Cerpen

Cerpen (46)

Stasiun   Bangil  tampak penuh sesak dengan calon penumpang.  Berbagai wajah dan  karakter ada disana.  Di salah satu pojok  peron nampak seorang ibu muda tengah mendekap erat anak kecil di pangkuannya, di antara sepasang  suami-istri tengah baya. Nampak sesekali dicium dan diusapnya rambut yang  ikal.  Si anak pun menoleh, dan dipandangi wajah ibunya.  Beribu kata tergambar jelas di sudut  tatapnya. Ada rasa takut, kecewa dan kangen yang menyesak di dada.  Dipeluknya  pinggang  ibunya, dibenamkannya wajah mungil itu di dada ibunya.  Dicarinya kedamaian dan ketenangan di tiap detak  jantungnya. 
Ditatapnya kembali wajah anaknya. Tak terasa ada butiran hangat mengalir di pipinya.  Bergulir pelan menyesakkan dada.
“Maafkan ibu, Nak.....,” bisiknya dalam hati, “Ibu sangat sayang padamu....”, lanjutnya.
Didekapnya kembali tubuh mungil itu kian erat.  Rasanya ia tak ingin  kehilangan sedetikpun alunan nafas bidadari kecil yang telah ditinggalkan selama tiga tahun, demi mencari penghasilan di negeri seberang.  Yah, tiga tahun sudah Sumi bekerja di Hongkong  sebagai TKW.  Dan kini harus segera berangkat lagi untuk melanjutkan kontrak kerja dengan majikannya.  Tapi apakah semua ini demi mencari penghasilan semata ???
Ini semua berawal empat tahun yang lalu.  Saat itu anaknya baru berumur tiga tahun.  Pada suatu  malam, Mas Mujo, sang suami memanggilnya.
“Sum..., aku ingin minta pertimbanganmu,” ucap Mas Mujo datar.
“Pertimbangan apa, Mas,” jawab Sumi sambil membetulkan selimut anaknya.
Dihampirinya sang suami yang tengah duduk bersandar di ujung  risban, kursi panjang yang terbuat dari bambu.  Nampak wajahnya tegang, tampak ada pergolakan batin yang  tergurat jelas di matanya.  Aku duduk disampingnya.
“Kamu masih ingat Retno ?, ” ucapnya datar.
“Retno yang mana, Mas...?” jawab Sumi  bingung, “Apa Retno mantanmu dulu, yang sekarang  jadi TKW di Arab ?, ” lanjutnya dengan ragu.
“Iya.”  jawab Mas Mujo dengan suara lirih agak bergetar.
“Terus apa hubungannya dengan kita, Mas?, ” tanya Sumi tak mengerti.
“Aku..., aku  akan menikahinya..., ” ucap suaminya pelan.  Tapi bagi Sumi suara itu bagai dentuman meriam yang sangat memekakkan telinga.  Dia tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan suaminya. Dia berharap bahwa ini adalah gurauan suaminya saja.  Atau hanya mimpi buruk, yang akan segera berakhir di pagi hari. Dicubitnya tangan kirinya, terasa sakit. Ditepuknya pipinya, juga sakit.....  Dipandanginya kembali wajah suaminya yang tengah berdiri di depan jendela, memandang persawahan yang gulita.
“Mas..,” panggil Sumi.“Ucapanmu tadi cuma guyon, kan..,” tanyanya sambil mendekat, “Kamu tidak serius, kan ?” ujarnya penuh harap.
Mujo diam, dia menoleh ke arah Sumi.  Pandangan mata mereka bertemu.  Itu hanya sebentar,  lalu Mujo  kembali memandang keluar lewat jendela yang terbuka lebar.
“Aku serius, Sum, “ jawabnya singkat.
“Alasanmu apa? Aku berbuat salah,  telah melakukan perbuatan yang tak termaafkan atau aku kurang setia ?”  Sumi memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
“Tidak.., kamu istri yang baik.  Tapi..,”
“Tapi apa ?”, potong Sumi cepat.  “Apa menurutmu aku sudah tidak menarik lagi ?”, nada bicaranya meninggi.
“Bukan itu juga. ” ucapnya.
“Terus karena apa?” tukasnya cepat.
“Aku telah berjanji untuk menikahinya.”  jawab suaminya dengan enteng.
Kemudian, Mujo pun bercerita pada Sumi bahwa dirinya dan Retno sudah berjanji untuk sehidup semati.  Tapi karena saat itu butuh biaya untuk pengobatan ibunya , Retno menjadi TKW. Kini Retno telah kembali dan menagih cinta mas Mujo yang yang menurutnya  telah tergadaikan kepada Sumi.
Sumi tidak bisa menerima semua alasan Mujo, karena baginya itu semua hanya akal-akalan saja. Serasa mendidih hati Sumi. Sakit sekali.
******
“Kereta Senja Ekonomi tujuan Pasar  Senen.., akan segera masuk  jalur dua.....,” suara  dari  pengeras suara membuyarkan lamunan Sumi. 
Dipandanginya kembali setiap jengkal  tubuh anaknya. Badannya yang agak kurus  membuatnya semakin merasa bersalah. Pipinya yang cekung  menyayat kisi batinnya.  Semua tubuhnya mencerca, seolah menuduhnya sebagai ibu yang tidak berguna. Orang tua yang egois, yang telah menelantarkan seorang bocah kecil yang haus  kasih seorang ibu. Seorang  gadis kecil yang mengharapkan belaian sayang setiap malam menjelang, seorang anak yang yang mendambakan peluk, saat didera  mimpi buruk.
Di matanya  yang sayu,  nampak ada butiran bening di sana, meleleh membasahi pipi yang melekat erat di dadanya  Isakpun kini pecah, badannya terguncang menahan suara. 
“ Bu..., Ika  masih kangen,” bisiknya terbata, “Ika ingin,,,., Ika ingin....” ucapnya disela isak tangis yang menghiba.
“Iya sayang..., ibu juga ingin selalu menemani kamu. Tapi...,” Sumi tak sanggup meneruskan kata-katanya. Dipeluknya erat tubuh mungil gadis kecilnya, tak bosan  diciuminya pipi  bidadari kecilnya yang kini basah dengan urai air mata.....
*****                                                         
“Sum, apakah kepergianmu tidak bisa dibatalkan?”, tanya ibunya semalam, “Apa sudah  kamu pikirkan masak-masak untung dan ruginya ?”,  lanjutnya.
“Iya, Bu, aku kan sudah janji dengan majikanku”, jawab Sumi sambil mengepak pakaian yang akan dibawanya., “ Atau Ibu keberatan mengasuh Ika ?”,  ia balik bertanya.
“Jangan salah sangka dulu, aku tidak keberatan mengasuh Ika, tapi lihat itu anakmu,” kata ibunya sambil menunjuk Ika yang  terlelap”, Dia membutuhkanmu di sisinya, dia sering   iri dengan teman-temannya yang diantar ibunya ke sekolah.  Dia juga selalu diejek temannya kalau dia tidak punya ibu....”, lanjut Ibunya.
Dipandanginya wajah anaknya. Dibetulkannya kembali  kain jarik yang tersingkap menyelimutinya.  Ikapun terjaga,  menatapnya sekejap, lalu segera terlelap kembali setelah menggapai tangan Sumi yang kemudian ia tarik ke pelukannya.  Sesekali bibirnya tersenyum.  Nampak ada kedamaian disana.
“Sudahlah Sum..., kamu tidak usah menuruti emosimu saja,” ucap Ibunya sambil duduk di tepi dipan, “Ibu tahu , kamu kan hanya ingin menunjukan pada mantan suamimu bahwa kamu juga bisa mencari uang ?”, lanjutnya, seakan tahu yang ada di benak Sumi.
“Ya bukan begitu, Bu. Ika kan butuh biaya untuk sekolahnya”, jawabnya sedikit keras, meski dalam hati ia membenarkan semua perkataan ibunya.
“Kamu kan bisa membuka usaha jahitan.” usul ibu dengan harap, “Bukankah kamu dulu pernah kursus menjahit ?”, lanjutnya meyakinkan.
Semua yang dikatakan ibunya benar,   sehingga Sumi kehilangan kata-kata untuk menyanggah ucapan ibu. Tapi rasa dendam dan angkuh telah mengkristalkan hatinya, sehingga dengan mudah mementahkan nasihat ibunya. 
“Mestinya kamu juga  mempertimbangkan niat baik nak Sodikin, yang bersedia menerima kamu  apa adanya,” ucap ibunya serius, “Dia bersedia menikahimu, menjadi bapak sambung  Ika.  Selama ini dia sangatt memperhatikan anakmu, lho!”
Ya, Mas Sodikin.  Guru Madrasah, kakak kelasnya waktu di SD dulu.  Mas Sodikin, duda tanpa anak yang telah ditinggal mati istrinya saat melahirkan setahun yang lalu.  Kasihan dia, istri dan bayi yang dilahirkan ikut meninggal.
Kasihan...., yah kenapa tiba-tiba ada rasa kasihan di hati ini.  Apakah ia telah terpengaruh  ibunya? Atau ia telah kembali jatuh cinta?  “Ah...., tidak.  Aku hanya kasihan saja,” dalam hati Sumi menepis perasaannya.
“Bagaimana Sum ?”, tanya ibunya lagi.
“Tidak bu, aku akan tetap berangkat.”
*****
Kini kereta yang kutunggu mulai memasuki setasiun. Dengan tergopoh-gopoh Kepala Stasiun keluar  menyambut kedatangannya. Sesekali peluitnya ditiup, mengingatkan penumpang untuk menjauhi rel kereta. Melengking di antara deru mesin lokomotif yang nampak kekar. Seperti mendapat komando, para penumpang berjalan, berebut masuk ke kereta yang  sudah diam.
Tak lama kemudian, peluit Kepala Setasiun Bangil  kembali melengking.  Menandakan kereta akan segera diberangkatkan. Sumi tak kuasa menahan air matanya.  Tangisku pecah manakala menatap mata Ika yang kini  menghiba penuh harap. 
“Kapan Ibu akan pulang ?”, tanya Ika disela isak  tangisnya.
Sumi hanya diam, tak sanggup menjawab pertanyaan itu. Dengan sedikit paksa dilepasnnya tangan mungil yang melingkar di lehernya.  Dibalikkannya badan dan dengan segera ia berlari ke arah kereta yang mulai bergerak pelan. 
****
Jam menunjukkan pukul empat pagi. Semalam Sumi tak bisa memejamkan mata.  Bayangan anaknya selalu muncul dan meminta, mencegah keberangkatannya untuk bekerja.  Kini dia sadar bahwa dia telah salah mengambil langkah.
“Aku harus pulang, aku harus membatalkan kepergian ini, ” bisik Sumi dalam hati.
Diambilnya tiket  Hongkong Airlines dari dalam tasnya, lalu disobek dan dilemparnya lewat jendela.  Himpitan di dadanya kini kian reda, hilang bersama hadirnya pagi kota Jakarta.
“ Tidurlah dengan nyenyak malam nanti, anakku.  Bermimpi indahlah kamu.  Karena saat kau bangun besok, ibu sudah ada disisimu....” bisiknya dalam hati.
Mendung yang menggelayut perlahan sirna dari relung jiwa, menjadi hujan badai entah dimana.  Ada butiran bening bergulir di pipinya. Menetes di antara bias mentari pagi dan membentuk sejumput pelangi di ujung hati......, indah sekali....!

Purwokerto,2012
Wahyu Riyanti













Hari baru menapaki senja. Ketika Raka baru saja merapikan Counter Cellulernya. Hari ini terasa cukup melelahkan. Terik mentari menyengat. Ditambah gumpalan debu pinggiran jalan yang begitu padat. Tapi kelelehan itu terasa terbayar. Penjualan sepanjang hari ini cukup lumayan. Membuat Raka bisa pulang dengan senyuman, menyapa Silvi dan si kecil Amel nanti malam disaat pulang.

Tahun ini Silvi dan Raka menapaki tahun ke tujuh rumah tangga mereka. Sebagai seorang perempuan, merantau ke Ibu Kota bukanlah pilihan mudah. Dia harus bisa bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan ibu kota. Apalagi disaat dia harus memilih jodohnya sendiri. Tentu saja dengan resiko yang sudah dia bayangkan, yaitu semua harus dilalui seorang diri. Tanpa kedua orang tua dan sanak famili yang jauh di Sumatera sana.

Awal  Mula
Di tempat Silvi bekerja, ia dikenal mudah bergaul dengan siapapun. Karena itu, tak segan-segan, teman-temannya mengajak Silvi untuk sekedar melewatkan pesta bersama. Biasanya untuk melepaskan penat di akhir pekan.

Di salah satu pesta itulah, Silvi bertemu dengan Raka. Seorang teman yang berjasa mempertemukan dua insan ini. Keduanya berbicang, dari yang ringan-ringan hingga yang serius tentang kehidupan pribadi mereka. Serasa gayungpun bersambut, Silvi dan Raka mulai terlibat perasaan. Ada yang tidak bisa dia lupakan dari sosok pemuda di depannya. Seorang pemuda berwajah tampan, hidungnya mancung, rambut lurus yang disisir rapi dengan tatapan mata tajam, tepat ke jantung hatinya. Sebenarnyalah Silvi tertarik pada Raka  semata karena pesona pribadinya, bukan harta.

Memang, sebelum jatuh miskin, keluarga Raka tergolong berkecukupan bahkan bisa dibilang kaya-raya. Ayahnya seorang pengusaha Besi dan Agen Pelayaran ke luar negeri. Sebagai pemuda berada, Raka memiliki berbagai fasilitas mewah, mobil, rumah, dengan berbagai asesorisnya. Hidupnya dihabiskan dengan berpesta, dari party ke party, bersama teman-temannya.

Sejak pandangan pertama itu pula, Raka pun menangkap sesuatu yang berbeda dari Silvi. Perempuan tinggi semampai, rambutnya terurai sebahu, dengan tatapan santun, dapat meluluhkan keangkuhan dirinya. Silvi seorang karyawan eksekutif memiliki tata pergaulan yang disiplin. Cara dia bicara, beradu pandang, serta gerak tubuhnya seperti sudah ia pelajari dengan sungguh-sungguh. Maklum, sehari-hari Silvi bergaul dengan kalangan high class. Itu pula yang membuatnya selalu berhati-hati dalam mengatur setiap irama yang ia mainkan. Termasuk saat ini, saat di hadapan seorang pemuda yang membuat hatinya berdesir.

Serasa begitu singkat, Silvi dan Raka menentukan waktu untuk pertemuan mereka kembali. “Malam minggu besok ya, kebetulan aku kan libur. Bener ya jangan lupa jemput aku”, Silvi berkata sambil memperlihatkan isyarat perpisahan. “Ya, aku pasti datang”, Raka pun menimpali dengan perasaan berkecamuk melepas perempuan yang baru ia kenali itu.

Malam itu pun tiba. Raka menjemput Silvi di kontrakannya. Keduanya lalu menuju sebuah Cafe. Cafe yang memang digemari oleh kawula muda itu sekilas tampak romantis. Designernya sengaja merancang i ini dengan latar suasana romantik. Cahaya lampu yang temaram. Penglihatan banyak dibantu dengan cahaya lilin warna warni. Di pojok ruangan, ada sofa untuk dua orang dengan meja yang tidak terlalu tinggi, di situlah Silvi dan Raka duduk bersebelahan. Makanan, snack ringan dan minuman mereka pesan untuk menemani mereka malam itu.

Malam terasa begitu indah. Detik demi detik berlalu terasa tanpa pamit pada sang pemilik waktu. Silvi dan Raka  tak henti-hentinya bersenda gurau menikmati malam mereka. Sampai tanpa terasa susana menjadi terasa begitu hening. Tangan Raka  menyentuh tangan Silvi yang sepertinya sengaja diletakkan di sampingnya. Entah apa yang Silvi rasakan, semuanya menjadi berkecamuk. Waktu      berlarian tidak lagi teratur mengikuti irama semestinya. Gugup, senang, entah apa lagi yang ada di hatinya.

Malam minggu terasa begitu lama. Menunggu adalah pekerjaan yang paling menjemukan. Silvi harap-harap cemas menunggu malam itu tiba. Saat dia kembali berjanji bertemu dengan Raka, lelaki yang telah mencuri perhatiannya. Di Cafe biasa...

***
Perjalan waktu menjadi saksi kisah cinta mereka. Hingga akhirnya, “Bagaimana kalau kita menikah”, kata itu terlontar dari Raka begitu saja. Silvi sempat terdiam sejenak, berusaha memahami, sambil sesekali menatap wajah pria idamannya itu. “Aku bersungguh-sungguh. Hubungan kita sudah terlalu jauh. Aku tak ingin kehilanganmu”, Raka  berusaha meyakinkan Silvi.

Kebingungan menyelimuti ruang batin Silvi. Ia gamang harus bagaimana. Sepertinya ia yakin dengan kesungguhan kekasihnya, Raka. “Tapi dia masih terlalu muda. Bisakah dia membina rumah tangga? Ah...tidak...”. Silvi memang lebih tua ketimbang Raka. Jarak usia mereka terpaut lima tahun. Waktu itu, Raka berusia dua puluh tahun, sedangkan Silvi duapuluh lima. Namun kesungguhan yang terpancar dari wajah Raka, membuat Silvi tak kuasa untuk berkata tidak. Perlahan ia mengangguk, “Kalau memang tekadmu sudah bulat, aku siap menjadi pendamping hidupmu, sampai kapanpun”, lirih ia berkata.

Dengan kemantapan hati, Raka  mengutarakan maksudnya itu kepada kedua orang tuanya. “Siapa perempuan itu? Kamu sudah Ayah siapkan jodoh. Tak usah lagi susah-susah mencari di luar”, ucap ayahnya, yang meskipun dengan pelan tapi terasa menohok hatinya. Setali tiga uang, ibunya pun bersikap sama, “Pokoknya ibu tidak setuju. Perempuan tidak jelas asal- usulnya. Sudah. Kamu jangan macam-macam...”.

Seperti paduan irama, semua keluarganya, kakak, paman, tidak ada yang mendukung kehendak hatinya itu. Kecewa, serasa ia hidup seorang diri. Begitu yang Raka rasakan...
Murung menghantui hari-hari Raka. Tak seorangpun keluarga mendukung niat hatinya. Namun Raka  bukanlah pemuda yang gampang menyerah. Raka  memang keras kepala. Apapun yang dia inginkan harus menjadi kenyataan. Sampai kata hatinya berkata, “aku harus...walau tanpa siapapun..”.

Lembaran Baru
Raka sudah memikirkan segala resikonya. Dia mantap menikahi Silvi meski tanpa restu keluarga sekalipun. Yang menjadi wali dalam pernikahan itu, Paman Silvi, keluarga terdekatnya yang ada di Jakarta. Kedua orang tua Silvi ada di Medan. Mereka tidak dapat menghadiri pernikahan putrinya. Silvi pun mengumpulkan segenap asanya untuk tetap tegar, berdiri tegak menjalani pilihan yang dia yakini ini. Meski keluarga Raka jelas-jelas tidak menginginkan kehadirannya.

Akhirnya akad nikah pun dilangsungkan. Tidak ada yang istimewa. Prosesi berjalan tanpa riuh rendah keluarga yang menyaksikan. Hanya satu-dua famili Raka yang hadir, serta teman-teman dekatnya. Tapi Raka dan Silvi merasa sangat bahagia. Kini mereka resmi menjadi suami-isteri. Sesuatu yang nyaris tak pernah mereka bayangkan, karena restu keluarga yang mengganjal.

Silvi dan Raka pun hidup mandiri. Ia harus bisa membuktikan pada keluarganya, bahwa ia bertanggungjawab akan pilihannya itu. Mereka memilih mengontrak rumah petak. Keduanya menjalani hidup semampunya dengan keberadaan mereka kini. Mobil dan fasilitas yang ia miliki sebelumnya dikembalikan ke rumah orang tua.

Silvi tetap bekerja sebagai karyawan eksekutif. Gajinya yang lumayan bisa dibilang cukup membiayai hidup mereka, kontrak rumah serta biaya sehari-hari. Sedangkan Raka  mulai belajar berbisnis. Dengan bekal pengetahuan seadanya, Raka  membuka usaha Counter Celuler. Kakak Iparnya yang bersimpati, memberinya pinjaman modal. Modal yang cukup untuk memulai usaha barunya itu.

Tiga bulan usia pernikahannya, Silvi mulai mengandung anak pertama. Hingga genap sembilan bulan kandungan, lahirlah Amel, bayi mungil yang cantik. Kehadiran Amel tentu saja melengkapi kebahagiaan pasangan muda ini. Yang bertekad menjalani takdir dengan tangannya sendiri.

***
Malam ini Raka pulang, dengan senyum Ia menyapa lembut Silvi dan Amel yang sudah menunggu di rumah. Sembari menyerahkan bungkusan Martabak yang dibelinya di ujung Gang. Ya...Silvi dan Raka terus berjuang, agar senyum ini selalu menghiasi hari-hari esok nan indah di keluar kecil ini.[]

Malam menggelar jubah hitamnya di atas lampu-lampu yang silau menguning. Kudengar suara azan menggelegar di sudut-sudut kota ini.  Hatiku gundah mengenang saat-saat terindah dengan lelaki yang kucintai maupun Aira, putri angkat kami. Air mataku tetap saja mengalir, meski aku tahu aku yang menginginkan pengakhiran cerita cinta kami. Bisa saja sebenarnya aku  bersahabat dengan penderitaaan batin, namun aku tak punya pilihan lain.

Kugelar sejadah panjangku meminta ampun pada-Nya lewat isya-Nya yang damai. Berusaha meminta kekuatan kepada Allah atas cobaan yang diberikan-Nya padaku. Udara malam itu tiba-tiba hening tanpa suara, tawa riang yang dulu bersemi indah di rumah mungil kami kini hilang. Kutarik semua lembaran kenangan saat masih bersama Aira. Saat aku menunggunya tidur ditemani alunan shalawat yang begitu ia gemari, lalu bangun dan memintaku bercerita tentang Hasan dan Husein; anak dari Fatimah Azzahra -putri yang begitu dicintai Rasulullah-.

“Bunda, apa Husen dan Husein seperti Aira? Aira  disayang Nabi?”, itulah pertanyaan yang selalu Ia lontarkan ketika aku selesai bercerita. Biasanya aku tersenyum sambil mengusap kepalanya dengan lembut sambil menganggukan kepala.

“Aira, selama Aira jadi anak yang shaleh dan taat pada Allah, … tentu Aira juga akan disayang Nabi…”.
Aku terisak mengingat semua kebahagiaan yang baru kemarin kurajut dan kubingkai dengan doa dan imanku. Kini semuanya berubah, Aira telah pergi bersama hilangnya kebahagiaan rumah ini.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah depan, aku bangkit menyelesaikan tangisku dan berharap yang datang Ibu, bukan Mas Bagas. Aku tidak membenci kehadirannya, tapi sungguh aku tidak menginginkan Ia hadir di saat hatiku sedang tak menentu. Kubuka pintu dengan pelan dan kulihat sosok Aira gadis kecilku. Ia berdiri di depan pintu dan langsung menghambur ke pelukanku.
“ Bunda, apa Bunda tidak merindukan Aku? Bunda tidak pernah datang ke rumah baru kita”,  ucapya sambil tersedu.

Aku berusaha menahan air mataku. Sehancur apapun hatiku, aku tetap tak ingin melihat gadis kecilku menangis dan bersedih.  Aku menatap Mas Bagas, lelaki itu tampak acuh saja saat kubelai rambut Aira yang kusut tak terawat. Sinar matanya menyorotkan kebencian yang dalam, seolah dulu Ia tak pernah mencintaiku. Entah mengapa Ia begitu menampakan kebenciannya padaku, padahal aku telah menebus salahku dengan mengikhlaskan Ia kembali pada sosok perempuan yang ia cintai.
*******
Pagi menjelang dengan tetesan embun yang bening di atas rerumputan hijau yang dingin. Kawanan burung ramai berkicau, mawar-mawar dan melati putih bermekaran. Namun aku berbalut kegelisahan. Ibu baru saja menelponku dan memberi kabar bahwa keluargaku sangat terpukul dengan kejadian yang kualami. Mereka meminta maaf padaku karena Mas Bagas adalah calon suami pilihan keluarga yang dulu sangat mereka agungkan. Aku tahu yang paling terpukul dengan masalahku adalah Ayah. Karena beliau yang bersikeras menyuruhku menikah secepatnya dengan pria yang Ia pilihkan, Mas Bagas.

Aku tentu tidak menyesal, karena aku pun sejak menikah berusaha mencintai suamiku dan aku bisa melakukannya. Ia adalah belahan jiwaku. Lima tahun merajut rumah tangga dengannya bukan waktu yang singkat,namun karena kekurangankulah ia pergi dan membenciku seperti ini. Meski kurasakan ia sangat tidak adil melakukan ini padaku, karena karena saat ini aku justru membutuhkan kehadirannya untuk menguatkanku. Kuingat saat kami datang memeriksakan diri ke dokter karena lama menunggu kehadiran bayi yang selalu kami tunggu-tunggu. Aku begitu terpukul mendengar ucapan dokter yang memvonis aku tak bisa mengandung karena ada gumpalan kista di rahimku. Aku terpukul sekali kala itu, dan dengan lembut ia menuntunku pulang ke rumah.

Hari-hariku penuh dengan tangis dan penyesalan, bagiku aku bukanlah perempuan yang sempurna jika tak mampu memberikan anak untuk suami yang kucintai. Apalah arti semua kebahagiaan yang kurengguk tanpa hadirnya buah hati yang siap meramaikan perjalanan rumah tangga kami. Atas usulnya kami berusaha menyembuhkan kista di rahimku dengan jalan operasi. Namun pasca operasi tetap saja aku belum bisa mengandung. Aku kembali kehilangan harapan untuk memiliki buah hati dari suamiku. Namun, akhirnya ia menyarankan agar kami mengadopsi anak, selain agar aku tak  kesepian juga untuk memancing agar aku bisa hamil. Aku menurut, karena kurasa itulah jalan terbaik buatku dan Mas Bagas. Tentu selain karena aku takut kehilangan pria yang begitu kucintai itu, hingga hadirlah Aira, gadis kecil yang kami adopsi dari sebuah panti asuhan di Jakarta.

Aira menjadi pengobat rindu kami untuk menghadirkan sosok kecil yang ramai di rumah kecil kami. Semuanya begitu indah, dan kami tak pernah mempersoalkan soal kehadiran buah hati dari rahimku sendiri. Meski  mungkin, ada do’a rahasia di hati kami masing-masing untuk bisa mendapatkan keturunan. Kurasakan dunia begitu nikmat kureguk, bulan dan bintang seolah selalu tersenyum pada setiap malamku. Aira kecilku yang ketika diadopsi baru berumur dua tahun, kini telah memasuki usia keenam tahun. Gadis itu tumbuh cerdas dan sangat cantik, aku dan Mas Bagas merasa tak betah berlama-lama meninggalkan rumah kecil kami karena merindukan  dirinya yang ceria dan lucu. Selalu kupanjatkan doaku pada Allah semoga ia tetap menjadi pelita kebahagiaan rumah tanggaku.

Namun roda  kehidupan selalu berputar. Beberapa bulan setelah Aira kecilku memasuki kelas satu SD-nya, Mas Bagas meninggalkan kami. Ia meminta izin padaku untuk menikah dengan perempuan yang katanya dulu sangat ia cintai. Cinta pertama Mas Bagas waktu kuliah di Bandung dulu,  yang kini bertemu kembali kembali di kantor tempat Mas Bagas bekerja. Pedihnya, ia mempermasalahkan kemandulanku yang tak bisa memberinya anak. Rasanya aku ingin marah pada Allah dan memprotes mengapa aku diciptakan mandul? Tapi, Astagfirullah, aku beristighfar dalam tangisku karena aku tak pantas melakukan itu. Aku bersyukur bahwa Allah telah menitipkan Aira, meski dia bukan anak yang terlahir dari rahimku. Walau bagaimanapun, Aira adalah amanah buat kami yang seharusnya kami jaga dan besarkan dengan cinta. Aku juga mencoba berdamai karena kekuranganku dengan mengizinkan Mas Bagas untuk mencari kebahagiaan yang lain.

Aku setuju ia ingin menikah lagi, namun aku meminta cerai, karena aku tak sanggup bila harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Aku merindukan surga Allah, namun tidak dengan jalan dimadu. Mas Bagas akhirnya bersedia menceraikan aku, asalkan Aira pun turut bersamanya. Aku menangis memohon padanya agar Aira tetap tinggal bersamaku. Namun entah mengapa Mas Bagas yang dulu kukenal begitu tega memboyong Aira, tanpa sedikitpun menyisakan kebahagiaan untukku.

“Allahu Akbar….Allahu….Akbar…”, suara muazin menyadarkan aku dari lamunan panjangku. Kucoba untuk bangkit, berdo’a pada Sang Maha Cinta sambil meyakini bahwa Dia berada di pihakku dan selalu menjanjikan harapan baru. []

Inilah hidupku, kenapa aku harus ada di sini? Di tempat ini. Tempat yang benar-benar membuatku sengsara, terkurung. Tanpa sedikitpun kebebasan. Malam itu, kepalaku terasa pusing. Sangat pusing. Padahal sebelumnya aku telah merencanakan untuk kabur setelah pesta pernikahan itu. Aku tak pernah menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh orang yang kini menjadi suamiku. Laki-laki yang dengan paksa dinikahkan denganku. Gadis yang masih kecil ini. Terhitung waktu itu usiaku masih 15 tahun. Sebagai anak dari keluarga terpandang, ternyata nasibku tidak semujur yang orang-orang pikirkan. Ayahku, seorang pemilik kebun teh telah menikahkan aku dengan anak dari salah seorang rekan bisnisnya yang kaya raya. Aku merasa seperti hidup di penjara.
***   
“ Hamidah? Kau kah itu?” panggil Maysaroh dari jauh dengan heran. Aku lama tidak berjumpa dengannya sejak lulus MTs. Dia teman sebangkuku dulu. Aku menoleh kearahnya dengan mencoba mengingat-ingat siapa namanya. “ Iya, Aku Hamidah,  kamu Maysaroh kah?” tanyaku terheran. “ Iya, kok kamu tambah kurus ya, kuliah dimana sekarang?” tanyanya. Pertanyaan itu seperti menghantam kepalaku. Dulu, ketika aku masih sekolah, aku sering bercengkrama dengannya. Bermimpi bersama meraih cita-cita. Sempat kuceritakan padanya keinginanku menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Jakarta. Sementara Maysaroh ingin menjadi seorang penulis terkenal. Lama aku tak menjawab pertanyaanya, seolah bumi dan waktu ini berhenti sejenak menanti kesiapanku menjawabnya.

“A..Aku nggak kuliah kok, May. Aku sudah menikah sejak lulus MTs dulu. Ayahku menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya” Aku menerawang. Dia menatapku dalam,  seolah keheranan. “ Oh, jadi kamu sudah menikah. Selamat ya! Sudah punya anak berapa?” “Aku belum punya anak kok, May” ucapku getir, menahan penderitaan ini seakan ingin segera mengadu padanya. Tapi kuurungkan niatku karena aku pikir dia tidak perlu tahu tentang hal ini. “ Oh ya, May. Sekarang kamu kuliah dimana?” “ Di Jakarta, Mid. Aku sekarang bergabung di sebuah organisasi kepenulisan di Jakarta, bersama mereka aku bisa belajar dan berusaha mewujudkan cita-citaku. Aku telah menemukan duniaku, Mida”. Dia memelukku dengan wajah yang begitu sumringah. Dia bakal jadi orang sukses, batinku.

“ Emm, Aku pulang dulu ya, sudah ditunggu suami. Lain kali kita ketemu lagi ya, May. Oya nomor telepon kamu berapa?” Kataku memohon pamit. Sambil menyebutkan nomor teleponnya dia mengijinkanku pulang. Bagiku, Maysaroh adalah teman terbaikku selama ini. Sahabat yang selalu membuatku terus bersemangat. Tapi  sayang, nasib berkata lain padaku. Aku harus hidup dalam belenggu pernikahan yang sama sekali tidak membuatku bahagia. Apalagi suamiku yang sama sekali tidak menghargaiku. Kadang-kadang menganggapku seperti sampah. Saat ini, aku masih bisa tegar.
***

Hari itu ayahku berkunjung ke rumahku bersama ibuku tercinta. Aku gugup ketika melihat mobil berhenti di halaman rumah. Pintu mobil terbuka. Sesosok lelaki setengah baya turun dari mobil dengan penuh wibawa. Aku mendekat lantas menyalaminya, Birrul Walidain, pikirku. Meski seolah terlihat santai, hatiku merasa benar-benar takut kalau orang tuaku tahu bahwa aku menderita di sini.

Aku persilahkan kedua orang tuaku masuk. Setelah lama berbincang dengan ayah dan abu, suamiku datang dari kantor. Dengan wajah sedikit kaget, dia langsung menyalami ayah ibuku seraya berkata manis seperti saat melamarku dulu. Dasar lelaki bermuka dua! Gerutuku  di dalam hati. Dia memang pandai bersandiwara. Orang tuaku mungkin tak akan percaya jika aku menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi di antara kami.

Dengan kikuk aku masuk ke dalam kamar menemui suamiku. Kuat-kuat dia menarik lenganku seraya menghardikku. Mengancamku agar aku tidak mengadu pada ayahku. Bahwa dia ternyata masih menjalin hubungan dengan perempuan lain. Sejak kami menikah dia tidak pernah menyentuhku. Dia menikahiku hanya karena sekedar ingin menyakitiku saja. Alih-alih tak ingin kedoknya diketahui oleh keluarganya, dia menuduhku sebagai perempuan mandul. Padahal, dia tak berani menyentuhku sedikitpun. Hanya saja, dia cukup garang ketika menyiksaku. Aku benar-benar ingin segera terbebas dari penjara ini.

Tiba-tiba aku teringat pada orang tuaku yang sedari tadi masih di ruang tamu. Suamiku berganti pakaian. Mengajak ayahku ngobrol dengan ramah dan seolah bersahabat. Sembari ibuku membantuku di dapur menyiapkan makan siang untuk kami.

Sedikit curiga ibuku melihat luka memar di tanganku bekas pukulan suamiku. Waktu itu suamiku membawa ‘perempuan’ yang dicintainya ke rumah. Aku menegurnya, tapi dia kalap dan marah besar padaku. Dengan sekali pukul aku terengah-engah. Aku memilih untuk tidak melawannya. Menghindar adalah pilihan teraman bagiku. Pengabdian yang kata orang-orang mendatangkan pahala, justru bagiku membuahkan malapetaka.

Aku sama sekali tak mengaku pada ibuku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku takut penyakit jantung ayahku kambuh. Pun darah tinggi ibuku anfal lagi. Keduanya sudah begitu percaya padaku. Aku khawatir akan membuat mereka kecewa. Ku katakan pada Ibuku, waktu itu aku sedang mencuci di kamar mandi dan terjatuh hingga tanganku memar. Tanpa berujar sepatahpun ibuku langsung pergi meninggalkanku sendirian di dapur.
***

Kali ini, penyiksaan yang dilakukannya telah melampaui batas kekejaman. Dia memukulku tanpa berpikir bahwa aku adalah seorang perempuan. Bagi perempuan,  ada bagian-bagian tubuh tertentu yang sama sekali tidak boleh dipukul. Jika terkena pukulan atau benturan, pasti akan membahayakan kesehatan bahkan nyawanya.

Aku meraung kesakitan. Sementara dia dengan seenaknya meninggalkanku dan pergi berkencan dengan ‘perempuan simpanan’-nya. Tak terasa darah mengucur dari keningku. Sekujur tubuhku memar bahkan berdarah. Kenyang dengan tinju-tinju ganasnya. Aku tergeletak di ruang tengah. Menangis, menjerit tak ada yang mendengar. Kalau boleh meminta ingin ku sudahi hidupku saat ini juga. Tuhan, bila aku boleh memohon padaMu, cabutlah nyawaku agar tak terlalu lama aku harus menahan derita ini.
***
Malam itu seolah pertanda bahwa doa-doaku di setiap sepertiga malam terakhir telah terjawabkan. Ayahku berkunjung lagi kediaman mungilku. Beliau  memutuskan untuk menginap. Padahal seperti biasa, malam ini ‘suami’ku sudah membuat janji untuk berkencan dengan selingkuhannya di rumah kami. Ulahnya diketahui ayahku.

Ayahku geram, menariknya ke dalam rumah.  Kemudian mengusir  teman kencan suamiku itu dan memarahinya habis-habisan. Perasaanku campur aduk. Tak tahu harus marah atau justru kasihan; mengingat mungkin dia juga korban ulah suamiku yang gombal.  Walaupun begitu,  tetap saja kehadirannya menjadi seteru buatku.  Dan ayahku,  tentu saja tak dapat menerima perbuatan mereka. Merasa anaknya telah ditelantarkan dan dikecewakan,  ayahku  memukuli suamiku dan membiarkannya setengah mabuk tergolek di kaki sofa. Kemudian beliau memelukku erat-erat, menyuruhku segera berkemas meninggalkan penjara ini.

Masih dengan nafas yang terengah, aku memeluk kembali ayahku sembari menatap suamiku yang masih terkulai di lantai. Kenapa aku mengiba untuknya? Bukankah dia sama sekali tak menganggapku sebagai manusia? Ku jinjing koperku. Malam itu juga aku meninggalkan rumah yang telah menjadi penjaraku selama lima tahun itu.

“ Nak, Maafkan Ayah yang telah memaksamu menikah dengannya. Kalau Ayah tahu akan terjadi seperti ini, Ayah tak akan memaksamu untuk bersamanya. Ayah tak akan bisa memaafkan diri Ayah, Nak” Ucap Ayahku sembari menyalakan klakson mobil. Aku menatapnya getir. Rasanya kosong, entah bahagia atau sedih yang sedang kualami. Yang kutahu, kini Aku telah terbebas dari belenggu ‘pengabdian’. Pengabdian kepada  ‘mereka’ yang katanya surga kita (perempuan) ada pada ‘mereka’.[ ]

______________

Penulis adalah mahasiswi semester 6 Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya aktif di Islamic Journalism Community (IJC) Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya

Sudah sepekan ini,  Latifah selalu uring-uringan. Dia selalu menyendiri di halaman belakang dan tiba-tiba ketus pada Nursalim suaminya bila sang suami ingin tahu penyebab kemurungannya. Bahkan, yang membuat Nursalim tambah bingung dan penasaran adalah beberapa kali istrinya menolak dan menepis kasar tangannya bila ia mau menyentuhnya.
”Ada apa, to, Dik? Kok mukanya jadi sering ditekuk begitu....,” sapa Nursalim. ”Nanti cakepnya jadi ilang, lho.....,” tambahnya menggoda.
”Sudah, Kang. Pergi sana. Nggak tahu orang lagi suntuk apa, ” usir Latifah.
”Aku nggak tahan lihat suntukmu. Aku pengen lihat lagi senyummu, ” Nursalim memegang wajah istrinya,  menarik kedua pipinya sehingga menimbulkan ekspresi ’senyum’ yang dipaksa.
”Emoh, Kang.............,” kata Latifah sambil memukul-mukul bahu suaminya. Ia meronta dan berusaha melepaskan tangannya.

***   
Mata  Latifah menerawang  ke atas, menatap langit biru nun jauh disana. Ia bergumam dalam hati. Andai saja, suaminya tahu apa yang tengah berkecamuk di pikirannya kini. Mereka telah menikah lebih dari sepuluh tahun lamanya. Dan sampai kini sepertinya belum ada tanda-tanda kalau mereka akan segera mendapatkan momongan. Padahal, Latifah sering kali gemes melihat anak kecil. Terutama pada Teguh, anak Yu Minah tetangga sebelah rumahnya yang baru berusia dua tahunan. Teguh seringkali digendongnya berlama-lama. Dan anak itu nampaknya juga menikmati perlakuan Latifah kepadanya.
”Mbok ya bikin anak sendiri to, Pah..... Memangnya kamu jarang kumpul sama suamimu, po? Sampai sekarang kok masih adem ayem saja,” Sergah Yu Minah padanya, yang lebih suka memanggilnya Latipah atu Ipah. Yu Minah yang ndeso itu memang kesulitan melafalkan bunyi huruf ”f”.
”Iya, iya, Yu.Wong aku  rukun-rukun saja kok sama suamiku,” jawabnya.
Komentar seperti yang disampaikan oleh Yu Minah biasa dia dengar. Untung Yu Minah sendiri cara ngomongnya halus, jadi nggak bikin sakit hati. Kadang-kadang Latifah merasa sangat sedih, menyadari dirinya jadi gunjingan orang-orang di dusun Karangsari tempat ia tinggal dengan Kang Nursalim. Belum lagi mertuanya juga tinggal di kampung yang sama. Selalu pengen nangis rasanya.
”Lihat itu si Latifah. Berapa lama dia kawin sama si Nursalim, sampai sekarang nggak juga punya anak. Untungnya Nursalimnya sabar. Tapi kalau sudah putus asa, bisa-bisa cari bini lagi dia. Wong dia kan laki-laki, selalu dituntut untuk memiliki keturunan. Kalau isterinya gabug, ya susah. Tapi namanya laki-laki, kalau istrinya nggak bisa diandalkan, ya dia bisa kawin lagi,”  kata Mak Surti,  pedagang gorengan yang seringkali menjajakan dagangannya keliling kampung.
”Mungkin dia ndak subur, Mak. Soale dia jarang minum jamu buatanku.” Kata Yu Siti, si tukang jamu. Sambil nimbrung ngobrol, punya kepentingan dagang juga dia rupanya.
”Ya, mungkin dia mandul. Gak bisa punya anak namanya mandul. Ya, to,” kata Budhe Narti, yang masih terhitung budhenya Nursalim suami Latifah. ”Kalau memang begitu, biar aku bilang sama Maknya si Salim. Suruh ceraikan saja isterinya. Lalu cari lagi perempuan yang bisa kasih cucu.”
”Kalau memang dicerai, biar deh saya yang maju. Dari dulu saya memang demen sama dia. Kayak papan reklame di truk itu, untuk Neng Latifah saya bersedia bilang ”kutunggu jandamu”. Mang Ikin, tukang  kredit panci keliling  dari Tasik itu ikut nimbrung obrolan ibu-ibu.
”Oalah, Mang. Ingat anak bini di rumah,”  seru ibu-ibu yang mendengar celotehan Mang Ikin.
Mengingat semua itu, air mata Latifah menetes membasahi pipinya. Pedih betul rasa luka hatinya. Ia gundah. Benarkah Kang Nursalim akan mencari perempuan lain? Akankah ia dimadu? Tak kuasa Latifah membayangkan semua itu. Duh, Kang. Tegakah hatimu mencampakkanku? Ratap Latifah dalam lamunannya. Latifah baru tersadar dari pengembaraan pikirannya ketika mendengar adzan Magrib tiba.

***

Tengah malam Latifah terbangun dari tidurnya. Ia sempat mengalami mimpi buruk. Suaminya tengah dikejar perempuan lain yang berambut panjang. Syukurlah, gumam Latifah setelah tersadar. Semua itu hanya mimpi. Bergegas ia ke kamar mandi,  lalu setelah itu mengambil air wudlu. Ya Allah, Ya Tuhanku. Hanya pada-Mu lah aku mengadu.
Setelah menyelesaikan shalat Tahajudnya, Latifah berdoa khusuk dan panjang sekali. Ia berharap agar rumah tangga yang telah dijalaninya lebih dari satu dasawarsa bersama sang suami, tak akan berakhir sampai disini. Tak lupa, sebuah doa khusus yang diajarkan Nabi Ibrahim dan diabadikan dalam  Al qur’an dia serukan.
”Rabbana hablana min azwajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yun.Waj’alna lil muttaqiina imaamaa.” (Ya Allah Ya Tuhan Kami, jadikanlah pasangan kami dan anak cucu kami, penyenang mata dan penyejuk jiwa kami. Dan jadikanlah mereka pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”
Setelah selesai dari shalat dan doanya, Latifah kembali ke peraduannya dan merebahkan dirinya disamping suaminya tercinta. Rupanya, Kang Nursalim juga sudah lama terbangun dan membuka mata. Barangkali, dia juga mendengar suara hati istrinya. Direngkuhnya Latifah dalam pelukannya. Diberikannya rasa damai dan tentram sehingga belahan jiwanya itu merasa tentram bersamanya.
Tiba-tiba Latifah juga merasa memiliki kekuatan untuk bisa mengungkapkan isi hatinya.
”Kang...”, seru Latifah.”Aku ingin bicara.”
”Ada apa, Sayang? Bilang saja.”
”Kang, kita sudah lama menikah. Lebih dari sepuluh tahun, Kang. Dan kita sampai sekarang belum punya anak.”
”Lalu?” tanya suamiya sambil menatapnya dalam-dalam.
”Kalau Kang Nursalim berharap keturunan. Dan aku tidak bisa memenuhi harapan itu, .. silakan Kakang cari perempuan lain. Namun aku punya satu permintaan juga.”
”Apa itu?” tanya suaminya yang masih berusaha menebak-nebak isi hati isterinya.
”Aku tak mau dimadu, Kang. Silakan Kakang kawin dengan perempuan lain itu. Namun lebih dulu ceraikan aku.....”.
”Sssstttt..... Kamu ngomong apa sih, Dik?”, sergah Nursalim sambil meletakkan telunjuknya ke bibir istrinya.
”Benar, Kang. Kalau aku mandul, aku bersedia berkorban untuk Kakang karena aku mencintaimu, Kang. Kurelakan Kakang menikah lagi. Namun, sekali lagi aku katakan biarkan aku pergi dari hidupmu, Kang. Karena aku tak sanggup diduakan, apalagi lebih dari itu.”
Nursalim bangun dari tidurnya dan mengambil posisi duduk di sisi dipan. Dibelainya rambut isterinya, lalu berkata, “ Dik, itu ujian Allah dalam perkawinan kita. Dalam perkawinan dibutuhkan kesetiaan. Senang dan susah dipikul bersama. Apalagi anak adalah amanah. Mungkin, kita masih perlu mempersiapkannya. Selain itu, Dik Latifah adalah amanah Allah buatku yang mesti aku jaga, Dik.”
Nursalim menghela nafas panjang. “Lagian, Belum tentu kamu yang mandul, Dik. Bisa jadi aku yang tidak subur. Kita perlu sama-sama ke dokter, Dik.”
Latifah menangis sesenggukan di bahu suaminya. Ia tidak menyangka bahwa kegelisahan hatinya, juga menjadi kegelisahan suaminya. Suaminya menambahkan. ”Dan nanti kalau ternyata oleh dokter justru aku yang divonis tidak bisa memberikan keturunan, apakah justru kau yang akan meninggalkanku, Dik? Kamu juga punya hak yang sama untuk memiliki keturunan. Dan tentu saja kalau hal itu terjadi, tak mungkin dari aku. ”
”Maafkan aku, Kang. Kalau aku justru menyakiti hatimu.” pinta Latifah.
”Iya, sama-sama. Lebih baik kita sama-sama berdoa. Dik Latifah masih ingat, kan cerita tentang Nabi Zakaria dan isterinya? Mereka berdua akhirnya mendapatkan keturunan yaitu Nabi Yahya justru ketika mulai menua. Allah tidak tidur, Dik. Kadang-kadang, justru doa kita dikabulkan ketika kita merasa hampir kehilangan harapan. Yuk, lebih baik kita teruskan tidur lagi barang satu jam. Awas, jangan sampai Shubuhnya kesiangan, lho. ”
Latifah dan Nursalim kembali ke peraduan. Kali ini, mereka terlelap dalam tidur yang tenang.

***

Keesokan harinya, Nursalim mengajak Latifah isterinya untuk memeriksakan kesehatan di Puskesmas. Mereka bertemu dengan dr. Andini yang  masih PTT di Puskesmas. Oleh dr. Andini,  mereka dirujuk untuk bertemu dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di RSUD Kabupaten. Mereka berkonsultasi hingga hampir satu jam lamanya dengan dr. Hanifah SpOG. yang  menangani keduanya.  Mereka lalu diminta untuk melakukan beberapa tes di laboratorium.   
”Kita belum bisa lihat hasilnya sekarang, ya. Minggu depan silakan anda kembali lagi. Hal semacam ini sering dihadapi oleh pasangan suami istri. Bukan semata karena si istri tidak subur, tetapi juga bisa karena kualitas sperma suami. Terkadang, ada pula reaksi dari tubuh istri yang menolak adanya benda asing atau zat tertentu dalam tubuhnya,” kata dr. Hanifah SpOG. menjelaskan.
”Terimakasih, dokter.”
”Selain itu ada alternatif lain yang dilakukan bila pembuahan di dalam rahim tidak dapat dilakukan. Bapak dan Ibu bisa ikut program bayi tabung. Nanti sel sperma dan sel telur akan dipertemukan di luar,” tambahnya. ”Yang penting kita sama-sama ikhtiar. Itu tugas kita sebagai manusia. Urusan hasilnya, kita serahkan saja pada Yang Maha Kuasa,” kata Bu Dokter sambil membetulkan letak kacamatanya.
”Baik, Bu Dokter. Terimakasih. Kami mohon pamit.”
Nursalim dan Latifah menuju ke  tempat parkir sepeda motornya. Nursalim berkata pada isterinya. ”Tuh, Dik, dengar apa kata Bu Dokter tadi. Masih banyak ikhtiar yang perlu kita lakukan. Lagi  pula, kalau memang kita ditakdirkan tidak memiliki keturunan; masih banyak anak-anak yatim maupun anak yang terlantar yang membutuhkan kehadiran orang tua. Dan kita bisa menjadi orang tua salah satu dari mereka.”
Latifah terdiam mendengar penjelasan suaminya. Dalam hati, ia bersyukur mendapatkan seorang suami sebaik Nursalim yang menjadi belahan jiwanya kini.
”Kang..” panggil Latifah pada suaminya.
”Ada apa, Dik?” tanya Nursalim.
”Aku jadi makin cinta sama Kang Nursalim....”
”Apa Dik? Kurang keras suaranya?” goda Nursalim sambil pura-pura membuka helmnya.
”Iiiihhh......,” Latifah mencubit keras lengan suaminya.
”Aduuuuuuuuuuh. Tolooong. Saya mengalami kekerasan dalam rumah tangga,” teriak suaminya.
”Kang, malu, ah dilihat orang. Yuk, pulang...,” kata Latifah.
Nursalim lalu menstater motornya. Latifah membonceng suaminya di belakang sambil memeluk pinggangnya erat-erat.  Sepanjang jalan keduanya tersenyum tersipu-sipu, saling membaca  pikiran satu sama lain. Tuhan, terimakasih atas semua anugerah ini. Bisik Latifah dalam hati.{}

Hari masih gelap ketika aku melipat mukena usai shalat shubuh. Jam dinding di kamar kosku masih menunjukkan pukul lima. Suara gemerincing air kran dari tempat wudlu maupun nada malas-malasan anak-anak kos yang lain terdengar juga terdengar jelas.  Pasti mereka sedang  antri kamar mandi dan air wudlu.
Mataku terasa berat. Pasti karena kelelahan setelah semalam memelototi layar laptop hingga jam dua pagi untuk menyelesaikan makalah Tafsir Ahkam yang harus aku bagikan pada seluruh teman kelas siang nanti sebagai bahan diskusi Senin depan. Jadwal kuliah hari ini jam sepuluh pagi. Masih ada waktu untuk kembali tidur sejenak serta mampir ke rental untuk nge-print dan meng-copy makalahku sebelum nanti  berangkat ke kampus.
Belum lagi aku berhasil menenggelamkan diri ke alam bawah sadar, tiba-tiba aku dengar suara berisik dari luar. Tak lama kemudian ada suara ketukan pelan di pintu kamarku. Ketika aku buka, kulihat Ema dan Ratna berdiri dengan wajah sedikit gugup.
"Maaf Kak, ganggu. Itu Kak, di kamar mandi..." kata Ema lirih sambil menunjuk ke arah kiri, diikuti anggukan Ratna.
"Ada apa di kamar mandi?" tanyaku penasaran. Aku berpikir ada anak yang terpeleset di kamar mandi, tapi aku tidak mau menebak. Biar mereka saja yang menjelaskan.
"Ada darah hitam kayak hati," kata Ratna.
"Darah hitam? Hati?"
Pikiranku sudah 'ngeres' saja bahwa telah terjadi pembunuhan di kosan ini, atau mungkin pembunuhannya dilakukan di luar sana, lalu badan korban dibedah dan hatinya dibuang di kamar mandi kosan ini. Waduh, sudah tidak aman kosan ini.
"Nggak tahu, Kak. Sepertinya bukan hati, tapi darah yang menggumpal. Besarnya seukuran hati ayam, tapi bentuknya nggak gitu," jelas Ratna.
Aku makin penasaran, lalu langsung menuju ke arah kamar mandi. Aku ingin melihat sendiri apa yang mereka ceritakan. Ema dan Ratna mengikutiku dari belakang dan menunjukkan di kamar mandi mana darah hitam itu berada. Tapi ketika aku sampai di kamar mandi yang dimaksud, darah itu sudah tidak ada.
"Udah Tika siram, Kak. Abisnya Tika jijik, terus udah kebelet pipis lagi," kata Tika yang baru keluar dari kamar mandi yang ditunjuk Ema dan Ratna.
"Gimana sih kok disiram? Kan kita mau tunjukin ke Kak Salma dulu," kata Ema jengkel.
"Sudah, nggak pa pa. Insyaallah Kakak faham kok, yang kalian ceritakan tadi," kataku melerai.
Aku kembali ke kamar dan memutar otak. Sepertinya ada salah satu warga kos ini yang baru saja mengalami keguguran. Tapi siapa yang hamil? Rata-rata anak kos ini masih S1 semester satu dan tiga. Mereka juga anak-anak yang baik dan taat beribadah, jadi rasanya tidak mungkin ada yang hamil di luar nikah. Ada beberapa sih yang S2, tapi rata-rata juga belum menikah, termasuk aku. Atau... Farah?
Farah adalah adik tingkatku, tapi usianya beberapa tahun di atasku. Posturnya yang mungil dengan warna kulit yang putih bersih membuatnya tampak lebih muda dibanding usianya. Ditambah lagi sikapnya yang sering kekanak-kanakan dan manja pada orang-orang tertentu, termasuk aku. Karena itu dia tidak mau aku panggil 'mbak' atau 'kak'. Sudah tujuh tahun dia menikah, tapi belum juga dikaruniai keturunan.
Tapi mana mungkin Farah hamil? Kemarin saja waktu aku ajak shalat berjama'ah tidak mau karena katanya dia lagi 'dapet'.
Lalu siapa dong? Mbak Risma? Mahasiswi S3 itu kan sudah menikah dan punya dua anak di Gorontalo sana. Tapi ya masa dia seceroboh itu sih? Lagian, kan dia sekarang lagi mengadakan penelitian di Bandung, jadi mana mungkin dia orangnya? Aah...aku bingung. Lebih baik aku mengamati keadaan secara diam-diam saja. Pelan-pelan, nanti akan terjawab juga teka-teki ini.

********

Waktu sudah menunjukkan beberapa menit sebelum adzan ashar ketika aku sampai di kamar kosku. Karena masih kelelahan akibat kurang tidur semalam,  dengan keadaan masih mengantuk aku paksakan diri untuk menuju kamar mandi.  Saat melewati kamar Farah yang berada tepat di samping kamarku,  kudengar suara isak tangis menerobos celah pintu yang tidak tertutup rapat. Meski penasaran, aku merasa tidak berhak untuk mencari tahu. Barangkali itu urusan pribadi.
”Salma, tolong ke kamarku dong...”
Farah memintaku lewat sms. Maka ketika 'ritual' Asharku selesai, aku segera menuju kamarnya.
Bau amis tercium kuat ketika aku memasuki kamar berukuran 2,5x3 meter yang dihuni Farah dan Sita ini. Ini pasti bau darah menstruasi Farah. Huh, dasar Farah. Mentang-mentang teman sekamarnya sedang pulang kampung, dia jadi santai saja dengan kejorokannya.
"Salma..."
Farah memelukku erat begitu aku sampai di dekatnya. Tangisnya tumpah ruah di pundakku, membuatku iba sekaligus bingung.
"Ada apa, Farah?" tanyaku ketika tangisnya sudah mulai reda.
"Aku keguguran," jawab Farah sambil melepaskan pelukannya.
Deg!!! Jadi Farah yang keguguran? Aku bahkan tidak tahu kalau dia sedang hamil. Ya, akhir-akhir ini aku memang jarang berinteraksi dengan teman-teman kos, termasuk Farah. Ketenggelamanku di perpustakaan berbagai kampus maupun perpustakaan umum untuk mencari bahan-bahan thesis telah membentangkan jarak antara aku dan teman-teman kosku, bahkan dengan kamar kesayanganku.
Kasihan sekali Farah. Sudah lima tahun dia dan suaminya mendambakan hadirnya momongan, namun ketika Allah memberikannya, diambil-Nya kembali sebelum sempat lahir ke dunia. Aku ingin menguatkannya, tapi aku tidak akan mengucapkan kata 'sabar' untuknya. Aku tahu kata itu terdengar klise saat kondisi seperti ini. Lebih baik aku berempati dengan cara yang lain.
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Kapan kejadiannya?"
"Pendarahannya sih sudah sejak beberapa hari yang lalu. Awalnya cuma bercak-bercak darah, lalu lama-lama darahnya keluar banyak. Tadi malam pendarahannya hebat, lalu tadi pagi keluar gumpalan. Yang diributkan anak-anak di kamar mandi tadi pagi itu darahku. Maaf..."
"Nggak pa pa, Farah. Terus, sudah periksa ke dokter?"
Farah menggeleng.
"Aku ada kenalan bidan dekat sini, bidan Dwiyani namanya. Dia teman kakakku waktu kuliah. Insyaallah nanti aku antar ke sana ya? Nanti kalau perlu pemeriksaan lebih lanjut kan bidan Dwiyani merujuk ke dokter"
Farah diam. Direbahkannya tubuh lemasnya di atas kasur.
"Orang keguguran itu harus diperiksa. Bagaimanapun, ada luka di dalam rahim Farah. Selain itu, pemeriksaan itu berguna untuk melihat apakah janin Farah masih ada di sana atau tidak. Kalau masih ada dan masih hidup, kan jadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya," kataku meyakinkan.
Farah masih diam. Sesaat kemudian tangisnya pecah lagi. Aku berusaha menenangkannya dengan mengelus pundaknya yang terguncang.
"Kenapa? O, ya, suami Farah sudah tahu tentang hal ini?" tanyaku.
"Sudah. Mas Jamal marah besar ketika aku ceritakan hal ini. Katanya aku tidak bisa menjaga diri. Bahkan dia sempat mengucapkan kata kasar. Dia bilang aku bodoh."
Astaghfirullaahal 'adhiim. Tega-teganya laki-laki yang bernama Jamal ini. Bukannya berempati istrinya mendapat musibah, malah marah dan berkata kasar. Itu kan membuat penderitaan Farah semakin bertambah. Memangnya dia tidak mengerti kalau Farah pun merasakan kesedihan yang sama? Bahkan mungkin Farah lebih terpukul. Lagi pula, dia mengatakan Farah bodoh? Yang benar saja!!! Farah selalu juara kelas sejak SD, dan kini dia kuliah S2 dengan beasiswa. Katanya dia itu laki-laki pintar agama, lulusan pesantren. Kok dia tidak tahu bagaimana memperlakukan istri sesuai ajaran Islam sih? Kan Alqur'an sudah berpesan "wa 'aasyiruuhunna bil ma'ruuf" (dan pergaulilah mereka/istri-istrimu dengan baik). Huh, aku jadi ingin marah saja. Tapi semoga saja kemarahan suami Farah itu hanya emosi sesaat karena syok kehilangan anak yang telah lama diidamkannya. Setelah dia melihat istrinya nanti, semoga emosinya akan hilang. Itulah harapanku.
"Kapan dia datang ke sini?"
"Hari ini dia harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor, lalu nanti malam insyaallah berangkat dari Semarang agar besok pagi bisa sampe sini. Tapi Salma, aku takut.  Aku tahu bagaimana dia kalau sudah marah,"
Melihat ekspresi Farah, aku bisa membayangkan bahwa suaminya adalah orang yang berkepala batu dan maunya menang sendiri. Huh, aku jadi geram. Duh Farah, kenapa hidupmu tak sebahagia namamu?
"Nggak pa pa, insyaallah nanti aku bantu ngasih penjelasan ke dia. Sekarang kita ke bidan ya? Farah siap-siap, aku juga mau ganti baju dulu,"
Farah mengangguk.

****************

Benar dugaanku, setelah bidan Dwiyani memeriksa Farah, beliau merujuk Farah ke rumah sakit untuk diperiksa dokter kandungan. Rumah sakit "Ananda" ini cukup besar dan ramai. Tapi, entah karena kondisi Farah tampak kritis atau karena Farah adalah rujukan bidan Dwiyani, dokter Sinta yang belakangan aku ketahui sebagai saudara sepupu bidan Dwiyani itu mendahulukan Farah untuk diperiksa. Dari layar USG  yang diposisikan agak tinggi aku bisa melihat keadaan rahim Sarah.
"Janinnya masih ada di dalam, tapi tidak ada kromosomnya," jelas dokter Sinta. Menurut dokter, secara medis kejadian itu disebut  Blighted Ovum (BO) alias kehamilan kosong.
"Lalu bagaimana selanjutnya, Dok?"  tanyaku sambil meminta saran.
”Janin itu harus dikeluarkan. Karena kalau dipertahankan pun percuma, dia tidak akan menjadi manusia."
"Kuret?"
"Ya"
"Ada cara lain selain kuret, dok?"
"Bisa sih dirangsang dengan obat agar keluar sendiri. Nanti kita lihat hasilnya. Kalau berhasil ya alhamdulillah. Kalau tidak, ya kita lakukan operasi kuretase."
"Berapa persen potensi keberhasilannya kalau dengan obat?"
"Sekitar dua puluh lima persen."
Dua puluh lima persen? Wah, kecil sekali. Padahal Farah kan harus segera sembuh agar dapat mengikuti ujian akhir semester dua minggu lagi.
"Gimana, dicoba pakai obat apa langsung operasi aja?" tanya dokter Sinta setelah melihatku agak lama terdiam.
Aku memberikan isyarat kepada Farah yang terbaring lemah di kasur pemeriksaan untuk meminta pendapatnya. Dengan lemah Farah menggeleng, tidak punya jawaban. Mungkin dia pasrah, atau mungkin tidak terlalu paham dengan apa yang aku bicarakan dengan dokter Sinta, karena back groundnya sejak kecil adalah pendidikan agama dan dia kurang tertarik dengan ilmu pengetahuan umum.
"Maaf Dok, suaminya sedang di luar kota, mungkin besok baru datang. Jadi, bagaimana kalau keputusannya ditunda dulu, biar kami berunding dulu dengan suaminya?"
"Baiklah. Tapi sebaiknya jangan lama-lama, segera ambil keputusan ya. Kasihan pasien."
"Ya, dok"
Aku tahu posisiku yang hanya teman bagi Farah. Tapi sejak mendaftar di klinik bidan Dwiyani tadi aku mengaku sebagai kakak Farah. Ini hanya untuk memudahkan urusan, biar terlihat pantas bahwa Farah datang ditemani kakaknya, ketika tidak ada suaminya. Aku lihat Farah pun nyaman-nyaman saja dengan pengakuanku itu. Dan saat ini akulah yang bertanggung jawab atas dirinya. Aku harus mengambil keputusan terbaik buat Farah. Maka, malam ini aku putuskan untuk membawa Farah kembali dan menginap di klinik bidan Dwiyani, karena suasananya lebih tenang. Kuambil tindakan ini untuk memulihkan kesehatan Farah dan mengembalikan kondisi bahannya yang membutuhkan asupan nutrisi yang bisa dia dapatkan melalui cairan infus. Aku hanya berharap agar suami Farah tidak menyalahkan tindakanku ini.

***********************

"Kan sudah dipesenin jangan terlalu cape. Hati-hati, jaga kesehatan kandungan. Sudah lama kita ingin punya anak. Sekarang setelah Allah memberikannya, malah disia-siakan begitu saja. Percuma dong siang malam berdoa dan berusaha ke sana ke mari. Makanya, keluar sajalah dari kuliah, biar nggak kecapean. Perempuan saja kok kuliah tinggi-tinggi. S1 itu sudah lebih dari cukup. Di dapur kan ilmu itu nggak kepake juga. Awas ya, kalo nanti jadi nggak hormat sama suami!!" kata suami Farah dengan nada jengkel dan marah bercampur jadi satu, begitu sampai di klinik.
Aku heran, kok ada ya suami macam dia. Jelas-jelas dia melihat istrinya sakit dan kondisinya lemah dengan jarum infus tertancap di tangannya. Ini bukannya menghibur dan memberi dukungan moril, tapi malah menyalahkan, pakai mengancam segala.
"Maaf, Mas. Saya nggak sengaja," kata Farah dengan nada bersalah.
"Mudah sekali bilang maaf. Memangnya dengan kata maaf bayi kita bisa hidup lagi?" nada suami Farah masih tinggi.
Duh Gusti… Manusia macam apa di depanku ini? Apakah dia sudah kehilangan hati nurani? Benar kata Farah, suaminya sangat keras dan emosional. Jarak Semarang-Jakarta tidak cukup memberinya kesempatan untuk berpikir positif dan menanam empati. Karena itu, aku menambahkan satu karakter padanya, yaitu egois.
Hhh… seperti inilah yang membuat aku takut berumah tangga. Aku takut salah pilih. Kalau orang sudah masuk ke gerbang pernikahan, pasti tidak bisa kembali lagi. Kalau kembali lagi, status jadi berubah. Janda. Dalam budaya yang masih sangat patriarkhis ini, predikat janda membuat seorang perempuan dianggap rendah.  Sementara duda tidak perlu dipusingkan dengan penilaian masyarakat akan predikat itu. Ah, betapa tidak adilnya budaya ini.
Tapi kalau sampai aku bernasib seperti Farah, bertahan dalam 'ketertidasan' yang dilakukan suami sendiri, pasti aku tidak akan kuat. Namanya orang menikah pasti mendambakan keluarga yang sakinah, penuh cinta dan kasih sayang. Dan itu hanya akan terwujud jika dalam keluarga itu tidak ada 'penindasan' oleh yang satu atas yang lain. Masing-masing anggota keluarga saling mengerti, memahami dan menyadari posisi, hak dan tanggung jawab masing-masing. Semua saling menghargai. Begitulah setahuku, kehidupan rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah.
"Maaf, boleh saya ikut bicara?" tanyaku pada suami Farah setelah emosinya terlihat reda. Mungkin itu karena berpuluh kata maaf yang diucapkan Farah.
"Saya tahu kondisi Farah yang sebenarnya. Kehamilannya bisa dikatakan tidak normal, Blighted Ovum atau kehamilan kosong. Janin yang tumbuh tidak memiliki kromosom, hanya terdiri atas placenta dan air ketuban, jadi tidak akan menjadi manusia. Kalaupun Farah tidak mengalami keguguran, janin itu tetap tidak dapat dipertahankan. Ini bukan salah Farah atau siapa-siapa, jadi kita semua harus memaklumi," kataku berhati-hati.
"Dari mana Mbak tahu?" tanya suami Farah dengan nada tidak suka. Mungkin di matanya aku terlihat sebagai orang bodoh yang sok pintar.
"Dokter yang memeriksa Farah yang mengatakannya. Kalau Mas tidak percaya, atau ingin tahu lebih jelas, nanti Mas bisa menanyakannya langsung ke dokter itu. Saya sendiri juga tahu sedikit tentang hal seperti ini. Kakak saya seorang bidan dan saya cukup interest terhadap masalah reproduksi perempuan. Jadi saya banyak belajar, baik dari kakak saya maupun dari buku."
Raut muka suami Farah tampak berubah setelah mendengar penjelasanku. Mungkin aku sudah kelihatan sedikit pintar di matanya, sehingga dia tidak berani bersikap semena-mena terhadapku (ehm). Hmm... Inilah saatnya aku berunding dengannya tentang langkah yang akan diambil selanjutnya, apakah Farah menjalani operasi kuretase, atau mencoba obat dulu. Aku memberikan beberapa keterangan untuk dijadikannya bahan pertimbangan. Ternyata suami Farah memilih untuk langsung operasi kuret saja, toh itu bukan operasi besar.
Sejak saat itu hingga operasi selesai, kulihat sikap suami Farah berangsur membaik. Dia tidak lagi kasar terhadap Farah, bahkan terlihat sayang. Aku tidak tahu apakah sikapnya itu tulus atau sekedar sandiwara di depanku dan segenap penghuni rumah sakit ini. Aku berharap bukan hanya kali ini dia bersikap sebaik itu, tapi di seluruh kehidupan pernikahan mereka selanjutnya nanti. Namun begitu, dari sorot mata dan sikap 'rikuh' Farah, aku masih belum melihat keindahan dalam keluarga yang dibentuk perempuan cantik nan pintar ini. Ironisnya, hal ini menambah daftar potret buram bahtera rumah tangga yang membuatku semakin sulit mengatasi ketakutanku untuk  memasukinya. Ah, apa yang terjadi pada diriku??[]

Cerpen Edisi 34 : Tegar

06 May 2011 Written by

Rumah tanggaku tergolong rumah tangga yang sangat harmonis.  Saling pengertian dan saling mendukung satu sama lain sudah terjalin sejak kami menikah. “ Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan.” Itu adalah prinsip yang sering membuatku semangat ketika menghadapi suatu masalah.

Namun rumah tangga yang selama ini harmonis terusik. Entah datangnya dari mana, apa yang menyebabkan semua ini terjadi, aku sendiri tidak tahu jawabannya sampai sekarang. Allah memberikan satu lagi amanah pada kami. Anak kedua kami sebentar lagi akan lahir ke dunia. Tinggal menghitung hari saja.

Akhirnya hari yang di tunggupun datang, hari dimana anak ke dua kami lahir. “ Bayi laki-laki yang ganteng seperti bapaknya, “kata dokter yang menolong  persalinanku.

“Allahu akbar, allahu akbar. Allahu akbar, allahu akbar…………..” Kudengar suamiku mengadzani putra kami..



*****

Hari-hari kami lalui bersama seperti biasanya. Meskipun banyak sekali perubahan yang terjadi dalam kehidupan kami setelah kelahiran anak kami yang ke dua. Beban hidup jelas bertambah, pekerjaan rumah juga sangat banyak.

Dengan kondisi yang seperti ini, akhirnya aku mengurangi jam mengajarku menjadi lebih sedikit. Semua kulakukan demi anak-anak, agar aku lebih maksimal mendampingi perkembangan mereka.

Entah datang dari mana semua tragedi ini terjadi, peristiwa yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Suamiku berubah sejak anak kami yang kedua berumur lima bulan. Aku tak tahu, entah apa yang membuatnya berubah. Ketika di rumah ia sering disibukkan dengan telpon maupun SMS. Saat ber-SMS pun ia sering sembunyi-sembunyi. Semuanya di luar kebiasaan. Dan istilah “sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan bangkai; pasti akan tercium juga baunya” mungkin menjadi istilah yang pas untuk menggambarkan hal ini.

Pada  suatu hari saat menjelang sholat Isya. Tiba-tiba terdengar suara dari HP suamiku berbunyi.

“Ning.. nong………..”  aku sangat hafal bunyi SMS masuk di HP suamiku.

Tidak biasanya aku membuka SMS milik suamiku, tapi saat itu keinginan untuk membuka SMS itu begitu kuat. Tiba-tiba saja tanganku telah memencet tombol kotak masuk. Dan di situ tertulis pesan  : ” Aku baik-baik saja sayang. Sakitnya juga sudah mulai berkurang……….”

Dag dig dug,  jantungku berdetak kencang. Aku menahan perasaan dan berusaha agar sebisa mungkin tidak meneteskan airmata. “Siapa yang SMS ?” gumamku lirih.

“Mas, ada SMS, nih. ” Aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak memancing emosi Mas Ari.

“Dari siapa, Mas?” aku masih mencoba untuk tenang.

“Bukan dari siapa-siapa……….” Mas Ari kelihatan gugup.

“Aku sudah membacanya tadi, kelihatannya dari seorang perempuan. ” Aku beranikan diri untuk bertanya meskipun dengan hati-hati namun mulai tidak bisa mengontrol emosi.“

“Katakan terus terang, Mas...siapa yang  mengirim SMS tadi. Tidak mungkin cuma teman. Masa ada teman SMS ngomong sayang ?” Aku mulai tak terkontrol dan airmata juga mulai mengalir deras di pipiku.

“Braak....” Tiba-tiba mas Ari membanting kursi. Sesuatu yang sama sekali di luar kebiasaannya selama ini.

Bergegas aku masuk kamar menemui anak-anak, aku tidak ingin anak-anak terganggu karena keributan kami terutama anak sulung kami Fardan. Anak seumur Fardan pasti sudah bisa menangkap perkataan orangtuanya. Makanya aku urungkan untuk menyelesaikan masalah ini malam ini, mungkin besok saat Fardan sekolah.

Malam berjalan lamban sekali rasanya Aku juga tidak bisa memejamkan mata  Terbayang saat mas Ari membanting kursi, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya Aku juga tidak melihat dia masuk kamar dan sepertinya dia lebih memilih tidur di kamar sebelah.

*****

Dua hari berlalu dan aku belum mendapatkan jawaban dari peristiwa malam itu. Mas Ari juga mulai menampakkan perubahannya. Biasanya setiap pagi ia makan sarapan masakanku;  tetapi tidak dua hari ini. Mas Ari tidak sarapan di rumah. Bahkan sampai pada hari-hari berikutnya. Aku tidak begitu menghiraukan karena aku juga disibukkan dengan urusan anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Oleh karena di rumah tidak ada pembantu, aku harus bangun sebelum subuh agar semua pekerjaan selesai saat aku pergi bekerja. Farhan anak kedua kami juga harus ikut aku bekerja karena tidak ada yang jaga dia di rumah. Untuk membahas masalah SMS siapa waktu itu juga tidak ada waktu, karena aku juga tidak mau bertengkar di depan anak-anak.

“Mas, aku percaya padamu. Aku tahu kamu tidak mungkin mengkhianati pernikahan kita.” Aku membuka pembicaraan pada suatu sore.

“ Kalau iya, apakah kamu akan minta cerai dariku? ” jawab mas Ari.

“ Maksudmu?” mataku terbelalak tak percaya.

Kulihat Mas Ari masuk kamar dan merebahkan badannya di atas kasur. Aku mendekatinya, aku masih belum mengerti apa maksud dari semua perkataannya tadi.

“Apakah benar Mas telah mengkhianatiku?” tanyaku dengan suara sedikit meninggi.

“Maafkan aku, aku talah mengkhianatimu, Nis.” Jawab Mas Ari dengan gugup……..

“Entah kenapa dan kenapa semua ini terjadi, aku tidak tahu. Semua terjadi begitu saja. Aku salah Nis karena telah mengkhianati pernikahan ini. Tapi sungguh semua ini aku lakukan dengan terpaksa.” Mas Ari melanjutkan kata-katanya……….

“Lalu ….” Airmataku berlinang, aku tidak kuasa mendengar semua ini. Nafas seolah berhenti. Sesaat ku pandangi anak-anak. “ bagaimana nasib mereka, bisikku lirih.”

Mas Ari memelukku erat dan ku dengar dia juga menangis.

“Kami telah menikah, Nis.Kami saling menyayangi dan dia sedang mengandung anakku sekarang.”

Spontan ku lepas pelukan mas Ari. Airmataku mengalir semakin deras. Tidak ada yang bisa aku ucapkan kecuali menagis. Perasaan kecewa, marah, benci dan entah apa lagi semua bercampur jadi satu. Hancur  sudah semua harapanku, rumah tanggaku.

Hari-hari berlalu aku lalui tanpa mas Ari, sejak semua terungkap dia pergi dari rumah. Entah kemana aku juga tidak tahu karena Mas Ari juga tidak memberitahuku. Saat Fardan anak sulung kami menanyakan ayahnya, aku jawab kalau ayahnya sedang keluar kota.

Sepuluh hari berlalu, aku tidak mungkin membiarkan masalah ini berlarut-larut. Semua harus diselesaikan. Akhirnya kuberanikan untuk menghubungi mas Ari.

“Tuuuuuut, tuuuut, tuuuuut……” telpon tersambung.

“Assalamu’alaikum…………………”  terdengar suara dari kejauhan.

“Suara perempuan, siapa dia? Apakah dia perempuan yang saat ini menjadi istri Mas Ari?” batinku…………

“Wa’alaikum salam…….” Jawabku dengan nada gemetar dan linangan airmata…….

“Apakah saya bisa bicara dengan Mas Ari?” lanjutku memberanikan diri untuk menanyakan mas Ari. “Kenapa aku harus takut? Aku adalah istri sah Mas Ari. Hampir sepuluh tahun kami berumah tangga.” Batinku “Dari siapa, Mas Arinya masih mandi” jawab perempuan itu.

“Istrinya……”nada suaraku meninggi dan mulai emosi. Ingin aku melabrak perempuan itu, namun ku urungkan.

“Sampaikan padanya, aku tunggu malam ini di rumah!” aku langsung menutup telpon tanpa salam.

Ku rebahkan badanku di sofa, Farhan baru tidur sekitar satu jam yang lalu. Fardan sebentar lagi pulang sekolah. Sesaat terbayang saat kami membagi tugas rumah dan mengurus anak-anak. Biasanya Mas Ari yang menjemput Fardan. Tapi sudah sepuluh hari aku yang jemput Fardan.

Idza isytaddat bika al-balwa

Fafakkir fi alam nasyrah

Fa’usrun baina yusraini

Idza fakkartahu tafrah

Syair inilah yang sering kunyanyikan saat hati sedang sedih, syair yang ku dapat dari suatu pelatihan. Aku tersentak mendengar suara Farhan menangis dan tiba waktunya menjemput Fardan, batinku. Bersama anak-anak membuat aku lupa dengan masalah yang ada. Anak-anak adalah belahan jiwaku, mereka adalah nafasku, merekalah yang senantiasa membuatku lebih semangat dalam menjalani hidup.

“Apakah malam ini Mas Ari akan pulang?”  Tanyaku dalam hati. Apakah pesanku disampaikan, entahlah. Gumamku lirih.

Aku merebahkan badan di samping anak-anak yang tertidur pulas………..

“ Tok, tok, tok….” Terdengar suara pintu rumah diketok orang…………….

“Apakah itu Mas Ari?” Aku bergumam sambil berjalan menuju arah pintu.

“Assalamu’alaikum, Nis…..”suara mas Ari mengagetkanku.

“Wa’alaikumsalam…..” jawabku sedikit gugup.

“Bagaimana kabar kamu dan anak-anak, Nis………..” Mas Ari memecah keheningan.

“Semua baik-baik saja tidak ada yang berubah. Hanya keberadaanmu yang tidak ada di rumah ini.” Jawabku datar.

Kulihat mas Ari membuka pintu kamar dan memandangi anak-anak lalu duduk di sofa. Aku masih terpaku memandang dan memperhatikan apa yang dilakukan mas Ari. Apa kira-kira yang akan disampaikan Mas Ari? Sudah tidak ada kabar baik lagi, semua menjadi kabar buruk setelah peristiwa itu.

“Nis, apa kau masih mau menerimaku kembali?” Mas Ari memulai pembicaraan. “ Maafkan aku jika selama ini tidak pernah menemuimu ataupun menelponmu. Bukan karena aku ingin melupakanmu dan anak-anak, tapi semua kulakukan karena aku ingin menenangkan diri. Aku telah bersalah padamu dan anak-anak. Aku minta maaf padamu dan anak-anak. Adakah pintu maaf buatku?” lanjut mas Ari.

“ Sesungguhnya apa yang Mas Ari lakukan tidak bisa aku maafkan. Semua begitu menyakitkan dan sampai saat ini hatiku masih sakit karena kau khianati.” Aku menjawab dengan nada gemetar. “ Hanya satu yang ingin ku tanyakan padamu mas, apakah kau bisa mengambil keputusan yang pasti terhadap aku dan anak-anak? Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini? Apakah kau akan tetap hidup bersama kami atau kau akan memilih hidup bersama perempuan itu? Kau tinggal memilih Mas, tetap hidup bersama kami dan kita mulai hidup baru, aku akan berusaha melupakan apa yang sudah kau lakukan atau kau akan lebih memilih perempuan itu tapi kau akan kehilangan aku dan anak-anak.” Lanjutku sambil menenangkan hati yang bergejolak.

“ Nis, pilihanmu sungguh sangat menyulitkan aku. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan anak-anak. Dan untuk saat ini aku juga tidak bisa meninggalkan mereka.” Nis, aku mohon padamu jangan kau paksa aku untuk memberi keputusan itu sekarang. Aku akan membuat keputusan terhadap rumah tangga kita, tapi tidak sekarang. Tolong pahami posisiku, jangan kau buat aku memilih sesuatu yang berat untuk kuambil.” Mas Ari menjawab dengan linangan air mata. Belum pernah ku lihat dia menangis seperti itu.

“Bagaimana dengan posisiku? Aku juga butuh kejelasan dan kepastian darinya” jeritku dalam hati.

“Baiklah mas kalau kau masih belum bisa membuat keputusan untuk permasalahan ini, aku juga tidak akan menuntut banyak padamu. Aku hanya ingin kau ada saat anak-anak membutuhkanmu. Kau ada saat mereka bangun di waktu pagi hari dan kau juga ada pada saat menjelang mereka tidur.” Jawabku dengan sedikit bangkit dari tempat duduk.

“Sama halnya dengan yang kau sampaikan tadi. Aku juga tidak bisa memberikan kepastian apa pun padamu. Pada saatnya nanti kau akan tahu apakah cinta itu masih ada atau tidak” lanjutku.

“Apakah kau akan melupakanku, Nis?” tanya Mas Ari.

“Entahlah Mas, aku tidak tahu” jawabku singkat

“Kau sendiri tidak bisa memberikan keputusan yang pasti untuk masa depan rumah tangga kita, bagaimana aku yakin akan tetap menyayangimu suatu saat nanti?” Gumamku dalam hati.

“Kalau sudah tidak ada yang akan kau sampaikan lagi, silahkan pergi dari rumah ini karena aku juga harus istirahat besok berangkat pagi.” Nada suaraku sedikit mengusir dan aku bangkit dari tempat duduk yang sudah mulai panas.

“Malam ini aku akan bermalam disini, kau tidak keberatan kan?” Tanya mas Ari.

“Heeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhh,”  aku mendesah sambil mengernyitkan kening. ” Terserah” jawabku.  ”Tapi kau tidur di kamar sebelah”,  lanjutku dengan nada merintah.

“ Terima kasih, Nis” jawab Mas Ari.

Sejak malam itu, semua kehidupanku berubah. Sakit memang hati ini tidak bisa menikmati kebersamaan lagi, tapi inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Yang terpenting adalah anak-anak tidak pernah berpisah dari bapaknya. Minimal untuk saat ini, entah sampai kapan aku juga tidak tahu.

Dua bulan berlalu dengan begitu cepat, aku terus memutar otak berfikir keras agar aku bisa mandiri berdiri tegak tanpa tergantung pada siapapun, tidak pada Mas Ari ataupun yang lainnya. “Aku tidak ingin terpuruk gara-gara masalah ini.” Batinku.

*****

Gajiku yang hanya seratus lima puluh ribu rupiah tiap bulan tidak mungkin cukup untuk menghidupi kami bertiga. Ya meskipun aku juga sering dapat honor tambahan dari mengisi seminar dan pelatihan-pelatihan serta dari honor asisten dosen. Tapi semua itu tidak cukup. Mungkin sebelum masalah yang terjadi pada rumah tanggaku semua kebutuhan bisa diatasi, tidak saat ini. Anak-anak juga butuh vitamin dan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang mereka yang memang masih dalam masa pertumbuhan.

Setelah beberapa hari merenung dan berfikir keras akhirnya aku dapat ide, “Berjualan batik dan aneka makanan khas Madura”.  “Ya, dengan tabungan yang ada aku bisa memulai bisnis ini” gumamku lirih.

Hari berganti hari berlalu dengan cepat, jadwalku pun makin padat. Tidak ada waktu untuk santai. Saat ada waktu longgar di sekolah pun aku gunakan untuk order setrika, aku menyetrika baju teman-teman yang memang tidak punya pembantu.

“ Jatah dari suami kurang ya, Bu.Kok sampai kerja sambilan gitu?” tanya salah seorang temanku pada suatu saat.

“ He-eh” jawabku singkat tanpa memperhatikan ekspresinya. “Yang penting halal” lanjutku sambil berlalu.

“Besok saya ada acara bu Nisa, anak saya yang sulung akan menikah. Apakah saya bisa pesen krupuk, petis dan rengginang serta beberapa macam bahan kue?” tanya bu Endang sore itu melalui telpon.

“Oh sangat bisa sekali, Bu. Kapan diperlukan dan berapa banyak?”, jawabku dengan perasaan senang.

“50 pak rengginang dan krupuk, 5 kg petis dan 10 adonan untuk kue, semua dikirim tiga hari lagi, bisa?”

“ Insyaallah  bisa, Bu……………”

“Makasih, Bu Anis. Assalamu’alaikum…”

“Sama-sama, Bu. Wa’alaikumsalam ...”

Alhamdulillah aku sudah mulai bisa mandiri dan menatap masa depan dengan pasti, bersama anak-anak tanpa tergantung pada siapapun terutama suamiku!

Dan hari-hariku selalu aku isi dengan senyuman semangat untukku dan anak-anak. “Ayo Fardan, berangkat sekolah nanti terlambat. Jangan sampai ada yang tertinggal dan jangan lupa berdo’a sebelum kita berangkat.” Aku memberi semangat pada anak sulungku, kulihat Farhan tersenyum dalam gendonganku.

Satu titik air mata menetes di kedua pipiku, ku usap segera. “Semangat, Nis. Jangan kau biarkan air matamu mematahkan semangatmu! Pekikku dalam hati.”

”Tit,  tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.........”, kubunyikan klakson sepeda motorku, aku harus lebih semangat lagi dalam menjalani hidup ini. Meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi esok! Semua menjadi rahasia Tuhan! Aku hanya bisa pasrah pada-Nya.

Terima kasih Tuhan………………..terima kasih sahabat atas semua do’a dan dukungan kalian.[]







“Nak, cepatlah kamu pulang. Abah sudah punya mahram yang cocok untukmu.”
Aulia menutup telpon genggamnya. Entah apa yang dipikirkannya. Diambilnya bantal yang berada di tempat tidurnya itu. Sembari sesenggukan, ia menutup mukanya. Tak berapa lama, datanglah teman sekamarnya, Hilya, yang datang dari kampus.
“Kamu kenapa, Neng?” tanya Hilya yang mendapati temannya itu sesenggukan. Serta merta, Aulia pun mengusap lelehan air mata yang sedari tadi mengalir dari kelopak matanya.
“Enggak apa-apa, kok,” jawab Aulia sambil mengusap matanya yang masih nampak merah,”hanya tadi ada berita dari Ummi,” tuturnya pilu.
Hilya yang memang sudah tahu tabiat sahabatnya itu langsung mendekati. Didekapnya gadis yang selama empat tahun ini menemaninya menimba ilmu di salah satu universitas Islam tertua di ibu kota itu. Namun belaian Hilya justru malah membuat Aulia kembali sesenggukan. Tak kuasa  menahan haru, tangis. Laiknya anak kecil yang dipeluk oleh ibunya sendiri.
“Ceritalah, Kawan. Tidakkah kau percaya lagi padaku? Kita sudah bersama bertahun-tahun di sini. Dan aku tahu betul, bahwa saat ini kau sedang sedih.”

Lalu Aulia pun menceritakan ihwal telpon yang diterimanya dari Abah; seorang pimpinan pesantren yang hanya mempunyai dirinya sebagai pewaris tunggal. Dan saat ini diwartakan bahwa Abah yang sangat dicintainya itu sedang sakit serta memintanya untuk balik ke pesantren. Entah apa yang nanti akan dibicarakan. Tapi, ia sangat yakin  bahwa ia akan ditunangkan dengan salah seorang murid abahnya; ustad Ahmad Nafik, yang juga pernah kuliah di Al-Azhar Kairo.
“Jadi, kamu akan tetap pulang?”
“Iya,” sembari menatap mata sahabatnya itu,”Paling tidak, aku akan mengabdi di pesantren Abah.”

***

Kembali ke pesantren dan memimpin santriwati belajar ilmu agama. Begitulah yang dipikirkan oleh Aulia saat berada di Bus menuju rumahnya di bilangan Jawa Tengah. Setelah hampir 6 jam perjalanan ditempuh, maka sampailah ia di sebuah pesantren. Agak tua memang. Tapi, di sinilah ia pertama kali menimba ilmu. Ia pun disambut bak seorang pahlawan  yang baru datang dari medan perang. Lalu ia pun bersegera menuju ndalem. Menemui abah dan umminya yang ternyata sudah menunggu.

Setelah sungkeman dan bercakap-cakap sebentar. Ia pun pergi ke kamar untuk rebahan. Di kamar itulah ia merasa kembali menemukan dirinya. beristirahat sejenak dari segala kepenatan, atau hiruk pikuk dunia kampus yang tiap hari ia geluti. Paling tidak, ia bisa sedikit menghela nafas di kamar yang sejak kecil menemaninya mengeja hari-hari. Teringat kala menghafal bait-bait alfiyah, sembari merapalkannya dengan keras laiknya penyanyi yang sedang rekaman lagu.
“Nyi, sampeyan dipanggil Pak Kyai sama Ummi,” tutur seorang santri yang memanggilnya dari pintu kamar.
“Iya. Sebentar lagi saya ke sana.”
Bergegaslah ia menuju ruangan dimana abah dan umminya yang berada di ruang tengah.
“Jadi begini, Nduk,” tutur ayahnya memulai,”Abah ingin cepat-cepat menimang cucu, biar kelak bisa menggantikan abah di pesantren.”
Aulia masih menundukan muka. 
“Ummi, juga sudah setuju kok. Kelihatannya ustad Nafik memang cocok buatmu. Apalagi dia lulusan luar negeri. Bagaimana menurutmu, Nak?”
Aulia masih diam. Kedua orang tuanya pun saling bersitatap muka.
“Bagaimana, Nduk.”
Dengan terbata-bata, ia pun membuka suara.
“Sebenarnya, Aulia belum terpikir ke arah situ. Aulia ingin menyelesaikan kuliah,” suasana jadi hening untuk sementara. 
“Tapi, kamu kan sudah dewasa. Apalagi sudah skripsi. Abah sengaja mencarikan, supaya kamu cepat mempunyai mahram. Dan ustad Nafik, paling cocok untukmu. Dia orangnya saleh, jebolan Al-Azhar lagi. Benar nggak, Ummi?”
“Iya. Dia bersama keluarga Kyai Muhaimin datang ke pesantren, untuk mengkhitbahmu, Nak.”
“Terus, jawaban Abah bagaimana?” tanya Aulia penasaran. Karena pada dasarnya, ia memang sangat tidak suka diperjodohkan seperti ini. Walaupun dia adalah seorang santri, tapi bagi dirinya, urusan pernikahan adalah pertautan dua  manusia yang akan menjalani. Bukan karena paksaan. Paling tidak, itulah yang dipelajari ketika berinteraksi dengan banyak orang  dengan pelbagai karakter di kampus.
“Abahmu belum mengiyakan. Terserah, kamu, Nduk. Abah percaya, kamu akan memberikan yang terbaik dengan pesantren ini. Apalagi abah sekarang sudah menua. Harapan ada di pundakmu sekarang. Nasib pesantren ini ada di tanganmu.”
Aulia terpaku dengan tatapan yang sendu. Tak terasa, kelopak matanya basah.
“Baiklah. Aulia menerima itu. Tapi dengan syarat bahwa setelah pernikahan nanti, Aulia masih tetap boleh beraktivitas seperti biasa; pergi ke kampus, berorganisasi dan lain sebagainya.”
“Nanti akan Abah kasih tahu Kyai Muhaimin. Boleh seperti itu, asal jangan lupa kewajibanmu sebagai istri.”
“Insya Allah. Aulia sanggup dan akan belajar dari Ummi,” tukasnya  sembari melihat ke wajah Ummi yang sering disebut bu Nyai oleh para santri itu.
Singkat cerita, Aulia dan Ustad Nafik akhirnya menikah. Acara pun digelar dengan meriah dengan mendatangkan Kyai kondang asal ibu kota untuk berceramah.

Namun, hubungan mereka jauh panggang dari api. Bertubi-tubi masalah menghinggapi. Begitulah yang dialami dua sejoli yang belum genap satu bulan merenda hubungan ini.
“Masak saya tidak boleh pergi!” kata Aulia geram melihat suaminya itu yang melarangnya untuk pergi ke sebuah seminar.
“Bukan itu, Dik, tapi kau adalah istriku. Sudah selayaknya menuruti apa kata suamimu ini. Jika tidak, kau pasti tahu. Dosanya sangat besar.”
“Tapi, ini penting untuk pesantren kita!“
“Iya, tapi di sana nanti ‘kan ramai. Dan pasti banyak lelaki yang akan datang.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak boleh pergi sendiri. Harus ada yang menemani.”
“Loh, bukannya dulu saya pernah mengajukan syarat itu.”
“Ah, apaan itu. Kau mau melawan suamimu?”
Kedua orang itu diam. Denting jarum jam terus berjalan bersahutan. Sesekali, lengkingan indah dari masjid menggema dengan ayat-ayat-Nya yang dibaca para oleh santri.
“Sekali tidak boleh, ya tidak boleh. Pokoknya tidak boleh! Titik!”
Aulia pun tidak kalah geramnya. 
“Kalau begitu, mengapa kita tidak pergi berdua. Beres ‘kan perkara!”
Muka Ustad Nafik memerah mendengar jawaban ini. Ia menilai istrinya sudah sangat keterlaluan, dan sangat berani segala membantah segala yang diperbuat.
“Kau sudah sangat berani menentangku ya!”
Plakk…
Pipi  Aulia memerah. Segera ia berlari menuju kamar sembari menutup mukanya. Di sela jarinya yang mungil itu, merembeslah air mata.
“Apa karena aku perempuan bisa diperlakukan seperti ini. Tidak. Ini bukan yang pertama kali ia perbuat. Aku harus pergi!” pekiknya dalam hati.
Bagaimana dengan Abahmu,Ummimu, pesantren, santri-santri, dan seluruh warga yang datang saat Walimatur Ursy tempo hari. Bukankah mereka akan kecewa dengan tingkah lakumu?
Tiba-tiba kata-kata itu merasuk dalam pikirannya. Ia pun kembali merenung. Tapi peristiwa ini bukan sekali yang ia terima. Sudah berkali-kali, bahkan ketika ia mengajukan untuk kembali ke kampus. Tapi, apa lacur? Suaminya itu tidak mengijinkan dirinya untuk pergi. Entah alasan apa diutarakan, yang pasti acapkali tidak masuk akal dan rasional menurut pemikiran Aulia yang terkenal cerdas itu.
Kalau toh boleh pergi, itu pun harus  didampingi oleh seorang santriwati. Hal ini sangat menggangu. Apalagi bagi seorang Aulia yang ketika masih mahasiswa  memiliki seabreg kegiatan.

***
Sudah hampir satu tahun pernikahan mereka berlangsung. Namun, Aulia sendiri belum bisa merasakan kebahagiaan sebagaimana yang diceritakan oleh orang-orang tentang pernikahan. Hatinya makin tersiksa juga karena tahu bahwa suaminya ternyata tidak bisa memberi keturunan bagi dirinya. Paling tidak itulah diagnosis awal dokter kepada Aulia. Walau  sampai sekarang, suaminya itu tidak mau kalau diajak periksa.

Tapi, buntutnya yang dipersalahkan adalah dirinya karena tidak sanggup hamil. Padahal belum tentu, ia berpikir bahwa suaminya itu memang sengaja untuk menahannya supaya tidak keluar. Biar dia tidak tahu dunia luar. Inikah yang dinamakan pernikahan? Atau inikah mahram yang cocok seperti yang dikatakan abahnya sebelum ia menikah dulu?
Entahlah. Yang jelas, ia merasa bagai burung yang dikebiri sayapnya. Padahal, ketika ia masih berada di belaian kedua orang tuanya, ia dibebaskan untuk segala sesuatu.
“Kamu boleh menjadi apa saja, Nak. Asal kau anggap itu baik, dan tidak melupakan agama, maka Abah merestui,” begitu nasihatnya yang sering ia dengar dulu. termasuk ketika memutuskan kuliah di ibukota. Sesuatu yang mungkin bagi para santriwan seumuran kala itu menjadi hal yang sangat tidak diperbolehkan.
Maka dengan segala pertimbangan, ia pun menemui suami yang telah bersamanya hampir setahun tersebut.
“Mas, saya rasa. Kita memang tidak jodoh?” ujarnya bak petir di siang bolong yang menerpa telinga suaminya tersebut.
“Apa maksudmu?”
“Karena Mas sudah melanggar syarat yang Aulia berikan dulu sebelum akad nikah?”
“Tapi, kamu ‘kan sekarang sudah jadi istriku. Mahramku yang sah. Jadi, saya bebas dong melakukan apa saja kepadamu. Ingat itu, dan jika kamu melanggarnya, dosanya besar.”
Sekali lagi ia geram melihat ulah lelaki itu.
“Mas, buat apa saya jadi mahram Mas, jika yang saya dapat Cuma penderitaan. Bukankah mahram itu agar suami istri lebih menyayangi. Agar tidak terjadi fitnah. Bukan seolah seperti properti, dan perkawinan sebagai bukti sah kepemilikan sehingga Mas bisa dengan pongahnya memaksakan kehendak.”
“Tapi…”
“Saya kira Mas lebih paham itu. Mahramku adalah seseorang yang mampu memahami tiap helai rambut yang ada dalam diriku, merangkul pendapat yang kerap menyesaki alam bawah sadarku, serta yang bisa menjadi pengayom sekaligus motivator ketika aku jatuh. Dan itu tidak Aulia temukan pada dirimu.”
Suasana kembali hening.
“Untuk itu, Aulia ingin kembali ke tempat Abah!” ujarnya sembari masuk lagi kamar, dan merapikan baju untuk dimasukan ke dalam koper.
Lelaki itu terpekur. Seolah ada hentakan yang sangat dahsyat menyeruak masuk ke rongga dadanya. Hingga membuat jantungnya seakan berhenti dengan hentakan kata-kata dari Aulia itu. Entah darimana ia mendapat kalimat itu. yang ia kalau dia pikir memang benar apa yang dikatakannya. Kata-kata itu seoalah menghujam tajam ke ulu hatinya.
“Aulia! Jangan pergi! Kau mahramku!”
Namun Aulia tak bergeming. Ia melangkah pasti, mantap dengan keputusannya sendiri. []

___________________________   
di Ujung Senja Jakarta, November  2010
Penulis adalah warga Piramida Circle; bergerak di Tongkongan Sastra Senjakala Jakarta.
Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Mentari hanya tinggal sepenggal lagi untuk berganti gaun. Cahaya yang kuagung-agungkan sebentar lagi akan sirna bersama malam yang kelam. Melihat semua itu membuat aku teringat tragedi yang telah menenggelamkan kebahagiaan dan semua mimpiku. Mimpi yang sudah susah payah kurajut agar menjadi sebuah rangkaian kata yang indah.

Tragedi itu bermula dari ayah yang telah menyulut kesabaran ibu. Waktu itu, tepatnya pukul 02.30 WIB sekitar sebulan yang lalu, aku beranjak dari tempat tidurku meninggalkan mimpi tanpa jejak untuk melaksanakan shalat tahajud. Shalat yang sering aku lakukan setiap malam. Meskipun aku sendiri kadang bingung dengan shalatku itu. Bingung! Apakah aku shalat karena kebiasaan atau shalat karena cinta kepada-Nya. Entahlah…

Dengan mata yang masih berat untuk terbuka lebar kulangkahkan kaki ke luar. Dari semilir angin dini hari yang menyapa terdengar isakan tangis seorang perempuan. Suara tangis yang sudah akrab di telingaku. Ya, suara itu adalah suara tangisan ibu. Tapi, mengapa ibu menangis malam-malam seperti ini? Tanyaku membatin. Mata yang sedari tadi menahan kantuk, sekarang tidak lagi. Karena suara itu telah menjadikanku sebagai seorang perempuan yang gelisah.

Sebenarnya aku ingin menemui ibu di kamarnya. Tapi hatiku berkata untuk tidak melakukannya. Tidak seberapa lama kemudian terdengar suara daun pintu dibanting. Aku semakin takut dan gelisah dibuatnya. Kukumpulkan seluruh keberanianku, kudekati kamar ibu dan ternyata... “Ayah!” itulah kata yang keluar mengawali beribu-ribu pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalaku. Ayah yang kusapa hanya menatapku. Tatapan yang tak mampu kuartikan. Dan ia pergi tanpa sepatah kata pun. Membuatku semakin bingung. Sedangkan suara tangisan ibu kian meraung.
“Apa yang terjadi, Bu?”
“Maafkan Ibu, Nak!”
“Kenapa Ibu minta maaf? Memangnya Ibu salah apa?”
Ibu tak merespon pertanyaanku. Ia terus menangis dalam pelukanku. Air mata yang sedari tadi kubendung agar tak jatuh, akhirnya tertumpah juga. Membasahi pipiku. Membanjiri relung hati yang diam sedari tadi.
Dalam isak tangisnya pula, ibu berkata, “Kamu yang sabar ya, Nak. Mungkin ini hanya ujian dari Tuhan.”
“Maksud Ibu apa? Lilis tidak mengerti.”
Mendengar semua cerita ibu aku tidak percaya. Tidak mungkin ayah melakukan seperti itu. Ayah yang kutahu adalah seorang ayah penuh tanggung jawab dan sayang terhadap keluarga. Tidak mungkin ayah mengingkari janjinya sendiri.
“Tapi itulah yang terjadi pada ayahmu sekarang, Nak. Ayahmu telah berubah. Dan kecurigaan ibu selama ini ternyata benar.“

***

Sejak kejadian itu ayah tidak pernah pulang ke rumah. Menurut berita yang kami dengar, ayah pulang ke rumah perempuan selingkuhannya yang sudah dua bulan lalu sah menjadi istri mudanya.
Aku benar-benar tidak kuat melihat kondisi ibu. Setiap hari yang ibu lakukan hanya menangis dan menangis. Mungkin ibu menangis bukan hanya sakit hati karena dikhianati. Tapi juga menangisi masa depan kami. Masa depan pendidikanku yang kemungkinan akan terbengkalai tanpa seorang ayah.

***

Lama aku berpikir, berulang-ulang. Akhirnya tanpa sepengatahuan ibu aku mendatangi perempuan yang sudah menghancurkan kebahagiaan kami. Perempuan yang telah merebut cinta ayah dari kami. Perempuan yang telah kehilangan nuraninya sebagai sesama perempuan.

Setelah sampai di depan rumahnya, aku lihat di sekelilingnya tidak ada seorang pun. Kugedor-gedor pintunya sebagai luapan amarahku. Dan seorang perempuan membukakan pintu. Darahku mendesir kencang, napasku tidak teratur. Api kebencianku semakin berkobar-kobar. Apalagi dia pura-pura bersikap ramah dan sedikit menyungging senyum. Entah senyuman apa itu. Apakah itu senyum kemenangan atau senyum ejekan. Mengiris, pilu di hatiku.
“Apa ayah ada di sini?” tanyaku sinis.
“Ya. Tapi dia masih tidur. Bagaimana kalau kamu masuk dulu. Ini kan rumah kamu juga?” Ia keluar dari pintu dan mencoba mendekatiku.
“Rumahku?”
“Ya, rumahmu. Karena mulai sekarang aku sudah menjadi ibumu.”
“Tidak!” bentakku, ”kamu memang perempuan yang tidak punya perasaan. Kamu telah merebut ayah dari kami.”
“Maafkan aku, Lis. Aku tahu ini sangat berat untuk kalian. Tapi kalian harus ingat ayahmu lebih memilihku dari pada kalian.”
Dengan wajah tanpa merasa berdosa ia melontarkan kalimat itu. Bara di dadaku yang sudah tersulut kian membubung ke ubun-ubun. Kemudian ia melanjutkan omongannya.  
”Sebenarnya, aku tak pernah punya maksud demikian. Awalnya, .... aku tak tahu kalau ayahmu telah berkeluarga. Selain itu, aku harus melakukan ini karena anak di dalam kandunganku juga membutuhkan kehadiran seorang ayah. Dan ayah anak ini ... adalah ayahmu,” tuturnya dengan terbata-bata.
“Kamu jahaaat,” jeritku pada perempuan itu sambil berusaha untuk menjambak rambutnya sebisaku. Dia meronta-ronta untuk melepaskan rambutnya dari tanganku. Entah kenapa, rasa sakit hatiku tak dapat membuatku berempati bahwa ia sebenarnya juga menderita. Akhirnya, kami jadi saling terkam seperti serigala.
Mendengar pertengkaran kami, tiba-tiba ayah keluar. Ayah panik melihat istri mudanya yang kesakitan akibat kemarahanku.
“Apa yang telah kamu lakukan, Lisa?”
“Lisa sedang memberi pelajaran pada perempuan ini, Ayah!”
Mendengar pengakuanku yang lantang, tangan ayah bergerak cepat menampar pipiku. Cepat-cepat kutepiskan tangan ayah dari wajahku. Aku sangat marah. Aku benar-benar tidak menyangka ayah akan melakukan ini padaku. Sejak kecil sampai aku menginjak bangku kuliah, baru kali ini ayah menamparku. Tamparan yang telah menghilangkan rasa hormatku kepada ”seorang ayah”.

***

”Allahu akbar, Allahu akbar .....,” seruan muazin terdengar dari kejauhan. Ibu segera memanggilku.
”Sudah Magrib, Nduk. Cepat masuk....”    
Suara adzan maghrib mengalun indah menyadarkanku bahwa aku tengah melamunkan masa lalu. Kini, aku dituntut untuk menatap masa depan. Masa depan yang kupilih untuk tetap bersama ibuku. Tetap melanjutkan sekolahku dan berjuang untuk menegakkan pilar-pilar ekonomi keluarga yang sempat goyah karena kepergian ayah. Namun aku merasa lega, karena kulihat ibuku semakin optimis untuk bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri, sebagai perempuan pemimpin keluarga.
”Ayo shalat berjama’ah....,’ kata Ibu. ”Dan besok pagi, tolong antarkan telur-telur asin itu ke pasar. Ke warung Kang Diman, Mbah Tarno, dan Lik Sugi.”  Lanjutnya sambil mengelus kepalaku.
”Tentu Bu....,” jawabku sambil tersenyum kepadanya.[]

* Nur Aisyah, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA) Sumenep, Madura dan aktif di Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) Komunitas PELAR di kampusnya.


"Min, sekarang aku ingin anak perempuan. Aku sudah bosan punya dua anak laki-laki," kata Jalu sambil membelai-belai perut Mimin, istrinya yang sedang hamil.

Mimin yang sedang menjahit pakaian pesanan tetangganya itu segera menghentikan kegiatannya. Meski dalam keadaan hamil, dia kebanjiran order, dan dia terus mengerjakannya. Lumayan menambah penghasilan, daripada mengandalkan ojek suaminya yang hasilnya tak seberapa, kadang juga tak membawa hasil.
"Kenapa?" tanya Mimin sambil mematikan stroom mesin jahit.
Jalu tidak menjawab. Dia terus membelai perut Mimin yang menggelembung seolah sedang bercakap dengan janin yang menghuni di dalamnya. Pikiran Jalu masih terpaut pada kata-kata Mang Dasim ketika ngobrol di warung Mang Kardi tadi pagi saat menunggu penumpang.
"Sekarang, kalau punya anak mendingan perempuan. Punya anak perempuan, berarti nantinya kita punya "warung"!" kata Mang Dasim.

Jalu yang hendak minum kopi itu, meletakkan kembali gelasnya di atas meja. "Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Kalau sudah menjadi gadis, tiap malam minggu pemuda-pemuda datang. Apel! Biasanya kan mereka bawa makanan. Sekeluarga kebagian. Aku juga biasanya dapat jatah rokok barang sebungkus atau dua bungkus. Jadi, beberapa hari aku tak perlu beli rokok. Nah, rokok yang kamu hisap itu adalah rokok pemberian dari pacar anakku."
“Tapi bagaimana kalau sudah tidak berduit?”
“Suruh diputusin saja. Gampang! Gonta-ganti pacar nggak apa-apa," kata Mang Dasim lagi.
Jalu mengangguk-angguk. Dia mulai menyeruput kopi hangat yang sempat tertunda.
"Orang tua harus berperan, "kata mang Dasim melanjutkan, "Harus pandai mencarikan orang kaya buat anak gadisnya. Orang kaya kan biasanya royal dalam urusan perempuan. Apalagi kalau anaknya cantik. Seperti si Siti, anak tetanggaku. Sekarang sudah tunangan. Pengikatnya adalah cincin dan kalung yang bisa membeli satu hektare tanah dan sepasang kerbau. Bagaimana tidak senang? Ayahnya, Haji Dulah, disebut-sebut sebagai calon orang kaya baru di kampung ini," kata mang Dasim lagi sambil menghisap rokok dengan nikmat sekali dan tanpa beban.

"Tapi kasihan, calon suaminya itu umurnya setua Haji Dulah. Dan katanya dijadikan isteri ketiga..."
"Masalah tua atau muda, atau dijadikan istri keberapa pun, itu urusan lain. Kalau suaminya sudah tua kan
nanti cepat mati, tentu dapat warisan. Yang penting anak kita untung, orang tua makmur."
"Bagaimana misalnya kalau anak kita tidak mau?"
"Ya dipaksa sampai mau. Memaksa itu tidak selamanya jelek. Kita, para orang tua lebih tahu dan berpengalaman. Lagi pula itu untuk kesenangan masa depan anak kita juga."
"Tapi bukankah anak perempuan itu banyak memerlukan uang? Misalnya beli lipstik, bedak untuk dandan, atau pakaian yang bagus-bagus?"
"Memang, tapi itu sebentar. Perempuan itu cepat dewasa, tidak seperti anak laki-laki. Selepas sekolah, tunggu saja beberapa tahun, nanti juga ada jodohnya. Kita cuma modal bedak dan lipstik supaya dia mau dandan."
Jalu mengangguk-angguk lagi.
"Selain itu, keringanan punya anak perempuan bisa dihitung berdasar agama. Coba kita hitung, kalau aqiqah, cuma satu ekor kambing atau domba, sementara laki-laki harus dua! Dan nanti, saat pembagian warisan, dia hanya kebagian setengah dari laki-laki..."
Jalu tertegun mendengar penjelasan seperti itu.
"Keuntungan lainnya banyak juga. Sekarang lapangan kerja buat perempuan itu banyak sekali. Pabrik- pabrik membuka lowongan kerja sampai ribuan orang hanya untuk perempuan. Mulai dari pelayan toko, counter HP, pelayan SPBU sampai satpam sekarang ada yang perempuan. Atau sederhananya menjadi pembantu rumah tangga di kota-kota besar..."
"Bisa juga menjadi TKW ke luar negeri," kata Jalu menambahkan.
“Betul! Enak banget kalau punya isteri jadi TKW. Coba perhatikan saja mang Karta, setiap hari kerjanya di rumah. Paling banter mengantar anak-anaknya ke sekolah. Yang membiayai, ya istrinya dari Saudi. Atau si Juned yang kerjanya luntang-lantung tak jelas. Tidur dimana saja seperti anak muda. Kadang nyangkut di rumah janda muda sebelah rumahnya. Tapi tiap bulan dapat wesel dari isterinya...”

Cara pandang  Mang Dasim begitu merasuk ke dalam pikiran Jalu. Dia baru sadar kenapa tetangga- tetangganya menginginkan anak perempuan. Ketika ingat isterinya sedang mengandung, dia pun bercita-cita ingin punya anak perempuan.
"Kenapa kang, kok melamun terus?" tegur Mimin karena Jalu masih terdiam sambil terus mengelus perutnya.
“Min, aku ingin anak perempuan. Seminggu yang lalu aku bermimpi anak yang terlahir dari perutmu adalah perempuan. Cantik sekali. Persis seperti yang kita inginkan. Aku telah mempersiapkan nama untuknya...”
"Anak itu, laki-laki atau perempuan sama saja, Kang. Sama-sama titipan Tuhan. Harus dipelihara dan dididik dengan baik-baik."
"Tidak! Punya anak laki-laki itu mahal!
Pendidikannya harus tinggi! Susah cari kerja pula nantinya. Tapi kalau punya anak perempuan, berarti kita punya
"warung"."
Mimin mengerenyitkan dahi. Dia heran suaminya memiliki pikiran seperti itu.

***
Ternyata anak yang dilahirkan Mimin itu adalah laki-laki. Beberapa hari Jalu kelihatan murung. Kelakuannnya uring- uringan. "Warung" yang ditunggunya belum datang.
"Min, aku ingin anak perempuan. Kamu harus cepat hamil kembali!" begitu kata Jalu setelah Mimin selesai
masa nifasnya.
Mimin terdiam. Dia tak habis pikir dengan keinginan Jalu. Tapi dia tak bisa menolak, karena Jalu pasti membentak. Beberapa bulan kemudian, Mimin hamil kembali. Dan ketika dia melahirkan, bayi itu ternyata laki- laki.
Jalu makin jengkel saja. Dia langsung minta Mimin untuk hamil kembali. Mimin pasrah saja akan keinginan makhluk yang berlabel suami itu. Dia sebenarnya ingin menunda melahirkan. Dari perutnya telah keluar empat manusia dengan selisih setahun. Capek sekali rasanya.
Lagi pula, melahirkan itu bukan masalah gampang. Nyawa jadi taruhannya. Antara hidup dan mati itu sangat tipis jaraknya. Bahkan mungkin tidak berjarak. Di sisi lain, dia harus bekerja membantu suaminya menghidupi keluarga. Tentu saja Jalu tak pernah tahu dan tak mau tahu apa yang dirasakan Mimin.
Entah berapa kali Jalu memaksa Mimin supaya hamil dan melahirkan anak perempuan. Sudah berkali-kali pula Mimin menerangkan bahwa, siapa pun tak ada yang bisa menentukan jenis kelamin seseorang. Dokter yang paling genius dengan alat tercanggih pun, tidak bisa. Ilmu kedokteran cuma bisa menebak jenis kelaminnya. Dan itu pun masih bisa salah. Tapi Jalu tetap pada pendiriannya; ingin anak perempuan. Keinginan itu sekarang bahkan disertai ancaman; kalau Mimin tidak melahirkan bayi perempuan, dia akan dimadu. Kalau tidak mau, berarti bercerai!
Mimin kembali menyerah. Terpaksa hamil lagi. Untuk mencapai cita-citanya, diam-diam Jalu bertanya kepada tetangga-tetangga mengenai cara-cara mendapat anak perempuan. Tidak puas keterangan dari tetangga, dia bertanya pada paraji (dukun bayi), kiai dan bahkan dukun. Doa-doa, mantera-mantera, tirakat sampai cara senggama dia tanyakan. Bahkan akhir-akhir ini dia sering melakukan Shalat malam yang tak pernah dia lakukan.
Pada saat upacara nujuhbulan, Jalu tidak meminta kiai untuk membaca surat Yusuf, tetapi surat Maryam. Seolah yakin bahwa bayi yang akan lahir adalah perempuan.

***
Mimin hampir melahirkan. Saat-saat mendebarkan bagi Jalu pun datang. Dia gelisah seperti anak SD mengintip rapornya di akhir tahun pelajaran. Kerjaannya bolak-balik di tengah rumah. Kadang menengok sebentar ke kamar, tempat istrinya menjalani persalinan berjuang antara hidup dan mati. Mimin ternyata mengalami proses melahirkan yang paling lama dari anak-anaknya yang lain. Tapi itu tak menjadi perhatian Jalu. Entah berapa kali peraji itu melapalkan mantera. Mertuanya bolak-balik meminta doa kiai setempat. Sementara Jalu tak berbuat apa-apa. Dalam pikirannya hanya membayangkan bahwa anak yang lahir itu perempuan. Itu saja!
Bayi yang lahir ternyata perempuan. Betapa sumringahnya Jalu. Dia seperti anak kecil yang mendapat hadiah sepeda di hari ulang tahunnya. Seandainya tak dilarang oleh peraji, dia ingin langsung mengarak bayinya keliling kampung, seperti Abdul Muthalib mengelilingi Ka'bah ketika Muhammad, cucunya lahir. Dia hampir lupa azan dan iqamah di telinga anak yang nantinya akan membawa "warung" itu.
"Wah, sebentar lagi kamu punya “warung”," kata Mang Dasim ketika bertemu dengan Jalu di warung Mang Kardi. Dia pun tersenyum penuh kebanggaan dan harapan.

*****
Mimin bersyukur. Anak perempuannya telah menyelamatkan dia dari  ancaman dimadu atau diceraikan. Mungkin saat ini dia tak dapat berbuat banyak. Namun dalam hati ia berjanji akan mendidik anak-anaknya dengan bijaksana dan tak mau membeda-bedakannya. Dia berharap agar anak lelakinya tak menjadi seperti ayahnya, dan anak perempuannya dapat menjadi dirinya sendiri dan bukan menjadi korban ambisi ayahnya.

Ciputat, Desember 2007

*penulis adalah warga Piramida Circle Ciputat