Pada Jumat, 10 Februari 2017, Rahima berhasil mengadakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat umum berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan dan akses layanan BPJS terkait kespro. Sebanyak 54 perempuan antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 11.30 siang di Aula RW 01, Kelurahan Rambutan, Kecamatan Ciracas Jakarta Timur. Mereka yang hadir adalah warga masyarakat sekitar dan juga ada dari warga yang pernah menjadi subjek penelitian tahap II. Dalam kegiatan ini menghadirkan empat orang pembicara: AD Eridani Rahima, dr. Nurul Vitriyah (Puskesmas Kelurahan Rambutan), Dea (BPJS Kesehatan Cabang Jaktim), dan Ida Ramida (Suku Dinas Kesehatan Jaktim).

Dalam sambutannya di awal kegiatan, Ibu Kepala RW 01, Yati, menyambut baik kegiatan sosialisasi yang digelar di wilayahnya. Menurutnya, informasi yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi ini adalah informasi yang sangat penting namun belum semua warganya mengetahui informasi dan pengetahuan, khususnya terkait kespro dan akses layanan BPJS. Untuk itu, dia meminta kepada warga yang hadir untuk dapat mencatat informasi yang disampaikan oleh para pembicara. Dan juga, Yati menegaskan agar informasi yang diperoleh dapat disampaikan lagi mulai dari keluarga sendiri dan orang lain. “Jangan disimpan sendiri”, begitu katanya.

Pembicara pertama, AD Eridani menyampaikan mengenai pentingnya kesadaran masyarakat, khususnya perempuan, untuk mengenali identitas dan peran dirinya sebagai perempuan.  Dengan tumbuhnya kesadaran dan kepekaan dapat mendorong  warga untuk lebih berani berperan aktif di tengah masyarakat dan keluarga sekaligus peduli dan aware terhadap tubuh perempuan. Dengan menggunakan bahasa yang renyah dan sederhana, warga diajak untuk mengenali perbedaan dan pembedaan gender melalui sejumlah visualisasi gambar-gambar yang berhubungan erat dengan kegiatan sehari-hari di keluarga.

Lalu pembicara kedua, Nurul Vitriyah yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter di Puskesmas Kelurahan Rambutan menyampaikan mengenai berbagai persoalan kesehatan reproduksi perempuan. Secara khusus Nurul menyoroti mengenai kanker serviks atau kanker leher rahim, apa itu kanker Serviks, bagaimana mengenalinya, serta bagaimana upaya dan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh warga terhadap kanker Serviks. Nurul menyampaikan berbagai data-data tentang banyanya kasus dan kematian akibat kanker Serviks, faktor-faktor penyebab. Upaya pencegahan juga dipaparkannya mulai dari langkah pencegahan, detektsi dini melalui Papsmear dan IVA Test, hingga tahap pengobatan yang dapat dilakukakan seperti dengan Kemoterapi, radioterapi, pembedahan, ataupun juga melalui konsultasi kepada dokter. Terkait IVA test, Nurul juga menjelaskan tentang siapa yang dapat melakukan Iva test, dan dimana warga dapat melakukan Iva Test. Selain IVA test, Nurul juga membahas detail mengenai upaya deteksi dini yang dilakukan dengan Papsmears. Namun dia mengatakan, bahwa Puskesmas baru dapat memberikan layanan IVA Test kepada masyarakat umum kapan saja. Akan tetapi untuk Papsmears hanya dilakukan berkala setahun 2 kali atau diadakan bila ada kerjasama dengan lembaga lain. Perbedaan ini terkait dengan biaya operasional Papsmears yang lebih mahal ketimbang IVA Test.

Setelah paparan dari segi kesehatan, pembicara dari BPJS, Dea, menyampaikan mengenai berbagai layanan dan berbagai ketentuan terkait layanan kesehatan dengan menggunakan BPJS. Awal paparannya mengupas lebih banyak mengenai program jaminan kesehatan nasional-kartu indonesia sehat (JKN-KIS). Diantaranya mencakup penjelasan mengenai sistem jaminan sosial nasional, kepesertaan, manfaat jaminan kesehatan, dan sanksi-denda. Disamping penjelasan umum berkaitan dengan program JKN-KIS, pembicara juga menyampaikan secara khusus mengenai layanan BPJS yang berkaitan kesehatan reproduksi. Layanan BPJS terkait kespro menyangkut promotif dan preventif seperti IVA Test, keluarga berencana, dan juga KB steril. Untuk IVA Test dan keluarga berencana dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, sedangkan untuk KB Steril hanya dapat dilakukan di fasilitas kesehatan rujukan. Selain itu, perwakilan BPJS Jaktim ini juga menyampaikan mengenai layanan untuk ibu melahirkan bahwa bayi yang masih dalam kandungan sudah dapat didaftar sebagai peserta BPJS sehingga ketika lahir dapat dicover oleh layanan BPJS. Masalah mana saja yang dicover dan tidak dicover oleh layanan BPJS juga disampaikan kepada warga.

Dan pembicara terakhir, Ida Ramida, koordiantor pelayanan kesehatan Sudinkes Jakarta Timur lebih banyak memberikan dorongan kepada warga untuk lebih memperhatikan kesehatan reproduksinya. Ida menyatakan bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena umumnya masyarakat baru menyadari pentingnya untuk menjaga kesehatan reproduksi bilamana baru merasakan ada yang tidak sehat pada organ reproduksinya. Pada saat itu masyarakat baru sadar. Ida pun menyadari bahwa membangun kesadaran masyarakat tidak dapat dilakukan oleh Sudinkes sendiri. Kesadaran ini, menurutnya, harus tumbuh dari setiap orang. Maka ia pun mengapreasi kegiatan sosialisasi ini sebagai upaya untuk membangun kesadaran masyarakat.*