Penyampaian Hasil Needs Assesment KUA tentang Kekerasan Berbasis Gender

10 Apr 2017 AD. Eridani
1504 times

Kiprah:

Penyampaian Hasil Needs Assesment KUA

tentang Kekerasan Berbasis Gender (KBG)

Salah satu tugas dan fungsi Kantor Urusan Agama (KUA) ialah mengembangkan keluarga sakinah sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk mewujudkan Keluarga Sakinah, biasanya dipenuhi oleh tiga unsur yakni sakinah (damai/tenteram), mawaddah (kasih sayang) dan rahmah (mengasihi). Rahima mendefinisikan Keluarga Sakinah sebagai keluarga yang setara, adil, dan tanpa kekerasan. Keluarga Sakinah ala Rahima ini dimulai dari masa pranikah, selama menikah hingga pernikahan usai.

Pada 3 ranah (pranikah, menikah dan pasca nikah) itu, kekerasan berbasis gender (KBG) rentan terjadi karena adanya pemahaman tentang keluarga sakinah yang tidak utuh. Untuk itu melihat peran strategis Kepala KUA, Rahima lalu menggandeng mereka untuk berupaya menghapuskan Kekerasan Berbasis Gender. Upaya Rahima itu juga dilakukan oleh 3 lembaga lain: Rifka Annisa di Yogyakarta, Yayasan Pulih di Jakarta, dan Damar di Lampung. Keempat lembaga ini tergabung dalam sebuah program bernama Prevention+: Pelibatan Laki-laki dalam Upaya Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender yang didukung oleh Rutgers WPF.

Ada empat strategi pendekatan dari program Prevention+ ini, yakni di tingkat individu, komunitas, institusi dan Negara. Rahima memilih melakukan pendekatan kepada institusi dalam hal ini melalui Kementerian Agama. Untuk tahun pertama kegiatan, Rahima memilih bekerjasama dengan Kepala kepala KUA yang ada di Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul. Pertimbangannya, selain karena kedua wilayah itu merupakan wilayah program Rifka Annisa yang sudah melakukan strategi pendekatan melalui individu dan komunitas sehingga dirasa perlu untuk melakukan penguatan di tingkat institusinya, juga karena sebagai sebuah program bersama maka kegiatan dari masing masing anggota harus saling mendukung.

Kegiatan pertama yang dilakukan Rahima, melakukan pemetaan kebutuhan (Needs Assessment) di kedua kabupaten itu. Dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah, 4 poin pertanyaan diajukan. Yakni : 1) Bagaimana pemahaman Kepala Kemenag/kepala KUA tentang pengertian, jenis atau bentuk kekerasan, faktor pendorong dan pemicu, serta dampak/akibat dari kekerasan berbasis gender? 2) Bagaimana pandangan Kepala Kemenag/Kepala KUA terhadap isu-isu dan persoalan kekerasan berbasis gender dalam perspektif ajaran Islam. 3)Apa dan bagaimana peran Kemenag/KUA dalam mencegah dan mengatasi kekerasan berbasis gender? 4) Apa saja hambatan dan tantangan yang dihadapi? , dan Isu dan kebutuhan apakah yang perlu diperkuat dan tingkatkan dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender di wilayah Kabupaten Gunung Kidul dan Kulon Progo?

Isu Nikah Anak, menjadi salah satu isu KBG yang muncul dari hasil NA tersebut. Selain itu peserta berbeda pendapat atas isu lainnya seperti poligami, sunat perempuan, nahkah keluarga dan relasi dalam rumah tangga. Hasil dari Pemetaan Kebutuhan tersebut kemudian disampaikan kembali kepada responden penelitian. Hal itu berlangsung pada Selasa, 20 Desember 2016 di Yogyakarta. Hadir dalam kegiatan tersebut Perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi DI Yogyakarta, baak Achmad Fauzi yang menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara. Dua penanggap: Ibu Hindun Anisah, MA yang menanggapi dari perspektif Perempuan dan KH Chasan Abdullah yang menanggapi dari perspektif Agama Islam juga hadir pada kegiatan tersebut. Salah satu rekomendasi mendesak yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya meningkatkan pemahaman kepala- kepala KUA tentang Kekerasan Berbasis Gender. (dani)

 

Last modified on Wednesday, 16 August 2017 10:20
Rate this item
(0 votes)