Selamat datang di website Rahima, berikut ini adalah kegiatan kami

Di jelang long week-end, tepatnya Rabu 4 Mei 2016, di salah satu hotel di kawasan Jl.Wahid Hasyim Jakarta Pusat, sekitar 25 orang tengah berkumpul bersama membincang isu-isu perempuan yang masih marak hingga kini :  Pernikahan Anak dan Poligami. Kedua isu itu diangkat sebagai bagian dari isu tematik mengenai isu-isu perempuan dalam kerjasama dalam pembangunan yang diselenggarakan oleh Rahima bekerjasama dengan GIZ, sebagai bagian dari penguatan kapasitas staf di kedua lembaga.

Diawali dengan ucapan selamat datang yang disampaikan oleh Direktur Rahima, Aditiana Dewi Eridani yang juga menyampaikan bahwa diskusi tematik ini merupakan follow up dari diskusi pertama sebelumnya yang mebahas soal Islam dan  Kesetaraan Gender. Selanjutnya, perwakilan dari GIZ, Dr. Nadja Jacobuwski Gozali juga menyampaikan terimakasih atas kesediaan Rahima mendampingi proses belajar bersama bagi para staf GIZ yang bekerja di berbagai bidang dengan berbagai KL. Kedua isu ini menarik, mengingat isu pernikahan anak dan poligami, termasuk bagian dari persoalan ketidakadilan gender dalam pembangunan.

Acara ini dibagi 2 sesi. Pertama, membincang isu pernikahan anak, dengan dipandu oleh AD. Kusumaningtyas sebagai moderator. Dan sesi kedua kedua membincang isu poligami. Kedua isu ini dibahas oleh 2 narasumber Rahima yakni Dr. Nur Rofiáh Bil Uzm. Dan Ustadz Imam Nakhei.

Di sesi pertama, para peserta diminta untuk terlebih dahulu mengungkapkan apa pandangan mereka tentang pernikahan anak dalam Islam ? Jawabannya beragam, namun secara umum menyatakan ketidaksetujuannya. Pernikahan anak dapat menimbulkan berbagai dampak seperti hilangnya masa bermain dan kesempatan belajar anak, adanya gangguan kesehatan reproduksi karena rahim seorang perempuan yang masih berusia anak belum kuat, bisa memunculkan situasi dimana anak-anak harus mengurus anak-anak, maka oleh sebab itu pernikahan sebaiknya dilakukan di usia dewasa, dan bukan terhadap anak yang masih berusia 18 tahun. Namun, ada pula peserta yang mengungkapkan bahwa banyak pelaku nikah anak berdalih mengikuti sunnah Rasul yang menikahi Aisyah saat berusia 6 tahun dan selanjutnya hidup bersama saat usia Aisyah 9 tahun.

Berefleksi dari pengalamannya saat melakukan penelitian tentang Qiwamah dan Wilayah (Qiwi) di Cianjur, narasumber pertama yakni Dr. Nur Rofiah mengungkapkan bahwa beliau masih menemukan salah seorang subjek (responden penelitiannya) di tahun 2014 yang lalu, yang saat itu berusia 25 tahun telah menikah beberapa kali dan memiliki 6 orang anak. Pernikahan pertamanya dilakukan saat responden tersebut berusia 13 tahun. Situasi ini menunjukkan bahwa kasus pernikahan anak di Indonesia hingga kini masih ada, dan keluarga yang dibangun dengan fondasi yang tidak terlalu kuat tersebut rentan mengalami perceraian. Menanggapi pandangan soal pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah saat dia masih berusia 6 tahun, Mbak Nur menyatakan bahwa kita perlu melakukan kontekstualiasi atas makna “baligh”, selain menunjukkan  bahwa sebenarnya ada banyak rujukan lain terkait dengan hadis yang diriwayatkan oleh Urwah Bin Hisyam yang menyatakan, sebenarnya bukan pada usia semuda itu Aisyah menikah. Dikaitkan dengan studi antropologis masa Hijrah dan komparasi dengan usia Asma Binti Abu Bakar, kakak Aisyah; dimungkinkan adanya kesimpulan lain. Bahwa Nabi menikahi Aisyah bukan di usia 6 tahun, namun 17 tahun. “Namun sayang, informasi-informasi seperti ini kalah popular,” tandas Nur Rofiah. Nur Rofiah juga mengeksplorasi

Menambahkan Nur Rofiah, Ustadz Imam Nakhei menambahkan, bahwa dengan pernikahan antara Nabi dengan Aisyah,  terkait dengan upaya Abu Bakar yang berupaya dengan segala cara untuk menghibur Nabi yang ditinggalkan orang-orang tercintanya (wafatnya Khadijah isteri beliau dan Abu Thalib paman beliau) pada masa ‘amul huzn (tahun berkabung). Keceriaan Aisyah mengembalikan lagi semangat hidup dan semangat Rasulullah.
Pada sesi kedua, saat membahas poligami, Dr. Nur Rofiah membagi peserta ke dalam empat kelompok dan membahas beberapa potongan ayat dalam QS. An Nisa ayat 3. Masing-masing kelompok mendapatkan teks dengan potongan yang berbeda. Secara berbeda, mereka menyimpulkan bahwa “boleh berpoligami dengan menikahi 2, 3, atau 4 perempuan”, di kelompok lain menyimpulkan “poligami boleh dilakukan dengan syarat bisa berlaku adil”, kelompok lain berkesimpulan bahwa “isu poligami sangat terkait dengan pengelolaan harta anak yatim, sehingga ia tidak berdiri sendiri”, dan kelompok yang terakhir menyebutkan bahwa ayat ini justru mengandung pesan utama untuk bermonogami, bukan berpoligami. Mengapa seringkali dalam teks yang sama, orang bisa mengambil kesimpulan yang berbeda? Poinnya adalah, seringkali sebuah teks sangat dipengaruhi kepentingan penafsir atau orang yang membacanya, terkait dengan penekanan (stressing) teks apa yang tengah dibacanya. Ustadz Imam Nakhai juga menambahkan, bahwa sesungguhnya kita bisa mengambil kesimpulan apa saja dari sebuah teks atau riwayat. Oleh karenanya, dalam kajian Fiqh kita bisa menemukan kesimpulan yang beragam.

Di akhir pertemuan,  para peserta menyampaikan kesannya. Mereka merasa mendapatkan ‘pengetahuan baru’  terkait dengan referensi untuk menemukan argumentasi yang lebih adil dan setara gender. Hal ini sangat penting, mengingat dalam berbagai upaya yang kita lakukan dalam pembangunan, kita akan menemukan beragam persoalan yang harus kita pahami konteksnya. Dengan demikian, kita juga akan menemukan pendekatan yang tepat untuk mengatasinya. {}

Published in Berita