Tanya jawab

Tanya jawab (51)

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Bu Nyai yang terhormat, Saya, Maisaroh berumur 40 tahun, ibu rumah tangga dan punya 4 anak (1 kuliah, 2 SMA, 1 TK). Suami saya bekerja sebagai pegawai kontraktor. Keluarga kami tinggal mengontrak di daerah Jakarta Timur. Sebelum bulan Ramadhan lalu, saya meminta suami untuk membiayai operasi varises kaki saya, tetapi ketika itu suami belum mengabulkan dengan alasan belum ada dana. Mengetahui hal tersebut Ibu saya menjadi tersinggung. Beliau lalu datang ke Jakarta dan membiayai operasi saya. Tetapi setelah itu, saya dipaksa untuk ikut Ibu pulang ke kampung halaman dengan membawa serta anak bungsu saya.Di kampung, Ibu ternyata telah menyiapkan sekolah untuk anak saya, dan saya sendiri diberi kegiatan untuk bekerja di sebuah Koperasi.

Sabtu pagi kemarin, tiba-tiba suami saya datang bersama 3 kawannya. Menurut suami, ia datang untuk menjemput saya dan si bungsu. Ibu saya yang sudah menjanda sejak saya dan adik-adik masih kecil, pingsan mengetahui kedatangan suami. Ibu sangat berkeberatan bila saya kembali kepada suami. Ia meminta saya untuk bercerai dari suami. Suami saya memang bukan suami yang sempurna. Kadang kala ia membentak-bentak saya jika sedang menganggur. Ibu mengetahui hal tersebut.

Ibu Nyai, Kepada siapa saya harus menurut? Kepada suamikah atau kepada Ibu saya? Terima kasih.

Maisaroh,
Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat 

Jawaban :

Wa’alaikum salam Wr.Wb.

Ibu Maisaroh yang dikasihi Allah,
Terima kasih atas pertanyaan dan kepercayaan Ibu kepada kami. Salam silaturrahim dari kami, semoga ukhuwwah (persaudaraan) di antara kita senantiasa terjalin sampai hari akhir. Amiin

Ibu Maisaroh yang dirahmati Allah,
Allah berfirman:

Artinya: dan di antara tanda-tanda kekuasaaan-Nya (Allah) adalah Dia ciptakan  pasangan hidup dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenang dan  Dia menjadikan rasa cinta dan kasih sayang di antara kalian. Sesungguhnya yang demikian ini merupakan tanda bagi kaum yang (mau) berpikir (QS. Ar-Rum: 21).

Tujuan utama pernikahan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas adalah untuk mencapai ketenangan jiwa (لتسكنوا إليها) dan menjadikan cinta (مودة) dan kasih sayang (رحمة) di antara pasangan  (istri dan suami). Ketenangan jiwa berarti juga rasa nyaman dengan pasangan kita. Rasa nyaman, tenang ini muncul dari hati dan tidak dapat dipaksakan. Begitu juga rasa cinta dan kasih sayang di antara istri dan suami. Dalam hal ini, kedua belah pihak, baik istri dan suami saling cinta dan saling mengasihi. Allah tidak menghendaki rasa cinta yang “bertepuk sebelah tangan”, misalnya dalam berbagai kasus rumah tangga, ternyata hanya istri yang mencintai suaminya sementara suami tidak. Cinta yang bertepuk sebelah tangan ini tentu saja tidak akan dapat menimbulkan ketenangan jiwa.

Berkaitan dengan tujuan pernikahan itu, selama Ibu Maisaroh hidup berumah tangga dengan suami, apakah Ibu merasa tenang dan nyaman? Apakah relasi (hubungan) yang terjalin antara Ibu Maisaroh dan suami sudah setara, saling pengertian dan tidak ada kekerasan? Apakah suami juga selama ini memahami kebutuhan Ibu, misalnya kebutuhan untuk bersosialisasi, beraktualisasi, seperti yang telah dilakukan ibu dari Ibu Maisaroh?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut perlu Ibu renungkan untuk menjawab permasalahan rumah tangga Ibu. Ketika suami membentak Ibu (sebagaimana yang Ibu rasakan), bagaimana perasaan Ibu? Apakah rasa cinta dan kasih sayang itu harus berwujud bentakan? Ibu juga perlu mempertimbangkan bagaimana kondisi psikologis anak-anak Ibu terutama yang masih kecil ketika sering menyaksikan ibunya dibentak-bentak oleh ayahnya. Begitu juga ketika suami mengabaikan kondisi kesehatan Ibu dengan menolak untuk membiayai operasi varises Ibu. Apakah Ibu merasa tenang dan nyaman dengan kondisi kesehatan yang terganggu? Apalagi varises itu berkaitan dengan kesehatan reproduksi kita, di mana kesehatan reproduksi merupakan sesuatu yang sangat vital.

Ibu Maisaroh yang dimuliakan Allah,
Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh ibu dari Ibu Maisaroh sudah tepat. Beliau memahami kebutuhan Ibu Maisaroh untuk beraktualisasi dan mandiri secara ekonomi. Ibu yang seperti itu sangat patut ditaati, sebagaimana sabda Nabi:

Artinya :
Dari Abu Zar’ah dari Abu Hurairah, dia berkata : berkata: Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu.“ (Shahih Muslim No.4621)

Hadis di atas menegaskan betapa seorang ibu sangat berhak untuk ‘ditaati’ dan diperhatikan. Perjuangan seorang ibu ketika mengandung dan melahirkan anak-anaknya menempatkan seorang ibu menjadi sosok yang mulia.

Saya sangat memahami mengapa ibu sampai pingsan ketika melihat suami Ibu Maisaroh datang. Bagaimana tidak, suami Ibu baru datang ketika kondisi ibu sudah tenang dengan aktivitas di koperasi dan anak ibu juga sudah mendapatkan pendidikan yang layak. Sementara ketika Ibu membutuhkan dukungan suami untuk menjalani operasi varises, suami Ibu kurang mempedulikan. Artinya masa-masa sulit Ibu justru tidak dilalui dan didampingi oleh suami, melainkan oleh orang tua (ibu) Ibu Maisaroh. Namun, ketika Ibu sudah berhasil melewati masa sulit dan menjalani kehidupan yang (mungkin) bahagia, tiba-tiba suami Ibu hadir.

Oleh karena itu, saya kira Ibu Maisaroh perlu berpikir jernih dan realistis tentang rumah tangga yang selama ini Ibu jalani. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa Ibu Maisaroh sangat penting dan menjadi bahan pertimbangan yang utama untuk memutuskan apakah Ibu Maisaroh akan berpisah atau hidup berumah tangga kembali dengan suami. Wallahu a’lam bis shawab.



Pak Kyai,
Ketika kami menikah, kami berdua bekerja sebagai karyawan swasta. Karier saya kebetulan lumayan bagus jadi pendapatan saya lebih tinggi dari pendapatan suami. Ketika anak kedua kami lahir, suami meminta saya untuk berhenti bekerja agar bisa lebih berkonsentrasi dalam urusan rumah tangga. Saya keberatan dengan alasan selama kami menikah kontribusi kepada kebutuhan rumah tangga lebih besar berasal dari penghasilan saya, bagaimana nantinya jika saya tidak bekerja?  Sejak itu, suami yang kebetulan bertugas di kota lain mulai jarang pulang, komunikasi kami yang sudah buruk menjadi semakin memburuk, hingga akhirnya tidak ada komunikasi sama sekali. Hal itu berlangsung bertahun-tahun, hingga akhirnya kami sepakat untuk bercerai pada akhir 2011 lalu.

Pengadilan Agama memutuskan pemeliharaan dan pembiayaan anak-anak dalam tanggung jawab berdua (karena anak-anak masih dibawah umur maka mereka tinggal bersama saya). Tetapi pada praktiknya sayalah yang membiayai seluruh kebutuhan anak-anak. Sesekali mantan suami memang memberi mereka uang saku yang tak seberapa, padahal saya tahu penghasilannya termasuk besar.
Pertanyaan saya, bagaimana pendapat hukum Islam tentang masalah saya ini? Kemudian apakah Pengadilan Agama memiliki kewenangan untuk memaksa agar mantan suami memberikan nafkah kepada anak-anaknya?

Demikian Pak Kyai, terimakasih

Indira Rahmawati
Depok

Jawaban Swara Rahima

Saudari Indira Rahmawati yang dimuliakan Allah…
Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci Allah SWT. Dibenci karena perceraian tidak dapat menyelesaikan masalah secara total, tetapi akan memunculkan masalah baru yang dapat merugikan pihak-pihak yang terkait di dalamnya di kemudian hari.

Umumnya yang menjadi korban dari perceraian itu adalah perempuan dan anak. Termasuk apa yang saudari alami saat ini, adalah salah satu di antara sekian banyak masalah baru pasca perceraian. Tidak hanya saudari yang mengalaminya, banyak ibu-ibu lain yang juga mengalami penderiataan yang sama, bahkan jauh lebih parah dari yang saudari alami. Menjadi kepala rumah tangga dan menjadi pengasuh tunggal bagi anak-anak mereka.

Sifat keibuan dan kasih sayang yang sangat besar kepada anak-anaknya membuat mereka rela berkorban untuk menghidupi diri dan anak-anaknya seorang diri. Sangat berbeda dengan  ayah yang terkadang kurang peduli, atau bahkan tidak mau tau terhadap nasib darah dagingnya itu. Itulah sebabnya mengapa kemudian Allah SWT membebankan kewajiban nafkah anak kepada ayah. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. (QS. Al Baqarah, 233)

Allah SWT hanya mewajibkan nafkah anak kepada ayah dengan maksud agar tumbuh rasa tanggung jawab dan kasih sayang dari ayah. Sementara ibu  tidak dikenai kewajiban tersebut, karena pada umumnya sifat-sifat tersebut sudah tumbuh dengan sendirinya pada saat perjuangan mereka yang luar bisa selama proses kehamilan, melahirkan dan menyusui.

Saudari Indira Rahmawati yang sangat kami banggakan…
Kewajiban nafkah bagi suami ini kemudian dilegalkan di dalam hukum positif kita. yakni melalui undang-undang perkawinan No 1 tahun 1974 yang kemudian dikuatkan dengan kompilasi hukum Islam. Terlebih-lebih dengan keluarnya undang-undang N0 23 tahun 2002   tentang perlindungan anak.
Di dalamnya UU No 1 1974 diatur tentang kawajiban bagi ayah  untuk memberikan nafkah kepada anaknya, bahkan setelah terjadi perceraian. Begitu pula di dalam UU NO 23 2002 ada satu pasal tentang penelantaran anak, termasuk di dalamnya penelantaran dalam masalah ekonomi.

Jadi, dengan dikeluarkannya serangkaian peraturan tersebut, semakin kuat tentang adanya kewajiban orang tua, khususnya seorang ayah untuk memberikan nafkah kepada anaknya. Secara teologis berlandaskan Alquran yang dikuatkan dengan undang-undang sebagai landasan kehidupan bernegara. Oleh karena itu, ketika seorang ayah  tidak memberikan nafkah kepada anak-anaknya dapat dituntut di pengadilan kemudian pengadilan memaksa untuk memberikan nafkah tersebut.

Secara formal, hitam di atas putih, langkah hukum bisa saja dilakukan ketika ayah dari anak saudari tidak memenuhi kewajibanya memberikan nafkah. Namun hemat kami, bisa jadi langkah tersebut bukan pilihan yang bijak. Karena hal tersebut tidak serta merta akan menyelesaikan masalah, bahkan akan muncul masalah baru, terutama pada kondisi psikologis anak-anak saudari. Misalnya bagaimana hancurnya perasaan mereka ketika  mengetahui  kedua orang tuanya terus berseteru, apalagi misalnya sampai masuk ke meja hijau.

Oleh karena itu, harus  ada pemikiran yang sangat matang terlebih dahulu sebelum menempuh jalur hukum. Mengalah bukan berarti kalah dan adakalanya diam itu emas. Dengan bekal kemampuan ekonomi yang cukup, kami yakin rizki itu bisa untuk memberikan nafkah kepada anak-anak saudari. Allah SWT pasti akan menggantinya dengan jumlah yang jauh lebih besar asalkan itu dilakukan secara ikhlas. Allah SWT berjanji.

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (Saba’ 39)

Langkah ini insya allah lebih selamat dari pada ribut-ribut menghabiskan energi untuk masalah yang sebenarnya saudari sudah mempunyai kemampuan lebih. Ada baiknya energi itu dialihkan untuk yang lain, misalnya fokus untuk mendidik, mencurahkan kasih sayang dan menjaga anak-anak saudari, agar dampak psikologis  yang mereka alami akibat perceraian kedua orang tuanya dapat diminimalisir.

Anak adalah asset yang sangat berharga yang dimiliki orang tua. Mereka tumpuan masa depan ketika kita memasuki masa senja atau ketika menghadap Yang Maha Kuasa. Secara alamiyah, mereka akan melihat dan menilai orang tuanya. Siapakah yang paling peduli dan banyak berjasa untuk kehidupan mereka. Atas pengorbanan yang telah diberikan itu, mereka akan membalas jasa tersebut baik secara langsung atau tidak, dalam bentuk prestasi dan doa. Inilah yang paling membahagiakan kita sebagai orang tua.[] 


Diasuh oleh Nyai Hj. Hindun Anisah

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.
Ibu Nyai  yang terhormat,  saya seorang muslimah dan juga janda memiliki 3  putra. Saya merasa bersalah karena mencintai seorang lelaki non muslim, tapi saya sulit untuk mencegah perasaan saya. Selain itu lelaki ini secara materi mapan dan bisa menopang ekonomi keluarga saya. Dan kami saling mencintai. Bulan Desember 2011 laki-laki ini memeluk agama  Islam, pada bulan  yang sama kami menikah di KUA Tangerang.

Namun, setelah menikah suami saya masih menjalankan ritual ibadah agama yang dianutnya . Sepertinya dia belum 100 % memeluk agama Islam, karena dia  mengatakan bahwa dia berhak untuk menjalankan ritual ibadah agama yang benar-benar diyakini sebelumnya. Bukan hal yang mudah sebenarnya bagi kami untuk menjalani kehidupan bersama dengan sebuah perbedaan,  apalagi hal ini menyangkut soal keyakinan. Kami sama-sama bertahan pada keyakinan masing-masing.

Saya  ingin bertanya tentang  status hubungan suami isteri yang telah kami lakukan. Bagaimana hukumnya melakukan hubungan seksual dengan suami yang memiliki keyakinan berbeda? Bagaimana nantinya bila dari hubungan tersebut menghasilkan anak? Apa yang mesti saya lakukan? Mohon penjelasannya Ibu Nyai,  sebelumnya saya ucapkan  terima kasih  banyak atas jawabannya.
Salam

Rina,  Jakarta Timur
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.,

Ibu Rina yang dikasihi Allah,

Terima kasih atas pertanyaan dan kepercayaan Ibu terhadap kami. Salam silaturrahim dari kami, semoga ukhuwwah (persaudaraan) di antara kita senantiasa terjalin sampai hari akhir. Amiin

Ibu Rina yang dimuliakan Allah,

Tujuan utama pernikahan sebagaimana disebutkan dalam Alquran (QS. ar-Rum: 21) adalah untuk mencapai ketenangan jiwa (litaskunuu ilaihaa) dan menjadikan cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) di antara pasangan  (isteri dan suami). Perasaan cinta yang selama ini Ibu Rina rasakan bukanlah sesuatu yang salah karena cinta adalah anugerah. Hanya saja, berkaitan dengan tujuan pernikahan tersebut, apakah Ibu Rina sudah benar-benar merasakan ketenangan atau kebahagiaan di dalam pernikahan yang sekarang ini?

Mengenai pernikahan di antara pasangan yang berbeda keyakinan, ada beberapa pendapat di kalangan para ulama fiqh. Mayoritas ulama membolehkan pernikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan ahli kitab, meskipun mengenai definisi ‘ahli kitab’ ini mereka belum bersepakat. Ada yang berpendapat bahwa ahli kitab itu terbatas pada Yahudi dan Nasrani, namun ada juga  yang berpendapat bahwa Shabiin (kaum penyembah bintang) bisa dikategorikan ahli kitab selama mereka meyakini isi kitab Taurat dan Injil, begitu juga dengan Majusi (penyembah api) ada ulama yang membolehkan karena dianggap non-muslim yang dzimmy (kelompok non-muslim yang wajib dilindungi karena tidak melakukan permusuhan dengan kaum muslimin).

Para ulama mendasarkan pembolehan atau penghalalan nikah beda keyakinan ini pada ayat Almaidah : 5

Artinya :
“.....(dan dihalalkan menikahi) perempuan-perempuan yang telah diberi al-Kitab sebelum kamu....” (QS. Al-Maidah: 5).

Bagi Imam Syafi’i (imam mazhab fiqh yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia), laki-laki menikahi perempuan yang beda keyakinan diperbolehkan dengan beberapa syarat, yang salah satunya adalah dia takut berzina dan tidak ada perempuan lain yang dia cintai   .

Ibu Rina yang dimuliakan Allah,

Sayangnya, semua ulama memandang bahwa kebolehan pernikahan beda keyakinan ini, hanya untuk laki-laki muslim dengan perempuan non-muslim, bukan sebaliknya. Dengan alasan, laki-laki muslim dianggap memiliki kemampuan dan tanggung jawab, tidak mudah terpengaruh untuk pindah ke agama istrinya dan bisa menjaga serta mendidik anak-anaknya dengan keyakinan Islam. Sementara perempuan muslimah tidak diperkenankan menikah dengan lak-laki non-muslim, karena perempuan dianggap lemah, mudah terpengaruh berpindah ke agama suaminya dan khawatir tidak dapat mendidik  anaknya dengan keyakinan Islam.
Pandangan para ulama ini didasarkan kepada pandangan yang bias gender. Relasi perempuan dan laki-laki dalam pandangan ulama tersebut, menganggap perempuan sebagai obyek dan laki-laki sebagai subyek. Padahal justru Alquran Qur’an menceritakan kisah istri Fir’aun bernama Asiyah yang tetap teguh imannya tidak terpengaruh dengan suaminya Fir’aun, bahkan Asiyah dijadikan contoh sebagai perempuan yang masuk Surga karena keteguhan imannya, meskipun suaminya seorang kafir. Firman Allah:

Artinya:
“ Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman.”

Ayat tersebut memberikan pengesahan atas kasus yang dialami Ibu Rina. Yang perlu dilakukan bu Rina sekarang adalah menjaga keteguhan iman Ibu Rina sendiri dan jika nantinya dikaruniai anak, Ibu Rina dapat mendidik mereka dengan keyakinan Islam. Wallahu a’lam.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pak Kyai, perkenalkan nama saya Tari (21 tahun) asal Indramayu Barat. Saat ini saya adalah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Terus terang saya sebenarnya malu untuk mengadukan permasalahan yang saya hadapi. Namun, demi kebaikan keluarga dan masa depan saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan surat ini ke redaksi majalah Swara Rahima. Saya mengetahui majalah Swara Rahima dari seorang teman yang memang berlangganan.

Begini pak Kyai, sudah tiga tahun saya berpacaran  dengan Fulan (bukan nama sebenarnya), dia adalah teman saya di kampus. Hubungan kami begitu dekat, karena kami saling mencintai. Dia sering datang ke kosan saya, dan saya pun sering main ke kosan pacar saya.  Karena kami jauh dari orang tua, hubungan kami menjadi sangat bebas dan tidak terkontrol. Meskipun saya berusaha untuk menjaga diri, namun godaan syetan terlalu kuat. Saya melakukan hubungan seksual di luar pernikahan dengan pacar saya. Meskipun saya melakukannya hanya sekali, ternyata membuahkan janin di rahim saya. Ketika tahu bahwa saya hamil, kami berdua panik sekali, bagaimana kami harus memberitahukan aib ini kepada orang tua, dan bagaimana kuliah kami nantinya? Nasi sudah menjadi bubur, saya sangat menyesal dan tiap hari menangis memohon ampunan dari Allah swt atas dosa besar yang telah kami lakukan. Kami menyadari bahwa apa yang telah kami perbuat adalah melanggar ajaran agama Islam. Semoga Allah mengampuni dosa kami ini.

Pacar saya menyatakan bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan dan hendak menikahi saya dalam waktu dekat. Dia sudah memberitahukan kepada kedua orang-tuanya dan mereka menyuruhnya untuk segera menikah dengan saya. Namun, orang tua saya marah besar ketika saya memberitahukan kehamilan saya yang sudah berumur 2 bulan. Saya menerima segala makian dari orang tua dengan lapang hati, karena memang saya telah melakukan dosa besar dan membuat aib bagi keluarga kami.
Saudara-saudara saya menyarankan sebaiknya yang menjadi wali dalam pernikahan saya  nantinya adalah wali hakim dan bukan ayah saya sendiri, sebab ayah pasti malu dengan aib yang saya torehkan. Saya sedih sekali dan memohon kepada ayah untuk menjadi wali nikah nanti. Karena ayah saya merasa tidak tega, akhirnya beliau bersedia menjadi wali nikah saya.

Yang ingin saya tanyakan, untuk kasus seperti yang saya alami ini, siapakah yang lebih afdhol untuk menjadi wali nikah, apakah ayah saya, ataukah wali hakim? Bagaimana ajaran Islam memandang hal ini? Lalu, setelah saya menikah, apakah anak saya masih dianggap sebagai anak zina?  Saya memohon petunjuk kepada pak Kyai, agar saya berada di jalan yang benar. Atas jawaban dan taushiyah dari pak Kyai, saya menghaturkan banyak terima kasih.

Wassalam,
Tari, Indramayu

____________________

Jawaban
Saudari Tari yang saya hormati,

Dari hati saya yang terdalam, saya turut bersimpati dengan garis  hidup yang saudari jalani.  Memang kenyataan hidup terkadang tidak seindah dan semulus yang kita angankan. Akan ada banyak rintangan dan cobaan menghadang, yang terkadang kita pun tidak mampu melaluinya. Namun  kegagalan itu tidak bisa menjadi alasan pembenar untuk kita berpasrah pada nasib, tetapi harus dijadikan bekal dan pelajaran untuk menghadapi masa depan dengan bekal iman dan taqwa. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr, 18)

Itulah sebabnya agama mengajarkan konsep taubat nasuha sebagai media yang dapat dilalui oleh orang-orang yang mampu mengambil pelajaran terutama dari kesalahan masa lalu untuk mengadakan perbaikan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan saudari termasuk pada golongan orang-orang yang melakukan taubatan nasuha. Amin…..

Terkait dengan pertanyaan pertama yang saudari ajukan, dapat saya jabarkan terlebih dahulu bahwa dalam madzhab Imam Syafi’i bahwa seorang perempuan yang akan menikah haruslah dengan wali. Dalam hadis disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نُكِحَتْ الْمَرْأَةُ بِغَيْرِ أَمْرِ مَوْلَاهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ
Dari Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang menikah tanpa izin dari walinya, maka nikahnya menjadi batal, nikahnya menjadi batal, nikahnya menjadi batal. Namun bila mereka enggan untuk menikahkan, maka pemerintah adalah wali untuk perempuan yang tidak memiliki wali. (HR. Ahmad)

Berdasarkan hadis ini pula, dapat disimpulkan bahwa wali adalah pihak yang paling berhak untuk menikahkan putrinya. Sedangkan pemerintah boleh menikahkan ketika wali nikah mewakilkan perwaliannya atau karena satu dan lain hal sehingga wali enggan untuk menikahkan putrinya.
Dari sini maka dalam persoalan yang saudari alami, maka ayah tetap lebih utama untuk menikahkan saudari, apalagi beliau sudah bersedia untuk menjadi wali pernikahan. Adapun kisah masa lalu yang saudari alami tidak dapat menghalangi ayah saudari untuk menikahkan saudari.

Saudari Tari yang saya muliakan
Menanggapi pertanyaan kedua yang saudari tanyakan, yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa dalam Islam tidak ada istilah anak zina.  Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Dari Abi Hurairah ra ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Setiap anak terlahir dalam keadaan suci. (setelah terlahir) Kedua orang tuanyalah yang bisa menjadikan ia orang yahudi, nasrani atau majusi" (HR. Al-Bukhari)

Semua anak terlahir ke dunia dalam keadaan suci, tidak melihat apapun latar belakang orang tuanya.  Seorang anak tidak dapat memilih dari rahim siapa dilahirkan, atau melalui proses seperti apa ia dapat terlahir ke dunia. Oleh karena itu, bukan salah si jabang bayi jika ia terlahir dari orang tua non muslim misalnya, atau dari hubungan di luar pernikahan.  Adalah perbuatan yang sangat kejam jika harus memberikan label tertentu, misalnya “anak zina”   dan sebagainya, kepada bayi yang polos dan lucu yang tidak mengerti atau ikut mengambil bagian terhadap apa yang terjadi kepada kedua orangtuanya.

Allah Swt sudah menegaskan bahwa ketika seseorang berbuat salah, ia sendiri yang akan mendapatkan dosa dari perbuatannya, dan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan tersebut, tidak akan memikul dosa tersebut. Maka bagaimana manusia begitu tega menumpahkan “kesalahan” kepada bayi yang tidak berdosa tersebut. Allah Swt berfirman:  
قُلْ أَغَيْرَ اللهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Katakanlah: Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". (QS. Al-An’am 164)

Sejatinya menikah atau menikahkan pasangan yang telah melakukan hubungan seksual di luar pernikahan itu tidak wajib hukumnya. Memang Allah Swt menyatakan bahwa pasangan yang cocok bagi perempuan yang berzina adalah lelaki yang berzina (QS. Al-Nur, 3), namun bukan berarti harus ada paksaaan dalam pernikahan tersebut. Hak-hak kedua orang tersebut harus tetap diperhatikan. Jangan sampai ada paksaan yang berpotensi menimbulkan penderitaan kepada salah satu pihak, terutama kepada perempuan yang sangat rentan mengalami kekerasan akibat paksaan tersebut.

Pernikahan itu juga tidak serta merta menghapuskan dosa perzinahan yang pernah dilakukan. Walaupun keduanya kemudian nikah, dosa dari perzinahan tidak akan hilang  jika tanpa dibarengi pertobatan.  Hanya taubat yang dapat menghapuskan dosa dari kesalahan yang dilakukan. Sabda Nabi Saw (yang artinya): Sesungguhnya orang yang bertaubat dari dosa yang dilakukan seperti orang yang tidak memiliki dosa” (HR.al-Baihaqi).

Sedangkan status jabang bayi itu tetap dalam kodisi fitrah (suci) sebelum atau sesudah kedua orang tuanya menikah.

Saudari Tari yang saya banggakan
Mungkin hanya ini yang dapat kami sampaikan. Baik sekali jika saudari selalu memanjatkan doa dengan khusyu’ agar keluarga yang saudari bangun menjadi keluarga yang sakinah yang berhias mawaddah dan rahmah. Dan anak keturunan menjadi anak yang shalih dan shalihah yang membanggakan saudari dan suami. Hanya kepada Allah Swt kita bergantung dan memohon pertolongan.[]

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bu Nyai, nama saya Riana dari Banten,  ibu dari 2 orang anak yang masih balita. Saya ingin menanyakan seputar aturan qadha puasa Ramadhan dan pembayaran fidyah dalam Islam. 

Begini Bu Nyai, Ramadhan tahun lalu (2010) saya sedang hamil dan kondisi badan saya sangat lemah (bed rest) sehingga saya dilarang dokter untuk berpuasa. Saya pernah mendengar dari seorang ustadz yang memberikan ceramah di mesjid kompleks  kami, bahwa perempuan yang tidak berpuasa akibat hamil, melahirkan atau menyusui, maka harus membayar fidyah sebanyak hari-hari yang ia tinggalkan. Dan saya sudah membayar fidyah untuk 30 hari  kepada fakir miskin dalam bentuk uang.

Pertanyaannya adalah apakah saya cukup membayar fidyah, ataukah juga harus melakukan qadha puasa? Bagaimana Islam/fiqh mengatur tentang qadha puasa ini? Perlu Bu Nyai ketahui, saya hanya membayar fidyah dan tidak meng-qadha puasa sebab saya menyusui bayi, sehingga agak berat untuk melakukan puasa pada hari-hari biasa. Dalam hal ini apakah saya masih berhutang puasa? Mohon penjelasan dari Bu Nyai seputar persoalan ini. Atas jawaban dan penjelasan Bu Nyai, saya mengucapkan banyak terima kasih.     

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Riana, Banten
______________________________


Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.,

Ibu Riana yang dikasihi Allah,
Sebelum saya menjawab pertanyaan dari Ibu, terlebih dulu saya mengucapkan selamat atas kelahiran puteri/a  anda yang ke-2, semoga ananda menjadi puteri/a sholih/sholihah dan senantiasa menyebarkan perdamaian di muka bumi ini. Amin.

Ibu Riana yang dimulyakan Allah,
Islam memberikan rukhsoh (keringanan) bagi orang hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Apalagi kondisi ibu Riana yang mengharuskan bedrest saat hamil, maka memang sudah tepat langkah Ibu untuk tidak berpuasa untuk menghindari madharat yang lebih besar, sebagaimana firman Allah swt:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Yang artinya: ...dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri...(al-Baqarah: 195).

Dalam konteks puasa, kurangnya asupan makanan bagi ibu hamil yang pada akhirnya dapat berdampak buruk pada kondisi ibu dan janin yang dikandungnya, merupakan madharat yang harus diantisipasi oleh perempuan hamil.

Di dalam menyikapi perempuan hamil yang kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk berpuasa, beberapa ‘Ulama seperti ibn ‘Abbas, ibn ‘Umar dan beberapa Mufassir lainnya berpendapat bahwa ibu hamil tersebut hanya wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah tanpa harus mengqadha’ puasanya . Mereka mendasarkan pendapatnya pada firman Allah swt:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
Yang artinya:....Dan bagi yang berat menjalankannya (puasa), wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin....(al-Baqarah: 184).

Yang termasuk kategori “orang yang berat menjalankan puasa” adalah orang yang sangat tua yang kondisi badannya lemah, orang sakit parah yang tipis harapannya untuk sembuh, pekerja berat sepanjang tahun (seperti penambang batu bara), perempuan hamil, dan perempuan yang menyusui.

Perempuan hamil dikategorikan orang yang berat menjalankan puasa karena kondisi hamil itu sendiri dalam Alqur’an digambarkan sebagai kondisi yg “wahnan ‘ala wahnin” (sangat lemah) sehingga membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak daripada orang yang tidak hamil. Ibu hamil selain memikirkan kondisi kesehatannya sendiri pasti juga memikirkan tumbuh kembang janin dalam kandungannya.

Ibu Riana yang dirahmati Allah,
Memang beberapa ‘ulama selain yang di atas, tidak mengkategorikan ibu hamil sebagai “orang yang berat menjalankan puasa”, tetapi hanya sebagai orang yang sakit biasa. Di dalam Alqur’an disebutkan bahwa orang yang sakit biasa dan orang yang bepergian boleh untuk tidak berpuasa Ramadhan, tetapi mereka harus mengqadha’nya:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر
Artinya: ...Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari-hari yang lain...(al-Baqarah: 184).

Nah, para ‘ulama yang tidak menganggap perempuan hamil itu sebagai “orang yang berat menjalankan puasa”,  menganalogikan ibu hamil dengan orang sakit biasa tersebut, sehingga ibu hamil harus mengqadha’ puasanya .

Ibu Riana yang diberkahi Allah,
Menyimpulkan dua pendapat di atas, maka sebenarnya perempuan hamil yang tidak berpuasa Ramadhan, dapat memilih antara membayar fidyah atau mengqadha’ puasa. Pilihan itu tentunya harus didasarkan pada prinsip pentasyri’an hukum Islam, yaitu tidak menyulitkan (عدم الحرج), sebagaimana firman Allah ketika menjelaskan tujuan pemberian keringanan untuk tidak berpuasa:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Yang artinya: .....Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu....(al-Baqarah: 185).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah tidak ingin mempersulit hambanya di dalam melakukan syari’at Islam, sehingga rukhsoh (keringanan) di dalam tasyri’ itu merupakan suatu keniscayaan.

Berdasarkan prinsip pentasyri’an tersebut di atas juga, ibu Riana membayar fidyah saja sudah cukup mengingat kondisi ibu Riana yang pada mulanya hamil dan dilanjutkan dengan menyusui sehingga ibu Riana juga akan sulit untuk menjalankan puasa di hari-hari biasa. Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.






Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Kyai, nama saya Fatma (28 tahun) dari Tangerang. Sebenarnya saya merasa malu untuk menceritakan tentang perbuatan tercela yang telah saya lakukan, tetapi demi status anak dan keberlangsungan rumah tangga, saya memberanikan diri untuk berkonsultasi dengan pak Kyai.

Begini pak Kyai, saya telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dengan pacar saya. Akibatnya, saya hamil dan orang tua memaksa kami berdua untuk menikah secepatnya demi menyelamatkan nama keluarga. Kami akhirnya menikah di saat kandungan saya berusia 3 bulan, dan sekarang anak saya sudah lahir (laki-laki) dan berumur 1 bulan. Beberapa waktu yang lalu, orang tua suami saya datang ke rumah dan meminta kami untuk menikah lagi, melakukan ijab-qabul kembali agar kelak anak-anak saya yag ke-2 dan seterusnya tidak menjadi anak haram.

Saya bingung karena tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup untuk merespon permintaan dari mertua saya tersebut. Untuk itu saya ingin menanyakan 2 hal: Pertama, apakah anak hasil hubungan saya dengan suami sebelum menikah masih dikategorikan anak haram, meskipun pada akhirnya kami menikah? Kedua, apakah Islam mewajibkan pasangan yang pernah melakukan hubungan seksual sebelum nikah untuk melakukan ijab-qabul kembali setelah sang anak lahir? Bagaimana para ulama membahas hal ini?  

Saya dan suami menyadari bahwa apa yang telah kami lakukan merupakan dosa besar dan siang malam kami berdoa memohon ampunan dari Allah swt. Mohon petunjuk dan penjelasan dari pak Kyai agar hati saya tenang dan rumah tangga kami dapat tenteram dan bahagia. Atas jawaban dari pak Kyai, kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

Wassalamu’alaikum,

Fatma, Tangerang.

___________________________________
Jawaban:

Saudari Fatma yang kami banggakan,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."



Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-An'am 286)

Dan pada ayat yang lain, Allah swt berfirman:



Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[526]. kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan."

[526] Maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.


Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan". (QS. Al-An'am 168)

Pada dua ayat ini Allah swt menegaskan kepada kita semua bahwa apa saja yang dilakukan oleh seorang manusia, maka ia sendiri yang akan merasakan akibat dari perbuatan itu. Jika baik, ia akan mendapatkan pahala dari kebaikan itu, begitu pula jika keburukan yang dilakukan, maka ia sendiri akan mendapatkan sanksi setimpal dari kelakuannya itu.

Dengan kata lain, pada dasarnya manusia tidak bisa menanggung dosa yang dilakukan orang lain. Tidak ada dosa turunan atau  dosa warisan. Ketika seseorang berdosa maka, kesalahan itu tidak bisa ditimpakan kepada orang lain, kecuali orang itu melakukan kesalahan yang sama.

Saudari Fatma  yang kami banggakan,
Dari sini maka sebenarnya Islam tidak mengenal istilah anak haram, anak zina atau ungkapan lain yang memberikan kesan bahwa anak itu terlahir "kotor" akibat perbuatan kedua orang tuanya. Nabi saw sudah menegaskan bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini berada dalam kondisi fitrah, atau suci tanpa dosa. Nabi saw bersabda:

Dari Abi Hurairah ra ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Setiap anak terlahir dalam keadaan suci. (setelah terlahir) Kedua orang tuanyalah yang bisa menjadikan ia orang yahudi, nasrani atau majusi" (Shahih al-Bukhari, juz I hal 465)

Inilah hal pertama yang perlu kami tegaskan. Janganlah menganggap anak saudari sebagai anak zina atau anak yang kotor. Ia adalah karunia Allah swt sebagai amanah yang harus dijaga  kehidupan dan kehormatannya. Bukan kesalahnya jika kemudian ia terlahir dari hubungan yang terjalin di luar pernikahan, karena ia tidak bisa memilih dari siapa dan melalui proses seperti ia berada di dunia. Semua berjalan secara alami sesuai dengan sunnatullah yang berlaku pada dirinya.

Saudari Fatma  yang kami banggakan,
Terkait dengan pertanyaan kedua yang saudari ajukan, para ulama menyebutnya dengan istilah tajdidun nikah (memperbarui nikah). Dalam hal ini mereka menyatakan bahwa ketika suatu pernikahan sudah sah, maka tidak ada kewajiban untuk memperbarui lagi pernikahan tersebut. Keharusan untuk tajdidun nikah baru ada ketika terjadi perceraian dan telah melewati masa iddah. (Asnal Mathalib, juz juz III hal 396). Selama tidak ada alasan ini maka siapapun tidak boleh memaksakan kehendaknya apalagi mewajibkan untuk melakukan tajdidun nikah.

Namun begitu, para ulama menyatakan bahwa hukum asal dari tajdidun nikah itu adalah mubah (boleh) dan itu tidak otomatis membatalkan pernikahan sebelumnya. (Sirajul Wahhaj, juz I hal 306). Dengan dasar ini, walaupun hukumnya tidak wajib, saudari bisa mengikuti keinginan mertua saudari itu sebagai bentuk perhormatan kepada kepada keduanya. Sekali lagi, pertimbangannya adalah untuk menghargai keduanya sebagai bentuk pengabdian saudari sebagai anak, bukan untuk menghalalkan anak kedua dan seterusnya.

Mungkin hanya ini jawaban yang dapat kami sampaikan. Kami optimis walaupun walaupun berawal dari sesuatu yang tidak baik, dengan  kemauan dan semangat yang saudari tunjukkan untuk terus memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan masa lalu, kami  yakin keluarga yang saudari bangun akan menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah serta menjadi keluarga yang husnul khotimah. Amin.


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Kyai, nama saya Rahmah (35 tahun) dan baru saja pulang dari Hongkong sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Ceritanya, saya nekat menjadi TKW karena ingin memiliki uang untuk mengikuti program bayi tabung, sebab sampai usia perkawinan yang ke-5, kami belum dikaruniai keturunan oleh Allah swt. Selama bekerja di Hongkong, gaji yang saya terima selalu saya kirimkan ke suami dengan harapan agar dia menyimpannya di Bank dan setelah saya kembali ke tanah air, kami bisa langsung konsultasi ke dokter untuk program bayi tabung.

Akan tetapi, alangkah terkejut dan sakit hatinya saya, ketika kembali ke kampung halaman, ternyata suami saya menikah lagi dengan perempuan lain. Dan yang lebih membuat saya depresi adalah uang yang jumlahnya cukup besar  dari hasil keringat saya bekerja di Hongkong telah dihabiskan oleh suami untuk kebutuhan dia dan isteri keduanya. Saat ini, saya benar-benar bingung, kecewa, sedih, marah dan tidak tahu apa yang sebaiknya saya lakukan. Satu sisi saya masih menyukai suami, dan berharap agar dia kembali ke saya dan menceraikan isteri keduanya. Tapi, sepertinya suami saya lebih memilih istri mudanya daripada saya. Seperti kebanyakan perempuan lain, saya juga tidak mau dimadu, karena itu sangat menyakitkan hati dan menyengsarakan perempuan.

Saat ini saya benar-benar bingung. Menurut pak Kyai, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya boleh menggugat cerai suami agar saya dapat menata hidup kembali? Lalu bagaimana dengan uang hasil jerih payah saya menjadi TKW yang dihabiskan suami dengan istri mudanya? Apakah saya bisa menuntut ke pengadilan agar suami mengembalikan seluruh uang saya? Mohon penjelasan dari pak Kyai, terutama bagaimana hukum Islam berbicara tentang masalah ini. Atas jawaban dan pertimbangan dari pak Kyai, saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalam,
Rahmah, Pekalongan

JAWABAN:
Saudari Rahmah yang baik,
Secara pribadi saya menaruh penghargaan yang luar biasa atas perjuangan saudari demi kebahagiaan dalam rumah tangga. Simpati dan juga empati tidak lupa saya berikan atas apa yang sekarang saudara alami. Itulah kenyataan hidup yang sekarang saudari alami, yang harus disikapi dengan bijaksana dengan tetap menjadikan Allah swt sebagai tempat bergantung dan menyerahkan diri, kemudian berikhtiar mencari solusi terbaik atas  persoalan tersebut.

Terkait dengan apa yang saudari tanyakan, dalam pandangan fiqh seorang diperbolehkan mengajukan gugatan cerai ke pengadian melalui jalan Khulu’ dan Fasakh. Khulu’ artinya permintaan istri agar ia diceraikan oleh suaminya. Khulu’ ini bisa dilakukan terutama ketika istri merasakan ada problem yang serius dalam rumah tangga (Mugnil Manhaj, Juz III, hal. 262). Kemudian ketika suami menyetujuinya baik karena kerelaan sendiri atau “paksaan” dari hakim, maka ketika itu perceraian telah terjadi.

Sedangkan fasakh adalah keinginan dari suami atau istri untuk membatalkan pernikahan karena salah satu pihak tidak menjalankan peran dan kewajibannya sebagai pasangan suami istri. Misalnya suami tidak mampu memberikan nafkah, suami atau istri tidak bisa memberikan nafkah batin kepada pasangannya, karena disfungsi ereksi atau lainnya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka diberikan hak untuk melakukan fasakh.

Terkait dengan harta dari istri yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, menurut para ulama’ harta itu menjadi hutang suami kepada istrinya. Jika istri menuntut agar uang itu dikembalikan, maka suami wajib mengganti uang tersebut (Fathul Qorib, 52).

Ini artinya, dalam konsep fiqh, ada peluang bagi saudari untuk mengakhiri pernikahan dengan mengajukan gugatan ke Pegadilan Agama, jika memang itulah yang saudari yakini paling tepat untuk dilakukan. Begitu pula dengan hasil jerih payah saudari selama bekerja di Hongkong, itupun boleh diminta kembali. Tentu dengan mengajukan bukti-bukti yang kuat sehingga menjadi tuntutan saudari itu bisa dikabulkan.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah swt. Melaksanakan shalat, terutama shalat malam sebagai media kita untuk mencurahkan keluh kesah kita kepada Dzat yang paling mengerti kita. Meminta petunjuk dan pertimbangan dari Allah swt melalui shalat istikharah, sehingga langkah yang saudari ambil dalam menghadapi masalah ini bisa sesuai dengan ridla Allah swt. Semoga saudari segera menemukan jalan hidup yang lebih baik. Amin. []

Assalamu’alaikum Pak Kyai,

Saya, Susi, usia 30 tahun dan sudah berumah tangga selama 5 tahun. Akan tetapi perkawinan kami tidak berjalan dengan harmonis karena suami saya seorang pencemburu berat. Saya bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki teman laki-laki yang cukup banyak. Tetapi, suami saya selalu curiga dan cemburu setiap saya berbincang-bincang dengan kawan laki-laki. Padahal, saya selalu berusaha meyakinkan dia bahwa saya sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki lain, karena tahu bahwa hal itu adalah dosa besar. Tetapi, suami saya tidak pernah mempercayai apa yang saya katakan.

Ketika saya hamil, justru suami malah semakin marah dan curiga kalau jabang bayi yang saya kandung bukanlah anak dia, tetapi anak laki-laki lain. Dan dia mengancam akan menceraikan saya karena dianggap sebagai isteri yang tidak setia. Saya seperti tersambar petir mendengar apa yang dia katakan. Saya bersumpah, demi Allah, bahwa jabang bayi yang saya kandung adalah anak kami berdua, karena saya tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan siapapun selain dengan sang suami. Tetapi, suami tetap ngotot dan bahkan menjatuhkan talak pada saat saya sedang hamil 3 bulan. Saat ini saya mengalami depresi yang berat, bukan hanya karena putusan talak dari suami, tetapi bagaimana masa depan anak saya, kalau bapaknya sendiri tidak mengakuinya.

Yang ingin saya tanyakan kepada pak Kyai, dalam Islam, bagaimana hukumnya talak kepada isteri yang sedang hamil? Apakah setelah anak saya lahir, saya bisa menuntut mantan suami untuk memberikan nafkah kepadanya? Bagaimana hukum positif dan UU perkawinan menjawab masalah saya ini?
Demikian, terima kasih.


Wassalam,
Susi, Jakarta

Jawaban:

Saudari Susi di Jakarta yang kami hormati. Pertama-tama saya ingin mengucapkan rasa simpati yang cukup mendalam terhadap persoalan hidup yang saudari alami. Memang berat cobaan hidup yang saudari alami. Semoga Allah SWT tetap memberikan kekuatan kepada saudari untuk terus semangat dalam menjalani hidup sehingga mampu keluar dari situasi tidak menguntungkan ini.

Terkait dengan apa yang saudari tanyakan, berikut ini jawaban yang bisa kami berikan:
Di dalam kajian fiqh, talak itu terbagi menjadi tiga. Pertama, talak sunni, yakni waktu-waktu yang diperbolehkan jika ingin menjatuhkan talak. Dalam hal ini adalah ketika istri tidak sedang haid. Kedua, talak bid’i, yaitu saat-saat yang tidak dibenarkan untuk menjatuhkan talak kepada istri. Masuk kategori ini adalah menceraikan istri ketika ia sedang haid.  Ketiga, tidak sunni dan tidak bid’i, artinya tidak dilarang dan juga tidak diperintahkan. Yakni talak ketika istri hamil. (al-Fiqh al-Manhaji, juz II hal 121)

Berdasarkan pembagian ini, maka talak yang dijatuhkan ketika istri hamil tetap sah. Walaupun dalam konteks kehidupan bernegara, talak tersebut harus diikrarkan di depan Pengadilan Agama untuk mendapatkan ketetapan pasti secara legal formal.

Terkait dengan kewajiban nafkah, maka ketika terjadi perceraian, kewajiban ayah mantan suami ibu untuk memberikan nafkah kepada anaknya tidak bisa gugur. Kecuali jika ia menafikan keabsahan anak yang ibu dikandung melalui proses li’an.

Dalam fiqh li’an, artinya persaksian suami bahwa istri telah berzina dan anak yang sedang dikandung istrinya itu adalah hasil dari perbuatan zina tersebut. Di dalam Al-Qur’an:

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. (QS. Al-Nur: 6)

Ketika telah terjadi li’an, maka dengan sendirinya terjadi perceraian, dan keduanya tidak diperkenankan untuk rujuk selama-lamanya. Sedangkan anak yang dikandung akan hilang nasabnya anak tersebut kepada ayah. (Matan Abi Syuja’ juz I hal 247)

Hanya saja proses li’an ini bukan sesuatu yang mudah. Harus diucapkan di depan hakim dan disaksikan oleh orang banyak. Suami menyatakan secara langsung dan jelas tuduhannya. kemudian istri diberi kesempatan untuk menjawab tuduhan itu.

Terkait dengan hukum positif di Indonesia, di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) tentang li’an di atau pasal-pasal sebagai berikut:
1.    Pasal 125: Lian menyebabkan putusnya perkawinan untuk selamanya.
2.    Pasal 128: Lian hanya sah jika dilakukan di hadapan sidang pengadilan agama.
3.    Pasal 162: Bila Lian terjadi maka anak yang dikandung dinasabkan kepada ibunya, sedangkan suaminya terbebas dari kewajiban memberikan nafkah.

Namun, walaupun  sudah diatur secara legal formal, kenyataan di lapangan bahwa proses perceraian dengan cara li’an ini jarang sekali terjadi di Pengadilan Agama, sebab sulit sekali cara pembuktiannya.  Selama suami istri masih hidup serumah tuduhan itu sangat sulit untuk dibuktikan, dan hakim pun jarang mengabulkan putusan li’an tersebut. Kecuali misalnya suami tidak pernah pulang lebih dari dua tahun, dan tiba-tiba istrinya hamil.

Dari penjelasan ini, maka yang ingin saya sampaikan  kepada saudari susi adalah; Pertama, hukum positif kita mensyaratkan terjadinya li’an itu di pengadilan agama. Ini artinya bahwa selama belum dilakukan di hadapan hakim maka li’an itu tidak terjadi. Jadi tuduhan suami Anda itu selama masih belum dikabulkan oleh hakim di pengadilan agama tidak tergolong li’an. Kedua, konsekwensinya adalah, suami anda masih wajib memberikan nafkah kepada anaknya. Dan anda pun masih berhak untuk menuntut mantan suami secara hukum untuk memberikan nafkah kepada anaknya.

Demikian jawaban saya atas pertanyaan saudari Susi, sekali lagi semoga Allah SWT selalu memberikan pertolonganNya kepada saudari Susi, tentu dengan tetap tidak melupakanNya di tengah cobaan yang saudari Susi alami. Amin.[]

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pak Kyai yang saya hormati,

Dahulu ketika masih belajar di sekolah, saya seringkali dipukul oleh guru saya dengan seutas bambu kecil yang biasa dipakai untuk menunjuk papan tulis. Sakit sekali rasanya. Saya tidak pernah mengelak jika guru saya melakukan hal itu. Sebab menurut teman-teman, itu merupakan cara untuk mendidik murid agar lekas pandai.

Saat ini saya telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Perlakuan yang dilakukan oleh guru saya kadang-kadang masih saya terima dari suami kalau saya dianggap melakukan kesalahan. Menurut suami, hal itu merupakan salah satu tugasnya untuk mendidik istri. Apakah hal itu dibenarkan?

Saya khawatir terjebak untuk melakukan hal yang sama kepada kedua anak saya, apabila keduanya susah untuk disuruh belajar dan mengaji. Saya mohon nasehatnya, dan bagaimana sebenarnya ajaran Islam tentang memukul dengan alasan mendidik ini? Demikian, terimakasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Siti Sa’adah
Di Depok

Saudari… yang kami hormati
Islam adalah agama damai yang tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan untuk mencapai tujuan tertentu. Termasuk di dalamnya adalah kekerasan pada istri dan anak. Islam tidak menghendaki terjadinya kekerasan pada keduanya, meskipun dilakukan dalam rangka pendidikan pada anak.
Kalau mengamati kehidupan Rasullah saw., beliau adalah orang yang selalu mengasihi anak-anak. Nabi saw. tidak pernah menyakiti atau melakukan tindak kekerasan pada mereka. Dalam sebuah Hadis diceritakan:



“Dari Abi Hurairah (beliau berkata), sesungguhnya Aqra’ Bin Habis melihat Nabi saw. mengecup Hasan. Kemudian ia berkata: saya mempunyai sepuluh anak, dan tidak satu kalipun aku mengecup mereka. Lalu Nabi bersabda: orang yang tidak punya belas kasih, maka tidak akan mendapat belas kasih (dari yang lain)”. (HR. Muslim)

Memang ada hadis yang seakan-akan memberikan peluang untuk melakukan kekerasan tersebut. yakni sabda Nabi saw.:



“Perintahkanlah anakmu untuk melakukan shalat ketika ia berusia tujuh tahun. Dan (jika masih belum shalat maka) ’pukullah’ (idhribu) mereka setelah berusia sepuluh tahun. Serta pisahkan mereka (laki-laki dan perempuan) dari tempat tidurnya”. (HR. Abu Daud)  

Begitu pula dengan firman Allah swt. yang sering dipahami sebagai kebolehan untuk memukul perempuan yang sedang nusyus. Namun sebenarnya kata dharaba yang digununakan pada ayat dan hadis tersebut, tidak hanya berarti memukul, tapi juga berarti mendidik, membimbing dan menuntun. Karena itu, hadis dan ayat tersebut tidak dapat dipahami sebagai anjuran untuk memukul anak dan istri jika mereka belum mau melaksanakan perintah Allah swt. Tetapi hendaknya diajari tata-cara shalat yang baik dan benar, bimbinglah mereka untuk selalu mengingat dan mengerjakan shalat dan kembali taat kepada Allah dengan pendekatan-pendekatan kejiwaan, bukan dengan kekerasan.  Dengan cara tersebut maka anak akan menuruti perintah orang tuanya.

Jika berbicara tentang pendidikan anak, maka kekerasan yang diterima si anak akan selalu membekas dalam memori, ingatan dan jiwanya. Kekerasan tersebut dapat  mempengaruhi tingkah laku dan pola kehidupannya setelah ia dewasa. Sebagaimana hadis Rasul:


“Setiap anak terlahir dalam keadaan suci-bersih, maka ayahnya yang akan menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (HR. Baihaqi)

Dr. Musthafa Fahmi menyebutkan beberapa dampak negatif kekerasan dalam pendidikan. Pertama, terlalu sopan dan patuh pada penguasa, mempunyai kecenderungan merasa hina dan tidak mampu menyuarakan pendapat dan berdiskusi seperti anak kecil. Kedua, tidak mempunyai keberanian untuk berterus terang, sangat tergantung pada orang lain dan tidak mampu mengambil kebijakan tanpa bantuan pihak lain. Mereka selalu menunggu apa yang diperintahkan kepadanya, tanpa ada usaha untuk melakukan sesuatu atas inisiatif sendiri. Ketiga, tidak dapat merasakan kesenangan hidup. Mereka selalu memikirkan tanggung jawab dan pekerjaan. Keempat, tidak mampu menghadapi situasi begaimanapun tingkat kesukarannya. Sebab mereka sudah terbiasa menjadi pengikut, bukan orang yang diikuti. ( Prof. Dr. Musthafa Fahmi, Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Bulan Bintang, 1977, h. 102-103)

Kalau kita menginginkan anak, istri, dan juga suami, atau siapapun menjadi baik, kekerasan bukanlah jalannya. Uswah atau teladan dari orang yang penuh kasih sayang (rahmah) dan juga adil, adalah salah satu kuncinya. Sebab bagaimana kita bisa menyuruh anak shalat jika kita sendiri tidak melaksanakannya. Mustahil kita bisa menyuruh anak belajar di malam hari jika setiap malam orang tuanya duduk manis berjam-jam di depan televisi. Dan tidak kalah pentingnya adalah doa selalu dipanjatkan, memohon kepada Allah swt. siang dan malam agar anak-anak, suami-istri atau pasangan kita benar-benar sebagai penyejuk hati buat kita, menjadi keluarga yang shalih, sakinah, mawaddah, dan penuh kasih sayang serta sukses dalam kehidupan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Wallahua’lam bisshawab.[]

Assalamu'alaikum Pak Kyai,

Saya, Hayati, lajang, usia 43 tahun, bekerja di perusahaan asuransi. Secara finansial, saya berkecukupan. Hingga usia sekarang, saya belum mempunyai pendamping hidup, sementara teman- teman SMA saya sudah mempunyai keluarga, anak- anak, bahkan ada yang sudah mempunyai cucu. Secara pribadi sebenarnya saya tidak terlalu pusing dengan status saya yang lajang pada usia di atas kepala empat. Tetapi orang tua terutama Ibu yang mulai sakit-sakitan selalu mendesak saya untuk segera menikah sebelum beliau dipanggil  Allah swt.

Beberapa ikhtiar sudah saya lakukan, misalnya membuka diri dalam pergaulan baik secara langsung, maupun meminta bantuan teman-teman dekat agar mencarikan jodoh yang statusnya lajang maupun duda. Minta doa kepada kyai juga sudah saya lakukan. Bahkan saya pernah mendatangi  peramal untuk melihat peruntungan saya dalam hal jodoh. Disebutkan oleh peramal itu,  jodoh saya masih tertutup karena dilakukan oleh mantan pacar saya ketika SMA. Sebenarnya saya tidak percaya, saya lebih percaya bahwa Allah swt. sudah mempersiapkan jodoh buat saya, hanya saja memang kami belum dipertemukan.

Saya paham bahwa lahir, rejeki dan mati itu sudah diatur Allah swt. Tetapi adakah ikhtiar-ikhtiar yang bisa saya lakukan agar saya bisa semakin dekat dengan jodoh saya? mohon petunjuk dari Kyai. Demikian, terimakasih

Wassalam, Hayati,
Serayu, Jawa Tengah

Jawaban :

Wa'alaikum salam wr.wb.

Saudari Hayati yang saya hormati,
Sebelumnya saya menaruh apresiasi yang tinggi kepada diri saudari. Atas kepatuhan saudari kepada orang tua, serta kesabaran saudari yang berusaha untuk terus memenuhi keinginannya. Dan jika melihat apa yang disampaikan tadi, saya dapat menangkap bahwa saudari sebenarnya orang yang memiliki keimanan yang kokoh di mana itu merupakan modal utama yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan agar tetap tegar.

Terkait dengan apa yang Anda tanyakan, maka sebenarnya apa yang saudari lakukan itu sudah sesuai dengan tuntunan Allah swt. serta teladan yang diberikan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Oleh karena itu, kesabaran dan baik sangka kepada Allah swt. harus selalu ditumbuhkan dalam diri Anda. Mungkin ada rencana besar dari Allah swt. untuk Anda, atau bisa jadi Allah sedang menguji saudari, yang jika bisa lulus dari ujian itu, Allah swt. mengangkat derajat Anda ke tempat yang lebih tinggi.

Saudari Hayati yang saya banggakan. Semua hal di dunia ini tidak ada yang bisa lepas dari kehendak dan kekuasaan Allah swt. Seluruhya akan berjalan sesuai dengan ketentuanNya dan seiring dengan skenario yang telah ditetapkannya. Termasuk pula masalah jodoh, kematian dan, rizki semuanya telah diatur oleh Allah swt.



”Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi- rapinya.” (QS.Al Furqan : 2)

Namun, Allah swt. tidak menginginkan seorang hamba untuk berdiam diri menunggu takdir apa yang akan diberikan Allah swt. kepadanya. Allah  swt. tetap mewajibkan seorang hamba untuk berikhtiyar. Usaha ini diperlukan karena seseorang tidak mengerti jenis takdir apa yang akan diberikan Allah swt. kepadanya. Firman Allah swt.


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Ra'd, 11)

Setelah itu berdoa sebagai salah satu bentuk penyerahan diri kepada Allah swt. karena keputusan akhir dari usahanya tetap hak sepenuhnya dari Allah swt.



”Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Tidak terkecuali dalam masalah jodoh. Allah swt. telah menentukan bahwa semua sesuatu di bumi diciptakan berpasang-pasangan.  Firman Allah  swt. :


”Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang- pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (QS. Al-Dzariyat, 49)”

Walaupun Allah swt. telah menggariskan demikian, namun manusia juga diperintahkan untuk berusaha mencari jodohnya. Dalam hal ini kita bisa belajar dari kehidupan Rasulullah saw.. dan sahabatnya. Perempuan-perempuan pada masa Rasulullah  saw. tidak hanya berdiam diri dalam mencari jodohnya. Mereka juga proaktif dalam mencari pasangannya, dan itu bukan merupakan hal yang tabu.

Tidak jarang mereka memulai terlebih dahulu dan mengajak seorang laki-laki untuk menikah. Seperti yang dilakukan oleh Khadijah ra. yang meminang Rasulullah  saw. Karena terpikat akhlak mulia Rasulullah saw. Atau kisah seorang perempuan yang meminta untuk dinikahi oleh Rasulullah  saw. namun ditolak secara halus dan akhirnya dinikahkan dengan seorang sahabat dengan mas kawin bacaan ayat Alquran. Tidak hanya itu, orang tua mereka juga berperan aktif mencarikan pasangan untuk anak-anaknya. Seperti yang dilakukan oleh sayyidina Umar ra. ketika melamar Rasulullah saw. untuk menikahi putrinya yang bernama Hafsoh ra.

Setelah semua usaha ini dilakukan maka berdoalah dengan penuh keyakinan, Anda sendiri atau orang tua Anda. karena dengan doa tidak ada sesuatu yang sulit atau mustahil. Ketika Allah swt. telah mengabulkan doa kita, semua persoalan yang kita hadapi akan mudah dan diberikan jalan yang lapang. Meminta kepada Allah swt. agar diberikan jodoh yang terbaik, yang dapat membahagiakan. karena apalah artinya ketika Anda mendapatkan pasangan, yang ternyata malah menyengsarakan. Di antara do'a yang dianjurkan oleh sebagian ulama adalah:



“Ya Allah, utuslah seorang (calon) suami yang shalih untuk meminangku/putriku, dengan berkah kebenaran firman-Mu yang qadim serta rasul-Mu yang mulia dan sebab berkah sebanyak-banyaknya dari bacaan yang artinya “Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah  swt. Yang Mulia.” (dibaca 3X setelah sholat lima waktu)”

Akhirnya saya ucapkan selamat berikhtiar semoga  Allah menolong Saudari. q