Kiprah

Kiprah (59)

Minggu pagi 30 September 2012 bertepatan dengan jadwal Car Free Day Jakarta, beberapa ruas jalan di sekitar Bundaran HI di Jalan Jendral Sudirman hingga Sarinah di Jalan MH. Thamrin mulai dipadati orang bersepeda dan berjalan kaki. Di pinggir jalan kawasan Dukuh Atas tampak bergerombol sejumlah anak muda berkaos putih menunggu teman lainnya. Tertulis di bagian depan kaosnya “PENUHI AKSES PENDIDIKAN KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI BAGI REMAJA”. Selang beberapa waktu, muncul tiga orang dengan pakaian berhiaskan rumbai-rumbai warna warni menarik perhatian orang yang melihatnya. Di leher salah satu dari mereka tergantung karton bertuliskan “Sediakan Layanan Kesehatan Ramah Remaja”. Disusul dengan tiga laki-laki menbawa alat musik jimbe. Rupanya, saat itu tengah diadakan sebuah aksi kampanye terkait  hak atas kesehatan seksual dan reproduksi.

Aksi damai yang digagas oleh Aliansi Satu Visi (ASV) ini diikuti oleh sekitar 125 orang dari berbagai organisasi yang tergabung dengan aliansi. Rahima merupakan salah satu organisasi anggota ASV yang juga terlibat aktif dalam  kampanye ini. ASV sendiri merupakan jaringan pegiat kesehatan reproduksi dan seksualitas yang dari beragam organisasi yaitu Cahaya Perempuan WCC, Mitra Aksi, SIKOK, PKBI Jambi, PKBI Lampung, ARI (Aliansi Remaja Independen), Ardhanary Institute, GWL-INA, Yayasan Pelita Ilmu, PKBI DKI Jakarta, RAHIMA, PKBI DI Yogyakarta, Rifka Annisa WCC,  PKBI Jawa Timur, PKBI Papua, Yayasan Bethesda Papua, Yayasan Santo Antonius Merauke dan RutgersWPF Indonesia.

Ketika matahari semakin meninggi dan jalanan semakin ramai, aksi ini semakin meriah. Rombongan berkaos putih yang  diselingi tiga orang berpakaian  rumbai-rumbai warna-warni dan group jimbe tadi  segera menyusun barisan dan bergerak menuju bundaran HI. Diiringi musik jimbe dan teriakan penyemangat dari rombongan serta sorotan puluhan mata di sekitar lokasi pemberangkatan, mereka terus beraksi.

Rombongan ASV terus bergerak, di bundaran HI berhenti dan bergabung dengan tim Dance4life yang sedang menari penuh semangat dengan latar belakang air mancur. Dance4life adalah sebuah tarian untuk mengkampanyekan stop AIDS. Di tempat ini, orang berkumpul menyaksikan tarian energik tim Dance4life dengan iringan musik khasnya. Sementara tim jimbe juga terus memaikan musiknya, peserta aksi unik ASV lainnya sibuk membagikan selebaran berisi informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada masyarakat pengunjung kawasan Car Free Day. Selanjutnya, rombongan terus berjalan tertib menuju Sarinah untuk kemudian membubarkan diri.

Acara yang dilaksanakan dalam rangka perayaan World Sexual Health Day (WSHD) atau Hari Kesehatan Seksual Sedunia (HKSS) yang dilakukan setiap tanggal 4 September ini telah menyedot perhatian banyak orang yang tengah menikmati aktivitas minggu paginya. Selain dilakukan di Jakarta, Perayaan HKSS  ini juga dirayakan oleh  jaringan ASV di berbagai kota seperti di DI Yogyakarta, Jambi, Bengkulu, Lampung, Surabaya dan Papua sepanjang bulan September (4-30 September 2012) .Aksi bertema “PENUHI AKSES PENDIDIKAN KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI BAGI REMAJA”, juga menyajikan berbagai kegiatan yaitu temu diskusi bersama remaja, talk show radio dan televisi, press conference, dialog publik, layanan klinik gratis, kampanye dan hearing ke institusi pemerintah terkait.

Dengan beragam ikhtiar ini,  diharapkan pemerintah dapat memenuhinya sehingga berbagai persoalan kesehatan reproduksi dan seksual yang menimpa remaja dapat segera terkurangi.   {} Maman Abdurrahman


________________________________________

Pentingnya Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) Remaja di Pesantren



Sesungguhnya di tangan remaja maju mundurnya umat dan di pundaknya pula hidup dan matinya umat. (Mustafa Algulayani)

Mahfuzhat di atas menunjukkan bahwa remaja berperan penting  dalam menentukan maju mundur dan hidup matinya suatu bangsa. Data remaja di Indonesia  tahun 2010 mencapai 63 juta jiwa. Jumlah fantastis ini adalah potensi besar jika dipersiapkan sejak dini. Namun bila tidak,  mereka justru akan menjadi beban negara karena ketidakmampuan mereka dalam mengatasi masalah dapat mengganggu perkembangan fisik maupun psikisnya.

Salah satu persoalan penting remaja adalah mengenai kesehatan reproduksi (kespro) dan seksualitas. Kesehatan reproduksi dan seksualitas dapat diartikan sebagai suatu kondisi sehat yang bukan saja berarti bebas dari penyakit atau kecacatan, namun termasuk sehat secara mental dan sosial berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi dan seksual. Dan soal kespro dan seksualitas remaja bukan saja menjadi perhatian di Indonesia, tetapi juga dunia internasional. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak perilaku remaja yang tidak mendukung konsep sehat tersebut .

Mei 2012 lalu, Rahima mengadakan needs assessment (pemetaan kebutuhan) tentang pendidikan Kespro dan Seksualitas di komunitas muslim pada wilayah Banyuwangi, Jombang, Lamongan, dan Kediri. Need assessment dilaksanakan oleh tim peneliti dari Rahima bersama peneliti dari mitra Rahima yang ada di 4 wilayah tersebut. Penggalian data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus (FGD), survey guru dan santri/siswa serta para pemangku kepentingan lain seperti eksekutif, legislatif, ormas, organisasi pemuda, LSM lokal, masyarakat dan media massa, dan dilengkapi dengan studi literatur. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menggali pemahaman guru dan siswa di pesantren tentang kespro dan seksualitas, serta mengidentifikasi berbagai persoalan tersebut di masing-masing wilayah,

Hasilnya cukup mencengangkan. Hasil FGD dan 473 kuesioner yang disebarkan ke 18 sekolah di lingkungan pesantren maupun non pesantren menunjukkan bahwa pengetahuan siswa mengenai persoalan ini masih rendah. Sebanyak 76,8% responden tidak mengetahui tentang kespro dan seksualitas, padahal remaja yang pernah berpacaran sebanyak 73%. Aktivitas seksual mereka selama berpacaran, mulai dari berpegangan tangan hingga melakukan oral seks sebanyak 1,7%. Dari data sekunder yang didapat, kasus terkait kespro dan seksualitas di Banyuwangi dan Kediri yang banyak terjadi adalah HIV/AIDS. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten (KPAK) Banyuwangi, pada September 2012 tercatat ada 1232 kasus HIV/AIDS. Sementara, di Jombang dan Lamongan banyak ditemui kasus terkait perilaku seksual remaja seperti seks bebas yang dikaitkan dengan banyaknya keberadaan tempat-tempat wisata di wilayah tersebut.

Beragam informasi tersebut menunjukan terjadinya kesenjangan antara pengetahuan remaja tentang kespro dan seksualitas dengan banyaknya persoalan kespro dan seksualitas yang muncul. Kurangnya informasi dan pemahaman tentang kespro  di samping ketidaktahuan mereka akan perubahan fisik yang sangat cepat membuat remaja kurang kesadaran untuk berperilaku sehat dalam hal reproduksi. Untuk itu pemberian informasi, layanan dan PKRS bagi remaja menjadi sangat penting.

Guru memiliki peran strategis dalam pemberian akses informasi ketika siswa bertanya mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Oleh karena itu Rahima bersama-sama dengan 10 sekolah MA di lingkungan Pesantren melakukan penguatan isu kespro dan seksualitas kepada guru dan siswa agar informasi tentang kespro dan seksualitas dapat disampaikan secara lebih komprehensif. Bersama stakeholders dan forum-forum remaja  setempat maupun baik dari instansi pemerintah, Ormas, LSM, serta media massa Rahima juga  melakukan advokasi bersama mewujudkan harapan-harapan tersebut. {} Anis Fuadah






 

KIPRAH 1

Penguatan Kesehatan Seksualitas, Dan Hak Reproduksi Untuk Remaja Di Komunitas Muslim

Remaja seringkali diabaikan dalam pendidikan mengenai Hak dan Kesehatan Seksualitas dan Reproduksi (SRHR), padahal mereka adalah salah satu kelompok paling rentan memperoleh masalah SRHR karena masa remaja adalah masa pertumbuhan dimana organ reproduksi mulai tumbuh dan berfungsi. Bahkan belakangan ini, persoalan SRHR pada remaja semakin mengalami peningkatan, terutama berkaitan dengan kasus-kasus kekerasan

Pemerintah, melalui kebijakan dan programnya telah berupaya memenuhi kebutuhan remaja akan akses layanan kesehatan seksual dan reproduksi, yang merupakan 28% dari total penduduk Indonesia. Namun kebijakan dan program pemerintah tersebut belum dapat diimplementasikan secara nyata. Pemberian informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi kepada remaja masih menimbulkan pro kontra. Pendekatan pemerintah dalam menyikapi isu kontroversial ini lebih menekankan pada moralitas daripada ‘pendekatan kesehatan’.

Selain program-program terkait kesehatan reproduksi remaja yang dikembangkan oleh pemerintah, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga telah mengembangkan program dan kurikulum pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi untuk remaja. Namun, program dan kurikulum pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi yang dikembangkan oleh masing-masing LSM dan pemerintah masih terkesan dilaksanakan ‘sendiri-sendiri’ dan belum diterapkan secara sinergis. Sesungguhnya, kesadaran untuk mensinergikan program dan kurikulum pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi remaja telah lama muncul; akan tetapi upaya tersebut masih dirasakan belum maksimal.

Untuk memaksimalkan sinergitas tersebut, Rahima bersama 3 (tiga) lembaga lain, yaitu Pusat Kajian Gender dan Seksualitas (Puska Gensek) UI, PKBI dan Jurnal Perempuan melaksanakan program bersama dengan judul Penguatan  Akses Remaja untuk Kesehatan Seksual dan Hak Reproduksi dengan dukungan Pemerintah Norwegia melalui HIVOS yang dilaksanakan mulai Januari 2012 hingga 2014 nanti.
Bagi Rahima, strategi yang dilakukan melalui program ini  adalah dengan melakukan pemetaan kebutuhan (needs assesment) di 4 wilayah program (Banyuwangi, Jombang, Lamongan, dan Kediri).  Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui hal apa saja yang dibutuhkan remaja  di pesantren di wilayah tersebut terkait SRHR. Selanjutnya  setelah kebutuhan tersebut terpetakan, kemudian dilakukan  berbagai upaya penguatan dalam bentuk memberikan pendidikan SRHR bagi santri dan Guru. Pasca upaya penguatan; dilanjutkan dengan membentuk pendidik sebaya (peer educators) di kalangan guru maupun santri, yang selanjutnya akan selalu melakukan kordinasi bersama dengan stakeholders (lembaga pemerintah maupun masyarakat) dan pesantren dalam melakukan advokasi bersama terkait pendidikan SRHR bagi remaja. Upaya advokasi ini dilakukan  baik di tingkat lokal maupun nasional.

Dalam tim task-force ini, Rahima berperan untuk melakukan upaya  pemberdayaan di komunitas pesantren di empat kabupaten di Jawa Timur : Banyuwangi, Jombang, Lamongan dan Kediri; mengingat pesantren dianggap salah satu lembaga yang berpengaruh. Oleh karenanya, penting melibatkan komunitas pesantren. Selain itu, pesantren  memiliki peran penting dalam merespon berbagai persoalan yang sedang terjadi di masyarakat. Persoalan kesehatan reproduksi remaja menjadi salah satu persoalan yang memerlukan keterlibatan pesantren dalam pemecahannya.

Dengan adanya penguatan di beberapa level tersebut, diharapkan tumbuh pemahaman akan pentingnya mendorong pesantren atau sekolah untuk mengintegrasikan pendidikan SRHR ke dalam kurikulum maupun lembaga pendidikannya. Semoga ! (Anis)

_____________________________________

KIPRAH 2

Peran Strategis Penghulu, Penyuluh dan Konselor BP4 Dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah

Dengan bapa jangan durhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan istri janganlah alpa
Supaya malu jangan menerpa

Untaikan bait-bait yang bertemakan Keluarga Sakinah di atas merupakan pasal kesepuluh dari dua belas pasal Gurindam Dua Belas yang ditulis ratusan tahun yang lalu oleh Bapak Bahasa Melayu Indonesia, Raja Ali Haji (1808 – 1873).

Dalam Workshop yang berjudul Pengembangan Wawasan Keluarga Sakinah Berperspektif Kesetaraan Bagi Penghulu, Penyuluh dan Konselor BP4 ini, terungkap kearifan lokal Provinsi Kepulauan Riau. Kearifan lokal tersebut berasal dari Gurindam Dua Belas yang merupakan icon kota ini. Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji menggambarkan adanya relasi dalam keluarga antara ayah, ibu dan anak yang harmonis seperti yang tertera pada Gurindam pasal ke sepuluh.

Workshop yang dilaksanakan di Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau 7-9 Mei 2012 ini, merupakan workshop yang kedua dari empat workshop yang dilakukan Rahima bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI di Pulau Sumatera. Workshop yang sama sudah dilakukan di Bandar Lampung (18-20 April 2012), Palembang (1-3 Juni 2012), dan Medan (21-23 Juni 2012)

Penghulu, Penyuluh dan Konselor BP4 merupakan tokoh utama yang mempunyai peranan yang penting dalam membangun keluarga sakinah, hal ini mengisyaratkan bahwa kebahagiaan dalam keluarga tidak hanya dirasakan oleh suami, tidak pula oleh istri, tetapi suami istri serta anak-anak memperoleh kebahagiaan yang seimbang. Banyak terjadinya praktek-praktek perkawinan bermasalah, poligami, perkawinan di bawah umur, atau perkawinan tidak tercatat adalah salah satu contohnya. Bagi suami memberikan kesenangan, tapi belum tentu bagi istri.

Beberapa contoh praktek perkawinan bermasalah di atas  hanyalah sebagian kecil hasil temuan yang dikemukakan 25 peserta workshop Pengembangan Wawasan Keluarga Sakinah Berperspektif Kesetaraan Bagi Penghulu, Penyuluh dan Konselor BP4 di Provinsi Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada yang lalu.

Terpilihnya empat provinsi di atas dikarenakan tempat tadi mempunyai persoalan yang hampir sama, yaitu banyaknya praktek-praktek perkawinan bermasalah, poligami, perkawinan dibawah umur, ataupun perkawinan yang tidak tercatat.

Provinsi Kepulauan Riau terkenal dengan praktek masih maraknya perkawinan yang tidak tercatat, sedangkan di Palembang yang menjadi sorotan adalah masih minimnya pengetahuan tentang prinsip kesetaraan yaitu pengakuan persamaan derajat dan kesamaan penghargaan pada relasi semua anggota keluarga dan di Medan banyak didapati kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan tingginya angka perceraian yang hampir mencapai 60% kasus gugat cerai.

Dengan berbagai kasus dan pemasalahan yang dihadapai di masing-masing provinsi tersebut, workshop ini diharapkan dapat menjadi bekal tambahan bagi Penghulu, Penyuluh dan Konselor BP4 dalam mensosialisasikan dan memberikan pemahaman tentang keluarga sakinah kepada masyarakat

Sebelumnya Rahima yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI, sudah melakukan workshop Keluarga Sakinah pada tahun 2009 lalu bersama para Guru-guru Agama Islam SMA dan SMK di Jakarta. Sedangkan tahun 2011 yang lalu, workshop dilakukan di 3 Kabupaten : Sukabumi, Jawa Barat, Gunung Kidul, DIY, Bangkalan, Jawa Timur.

Tidak ada yang lebih bahagia dari workshop ini kecuali dapat membantu terwujudknya keluarga sakinah pada setiap rumah tangga, khususnya di masing-masing wilayah workshop dan di Indonesia secara keseluruhan (Frans AZ)
.



Kiprah 1
Rahima dan Litbang Kemenag Kembangkan Modul Keluarga Sakinah Berperspektif Kesetaraan

Rahima, Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-Hak Perempuan bekerjasama dengan Kehidupan Keagamaan Badan Litbang Kementerian Agama RI mengadakan workshop Pengembangan Wawasan Keluarga Sakinah Berperspektif Kesetaraan bagi Penyuluh, Konselor BP4 dan Penghulu yang dilaksanakan  pada  1-3 Maret 2012 di Hotel Horison Bekasi.

Workshop ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dari BP4 Pusat, Urusan Agama Islam (URAIS) Kementerian Agama Pusat, Badan Litbang Kementerian Agama RI, Perhimpunan Rahima dan Pusat Kajian Wanita UIN Jakarta. Workshop yang dibuka oleh Dra. Hj. Kustini, M.Si,  dari Badan Litbang Kementerian Agama RI ini dilaksanakan selama 3 hari. Ibu Nur Rofiah dan Ibu AD. Eridani dari Rahima bertindak sebagai fasilitator dalam workshop ini.

Sebelum membahas modul lebih lanjut, fasilitator memberikan penjelasan tentang modul “Keluarga Sakinah” dari proses pembuatan sampai apa isi yang ada di dalamnya.  Untuk mengupas modul lebih jauh,  fasilitator mempersilakan dua narasumber yaitu Dini Anitasari dari Semarak Cerlang Nusa Consultancy, Education for Social Transformation (SCN CREST) dan Neng Hannah dari Perhimpunan Rahima. Sesi yang dipandu Drs. Abdul Jamil, M.Si dari Litbang Kemenag Ini  memberikan kesempatan Dini sebagai pembicara pertama untuk mengupas modul dari sisi metodelogi pelatihan dan memberikan masukkan terhadap modul.  Salah satu masukannya adalah pendekatan inkuiri apresiatif (Appreciative Inquiry Approach) yaitu sebuah pendekatan pendidikan orang dewasa yang memberikan penghargaan atas apa yang dicapai oleh peserta didik. Metode ini diusulkan untuk dimasukkan dalam modul tersebut. Neng Hannah sebagai pembicara kedua menyampaikan presentasinya terkait dengan cara pandang filosofis tentang pendidikan keluarga sakinah. Menurut Neng Hannah, dalam proses pendidikan harus ada upaya memanusiakan manusia dan komitmen pada kemanusiaan.

Workshop yang dihadiri oleh sejumlah peneliti Litbang ini membahas modul Keluarga Sakinah yang sudah ada. Fasilitator membagi peserta menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok yang membahas metode yang digunakan dalam modul tersebut. Kedua, kelompok yang membahas substansi modul Ketiga, kelompok yang mendiskusikan mekanisme monitoring dan evaluasi yang perlu dimasukan dalam modul tersebut.

Kelompok pertama yang membahas metode modul. Kelompok ini, memberi masukan tentang tujuan, metode dan media yang digunakan pada modul. Kelompok ini mengusulkan untuk menggunakan metode menonton film dan game-game yang lebih variatif. Sedangkan kelompok kedua memberikan masukkan pada aspek substansi modul. Dari tema-tema yang perlu ditambahkan, teknis penulisan istilah arab sampai penambahan referensi. Kelompok ketiga, mendiskusikan dan memberi masukan  tentang metode monitoring dan evaluasi dari kegiatan pendidikan keluarga sakinah yang ada di modul tersebut.

Dra. Hj. Kustini, M.Si, pada sambutan di akhir acara merasa senang dengan workshop ini yang dinilai berjalan efektif. Masukkan peserta unutk pengembangan modul telah dicatat dan menjadi bahan yang sangat berharga bagi Tim Penyelaras modul yang bertugas memasukkan ke dalam modul.

Pada sambutan penutupan, Dr. Imam Tolkhah menyampaikan apresiasinya atas workshop ini. Ia menilai positif kerja sama dengan Rahima sebagai sebuah LSM yang sudah dikenal sebagai lembaga yang bisa dipercaya dan bekerja dengan sungguh-sungguh. (MM)

__________________

Kiprah 2

Tanamkan Relasi Setara Melalui  Para Juru Damai BP4


“Tupoksi dari BP4 yang saya ketahui adalah tugas untuk memberikan mediasi kepada para keluarga yang sedang mengalami krisis rumah tangga.  Kita upayakan agar  mereka yang berselisih bisa rukun kembali, damai kembali, itu tupoksi yang  paling utama.”

Penuturan di atas disampaikan oleh salah seorang konselor BP4 Kecamatan Ciputat dalam wawancara yang dilakukan oleh Rahima dan BP4 Pusat ketika melakukan needs assessment (pemetaan kebutuhan) dalam program “Membina Keluarga Sakinah Berperspektif Kesetaraan melalui BP4” di enam wilayah (Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Tangerang Selatan, Depok, Indramayu, dan Cianjur) 2011 lalu. Program ini merupakan kerjasama Rahima dengan berbagai pihak baik instansi pemerintah seperti Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KNPP-PA), Kementerian Agama dalam hal ini Bidang Urusan Agama Islam (URAIS) dan berbagai lembaga seperti Komnas Perempuan, Badan Pembinaan Penasihatan dan Pelestarian Perkawinan (BP4). Needs assessment tersebut merupakan upaya awal yang dilakukan bersama yang tujuannya adalah untuk melihat peran BP4 sebagai Unit Penanganan Terpadu (UPT)  mitra pemerintah dan juga sebagai sumber data dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Penjelasan tersebut di atas tertuang dalam salah satu Rencana  Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009 yaitu Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan melalui peningkatan upaya perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi, termasuk upaya pencegahan dan penanggulangannya. Di sini BP4 merupakan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) mitra pemerintah melalui tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya telah melakukan upaya-upaya pencegahan tersebut dengan pengadaan Kursus Bagi Para Calon Pengantin (Suscatin), melakukan pembinaan atau penasihatan (konseling) dalam berbagai persoalan keluarga, maupun menjadi Mediator non Hakim di Pengadilan Agama.

Hasil assessment tersebut pada tahun 2012 ini menjadi acuan untuk pembuatan SOP dan Modul Pendidikan untuk konselor BP4 yang berperspektif kesetaraan. Bukan hanya itu,  berdasarkan hasil assessment tersebut juga dihasilkan beberapa rekomendasi untuk ditujukan kepada instansi atau lembaga yang terkait dengan BP4. Harapannya, upaya-upaya yang dilakukan BP4 bisa lebih meluas dampaknya.

BP4 yang berdiri pada 1960 ini sudah berganti kepanjangannya sebanyak tiga kali. Pertama, pada 1960, BP4 merupakan akronim dari Badan Penasihatan Perkawinan, Perselisihan dan Perceraian. Pada 1977 berubah menjadi Badan Pembinaan, Penasehatan Perkawinan dan Perselisihan Rumah tangga. Terakhir pada Musyawarah Nasional (MUNAS) ke XIV yang berlangsung pada 1-3 Juni 2009, berubah menjadi Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Dahulu, BP4  adalah badan semi resmi dari Departemen Agama. Kedudukan BP4 di DEPAG pada awalnya setara dengan P2A (Pembinaan dan Pengamalan Agama) dan BKM (Badan Kendali Mutu). Namun, pada MUNAS ke XIV posisi BP4 berubah menjadi lembaga otonom dan merupakan mitra dari Kementerian Agama RI dan Pengadilan Agama dengan visi membantu dan meningkatkan mutu perkawinan dengan mengembangkan ‘Gerakan Keluarga Sakinah’.

Berdasarkan hasil temuan di lapangan, walaupun BP4 saat ini sudah menjadi lembaga independen, namun secara fisik maupun tugas dan fungsi khususnya di daerah masih menyatu dengan URAIS dan KUA dengan alasan keterbatasan SDM dan pendanaan. Selain itu, para Konselor BP4 tersebut masih minim pemahaman terkait keluarga sakinah yang berkesetaraan. Mudah-mudahan, melalui program ini BP4 dapat membenahi hal-hal yang terkait dengan internalnyauntuk terus mengembangkan gerakan keluarga sakinah yang berperspektif kesetaraan di dalamnya.  {} Anis Fuadah

Kiprah 1

Ulama Perempuan Mengasah Sensitivitas Gender

”Menurut saya, kalau sudah memiliki perspektif maka ayat dan hadis yang mendiskriminasikan perempuan dapat ditafsirkan dengan menggunakan teori dalam usul fiqh seperti: teori mubadalah (timbal balik), talazum (keterkaitan) atau mafhum mukhalafah (pemahaman sebaliknya).”

Ungkapan di atas disampaikan oleh Ustadz Faqihuddin Abdul Kodir dalam kegiatan tadarus I Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Angkatan 3 di Jawa Tengah yang dilaksanakan pada 27-30 Oktober 2011. Lebih lanjut Kang Faqih-panggilan akrabnya- menyampaikan bahwa spirit Islam sama sekali tidak merendahkan siapapun. Salah satu contoh teori mubadalah ketika diterapkan pada  ayat nusyuz (Surat An-Nisa; 34), kata wadhribu hunna bukanlah dimaknai sebagai anjuran untuk memukul istri tetapi dinasehati terlebih dahulu, pisah ranjang, memukul dengan alat yang lembut dan tidak menyakitkan. Memukul yang boleh dalam fiqh dengan mindilin khafifin, bilutfin thariqin dengan sapu tangan yang lembut dan cara yang halus.

Tadarus I PUP ini bertempat di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri ini dan dihadiri oleh 26 peserta ulama perempuan dari berbagai wilayah di Jawa Tengah yaitu: Jepara, Pati, Demak, Kudus, Purwodadi, Kendal, Blora, Semarang, Pekalongan, Tegal dan Cilacap. Para peserta berasal dari beragam profesi diantaranya da’iyyah (penceramah perempuan), pendidik, atau pendamping di berbagai komunitas seperti: pesantren, majlis taklim, sekolah, kelompok diskusi mahasiswa, kelompok dampingan perempuan, panti asuhan, dan sebagainya.

Selain Kang Faqih, narasumber lain adalah dr. Elisabet SA Widyastuti dari PKBI Jawa Tengah yang memberikan materi terkait dengan “Kesehatan Reproduksi”. Adapun  fasilitator dalam tadarus ini terdiri yaitu: Masruchah (Komnas Perempuan dan Ketua Pengurus Rahima), AD. Kusumaningtyas (Rahima), AD Eridani (Direktur Rahima), dan Hindun Anisah (Dosen dan Pengurus Rahima).

Materi pertama yang diberikan adalah ‘kesetaraan gender’ dimana peserta dikenalkan dengan apa itu perbedaan gender dan seks, bentuk-bentuk ketidakadilan, dampak adanya pembedaan gender, agen-agen yang melanggengkan ketidakadilan gender dan upaya untuk mengatasinya. Dengan menggunakan metode pendidikan orang dewasa, materi gender ini mudah diterima oleh para peserta. Hal ini diungkapkan oleh salah satu peserta; “pada awalnya saya merasa kurang suka dengan materi dan pembahasan seperti gender, ternyata semua itu sangat kami perlukan dan akhirnya kami sangat menyukai.”

Dalam materi ‘kesehatan reproduksi’ para peserta dikenalkan dengan istilah sehat, kesehatan reproduksi, organ reproduksi laki-laki dan perempuan, proses hamil, haid, mimpi basah, kontrasepsi, penyakit menular seksual (PMS), dan hak-hak reproduksi. Meski awalnya para peserta merasa malu untuk menanyakan permasalahan seputar reproduksinya, namun lama-kelamaan peserta menjadi terbuka dan mulai berani bertanya. Pertanyaan yang banyak dilontarkan adalah seputar masalah haid yang tidak teratur dan sakit, masalah kehamilan, mandul, masalah kontrasepsi, dan lain sebagainya. Saat evaluasi, seorang peserta berkomentar;"Pada awalnya saya tidak berani memandang apalagi menyebutkan nama dari alat-alat reproduksi yang saya miliki ataupun yang laki-laki miliki. Akan tetapi, kemudian muncul pemikiran bahwa saya egois, karena sebenarnya itu membahas permasalahan yang sehari-hari saya rasakan dan saya temui di komunitas.” Tadarus I PUP ini berjalan cukup sukses. (Vera)

___________________________________

Kiprah 2

Menumbuhkan Sikap Toleran Melalui Kompetisi Debat

“Ternyata penyampaian materi dalam forum bisa dibuat asyik, meski materinya lumayan berat, saya bisa meneruskannya dalam pembeljaran kelas di sekolah”

Itulah ungkapan salah seorang peserta workshop tolerance and diversity on debate yang diselenggarakan oleh SFCG Indonesia bekerjasama dengan Rahima di Yogyakarta  pada tanggal 28 November-1 Desember 2011.

Acara ini dihadiri oleh 9 guru dari 5 sekolah dari Yogyakarta, Surakarta, Bandung dan Cirebon. Adapun materi yang dibahas diantaranya adalah kebhinekaan, resolusi konflik dan tehnik debat, metode workshop yang dipakai  beragam mulai dari role play, nonton film, analisa kasus, sharing dan diskusi.

Acara yang berlangsung selama 4 hari ini berjalan hangat karena suasana dibangun dengan kekeluargaan, hal ini terlihat bahwa tidak ada peserta yang tidak menyuarakan pendapatnya. Peserta merasa bahwa kegiatan seperti ini perlu diselenggarakan lagi, ada banyak hal yang bisa menjadi alternatif pengajaran supaya menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Dalam workshop ini memang digunakan metode pendidikan orang dewasa (POD) yakni peserta dilibatkan secara aktif dengan menggali pengalaman dan pengetahuan peserta. Pada dasarnya setiap inividu memiliki pengalaman hidup yang sangat unik  dan ini menjadi kekuatan untuk memperkaya pengalaman bersama.

Dalam sesi yang dipandu oleh Maman A Rahman, peserta secara tidak langsung diajak untuk menyadari bahwa kita telah hidup dalam perbedaan dan kita mampu menciptakan perdamaian ditengah perbedaan.  Sesi berikutnya dipandu oleh Agus Nahrowi yang memaparkan bahwa konflik adalah sebuah fenomena alami manusia dan banyak orang dan masyarakat bisa mencapai hasil konstruktif  dalam konflik. Pada bagian debat, Reggy Hasibuan memaparkan tentang bagaiamana tekhnik debat, tekhnik penjurian dan bagaimana debat menjadi salah satu alternatif pengajaran dalam KBM (kegiatan belajar mengajar).

Adapun tema kebhinekaan dipilih untuk merangsaang para siswa-siswi agar mereka punya kesadaran bahwa kebhinekaan itu adalah tanggung jawab bersama. Sebagai generasi muda, para siswa-siswi mempunyai peluang menjadi mediator muda untuk kegiatan resolusi konflik. Metode debat menjadi alternatif penyampaian isu kebhinekaan, sebab kegiatan ini mendorong siswa-siswi untuk berfikir kritis, menghargai keberagaman pendapat dan juga cara pandang, serta mengenalkan model kompetisi yang sehat. Debat tidak hanya menjadi sebuah kompetisi yang memperebutkan juara, namun lebih dari pada itu; debat dapat menjadi sarana bagi siswa-siswi untuk mengaktualisasikan diri, lebih yakin dan bangga atas apa yang sudah dimiliki bangsa Indonesia.

Ikhtiar yang dilakukan Rahima dan SFCG ini sebagai bentuk keprihatinan akan keadaan bangsa yang nampaknya kian jauh dari keharmonisan dan toleransi.  Diharapkan program ini mampu menjadi salah satu alternatif untuk meyebarkan benih-benih penghargaan terhadap keberagaman dan menjadi salah satu model  pendidikan multicultural, kebhinekaan dan kebangsaan.(Aida)

Kiprah 1 : Mengasuh Anak di Dengan Cinta, Catatan Bedah Buku

“Bagaimana cara mengetahui supaya anak mengerti apa yang dimaui oleh orang tua dan orang tua pun mengerti apa yang dimaui anak?” Bagaimanakah cara menghadapi anak yang suka memukul? Mengapa pengasuhan anak seolah-olah menjadi tanggung jawab ibu? Inilah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta acara bedah buku “Parenting with Love: Panduan Islami mendidik Anak dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang” yang digelar Rahima di toko buku Leksika Lenteng Agung bulan Juli lalu. Buku ini ditulis oleh pasangan suami istri Maria Ulfah Anshor dan Abdullah Ghalib yang diinspirasi dari pengalaman mereka di dalam merawat dan membesarkan dua orang anak mereka yang kini menginjak remaja.

Menurut penulis buku ini yang juga menjadi narasumber acara bedah buku, bahwa berdasarkan pengalamannya menjabat sebagai ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terlihat jelas bahwa banyak orang tua secara “tidak sadar” telah dan sedang mengeksploitasi anaknya, sebagai contoh dengan menyuruh anak bekerja, mencari nafkah, tetapi lupa untuk memenuhi hak-hak dasar mereka, seperti hak untuk bermain, bersekolah, mendapatkan kasih sayang, bergaul dengan teman-teman sebayanya dan lain-lain. Namun, ancaman eksploitasi yang jauh lebih berbahaya sesungguhnya datang dari para sindikat nasional dan international untuk tujuan-tujuan kejahatan seperti perdagangan orang (trafficking), industri pornografi, pedophilia, bisnis narkoba, dan pengemis terorganisir.  Oleh karena itu, persoalan anak perlu mendapat perhatian serius baik dari para orang tua, masyarakat, dan juga negara.

Ajaran Islam tentang Parenting
“Islam mengajarkan bahwa anak adalah amanah Allah yang harus dijaga. Untuk itu, orang tua bertanggung jawab dalam membentuk kecedasan otak, emosional dan spiritual anak,” papar Daan Dini Khairunnida, salah satu pembahas buku ini. Diakuinya, bahwa menjadi orang tua yang baik tidaklah mudah dan membutuhkan proses belajar yang tidak pernah berhenti, learning by doing. Anak-anak juga sangat membutuhkan cinta dan kasih-sayang dari orang tua agar kepribadiannya berkembang dengan baik.

Namun, seringkali orang tua memaksakan kehendaknya kepada sang anak dengan alasan bahwa itu semua demi masa depan yang lebih baik. “Pemaksaan”  semacam Inilah menurut Sani B. Hermawan, yang juga pembahas buku ini, kelak akan menjadi bumerang bagi perkembangan dan kehidupan si anak.  Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang psikolog keluarga, Mbak Sani (panggilan akrabnya) menyarankan bahwa membangun komunikasi yang baik dengan anak sangatlah penting. “Saat ini, sudah bukan zamannya lagi mengasuh anak dengan pola pemaksaan, kekerasan dan main perintah. Bagaimana mungkin seorang ibu atau ayah menyuruh anaknya belajar, sedangkan mereka sendiri dengan asyiknya  menonton televisi?” tuturnya. Untuk itu, anak-anak perlu role model di dalam perkembangannya, dan seharusnya orang tua menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw.; “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Artinya, orang tua memiliki peran yang mutlak di dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. (Riri)

_________________________

Kiprah 2 : Ketika Penghulu, Penyuluh dan Konselor BP4 berworkshop Keluarga Sakinah

Kurang umur, ngenger (statusnya baru tukar cincin tetapi sudah ‘diperbolehkan’ tinggal serumah), status palsu, persiapan ekonomi dan sosial kurang, pengetahuan tentang perkawinan kurang adalah sebagian persoalan yang sering muncul menjelang pra nikah. Adapun persoalan-persoalan saat menikah, diantaranya adalah miskomunikasi, cemburu yang terlalu, perselingkuhan, kemiskinan, informasi tanpa filter, gangguan kesehatan, teman tapi mesra (TTM), dan wanita idaman lain (WIL)/ pria idaman lain (PIL). Sementara itu, persoalan yang muncul paska pernikahan, diantaranya; konflik antar keluarga, rebutan hak asuh anak, rebutan harta gono gini, berhubungan selayaknya suami istri setelah bercerai, pelaksanaan pembagian harta gono gini yang tidak lancer, dan sebagainya.

Itulah beberapa persoalan yang berhasil identifikasi dari sekitar 30 peserta workshop Pengembangan Keluarga Sakinah berperspektif  Kesetaraan bagi Penghulu, Penyuluh dan konselor BP4 yang berasal dari Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta pada 4-6 Juli 2011 yang lalu. Workshop tersebut terselenggara atas kerjasama Rahima dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI.

Kerjasama seperti di atas bukanlah yang pertama kali. Tahun 2009 yang lalu, Rahima mengadakan workshop Keluarga Sakinah kepada Guru-guru Agama Islam di tingkat SMA dan SMK di Jakarta untuk dua angkatan. Salah satu outputnya adalah modul Keluarga Sakinah.

Belajar dari sana, maka dikembangkanlah modul Keluarga Sakinah bagi Penghulu, Penyuluh dan Konsultan BP4 yang diujicobakan di 3 Kabupaten: Sukabumi, Jawa Barat (9 – 11 Mei 2011), Gunung Kidul, DIY (4 - 6 Juli 2011) dan Bangkalan, Jawa Timur (27 - 29 Juli 2011). Ketiga Kabupaten ini dipilih karena memiliki persoalan sosial yang agak mirip, terutama terkait dengan persoalan perkawinan dan perceraian.

Perkenalan dan identifikasi masalah selalu menjadi awal dari setiap workshop yang dilakukan. Setelah itu, dengan menggunaka model pendidikan kritis, peserta diajak untuk sharing dan membahas tema-tema seperti kesetaraan di luar dan di dalam pernikahan, kesehatan reproduksi sebagai pilar keluarga sakinah, sakinah sebagai esensi pernikahan dll. Di sesi akhir ini, peserta dari BP4, Penghulu dan Penyuluh memetakan kekuatan, kelemahan, tantangan, peluang serta respon yang akan dilakukan oleh masing-masing lembaga.

Di Kabupaten Gunung Kidul, BP 4 akan melakukan advokasi kepada institusi kebijakan tentang KIE kespro, kesetaraan, Keluarga Sakinah perspektif umum dan agama, dan juga akan mengadakan workshop yang outputnya adalah modul Konseling Interpersonal.  Sementara itu, para penyuluh akan melakukan Sosialisasi UU Perkawinan, konsep keluarga sakinah, kespro, PHBS, pembuatan modul, seminar bagi tenaga penyuluh PNS dan honorer, serta membuka konseling kelompok/perorangan dan melakukan pendampingan pada masyarakat. Adapun kelompok penghulu akan membuat Modul Suscatin  perspektif kesetaraan, pelatihan bagi petugasnya, fundrising  dan kampanye kesetaraan. Semoga ikhtiar tersebut dapat membantu terwujudnya keluarga sakinah di setiap rumah tangga di wilayah-wilayah workshop pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. (Dani)

Kiprah 1 : Murid SMP dan SMA Bondowoso Ikuti Lomba Shalawat Kesetaraan

Aula SMAN 2 Bondowoso dipenuhi para undangan, peserta lomba dan para guru yang menjadi pembimbing grup musik dan peserta lomba lainnya. Satu persatu peserta tampil memamerkan kemampuan dan kreatifitasnya. Berbagai gaya dan aliran musik tampil pada festival ini. Ada yang bergaya gambus, dangdut, pop rock, hadrah, jazz dan lainnya. Tepuk- tangan dan teriakan kerap terdengar setelah satu grup tampil.

Ayat Alqur’an yang berbunyi “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab : 56) mungkin menjadi salah satu pendorong murid-murid mengikuti lomba shalawat kesetaraan tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Bondowoso Jawa Timur pada 26-27 Februari yang lalu. Penyelenggara kegiatan ini adalah MGMP PAI (Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam) SMP-SMA  Bondowoso kerjabareng dengan Rahima Jakarta.

Kegiatan yang bertepatan dengan moment maulid Nabi Muhammad saw. ini mendapat respon yang meriah dari guru dan murid SMP - SMA di Bondowoso. Hal ini terlihat dari peserta lomba shalawat yang cukup banyak yaitu sekitar 40 grup. Bahkan pada acara pembagian hadiah dan maulid ruangan Aula SMAN 2 Bondowoso dipenuhi sekitar 250 hadirin.

Selain festival Shalawat Kesetaraan, panitia juga mengadakan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Kaligrafi. Menurut Saihan, M.Pd.I, salah seorang panitia, kegiatan ini dilakukan dalam rangka menyebarkan nilai-nilai kesetaraan melalui shalawat sekaligus peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

Nampaknya juri tidak mudah memilih yang terbaik dari sejumlah grup yang tampil sangat luar biasa. Seorang juri berkomentar ”sampai-sampai bulu kudukku merinding dan sembab mataku mendengar dan menyaksikan shalawat kesetaraan dinyanyikan perempuan dan laki-laki dengan penghayatan yang luar biasa.” Namun demikian, juri tetap dituntut untuk memutuskan sang juara seadil-adilnya.  
Semua grup berhasil tampil dengan mengesankan. Kreatifitas gaya tampilan, variasi musik, harmoni nada, ketepatan melafalkan shalawat membuat festival semakin diharapkan dilakukan setiap tahun oleh para guru. Panitia merekapitulasi nilai yang sudah dikumpulkan dan juri menentukan sang juara. Setelah diketahui para juaranya. Panitia memberitahukan bahwa pengumuman para juara akan disampaikan esok hari bersamaan dengan peringatan Maulid Mabi Muhammad saw. dengan mengundang seorang Kyai.  

Siraman rohani disampaikan oleh KH. Syaiful Muhyi dari Situbondo. Ceramah berisi tentang keutamaan orang mencari ilmu. Pak Kyai mensitir sebuah hadis “Kun ‘aliman, au muta’aliman, au mustami’an au muhibban, wa la takun khamisan”. Jadilah orang yang berilmu, atau penuntut ilmu, pendengar ilmu atau pecinta ilmu dan jangan menjadi orang yang kelima, yaitu orang yang tidak masuk kempat orang tersebut.

Setelah pengajian selesai, tibalah saat-saat menegangkan. Panitia mengumumkan para pemenang festival Shalawat Kesetaraan, Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Kaligrafi. Satu persatu sang juara menerima piala, sertifikat dan sejumlah uang pembinaan. Terlihat suasana gembira terpancar di wajah para pemenang dan para guru pendamping. Seraya ucapan harapan panitia ”semoga nilai-nilai kesetaraan dipahami dan dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari.” Wassalam (Maman A.Rahman)

___________________________________________

Kiprah 2 : Diskusi Kespro Remaja; Mahasiswa Diajak Berprilaku Sehat dan Bertanggungjawab

”Kutu kelamin itu sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang, dan saat ini apakah masih ada?”

Itulah salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang peserta pada acara Diskusi Publik ”Islam dan Kesehatan Reproduksi Remaja” pada 28 Mei 2011. Loveria Sekarini (love), salah satu narasumber kemudian menjawab bahwa penyakit kutu kelamin itu sampai sekarang masih ada. Bentuknya hitam, menempel pada bagian kulit dan mirip dengan kutu kepala di rambut serta berada pada sekitar bulu kelamin yang lebat dan kotor.

Acara yang bertempat di Gedung Panasonic Manufacturing Indonesia Jakarta Timur ini dihadiri oleh kurang lebih 84 peserta berasal dari mahasiswa, aktivis kelompok studi maupun organisasi-organisasi intra maupun ekstra di lingkungan Universitas Gunadarma, serta aktivis pemerhati isu-isu Islam dan Hak Perempuan. Acara ini merupakan bentuk kerjasama antara Rahima dengan kelas IKA17 Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Jurusan Sistem Informatika Universitas Gunadharma Kelapa Dua, Depok.

Love dari ARI (Aliansi Remaja Independent) banyak memberi materi dasar tentang kesehatan reproduksi remaja dari mulai definisi sehat, kesehatan reproduksi, mengenal organ reproduksi laki-laki dan perempuan, proses haid, mimpi basah, hamil, dan sebagainya.

Narasumber yang lain, Ara Koswara dari PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencara Indonesia) DKI Jakarta banyak mengungkapkan tentang pengalaman menangani pengaduan terkait PMS pada remaja. Selama tahun 2010, ada sekitar 5000 kasus tentang kesehatan reproduksi dan 3000 lebih diantaranya adalah kasus yang dialami remaja. Berbagai kasus yang masuk antara lain chlamydia, gonorhea, siphilis, raja singa, bahkan HIV/AIDS. Karena itulah pendidikan dan informasi dini tentang kesehatan reproduksi bagi remaja penting dilakukan. Apa yang diharapkan oleh Ara ini juga diungkapkan oleh AD. Eridani, direktur Rahima, saat pembukaan acara.

Narasumber terakhir, Nur Achmad (Dosen Tafsir Hadist dari Universitas Achmad Dahlan, Jakarta) banyak menceritakan bagaimana pandangan Islam tentang kesehatan reproduksi. Menurutnya, menjaga kesehatan reproduksi adalah bagian dari ajaran Islam sebagaimana yang tertuang di dalam tujuan Islam menurut al-Ghazali, salah satunya adalah menjaga diri dan keturunan. Menjaga keturunan ini erat kaitannya dengan memelihara kesehatan reproduksi agar menghasilkan generasi yang berkualitas. Hal lain yang disampaikan oleh Mas Nur terkait Sunat Perempuan. Menurutnya, Sunat Perempuan belum ditemukan manfaatnya dalam agama,  bahkan menurut medis tindakan itu akan mendatangkan kemadharatan bagi perempuan sendiri.

Diskusi yang dimoderatori oleh Pera Soparianti ini mengundang banyak pertanyaan dari para peserta. Mereka terlihat semangat dan antusias menanyakan tentang berbagai permasalahan seperti keputihan, sakit ketika haid, aborsi, perbedaan madhi, wadhi, dan mani dalam fiqh dan sebagainya. Di akhir acara enam orang penanya terbaik mendapat doorprize berupa buku cerpen ”Kembang Perawan” yang diterbitkan Rahima. Dengan diskusi ini, diharapkan para peserta akan lebih memahami kesehatan reproduksinya sehingga mereka dapat berprilaku sehat dan bertanggungjawab. Wassalam.[] (Shofa)






 

Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Manusia

 

“Banyak ilmu dari Nabi yang diserap langsung oleh Aisyah. Tidak aneh jika kemudian dia menjadi tempat bertanya bagi banyak sahabat dan menjadi guru para tabiin.”

Itulah ungkapan Noorjannah Ismail, salah satu Ulama Perempuan dari Aceh, dalam pemaparannya pada salah satu sesi seminar Masa Depan Kepemimpinan Ulama Perempuan dalam rangka. perayaan 10 tahun Rahima, 23 November 2010 lalu di Depok. Selain Noorjannah ada juga Dr. Nur Rofi’ah (Akademisi dari Jakarta),  Haryati Kaprawi dari Malayasia, dan Dr. Nurhadi Abdul Fatah dari Dirjen Bimbingan Masyarakat Kementrian Agama RI. Ungkapan Noorjannah di atas memperkuat argumen tentang keberadaan ulama perempuan yang selama ini banyak ditenggelamkan oleh kuatnya budaya patriarki. Di sesi sebelumnya, empat ulama perempuan  merepresentasikan rekan-rekannya sesama peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) memaparkan pengalaman mereka di komunitas masing-masing. Mereka adalah Nyai Hj. Afwah Mumtazah (Cirebon), Nyai Ida Mahmudah (Banyuwangi), Ustadzah Kokom (Garut), dan Ustadzah Neng Hannah (Bandung).

Menurut Helmi Ali (Pjs.Ketua Yayasan Rahima) dalam pidato sambutannya, keempat narasumber tersebut yang merupakan alumni pengkaderan ulama perempuan Rahima telah menunjukkan kesungguhan kiprahnya. Mereka melakukan upaya pemberdayaan perempuan di komunitasnya; baik di pesantren atau majelis taklim. Sebagai contoh, apa yang dilakukan Nyai Ida, selain mengembangkan pesantren yang dipimpinnya, juga mencoba melakukan pendampingan secara intensif dengan berkomunikasi dengan sejumlah TKW di Hongkong. Begitu juga dengan Nyai Afwah Mumtazah dari Cirebon, selain mengorganisir kelompok majelis taklim, juga mengem-bangkan suasana dan kurikulum berperspektif keadilan dan kesetaraan di pesantren yang dipimpinnya. Kedua perempuan tersebut hanyalah beberapa contoh dari upaya pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh peserta pendidikan Rahima di komunitasnya, tutur Helmi.

Acara seminar ini dihadiri oleh sekitar 200 orang yang berasal dari pulau Jawa dan Madura. Sebagian dari mereka adalah alumni dari berbagai kegiatan Rahima di dua pulau tersebut dan sejumlah NGO yang ada di Jakarta, akademisi, perwakilan dari berbagai instansi pemerintahan, dan perwakilan dari berbagai media.

Selanjutnya, pada tanggal 24 November 2010 masih dalam rangkaian kegiatan yang sama, dilaksanakan pula lokakarya untuk mensinergikan gerakan Rahima. Sejumlah 109 orang peserta yang berasal dari Mitra Rahima, baik alumni program Pengkaderan Ulama Perempuan angkatan I dan II, tokoh agama, majelis taklim, aktivis mahasiswa, guru agama, dan lainnya, juga hadir beberapa orang dari jaringan Rahima, seperti: NGO, ormas, dan akademisi. Para peserta ini dibagi ke dalam 4 kelompok untuk membahas isu yang berbeda. Keempat isu tersebut yaitu strategi pendidikan bagi  penguatan ulama perempuan, strategi pengembangan pengetahuan untuk gerakan keadilan gender dalam komunitas muslim, strategi  sosialisasi kesetaraan dan  keadilan gender dalam komunitas muslim, dan strategi penguatan komunitas Rahima di daerah.

Dalam momen ini juga diluncurkan 2 buku yang yang dipersembahkan khusus untuk peringatan 10 tahun Rahima ini. Kedua buku tersebut adalah “The Rahima Story” yang merupakan sejarah awal perjalanan Rahima, dan buku “10 tahun Rahima: Ikhtiar Membangun relasi Setara untuk Kemaslahatan Manusia (Rahima dalam Pandangan Para Mitra”). Buku terakhir merupakan kumpulan tulisan mitra Rahima  baik mitra yang mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan Rahima maupun jejaring lembaga yang selama ini bersama-sama melakukan gerakan pemberdayaan perempuan, baik dari kalangan NGO, lembaga pemerintah dan media.

Pada kesempatan ini pula dilaksanakan launching bentuk baru kelembagaan Rahima. Saat ini Rahima baru saja melakukan transisi kelembagaan dari bentuk lamanya sebagai Yayasan ke Perhimpunan. Menurut pemaparan Helmi, alasan perubahan tersebut adalah supaya kepemilikan Rahima menjadi luas, tidak terbatas pada kelompok tertentu, atau tidak diklaim oleh sekelompok orang atau institusi tertentu. Gagasan tersebut mulai muncul dalam pertemuan penyusunan Rencana Strategis tahun 2004, dan diperkuat dalam forum refleksi 10 tahun Rahima pada bulan Juni 2010 yang lalu; ketika perwakilan dari 6 komunitas mitra Rahima ingin menggagas hadirnya Rahima-Rahima kecil di daerah untuk memperkuat pengorganisasian dan mendukung upaya-upaya sosialisasi gagasan hak-hak perempuan.

Ke depan, Rahima ingin mengoptimalkan peran ulama perempuan di masyarakat agar keberadaan mereka bisa diterima dan fatwanya bisa diikuti. “Dengan demikian mereka bisa mengembangkan wacana keagamaan yang kritis terhadap realitas yang tidak adil, “imbuh Helmi.

Dengan berubahnya bentuk kelembagaan Rahima menjadi Perhimpunan, dan mengusung gerakan “Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Manusia”, bisa mempercepat upaya untuk melakukan tegaknya hak-hak perempuan dalam masyarakat Muslim khususnya yang masih kental dengan budaya patriarki. Semoga! {} Pera Sopariyanti

___________________

Memaknai  Agama  Secara Substantif : Catatan Bedah Buku “Jihad Julia”

”Kolom-kolom Julia menawarkan model keberagamaan yang substantif, bukan pemahaman keislaman yang normatif dan formalis”

Kutipan di atas merupakan penyataan dari Kyai Husein Muhammad selaku pembahas buku Jihad Julia: Pemikiran Kritis dan Jenaka Feminis Pertama di Indonesia, yang dibedah oleh Rahima bekerjasama dengan Mizan di toko buku MP Book Point Cipete, Jakarta Selatan, 19 Februari 2011 yang lalu. Buku ini merupakan terjemahan dari kolom-kolom pilihan Julia Suryakusama, yang sudah diterbitkan di media cetak berbahasa Inggris yaitu The Jakarta Post dan  Majalah Tempo Berbahasa Inggris.

Kehadiran buku Julia yang berbahasa Indonesia ini disambut baik oleh para audience yang memenuhi ruang diskusi di dalam toko buku MP Book Point, mengingat selama ini Julia lebih dikenal sebagai kolumnis yang menulis dalam bahasa Inggris. Tak terkecuali, para pembahas buku yaitu Kyai Husein Muhammad dan Agustriani Muzayyanah (salah satu mitra Rahima; peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan) mengusulkan agar Julia menerjemahkan tulisan dan bukunya ke dalam bahasa Indonesia sehingga dapat diakses oleh khalayak luas.

Julia adalah penulis yang fenomenal. Kolom-kolomnya hampir selalu menjadi rujukan penting bagi kalangan akademisi, pemerhati Indonesia, dan aktivis baik di dalam mapun di luar negeri. Penulis buku Sex, Power, and Nation: An Anthology of Writings, 1979-2003 (Metafor Pub., 2004) ini terkenal tajam dan kritis, namun humoris dan sekaligus satiris di setiap penulisannya. Di kalangan aktifis pembela hak-hak perempuan, Julia dikenal sebagai salah seorang feminis terkemuka dengan  berbagai karyanya tentang isu-isu gender di Indonesia.

Indonesia, Muslimah, dan Feminis
“Buku ini adalah mozaik tentang Indonesia. Jadi, setiap icon menggambarkan tentang kondisi Indonesia dengan berbagai variasi tema. Namun, yang menyatukan itu semua adalah yang partikular ke universal”, ungkap Julia  menjawab pertanyaan salah seorang peserta mengenai keragaman tema tulisannya di buku tersebut.  Hampir semua tulisan dalam kolomnya  senantiasa diawali oleh refleksi pengalaman pribadinya dalam kehidupan sehari-hari; dalam kesadarannya tentang Indonesia maupun pergaulannya di  komunitas internasional. Personal is political, mungkin itulah motto Si Penulis.

Menariknya lagi, meskipun latar belakang Julia tidak pernah mengenyam pendidikan formal keislaman, tetapi dia banyak menulis tentang tema-tema yang berkaitan dengan Islam, seperti terorisme dan radikalisme agama. Julia banyak menyindir praktik-praktik keberagamaan umat Islam yang formalis, tetapi seringkali melupakan pesan inti dari agama itu sendiri. Menurutnya, formalisme mereduksi makna terdalam dari keberagamaan, mengalahkan akal sehat dan mengingkari toleransi, mengalahkan kebenaran dan keadilan, solidaritas dan keimanan kepada Tuhan.

Atas dasar itulah kata ”Jihad” sengaja penulis gunakan untuk menjadi judul buku dengan maksud untuk mengklaim kembali makna jihad yang seringkali dipakai oleh para teroris untuk melegitimasi aksi-aksi mereka. Padahal makna jihad yang sebenarnya adalah jihad intelektual dan spiritual.

Agustriani Muzayyanah (pembahas kedua) menyatakan rasa salut kepada penulis, sebab sebagai seorang muslimah, Julia tidak hanya sibuk dengan urusan Tuhan yang ritualistik, tetapi juga melek terhadap realitas sosial. Kepedulian Julia untuk mengangkat tema-tema tentang kehidupan orang kecil sangatlah kontras dengan latar belakangnya sebagai anak seorang diplomat yang hidup di berbagai belahan dunia.
Itulah keunikan Julia. Sebagai warga negara Indonesia, muslimah dan feminis, dirinya  sadar bahwa banyak persoalan yang terjadi di negeri ini terutama terkait dengan nasib kaum perempuan yang seringkali menjadi korban akibat kebijakan-kebijakan negara yang diskriminatif dan juga interpretasi-interpretasi agama yang memarginalkan peran perempuan. Disinilah letak keunggulan dari buku ini, dimana Julia berhasil mengemas isu-isu yang ’berat’ menjadi tulisan yang ’renyah’ dan ’gaul’ bagi pembaca Indonesia. Selamat, Mbak Julia! (Riri Khariroh) 

 

 

 

 

Gerakan Shalawat Musawa Pengalaman dari Ledokombo, Jember

18 April 2010, Wawa, Hilya, Cindy, Dio dan Amir, tampak sumringah dengan penampilan istimewa mereka. “Mau kemana nak-kanak, sudah cantik dan ganteng pagi-pagi begini?” sapa Bu Nur, penjual sayur yang telah lebih dari 20 tahun berdagang di sebelah timur tugu perbatasan Desa Sumberlesung dan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Serentak lima bocah itu menjawab bak koor, “Ke Lapangaaaaan….”. Dan salah seorang menambahkan  dalam dialek Maduranya yang kental, “Bede shalawat Musawa” (Ada Shalawat Musawa). Sambil berlari kecil, bocah yang lainnya menyambung, “Kartinian, Bu Nurrrrr….”  Mentari bulan April yang cerah menyapu hangat kaki-kaki lincah itu.

Perhelatan yang Tidak Biasa
Ada yang lain di Hari Kartini 2010  di kawasan berbukit-bukit yang berjarak  20 km dari Kota Jember ini. Bukan hanya bocah-bocah,  tetapi kaum ibu dan bapak pun berdandan. Bukan hanya masyarakat, ulama dan umara-pun necis dalam balutan pakain tradisional atau busana muslim/muslimah,  Mereka bershalawat bersama. Sebuah shalawat yang tidak biasa pula, ’Shalawat Musawa’. Lantunan religi untuk merayakan kesetaraan  dua makhluk cipytaan-Nya, lelaki dan perempuan

Di antara lantunan shalawat, sesekali terdengar  lagu Ibu Kartini dinyanyikan bersama-sama dengan penuh semangat diiringi musik perkusi kelompok belajar Tanoker. Inilah bagian dari  ikhtiar Ledokombo, sebuah upaya menghadirkan kesetaraan gender sejak dini melalui pendekatan budaya.

’Festival Shalawat Musawa’ ini merupakan kerjasama antara Tanoker, Rahima dan Pesantren NURIS.  Festival yang berpuncak pada lomba melantunkan Shalawat Musawa ini diikuti oleh 16 kelompok. Mereka  berasal dari TPQ dan madrasah di Kecamatan Ledokombo. Sebelumnya beberapa kegiatan telah dilaksanakan antara lain halaqah yang diikuti para guru ngaji dari berbagai TPQ, para ketua Majlis Taklim ibu-ibu dan tokoh masyarakat. Tujuan dari halaqah dengan narasumber KH Muhyidin Abdusshomad, Ketua Syuriah NU Jember ini bertujuan untuk mensosialisasikan sejarah dan makna shalawat Musawa. Di forum ini  masyarakat didorong juga untuk melantunkan ’Shalawat Musawa’ dalam berbagai kegiatan mereka.

Sebelum lomba dimulai para peserta pada saat pendaftaran juga diberikan copy CD berbagai versi lantunan ’Shalawat Musawa’ yang telah dipublikasikan oleh Rahima dari berbagai lomba yang telah dilakukan sebelumnya. Dan juga dilakukan rapat-rapat dengan mengundang perwakilan mushala yang tersebar di Kecamatan Ledokombo untuk mengoptimalkan penghayatan  dan penampilan para peserta.

Selain itu, diawali pula dengan kunjungan anak-anak komunitas Tanoker ke beberapa TPA/Mushala calon peserta lomba. Anak-anak komunitas Tanoker yang telah lebih lancar menyanyikan ’Shalawat Musawa’ menyanyi bersama dengan anak-anak mushola/TPA yang dikunjungi. Tujuan kegiatan ini adalah memberi semangat, sosialisasi nilai keadilan kepada anak lelaki dan perempuan melalui shalawat Musawa  dan sejenis briefing -buat calon peserta- tentang apa yang perlu dipersiapkan dalam mengikuti lomba.

Pada hari pelaksanaan lomba,  para  peserta berkumpul di depan kantor Kecamatan Ledokombo. Bersama masyarakat yang memadati jalanan sekitar kantor kecamatan ini mereka mendengarkan mendapat taushiyah dari KH Muhyidin yang juga pemimpin Pesantren NURIS  tentang makna dan pentingnya ’Shalawat Musawa’ bagi anak-anak dan kehidupan sehari-hari serta konteksnya dengan peringatan hari Kartini.

Selanjutnya acara dibuka oleh ibu Umi Farida—ibu Camat Ledokombo yang menyambut baik perayaan hari Kartini dengan festival Shalawat ini. Sebelum ditutup dengan do’a oleh KH Saiful Bahri dari Pesantren Raudatul Ulum Ledokombo, masyarakat dengan penuh perhatian mendengarkan  sambutan  para juri. Mereka terdiri dari ibu Masruchah, wakil ketua KOMNAS  Perempuan, ibu Maria Ulfah Anshor (mantan Ketua PP Fatayat NU), bapak Maman Abdurahman (Rahima), dan ibu Anne Francois Guttinger (Dosen Ilmu Sosial Politik UNAIR Surabaya,  asal Perancis). Prosesi selanjutnya seluruh peserta, para tamu undangan dan dewan juri berpawai sambil melantunkan ’Shalawat Musawa’ menuju lokasi lomba di kebun Tanoker (sekitar 500 meter dari kantor kecamatan).  Dalam waktu singkat 500 copy lirik shalawat Musawa habis terbagi.

Tanpa terasa dalam waktu kurang lebih tiga jam 16 wakil TPA/Madrasah tampil melantunkan ’Shalawat Musawa’ dengan berbagai kreasi, gaya, suara dan musik pengiring. Dua ribuan penonton yang datang dari Kecamatan Ledokombo dan sekitarnya menyaksikan penampilan itu. Ada beberapa tamu juga hadir dari kota Jember seperi pengurus Fatayat NU, disamping ketua syuriah NU dan ibu Nyai Fatimah dari PP Nuris Antirogo.

Satu hal yang menarik dari lomba ini adalah justru keterbatasan instumen pendukung bukannya menjadi  hambatan bagi para peserta tetapi justru menjadi lahan untuk berkreasi. Di arena lomba  alat musik alternatif menggema, misalnya ’ensemble’ barang bekas atau ’symphoni’ pacul. Penampilan ini sangat menghibur para penonton.

Dalam acara lomba, kelompok Tanoker dan beberapa mushala di Ledokombo menyumbangkan penampilan khusus untuk memeriahkan acara. Panitia juga membagi berbagai hadiah hiburan kepada penonton yang beruntung (10 hadiah doorprize) dan cinderamata kepada pemimpin TPQ/madrasah.

Bergerak Bersama Menuju  Kesetaraan
Sebagai gerakan untuk memasyarakatkan kesetaraan dan keadilan relasi antara lelaki dan perempuan festival ini mempunyai beberapa tujuan diantaranya: (1) Mendorong munculnya sensitifitas gender (Terutama untuk anak-anak, TOGA, dan TOMAS melalui Shalawat Musawa). (2) Memotivasi  para guru ngaji, murid ngaji, jama’ah majlis taklim  agar bergairah untuk melantunkan shalawat Musawa di masing-masing Surau/Majlis Taklim di wilayah Kecamatan Ledokombo; dan (3) Membangun tradisi silaturahmi antar surau melalui media ’Shalawat Musawa’.

Alhamdulilah ikhtiar tersebut sedikit demi sedikit telah menjadi fondasi bagi sebuah proses memanusiakan manusia, lelaki dan perempuan. Kini semakin banyak masyarakat di Ledokombo memahami makna ’Shalawat Musawa’. Di beberapa surau dan mushala ’Shalawat Musawa’ adakalanya dilantunkan sebelum atau menjelang sholat Maghrib/Subuh.  Beberapa majelis taklim juga telah mempraktikkannya dan memakainya untuk menyambut tamu misalnya pada waktu ibu Ketua PKK Kabupaten Jember datang dalam acara pengajian ibu-ibu di balai desa Sumber Lesung, Ledokombo).

Kini semakin banyak anak-anak di desa Ledokombo dapat melantunkan ’Shalawat Musawa’ dengan lancar, sehingga banyak musholla tidak terlalu kesulitan ketika diundang untuk mengikutsertakan santrinya.  Salah satu capaian ”gerakan shalawat di Ledokombo” ini  adalah terpilihnya Musholla Nurul Huda sebagai juara 1 lomba ’Shalawat Musawa’ tingkat kabupaten Jember yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Nuris Antirogo tanggal 19 Juli 2010.
”.......Huwa khalaqa huma min nafsin wahidah; fabatstsa minhuma rijalan wa nisa’….”

Suara merdu pak Aziz takmir Mushalla Sumber Lesung memecah kesunyian dini hari. Kini kumandang larik-larik religius yang menegaskan pesan dasar Islam tentang  kesetaraan lelaki dan perempuan semakin sering bergema.  ’Festival Shalawat Musawa’ memang telah lama usai, namun jejak-jejaknya tidak ikut pergi. Ia tinggal dan berkembang di tengah komunitas yang terus bebenah di Ledokombo.  Semoga semangatnya semakin merasuk dalam sanubari masyarakat  dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Amin ya rabbal ‘alamien. {}Farha Ciciek


_______________________________

MEMECAH KEBISUAN PEREMPUAN MELALUI BUKU

Tulisan berikut ini  merupakan liputan hasil kegiatan bedah buku karya Dr. Nur Rofi’ah yang berjudul “Memecah Kebisuan (Agama Mendengar  Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan): Respon NU” (2010). Buku yang memaparkan suara-suara perempuan yang mengalami kekerasan ini menghadirkan narasumber Dr. Nur Rofiah, pembahas Maman Abdurrahman, dan dimoderatori oleh Ulfah Mutiah Hizma. Dalam kegiatan kali ini, Rahima bekerjasama dengan Komisi Nasional Perempuan (KOMNAS Perempuan) sebagai penerbit buku, dengan membagikan buku sebanyak 20 buah kepada peserta.

Dr. Nur Rofiah dalam introduction-nya menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan salah satu dari 4 buku serupa dengan perspektif agama yang berbeda yaitu Katholik, Protestan, dan Islam. Islam sendiri terbagi menjadi dua pandangan yaitu dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah. Karena perbedaan pandangan dua organisasi massa itu, maka disepakati bahwa buku perspektif Islam ditulis dalam dua buku. Penulis menyampaikan bahwa  pembahasan dalam  buku tersebut difokuskan pada tiga isu utama, yaitu Buruh Migran, Kekerasan Terhadap Perempuan, dan Perempuan Kepala Keluarga.

Dalam kesempatan ini narasumber memaparkan tentang konsep mahram bagi buruh migran yang cukup “menggelitik”. Ia mengkritisi konsep mahram yang sangat ketat diterapkan oleh pemerintah Saudi Arabia terhadap kegiatan umrah dan haji, tetapi tidak bagi buruh migran. Padahal, perempuan yang melakukan haji dan umrah berada diwilayah yang jauh lebih aman dibandingkan dengan buruh migran itu sendiri. Dalam realitasnya, buruh migran Indonesia baik perempuan maupun lelaki berada pada posisi yang sangat lemah baik secara sosial ataupun politik. Untuk itu, konsep mahram hendaknya dimaknai bukan dalam arti perorangan tetapi lebih kepada negara sebagai pelindung. Negara seharusnya menjadi penjamin keamanan bagi mereka, para penyumbang devisa tersebut.

Selain itu, narasumber juga memaparkan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ”mengaku” sangat paham agama. Padahal, tindak kekerasan tersebut merupakan kepentingan pribadi yang menggunakan agama sebagai dalih untuk membenarkan tindakannya. Hal ini sangat jelas terlihat di dalam kasus-kasus kekerasan maupun diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan.

Maman Abdurrahman sebagai pembahas, dikata penutupnya menggarisbawahi bahwa apapun agama yang dianut dan diyakini oleh pemeluknya akan membawa rahmah dan kebaikan bagi manusia. Ketidakadilan yang terjadi adalah diakibatkan pemahaman atau penafsiran yang keliru. Maka menurutnya, diperlukan strategi penafsiran baru terhadap teks agama untuk mendorong upaya-upaya membuka kembali ruang-ruang penafsiran yang membawa keadilan. Ini merupakan tantangan bagi para ulama kontemporer untuk merespon problem sosial yang semakin kompleks.  “Tembok Benton” yang membatasi pintu ijtihad antara ulama lama dan baru, sudah seharusnya diruntuhkan untuk menghasilkan produk-produk tafsir yang lebih berperspektif keadilan bagi relasi lelaki dan perempuan.

Mendung yang menggelayut di langit Srengseng Sawah, tempat diskusi berlangsung tidak menyurutkan peserta untuk mengapresiasi buku tersebut.  Banyak pertanyaan, masukan dan rekomendasi terhadap buku ini, salah satunya adalah untuk menerjemahkan buku ke dalam bahasa Arab, agar dapat digunakan di pesantren-pesantren, sehingga isu kekerasan terhadap perempuan dapat tersosialisasi di komunitas agama dan memungkinkan lahirnya wacana-wacana baru agama tentang perempuan yang lebih berkeadilan yang berlandaskan pada realitas sosial.

Semoga ikhtiar kita bersama dapat memecah kebisuan-kebisuan lainnya akibat berbagai ketidakadilan yang berbasis agama.[] By Ulfah

RAHIMA bersama MITRA: bergandengan tangan menyambut masa depan

Pada Agustus 2010 ini, Rahima genap berusia 10 tahun. Sebuah usia yang terbilang muda tetapi cukup kaya akan pengalaman terutama ketika melakukan kegiatan utamanya yakni sosialisasi pemenuhan hak-hak perempuan dalam perspektif Islam melalui pendidikan dan penyebaran informasi. Selama kurun waktu satu dasa warsa tersebut, Rahima telah bekerjasama dengan Mitra yang tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa dan Madura. 

Rahima merasa penting untuk merekam jejak perjalanan 10 tahunnya. Untuk itu diadakanlah rangkaian kegiatan yang diberi judul ” Melihat ke dalam untuk menyongsong masa depan: Refleksi atas perjalanan 10 tahun Rahima” yang melibatkan Rahima (Badan Pengurus dan Badan Pelaksana) dan perwakilan Mitra dari berbagai daerah dan komunitas: Ulama Perempuan, Tokoh Agama, Mahasiswa, Guru Agama Islam, Pesantren dan Majelis Taklim. Dalam pelaksanaannya, Rahima mendapat bantuan tim fasilitator dari P3Media. Rahima dan tim Fasilitator memutuskan menggunakan kesempatan emas tersebut untuk merumuskan strategi bersama dalam menapaki jalan ke depan yang pastinya akan penuh tantangan.

Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama 2 minggu, dibagi dua tahap. Tahap pertama pada 27 Mei 2010 dimana peserta yang terlibat dalam refleksi awal ini adalah Badan Pengurus dan Badan Pelaksana Rahima. Pembahasan yang dilakukan seputar refleksi tentang Organisasi, Program, Sumber Daya Manusia, Dana, jaringan dan mitra meliputi kekuatan, kelemahan, hambatan dan peluangnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan mereka.

Tahap kedua dilaksanakan pada 2 dan 3 Juni 2010. Kegiatan tahap kedua ini juga dibagi ke dalam dua agenda: 1). 2 Juni 2010: perwakilan Mitra Rahima dari berbagai komunitas dan daerah: Madura, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Magelang, Cirebon, Tasik, Garut, Cianjur, Bogor, Tangerang, dan Jakarta yang berjumlah 58 peserta ini membahas Analisis SWOT; 2). 3 Juni 2010. Seluruh peserta (Rahima dan seluruh Mitra) digabungkan dalam forum Pleno dimana masing-masing komunitas mempresentasikan hasil diskusi yang sudah dilakukan pada hari sebelumnya.

Kemudian, peserta dibagi menjadi 3 kelompok untuk menyusun Rencana Jangka Pendek, Menengah dan Jangka Panjang Rahima. Dari paparan yang disampaikan, ada sebuah hal tampaknya harus serius dipikirkan realisasinya, dalam jangka panjang yaitu adanya Rahima Center di berbagai wilayah kerja Rahima. Rahima Center tidak akan terwujud jika tidak ada kerjasama yang solid antara Rahima dengan Mitra di berbagai daerah tersebut. Selain itu, program jangka pendeknya antara lain, Mitra mendorong agar selalu mendapatkan informasi up-date melalui website Rahima. Hal ini untuk mempermudah Mitra dalam memperoleh informasi seputar hak-hak perempuan dalam Islam.

Kesuksesan acara ini tidak akan terjadi jika Rahima tidak didukung oleh tim notulasi yang tangguh dari Yayasan Srikandi dan kecekatan panitia teknis dari teman-teman aktivis mahasiswa Piramida Circle Ciputat.

Tantangan ke depan memang akan semakin besar, tetapi itu akan dapat dihadapi jika Rahima dan Mitra selalu bergandengan tangan untuk merealisasikan rencana-rencana yang telah disusun tersebut, Cayoo Rahima. *** by Ulfah

________________________________________

 

Dari Workshop Strategi Fundraising dan Menggali Potensi CSR

Memetakan Potensi Dukungan Pemberdayaan Perempuan


Tanggal 26-27 Mei 2010 lalu, Badan Pengurus dan Pelaksana Rahima berkumpul bersama di Wisma Hijau, Cimanggis Depok untuk mengikuti sebuah acara internal, Workshop Pemetaan Strategi Fundraishing dan Menggali Kemungkinan CSR. Acara ini dibuka sekitar pukul 09.00 WIB. oleh AD.Eridani, Direktur Rahima. Dalam paparannya, ia menyampaikan workshop ini merupakan kelanjutan hasil rekomendasi rapat bersama antara Badan Pengurus dan Pelaksana tentang kemandirian orgasisasi dan keinginan mengembangkan sumber dana non-tradisional seperti yang dilakukan selama ini. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini didukung oleh ICOMP (International Council on Management of Population) sebagai bagian dari program Scaling Up Sustainability to Organizational Excellence. Workshop selama 2 hari ini dipandu oleh Hamid Abidin dari PIRAC, sebuah organisasi nirlaba yang concern pada isu filantropi.

Sebelum memasuki pembahasan, Hamid Abidin mengajak seluruh peserta untuk menyepakati 3 hal pokok yang menjadi tujuan workshop. Pertama, ’Lokakarya’ ini bisa menghasilkan kebijakan umum dalam upaya penggalangan dana Rahima. Kedua, Ada beberapa strategi dari program penggalangan dana yang akan dicoba oleh Rahima. Ketiga, Bahwa nantinya tim penggalangan dana tidak hanya Badan Pelaksana, tetapi juga melibatkan Badan Pengurus organisasi.

Pada awal pembahasan materi, seluruh peserta diajak terlebih dulu mereview tentang fund-raising bagi organisasi nirlaba. Di sini dipelajari tentang tujuh wajah donor (seven faces of donors), yang menuturkan tentang motivasi orang berderma. Orang melakukan derma karena macam-macam alasan. Ada karena alasan agama, balas budi, senang menyumbang, dan lain-lain. Tantangannya adalah bagaimana membuka mata dan hati para donor itu sehingga mereka tergerak untuk turut membantu memecahkan persoalan yang menjadi concern kita.

Berikutnya, Hamid juga mengajak peserta menggali bagaimana melakukan publikasi, transfer pengetahuan, capacity building, membangun relasi baik dengan orang maupun perusahaan. Beragam strategi menggalang dana publik juga dipelajari. Misalnya selain lewat face to face, juga penggunaan direct mail, malam dana, dan bekerjasama dengan perusahaan yang kini kita kenal dengan Corporate Sosial Responsibility (CSR). Selain itu, Hamid mengingatkan pentingnya untuk memberikan ucapan terimakasih atau piagam penghargaan kepada penyumbang. Hal ini merupakan salah satu cara untuk merawat donatur.

Fundraising juga dapat menjadi alat yang efektif untuk mendidik konstituen. Misalnya perilaku hidup sehat dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, dapat dilakukan bersama-sama dengan perusahan maupun komunitas karyawannya. Dengan begitu, mereka akan merasakan membangun kenyamaan dan manfaat kosnitituen, serta mendidik konstituen. Dengan begitu pula kita bisa melakukan transformasi pengetahuan.

Dalam kegiatan tersebut, materi CSR juga disampaikan oleh Tatang Sholihin dari Indonesia Business Link (IBL); sebuah lembaga advokasi yang memfasilitasi diskusi bersama antara pemerintah, swasta, dan asosiasi tentang pentingnya peran perusahaan dalam CSR.

Pada akhirnya forum ini tidak hanya belajar tentang bagaimana cara menggali dana, namun juga merumuskan etika-etikanya. Yaitu mengenai apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan; serta pihak mana saja yang dianggap patut untuk diajak bekerjasama. Harapannya, berbagai kegiatan dapat lebih banyak dilakukan berdasarkan partisipasi masyarakat nantinya. [] Binta Ratih Pelu

Sore itu, 26 April 2010 suasana di sekitar PP. Al Bidayah, Desa Mulyasari, Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur semarak. Aneka penjual jajanan dan mainan anak-anak, telah bersiap di tengah keramaian yang memecah kesunyian desa. Saat itu, PP.Al Bidayah Mulyasari tengah menyelenggarakan sebuah “hajatan” istimewa bertajuk  Festival Shalawat Keadilan.

Suara membahana pembawa acara yang merupakan kakak beradik yang kompak ( Fatimah dan Sofi), menandai berlangsungnya acara yang dibuka pukul 16.30 WIB. Setelah itu dilanjutkan lantunan kalam Ilahi yang dikumandangkan oleh Ustadz Ade Permana. Kemudian berturut-turut diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Bapak Saeful Jalaluddin MS. (Ketua Panitia), Bapak Suleman (Kepala Desa Mulyasari), dan Ibu Aditiana Dewi Eridani SH. (Direktur Rahima) yang menyampaikan  informasi tentang acara yang tengah berlangsung ini.

Acara ini dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada 26-27 April 2010. Adapun jumlah grup yang mendaftar ketika Technical Meeting berjumlah 17 Grup. Dari kategori Remaja berjumlah 8 Grup, sedangkan kategori Dewasa berjumlah 9 Grup. Sebelum para peserta tampil, panitia menyelenggarakan serangkaian persiapan, mulai dari Sosialisasi tentang Shalawat Kesetaraan itu sendiri, hingga persiapan teknis seperti pelaksanaan technical meeting hingga pengocokan nomor urut, untuk menghindari kecembuan dan  perselisihan kecil akibat perebutan Nomor Urut.

Sebelumnya,  panitia telah sibuk mempersiapkan penyelenggaraan acara ini. Mulai dari sosialisasi Shalawat Keadilan ini dengan membagikan CD yang berisi lantunan tembang shalawat dengan pesan kesetaraan relasi lelaki dan perempuan  sebagai contoh untuk  dikembangkan oleh grup peserta yang akan mengikuti  festival. Panitia juga menyelenggarakan Technical Meeting untuk membahas tentang apa saja komponen-komponen dan aturan main aspek penilaian dalam festival shalawat ini. Seperti informasi tentang termasuk penilaian Tata Tertib, Busana, Vokal, Artikulasi, Aransemen, Keserasian Lagu/Penghayatan, Atraksi/Konfigurasi.

Para peserta melantunkan shalawat ini dengan berbagai gaya dan kreativitas. Penampilan peserta juga mendapatkan sambutan meriah dan tepuk tangan yang riuh- rendah dari berbagai kalangan penonton, termasuk anak-anak. Tanpa terasa, gerak bibir mereka senantiasa mengikuti  lantunan syair yang diucapkan oleh para penyanyi yang tengah beraksi di atas panggung. Kali ini, mereka mungkin hanya bisa hafal syairnya. Namun suatu saat, mereka pasti akan menanyakan maknanya  serta tergugah kesadaraannya untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan seperti dalam syair shalawat yang mereka nyanyikan.

Keramaian seperti Festival Shalawat Keadilan ini,  mungkin peristiwa yang langka terjadi di desa kecil seperti Mulyasari. Suasananya mungkin seperti di Belitong, kampung Ikal - tokoh sentral dalam novel Laskar Pelangi. Maka tak heran,  kehadiran festival ini begitu diminati masyarakat Mulyasari dan sekitar kawasan perdesaan di Kabupaten Cianjur. Seperti penuturan Ibu Ai, salah seorang penonton, ”Hari ini saya senang sekali bisa melihat festival sholawat yang rame, meskipun rumah saya jauh sekitar 30 km dari tempat lomba. Meskipun harus berjalan kaki, meskipun larut malam dan hujan turun, kami tetap semangat. Karena acara seperti ini bisa dikatakan seumur hidup sekali.”

Festival Shalawat Keadilan ini berakhir dengan kemenangan grup Himbi-1 untuk katagori Dewasa, dan grup Darul Hikmah untuk katagori remaja. Terlepas dari persoalan kalah dan menang, seluruh peserta dan penonton telah belajar bagaimana menyuguhkan tontonan menarik untuk menyampaikan kesetaraan dan keadilan. q (Binta)