementerian, maka tidaklah aneh bila kita menemukan program yang hampir sama tetapi dengan nama berbeda. Padahal jikalau bisa bersatu dan membuat program kesehatan reproduksi secara nasional maka akan menjadi kekuatan yang patut diperhitungankan.

Melihat semua itu beberapa lembaga non pemerintah berinisiatif sendiri mengadakan pendidikan kespro ke remaja, yang pastinya dengan jangkauan yang sangat terbatas. Seperti yang dilakukan AMI press (organisasi yang didirikan oleh mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat jurusan kesehatan reproduksi) dimana mereka mensosialisasikann pendidikan kespro ke beberapa sekolah di Jakarta meskipun sejak berdiri (2010) hingga sekarang baru dua sekolah yang mereka dampingi. Samsara yang berdomisili di Yogyakarta, sebagai organisasi yang berlatar belakang konseling terutama terkait KTD (Kehamilan Tak Direncanakan) pada remaja, menyelenggarakan sekolah seksualitas pada hari Sabtu dan Minggu yang pesertanya remaja. PKBI rutin melakukan pendampingan di sekolah-sekolah. Dan Rahima dengan komunitas pesantren-pesantrennya di Jawa Timur. Semuanya bergerak dengan keterbatasan masing-masing demi satu tujuan, membangun generasi muda yang sehat fisik, psikis dan sosial. # (catatan FGD Remaja Puska Genseks Fisip  UI)

“Yang memberatkan bagi kami adalah rasa rindu padanya (pasangan)”.

Begitu paparan ibu Magdalena Sitorus, di awal acara soft Lounching buku “Semua Ada Waktu”nya. Buku yang mengisahkan 6 sosok perempuan (Saparinah Sadli, Shinta Nuriyah Wahid, Suciwati, Widyawati, Damayanti Noor dan Magdalena Sitorus) yang harus berjuang mengatasi hati yang luka karena ditinggalkan pasangan jiwa (karena meninggal), menghadapi lingkungan yang kadangkala tidak ramah dengan status janda, mencari jalan untuk keluar  dari kesedihan dan memulai hidup menjadi single parent bagi anak-anak yang sudah kehilangan sosok bapak.

Mimpi Banyuwangi

26 Feb 2013 Written by

Aku tidak tahu pasti
Untuk apa Minak Jinggo ingin menjadikan Kencono Wungu sebagai permaisuri
Untuk apa pula Maulana Ishaq menganggap Blambangan perlu ditirakati
Yang pasti keduanya pernah bermimpi tentang Blambangan yang kini disebut Banyuwangi agar lebih bestari


Itu adalah potongan sajak Banyuwangi Bermimpi karya Chabib Musthofa seorang dosen salah satu perguruan tinggi negeri di di Surabaya yang mau membantu Rahima dalam mendokumentasikan kegiatan pelatihan PKRS santri di Banyuwangi. Pelatihan yang dihadiri oleh 22 santri (9 laki-laki dan 13 perempuan) (dari 4 pesantren (Mamba’ul Huda, Mamba’ul Ulum, Dairul Aitam, Bustanul Makmur) dan 1 forum remaja ini berlangsung selama tiga hari di PP. Mamba’ul Huda, Krasak, Banyuwangi.

Pembukaan pelatihan pada tanggal 13 Februari 2013 dihadiri oleh jajaran pengasuh PP. Mamba’ul Huda di antaranya adalah Nyai Mahmudah, Kyai Khudlori Majid, Kyai M. Khozin Majid, Gus Muhyiddin dan masih banyak lagi. Sambutan dari perwakilan pesantren diberikan oleh Kyai Khudlori Majid. Dalam pidato pembukaan beliau mengatakan bahwa meski beliau tidak tahu secara pasti apa yang dimaksud dengan seksualitas akan tetapi beliau yakin apabila kesehatan reproduksi dan seksualitas itu sama pentingnya dengan ilmu-ilmu yang lain yang juga dipelajari di pesantren selama ini. Sedangkan Maman A Rahman sebagai perwakilan Rahima menceritakan apa dan siapa Rahima; sejarah singkat dan beberapa program yang dijalankan oleh Rahima.

Setelah sesi seremonial di hari pertama acara dilanjutkan pada pelatihan yang terlebih dahulu diawali dengan perkenalan, pemetaan harapan, kekhawatiran dan aturan main pelatihan yang dipandu oleh Maman A Rahman. Selanjutnya materi Gender dipandu oleh Farha Ciciek yang ditemani oleh Anis F. Fuaddah membincang soal perbedaan laki-laki dan perempuan, kontruksi sosial, bentuk-bentuk diskriminasi, dan berakhir pada analisis terjadinya ketidakadilan gender dengan menggunakan permainan jaring laba-laba.

Fasilitator kedua di hari kedua membahas tentang reproduksi dan seksualitas adalah Maestri Widodo. Mas Wiwid begitu ia biasa dipanggil memulai dengan bertanya pada peserta pelatihan tentang bagian tubuh mana yang mereka suka, berlanjut berkenalan pada organ-organ reproduksi, seksualitas, sifat - sifat feminin dan maskulin, serta bagaimana menjadi pendidik sebaya dan konselor sebaya.

Ustadz Imam Nakha’i pada hari ketiga  mengajak peserta belajar tentang Islam, Kesehatan Reproduksi dan Gender lewat Shalawat Musawa. Ustadz Nakha’i melanjutkan materi dengan mereview kembali ingatan peserta tentang ketentuan hukum Islam yang lima, dan pada pemilihan teks-teks keagamaan dalam penentuan hukum yang maslahat. Diskusi kelompok dengan lima bahasan pertama Kekerasan dalam pacaran, kedua Onani dan masturbasi, ketiga Pendidikan seks, keempat  aurat, kelima  menstruasi menjadi alternative menyampaian materi yang digunakan ustadz Imam Nakha’I . Sebelum sesi Islam Kesehatan Reproduksi dan Gender ditutup Ustadz Nakha’I memberikan pengantar tentang bagaimana membangun keluarga sakinah dan pondasi apa saja yang diperlukan untuk membangun keluarga sakinah.

Yang wajib dan tidak dapat ditinggal dalam pelatihan PKRS ini adalah rencana tindak lanjut peserta setelah meninggalkan tempat pelatihan, apa yang mau dilakukan, dimana tempatnya dan kapan pelaksanaan rencana tersebut dilakukan. RTL ini bersifat kelompok dari utusan mana mereka dikirim. Terakhir adalah ceremonial acara penutupan yang juga acara kesan dan pesan peserta, panitia dan fasilitator mengungkapkan hal yang ingin disampaikan dalam rangkaian acara selama tiga hari. “Saya senang selama mengikuti pelatihan ini dan saya akan bertanggung jawab atas materi yang telah saya dapatkan dari pelatihan ini sebagai mimpi kita untuk Banyuwangi; bestari”. Hal itu diungkapkan oleh Dani salah satu peserta dari pelatihan PKRS.# (Catatan Pelatihan PKRS Santri Banyuwangi)


Hu semelekete ha; Gubrak

Dengan nada mendayu mantra itu dirapal oleh peserta Pelatihan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja setiap kali rasa bosan menyerang, itulah masa muda yang seringkali mengeluarkan pusaka yang kadang tak pernah kita tahu darimana asalnya. Selama tiga hari dalam pesantren Sunan Drajat, Lamongan dimana acara berlangsung, peserta diajak untuk berkenalan dengan teman baru yang wujud dan teman baru yang ghoiru maujud-seketika; pengetahuan. Dalam suasana riang para fasilitator yang menemani 23 remaja dari tiga kabupaten (Lamongan, Jombang dan Kediri) ini berjalan seru; hari pertama remaja yang kebanyakan kelas 1 Aliyah (setingkat SMA) ini ditemani Farha Ciciek yang lebih akrab dipanggil dengan ibu Ciek mengenal lebih jauh tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian, gender dan kodrat. Hari pertama menjadi pembuka untuk peserta mengenal bagaimana masyarakat menempatkan laki-laki dan perempuan sedemikian rupa, juga bagaimana juga tanpa sadar lingkungan memberikan jenis kelamin pada benda-benda yang ada di sekeliling kita.

Gelombang Rahima yang berawal ciyus serupa ledekan kecil yang diucap berurutan dan berakhir dengan dentuman suara duar menjadi pembuka semangat setelah rehat dan shalat dari peserta. Keseruan berikutnya diambil alih oleh Maestri Widodo dari PKBI Jogjakarta dengan mengantarkan peserta pada pengetahuan baru tentang segala seluk beluk kesehatan reproduksi beserta resiko-resiko yang akan terjadi seiring dengan aktifnya alat-alat reproduksi. Peserta aktif bertanya dan berdiskusi disela-sela pembagian kelompok belajar; proses transfer ilmu berawal dari apa yang peserta ingin tahu dan fasilitator menyampaikannya dengan utuh – meski begitu dengan waktu yang terbatas ada beberapa bagian yang tidak tersampaikan oleh fasilitator; dan hal itu menjadi koreksi pada kegiatan-kegiatan mendatang dengan waktu terbatas untuk fokus pada tema atau sub tema yang prioritas.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang sakinah, mawaddah warahmah? Juga bagaimana menghadapi pasca pernikahan dengan sakinah? Peserta dalam kelompok yang sudah dibagi mendiskusikannya pada hari ketiga. Sesi ini dipandu oleh ustadz Faqihuddin Abdul Qadir yang berbicara juga soal bagaimana Islam memandang Gender dan Kesehatan Reproduksi; materi yang lumayan berat ini tidak melunturkan semangat para peserta untuk mendengarkan, meski ada beberapa peserta yang sedikit terkantuk dalam mendengarkan penjelasan tapi terlihat betapa keseriusan peserta dapat dilihat dengan sesekali terdengar suara untuk merapal mantra semangat.

16 Januari 2013 menjadi hari terakhir pelatihan yang dibuka oleh Raden pada tanggal 14 Januari, Maman A Rahman memberikan sambutan pada pembukaan tersebut dengan berkata bahwa dalam acara pelatihan ini nantinya bukan hanya teman baru yang didapat tapi juga semoga teman-teman remaja mendapatkan pengetahuan baru tentang kesehatan reproduksi dan gender. Do’a dalam penutupan dilafalkan oleh Bapak Hasan Ketua Pesantren Sunan Drajat setelah sebelumnya peserta memberikan sepatah dua patah kata perpisahan dan kenangan pada proses tiga hari pelatihan. “Kita adalah juara karena memang kita adalah orang-orang spesial yang diciptakan Tuhan untuk datang di bumi ini,” begitu ujar Ibu Ciek dalam perpisahannya; Tetaplah menjadi remaja yang keren dengan semangat belajar dan menghargai kegagalan.

Rahim Yang Rahmat

01 Feb 2013 Written by

Kita terlahir di duna ini karena organ-organ reproduksi manusia digunakan sesuai dengan manfaatnya. Reproduksi bisa dimaknai sebagai saluran rahmat – oleh karenanya rahim sebagai salah satu organ reproduksi haruslah menjadi rahmat bagi semua. Baik laki-laki dan perempuan haruslah menjadikan reproduksinya menjadi rahmat agar bisa tetap menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ard.

AusAID bekerjasama dengan Bappenas dan TNP2K (Tim Nasional Percepatan Pembangunan Kemiskinan), mengadakan seminar sehari tentang “Gerakan Perempuan dan Penanggulangan Kemiskinan: Pembelajaran, Capaian dan Tantangan ke Depan” pada Senin, 28 Januari 2013 di sebuah hotel di Jalan Sudirman, Jakarta. Seminar yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan (akademisi, aktivis penggerak masyarakat antara lain Rahima, perwakilan pemerintah, praktisi pembangunan dan penerima manfaat program/kegiatan yang bekerja di bidang yang terkait dengan perempuan dan pengentasan kemiskinan) ini bertujuan untuk merefleksikan dan mendiskusikan apa yang telah dicapai oleh gerakan perempuan dan apa tantangan ke depan, refleksi pemberdayaan perempuan dan kontribusi pemimpin perempuan serta gender champion dalam pembuatan kebijakan yang berpihak kepada perempuan miskin dan kesetaraan gender.

Seminar ini dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama membahas mengenai Apa Yang Telah Dicapai oleh Gerakan Perempuan sejak Reformasi? Sesi yang dimoderatori oleh Lies Marcoes ini menghadirkan dua narasumber yakni Andy Yentriyani, salah seorang Komisioner Komnas Perempuan yang menyampaikan makalah berjudul Rangkuman Capaian Gerakan Perempuan Indonesia Sejak Reformasi; dan Maria Ulfah Anshor, mewakili Fatayat NU, menyampaikan makalah Capaian Gerakan Perempuan Indonesia di Akar Rumput: pengalaman sejak 2000 - 2010. Menurut Andy, secuil persoalan yang masih dihadapi bangsa ini walaupun telah berada di era reformasi adalah pelanggaran HAM masa lalu yang belum tuntas dan meningkatnya kerentanan perempuan pada kekerasan akibat pembiaran tindakan intoleransi dan konflik komunal. Andy kemudian memberikan beberapa contoh terkait kedua hal tersebut. Meskipun demikian, lanjut Andy, masa Reformasi tetap memberi peluang sekaligus tantangan bagi gerakan perempuan di Indonesia. Buktinya, ada beberapa keberhasilan yang sudah dicapai, seperti, kepemimpinan perempuan mulai tampak di segala bidang, adanya penguatan perlindungan hukum (perempuan dapat menjadi kepala keluarga), dll.

Dua orang pembahas kemudian dihadirkan pada sesi pertama ini. Mereka adalah Rosalia Sciortino, dan Kamala Chandrakirana. Menurut Rosalia, ada beberapa tantangan bagi gerakan perempuan di masa reformasi ini, antara lain adanya otonomi daerah (yang dapat disikapi dengan membangun aliansi gerakan perempuan yang melibatkan pusat dan daerah), dan adanya gerakan fundamentalisme keagamaan (yang dapat di-counter dengan menyampaikan isu-isu yang tidak mainstream). Sementara Kamala menyampaikan bahwa meskipun masih banyak tantangan bagi gerakan perempuan pada 15 tahun usia reformasi, tetapi kita tetap harus merayakan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai, dan menjadikannya sebagai bekal perjuangan untuk menjalani 15 tahun berikutnya.

Sesi kedua membahas mengenai Keadaan Sosial Ekonomi di Indonesia Saat ini. Sesi yang dimoderatori oleh Dian Kartikasari ini menghadirkan tiga orang narasumber yakni Ririn Purnamawari dari Bank Dunia menyampaikan makalah berjudul Kemiskinan, Kesejahteraan dan gender di Indonesia, Sudarno Sumarto dari TNP2K menyampaikan makalah berjudul Pengentasan Kemiskinan di Indonesia: sebuah Gambaran umum; dan Simone Schaner dari Dartmouth University menyampaikan makalah berjudul Tantangan dan Kesempatan Lima tematik area dalam program MAMPU (Program AusAid tentang Pengentasan Kemiskinan yang menjadikan perempuan sebagai ujung tombaknya).

Di sesi ketiga membahas tentang Pemimpin-pemimpin yang mempengaruhi perubahan untuk perempuan di Indonesia: Pelajaran Berharga. Sesi ketiga ini dibagi ke dalam dua termin. Termin pertama dimoderatori oleh Lusy Palulungan menghadirkan tiga narasumber: Mercy Christi Barends (Anggota DPRD Propinsi Maluku) yang menyampaikan makalah berjudul Capaian dalam Mengalokasikan Anggaran untuk Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga di Maluku; Andi Aisa Pananrangi (Anggota DPRD Kabupaten Bone) yang menyampaikan makalah Membangun Sinergi dengan Multistakholder: Kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin; dan KH Husein Muhammad yang membawakan makalah berjudul Aku dan Gerakan Sosial Keagamaan. Adapun ditermin kedua yang dimoderatori oleh Misiyah menghadirkan juga tiga narasumber: Anis Hidayah dari Migrant Care yang membawakan makalah berjudul: Memberdayakan Perempuan Buruh Migran Indonesia; Cecilia Susiloretno dari MWPRI menyampaikanmakalah berjudul Memberdayakan Perempuan Pekerja rumahan (Home workers) dan Beauty Erawati dari LBH APIK NTB yang menyampaikan makalah berjudul Bekerja dengan pemerintah lokal dalam permasalahan hukum perempuan Indonesia. (dani)

RAHIMA-sejak 2010 lalu resmi mendeklarasikan perubahan secara kelembagaan dari Yayasan ke Perhimpunan dalam acara perayaan 10 Tahun di Wisma Hijau Depok. Dalam Perhimpunan ini, Rahima mengusung tema ‘Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Manusia”. Tema ini diangkat salah satunya merespon dari usulan para peserta program Ulama Perempuan khususnya yang membutuhkan penguatan secara kapasistas/SDM juga jaringan yang kuat untuk menjawab berbagai persoalan di komunitas dengan menggunakan dalil agama yang berperspektif gender. Selain itu, gagasan Ulama Perempuan ini pun terinspirasi karena langkanya Ulama Perempuan yang mempunyai perspektif keagamaan yang adil gender dalam merspon berbagai persoalan di masyarakat.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, pada Renstra (Rencana strategis) Rahima 2011 lalu menggagas dua kegiatan besar yang secara langsung melakukan pendidikan untuk melahirkan Ulama Perempuan. Yaitu: Program Pengkaderan Ulama Perempuan-yang proses pendidikannya tidak terlalu lama-dan Pesantren Percontohan dengan waktu pendidikan yang lebih lama. Untuk Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) sendiri, sampai 2012 Rahima telah mempunyai 75 orang Ulama Perempuan dari tiga angkatan PUP di tiga Wilayah yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Untuk Pesantren Percontohan sendiri, Rahima baru membahas program lebih detailnya pada 8-9 November 2012 lalu, dalam Workshop Pesantren Percontohan Rahima di Wisma PKBI Jawa Tengah di Jl. Jembawan Raya No. 8-12 Semarang. Worshop ini dihadiri kurang lebih 23 orang yang merupakan perwakilan dari Badan Pengawas, Pengurus, Anggota dan Pelaksana Perhimpunan Rahima, perwakilan alumni PUP Angkatan I-3, Akademisi dan Para Tokoh Agama dari beberapa Wilayah di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Workshop perdana Pesantren Percontohan Rahima ini menghasilkan beberapa krangka besar terkait dengan konsep, methode dan kurikulum. Pesantren Rahima ini dilakukan dengan tiga tahapan pendidikan, yaitu: tingkatan Ula (Pemula) yaitu setingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), tingkatan wustha (menengah) setingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), dan tingkatan ketiga adalah ulya (atas) setara dengan perguruan tinggi. Masing-masing tahapan pendidikan itu akan ditempun selama tiga tahun. Ada beberapa materi yang akan diintegrasikan dalam pendidikan di bebera tingkatan pendidikan tersebut yaitu: methodologi kajian Islam (yang didalamnya ada materi bahasa arab, tafsir dan ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fiqih dan usul fiqih), gender dan analisis gender, kesehatan reproduksi, analisis sosial, globalisasi, pengorganisasian, advokasi dan teknik menulis.

Dalam workshop ini pun dibahas soal kriteria Ulama Perempuan yang akan dihasilakan dari proses pendidikan Pesantren Percontohan Rahima yaitu: Menguasai teks-teks keagamaan klasik dan kontemporer dengan perspektif Islam yang berkeadilan gender, Mampu membaca realitas sosial dengan kritis (ketimpangan relasi, struktur yang menindas, budaya dan pemahaman keagamaan yang menindas), Mampu dan berani berargumentasi dan mengartiklasikan (melalui tulis dan lisan) gagasan serta nilai-nilai keadilan dengan perspektif Islam, Mampu dan berani mendialogkan kepentingan masyarakat yang terpinggirkan kepada para pemangku kebijakan di tingkat lokal, nasional dan global, Mampu dan berani berkomunikasi secara lancar  dalam bahasa lokal, nasional dan global dan memiliki penghargaan terhadap tradisi lokal (kearifan).

Selain desain kurikulum dan krieria Ulama Perempuan yang dihasilkan dari Workshop ini, juga dibahas terkait dengan kriteria pesantren ideal yang akan menjadi tempat pendidikan Ulama Perempuan ini. Ada sebelas kriteria, dan salah satunya adalah memiliki perspektif gender baik pimpinan pesantrennya, pengajar dan keluarga besar pesantren, memiliki komitmen, dan terbuka/menerima perubahan dan perbedaan, dan status kepemilikan tanah dan bangunan pesantren benar-benar miliki sendiri dan tidak bermasalah.

Pembahasan lebih detile untuk Program Pesantren Percontohan Rahima ini telah dibahas pada 10 Januari lalu di kantor Rahima dengan dihadiri oleh 11 orang team yang dipilih pada workshop Pesantren Percontohan Rahima. Peoses diskusi dari mulai workshop sampai pembahasan lanjutan Pesantren Percontohan Rahima ini sangat dinamis mengingat program ini merupakan program besar dan pertama kali dilakukan sehingga membutuhkan pemikiran dan gagasan yang baik dari semua peserta.

Semoga upaya untuk mewujudkan Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Manusia ini bisa tercapai dengan adanya program Pesantren Percontohan Rahima. Amiin.. (Pera)#

Catatan dari Workshop Pesantren Percontohan Rahima

“Pengetahuan itu laksana pisau. Jika digunakan dengan baik dan tepat ia akan bermanfaat, tetapi sebaliknya, jika kurang berhati-hati penggunaannya ia akan melukai. Begitu juga dengan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas. Jika digunakan dengan tepat maka akan menjadi pengetahuan yang bermanfaat karena kita jadi tahu cara menjaga diri sekaligus menghindari diri dari resiko-resiko yang tidak bertanggung jawab,”

Kata Bapak Suparyanto, Kepala BPP&KB Kabupaten Jombang pada sambutan pembukaan pertemuan setengah hari para pemangku kepentingan se kabupaten Jombang kedua yang diadakan oleh Rahima pada Kamis, 22 Nopember 2012 di sebuah hotel di Jombang, Jawa Timur.

Bapak Suparyanto hadir mewakili Wakil Bupati Jombang yang berhalangan hadir karena ada acara mendadak. Selain beliau, hadir juga sekitar 24 peserta yang berasal dari berbagai kalangan seperti berbagai dinas (Dinkes, Diknas, Depag, BPP&KB), berbagai ormas seperti (Fatayat NU, Aisyiyah), berbagai LSM (JCC (Jombang Care Center), WCC (Women Crisis Center), Puspa Ungu, Credit Union Semangat Warga), perwakilan media (radio), perwakilan pesantren dan perwakilan remaja.

Acara yang dipandu oleh AD Eridani dan Anis F. Fuadah ini dimulai sekitar pukul 09.30. Dani memulai kegiatan dengan perkenalan singkat mengenai apa dan siapa Rahima, dilanjutkan perkenalan dari seluruh peserta yang hadir yang menyebutkan nama dan asal lembaganya. Usai perkenalan dlanjutkan dengan penjelasan mengenai program PKRS (Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas) Remaja untuk komunitas muslim  Rahima di wilayah Jawa Timur yang meliputi Kabupaten Jombang, Lamongan Kediri dan Banyuwangi. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian hasil need assessment mengenai PKRS Remaja di Komunitas Muslim wilayah Jombang, Lamongan dan Kediri.

Pada kesempatan itu, Dani juga mengingatkan peserta mengenai pertemuan para pemangku kepentingan yang pertama yang sudah dilakukan sebelumnya yakni ketika usai workshop penyampaian hasil need assessment pada 27 September 2012 di PP AL Hikmah Purwoasri, Kediri. Pada pertemuan pertama itu, para pemangku kepentingan dari Jombang sudah bertemu, dan sudah merumuskan langkah-langkah yang akan dilakukan bersama, meliputi: 1. Melakukan pemetaaan wilayah, 2. Merumuskan media sosialisasi, 3. Melakukan advokasi. Pada forum ini, Dani mengusulkan untuk meninjau kembali rumusan yang sudah dibuat sebelumnya, kemudian jika ada penambahan dipersilahkan mengingat peserta yang hadir pada pertemuan kedua ini lebih banyak dan keterwakilannya lebih lengkap.

Kemudian satu persatu peserta mulai berbagi mengenai hal-hal yang terkait dengan isu kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja. Ada peserta yang menyampaikan bahwa perilaku pacaran remaja baik di desa maupun di kota sama saja, ada yang menambahkan mengenai akses informasi yang diperoleh remaja sangat mudah yakni melalui internet yang bisa diakses bebas di warnet-warnet juga melalui HP, ada peserta yang menyinggung soal lokasi pacaran remaja yakni di tempat-tempat wisata atau bahkan ke taman kota, ada juga yang menyinggung soal pentingnya pengaturan warnet, soal pentingnya penguatan nilai-nilai agama, pentingnya PKRS disampaikan kepada remaja mengingat tantangan remaja yang begitu besar sehingga mereka perlu diimbangi dengan pengetahuan yang memadai, dll.

Selain itu, beberapa peserta juga berbagi mengenai kegiatan yang sudah dilakukan terkait dengan PKRS, seperti misalnya BPP&KB dengan program KRR, Kesehatan Reproduksi Remaja, yang programnya sudah menjangkau seluruh kecamatan di kabupaten Jombang, Dinkes dengan program PKPR nya yang menjangkau puskesmas-puskesmas di kabupaten Jombang, WCC Jombang yang banyak melakukan sosialisasi mengenai PKRS kepada remaja-remaja di Jombang baik melalui sekolah ketika MOS maupun kepada beberapa pesantren di Jombang, dll.

Atas sharing yang bermacam-macam tersebut, Bapak Suparyanto mengatakan bahwa sudah saatnya di kabupaten Jombang ada mata pelajaran PKRS untuk remaja yang bisa diakomodir melalui mulok, muatan lokal. Hal inikemudian diamini oleh peserta yang lain.

Di akhir sesi, Dani menggarisbawahi kembali hasil diskusi yang sudah berlangsung, bahwa para pemangku kepentingan wilayah Jombang tetap akan berkonsentrasi pada kegiatan sosialisasi PKRS yang komprehensif yang akan menjangkau hingga wilayah pedesaan, sosialisai akan menggunakan berbagai media baik tulis maupun elektronik, dan akan juga melakukan advokasi kepada beberapa pihak seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, orang tua dan terakhir kepada pemerintah agar PKRS dapat menjadi mata pelajaran tersendiri yang dimasukan dalam mulok, muatan local. (dani)   



Akhir oktober 2012, saya diberi kesempatan Rahima mengunjungi Bangkok Thailand untuk mengikuti Women’s Caucus Annual Meeting 2012. Southeast Asia Women’s Caucus (WC) on ASEAN atau disebut juga Women’s Caucus yang dibentuk sejak Agustus 2008 adalah sebuah jaringan organisasi perempuan se-ASEAN yang memperjuangkan hak-hak perempuan melalui mekanisme ASEAN. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah melakukan advokasi struktur, proses, dan mekanisme ASEAN yang mendukung realisasi dan perlindungan hak asasi perempuan. Jaringan ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa mekanisme HAM ASEAN yang efektif dan terintegrasi untuk promosi dan perlindungan HAM dan kebebasan fundamental.

Meskipun suasana akhir tahun Jakarta dingin akibat diguyur hujan beruntun selama beberapa hari, tak demikian halnya dengan suasana Rabu 27 Desember 2012 di Unique Room di Hotel Harris Tebet, Jakarta Selatan. Pasalnya, Alimat ; sebuah gerakan untuk kesetaraan dan keadilan dalam keluarga Indonesia bekerjasama dengan Puslitbang  Kehidupan Keagamaan Kementrian Negara RI tengah menyelenggarakan sebuah seminar mengenai strategi menghapuskan praktik perkawinan di bawah umur maupun pernikahan tak tercatat. Acara dimulai semenjak pagi sekitar pukul 09.00 hingga berakhir pada pukul 16.00 sore hari.

Diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI yang menyoroti kedua isu ini, para pembicara berturut-turut mengajak semua peserta berefleksi mengenai hal yang menjadi persoalan akut ini. Seperti pada sesi pertama yang dimoderatori oleh Ninik Rahayu serta menghadirkan narasumber Dra. Hj. Kustini, MM  dari Kementrian Agama RI dan  Asnifriyanti Damanik, seorang praktisi hukum. BuKustini memaparkan beberapa inisiatif yang telah dilakukan oleh Kementriannya untuk memperbaiki kehidupan perkawinan masyarakat di Indonesia, seperti penyelenggaraan Suscatin, menyusun modul serta memperkuat kapasitas para penghulu, penyuluh, dan konselor perkawinan, mengadakan training untuk mengatasi KDRT  kepada para muballighah, serta melakukan penelitian mengenai praktik pernikahan dini. Beliau berharap bahwa melalui penelitian yang dilakukan, dapat membuka mata banyak pihak mengenai fakta tentang kasus-kasus perkawinan di masyarakat  sehingga juga menjadi kepedulian para pengambil kebijakan. Sementara, Asnifriyanti Damanik menyampaikan bagaimana perkawinan yang sengaja tak dicatatkan banyak digunakan sebagai modus para pelaku poligami. Sementara itu, UU No.1 tahun 1974  masih memiliki celah bagi hadirnya peristiwa kejahatan perkawinan misalnya dualisme pemahaman mengenai keabsahan perkawinan. Akibatnya masyarakat sering membuat dikotomi dengan istilah ”sah secara agama” dan ”sah secara negara”.  Problem lain yang cukup serius adalah UU ini masih mengakomodir perkawinan pada usia anak, karena menyebutkan bahwa perempuan dapat menikah ketika dia berusia 16 tahun. Belum lagi, Pengadilan Agama yang memberi ruang  dalam ”dispensasi usia nikah”, mengakibatkan anak-anak usia sekolah harus terjebak untuk menjadi orang tua pada saat yang masih sangat belia. Memang, selain praktik kultural seperti ”perjodohan” dan ”pernikahan paksa” yang dilakukan oleh orang tua,  kehamilan tak dikehendaki (KTD) memang menjadi penyumbang masih tingginya pernikahan usia anak ini.  Sementara, modus pernikahan tak tercatat atau yang sering diistilahkan dengan nikah di bawah tangan atau nikah siri, seringkali dimanfaatkan oleh mereka yang hendak melakukan poligami seperti yang terjadi pada kasus Bupati Garut Aceng Fikri. Perempuan, terutama anak-anak perempuan menjadi korban pernikahan semacam ini.

Siang harinya, setelah rehat acara dilanjutkan dengan menghadirkan panelis Andi Yentriyani dari Komnas Perempuan dan Dr. Nur Rofi’ah dari Alimat. Sesi ini dipandu oleh Nani Zulminarni yang bertindak sebagai moderator. Andi Yentriyani dalam pemaparannya mnegawalinya dengan lebih dahulu berefleksi dengan situasi di kampungnya di Kalimantan Barat, dimana banyak gadis-gadis belia yang masih dalam usia anak dikawinkan oleh para orang tuanya  dengan pedagang dari Taiwan maupun Korea. Di sini, ia menerangkan bahwa acapkali pernikahan tak tercatat  juga menjadi modus trafficking yang korbannya adalah anak-anak. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa problem pencatatan perkawinan tak hanya terjadi pada orang yang ingin menyembunyikan fakta mengenai perkawinannya. Namun, UU Perkawinan juga menghadirkan problem terkait pencatatan perkawinan, mengingat keabsahan perkawinan seringkali hanya mencakup pemeluk ’agama resmi’ yang diakui negara atau pemeluk agama-agama mayoritas saja. Oleh karena itu, ia memperkenalkan beberapa istilah untuk menyebut persoalan ini dengan ”perkawinan anak”, ”kejahatan perkawinan” sehingga menjadi warning bagi masyarakat.

Nur Rofi’ah menyitir mengenai betapa seringnya fiqh digunakan untuk melegitimasi perkawinan yang potensial menimbulkan masalah. Seperti pemahaman mengenai ”baligh” sering diartikan bahwa seseorang telah mengalami perubahan fisik menjadi orang dewasa yang ditandai dengan mimpi basah bagi laki-laki, dan menstruasi pada perempuan. Padahal  banyak juga pendapat yang mengkaitkan interpretasi kata tersebut dengan dengan kematangan mental dan sosial. Selain itu, hadis mengenai pernikahan Rasulullah saw. dengan Aisyah yang saat itu masih dalam usia  anak,  juga dipahami  dengan perspektif yang berbeda di kalangan ulama sehingga tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pernikahan anak. Isu ”izin kawin” yang mesti diberikan oleh seorang  gadis atau janda kepada orang tuanya, juga bukan berisi ajaran menganai kawin paksa, melainkan perkawinan justru harus berdasarkan kerelaan calon mempelai. Namun sayang, pemahaman-pemahaman ini tidak terlalu banyak diungkap.

Forum ini ibarat ’reuni’ dari para aktivis perempuan  dan silaturahmi pelaku gerakan perempuan dari berbagai angkatan. Sekitar 80-an orang memadati ruang peretemuan. Tampak hadir Ibu Saparinah Sadli, Ibu Syamsiyah Achmad, Ninuk Widyantoro, Lies Marcoes Natsir, Yudha Irlang,  dan lain-lain. Dari kalangan generasi muda juga tampak nama-nama seperti Nina Nurmila, Ala’i Nadjib, Ratna Batara Munti, Rita Pranawati, Lolly Suhenti, dan lain-lain termasuk kami berdua : AD.Kusumaningtyas dan Pera Sopariyanti dari Rahima. Beberapa aktivis ormas keagamaan dari Nahdhatul Ulama,  Muhammadiyah, Fatayat NU, Muslimat NU, Alimat,  penghayat Agama Leluhur Nusantara  juga meramaikan perbincangan dalam seminar ini. Mudah-mudahan,  pertemuan ini merupakan awal yang baik bagi perubahan hukum keluarga khususnya Undang-undang Perkawinan di negeri kita. Semoga! {} AD.Kusumaningtyas