PENDIDIKAN KRITIS - PENDIDIKAN KRITIS


Pengelompokan tersebut juga mempunyai aplikasi langsung dalam program pendidikan. Jack  Mezirow dari Colombia Teacher College merinci wilayah-wilayah tersebut menjadi sejumlah wilayah belajar (Jack Mezirow, Critical Theory of Adult Education, dalam Adult Education, Vol XXXI, No.3, 1980. hal 1-23) yang secara alamiyah menuntut adanya pendekatan dan metodelogi berbeda.

Tiga Wilayah Belajar

1. K e r j a Menjawab kebutuhan-kebutuhan praktis.

Wilayah ini menyangkut  pengendalian terhadap lingkungan secara teknis, termasuk social.

Habermas menyebut tindakan yang terkandung dalam wilayah ini sebagai tindakan instrumental (dimana tujuannya merupakan sarana mempraduga dan mengendalikan kenyataan secara efektif).  Realitas di reduksi menjadi suatu obyek atau suatu kejadian. Ketaraturan yang diamati, yang terjadi ketika interaksi antara berbagai variable beralangsung, kemudian di uji dan di konfirmasikan untuk membentuk suatu praduga atau teori. Sejak zaman pencerahan, ilmu pengetahuan analitis empiris dibangun atas dasar kerangka berpikir seperti itu, dan memang telah terbukti menjadi perangkat atau  instrument ampuh untuk menundukkan alam semesta dan manusia, di pradugakan, dan di kendalikan berdasarkan hokum-hukum pasti seperti yang di terapkan dalam murni (sains). Disini ilmu pengetahuan lantas`menjadi kurang bermakna dalam upaya pencariannya, karena lebih merupakan satu system untuk memperoleh dan mengabsahkan suatu ideology tertentu, Pertanyaan-pertanyaan tentang nilai sejarah tidak lagi di hiraukan. Aliran ilmu inilah yang tetap dominant sampai kini, dimana para ahli social menjadi sekadar  tukang-tukang perekayasa social yang berfungsi mengabsahkan dan melicinkan jalan bagi keberlangsungan arus budaya yang sedang berkuasa. Dalam kerangka itu pula program pelatihan manjadi sarana untuk mengatur dan menyekolahkan kembali masyarakat sesuai dengan kebutuhan ideology resmi yang direstui.

2. Interaksi Membangun interaksi hubungan antar sesama.

Wilayah ini ditandai dengan adanya tindakan komunikatif. Masih melayani kepentingan-kepentingan praktis, tetapi sudah lebih terkait dengan soal ‘pengertian’ dan ‘makna’, bukan lagi soal teknis belaka.

Lebih dari empiris, Habermas menyebut ilmu-ilmu historical-hermeuneutik sebagai golongan yang masuk dalam wilayah ini. Hermenutik memnutuhkan proses penerjamahan dan tindakan komunikasi.  Jadi ilmu pengetahuan di ciptakan melalui proses intraksi dan bukan sekadar di wahyukan. Ilmu pengetahuan hermenutik menyangkut pola-pola hubunan antar subyek, serta pengertian atau makna yang tercipta melalui prose situ, bukan realitas melulu yang hanya menjelaskan hubungan sebab-akibat.

3. Kekuasaan (dan pembebasan)

Wilayah ini membangun kesadaran, tentang kekuatan-kekuatan yang ada diri dan kekuatan-kekuatan (lingkungan) yang ada di luar diri seseoarng, yang membatasi pilihan dan daya kendali terhadap kehidupan itu sendiri,

Jika tindakan komunikatif dan pengatahuan menghasilkan norma-norma dan pola-pola hubungan antar subyek, maka pengetahuan yang bersifat membebaskan lebih menyangkut tingkat kesadaran.

Wilayah ini mengkaji dan menganalisa bagaimana kekuatan-kekuatan dalam diri seseorang dan lingkungan sekitar diluar dirinya membatasi pilihan-pilihan dan daya kendalinya terhadapa kehidupan sendiri. Wilayah ini memberikan peluang kepada kita untuk membedakan factor yang memang berada di luar kendali kita dan factor-faktor yang sebenarnya hanya menurut anggapan kita berada di luar kendali kita. Pandangan seperti ini tidak menghadapi persoalan, sebagaimana halnya pada wilayah praktis, tetapi juga terhadap akar-akar struktur dari persoalan tersebut. Dengan berusaha memahami akar-akar structural akan membawa kita kepada proses meninjau kembali dan menilai ulang atas`peranan umat manusia sepanjang sejarah memlaui proses mawas diri, sampai kepada pengertain tentang proses-proses dimana suatu struktur social di ciptakan kembali dengan bebagai kemungkinan dampaknya yang membatasi ruang gerak kita.

Secara singkat  proses pendidikan : (1) dimulai dengan hal-hal praktis; (2) membangun interaksi antara peserta belajar, antar peserta belajar dengan lingkungannya, dan; (3) pada akhirnya, proses pendidikan mengkaji dan berusaha memahami akar-akar struktur dari persoalan-persoalan yang ada. []