Masa Depan SUram Bagi Pernikahan Anak Featured

10 Apr 2017 Nyai Dr. Hj. Afwah Mumtazag
1074 times

Dirasah Hadis

Masa Depan Suram

Bagi Pernikahan Anak

Oleh : Dr.Hj. Afwah Mumtazah

Meski informasi tentang pernikahan anak-anak membawa dampak negatif sudah menyebar dan bahkan menjadi viral di medsos, tetapi pernikahan anak masih saja terjadi, bahkan akhir-akhir ini makin menguat seiring pelakunya adalah tokoh masyarakat (tomas) dan keluarga selebriti. Kebanyakan pernikahan anak-anak obyeknya adalah perempuan, seperti kasus Lutviana Ulfa yang dinikahi Syekh Puji. Akan tetapi tahun ini putra Arifin Ilham yaitu Alvin Faiz 17 tahun menikahi gadis keturunan Tionghoa Larissa Chou 20 tahun dimana mempelai putranya adalah kategori terlarang melakukan pernikahan karena belum cukup umur menurut UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam pasal tersebut di sebutkan bahwa pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai 19 tahun dan pihak perempuan 16 tahun. Argumentasi agama dengan teks-teks hadis dan ayat –ayat al Quran yang dikemukakan di beberapa medsos menuai pembenaran banyak netizen yang awam tentang wacana kespro serta kesiapan mental terkait usia pengantin, Alih-alih mereka prihatin, tapi malah bersimpati dan mendukungnya dengan dalih sesuai anjuran Alquran-Hadis untuk menghindari zina, menolak pergaulan bebas sebagaimana lazimnya remaja masa kini.

Dalam komunitas pesantren, pernikahan anak-anak masih dipandang sebagian orang tua sebagai alternatif terbaik. Awalnya adalah karena keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan ke pendidikan tertinggi, menghindari pergaulan bebas atau karena anak sudah tidak lagi mempunyai motivasi untuk meneruskan belajar. Adalah Rosa kelahiran Cirebon 13 tahun lalu dinikahkan orang tuanya karena ketahuan kerabatnya berada sekamar dengan Andi yang sama-sama berumur 13 tahun. Ketika hari “H” terjadi kehebohan dan menjadi pembicaraan karena Andi mogok untuk diiring menuju majelis akad. Miris bercampur lucu bagi para tamu tatkala mogoknya Andi ditampakan dengan menangis meraung-raung di tanah. Ini tentu bukan sesuatu yang sederhana, tapi lebih kepada kesiapan mempelai secara mental dalam mengarungi mahligai rumah tangga.

Pembenaran yang disodorkan adalah pernikahan Rasulullah saw. dengan Siti Aisyah putri Abu Bakar yang berusia 9 tahun. Dalil ini banyak digunakan sebagai sumber rujukan orang-orang yang ingin melaksanakan pernikahan anak.

Telaah Kritis atas Hadis Pernikahan Aisyah

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Segala hal yang terkait dengan persoalan hidup selalu merujuk kepada ajaran Alquran dan Hadis. Adalah kebanggaan ketika meyakini bahwa sebagai mayoritas, muslim Indonesia hidup dalam tradisi fiqh dengan pandangan dan interpretasi yang beragam. Ini menunjukan betapa kayanya khazanah Islam klasik. Apalagi memahami bahwa teks hadis dan Alquran selalu hidup dalam keputusan fiqh yang berkolerasi dengan tempat, waktu, individu, politik, keadaan sosial, ekonomi, juga peradaban.

Keterbatasan memahami teks hadis dan membaca realitas menghasilkan konsekuensi yang berbeda dalam keputusan hukum. Ini terkait dengan hadis riwayat Bukhari Muslim yang menyatakan bahwa Aisyah dinikahi Nabi Muhammad saw. pada saat berumur 6 tahun dan berumah tangga bersama Rasulullah pada saat 9 tahun, adalah sesuatu yang dipercayai selama berabad-abad lamanya karena periwayatan Bukhari Muslim adalah jaminan mutu dalam keshahihan suatu hadis.Tentu saja, ini menimbulkan celah cibiran dan hujatan orientalis yang melontarkan tuduhan Rasulullah adalah paedofil. Karena itu sudah saatnya sekarang menelaah kembali hadis tersebut karena sangat tidak rasional jika Nabi menikahi anak kecil yang baru lepas setahun dari masa balita.

Kritik Sanad Hadis Pernikahan Aisyah

Pernikahan Nabi dengan Aisyah ini banyak bertebaran dalam kitab-kitab hadis, anehnya semua bersumber kepada Hisyam Bin Urwah dan satu-satunya yang membicarakan umur Aisyah r.a . Abu Hurairah dan Anas bin Malikpun tidak pernah mengungkapkannya.

Hasyim yang mendengar dari ayahnya dalam riwayat Imam Bukhari dalam kitab shahihnya :

قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الحَارِثِ بْنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعَرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فَأَتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وَإِنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، وَمَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بِي فَأَتَيْتُهَا، لاَ أَدْرِي مَا تُرِيدُ بِي فَأَخَذَتْ بِيَدِي حَتَّى أَوْقَفَتْنِي عَلَى بَابِ الدَّارِ، وَإِنِّي لَأُنْهِجُ حَتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أَخَذَتْ شَيْئًا مِنْ مَاءٍ فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَرَأْسِي، ثُمَّ أَدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي البَيْتِ، فَقُلْنَ عَلَى الخَيْرِ وَالبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِنَّ، فَأَصْلَحْنَ مِنْ شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

(al Bukhori , 256 , Ashohih 5/55 no 3894 )

Artinya :

Aisyah r.a. berkata : Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah dan singgah di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok setelah sembuh rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku Ummu Ruman datang menemuiku saat aku berada dalam ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggil aku lalu aku didatangi sementara aku tidak mengerti apa yang di inginkannya, ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai didepan pintu rumah. Aku masih dalam keadaan terengah-engah hingga aku menenangkan diri sendiri, kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukan aku ke dalam rumah itu yang ternyata di dalamnya ada wanita Anshar.Mereka berkata: Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan, dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik”. Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku . Tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah. Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau di saat usiaku sembilan tahun.


Hadis Imam Muslim

قال: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، ح . وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

Artinya :

Rasulullah menikahiku ketika umur enam tahun dan beliau menggauliku ketika umurku sembilan tahun.” (Muslim 261, Assahih, 2/1038 no 1442)

Berdasarkan data yang diambil dari hasil riset Dr. Syafii Antonio dalam bukunya Muhammad saw. The Super Leader Super Manager (2007) menyatakan bahwa : Hisyam meriwayatkan hadis tersebut tatkala beliau berumur 71 tahun setelah bermukim di Irak. Sebagai rawi kualitas Hisyam diakui sebagai perawi yang tsiqah, sebagaimana di kemukakan oleh Ya’qub Bin Syaibah : “ Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala pindah ke Irak” Syaibah menambahkan bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq.[1] Sebagaimana lazimnya orang yang berusia lanjut maka daya ingatnya pasti sangat jauh menurun, dalam ilmu hadis sangat mempengaruhi kevalidan hadis dari sisi sanad.

Hadis yang dihasilkan dari rawi yang kedhabitannya tidak tam (tidak sempurna) atau karena suul hifdzi (kurang bagus hafalannya) ataupun pikun membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif.[2] Maka dengan sendirinya riwayat Hisyam menjadi tertolak.

Melihat kembali Tahun Kelahiran Aisyah

Untuk melihat berapa umur Aisyah ketika dinikah Nabi adalah dengan melihat dan merunut peristiwa yang terkait dengan kehidupan Aisyah dan keluarga dekatnya. Ada beberapa data dibawah ini yang menguatkan Aisyah dinikahi Nabi bukan pada usia 6 atau 9 tahun :

Menghitung usia Aisyah r.a. pada saat ia dinikahkan dengan Rasulullah ada baiknya melihat kehidupan kakak kandung Aisyah yang bernama Asma. Menurut Abdurahman ibn Abi Zannad : “Usia Asma 10 tahun lebih tua dari Aisyah”.[3] Asma dikaruniai usia yang panjang hingga 100 tahun. Beliau meninggal dunia pada tahun 73 atau74 tahun Hijriyah.[4] Sementara hijrah muslimin ke Madinah terjadi pada tahun 622 H, sehingga dapat dikatakan Asma hijrah pada usia 27 atau 28 Hijriyah. Aisyah mulai hidup serumah dengan Nabi di Madinah pada tahun 623/624 Hijriah, jika dikaitkan dengan selisih umur Aisyah yang terpaut 10 tahun dengan Asma, maka pada saat Aisyah hijrah ia berumur 17 atau 18 tahun. Kemudian Aisyah mulai tinggal serumah dengan Rasulullah sebagai suami istri satu tahun setelah hijrah yaitu 623 H, maka Aisyah kala itu berarti berumur 18 atau 19 tahun.

Dalam riwayat yang lain, berdasar pendapat Imam Thabari dalam kitabnya Taarikhul Umam mengatakan bahwa anak-anak Abu Bakar lahir pada masa zaman Jahiliyah, dan Aisyah lahir pada tahun ke empat sebelum kenabian tepatnya 606 H, kemudian dinikahi Nabi tahun 620 H, baru 3 tahun kemudian atau tepatnya 623 H ada yang menyatakan 624 H, Aisyah hidup bersama Nabi dalam rumah tangga. Jadi jika dirincikan maka 14+3+1 =18 sebagai usia Aisyah sebenarnya tatkala dinikahi oleh Nabi.[5]

Berdasarkan penulusuran dua riwayat tadi, membuka kenyataan-tanpa mengurangi penghormatan terhadap kebesaran Bukhari dan Muslim- adanya hadis dha’if dalam Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah karena diperbolehkannya meriwayatkan hadis dha’if.

Sebagaimana yang di sepakati para ulama dalam ilmu hadis bahwa hukum meriwayatkan hadis dhaif (bukan maudhu’) dan memudahkan dalam meriwayatkan dengan tanpa menjelaskan kedhaifannya itu boleh asal disertai dengan dua syarat :

Tidak berhubungan dengan akidah

Bukan menjelaskan hukum syariat yang berkaitan dengan halal dan haram

Maka ketika ada yang menggugat keberadaan kritik atas hadis usia Aisyah pada saat menikah bukan berarti suul adab terhadap Imam Bukhari dan Imam Muslim, karena dalam tradisi hadis disepakati bolehnya meriwayatkan hadis dhaif asal memenuhi dua persyaratan tersebut di atas. [6]

Imbas Pernikahan Anak

Ada banyak akibat negatif jika pernikahan dilaksanakan dalam kondisi belum cukup umur antara lain kesehatan reproduksi, perkembangan fisik dan mental atau labil secara emosional, ekonomi, pendidikan juga terhadap kemampuan anak untuk meraih hak-haknya. Merunut peristiwa pernikahan anak-anak yang terjadi penyebabnya adalah multikompleks. Kebanyakan karena alasan adanya kehamilan di luar nikah atau alasan beban ekonomi.

Perkawinan yang melibatkan anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun mempunyai unsur kuat paksaan karena : pertama, Anak biasanya belum mempunyai kapasitas untuk memahami konsekuensi perkawinan dan belum dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang cukup. Kedua, anak biasanya mempunyai pilihan yang terbatas untuk bertahan terhadap tekanan keluarga dan komunitas menyangkut perkawinan.[7]

Alquran Surat an- Nisa 19 sudah menyatakan larangan menikahi perempuan dengan jalan paksa. Begitupun hadis yang menganjurkan adanya izin dari yang bersangkutan, meski Islam membolehkan hak ijbar (memaksa) bagi wali anak.

لا تنكح الثيب حتي تستاْمر ولا البكر الا باذ نها قالوا يا رسول الله وما اذنها قال أن تسكت

( Sunan abu Daud, 290)

“Tidaklah dinikahkan seorang hamba hingga ia diperintah, dan tidak dinikahkan seorang gadis kecuali dengan izinnya.”

Hak ijbar ada dalam Islam diartikan sebagai suatu tindakan untuk melakukan sesuatu atas dasar tanggung jawab. Berdasar pengertian ini ijbar berbeda dengan ikrah, yang mempunyai pengertian paksaan terhadap seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak hati dan nuraninya namun tidak mampu melawannya karena ancaman yang membahayakan jiwa dan tubuhnya. Karena ijbar terkait dengan pemberian tanggung jawab kepada ayah atau kakek untuk memilihkan pasangan yang baik, yang tidak membahayakan anak, maka ijbar dibatasi dengan beberapa syarat. Antara lain tidak adanya permusuhan antara calon suami, ayah dan kakek, adanya mhar mitsil ( mahar perempuan lain yang setara), calon suami tidak akan melakukan tindakan yang akan menyakiti calon istrinya. Dalam praktiknya sekarang, ijbar dilakukan dengan ikrah, sehingga arti ijbar menjadi bias dan cenderung berkonotasi ikrah.

Pada beberapa orang tua di pedesaan, kewajiban pengasuhan terhadap anak hanya sampai batas baligh atau pubertas. Ketika anak perempuan sudah mengalami menstruasi dalam satu tahun pertama anak-anak dinikahkan atau diperintahkan untuk bekerja. Ironisnya, kondisi ini diperkuat oleh banyaknya hukum dan praktik yang menganggap pubertas sebagai usia minimum perkawinan. Mendefinisikan pubertas sebagai usia minimum perkawinan adalah problematik. Karena secara medis pubertas adalah sebuah proses yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dari pada sebuah peristiwa khusus yang tunggal.

Praktik adat kerap menyatakan dimulainya menstruasi sebagai indikasi bahwa gadis kecil telah mencapai pubertas.[8] Masalahnya pada era sekarang masa menstruasi seorang gadis lebih cepat datang dibanding masa lalu. Kerap ditemukan usia kelas lima dan kelas enam SD telah mendapatkan menstruasi pertama, ini dikarenakan banyak faktor yang antara lain makan makanan instant, vitamin yang dikonsumsi dan lain-lain. Pertanyaanya, apakah kondisi seperti ini dapat ditentukan usia minimum perkawinan, jika menstruasi pertama dianggap sebagai pubertas?

Perkawinan anak-anak atau perkawinan dini dapat dicegah dengan sosialisasi bahaya perkawinan anak dan adanya kesadaran memperoleh pendidikan yang tinggi di masyarakat. Kesadaran akan kesiapan mental dan fisik sebagai keharusan dalam pernikahan karena pernikahan akan dibina hingga akhir hayat sebagai komitmen “mitsaaqan ghaliiza”.

Kesiapan fisik yang diperlukan antara lain kematangan alat reproduksi yang akan difungsikan setelah menikah, terutama perempuan yang menjalankan proses reproduksi saat memulai berhubungan seksual, hamil, melahirkan, hingga menyusui. Pemaksaan dalam fungsi alat reproduksi yang belum matang akibat pernikahan anak akan membawa dampak kerusakan alat reproduksi bahkan membawa kematian, Sementara kesiapan mental sangat dibutuhkan karena perkawinan akan mengakibatkan munculnya hak dan kewajiban bagi pasangan agar mampu saling menghormati, tenggang rasa menghargai hak pasangan dan saling bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan seksual masing-masing, tugas domestik maupun publik.[9] Nigeria adalah salah satu contoh negara yang berhasil menurunkan angka pernikahan anak setelah pemerintahnya mengkampanyekan bahaya pernikahan anak dan adanya peningkatan yang signifikan terhadap pendidikan warganya

Secara umum pernikahan dini merampas sebagian besar hak anak antara lain: pengalaman belajar, dipaksa untuk menanggung beban wanita dewasa disaat usia muda, menanggung kekalahan dalam relasi kuasa atas keluarga atau suaminya yang bisa jadi jauh lebih tua. Dalam beberapa kasus, perkawinan anak mengalami ketimpangan kekuasaan berbasis gender yang disebabkan minimnya pengetahuan dan pengalaman yang membuat istri anak-anak tidak mampu menegosiasikan problem dalam interaksi sosial dengan suaminya. Secara seksual, mereka juga tidak pernah merasakan rasa nyaman dan kepuasan terkait dengan ketidakmatangan fisik dan menyebabkan resiko lebih besar dalam masalah-masalah kesehatan terkait kehamilan dan melahirkan anak, termasuk kematian ibu, vesico-vaginal fistula (VVF) [10] yang secara sederhana diartikan sebuah keadaan yang menimpa ibu melahirkan akibat persalinan yang lama atau karena penanganan yang tidak baik, dimana pasien akan merasakan dampak psikis dan psikososial karena senantiasa mengeluarkan urine dan bau yang tidak sedap setiap saat. Pasien yang mengalami ini akan dijauhi oleh rekan kerjanya bahkan ditinggalkan suaminya. Dan anal fistula[11] adalah sebuah penyakit yang penyebabnya adalah peradangan di dalam dubur tepatnya dari kelenjar anal (krypto grandural). Jika peradangan sampai kebawah kulit disekitar dubur kulit menjadi merah, sakit dan ada benjolan yang biasa disebut bisul, jika memecah nanah akan keluar dan luka mengering. Ada dua kemungkinan, bisa sembuh total atau sembuh dengan meninggalkan lubang kecil yang terus menerus mengeluarkan cairan nanah bercampur darah, meski tidak sakit ini mengganggu kehidupan sehari-hari.

Jika ini terjadi, maka sisi –sisi nilai kemanusian menjadi terkoyak hanya karena pernikahan yang dipaksakan kepada anak-anak. Secara maqashid syariah pernikahan anak-anak melanggar al Ushul al-khamsah yaitu menyalahi menjaga nyawa (hifdzun nafs), menjaga keturunan( hifdzun nasl) menjaga akal (hifdzul aql) sekaligus menjaga kehormatan (hifdzul irdh), Tentu kondisi ini sangat bertentangan dengan tujuan perkawinan dalam islam. Maka ikhtiar dan usaha sosialisasi kita untuk menghentikan pernikahan anak adalah sebuah keharusan dan menjadi bentuk ibadah sosial kita dalam khidmah kepada komunitas. Wa Allah ‘alam bisshawab. {}



Catatan Belakang :

[1] Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Tahzib al Tahzib. Dar Ihya AL-turats al-Islami, jilid II, hal.50

[2] Mahmoud At Thuhan, Taysirul Musthalah Hadits, hal.30

[3] Ath- Thabari, Tarikh Al Mamluk, jld 4, hal. 50

[4] Al Atsqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 645

[5] Kholid Shalah, Roisut tahrir Alyawmu Asabii,

[6] Mahmud Thuhan, Taysirul Musthalah Hadits, hal. 54

[7] LKiS, mengenal hak kita, hal.112

[8] Ibid, hal 112.

[9] Rahima, Keluarga Sakinah Perspektif Kesetaraan, 2002

[10] Lihat tulisan berjudul : apa itu fistula: Gejala, Penyebab, diagnosis dan cara mengobati, sebagaimana diunduh dari situs http://www.docdoc.id

[11] Lihat tulisan berjudul : Anal Abses dan Anal Fistula, 70516, seperti yang diunduh dari situs http://www. indonesiaindonesia.com

Last modified on Thursday, 17 August 2017 13:55
Rate this item
(0 votes)