Items filtered by date: September 2016 - Rahima
Friday, 16 September 2016 06:36

Mengkaji Perempuan: Mengkaji Perubahan Bangsa

“Kalau perempuan daerah sini mah lulus SMP langsung nikah neng, selain karena ndak punya uang buat nerusin, jaraknya juga jauh, harus ke luar kecamatan, toh nanti perempuan baliknya juga ke dapur”. Pernyataan di atas merupakan gambaran tetang kehidupan perempuan daerah tertinggal di salah satu daerah Jawa Barat. Karena pernikahan yang masih dalam usia premature, angka perceraian juga sangat tinggi. Tentu saja dalam kasus seperti ini, perempuan sendirilah yang akan menjadi korban pertama. Mengapa hal ini masih terjadi di saat sebagian aktifis perempuan sudah mendebatkan mengenai double burden, gaji perempuan yang didiskreditkan, dan berbagai masalah baru lainnya. Dalam tulisan ini penulis ingin berbagi cerita mengenai pengalaman refleksi penulis, sekaligus mencoba menganalisis penyebab, dan bagaimana cara untuk keluar dari masalah klasik ini.

Kehidupan masyarakat petani pedesaan sangat bergantung pada alam yang ada di sekitarnya.  Dalam masyarakat pegunungan misalnya, hasil tanam sawah dan ladang merupakan sumber perekonomian utama. Sawah di dataran tinggi bisa panen 2-3 kali dalam satu tahun, dan oleh masyarakat biasanya hasil panen digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Jarang sekali masyarakat menjual hasil panen mereka pada tengkulak. Padi yang sudah menua dipanen, dijemur, dan disimpan di gudang masing-masing. Hasil jagung masyarakat bisa dipanen 2 kali dalam satu tahun. Jagung yang sudah siap panen diambil dari ladang, dipisahkan dari bonggolnya,  dan dikeringkan. Harga jualnya sangat rendah, apalagi saat panen melimpah. Hal ini belum termasuk saat babi hutan menyerang tanaman ladang mereka.

Dalam menggarap sawah maupun ladang, masyarakat pegunungan melakukan secara bersama-sama, baik laki-laki maupun perempuan. Perempuan tugas utama adalah urusan domestic, memasak, membersihkan rumah, dan merawat anak. Setelah tugas itu selesai, mereka akan bergegas ke ladang. Tidak hanya orang tua, saat musim panen tiba, sekolahan akan terlihat sangat sepi. Hal ini karena anak-anak memilih pergi ke ladang untuk membantu orang tua mereka. Secara sepintas tidak ada yang salah dari rotasi pekerjaan di atas, namun jika melihat lebih mendalam akan muncul permasalahan-permasalahan dari sana. Saat masyarakat telah memiliki kesibukan di ladang tentu konsentrasi dan perhatian untuk pendidikan anak akan terbagi, bahkan terabaikan. Anak-anak datang dari sekolah karena jarak tempuh yang jauh kadang sampai sore baru sampai. Tugas sekolah kadang tidak terselesaikan, karena tingkat pendidikan orang tuapun rendah. Mereka sering membolos sekolah saat panen akan mengurangi semangat belajar. Beberapa anak sering tidak berangkat karena malas. Ini adalah masalah pertama, sektor perekonomian.

Adanya berbagai program pendidikan seperti wajar 9 tahun sangat membantu masyarakat dalam mengakses pembelajaran formal. Dengan adanya pembangunan sekolah baru, dan gratis biaya pendidikan melalui BOS masyarakat tidak perlu khawatir dalam hal pendidikan. Secara kuantitas, hampir semua masyarakat bisa mengakses pendidikan sampai 9 tahun, lalu bagaimana dengan kualitas pendidikannya. Secara umum tenaga pendidik memiliki dedikasi tinggi untuk mencerdaskan generasi bangsa. Namun jika harus menempuh jarak yang sangat jauh dengan infsastruktur jalan yang sangat kurang memadai, tentu beberapa tenaga pendidik memilih daerah yang lain. Akibatnya, SDM tenaga pendidikpun masih sangat kurang. Selain itu rasio guru dan murid tidak seimbang. Dalam satu kelas bisa mencapai 60 anak dengan satu guru. Hal ini bukanlah jumlah ideal sebuah kelas. Beberapa kebijakan pemerintahan pusat yang sering berganti pada system pendidikan sangat membebani para pengajar. Kondisi daerah yang sangat minim fasilitas, dan jarak tempuh yang jauh menjadi kendala. Berbagai kebijakan kurikulum yang sering berganti membuat pengajar semakin mengalami beban. Salah satunya adalah kebijakan fullday untuk program sekolah. Hal ini tentu tidak sesuai dengan keadaan yang ada di daerah pedesaan.

Angka perceraian yang sangat besar bisa terjadi karena beberapa factor seperti SDM rendah, masalah perekonomian, dan budaya patriarkhi. Sumber Daya Manusia sangat terkait dengan tingkat pendidikan. Sebagaimana uraian sebelumnya ketersediaan pendidikan di Indonesia masih belum merata, terutama daerah-daerah tertinggal. Selain itu, posisi tawar perekonomian masyarakat pertanian belum bisa memberikan hasil yang baik. Hasil pertanian sebagian hanya bisa dijadikan sebagai usaha memenuhi kebutuhan pokok. Hal ini karena modal tenaga yang dikeluarkan sehari-hari tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh saat musim panen tiba. Belum lagi adanya serangan hama seperti babi hutan.

Dalam masyarakat pertanian terutama masyarakat pedesaan budaya patriarkhi sangat kental. Jika dilihat dari struktur pola kerja, antara perempuan sebagai istri, dan laki-laki sebagai suami memiliki posisi yang sama dalam masalah perekonomian. Keduanya secara equel melakukan usaha untuk menopang perekonomian keluarga. Namun dalam hal pengambilan keputusan, sepenuhnya diserahkan kepada laki-laki. Prioritas yang diberikan kepada laki-laki lebih besar. Seperti halnya dalam pendidikan, jika dalam keluarga terdapat anak laki-laki dan perempuan, maka laki-lakilah yang akan menjadi prioritas utama. Padahal tingkat kualitas seorang perempuan dalam keluarga akan menentukan bagaimana kualitas keluarga tersebut. Dalam istilah agama islam disebutkan bahwa al-um madrosatul’ula,  ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bagaimana generasi bisa terdidik dengan baik apabila ibunya tidak memiliki kualitas yang baikpula.

Hal ini diperburuk dengan adanya kesadaran yang patriarkhis dalam diri perempuan. Sehingga ketika seorang perempuan dihadapkan dengan sebuah pilihan yang memiliki tantangan besar dia memilih mundur, “ toh akhirnya kami akan kembali ke dapur” begitu ujar mereka. Sebagai sebuah gurauan, oleh seorang perempuan yang memiliki pengalaman dan berwawasan ketela bisa dijadikan tela-tela rasa yang lebih enak. Sedangkan di tangan perempuan yang kurang pengalaman mungkin akan jadi makanan ringan sebagaimana biasanya. Tahapan ini merupakan tantangan terbesar dalam melakukan perubahan, karena jika kesadaran untuk berubah belum ada, maka dorongan apapun tidak ada artinya. Hal ini bukan sesuatu yang baru, ideology ini bisa jadi karena  kebiasaan yang telah terjadi selama turun menurun dalam masyarakat yang telah membudaya, dan ditambah dengan pemahaman agama yang sering mengalami bias.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk melakukan perbaikan pada masalah ini. Sinergi berbagai komponen sangat perlu dilakukan. Baik oleh masyarakat, tokoh masyarakat dan juga pemerintah. Sebagai payung dalam sebuah Negara, pemerintah memiliki kewajiban penuh untuk memberikan dorongan terciptanya kesejahteraan bagi semua masyarakat. Hal ini melalui kebijakan-kebijakan yang mempertimbangkan berbagai kondisi yang berbeda pada suatu daerah. Tokoh masyarakat menjadi actor penting dalam masyarakat pedesaan. Karena panutan  masyarakat biasanya terdapat pada tokoh masyarakat seperti orang yang dituakan ataupun tokoh agama setempat. Mereka merupakan titik strategis untuk memberikan pemahaman pada masyarakat. Selain itu, kesadaran dan kemauan masyarakat menjadi kunci pembuka perubahan. Saat masyarakat telah membuka diri, maka pengetahuan, wawasan, dan dorongan yang ada akan menjadi sangat berguna. Kebijakan Pemerintah, petuah para tetua, dan semangat berubah dari masyarakat akan menjadi tiga obor perubahan masyarakat pada kehidupan yang lebih baik.

Penulis: Nur Khoiriyah

Peserta Program Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Angkatan IV dan Pengamat Isu Perempuan| Mahasiswa Paskasarjana Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIPOL UGM

Published in Artikel