Profil

Profil (44)

Di Mulyasari, sebuah desa di kecamatan Mande  yang lokasinya berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Cianjur, terdapat sebuah tempat yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama ‘Terminal Pocong’. Di tempat yang namanya berbau mistis ini, terdapat beberapa kuburan bayi  yang merupakan anak-anak dari Mak Uun, seorang ibu yang pernah melahirkan hingga 25 kali (anak yang hidup hanya 4). Mereka meninggal tak lama sesudah dilahirkan atau ketika masih batita (di bawah usia 3 tahun). Selama bertahun-tahun, masyarakat setempat  mempercayai bahwa kematian bayi-bayi itu karena ‘sawan’, yang mengakibatkan mereka sakit-sakitan kemudian meninggal.

Di desa inilah Fatimah, salah seorang mitra Rahima dilahirkan. Situasi itu terefleksi sangat kuat dalam diri perempuan yang terlahir pada 11 Januari 1983 (yang akhirnya menjadi) putri pertama pasangan KH.Hasan Basri dan Enung Nuriyah. Banyaknya kasus kematian bayi memang menjadi momok di desanya. Bahkan, awalnya orang tua Fatimah seakan tak menyangka kehadirannya. Setiap kali ibunya hamil dan melahirkan, tak seorang pun anaknya bertahan hidup. Hingga akhirnya ia terlahir hidup sebagai anak ke-7 dari 8 bersaudara bila keseluruhannya masih ada. Keenam kakaknya yang telah terlebih dahulu lahir selalu  meninggal sewaktu masih bayi. Adiknya bernama Sofi Nurhasanah. Kini mereka berdua menjadi dua bersaudari  tumpuan harapan kedua orangtuanya yang dididik dan diberi kesempatan yang sangat luas untuk berkembang agar dapat menjadi sosok yang  layak dan pantas menggantikan ayahnya.

Dukungan Sang Ayah untuk Ber-thalabul ‘ilmi
Figur sang ayah sangat berpengaruh dalam kehidupan seorang Fatimah. KH. Hasan Basri adalah tokoh yang unik. Meskipun keluarga besarnya  sempat menyarankan agar beliau menikah lagi untuk dapat memiliki anak laki-laki yang akan meneruskan garis keluarga, namun beliau menolak saran tersebut. Penolakannya akan ’tradisi poligami’ inilah yang kelak menginspirasi putrinya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Beliau adalah seorang Kyai kampung yang mengasuh dan mencita-citakan agar majelis taklim Al Bidayah, yang didirikan KH.Zainal Arifin kakek Fatimah pada tahun 1980-an dapat menjadi rumah kedua bagi para jamaahnya. Beliau juga menyekolahkan kedua putrinya hingga ke jenjang pendidikan tinggi (universitas) untuk mengamalkan ilmunya kepada ibu-ibu yang belajar di majelis taklim Al Bidayah yang diasuhnya.

Dukungan ayahnya membuat Fatimah dapat mengenyam pendidikan baik formal maupun informal secara memadai. Pendidikan dasar didapatkannya di SD Negeri Situsari, kemudian ia melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Mathiyyatul Ulum, dan Madrasah Aliyah Tanwiriyah. Bahkan, ia juga sempat menikmati bangku kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Bandung (UNISBA) hingga lulus sarjana. Tak hanya itu, dengan segala upaya orang tua memberinya kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang S2 di Jurusan Ilmu Tafsir  UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Bagi kaum perempuan di sekitar kampung Fatimah, bisa mengenyam bangku pendidikan formal di sekolah adalah kemewahan. Menurut pandangan masyarakat setempat, tempat ideal bagi perempuan adalah di keluarganya. Kalaupun perempuan perlu mendapatkan kesempatan belajar adalah sebatas dalam hal-hal agama. Dan majelis taklim  adalah satu-satunya ruang publik  yang dapat mereka akses untuk menimba ilmu setelah menikah. Oleh karenanya, bagi Fatimah kesempatan yang ia dapatkan jauh melebihi apa yang didapatkan oleh kebanyakan perempuan di kampungnya.

Membangun Inisatif Lokal, Memberdayakan Perempuan
Berkenalan dengan Rahima pertama kali ketika Fatimah terlibat dalam Program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Angkatan I Wilayah Jawa Barat. Dari sana Fatimah menjadi terbuka bahwa perempuan ternyata memiliki hak-hak yang selama tidak mereka dapatkan akibat ketidakadilan gender yang terjadi di masyarakat. Kesadarannya bertambah manakala Rahima mengajaknya bergabung menjadi peneliti program Women Empowerment in Islamic Context (WEMC). Fatimah kemudian menjadi lebih kritis akan situasi desanya yang penuh ironi. Desa dengan tanah hijau subur itu ditinggalkan banyak warganya untuk merantau sebagai buruh migran di luar negeri. Pendidikan yang rendah,  kemiskinan, merupakan persoalan yang masih banyak dialami oleh masyarakat,  terutama kaum perempuannya.

Melalui majelis taklim Fatimah mengajak ibu-ibu untuk mengenali persoalan yang mereka hadapi. Terlebih dahulu ia mengajak para  perempuan ini untuk menggali pengetahuan dari pengalamannya untuk mengenali persoalan-persoalan di seputar gender dan kesehatan reproduksi. Tak jarang, beragam persoalan itu juga dipicu oleh pandangan bias gender  yang disampaikan oleh para Kyai dan tokoh agama yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki.  Oleh karenanya, Fatimah kini tak lagi menggunakan kitab Uqud al-Lujjayn yang bermuatan diskriminasi perempuan sebagai bahan ajar. Sebagai gantinya, ia mencoba menggali ayat-ayat maupun hadis-hadis ramah perempuan dalam menyampaikan pesan keagamaan, yang bekal itu didapatkannya dari forum Pengkaderan Ulama Perempuan  Rahima

Dalam ceramahnya Fatimah menyisipkan isu-isu seputar kesehatan reproduksi, seperti Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), HIV/AIDS dan lain-lain. Sering pula, Fatimah menyampaikan kembali beragam tema dalam majalah Swara Rahima maupun lembar Jum’at Al Arham kepada ibu-ibu majelis taklim dalam bahasa Sunda yang lebih akrab bagi mereka. Ia memfasilitasi jamaahnya untuk berefleksi tentang berbagai hal seperti kasus-kasus kematian bayi di Mulyasari. Kebiasaan memberi makanan padat ketika usia bayi masih terlalu dini, masih tingginya ketergantungan masyarakat dalam persalinan kepada paraji, belum optimalnya fungsi posyandu, maupun  layanan kesehatan yang mahal dan tak terjangkau masyarakat.  Ia sampaikan pesan setara gender dengan mengajarkan mereka lagu ‘Shalawat Kesetaraan’  serta memotivasi mereka untuk mengaktualisasikan diri dengan mencoba berani tampil di muka umum. Di antaranya dengan mengikuti Festival Shalawat Kesetaraan  di sela-sela kesibukan mereka bertani .

Hadapi Tantangan untuk Memajukan Desanya
Perjuangan mojang Cianjur yang  kini menikah dengan A.Muhammad Ishak dan dikaruniai seorang putra, Azka Muhammad Sirajuddin Al Basri tentu tak sepi dari kendala. Berbagai tantangan seperti bagaimana mendapatkan dukungan dari aparat desa, menggalang solidaritas masyarakat selalu coba dijawabnya. Hasil temuan penelitiannya mengenai banyaknya kasus kematian bayi memang sempat memerahkan muka pemerintah, khususnya pemerintahan desa. Namun, data itu telah membuka kesadaran masyarakat akan pentingnya fasilitas layanan kesehatan. Para ibu yang didampinginya mulai berani bersuara dan berbicara untuk memperjuangkan hak-haknya dalam forum Musrembangdes sehingga kini telah hadir sebuah Puskesmas di Mulyasari yang dibangun melalui program PNPM Mandiri.

Tuntutan hidup sempat membuat Fatimah bolak-balik Cianjur-Bandung untuk bekerja di IKOPIN kala sang buah hati masih bayi. Namun, semua itu ditinggalkannya karena lebih memilih untuk kembali ke ‘khittah’-nya berjuang memajukan kampung halaman. Belakangan, selain menjadi Dosen di STAI NU Cianjur, Fat tetap berkhidmat untuk mengajar di TPA/Madrasah Diniyah Al Bidayah, membina dan  memajukan lembaga pendidikan Al Bidayah yang kini juga memiliki SMP Plus Al Bidayah. Berangkat dari pengalamannya, Fatimah mengajak agar para perempuan lebih giat ber-thalabul ilmi. Ia juga berharap agar para orang tua dapat bersikap lebih adil dalam memberi kesempatan pendidikan bagi anak laki-laki dan perempuan. {} AD.Kusumaningtyas











Hari masih sangat pagi pada 24 Mei 2012 itu. Saya yang sedang berada di Kediri, baru saja menyelesaikan pekerjaan yang dikirimkan oleh kantor pusat. Sambil menunggu waktu bersiap ke lapangan untuk melanjutkan penelitian, saya membuka home Face Book (FB), membaca status beberapa teman. Tiba-tiba mata saya terpaku pada status Kang Mufid Azis yang di-upload pada pukul 5.27 wib: Innalillahi.. Tlh berpulang kerahmatullah Mupid Azis (yg punya akun ini) td malam di bdg. Rmh duka jl.Sukaati permai 2 no.11. Bdg.Sip.keluarga.

Rasa shock bercampur tak percaya, membuat saya berkali-kali membaca status itu. Kang Mufid meninggal? Sosok pendiam itu meninggal? Kenapa? Sakitkah? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran. Saya lalu teringat, seharusnya Selasa minggu sebelumnya kami bertemu di Yayasan Pekerti, tetapi ketika itu Kang Mufid tidak hadir. Mata saya kembali ke dinding FB Kang Mufid. Beberapa komentar berisi ucapan duka cita kemudian bermunculan. Terbersit pikiran untuk menelpon langsung ke nomor HPnya. Tetapi ternyata saya tak cukup punya keberanian. Saya lalu menelpon Mas Imam, Koordinator  Sekretariat Rahima, memintanya untuk mengecek kebenaran berita itu.

Tak berselang lama, Mas Imam mengabarkan kepastian itu. Kemudian, SMS berita duka dari nomor HP Kang Mufid yang dikirimkan oleh kerabatnya pun menyusul. Saya terpekur diam. Pikiran melayang pada sosok lelaki yang jika datang ke kantor Rahima suka mengenakan kemeja berwarna putih itu. Ketika terakhir kami bertemu pada sekitar Januari 2012 lalu, Kang Mufid masih dengan sapaannya yang khas, ”Apa kabar Dan?” Innalillahi wainnaillaihi rajiun…

*****
Bernama lengkap Mufid Aziz Sudibya, lahir 16 Juni 1954 sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Sejak lahir hingga lulus kuliah di Seni Rupa ITB, Kang Mufid tinggal bersama keluarganya di kota Bandung. Mungkin karena itulah, ia sangat mencintai kota Paris van Java itu. “Jika berada di Bandung, Kang Mufid sangat bodor (suka bercanda). Terlebih jika sudah bertemu dengan saudara atau teman-temannya. Ia telah bertekad akan menghabiskan masa tuanya di kota itu,”terang Elviah Darmudji, perempuan yang dinikahi Kang Mufid pada 1989 lalu.

Dari pernikahan mereka, lahirlah Oya (22, baru usai sidang sarjana S1 nya dari jurusan Sospol Unpad Bandung); Faikar (19, semester kedua di universitas Gunadarma), dan Alaqo (3). Kelahiran Alaqo, merupakan berkah yang ditunggu-tunggu Kang Mufid, setelah sang istri keguguran dua kali. ”Alaqo benar-benar menjadi penyemangat hidup Kang Mufid. Segala aktivitas Kang Mufid di rumah selalu melibatkan Alaqo. Beberapa bulan sebelum Kang Mufid pergi, Ia sedang  mengoleksi tanaman puring. Semuanya ada 29 jenis. Dan, Alaqo hafal semua jenis puring itu,” jelas Guru TK di daerah Tebet, Jakarta Selatan itu.

Kang Mufid mengenal Elviah pada 1983. Ketika itu Kang Mufid bekerja di Unit Pengembangan Wiraswasta dan Managemen (UPWM) milik P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) yang berlokasi di Pesantren Assyafiiyah, Pondok Gede. Sementara Elviah adalah santri di pesantren itu. Kegiatan utama UPWM berupa pelatihan pengembangan produk dan managemen bagi masyarakat di sekitar pesantren jaringan P3M. Jabatan Kang Mufid saat itu Asisten Manager, tetapi dalam pelatihan-pelatihan ia bertugas sebagai fasilitator. Di luar tugas utamanya, dan atas inisiatifnya sendiri, Kang Mufid juga memberikan pelatihan kepada santri-santri. “Kang Mufid mengajari kami melukis, menggambar, bertheater, menulis puisi juga membuat lagu untuk penampilan theater kami. Dia juga membuat skenarionya. Kang Mufid itu multi talent sekali,”demikian Elviah.

Bakat Kang Mufid yang lain men-design interior rumah. “Setahun terakhir ini, Ia dimintai tolong oleh adiknya, Yusran, untuk membantu men-design rumah beserta interiornya di Bandung. Kang Mufid antusias sekali karena Yusran membebaskannya untuk berkreasi. Seminggu sekali Kang Mufid pergi ke Bandung untuk mengecek perkembangan proyeknya itu. Jika tiba saatnya ke Bandung, Kang Mufid sangat penuh semangat. Rumah itu sudah jadi. Kang Mufid sangat puas dengan hasilnya. Ia meminta saya dan anak-anak untuk melihat hasil karyanya. Sayangnya saya belum sempat. Rabu 23 Mei 2012 itu, ia pergi ke Bandung bersama Yusran untuk memberi ‘sentuhan terakhir’ pada interior rumah. Usai itu, Yusran kembali ke Jakarta, dan Kang Mufid tinggal di Bandung. Ia ingin menginap di rumah baru itu. Tak ingin sendirian menikmati rumah baru, Ia lalu mengontak adiknya yang lain dan beberapa keponakan untuk menemaninya,” Elviah bertutur.

Ternyata, itulah kali terakhir Kang Mufid menginap di sana. Pukul 1.30, Ia mengalami serangan jantung. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Pukul 03.00, 24 Juni 2012, Kang Mufid dinyatakan meninggal oleh tim dokter.

*****
Kang Mufid, dipilih oleh Rahima untuk menjadi ‘tukang’ gambar majalah Swara Rahima (SR) edisi perdana - dengan tema “Mengukir Sejarah Baru” - pada Mei 2001 lalu. Pilihan tersebut didasari alasan hasil goresan Kang Mufid sangat tajam (penuh kritikan membangun). Selain itu, beliau dapat dengan cepat dan tepat mewujudkan ide dari sumber tulisan maupun lisan ke dalam bentuk gambar karikatur (pengalaman ini didapat ketika bekerjasama di P3M, lembaga sebelum Rahima lahir). Pilihan tersebut ternyata tepat. Karikatur Kang Mufid sangat pas dengan tema. Puas dengan hasil karya Kang Mufid itu, Rahima lalu metetapkan Kang Mufid menjadi ‘tukang’ gambar tetap bagi karikatur SR untuk edisi selanjutnya (hingga 38).

Kekhasan karikatur SR diamati oleh Wiwik Sushartami, seorang mahasiswa asal Yogyakarta yang sedang kuliah di Universitas Leiden Belanda. Ia kemudian tertarik untuk menganalisanya ke dalam salah satu bagian disertasinya untuk meraih gelar Doktornya pada 2012 ini. Tak hanya itu, beberapa lembaga lain seperti PP Fatayat yang menerbitkan buku BMI, Buruh Migran Indonesia, juga menggunakan jasa Kang Mufid untuk menggambar karikaturnya. Norhayati Kaprawi, seorang film maker dari negeri Jiran yang sedang melakukan penelitian tentang Islam di Indonesia juga menggunakan jasa Kang Mufid untuk membuat lukisan komik yang akan digunakannya untuk mengkritik pengharaman penampilan balet di Malaysia. SIS, Sisters in Islam, sebuah NGO yang punya pengaruh kuat di Malaysia juga sudah menggunakan jasa gambar Kang Mufid dalam bukunya.

Saya kehilangan seorang partner pengembangan media belajar. Kang Mufid itu bisa menyederhanakan materi pembelajaran ke dalam komik, sehingga menjadi mudah dimengerti, ”kata Suharto, rekan kerja Kang Mufid sejak  1984. “He is a great cartoonist with good working etiquette and ethics,” kata Norhayati Kaprawi. “Kami kehilangan seorang fasilitator yang humoris,” kata Yolita Ainun Rahmawati (Humas Yayasan Pengembangan Kerajinan Rakyat Indonesia, Pekerti, dimana Kang Mufid menjabat sebagai salah satu Pembina disana). Ya, kita semua memang kehilangan Kang Mufid. Semoga pesan-pesan melalui karikaturnya yang sudah tersebar dimana-mana menjadi amal jariyah baginya. Amin ya robbal ‘alamin (Dani)   



…Aku bukan apa-apa dan aku bukan siapa-siapa.

Tapi aku punya hati yang mampu menterjemahkan dunia.

Hatiku bergetar dan bergoncang ketika kakiku melangkah ke lokalisasi.

Air mata berlinang membasahi pipi sebagai pertanda aku punya hati.

Pilu bisu beku hatiku terasa.

Kemana kah hidup ini akan dibawa.

Jika lokalisasi tidak segera ditinggalkannya…



Penggalan puisi di atas ditulis oleh Umi Hanik, sesaat setelah Ia (bersama 11 peserta lain) kembali dari tugas ‘pengamatan’ di lokalisasi Sunan Kuning, Semarang. Tugas itu bagian dari materi Analisis Sosial, salah satu materi pada Tadarus 3 Program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima Angkatan 3 Jawa Tengah, yang berlangsung di PP Syaroful Millah, Pedurungan, Semarang, pertengahan Pebruari 2012 lalu. Menurut Perempuan kelahiran Karangawen, Demak, 42 tahun yang lalu itu, tugas pengamatan (sekaligus berinteraksi langsung dengan PSK) tersebut telah mengubah cara pandangnya dalam melihat sosok PSK. “Semula, saya menganggap mereka manusia pendosa. Pandangan saya berubah setelah bertemu dengan mbak Rini, mendengarkan penderitaannya, dan pada akhirnya kami menangis bersama.”

*****

Dilahirkan di lingkungan PP Daruttaqwa, Gubug, Purwodadi, sebagai putri keempat dari pasangan KH Masyhuri dan Nyai Hj. Musyarofah, Umi memiliki 2 saudara perempuan dan 2 saudara laki-laki. Sejak kecil, kakak-kakak Umi dididik dalam tradisi pesantren salaf yang kuat sesuai dengan kehendak Ayahanda. Baru, ketika Umi kecil mulai bersekolah, Ia diperbolehkan menempuh jenjang pendidikan formal, SD Negeri. Terbukanya kesempatan itu, dimanfaatkan betul oleh Umi. Maka, melalang lah Ia dari satu kota ke kota yang lain: Tsanawiyah di Bangil, Aliyah di Al Muayyad Solo, pendidikan hafal Quran dua tahun di Pandeglang dan ngaji kitab dua tahun di Assidiqiyah, Jember. ”Ketika saya pulang untuk berlibur, Ayah memberi kesempatan kepada saya untuk berbagi ilmu kepada santri lainnya,” terang Umi. “Ayah yang saat itu menjabat Syuriah NU Purwodadi, juga memperkenalkan saya dengan beberapa tokoh NU yang ada di kota kami,” lanjutnya.

Tahun 1998, Umi menikah dengan Achmad Zubaidi Mansyur. Mereka lalu menetap di Desa Karangawen, Demak. Ketika hendak menetap di Karangawen itu, Ibu Nyai Hj. Musyarofah, Ibunda Umi, ‘membekali’ nya dengan dua orang santri putri. Dari sana lah cikal bakal pesantren Hishnunaja, yang saat ini telah memiliki 50 santri putri. “Kelimapuluh santri putri itu usianya berfariasi antara usia MI hingga Aliyah. Sepuluh di antara mereka khusus mengikuti pendidikan hafidz Alquran. Kepada mereka diberlakukan metode pengajaran khusus untuk menjadi seorang hafidz. Adapun santri yang lainnya mengikuti pendidikan formal di sekolah-sekolah yang ada di sekitar pesantren. Kepada mereka, metoda pembelajaran Alqurannya berbeda dengan yang santri hafidz,” terang Ibu dari Izzati Ahla Laiti (7,5 thn) ini.  

Sejak menikah, Umi juga mulai berorganisasi. Ia mulai aktif di Fatayat juga Muslimat NU Karangawen. Melihat keaktifan Umi dalam berorganisasi, Pengurus Fatayat dan Muslimat NU Karangawen lalu mengamanahinya dengan jabatan Ketua Yayasan Pendidikan Tarbiyatul Athfal (YPTA) yang membawahi 3 sekolah, dan dalam kondisi ‘jalan di tempat’. Ingin total dengan amanah tersebut, Umi lalu mengikuti pendidikan PGTK 2 tahun. Hasilnya, saat ini, YPTA telah memiliki 6 TK, 2 PAUD, 1 RA dan 1 MI, 500 siswa, dan prestasi akademik yang sangat diperhitungkan hingga tingkat kabupaten. “Limapuluh persen kalender pendidikan berupa pendidikan agama. Guru-guru kami harus mempunyai dasar ilmu Alquran yang bagus. Setiap dua atau tiga bulan sekali ada pembekalan yang berasal dari luar yayasan yang dimaksudkan untuk meningkatkan SDM kami,” demikian Umi menjelaskan.      

Di Fatayat dan Muslimat kancab Karangawen, Umi menjabat sebagai Ketua I. Salah satu inisiasi kegiatannya, sima’atul Quran. Pada saat yang bersamaan, Umi juga menjadi koordinator dari perkumpulan hafidz Alquran tingkat kecamatan Karangawen yang beranggotakan 1.500 orang. Maka dua kegiatan tersebut dipadukan. “Pertemuan rutin diadakan setiap selapanan (35 hari). Biasanya didahului dengan membaca Alquran secara bersama sebanyak dua juz. Setelah itu ada pembahasan terjemahan dari beberapa ayat yang dibacakan. Ketika itulah saya menyisipkan beberapa pesan-pesan kesetaraan, atau pesan-pesan yang berisi pemihakan kepada korban,” jelas Ibu Nyai yang suka mengajak santri-santrinya ke berbagai kesempatan itu. 

Merasa bahwa sangatlah penting adanya keterlibatan bersama antara perempuan dan laki-laki dalam sebuah majlis, maka Umi pun mengusulkan kepada Pengurus Masjid Jami’ Kecamatan Karangawen untuk melibatkan perempuan di dalam kepengurusan masjid pada posisi-posisi strategis (bukan hanya sebagai seksi konsumsi). “Usulan tersebut pada awalnya dianggap aneh. Akan tetapi usulan tersebut kemudian diakomodir. Saat ini, jika pengurus masjid akan membuat keputusan terkait pembangunan maupun program, kami kaum perempuan sudah dilibatkan,” demikian Umi.

Tak berhenti di situ, dalam sebuah acara Pelantikan Kepengurusn PCNU Karangawen yang dihadiri oleh Ketua PBNU KH Said Agil Syiradj, Umi menyampaikan dihadapan forum, bahwa, sudah waktunya antara PCNU dengan Fatayat dan Muslimat untuk bekerja bersama-sama demi kepentingan umat. Usulan tersebut pada akhirnya disetujui oleh kedua belah pihak, dengan merumuskan rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang secara bersama-sama. “Kemarin kami, bergotong royong membantu korban banjir. Ke depan, kami akan bersama-sama menyelesaikan pembanguan gedung PCNU,” jelas Umi dengan nada sumringah.   

*****

“Kemarin dulu, mbak Rini SMS. Katanya, ia ingin mendengarkan pengajian saya. Saya turuti permintaannya. Maka, selama pengajian, saya ON kan HP saya, sehingga ia bisa mendengarkan secara langsung materi pengajian saya. Tak hanya itu, beberapa malam yang lalu, mbak Rini juga SMS, minta diajari dan dibangunkan untuk shalat tahajud. Saya membimbingnya,” terang Umi Hanik.

Rupanya, komunikasi antara Umi dengan mbak Rini, tetap terjalin usai ‘kunjungan’nya pada pertengahan Pebruari lalu. “Apa yang memotivasi Ibu?” tanya Penulis. “Mbak, saya belum bisa menolong mereka untuk keluar dari sana. Meskipun demikian, jangan biarkan mereka merasa sendirian. Mereka perlu disentuh dengan hati yang tulus,” Demikian Umi Hanik menutup perbincangan kami. (Dani)


















































Setelah berkali-kali gagal untuk membuat janji berbincang melalui telpon, akhirnya pada Senin, 5 Desember 2011, Penulis berhasil ‘menangkap’ Ibu yang super sibuk itu.  “Kali ini, Ibu sedang berada dimana?” tanya Penulis penasaran. “Saya sedang di Gowa Mbak,” jawabnya sambil tertawa. “Gowa, Sulawesi Selatan, Bu? Jauh sekali? Ada acara apa disana Bu?” tanya Penulis beruntun.

Begitulah Ibu Iroh, perempuan kelahiran Lebak, Banten yang masih sangat energik itu memang tak pernah ‘diam’.  Sejak Penulis mengenalnya hampir lima tahun lalu di salah satu kegiatan Rahima di Serang Banten, Ibu yang bernama lengkap Iroh Suhiroh ini memang mempunyai kegiatan yang sangat padat. Betapa tidak, selain mengajar di MTs, Ibu Iroh juga aktif di berbagai organisasi kepemudaan di ibukota propinsi Banten, Serang. Selain itu, ibu Iroh juga mengajar di Institut Agama Islam Banten (IAIB), dan menjadi Ketua majlis taklim di perumahan tempat tinggalnya. Sekarang, setelah lima tahun berlalu ternyata kegiatan Ibu yang sudah menjadi Kepala Sekolah di MTs Negeri Curug Serang ini masih tetap sama padatnya. Tidak hanya di sekitar Banten, bahkan hingga ke Gowa di Sulawesi Selatan.

“Di Gowa sini, saya menemani 16 pramuka Penggalang (8 putra dan 8 putri)dari propinsi Banten untuk mengikuti Jambore Budaya Serumpun Indonesia Malaysia. Kegiatan ini merupakan yang Ketiga, dihadiri 1.228 peserta yang terdiri dari pramuka Penggalang Putra Putri, dan Pembina Pendamping, diadakan selama enam hari, 2 - 7 Desember 2011. Kegiatannya meliputi: 1. Seni Budaya dan Kerajinan, yang lokasinya berpusat di Benteng Somba Opu; 2. Jelajah alam yang berlokasi di Taman Nasional Bantimurang-Bulusaraung, dan 3. Wisata Budaya, dengan agenda mengunjungi tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah,” terang Ibu Iroh panjang lebar.

Bagi Ibu Iroh, pergi jauh dari Serang di ujung barat pulau Jawa hingga ke Gowa di pulau Sulawesi bagian selatan dengan membawa rombongan seorang diri bukanlah tanpa maksud. Ibu yang baru berulang tahun ke 52 pada Desember 2011 kemarin ini, ingin agar ibu-ibu jamaah pengajian Darussalam, jamaah majlis taklim yang ia pimpin, guru-guru dan juga murid-murid di sekolahnya, dapat memetik pembelajaran darinya bahwa menjadi perempuan juga harus bisa mandiri.

Tema kemandirian bagi perempuan adalah salah satu tema yang selalu disampaikan oleh Ibu Iroh dalam berbagai kesempatan, di berbagai forum majlis taklim. Tema ini juga disampaikan dalam forum rapat dengan guru-guru di sekolah yang ia pimpin. “Menjadi perempuan itu, bukan berarti kita minta dilayani atau difasilitasi. Kita sebagai perempuan harus bisa menunjukkan kepada pihak lain, bahwa kita juga bisa mandiri,” terang Ibu yang ketika masih mengajar ini mengampu dua mata pelajaran, Bahasa Indonesia dan PAI (Pendidikan Agama Islam).

*****
Ibu Iroh, tinggal di Komplek Bumi Mukti Indah yang terletak di Desa Ciracas, Serang. Awal mula memperkenalkan wacana kesetaraan dalam perspektif Islam kepada keluarganya dilakukan oleh Bu Iroh dengan cara yang halus, yakni dengan meletakkan majalah Swara Rahima di tempat yang terlihat, seperti di atas meja di ruang keluarga. Strategi itu terbilang jitu, anggota keluarga mulai membaca majalah tersebut. Strategi kedua lalu dilancarkannya, kali ini bukan hanya majalah, tetapi berbagai macam buku terbitan Rahima.

“Apakah hanya kepada keluarga wacana kesetaraan perspektif Islam itu disosialisasikan, Bu?” tanya Penulis. Ternyata tidak. Kepada anggota majlis taklim di komplek perumahannya, hal itu juga disampaikan. Kebetulan di majlis taklim Darusslam itu, Ibu Iroh menjabat sebagai Ketua. Tema yang lain, adalah mengenai penolakan pada praktek sunat perempuan. “Mengapa Ibu tidak setuju dengan praktek sunat perempuan?” tanya Penulis. “Karena selain praktek tersebut merugikan kaum perempuan, saya juga tidak menemukan landasan teologis yang mendasar dari alasan dilakukannya praktek sunat perempuan,” terang sarjana Master of Sociology ini.

Selain Ibu Iroh, ada lagi Ustad Junaro, seorang ustad yang rutin mengisi pengajian di majlis taklim Darussalam yang beranggotakan sekitar 40 orang ini. Agar terdapat kesamaan pandangan antara Ibu Iroh dengan Ustad Junaro, maka Ibu Iroh berusaha menularkan pengetahuan yang ia miliki kepada sang Ustad dengan cara-cara yang tidak menggurui. “Majalah Swara Rahima dengan berbagai temanya, yang masih rutin saya terima, juga menjadi referensi saya dalam mensosialisasikan wacana kesetaraan perspektif Islam,” terang Ibu Iroh.

Kegiatan Ibu Iroh memang sudah tidak ‘sepadat’ lima tahun lalu. Tanggung jawab sebagai kepala sekolah yang harus berkonsentrasi penuh pada beroperasinya MTs Negeri Curug yang baru berdiri pada 2009 lalu ini menyebabkan banyak kegiatan di luar sekolah yang ditinggalkannya. Siaran radio di Serang FM, mengajar di IAIB hingga kegiatan organisasi kepemudaan, semua ditinggalkannya. Konsentrasinya sekarang lebih banyak diberikan kepada sekitar 400 siswa MTs, beserta sekitar 70 guru-guru dan pegawai TU sekolah. Yang lain adalah kepada majlis taklim Darussalam yang ia pimpin. Salah satu hasilnya, seperti yang kita baca di atas. Sebagian anak didiknya bisa mengikuti kegiatan Jampore Serumpun di Gowa. Tidak semua anak beruntung memiliki kesempatan tersebut. Tetapi dengan kemandirian, sebuah kata yang selalu didengang-dengungkan oleh Ibu Iroh, hal itu menjadi mungkin bagi siswa-siswanya. Semoga, makin banyak hasil yang bisa dipetik dari yang Bu Iroh tanamkan. Semoga. (dani)     








Setelah lama ‘menghilang’ akhirnya kami bertemu lagi pada Nopember 2010 lalu di sebuah semiloka yang diadakan oleh Rahima di Depok, Jawa Barat. Perempuan kelahiran Pati 34 tahun yang lalu ini tak banyak berubah, tetap ceria dan ramah. Bicaranya pun tetap sama, apa adanya. Yang berbeda adalah statusnya, tak lagi lajang tetapi telah menjadi istri dari M. Liwaudin, bahkan telah menjadi ibu dari seorang gadis mungil, Aknaz, 3.5 tahun. Dia lah, Umdah El Baroroh, yang telah beberapa waktu menghilang dari hiruk-pikuknya Jakarta. Ya, Umdah, panggilan akrab perempuan itu, lebih memilih untuk kembali ke tempat asalnya, di desa Cebolek, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, setelah malang melintang di Jakarta selama kurang lebih 11 tahun. Apa yang kau lakukan di sana Umdah?

“Saya dan suami diminta oleh keluarga besar untuk mengaktifkan kembali pesantren Mansajul Ulum, yang sempat vakum berkegiatan selama lima tahun,” terang perempuan manis itu. Mengapa pesantren yang didirikan pada tahun 1970 itu sempat vacum? “Ya, karena, ketika Ayah saya, KH Muhammadun wafat, saya dan ketiga saudara kandung sedang menimba ilmu di Jakarta. Ibunda kami, telah lebih dahulu wafat. Sementara kakak perempuan saya telah menikah dan menjadi ibu Nyai di pesantren lain,” terang Alumni Fakultas Syariah jurusan Perbandingan Madzab dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2003. Lalu, usaha-usaha apa yang telah dilakukan untuk mengaktifkan pesantren salaf itu? “Tahun 2006 lalu, kami mengundang para alumni untuk ikut memikirkan mengenai masa depan pondok ini. Keputusannya antara lain, mengaktifkan kembali pondok. Tak hanya membuat keputusan, beberapa alumni santri bahkan langsung bertindak, menitipkan anak-anak mereka di Pondok,” terang perempuan yang pernah menjadi redaktur pelaksana Swara Rahima ini.

Sejak itu, kegiatan di pondok pesantren Mansajul Ulum mulai menggeliat lagi terutama oleh kegiatan santri yang berlangsung sejak sebelum subuh hingga malam hari. Kurikulumnya merupakan pengembangan dari para pengasuh yang disesuaikan dengan kebutuhan santri. Sesudah sholat Subuh, santri wajib belajar nadzoman shorof (teori mempelajari perubahan kata dalam bahasa Araf yang dilagukan). Sesudahnya para santri pergi ke sekolah formal yang dilakukan di luar pondok- biasanya santri bersekolah formal di Yayasan Matholiul Falah yang berjarak 1.5 km. Yayasan yang salah satu pendirinya adalah KH Sahal Mahfudz ini menyediakan pendidikan dari tingkat MI hingga MA. Menjelang sore, santri belajar materi khusus tentang ilmu gramatikal bahasa Arab dan baca tulis Arab. Sore harinya, belajar kitab Fathul Qorib. Usai Maghrib, santri wajib mengaji Alqur’an. Sesudah Isya, kitab-kitab yang diajarkan santri berbeda setiap harinya, mulai dari Fathul Muin, Ibdu Aqil, Irsyadul Ibad, Bhulugul Marom hingga Tahrir.  Semua kurikulum tersebut diberikan kepada santri laki-laki dan juga perempuan, tanpa ada pembedaan.Tampaknya, usaha keras Umdah dan suami dalam mengembangkan pesantren mendapat tempat tersendiri dari masyarakat, nyatanya, santri yang semula hanya 5, sekarang sudah berjumlah 37 santri (23 perempuan dan 14 laki-laki).

*****
Selain mengelola pesantren, Umdah juga mengajar di dua tempat: di Ma’had Lita’lim al Lughoh al Arobiyah  yang berada di bawah naungan Yayasan Al Mundziyat milik pesantren Raudhotul Ulum. Lembaga pendidikan ini memiliki program Ma’had Ali dan Pengembangan Bahasa. Umdah mengajar  Bahasa Arab (semester 1 &2) dan Ushul Fiqh (semester 4) di sana. Di STAIMAFA (Sekolah Tinggi Agama Islam Matholiul Falah), Umdah mengajar tiga mata kuliah: Pengantar Tasawuf (semester satu), Gender dan Pembangunan (di semester tiga), dan Pesantren & Pengembangan Masyarakat (semester 6). Menarik juga untuk mengetahui lebih jauh mengapa gender diajarkan di sana? Menurut Umdah, “Hal itu merupakan kebijakan dari institusi. Mata kuliah Gender sudah masuk dalam MKK (Mata Kuliah Kejuruan). Di STAIMAFA masuk pada jurusan PMI (Pengembangan Masyarakat Islam). Sudah ada tiga angkatan di jurusan itu dimana di setiap angkatannya rata-rata terdapat 20 mahasiswa.”

Kepada mahasiswanya, Umdah mendorong untuk membuat forum lingkar studi yang khusus mengkaji tentang gender. Forum kajian yang dimulai dari 10 mahasiwa ini, dinamai ‘Musawa’. Kajian rutin yang sudah diadakan: mengkaji buku karya Mansour Fakih, Gender dan Transformasi Sosial; Kajian Modul Agama dan Kesehatan Reproduksi, dll. Tak berhenti pada kajian, Umdah juga mendorong mahasiswanya untuk sosialisasi hasil kajian (Agama dan Kesehatan Reproduksi), kepada ibu-ibu muda anggota Fatayat, PKK dan Kader Pos Yandu.

Pada Kepengurusan sekarang (2010-2011), Umdah memang didaulat menjadi Ketua Fatayat Ranting Cebolek. Kepada anggota Fatayat di tingkat akar rumput inilah, Umdah berbagi tentang berbagai pengetahuan yang dimilikinya terutama terkait dengan isu-isu perempuan. Sesekali, suami tercinta pun ikut dilibatkan menjadi narasumber, agar ada pergantian suasana.

*****
“Mbak, punya nomor kontak WCC (Women Crisis Center) yang ada di Semarang? Tolong kirim ya, aku sedang pendampingan korban pelecehan seksual yang dialami oleh seorang remaja putri di tempat kerjanya, dia butuh pendampingan psikologis.”

Permintaan itu disampaikan Umdah melalui telpon kepada Penulis. Segera saja Penulis menghubungi Rifka Annisa, Yogyakarta untuk mendapatkan rekomendasinya. Tak cukup hanya itu, informasi dari beberapa teman lain seperti dari Komnas Perempuan, PKBI, Mitra Perempuan, maupun informasi dari beberapa individu Penulis sampaikan juga kepadanya untuk ditindaklanjuti. Mudah-mudahan pembelajaran nyata dari seorang Umdah tentang pembelaan kepada kaum mustadz’afin ini menjadikan kita semakin sadar akan pentingnya kesalehan sosial di dalam masyarakat. Semoga (Dani)

”Berdosakah seorang isteri yang suaminya menyuruh pulang (sebagai Buruh Migran), tetapi ia tidak mau karena hutangnya masih menumpuk (karena semua beban dipundaknya)?”.

Demikian salah satu pertanyaan yang dilontarkan seorang jamaah Nyai Mahmudah saat mengikuti pengajian. Canggihnya, pengajian ini dilakukan dengan menggunakan Teknologi Informasi yaitu dengan fasilitas teleconference (Jamaah mengikuti pengajian dengan handphone dari rumah majikannya masing-masing). Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Assalafy Blokagung Tegalsari Banyuwangi ini,  pengajian dengan para buruh migran Hongkong telah menjadi rutinitas hampir 2 tahun setiap malam Sabtu pukul 10.00.

“Kami mengisi pengajian di Jam’iyah Salikul Lail dengan tema sesuai pesanan atau sesuai situsi dan kondisi. Bahkan beberapa bulan terakhir mereka meminta mengaji kitab Mar’atus Shalihah yang bertuliskan dengan huruf arab pegon.  Biasanya kami meminta mereka untuk membaca, setelah itu baru kami terangkan dan diakhiri dengan do’a”.

Menurut, pengasuh pesantren Darulaitam Darusssalam Blokagung, Ilmu pengetahuan yang diperoleh peserta Pengkaderan Ulama Perempuan Rahima dari pesantren, pelatihan dan bangku kuliah itu dibagikan kepada orang lain melalui pesantren, masyarakat sekitar dan bahkan kepada Buruh Migran yang ada di Hongkong dalam wadah Majlis Taklim  Salikul Lail.

Isteri dari Achmad Qusyairi Syafa’at, SH. MM atau dikenal dengan sebutan “Gus Mad” Blokagung Banyuwangi ini ingin menunjukkan bahwa pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga usia tidak menjadi halangan. Pesan untuk para perempuan, jadilah perempuan yang pintar. Dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, perempuan diharapkan menjadi lebih berdaya.

Semangat belajar itu dipraktikkan sendiri oleh putri dari pasangan Bapak H.M. Basyir dan Ibu Hj. Siti Zuhro Umayyah dengan terus belajar di berbagai tempat dan kesempatan. Ibu dari Vina Mawaddah Ahmad, S.Pd.I  (22 Th), Khotibul Umam Ahmad (18 Th), Mukhtar Basyir Ahmad ( 15 Th), Shofia Nabila Ahmad ( 14 Th), Elmalia Kamila Ahmad ( 4 Th) sampai menyabet tiga gelar  yaitu S.Sos.I, S.Pd.I, M.Pd.I. Sebuah capaian yang luar biasa.

Pada pengajian ini, Ibu Nyai kelahiran Pekalongan, 22 Juli 1967 ini memberikan kesempatan kepada para Buruh Migran (TKW) untuk menyampaikan pertanyaan. Menurut Ketua HIDMAT (Himpunan Da’iyah dan Majlis Ta’lim Muslimat cab. Banyuwangi) 2011 ini pertanyaan yang disampaikan terkait persoalan kehidupan mereka, keluarga dan masalah di tempat bekerja.  “Pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan problematika mereka, baik dengan keluarga (suami, anak, orang tua, dll) atau ditempat mereka bekerja. Sehingga tak cukup hanya dijawab dengan dalil Naqli tetapi juga dengan dalil Aqli (penalaran). Semangat mereka untuk thalabul ilmi dan beribadah besar sekali, hingga suami  saya (Gus Mad Blokagung Banyuwangi) memimpin mereka beristighotsah dan munajat kubro setiap malam jum’at legi tepat Nisfu Lail melalui teleconference.”

Menurut Ibu Nyai yang juga sebagai Pengasuh Majlis Ta’lim Baarik Lana Mushala Ghozali PP. Darulaitam Darussalam ini, pengetahuan yang diperoleh dari mengikuti pendidikan di berbagai tempat itu sangat bermanfaat ketika mengisi pengajian maupun menjawab pertanyaan ketika wartawan bertanya.  “Ketika kami mengisi pengajian di Masjid Jami’ Tsim Shat Tsui Kowloon ada wartawan yang menghampiri dan bertanya tentang permasalahan yang dihadapi TKW Hongkong. Alhamdulillah kami jawab dengan ilmu-ilmu yang didapat dari Rahima mengenai adanya perlindungan terhadapt TKI serta undang-undangnya, dan lain-lain.”

Menurut pengamatan ibu Nyai yang pernah kuliah di  IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, Buruh Migran di Hongkong lebih beruntung dari pada Buruh Migran di negara lain.  “Di Hongkong TKW lebih beruntung dari pada di negara lain, karena setiap seminggu sekali dan tanggal merah mereka diberi cuti kerja mulai dari pagi hingga malam, keluar dari rumah majikan untuk berlibur dan mencari aktifitas lain.”

Kesempatan yang baik ini, banyak juga dimanfaatkan para Buruh Migran untuk mengikuti pengajian dan menambah keterampilan, demikian menurut Nyai yang juga Dosen STAI Darussalam Blokagung ini. “Diantara mereka yang sadar dan mendapat hidayah Allah, maka waktu libur mereka gunakan untuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh berbagai macam organisasi atau jam’iyah  yang jumlahnya sangat banyak, bahkan kalau mau mereka bisa mengikuti 3 kali pengajian dalam sehari. Sebagaimana pengalaman kami pernah mengisi pengajian 3x dalam sehari. Pagi di Lapangan Victoria Park, siang di Masjid Tsim Shat Tsui  dan sore di Masjid Amar Wancay Hongkong. Ada juga yang menggunakan waktu libur untuk mencari ilmu keterampilan seperti latihan komputer, bahasa asing, merias atau salon, dan lain-lain.”

Menurut ibu Nyai yang murah senyum ini, selain hal-hal positif yang diperoleh Buruh Migran di Hongkong, hal negatif pun menggodanya, jika tidak bisa menahannya.  “Sisi negatifnya, adanya waktu libur bagi mereka yang tidak sadar dibuat untuk berfoya-foya, sehingga uang hasil kerja mereka habis hanya untuk bersenang-senang.”

Terkait peran laki-laki dan perempuan, ibu Nyai berpendapat bahwa lahan perjuangan bagi perempuan sama luasnya dengan laki-laki karena Allah tidak melihat siapa mereka tapi melihat siapa yang berbuat. Sebagaimana dalam Alqur’an :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl : 97)

Laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan perbuatan yang baik. Pengetahuan menjadi modal yang sangat baik untuk meraih kesempatan yang mulai terbuka.  Ibu Nyai yang juga menjabat Ketua I Fatayat NU Cab. Banyuwangi ini berpesan dengan mengutip sebuah hadis  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfa’at bagi orang lain”. Wassalam[] (Maman. A. Rahman)



 

“Ibu saya selalu menceritakan kisah tokoh-tokoh perempuan baik yang berasal dari dalam ataupun luar negeri di setiap suratnya kala itu….”

Itulah ungkapan Hindun Anisah, perempuan yang lahir di Yogyakarta 2 Mei 1974. Kepada penulis ia bertutur tentang cerita-cerita berkesan yang ditulis oleh sang ibu di dalam surat-suratnya ketika Hindun masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Surat berlembar-lembar yang dikirimkan secara rutin oleh ibunya berisi tentang kisah tokoh-tokoh perempuan, baik tokoh lokal ataupun internasional, agar Hindun kecil terinspirasi dan mencontoh apa yang dilakukan oleh para pejuang perempuan tersebut. Tak heran, ketika di bangku SD, Hindun kecil sudah mulai menghafalkan Alquran, yang kemudian ia lanjutkan sampai di jenjang Madrasah Aliyah.

Sewaktu kecil, Ning Hindun --begitulah dia biasa dipanggil-- tinggal bersama kakek-neneknya dari pihak ayah. Mereka adalah pengasuh pondok pesantren Salafiyah Pasuruan. Karena hidup jauh dari anaknya, sang Ibu yang tinggal di Yogyakarta tepatnya di pesantren Ali Ma’shum Krapyak, rajin mengirimkan surat kepada Hindun kecil. Berawal dari surat-surat itulah, kesadaran tentang “kesetaraan gender” tertanam kuat di benaknya.

Pengalaman Ning Hindun tersebut cukup unik, mengingat selama ini pesantren dipandang kental dengan budaya patriarkhinya. Namun Ning Hindun sepertinya tidak mengalami nasib seperti tokoh Annisa dalam novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’ yang ditulis oleh ‘Abidah el-Khalieqy (2001). Selama ini pesantren sering dianggap sebagai institusi yang  melanggengkan pemahaman keagamaan yang  sempit dan bias gender.  Namun, saat ini justru banyak para alumni dan pengasuh pesantren yang menjadi motor penggerak isu keadilan gender di dalam Islam.

Ning Hindun adalah salah satunya. Perempuan yang menikah dengan Nuruddin Amin (Gus Nung), pengasuh pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara, saat ini aktif berkecimpung di berbagai lembaga seperti ELKPERA (Lembaga Kajian Perempuan dan Anak), LBH NU, LKK NU, dan menjadi koordinator Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak untuk wilayah Jepara. Di samping itu, Ning Hindun merupakan salah satu pengurus di pusat pelayanan terpadu untuk perlindungan perempuan korban KDRT di Kabupaten Jepara. Bersama-sama dengan pengurus lain, Ning Hindun aktif mendampingi para perempuan korban kekerasan.

Berbagai aktifitas yang Ning Hindun jalani saat ini tidak lain merupakan cerminan dari konsistensi dan komitmennya untuk memperjuangkan isu-isu perempuan. Semenjak kuliah di Fakultas Syari’ah Jurusan Perbandingan Madzab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ibu dari lima orang anak ini sering mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesejahteraan Fatayat (YKF) NU dan langsung bergabung dengannya ketika lulus. Ning Hindun juga tercatat sebagai salah satu alumni pelatihan Fiqhun Nisa’; sebuah program yang dikelola P3M Jakarta pada tahun 1990-an yang mempopulerkan isu gender dalam konteks Islam.

Ning Hindun juga mengenyam pendidikan di universitas luar negeri. Berkat prestasinya, ia mendapatkan beasiswa dari Ford Foundation untuk melanjutkan S2 di Universitas Amsterdam Belanda, jurusan Anthropologi Kesehatan. Ning Hindun bercerita singkat kepada penulis tentang thesis S2-nya yang berjudul ”Madurese Muslims Ritual Prior to Sexual Intercourse”. Salah satu studi kasus yang dikaji adalah mengenai tradisi pemakaian ‘ramuan Madura’ oleh para isteri di pulau Madura. ”Asumsi umum yang mengatakan bahwa ’ramuan Madura’ itu untuk memuaskan suami, ternyata tidak sepenuhnya benar. Hasil riset saya melihat bahwa perempuan juga menggunakannya sebagai senjata agar para suami bertekuk lutut. Jadi, ini bukan hanya penyerahan penuh terhadap suami, tetapi juga perlawanan terhadap relasi yang patriarkhis ”, ungkapnya.

Terkait dengan kepemimpinan ulama perempuan, Ning Hindun berpendapat; ”Ulama bukan hanya orang yang mumpuni dan kompeten di bidang agama, tetapi dia harus bisa mendialogkan antara teks dengan realitas. Dengan kemampuan ini, maka ulama bisa dekat dan diterima oleh masyarakat. Ulama perempuan juga merupakan sebuah keharusan karena di dalam sejarah kita punya banyak sekali contohnya. Saya kira masyarakat Indonesia sangat terbuka untuk menerima kehadiran ulama perempuan”.

Pendapat Ning Hindun ini sebenarnya merupakan cerminan dari dirinya sebagai seorang ulama perempuan. Sebagai pengasuh pesantren, ibu dari Afa (11), Fay (9), Levi (7,5), Reva (22 bln) dan Alea (5 bln) ini tidak hanya sibuk dengan aktifitas mengaji dengan para santri, tetapi juga peduli terhadap realitas dan problem yang dihadapi oleh umat. Ning Hindun memilih untuk berfokus pada kegiatan advokasi terhadap perempuan yang mengalami kekerasan dan ketidakadilan baik di dalam masyarakat maupun di dalam keluarga. Ini penting, mengingat acapkali masyarakat justru cenderung menyalahkan perempuan korban.

Dalam kerangka penegakan terhadap hak-hak perempuan itulah, Ning Hindun berjibaku mendidik para santri putri agar menjadi perempuan yang tangguh seperti dirinya. Ia memperkenalkan materi tentang Fiqh perempuan (fiqhun nisa’) dan perspektif gender kepada para santrinya, baik putri maupun putra. Bahkan, Amina Wadud (aktivis perempuan terkemuka dari Amerika) pernah berkunjung ke pesantrennya  dan berdialog dengan para santri. Pesantren yang diasuh Ning Hindun juga berlangganan majalah Swara Rahima yang ditempatkan di perpustakaan pondok.

Belakangan ini, para santri Ning Hindun diajak berdemo untuk menentang pembangunan PLTN (Proyek Listrik Tenaga Nuklir) yang sedianya akan dibangun di wilayah Jepara, jaraknya 10 km dari pondok. Komunitas pesantren dan masyarakat luas menolak keras pembangunan proyek ini, karena akan sangat berbahaya bagi kehidupan warga di Jepara. Aksi semacam ini merupakan wujud dari kepedulian ulama perempuan terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Salut buat Ning Hindun![] Riri Khariroh

 

 

 

 

”Mudah-mudahan sekecil apapun langkah yang kita lakukan bisa turut berkontribusi untuk terwujudnya "Hayatun Tayyibah dan Hayatun 'Adilah bagi kita semua, laki-laki dan perempuan. Amin".

Itulah balasan Ibu Ida (begitulah kami memanggilnya) saat membalas komentar penulis di status facebooknya tentang acara lomba sholawat kesetaraan yang diadakan di Lingkungan Fatayat NU Kabupaten Tasikmalaya. Anak ke-dua dari pasangan KH. Moh. Ilyas Ruhiat dan Nyai Hj. Dedeh—pengasuh pondok pesantren Cipasung -- sangat getol menyuarakan isu kesetaraan gender di komunitasnya. Meski tidak menyebut kata gender, akan tetapi isu kesetaraan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam seabrek aktifitasnya, antara lain sebagai kepala sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sukamanah, pengasuh asrama putri Pesantren Cipasung, penceramah di beberapa majlis taklim, dan aktivis Fatayat NU Cabang Tasikmalaya mapun di Fatayat Wilayah Jawa Barat.

Diakui oleh Ibu Ida bahwa semangat perjuangan untuk melakukan pemberdayaan di komunitasnya diilhami oleh semangat perjuangan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Semenjak kecil Ibu Ida hidup di lingkungan keluarga pesantren. Akan tetapi, ia dibesarkan dalam tradisi yang sangat cair, demokratis, terbuka, dan fleksibel dalam menjalankan kehidupannya.  Bahkan perempuan yang menyelesaikan pendidikan SD-SMA-nya di Cipasung ini tidak merasakan adanya kekangan-kekangan baik yang dilakukan oleh komunitas pesantren maupun oleh keluarganya.

Sebagai seorang anak perempuan dari seorang Ajengan, Ibu Ida mengakui bahwa ruang geraknya tidak dibatasi. Bahkan, sejak kecil ia melihat ibu dan juga neneknya sangat gigih melakukan aktifitas baik di dalam maupun di luar rumah untuk melakukan pendidikan di masyarakat. Ibu Ida menuturkan bahwa neneknya yang ada di pesantren Gentur-- salah satu daerah yang tak jauh dari tempat ia tinggal di Cipasung-- sangat aktif melakukan pendidikan untuk kaum perempuan. Setiap sore neneknya mengajari ibu-ibu yang sudah tua belajar mengaji dan belajar tata cara shalat melalui nadzom-nadzom (nyanyian-nyanyian) yang ia karang sendiri. Konon, masyarakat mempercayai bahwa kampung di sekitar Gentur itu diislamkan oleh neneknya. Demikian pula sang Ibu, kegiatan mendidik kaum perempuan juga bagian dari aktifitasnya sehari-hari. Kedua sosok perempuan inilah yang mendorong Ibu Ida untuk menjadi perempuan aktif.

Berjuang untuk Kesetaraan Gender

Ibu Ida yang saat ini mengasuh secara intens sekitar 100 santri (putera dan putri) dari jumlah total 4.500 santri yang belajar di pesantren Cipasung, pertama kali berkenalan dengan isu kesetaraan gender melalui program Fiqhun Nisa yang diadakan oleh P3M. Di forum ini Ibu Ida mengenal sosok seperti Lies Marcoes dan Masdar F. Mas’udi yang menjelaskan tentang bentuk-bentuk ketidakadilan gender di masyarakat. Namun, saat itu Ibu Ida menyadari bahwa ia hidup di dalam keluarga yang memiliki sensitifitas gender yang cukup. Ia merasa beruntung dibesarkan di dalam keluarganya, sebab orangtuanya memberikan kesempatan yang sama antara anak laki-laki dan perempuan. Persentuhannya dengan lembaga-lembaga lain seperti Rahima dan Puan Amal Hayati membuatnya semakin mengerti berbagai persoalan gender di dalam konteks Islam.

Lulusan Magister Kimia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2000 ini menyadari bahwa tidak semua perempuan bernasib baik seperti dirinya. Semenjak remaja Ibu Ida sering ikut ibunya mengisi ceramah di majlis-majlis ta’lim dan mengajar di sekolah. Dari situlah, Ibu Ida mulai mengenal bahwa banyak perempuan yang mengalami kekerasan berbasis gender, seperti pernikahan dini, nikah paksa, KDRT dan sebagainya.

Saat ini Ibu Ida merupakan salah satu pejuang kesetaraan gender di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. Persinggungannya dengan berbagai komunitas, membuat perempuan yang pernah melanglang buana ke berbagai negara di Asia, Eropa dan bahkan Amerika ini,  semakin melek melihat realitas kaum perempuan yang mengalami diskriminasi dan kekerasan. Ibu Ida menyaksikan di masyarakat banyak anak perempuan yang putus sekolah lantaran dinikahkan secara paksa oleh keluarganya. Begitu juga ia melihat berbagai kasus kekerasan yang menimpa perempuan bahkan salah satu saudara perempuannya juga menjadi korban. Menurutnya bahwa banyak perempuan sering diam terhadap kekerasan yang menimpanya sebab secara ekonomi sangat tergantung pada suaminya. Alasan lainnya adalah bahwa perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh suami itu seolah-olah sudah mendapatkan legitimasi dari teks-teks keagamaan yang mengatakan bahwa laki-laki itu adalah kepala keluarga dan boleh “memukul” istrinya. Inferioritas dan subordinasi perempuan ini juga dikokohkan oleh budaya patriarkhi.

Saat ini Ibu dari empat orang anak (Moh Sabar Jamil, Ahmad Zamakhsary Sidik, Ajeng Sabarini Muslimah, dan Hauna Taslima) aktif melakukan upaya-upaya permberdayaan perempuan. Salah satu caranya adalah memberikan motivasi baik pada murid-muridnya, santri, dan para pengurus asrama agar memiliki pendidikan tinggi dan juga mandiri secara ekonomi. Ibu Ida tidak hanya mengintegrasikan isu gender di dalam berbagai kurikulum baik di sekolah maupun di pesantren, tetapi ia kerap mengajak anak-anak santrinya untuk berbincang-bincang santai seputar isu anak muda, misalnya soal pacaran. Ibu ida selalu berpesan kepada santrinya; “Jangan sekali-kali merasa cukup dengan tergantung pada suami, karena banyak terjadi kasus kekerasan itu salah satunya berawal karena ketergantungan ekonomi”.

Di forum-forum yang lain seperti majlis ta’lim dan Fatayat NU, Ibu Ida tidak hanya mengajar materi agama tetapi juga menjelaskan isu-isu kontemporer seperti  HIV/AIDS, UU PKDRT, bahaya nikah dini, dan lain-lain. Akibatnya, Ibu Ida kerap kali menjadi tempat pengaduan para ibu-ibu yang menjadi korban KDRT.

Sebagai kepala sekolah, Ibu Ida juga mensosialisasikan isu kesetaraan gender kepada para guru baik melalui diskusi formal maupun informal. Mensosialisasikan isu gender tidak hanya lewat lisan, dan diskusi, tetapi Ibu Ida pun selalu melibatkan guru perempuan dalam berbagai kegiatan,  misalnya melibatkan mereka sebagai ketua panitia atau bagian-bagian lain yang strategis. Bahkan saat ini Ibu Ida mengangkat seorang guru perempuan sebagai salah satu wakil kepala sekolah.

Perjuangan yang dilakukan oleh istri dari Drs. H. Abd. Khobir ini penuh liku dan tantangan.  Ibu Ida merasa sangat kehilangan atas wafatnya Ibu Djudju’ Juwariyah, teman seperjuangannya di dalam memperjuangkan kesetaraan gender.”Saat ini suka duka saya tumpahkan pada adik saya, dan di sana saya bisa berbagi dan sharing untuk bisa membantu menghadapi kelompok-kelompok yang masih resisten dengan isu gender ini”, tutur Ibu Ida. Semoga cerita tentang Ibu Ida ini bisa menginspirasi kita semua dalam melakukan upaya-upaya  pemberdayaan perempuan demi terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera. Semoga![]

 

 

 

”Aku terlahir di pulau garam nan jauh disana, dan aku sudah menyelesaikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aku hanyalah manusia yang tak berarti, namun dengan kata semangat dan berjuang dalam hidupku sehingga aku bisa memberikan makna yang berarti dalam hidupku. aku hanyalah aku, kesendirianku, perjuanganku dan segalanya harus bisa aku tunjukkan bahwa aku bisa, walaupun aku berjenis kelamin ’perempuan’“.

Tulisan singkat di atas ditemukan di sebuah blog pribadi perempuan yang kerap menunjukan senyum manisnya pada orang yang dikenalnya. Perjuangan dan semangat hidupnya ia tulis juga dengan kalimat ”Jadikan masalah sebagai bumbu kehidupan”. Demikian Odax, panggilan akrab Raudlatun Miftah, menulis kata mutiara profil pribadinya untuk buku kenangan peserta program Madrasah Rahima untuk Keadilan bagi aktivis mahasiswa.

Perempuan hitam manis kelahiran Sumenep 10 Pebruari 1986 ini adalah salah satu alumni program madrasah Rahima bagi aktivis mahasiswa. Dengan kata mutiara yang ditulisnya itu, perempuan yang pernah menulis artikel ”Peran Politik Perempuan dalam Perspektif Agama” semasa kuliah di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aktif diberbagai kegiatan kampus.

Salah satu kegiatan yang ditekuninya adalah sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciputat.  Bahkan perempuan yang pernah mencalonkan diri sebagai kepala desa di kampungnya itu menjadi Ketua Korp PMII Putri (KOPRI) Cabang Ciputat periode 2006-2007. Menurut Odax ”pemimpin itu tidak memandang jenis kelamin, karena pemimpin tanpa jenis kelamin. Setiap insan  berhak untuk menjadi pemimpin.”  Lebih lanjut Odax berpendapat ”Jadi tak ada kata tidak untuk perempuan menjadi seorang pemimpin bahkan dalam al-qur’an dan al-Sunnah tidak ada satupun teks yang melarang perempuan menjadi pemimpin. Dan siti Aisyah-pun menjadi seorang panglima perang pada waktu perang jamal dulu.” Demikian perempuan yang menulis di blognya ”Pejoang Madureh” ini.

Selain aktif di ”pergerakan”, perempuan yang pernah nyantri di pesantren Nurul Jadid Paiton Porbolinggo ini, waktu kuliah aktif juga diberbagai organisasi seperti di BEM UIN Jakarta sebagai Staff Ahli Menteri Gender, sebagai sekjend BEMJ Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH) Fakultas Shari’ah dan Hukum serta aktif pada organisasi kedaerahan sebagai Ketua Umum Forum Mahasiswa Madura Jakarta (FORMAD).

Selesai kuliah di UIN Jakarta, perempuan yang punya hoby membaca dan menulis ini ternyata tidak cukup puas hanya menggondol gelar S1. Ia meneruskan pendidikannya ke jenjang master di PAI-Fiqh IAIN Sunan Ampel Surabaya. Ketika ditanya tentang ulama perempuan, penyuka buku terkait gender ini berpendapat bahwa ”ulama’ perempuan pada saat ini kualitasnya sudah sangat mumpuni. Bahkan para ulama’ perempuan juga ikut berkecimpung dalam sektor sosial, pendidikan, dan ekonomi, yang bisa kita istilahkan dengan Bu nyai ataupun perempuan yang secara keilmuan sudah tidak bisa diragukan lagi.”

Odax menambahkan ”mencari ilmu itu wajib bagi setiap  insan, namun terkadang perempuan masih terkungkung dengan budaya yang ada. Sehingga sebagian masyarakat mengatakan ’perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya ke dapur juga’.”  Lebih lanjut menurut perempuan yang bercita-cita menjadi profesor bidang Fiqh ini ”Persepsi tersebut sudah tidak relevan lagi saat ini karena mayoritas masyarakat sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Jadi tuntutlah ilmu setinggi langit sampai kau meraih bintang disana.”

Selain melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, putri ke 2 dari pasangan Hj. Zakiyah dan H. Miftahol Arifin ini mengabdikan dirinya untuk pengembangan lembaga pendidikan di tempat kelahirannya, Sumenep. Ia mengajar Fiqh di MTs An-Najah Matanair Sumenep. Pengabdiannya di MTs tersebut mengangkat dia menjadi wakil Kepala MTs tersebut pada 2008 sampai sekarang.

Kegigihan dan semangat perempuan yang logat Maduranya masih kental ini untuk menunjukan bahwa perempuan juga mampu menjadi pemimpin. Hal ini ia buktikan dengan menjadi  Kepala Madrasah Aliyah  An-najah Matanair Rubaru Sumenep.

Menurutnya ”Pendidikan bagi perempuan sangatlah penting, hal ini sangat menopang pada kualitas perempuan. Sehingga dalam pendidikan itu tidak mendiskriminasikan antara laki-laki dan perempuan. Dengan pendidikan maka perempuan itu bisa membuktikan bahwa dirinya juga bisa menjadi orang yang berguna bagi yang lain. Sehingga stereotype masyarakat terhadap perempuan akan sirna begitu saja.”

Lebih lanjut ia berpendapat ”masyarakat dan pemerintah harus mendukung pendidikan bagi perempuan sehingga pernikahan dini itu tidak terjadi lagi umumnya di Madura dan khususnya di Sumenep.”

Selain aktif mengembangankan pendidikan di lembaganya, perempuan yang juga mengajar Bahasa Inggris di MTs. An-najah Matanair ini, aktif juga memimpin Divisi Perempuan Lembaga Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM NU) Sumenep. Sebuah lembaga otonom Nahdlatul Ulama. Menurut A. Dardiri Zubairi, mantan direktur LAKPESDAM NU Sumenep, ”Odax mempunyai mobilitas yang tinggi, konsen dengan masalah perempuan dan penuh tanggungjawab dengan tugasnya.”

Terkait dengan aktifnya di Lakpesdam NU dan wacana perempuan yang berkembang, Odax berpendapat ”wacana perempuan tak akan pernah selesai, karena kungkungan budaya patriarkhi yang masih kuat membelenggu perempuan. Oleh karena itu, para pejuang perempuan harus mendalami wacana-wacana perempuan yang nantinya akan menjadikan perempuan berkualitas dengan sumberdaya sangat maksimal.”

Lebih lanjut Odax berpendapat ”Wacana perempuan itu bagaikan casing dan isinya adalah sumberdaya perempuan itu sendiri. Maka jadilah perempuan yang berisi, agar tidak ada pelabelan negatif terhadap perempuan itu sendiri. Bangkitlah dan semangatlah menggali sumber dayamu wahai para srikandi.”

Semangat belajar dan kiprahnya untuk penguatan perempuan di wilayahnya semoga menjadi inpirasi bagi perempuan lainnya. Masalah dan rintangan dalam kehidupan tidak dijadikan sebagai penghalang bagi kemajuan perempuan tetapi menjadi bumbu kehidupan agar hidup lebih bermakna sebagaimana dituliskan Odax dalam kata mutiaranya  ”Jadikan masalah sebagai bumbu kehidupan”. Selamat berjuang kaum perempuan. [] Maman A Rahman

 

 

Secangkir kopi panas ini tak boleh disia-siakan

Satu hirupannya merasuki diri dengan sebuah semangat

Semangat kesyukuran meneruskan perjuangan sang perempuan

Menjadikan apa yang belum diraihnya menjadi sebuah kenyataan

Kenyataan yang mampu membuat siapapun tersenyum

Tersenyum dalam keharmonisan

Seluruh manusia dan alam

 

Petikan puisi di atas ditulis bulan November 2010 di sebuah blog pribadi. Bercerita tentang sebangkir kopi panas yang bisa membuat peminumnya mempunyai semangat hidup untuk memperjuangkan mimpinya. Mimpi untuk memperjuangkan nasib perempuan yang lebih baik.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, siapa gerangan penulis puisi yang mencerminkan gelora semangat hidup yang luar biasa dan penuh optimisme itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang “ibu pemikir”. Di lain tempat ia menyebutnya “Ibu penyayang dan pembelajar yang suka filsafat”.

Seorang ibu muda dengan segudang mimpi dan aktifitas. Bekulit putih bersih dengan bibir yang senantiasa mengembang menemani sikapnya yang ramah dan penuh semangat. Perempuan itu bernama Neng Hannah. Ia lahir 31 tahun yang lalu tepatnya pada 24 Juli 1979 di Pandeglang Banten. Perempuan yang rajin menulis ini adalah anak kedua dari empat bersaudara pasangan bapak H. Musoffa  Abdulhaq dan ibu Hj. Suhermi. Di usia yang relatif masih muda, Hannah, begitu teman-temannya menyapa, seringkali digolongkan sebagai aktivis yang memperjuangkan kesetaraan dengan semangat keadilan Islam. Ia selalu aktif mengkampanyekan kesetaraan gender dalam setiap langkahnya.

Menurut perempuan yang bersuamikan Abdul Hakim ini, menuliskan pengalaman dalam memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam sebuah tulisan adalah sesuatu yang penting. “Peranan tulisan dalam sebuah peradaban manusia begitu signifikan. Karena tulisanlah ilmu pengetahuan bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia. Demikian pula halnya dalam sebuah perjuangan yang tak kan mungkin dilakukan tanpa peranan tulisan. Termasuk dalam perjuangan menciptakan kehidupan yang berkesetaraan dan berkeadilan.”  Demikian perempuan yang tinggal di Bandung ini menuliskan.

Pernikahan dan status ibu dari dua anak perempuan ini tidak mengurangi aktivitasnya yang padat.  Sehari-hari perempuan bermata sipit ini aktif mengajar di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung memegang mata kuliah Filsafat Sosial. Selain mengajar, ia juga aktif menjadi pengasuh sebuah Majlis Taklim dekat tempat tinggalnya. Menurutnya, hal itu dilakukan sebagai amanah yang diemban sebagai seorang alumni santri Pondok Pesantren Ashiddiyiqah Jakarta Barat.

Kepedulian ibu dari Isyqie (8) dan  Ain (5 thn) ini pada persoalan-persoalan perempuan membawa penulis skripsi  “Analisis Kuasa Michel Foucault terhadap Gender dan Pembangunan (Gender and Development/GAD)” ini pada kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan. Dari persoalan perdagangan perempuan, ekonomi, KDRT, lingkungan sampai pada wacana tentang perempuan dalam Islam.

Kepeduliannya terhadap persoalan perempuan ia wujudkan bersama temen-temannya dengan mendirikan sebuah lembaga yang bergerak pada penanganan persoalan perempuan dan lingkungan, RESIC (Research of Environment and Self Independent Capacity).

Selain mendirikan dan mengembangkan RESIC, perempuan yang pernah menjabat Ketua Korp-HMI-wati Cabang Kab Bandung (KOHATI) itu aktif juga sebagai konsultan agama di P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) provinsi Jawa Barat. Lembaga ini dibentuk sekitar awal tahun 2010 oleh BPPKB  (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana). Menurut Neng Hannah,  P2TP2A merupakan tempat pelayanan bagi perempuan dan anak dalam upaya pemenuhan informasi dan kebutuhan dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, hukum, perlindungan dan penanggulangan tindak kekerasan serta perdagangan terhadap perempuan dan anak.

Perhatiannya pada persoalan perempuan ia curahkan juga dengan melakukan sejumlah penelitian. Diantara penelitian yang pernah ia lakukan adalah   “Pendampingan Teologis terhadap Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kabupaten Bandung (Studi Terhadap pendampingan Sapa Institute) UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun 2008”, “Peran Mubalighoh dalam Pemberdayaan Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi terhadap Bale Istri  di Pabean Kabupaten Bandung) DIKTIS tahun 2008” dan  “Pemberdayaan Perempuan Pemulung  di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Babakan Ciparay Kabupaten Bandung (Riset Aksi) DIKTIS tahun 2010.”

Selain melakukan penelitian, Ulama Perempuan jebolan Pengkaderan Ulama Perempuan Rahima Jawa Barat ini seringkali diundang untuk menyampaikan pandangannya di sejumlah seminar dan pertemuan terkait isu-isu perempuan.  Seperti   Sekolah Perempuan “Fiqih Munakahat yang Berkeadilan Gender, PMII  Komisariat UIN Bandung Cabang Kota Bandung dan Lokakarya Pengembangan Wawasan Multikultural di Kalangan Majils Taklim, Puslitbang Kemenang RI dan yayasan Taman.

Perempuan yang menulis tesis “Kesetaraan Gender dalam Pemikiran Tasawuf Ibnu Arabi” pada konsentrasi studi Pemikiran Islam Pasca Sarjana  IAIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun  2004 ini rajin mendokumentasikan pengalaman melakukan pembelaaan terhadap perempuan dan perjalanan hidupnya dalam sebuah tulisan.

Media yang menjadi pilihannya adalah media online. Selain membuat akun facebook, ia juga menyimpan sejumlah tulisannya di blog pribadinya, kompasiana dan blogspot. Pemikiran, perasaan dan jejak-jejak aktivitasnya ia tuangkan di media ini.

Ia sadar betul betapa pentingnya sebuah tulisan untuk sebuah perubahan. Pada peringatan 10 tahun Rahima beberapa bulan yang lalu, perempuan yang sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya ini, menulis sebuah artikel dengan  mengutip Gus Inal, penulis buku Bramma Aji Putra    “Jika anda ingin mengerti dan dimengerti, menulislah. Jika anda bukan anak seorang raja atau pembesar, menulislah. Jika anda ingin menghormati dan dihormati, menulislah. Jika anda ingin menghargai dan dihargai, menulislah. Jika anda ingin dikenang dalam keabadian, menulislah”.

Ditengah kesibukannya, mengajar dan melakukan pendampingan perempuan korban, perempuan bersuara lembut ini rajin menulis catatan harian, artikel dan reportase di blog pribadinya. Ketika ditanya  mau jadi intelektual selebritis? Ia menjawab dengan pasti “Ogah... ah jadi intelektual kritis emansipatoris dan berguna buat masyarakat aja.” Sebuah jawaban kepedulian atas persoalan masyarakat terutama perempuan. Satu cermin ulama perempuan masa depan. Semoga.[] Maman A. Rahman