Guru Sebagai ‘Peer Educator’ Kesehatan Reproduksi di Madrasah dan Pesantren

13 Nov 2013 Khoirul Falihin
8166 times

Tugas mulia yang diemban para guru atau ustaz di pesantren masa sekarang semakin tidak mudah. Perilaku para santri (yang masih remaja) dengan mudah terpengaruh oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi seperti Google, Yahoo, Facebook, Twitter dan sebagainya. Demikian pula media elektronik (TV, radio dan video). Yang terpengaruh bukan hanya perilaku secara umum, tapi juga perilaku seksual.

Tak heran bila para guru/ustaz di pesantren tidak dituntut untuk berfokus semata pada pengajaran kitab-kitab kuning semacam “Uqud Al Lujjayn”, “Qurrat Al ‘Uyun”, dan “Fathul Izar”. Mereka juga ditantang untuk tidak gagap teknologi serta memiliki informasi yang akurat dan benar, guna mengarahkan para santri ke jalan yang benar.

Salah satu hal yang banyak dicari para santri dengan sembunyi-sembunyi alias bergerilya adalah informasi mengenai kesehatan reproduksi dan perkembangan seksualitas. Ini mereka lakukan sebab mereka merasa pengetahuan para asatiz itu terbatas. Sayangnya, akibat mencari sendiri, para santri kerap mendapat informasi yang justru tidak akurat — dan membuat mereka rentan mengalami penyimpangan perilaku sosial.

Upaya menutup pintu akses informasi memang bisa saja dilakukan. Akan tetapi tidak ada jaminan bahwa masa remaja yang punya rasa keingintahuan besar tidak berupaya membobol akses bila ada kesempatan. Di sini berlaku kaidah, “Jika ada dua mudarat (hal negatif) yang bersinggungan, maka tinggalkan yang lebih berat, lakukan mudarat yang paling ringan.”

Keberadaan peer educator (pendidik sejawat) di kalangan guru/ustaz sangat diperlukan untuk mendampingi proses dan membina para remaja  di saat mereka masih melewati masa-masa kritis dalam usia perkembangan. Melihat kebutuhan ini, Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan pun membentuk peer educator di kalangan guru/ustaz, baik di Madrasah Aliyah maupun pesantren.

Keberadaan peer educator diharapkan menjalin komunikasi antara sesama guru/asatiz sehingga mereka bisa berdiskusi dan saling bertukar informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja.

Dengan begini, setiap guru/ustaz bisa bertambah bekal pengetahuan dan referensinya ketika berkomunikasi dengan para siswa/santri. Mereka dapat menjadi konselor dalam memberikan informasi yang benar seputar kesehatan reproduksi dan perkembangan seksualitas, serta memberikan arahan dan solusi bagi murid.

Para santri pun tidak perlu lagi bergerilya mencari-cari informasi seputar reproduksi dan seksualitas. Guru/ustaz mereka adalah tempat yang tepat.

Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari program penguatan akses kesehatan reproduksi dan seksual untuk remaja yang didukung oleh Kedutaan Norwegia dan Hivos yang melibatkan organisasi Rahima, PKBI, Pamflet dan Pusat Studi Gender dan Seksualitas UI. Tulisan ini telah dipublikasikan di Yahoo Newsroom  – Jum, 2 Agu 2013

Last modified on Thursday, 17 August 2017 15:33
Rate this item
(0 votes)