Melihat Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas di Pesantren

13 Nov 2013 Anis Fakhrotul Fuadah
8553 times

Kesehatan reproduksi dan seksualitas adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan manusia. Untuk itu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas yang baik dan benar menjadi sangat penting untuk diketahui dan dipahami.

Pengetahuan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang baik dan benar harus disesuaikan dengan tingkatan sekolah ataupun umur.  Pengetahuan tersebut juga tidak hanya mengedepankan moralitas atau religiusitas, tapi juga aspek kesehatan dan hak sehingga remaja bisa lebih mengerti dan bertanggung jawab.

Berdasarkan hasil assessment yang dilakukan Perhimpunan Rahima di 10 pesantren di 4 wilayah Jawa Timur (Jombang, Lamongan, Kediri, dan Banyuwangi), dalam pesantren sebenarnya ada kajian-kajian tentang reproduksi dan seksualitas yang diajarkan dalam dua bentuk pengajaran. Pertama, kajian tersebut  masuk pada mata pelajaran pendidikan formal di tingkat SMA/MA seperti IPA (Biologi) atau BK (Bimbingan Konseling), ataupun masuk dalam mata pelajaran pendidikan diniyah seperti kitab-kitab fikih (Risalatul mahid, fathul Qarib, fathul Mu’in, Muhimmatun Nisa’, Qurratul ‘uyuun, dsb).

Hanya saja pembahasan yang disampaikan masih sebatas pengenalan organ reproduksi dan masalah-masalah hukum syar’i belum mendetail penjabarannya, terutama dari sisi hak dan kesehatan organ.

Kesehatan reproduksi dan seksualitas bukan hanya masalah hukum seperti boleh atau tidaknya perempuan salat dalam keadaan haid dan sebagainya, namun sangat luas cakupannya, mulai dari apa saja yang masuk dalam reproduksi dan seksualitas tersebut hingga dampak yang timbul ketika reproduksi dan seksualitas itu tidak dipahami secara benar dan mendetail.

Berdasarkan hasil FGD (focus group discussion) kepada siswa/santri yang dilakukan oleh Perhimpunan Rahima di 10 sekolah di pesantren dan 8 sekolah di luar pesantren yang ada di Jombang, Lamongan, Kediri, dan Banyuwangi tahun 2012 lalu, para santri/siswa tersebut menyatakan bahwa mereka banyak mengetahui masalah-masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas dari internet dan teman yang informasinya belum tentu benar.

Padahal, remaja punya hasrat keingintahuan besar sehingga ketika tidak terpenuhi dengan benar pengetahuannya, maka dia akan mencobanya tanpa melihat dan memikirkan dampak sesudahnya. Ini tidak hanya terjadi pada remaja di sekolah-sekolah umum, remaja di pesantren juga memiliki tantangan yang sama sehingga pengetahuan kesehatan reproduksi yang baik dan benar menjadi sebuah kebutuhan juga bagi remaja di pesantren agar dapat berperilaku yang bertanggung jawab. Anis

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari program penguatan akses kesehatan reproduksi dan seksual untuk remaja yang didukung oleh Kedutaan Norwegia dan Hivos yang melibatkan organisasi Rahima, PKBI, Pamflet dan Pusat Studi Gender dan Seksualitas UI. Tulisan ini telah di publikasi di Yahoo Newsroom – Sen, 10 Jun 2013

Last modified on Thursday, 17 August 2017 13:55
Rate this item
(0 votes)