Rum

10 Apr 2017 Sri Marpinjun
810 times

Cerpen SR 51

Rum

 

 

Oleh : Sri Marpinjun

 

Sejurus mataku menangkap sosok remaja lelaki sekitar 14 tahun yang agak kurus dan wajah yang kelihatan tegang duduk di kursi tamu. Aku tersenyum padanya. Dia kelihatan tambah bingung dan kemudian tertunduk. Beberapa menit kami cuma duduk berhadapan tanpa sepatah kata. Aku sendiri pun bingung mau bagaimana. Seharusnya aku yang menunggu anak itu memulai pembicaraan…

***

Anak lelaki itu teman sekelas anak perempuanku di SMP. Kata Rum, anak perempuanku, kemarin siang melalui telepon, anak lelaki itu ingin ngomong.

Dia ingin ngomong. Hah! Kemarin aku dibuat kaget oleh suara Rum.

“Ingin ngomong apa?” tanyaku cepat sambil merasakan detak jantungku yang mendadak cepat.

“Itu lho, Buk. Ingat waktu kita bicara di tempat tidur…? Waktu Ibuk cerita bagaimana Ibuk dan Bapak memulai hubungan. Ingat to, Buk?”

“Ya, Ibuk ingat, tapi… temanmu ini mau ngomong apa?”

“Aku mau seperti Ibuk. Dulu Ibuk minta Bapak ngomong ke Mbah Kakung-Putri. Nah dia mau ngomong juga.”

Astaga. Aku tak berharap hari ini mendapat telepon seperti ini. Kok jadi begini? Apa yang kusampaikan pada anakku waktu itu? Ah, salah, apa yang sebenarnya dipahami oleh Rum waktu itu? Sebenarnya aku tak berharap ditembung (dimintai izin) secepat ini. Lha mereka masih SMP kelas 2, kok sudah seperti sudah mau kawin.

Mungkin anakku berpikir bahwa ketika ayahnya dulu mendekatiku, kami juga masih seusia mereka. Tentu saja kami jauh lebih tua. Aku umur 26 dan ayahnya waktu itu 29 tahun. Usia kami usia yang siap menjalin hubungan yang lebih serius menuju perkawinan. Rupanya anakku menangkap ceritaku sebagai prosedur umum ketika memulai hubungan dengan lawan jenis.

Di sisi lain aku bersyukur Rum membuka diri tentang masalah hubungan dengan lawan jenis ini. Sebagai orangtua aku dapat memantau perkembangannya dengan mudah.

***

Pacaran adalah sebuah kata yang tak ada di kamus mudaku. Kini aku punya anak yang mau pacaran! Tepatnya, anakku minta ijin pacaran padaku! Ambil napas panjang, kata hatiku. Kendalikan reaksimu, karena anakmu bukan kamu.

Aku juga bukan ibuku yang dulu selalu berpesan bahwa aku tak boleh bersentuhan dengan lawan jenis. Sebagai remaja, tentu saja aku punya perhatian kepada lawan jenis. Sebagian teman sepermainanku seperti mudah saja mendapatkan teman lawan jenis dan mereka saling bercerita senangnya berboncengan sepeda atau jalan bersama dengan lawan jenis yang memperhatikan mereka. Mereka tidak selalu jalan dengan satu teman lawan jenis, tapi berganti-ganti juga.

Beberapa teman laki-laki yang mengaji bersamaku di masjid kampung memberi tanda ingin mendekatiku. Tapi aku tak pernah menanggapinya. Masalahnya, aku tak memiliki perasaan apapun kepada mereka. Aku tak pernah memberi kesempatan mereka mencoba merayuku.

Jadi sampai umur 25 tahun aku tak pernah berpacaran. Saat muda itu aku sudah punya konsep bahwa pacaran itu harus menuju pelaminan. Pacaran bukan untuk main-main sekedar mendapatkan rasa senang. Bagiku sudah cukup belajar dari teman-temanku yang berpacaran. Beberapa dari mereka akhirnya hamil dalam masa pacaran. Mereka harus putus sekolah untuk menikah. Pembelajaranku dibantu oleh ibuku yang selalu mengingatkan untuk menjaga diri sebagai perempuan. Kehamilan di luar pernikahan itu aib keluarga. Karena itu aku tak mau mengecewakan ibuku.

Aku tumbuh sebagai anak perempuan dengan pendirian teguh soal satu itu. Tidak ada zina titik. Pilihan sikapku ini seperti tonggak kayu di tengah gelombang lautan yang ganas. Sekitarku adalah lingkungan yang membebaskan pergaulan antar lawan jenis. Pacaran seperti pasangan suami istri seolah dianggap biasa. Para orangtua membiarkan anak-anak mereka berpacaran di kamar yang tertutup di depan mata mereka sendiri! Para orangtua seolah lebih senang anaknya laku dengan cara “diicip dulu” daripada anaknya jadi perawan tua.

***

Ketika bertemu dengan suamiku sekarang aku memang memiliki ketertarikan yang sangat kepadanya. Ketika dia juga menyatakan ketertarikan yang sama, kami berniat memulai sebuah hubungan. Entah apa yang menyusupi otakku waktu itu, tapi aku punya beberapa pertanyaan seleksi kepadanya sebelum kami melangkah maju.

“Menurutmu, apa yang kau lihat di ujung jalan ini, Mas?” tanyaku.

“Ya…perkawinan lah…” begitu jawabnya. Sungguh itu jawaban yang melegakanku. Jika dia akan menjawab bahwa dia mau menjajagi saja, maka aku sudah siap patah hati untuk melepasnya pergi.

“Oh, ya?” sahutku tak yakin. “Apa sih yang jadi niatmu mengawiniku?”

“Ibadah,” jawabnya singkat. Aku seperti melambung. Aku ini cuma anak pengajian yang mengikuti apa teori jadi manusia. Aku senang sekali dia menjawab persis seperti yang kuharapkan. Memang tak ada jawaban yang lebih baik dari niat ibadah. Aku gembira mendapatkan orang yang tepat, demikian pikirku saat itu.

Seperti yang kuceritakan kepada anakku, lalu aku memberinya pertanyaan tes yang terakhir. “Jika kita berpacaran, pasti orangtuaku akan bertanya siapa itu yang suka datang ke rumah. Aku tak mau mereka bertanya itu kepadaku. Apakah kau mau minta ijin kepada mereka?”

Dan dia memang seorang pemberani. Dia mau bertemu kedua orangtuaku. Meskipun dia agak gugup ketika menyatakan rasa tertarik kepadaku, dan minta izin diperbolehkan saling mengenal dan sering datang, dia berhasil mengungkapkannya! Aku merasa sangat salut dengan keberaniannya itu! Aku menjadi semakin mantap dengan pilihanku ini.

Ibuku rupanya punya agenda tersembunyi ketika mendengar penyampaiannya. Ibuku mengatakan bahwa dia tak terlalu percaya pada omongan anak muda. Ibuku ingin keseriusannya itu dibuktikan dengan omongan keluarganya. Ibuku dengan tegas mengatakan bahwa sebagai keluarga perempuan mereka tak mau dirugikan jika aku dipermainkan.

Akhirnya, dua bulan kemudian wakil keluarga calon suamiku datang melamar dan membicarakan tanggal untuk ijab qabul. Hanya dalam waktu kurang dari setahun sejak kami saling tertarik, kami sudah jadi suami istri yang sah. Semua keluargaku senang karena proses ini lancar. Rupanya kedua orangtuaku khawatir kalau aku tak berminat pada perkawinan. Di sisi lain, keluarganya juga senang karena calon suamiku itu anak sulung yang juga ditunggu kapan melepaskan masa lajangnya.

***

Entah sudah berapa menit anak lelaki itu masih diam. Lalu aku memulai pembicaraan.

“Kata Rum kamu mau mengatakan sesuatu?”

Anak lelaki itu melempar pandangan kepada Rum, anakku. “Saya… saya ndak ngerti, Bu. Rum yang menyuruh saya ke sini bertemu Ibu.”

Lho, ini yang benar yang mana? Kata anakku, dia yang mau ngomong. Kok katanya dia pun hanya disuruh anakku datang tanpa tahu harus ngomong apa. Jangan-jangan malah Rum yang berminat dan agresif? Ha ha ha… dalam hati aku tertawa. E alaah.

“Oke, namamu siapa, Nak?”

“Indra.”

Lalu kutanyakan pertanyaan standar tentang rumahnya dimana dan keluarganya bagaimana. Anak itu menjawab pendek-pendek. Ketegangannya tak juga hilang.

“Oke, Nak Indra…. Ibu senang kalian berteman. Boleh saja berteman. Namun yang penting sekolah tetap nomor satu ya!” Kataku dengan omongan khas para orangtua. Aku malah menganggap lebih kasihan kalau dia tegang terlalu lama di depanku.

Yang jelas, Rum menjadi pekerjaan rumahku.

***

 

 

 

 

 

 

Last modified on Saturday, 02 September 2017 08:51
Rate this item
(0 votes)
More in this category: Sunshine : Cerpen Edisi 50 »