Items filtered by date: April 2017 - Rahima

Kiprah SR 51

 

Menggali Narasi Keulamaan Perempuan

Melalui Lomba Karya Tulis KUPI 2016

 

Ulama perempuan? Memangnya ada? Pertanyaan bernada under estimate itu acapkali muncul di masyarakat saat gagasan ini dilontarkan. Mengingat, istilah ulama’ yang sebenarnya jamak dari kata ‘alim tersebut, dalam konteks masyarakat yang patriarkhis acapkali dikonotasikan sebagai sesosok laki-laki bersorban, bersandingkan dengan setumpuk kitab klasik, dan ucapannya dipandang sebagai ‘fatwa’. Meskipun sesungguhnya istilah ulama ini bisa mengacu pada keduanya laki-laki dan perempuan beriman yang berilmu, dan dengan ilmunya mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat.

Gagasan ini mendorong 3 lembaga Rahima, Fahmina, dan Alimat untuk menggelar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) untuk memperkenalkan kembali (reclaiming) ulama dan keulamaan perempuan, yang rencananya akan dihelat 17-19 April 2017 mendatang di Cirebon. Terdapat beragam aktivitas yang merupakan serial kegiatan KUPI ini, termasuk di antaranya adalah Lomba Menulis Essay dan Feature Profil terkait dengan Ulama Perempuan.

Lomba menulis ini berlangsung sejak 1 Mei 2017 hingga 31 Agustus 2016. Dari tiga bulan pelaksanaan lomba ini, panitia KUPI menerima tulisan sebanyak 31 judul naskah Essay dan 44 judul naskah Feature Profile. Melalui tulisan-tulisan ini, bermunculan banyak nama ulama perempuan (baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup) dan digali, diteliti, dan ditulis kiprah maupun inisiatif-inisiatif yang dilakukannya di masyarakat, terutama dalam upaya pemberdayaan perempuan maupun membangun komunitasnya. Keberadaan lomba ini, memang ditujukan untuk mengangkat ‘her story’ (sejarah perempuan) dalam konteks khazanah pengetahuan keislaman maupun dinamika perjuangan perempuan di komunitas muslim yang acapkali terlupakan.

Dewan Juri lomba ini terbagi dua: Juri untuk Lomba Menulis Essay, yakni: KH. Husein Muhammad, Dr. Nur Rofi’ah, dan Nurul Agustina, MA; dan Juri Lomba Menulis Feature Profil terdiri dari : Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, Lies Marcoes Natsir, MA, Aditiana Dewi Eridani SH, dan Khotimatul Husna, MA. Dewan Juri memberikan proses penilaian individual selama bulan September 2016, dan telah menetapkan pemenangnya dalam Rapat Bersama Jum’at 7 Oktober 2016.

Para pemenang untuk kategori Essay, Juara I adalah Zuriyyah, S.Sy. (Tengku Fakinah : Antara Femininitas dan Maskulinitas, Telaah Ulang Peran Keulamaan di Aceh), Juara II Joseph Biondi Mattovano ( Quo Vadis Ulama Perempuan (di) Indonesia?), Juara III Yuyus Citra Purwida (Pendekatan Gender Menurunkan Problematika Gender), Juara Harapan I Farah Frastia (Siti Walidah : Sosok Ulama yang Gigih Memberdayakan Perempuan), dan Juara Harapan II Nazaruddin S.Pd.I. (Rahmah El Yunusiyah : Kiprah Ulama Perempuan dri Tanah Minang Yang Mendunia).

Sementara pemenang untuk kategori Essay-Profil, Juara I Khanifah (Nyai Seppo, Sang Pendidik : Mengenal Nyai Siti Maryam Bilapora, Sumenep), Juara II Alfishah Ashmad (Nyanyian Jiwa Mahsunah : Perempuan,Agama dan Keteguhan), Juara III Siti Muyassarotul Hafizhoh (Memberi Warna Keceriaan Anak, Merangkul Hati Semua Warga: Kisah Khotimatul Husna, Ulama Perempuan Di Desa Jambidan), Juara Harapan I Nidhomatum MR (Nyai Sholihah Wahid Hasyim : Berkiprah untuk Bangsa Tanpa Abai Keluarga), dan Juara Harapan II Baiq Desi Rindrawati (Perempuan Harus Sekolah : Profil Nyai Hj. Masyithah).

Masing-masing pemenang berhak mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebanyak Rp 5.000.000,- (Juara I), Rp 3.000.000,- (Juara II), Rp 1.500.000,- (Juara III) dan Rp 1.000.000,- (Juara Harapan I dan II), piagam, dan buku-buku terbitan ketiga lembaga penyelenggara. Diharapkan, melalui lomba ini dapat tergali berbagai inspirasi untuk memunculkan sosok-sosok ulama perempuan baru di Indonesia. {} AD. Kusumaningtyas

 

 

Published in Kiprah

Kiprah:

Penyampaian Hasil Needs Assesment KUA

tentang Kekerasan Berbasis Gender (KBG)

Salah satu tugas dan fungsi Kantor Urusan Agama (KUA) ialah mengembangkan keluarga sakinah sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk mewujudkan Keluarga Sakinah, biasanya dipenuhi oleh tiga unsur yakni sakinah (damai/tenteram), mawaddah (kasih sayang) dan rahmah (mengasihi). Rahima mendefinisikan Keluarga Sakinah sebagai keluarga yang setara, adil, dan tanpa kekerasan. Keluarga Sakinah ala Rahima ini dimulai dari masa pranikah, selama menikah hingga pernikahan usai.

Pada 3 ranah (pranikah, menikah dan pasca nikah) itu, kekerasan berbasis gender (KBG) rentan terjadi karena adanya pemahaman tentang keluarga sakinah yang tidak utuh. Untuk itu melihat peran strategis Kepala KUA, Rahima lalu menggandeng mereka untuk berupaya menghapuskan Kekerasan Berbasis Gender. Upaya Rahima itu juga dilakukan oleh 3 lembaga lain: Rifka Annisa di Yogyakarta, Yayasan Pulih di Jakarta, dan Damar di Lampung. Keempat lembaga ini tergabung dalam sebuah program bernama Prevention+: Pelibatan Laki-laki dalam Upaya Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender yang didukung oleh Rutgers WPF.

Ada empat strategi pendekatan dari program Prevention+ ini, yakni di tingkat individu, komunitas, institusi dan Negara. Rahima memilih melakukan pendekatan kepada institusi dalam hal ini melalui Kementerian Agama. Untuk tahun pertama kegiatan, Rahima memilih bekerjasama dengan Kepala kepala KUA yang ada di Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul. Pertimbangannya, selain karena kedua wilayah itu merupakan wilayah program Rifka Annisa yang sudah melakukan strategi pendekatan melalui individu dan komunitas sehingga dirasa perlu untuk melakukan penguatan di tingkat institusinya, juga karena sebagai sebuah program bersama maka kegiatan dari masing masing anggota harus saling mendukung.

Kegiatan pertama yang dilakukan Rahima, melakukan pemetaan kebutuhan (Needs Assessment) di kedua kabupaten itu. Dengan menggunakan metode wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah, 4 poin pertanyaan diajukan. Yakni : 1) Bagaimana pemahaman Kepala Kemenag/kepala KUA tentang pengertian, jenis atau bentuk kekerasan, faktor pendorong dan pemicu, serta dampak/akibat dari kekerasan berbasis gender? 2) Bagaimana pandangan Kepala Kemenag/Kepala KUA terhadap isu-isu dan persoalan kekerasan berbasis gender dalam perspektif ajaran Islam. 3)Apa dan bagaimana peran Kemenag/KUA dalam mencegah dan mengatasi kekerasan berbasis gender? 4) Apa saja hambatan dan tantangan yang dihadapi? , dan Isu dan kebutuhan apakah yang perlu diperkuat dan tingkatkan dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender di wilayah Kabupaten Gunung Kidul dan Kulon Progo?

Isu Nikah Anak, menjadi salah satu isu KBG yang muncul dari hasil NA tersebut. Selain itu peserta berbeda pendapat atas isu lainnya seperti poligami, sunat perempuan, nahkah keluarga dan relasi dalam rumah tangga. Hasil dari Pemetaan Kebutuhan tersebut kemudian disampaikan kembali kepada responden penelitian. Hal itu berlangsung pada Selasa, 20 Desember 2016 di Yogyakarta. Hadir dalam kegiatan tersebut Perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi DI Yogyakarta, baak Achmad Fauzi yang menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara. Dua penanggap: Ibu Hindun Anisah, MA yang menanggapi dari perspektif Perempuan dan KH Chasan Abdullah yang menanggapi dari perspektif Agama Islam juga hadir pada kegiatan tersebut. Salah satu rekomendasi mendesak yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya meningkatkan pemahaman kepala- kepala KUA tentang Kekerasan Berbasis Gender. (dani)

 

Published in Kiprah
Monday, 10 April 2017 18:34

Rum

Cerpen SR 51

Rum

 

 

Oleh : Sri Marpinjun

 

Sejurus mataku menangkap sosok remaja lelaki sekitar 14 tahun yang agak kurus dan wajah yang kelihatan tegang duduk di kursi tamu. Aku tersenyum padanya. Dia kelihatan tambah bingung dan kemudian tertunduk. Beberapa menit kami cuma duduk berhadapan tanpa sepatah kata. Aku sendiri pun bingung mau bagaimana. Seharusnya aku yang menunggu anak itu memulai pembicaraan…

***

Anak lelaki itu teman sekelas anak perempuanku di SMP. Kata Rum, anak perempuanku, kemarin siang melalui telepon, anak lelaki itu ingin ngomong.

Dia ingin ngomong. Hah! Kemarin aku dibuat kaget oleh suara Rum.

“Ingin ngomong apa?” tanyaku cepat sambil merasakan detak jantungku yang mendadak cepat.

“Itu lho, Buk. Ingat waktu kita bicara di tempat tidur…? Waktu Ibuk cerita bagaimana Ibuk dan Bapak memulai hubungan. Ingat to, Buk?”

“Ya, Ibuk ingat, tapi… temanmu ini mau ngomong apa?”

“Aku mau seperti Ibuk. Dulu Ibuk minta Bapak ngomong ke Mbah Kakung-Putri. Nah dia mau ngomong juga.”

Astaga. Aku tak berharap hari ini mendapat telepon seperti ini. Kok jadi begini? Apa yang kusampaikan pada anakku waktu itu? Ah, salah, apa yang sebenarnya dipahami oleh Rum waktu itu? Sebenarnya aku tak berharap ditembung (dimintai izin) secepat ini. Lha mereka masih SMP kelas 2, kok sudah seperti sudah mau kawin.

Mungkin anakku berpikir bahwa ketika ayahnya dulu mendekatiku, kami juga masih seusia mereka. Tentu saja kami jauh lebih tua. Aku umur 26 dan ayahnya waktu itu 29 tahun. Usia kami usia yang siap menjalin hubungan yang lebih serius menuju perkawinan. Rupanya anakku menangkap ceritaku sebagai prosedur umum ketika memulai hubungan dengan lawan jenis.

Di sisi lain aku bersyukur Rum membuka diri tentang masalah hubungan dengan lawan jenis ini. Sebagai orangtua aku dapat memantau perkembangannya dengan mudah.

***

Pacaran adalah sebuah kata yang tak ada di kamus mudaku. Kini aku punya anak yang mau pacaran! Tepatnya, anakku minta ijin pacaran padaku! Ambil napas panjang, kata hatiku. Kendalikan reaksimu, karena anakmu bukan kamu.

Aku juga bukan ibuku yang dulu selalu berpesan bahwa aku tak boleh bersentuhan dengan lawan jenis. Sebagai remaja, tentu saja aku punya perhatian kepada lawan jenis. Sebagian teman sepermainanku seperti mudah saja mendapatkan teman lawan jenis dan mereka saling bercerita senangnya berboncengan sepeda atau jalan bersama dengan lawan jenis yang memperhatikan mereka. Mereka tidak selalu jalan dengan satu teman lawan jenis, tapi berganti-ganti juga.

Beberapa teman laki-laki yang mengaji bersamaku di masjid kampung memberi tanda ingin mendekatiku. Tapi aku tak pernah menanggapinya. Masalahnya, aku tak memiliki perasaan apapun kepada mereka. Aku tak pernah memberi kesempatan mereka mencoba merayuku.

Jadi sampai umur 25 tahun aku tak pernah berpacaran. Saat muda itu aku sudah punya konsep bahwa pacaran itu harus menuju pelaminan. Pacaran bukan untuk main-main sekedar mendapatkan rasa senang. Bagiku sudah cukup belajar dari teman-temanku yang berpacaran. Beberapa dari mereka akhirnya hamil dalam masa pacaran. Mereka harus putus sekolah untuk menikah. Pembelajaranku dibantu oleh ibuku yang selalu mengingatkan untuk menjaga diri sebagai perempuan. Kehamilan di luar pernikahan itu aib keluarga. Karena itu aku tak mau mengecewakan ibuku.

Aku tumbuh sebagai anak perempuan dengan pendirian teguh soal satu itu. Tidak ada zina titik. Pilihan sikapku ini seperti tonggak kayu di tengah gelombang lautan yang ganas. Sekitarku adalah lingkungan yang membebaskan pergaulan antar lawan jenis. Pacaran seperti pasangan suami istri seolah dianggap biasa. Para orangtua membiarkan anak-anak mereka berpacaran di kamar yang tertutup di depan mata mereka sendiri! Para orangtua seolah lebih senang anaknya laku dengan cara “diicip dulu” daripada anaknya jadi perawan tua.

***

Ketika bertemu dengan suamiku sekarang aku memang memiliki ketertarikan yang sangat kepadanya. Ketika dia juga menyatakan ketertarikan yang sama, kami berniat memulai sebuah hubungan. Entah apa yang menyusupi otakku waktu itu, tapi aku punya beberapa pertanyaan seleksi kepadanya sebelum kami melangkah maju.

“Menurutmu, apa yang kau lihat di ujung jalan ini, Mas?” tanyaku.

“Ya…perkawinan lah…” begitu jawabnya. Sungguh itu jawaban yang melegakanku. Jika dia akan menjawab bahwa dia mau menjajagi saja, maka aku sudah siap patah hati untuk melepasnya pergi.

“Oh, ya?” sahutku tak yakin. “Apa sih yang jadi niatmu mengawiniku?”

“Ibadah,” jawabnya singkat. Aku seperti melambung. Aku ini cuma anak pengajian yang mengikuti apa teori jadi manusia. Aku senang sekali dia menjawab persis seperti yang kuharapkan. Memang tak ada jawaban yang lebih baik dari niat ibadah. Aku gembira mendapatkan orang yang tepat, demikian pikirku saat itu.

Seperti yang kuceritakan kepada anakku, lalu aku memberinya pertanyaan tes yang terakhir. “Jika kita berpacaran, pasti orangtuaku akan bertanya siapa itu yang suka datang ke rumah. Aku tak mau mereka bertanya itu kepadaku. Apakah kau mau minta ijin kepada mereka?”

Dan dia memang seorang pemberani. Dia mau bertemu kedua orangtuaku. Meskipun dia agak gugup ketika menyatakan rasa tertarik kepadaku, dan minta izin diperbolehkan saling mengenal dan sering datang, dia berhasil mengungkapkannya! Aku merasa sangat salut dengan keberaniannya itu! Aku menjadi semakin mantap dengan pilihanku ini.

Ibuku rupanya punya agenda tersembunyi ketika mendengar penyampaiannya. Ibuku mengatakan bahwa dia tak terlalu percaya pada omongan anak muda. Ibuku ingin keseriusannya itu dibuktikan dengan omongan keluarganya. Ibuku dengan tegas mengatakan bahwa sebagai keluarga perempuan mereka tak mau dirugikan jika aku dipermainkan.

Akhirnya, dua bulan kemudian wakil keluarga calon suamiku datang melamar dan membicarakan tanggal untuk ijab qabul. Hanya dalam waktu kurang dari setahun sejak kami saling tertarik, kami sudah jadi suami istri yang sah. Semua keluargaku senang karena proses ini lancar. Rupanya kedua orangtuaku khawatir kalau aku tak berminat pada perkawinan. Di sisi lain, keluarganya juga senang karena calon suamiku itu anak sulung yang juga ditunggu kapan melepaskan masa lajangnya.

***

Entah sudah berapa menit anak lelaki itu masih diam. Lalu aku memulai pembicaraan.

“Kata Rum kamu mau mengatakan sesuatu?”

Anak lelaki itu melempar pandangan kepada Rum, anakku. “Saya… saya ndak ngerti, Bu. Rum yang menyuruh saya ke sini bertemu Ibu.”

Lho, ini yang benar yang mana? Kata anakku, dia yang mau ngomong. Kok katanya dia pun hanya disuruh anakku datang tanpa tahu harus ngomong apa. Jangan-jangan malah Rum yang berminat dan agresif? Ha ha ha… dalam hati aku tertawa. E alaah.

“Oke, namamu siapa, Nak?”

“Indra.”

Lalu kutanyakan pertanyaan standar tentang rumahnya dimana dan keluarganya bagaimana. Anak itu menjawab pendek-pendek. Ketegangannya tak juga hilang.

“Oke, Nak Indra…. Ibu senang kalian berteman. Boleh saja berteman. Namun yang penting sekolah tetap nomor satu ya!” Kataku dengan omongan khas para orangtua. Aku malah menganggap lebih kasihan kalau dia tegang terlalu lama di depanku.

Yang jelas, Rum menjadi pekerjaan rumahku.

***

 

 

 

 

 

 

Published in Cerpen
Monday, 10 April 2017 18:21

Masa Depan SUram Bagi Pernikahan Anak

Dirasah Hadis

Masa Depan Suram

Bagi Pernikahan Anak

Oleh : Dr.Hj. Afwah Mumtazah

Meski informasi tentang pernikahan anak-anak membawa dampak negatif sudah menyebar dan bahkan menjadi viral di medsos, tetapi pernikahan anak masih saja terjadi, bahkan akhir-akhir ini makin menguat seiring pelakunya adalah tokoh masyarakat (tomas) dan keluarga selebriti. Kebanyakan pernikahan anak-anak obyeknya adalah perempuan, seperti kasus Lutviana Ulfa yang dinikahi Syekh Puji. Akan tetapi tahun ini putra Arifin Ilham yaitu Alvin Faiz 17 tahun menikahi gadis keturunan Tionghoa Larissa Chou 20 tahun dimana mempelai putranya adalah kategori terlarang melakukan pernikahan karena belum cukup umur menurut UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam pasal tersebut di sebutkan bahwa pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai 19 tahun dan pihak perempuan 16 tahun. Argumentasi agama dengan teks-teks hadis dan ayat –ayat al Quran yang dikemukakan di beberapa medsos menuai pembenaran banyak netizen yang awam tentang wacana kespro serta kesiapan mental terkait usia pengantin, Alih-alih mereka prihatin, tapi malah bersimpati dan mendukungnya dengan dalih sesuai anjuran Alquran-Hadis untuk menghindari zina, menolak pergaulan bebas sebagaimana lazimnya remaja masa kini.

Dalam komunitas pesantren, pernikahan anak-anak masih dipandang sebagian orang tua sebagai alternatif terbaik. Awalnya adalah karena keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan ke pendidikan tertinggi, menghindari pergaulan bebas atau karena anak sudah tidak lagi mempunyai motivasi untuk meneruskan belajar. Adalah Rosa kelahiran Cirebon 13 tahun lalu dinikahkan orang tuanya karena ketahuan kerabatnya berada sekamar dengan Andi yang sama-sama berumur 13 tahun. Ketika hari “H” terjadi kehebohan dan menjadi pembicaraan karena Andi mogok untuk diiring menuju majelis akad. Miris bercampur lucu bagi para tamu tatkala mogoknya Andi ditampakan dengan menangis meraung-raung di tanah. Ini tentu bukan sesuatu yang sederhana, tapi lebih kepada kesiapan mempelai secara mental dalam mengarungi mahligai rumah tangga.

Pembenaran yang disodorkan adalah pernikahan Rasulullah saw. dengan Siti Aisyah putri Abu Bakar yang berusia 9 tahun. Dalil ini banyak digunakan sebagai sumber rujukan orang-orang yang ingin melaksanakan pernikahan anak.

Telaah Kritis atas Hadis Pernikahan Aisyah

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Segala hal yang terkait dengan persoalan hidup selalu merujuk kepada ajaran Alquran dan Hadis. Adalah kebanggaan ketika meyakini bahwa sebagai mayoritas, muslim Indonesia hidup dalam tradisi fiqh dengan pandangan dan interpretasi yang beragam. Ini menunjukan betapa kayanya khazanah Islam klasik. Apalagi memahami bahwa teks hadis dan Alquran selalu hidup dalam keputusan fiqh yang berkolerasi dengan tempat, waktu, individu, politik, keadaan sosial, ekonomi, juga peradaban.

Keterbatasan memahami teks hadis dan membaca realitas menghasilkan konsekuensi yang berbeda dalam keputusan hukum. Ini terkait dengan hadis riwayat Bukhari Muslim yang menyatakan bahwa Aisyah dinikahi Nabi Muhammad saw. pada saat berumur 6 tahun dan berumah tangga bersama Rasulullah pada saat 9 tahun, adalah sesuatu yang dipercayai selama berabad-abad lamanya karena periwayatan Bukhari Muslim adalah jaminan mutu dalam keshahihan suatu hadis.Tentu saja, ini menimbulkan celah cibiran dan hujatan orientalis yang melontarkan tuduhan Rasulullah adalah paedofil. Karena itu sudah saatnya sekarang menelaah kembali hadis tersebut karena sangat tidak rasional jika Nabi menikahi anak kecil yang baru lepas setahun dari masa balita.

Kritik Sanad Hadis Pernikahan Aisyah

Pernikahan Nabi dengan Aisyah ini banyak bertebaran dalam kitab-kitab hadis, anehnya semua bersumber kepada Hisyam Bin Urwah dan satu-satunya yang membicarakan umur Aisyah r.a . Abu Hurairah dan Anas bin Malikpun tidak pernah mengungkapkannya.

Hasyim yang mendengar dari ayahnya dalam riwayat Imam Bukhari dalam kitab shahihnya :

قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ، فَقَدِمْنَا المَدِينَةَ فَنَزَلْنَا فِي بَنِي الحَارِثِ بْنِ خَزْرَجٍ، فَوُعِكْتُ فَتَمَرَّقَ شَعَرِي، فَوَفَى جُمَيْمَةً فَأَتَتْنِي أُمِّي أُمُّ رُومَانَ، وَإِنِّي لَفِي أُرْجُوحَةٍ، وَمَعِي صَوَاحِبُ لِي، فَصَرَخَتْ بِي فَأَتَيْتُهَا، لاَ أَدْرِي مَا تُرِيدُ بِي فَأَخَذَتْ بِيَدِي حَتَّى أَوْقَفَتْنِي عَلَى بَابِ الدَّارِ، وَإِنِّي لَأُنْهِجُ حَتَّى سَكَنَ بَعْضُ نَفَسِي، ثُمَّ أَخَذَتْ شَيْئًا مِنْ مَاءٍ فَمَسَحَتْ بِهِ وَجْهِي وَرَأْسِي، ثُمَّ أَدْخَلَتْنِي الدَّارَ، فَإِذَا نِسْوَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي البَيْتِ، فَقُلْنَ عَلَى الخَيْرِ وَالبَرَكَةِ، وَعَلَى خَيْرِ طَائِرٍ، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِنَّ، فَأَصْلَحْنَ مِنْ شَأْنِي، فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضُحًى، فَأَسْلَمَتْنِي إِلَيْهِ، وَأَنَا يَوْمَئِذٍ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

(al Bukhori , 256 , Ashohih 5/55 no 3894 )

Artinya :

Aisyah r.a. berkata : Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah dan singgah di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok setelah sembuh rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu. Kemudian ibuku Ummu Ruman datang menemuiku saat aku berada dalam ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggil aku lalu aku didatangi sementara aku tidak mengerti apa yang di inginkannya, ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai didepan pintu rumah. Aku masih dalam keadaan terengah-engah hingga aku menenangkan diri sendiri, kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukan aku ke dalam rumah itu yang ternyata di dalamnya ada wanita Anshar.Mereka berkata: Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan, dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik”. Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku . Tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah. Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau di saat usiaku sembilan tahun.


Hadis Imam Muslim

قال: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، ح . وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي عَنْ أَبِي أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسِتِّ سِنِينَ، وَبَنَى بِي وَأَنَا بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ»

Artinya :

Rasulullah menikahiku ketika umur enam tahun dan beliau menggauliku ketika umurku sembilan tahun.” (Muslim 261, Assahih, 2/1038 no 1442)

Berdasarkan data yang diambil dari hasil riset Dr. Syafii Antonio dalam bukunya Muhammad saw. The Super Leader Super Manager (2007) menyatakan bahwa : Hisyam meriwayatkan hadis tersebut tatkala beliau berumur 71 tahun setelah bermukim di Irak. Sebagai rawi kualitas Hisyam diakui sebagai perawi yang tsiqah, sebagaimana di kemukakan oleh Ya’qub Bin Syaibah : “ Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala pindah ke Irak” Syaibah menambahkan bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq.[1] Sebagaimana lazimnya orang yang berusia lanjut maka daya ingatnya pasti sangat jauh menurun, dalam ilmu hadis sangat mempengaruhi kevalidan hadis dari sisi sanad.

Hadis yang dihasilkan dari rawi yang kedhabitannya tidak tam (tidak sempurna) atau karena suul hifdzi (kurang bagus hafalannya) ataupun pikun membuat hadis yang diriwayatkannya menjadi dhaif.[2] Maka dengan sendirinya riwayat Hisyam menjadi tertolak.

Melihat kembali Tahun Kelahiran Aisyah

Untuk melihat berapa umur Aisyah ketika dinikah Nabi adalah dengan melihat dan merunut peristiwa yang terkait dengan kehidupan Aisyah dan keluarga dekatnya. Ada beberapa data dibawah ini yang menguatkan Aisyah dinikahi Nabi bukan pada usia 6 atau 9 tahun :

Menghitung usia Aisyah r.a. pada saat ia dinikahkan dengan Rasulullah ada baiknya melihat kehidupan kakak kandung Aisyah yang bernama Asma. Menurut Abdurahman ibn Abi Zannad : “Usia Asma 10 tahun lebih tua dari Aisyah”.[3] Asma dikaruniai usia yang panjang hingga 100 tahun. Beliau meninggal dunia pada tahun 73 atau74 tahun Hijriyah.[4] Sementara hijrah muslimin ke Madinah terjadi pada tahun 622 H, sehingga dapat dikatakan Asma hijrah pada usia 27 atau 28 Hijriyah. Aisyah mulai hidup serumah dengan Nabi di Madinah pada tahun 623/624 Hijriah, jika dikaitkan dengan selisih umur Aisyah yang terpaut 10 tahun dengan Asma, maka pada saat Aisyah hijrah ia berumur 17 atau 18 tahun. Kemudian Aisyah mulai tinggal serumah dengan Rasulullah sebagai suami istri satu tahun setelah hijrah yaitu 623 H, maka Aisyah kala itu berarti berumur 18 atau 19 tahun.

Dalam riwayat yang lain, berdasar pendapat Imam Thabari dalam kitabnya Taarikhul Umam mengatakan bahwa anak-anak Abu Bakar lahir pada masa zaman Jahiliyah, dan Aisyah lahir pada tahun ke empat sebelum kenabian tepatnya 606 H, kemudian dinikahi Nabi tahun 620 H, baru 3 tahun kemudian atau tepatnya 623 H ada yang menyatakan 624 H, Aisyah hidup bersama Nabi dalam rumah tangga. Jadi jika dirincikan maka 14+3+1 =18 sebagai usia Aisyah sebenarnya tatkala dinikahi oleh Nabi.[5]

Berdasarkan penulusuran dua riwayat tadi, membuka kenyataan-tanpa mengurangi penghormatan terhadap kebesaran Bukhari dan Muslim- adanya hadis dha’if dalam Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim. Akan tetapi itu tidak menjadi masalah karena diperbolehkannya meriwayatkan hadis dha’if.

Sebagaimana yang di sepakati para ulama dalam ilmu hadis bahwa hukum meriwayatkan hadis dhaif (bukan maudhu’) dan memudahkan dalam meriwayatkan dengan tanpa menjelaskan kedhaifannya itu boleh asal disertai dengan dua syarat :

Tidak berhubungan dengan akidah

Bukan menjelaskan hukum syariat yang berkaitan dengan halal dan haram

Maka ketika ada yang menggugat keberadaan kritik atas hadis usia Aisyah pada saat menikah bukan berarti suul adab terhadap Imam Bukhari dan Imam Muslim, karena dalam tradisi hadis disepakati bolehnya meriwayatkan hadis dhaif asal memenuhi dua persyaratan tersebut di atas. [6]

Imbas Pernikahan Anak

Ada banyak akibat negatif jika pernikahan dilaksanakan dalam kondisi belum cukup umur antara lain kesehatan reproduksi, perkembangan fisik dan mental atau labil secara emosional, ekonomi, pendidikan juga terhadap kemampuan anak untuk meraih hak-haknya. Merunut peristiwa pernikahan anak-anak yang terjadi penyebabnya adalah multikompleks. Kebanyakan karena alasan adanya kehamilan di luar nikah atau alasan beban ekonomi.

Perkawinan yang melibatkan anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun mempunyai unsur kuat paksaan karena : pertama, Anak biasanya belum mempunyai kapasitas untuk memahami konsekuensi perkawinan dan belum dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang cukup. Kedua, anak biasanya mempunyai pilihan yang terbatas untuk bertahan terhadap tekanan keluarga dan komunitas menyangkut perkawinan.[7]

Alquran Surat an- Nisa 19 sudah menyatakan larangan menikahi perempuan dengan jalan paksa. Begitupun hadis yang menganjurkan adanya izin dari yang bersangkutan, meski Islam membolehkan hak ijbar (memaksa) bagi wali anak.

لا تنكح الثيب حتي تستاْمر ولا البكر الا باذ نها قالوا يا رسول الله وما اذنها قال أن تسكت

( Sunan abu Daud, 290)

“Tidaklah dinikahkan seorang hamba hingga ia diperintah, dan tidak dinikahkan seorang gadis kecuali dengan izinnya.”

Hak ijbar ada dalam Islam diartikan sebagai suatu tindakan untuk melakukan sesuatu atas dasar tanggung jawab. Berdasar pengertian ini ijbar berbeda dengan ikrah, yang mempunyai pengertian paksaan terhadap seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak hati dan nuraninya namun tidak mampu melawannya karena ancaman yang membahayakan jiwa dan tubuhnya. Karena ijbar terkait dengan pemberian tanggung jawab kepada ayah atau kakek untuk memilihkan pasangan yang baik, yang tidak membahayakan anak, maka ijbar dibatasi dengan beberapa syarat. Antara lain tidak adanya permusuhan antara calon suami, ayah dan kakek, adanya mhar mitsil ( mahar perempuan lain yang setara), calon suami tidak akan melakukan tindakan yang akan menyakiti calon istrinya. Dalam praktiknya sekarang, ijbar dilakukan dengan ikrah, sehingga arti ijbar menjadi bias dan cenderung berkonotasi ikrah.

Pada beberapa orang tua di pedesaan, kewajiban pengasuhan terhadap anak hanya sampai batas baligh atau pubertas. Ketika anak perempuan sudah mengalami menstruasi dalam satu tahun pertama anak-anak dinikahkan atau diperintahkan untuk bekerja. Ironisnya, kondisi ini diperkuat oleh banyaknya hukum dan praktik yang menganggap pubertas sebagai usia minimum perkawinan. Mendefinisikan pubertas sebagai usia minimum perkawinan adalah problematik. Karena secara medis pubertas adalah sebuah proses yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dari pada sebuah peristiwa khusus yang tunggal.

Praktik adat kerap menyatakan dimulainya menstruasi sebagai indikasi bahwa gadis kecil telah mencapai pubertas.[8] Masalahnya pada era sekarang masa menstruasi seorang gadis lebih cepat datang dibanding masa lalu. Kerap ditemukan usia kelas lima dan kelas enam SD telah mendapatkan menstruasi pertama, ini dikarenakan banyak faktor yang antara lain makan makanan instant, vitamin yang dikonsumsi dan lain-lain. Pertanyaanya, apakah kondisi seperti ini dapat ditentukan usia minimum perkawinan, jika menstruasi pertama dianggap sebagai pubertas?

Perkawinan anak-anak atau perkawinan dini dapat dicegah dengan sosialisasi bahaya perkawinan anak dan adanya kesadaran memperoleh pendidikan yang tinggi di masyarakat. Kesadaran akan kesiapan mental dan fisik sebagai keharusan dalam pernikahan karena pernikahan akan dibina hingga akhir hayat sebagai komitmen “mitsaaqan ghaliiza”.

Kesiapan fisik yang diperlukan antara lain kematangan alat reproduksi yang akan difungsikan setelah menikah, terutama perempuan yang menjalankan proses reproduksi saat memulai berhubungan seksual, hamil, melahirkan, hingga menyusui. Pemaksaan dalam fungsi alat reproduksi yang belum matang akibat pernikahan anak akan membawa dampak kerusakan alat reproduksi bahkan membawa kematian, Sementara kesiapan mental sangat dibutuhkan karena perkawinan akan mengakibatkan munculnya hak dan kewajiban bagi pasangan agar mampu saling menghormati, tenggang rasa menghargai hak pasangan dan saling bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan seksual masing-masing, tugas domestik maupun publik.[9] Nigeria adalah salah satu contoh negara yang berhasil menurunkan angka pernikahan anak setelah pemerintahnya mengkampanyekan bahaya pernikahan anak dan adanya peningkatan yang signifikan terhadap pendidikan warganya

Secara umum pernikahan dini merampas sebagian besar hak anak antara lain: pengalaman belajar, dipaksa untuk menanggung beban wanita dewasa disaat usia muda, menanggung kekalahan dalam relasi kuasa atas keluarga atau suaminya yang bisa jadi jauh lebih tua. Dalam beberapa kasus, perkawinan anak mengalami ketimpangan kekuasaan berbasis gender yang disebabkan minimnya pengetahuan dan pengalaman yang membuat istri anak-anak tidak mampu menegosiasikan problem dalam interaksi sosial dengan suaminya. Secara seksual, mereka juga tidak pernah merasakan rasa nyaman dan kepuasan terkait dengan ketidakmatangan fisik dan menyebabkan resiko lebih besar dalam masalah-masalah kesehatan terkait kehamilan dan melahirkan anak, termasuk kematian ibu, vesico-vaginal fistula (VVF) [10] yang secara sederhana diartikan sebuah keadaan yang menimpa ibu melahirkan akibat persalinan yang lama atau karena penanganan yang tidak baik, dimana pasien akan merasakan dampak psikis dan psikososial karena senantiasa mengeluarkan urine dan bau yang tidak sedap setiap saat. Pasien yang mengalami ini akan dijauhi oleh rekan kerjanya bahkan ditinggalkan suaminya. Dan anal fistula[11] adalah sebuah penyakit yang penyebabnya adalah peradangan di dalam dubur tepatnya dari kelenjar anal (krypto grandural). Jika peradangan sampai kebawah kulit disekitar dubur kulit menjadi merah, sakit dan ada benjolan yang biasa disebut bisul, jika memecah nanah akan keluar dan luka mengering. Ada dua kemungkinan, bisa sembuh total atau sembuh dengan meninggalkan lubang kecil yang terus menerus mengeluarkan cairan nanah bercampur darah, meski tidak sakit ini mengganggu kehidupan sehari-hari.

Jika ini terjadi, maka sisi –sisi nilai kemanusian menjadi terkoyak hanya karena pernikahan yang dipaksakan kepada anak-anak. Secara maqashid syariah pernikahan anak-anak melanggar al Ushul al-khamsah yaitu menyalahi menjaga nyawa (hifdzun nafs), menjaga keturunan( hifdzun nasl) menjaga akal (hifdzul aql) sekaligus menjaga kehormatan (hifdzul irdh), Tentu kondisi ini sangat bertentangan dengan tujuan perkawinan dalam islam. Maka ikhtiar dan usaha sosialisasi kita untuk menghentikan pernikahan anak adalah sebuah keharusan dan menjadi bentuk ibadah sosial kita dalam khidmah kepada komunitas. Wa Allah ‘alam bisshawab. {}



Catatan Belakang :

[1] Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Tahzib al Tahzib. Dar Ihya AL-turats al-Islami, jilid II, hal.50

[2] Mahmoud At Thuhan, Taysirul Musthalah Hadits, hal.30

[3] Ath- Thabari, Tarikh Al Mamluk, jld 4, hal. 50

[4] Al Atsqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 645

[5] Kholid Shalah, Roisut tahrir Alyawmu Asabii,

[6] Mahmud Thuhan, Taysirul Musthalah Hadits, hal. 54

[7] LKiS, mengenal hak kita, hal.112

[8] Ibid, hal 112.

[9] Rahima, Keluarga Sakinah Perspektif Kesetaraan, 2002

[10] Lihat tulisan berjudul : apa itu fistula: Gejala, Penyebab, diagnosis dan cara mengobati, sebagaimana diunduh dari situs http://www.docdoc.id

[11] Lihat tulisan berjudul : Anal Abses dan Anal Fistula, 70516, seperti yang diunduh dari situs http://www. indonesiaindonesia.com

Published in Dirasah Hadits
Monday, 10 April 2017 18:17

Feminis Muslim di Amerika

Feminis Muslim di Amerika:

Dinamika Intelektualisme dan Aktivisme

Oleh : Diah Irawaty *)

 

Gambaran tentang feminis muslim di Amerika tidaklah tunggal. Namun dalam pandangan dan bacaan saya, mereka “menjalani kehidupan feminisme” di antara dua gerakan intelektualisme dan aktivisme. Para tokoh feminis Muslim Amerika yang populer atau familiar di telinga masyarakat kita di Indonesia adalah mereka yang lebih banyak terlibat dalam intelektualisme dan kerja akademik; baik melalui dari buku-buku yang mereka tulis, ataupun kemudian karena mereka akhirnya bisa berkunjung ke Indonesia. Sebut saja, sebagai contoh, Amina Wadud, Asma Barlas, Riffat Hassan, Kecia Ali dan, jika di kalangan feminis muslim laki-laki muncul nama seperti Khaled M. Abou El Fadl, Omid Safi, dan lain-lain. Hingga kini, kita masih sangat jarang mendengar nama-nama feminis Muslim Amerika yang lebih memilih terlibat dalam kerja aktivisme di sebuah komunitas.

Sepertinya, kuatnya aspek intelektualisme dan akademik feminisme Islam di Amerika, sangat terkait dengan kuatnya tradisi akademik yang sudah sangat mapan. Di tengah dominasi gerakan intelektual dan akademik ini, sesungguhnya feminisme Muslim di Amerika juga memiliki pengalaman dinamik dalam aspek aktivisme dan kerja-kerja bersama komunitas. Menurut Hidayatullah (2011: 119) hingga periode 2000-an, dalam konteks intelektualisme, wacana gerakan feminisme Islam di Amerika lebih banyak dipengaruhi kerja-kerja interpretasi teks-teks keislaman. Sejak tahun 1980-an, karya-karya intelektual Muslim banyak bermunculan dengan fokus pada interpretasi teks yang mendasarkan argumentasi feminisme pada Alquran dan Hadis sebagai basis moral, teologis, dan politik tentang keadilan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam Islam. Gerakan pemikiran para feminis-intelektual Muslim tersebut menjadi embrio kelahiran Islamic feminist theology (Hidayatullah, 2009: 163) dimana Alquran tidak lagi dilihat sebagai kitab suci yang harus dipahami secara tunggal, literal, dan statis, tetapi sebagai teks yang terbuka atas penafsiran terus menerus.

Kemunculan feminis-intelektual Muslim dalam kerja tafsir Alquran menjadi upaya progresif karena kerja tafsir lebih didominasi penafsiran dan perspektif laki-laki yang merupakan tradisi laki-laki (Hidayatullah, 2014: 116). Wadud memperkenalkan model hermeneutika inklusif gender dalam menginterpretasikan Alquran. Kemudian, Asma Barlas mengembangkan pendekatan serupa dengan penekanan pada (re)kontektualisasi Alquran dan melihat gendered language pada teks Alquran, mengurai dan memisahkan ayat dari penafsirannya, membedakan ayat-ayat Alquran partikular dengan ayat-ayat universal, dan memahami Alquran sebagai teks yang holistik, bukan terpenggal atau terpisah (Hidayatulah, 2009, 164-167).

Aysha Hidayatulah sendiri mengembangkan metode interpretasi Alquran berperspektif feminisme yang memberi ruang pada “pengalaman dan pandangan hidup” perempuan. Menurutnya, tafsir tradisional yang terlalu literalis gagal dalam menghadirkan dimensi sejarah ketika memahami dan menafsirkan teks-teks keislaman. Karenanya, Hidayatullah mengusulkan dua metode tafsir feminisme: pertama, kontekstualisasi sejarah dan, kedua, intratekstual dengan membaca dan memahami ayat-ayat Alquran sebagai teks utuh-holistik yang “kesimpulan” atasnya tidak hanya didasarkan pada pembacaan ayat secara terpisah dan terpenggal. Dengan kontekstualisasi sejarah dan intratekstual, akan lebih mungkin bagi kita melihat visi dan misi keadilan dan keseteraan gender dalam Alquran. Hidayatullah juga menegaskan pentingnya paradigma tawhidy untuk mengklaim tafsir-tafsir yang menunjukkan superirotas dan dominasi satu kelompok manusia, misalnya laki-laki, adalah bertentangan dengan prinsip monotheisme Islam yang memercayai sepenuhnya hanya Tuhan yang Superior. Ia mengkritik metode tafsir feminisme “parsial” dengan hanya memilih teks-teks keislaman, baik Alquran maupun hadits, yang dinilai mendukung keadilan dan kesetaraan gender dan mengabaikan teks-teks yang dipandang bertentangan dan tidak memihak kesetaraan dan keadilan gender.

Menurut feminis Muslim lain, Haqqani (2016: 238), tafsir feminisme tidak fokus pada teks seperti halnya pendekatan literalis yang bias memunculkan kesimpulan tentang ayat-ayat yang seksis dan misoginis dalam Alquran. Tafsir feminisme mempercayai bahwa konteks sosial-politik patriarkhal-lah yang membuat teks-teks itu seksis dan misoginis.

Selain kerja tafsir, feminis-intelektual Muslim di Amerika juga banyak meluangkan waktu untuk merespon secara kritis pandangan-pandangan Barat tentang perempuan dan laki-laki Muslim. Misalnya tentang relasi gender, tentang pandangan seksualitas dalam Islam, yang didasari oleh pandangan etnosentrisme, orientalisme, Eurosentrisme, Westosentrisme, dan esensialisme. Dalam kacamata Barat seperti itu, masyarakat Muslim dipandang secara seragam sebagai masyarakat anti-keadilan gender, yang tidak beradab (uncivilized) dan barbar karena permisif terhadap kekerasan gender dan seksual. Laki-laki Muslim dipandang “menjijikkan” karena gemar mengumpulkan “gundik” sementara kaum perempuannya adalah korban yang sedikitpun tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan. Berjilbab dan bercadar ditafsirkan secara tunggal sebagai bentuk opresi terhadap kaum perempuan dalam masyarakat Muslim (lihat Sibai, 2015; Aswad & Bilge, 1996; Hidayatulah 2011; Curtis IV, 2008). Pandangan stigmatik dan stereotipikal terhadap situasi gender dan seksualitas masyarakat Muslim semacam itu menguat pasca tragedi 9/11 (Bayoumi, 2015, 130-131). Menyadari kondisi politik-intelektualisme ini, agenda melawan rasisme dan Islamo-phobia menjadi salah satu kekhasan yang banyak “disuarakan” para feminis Muslim di Amerika. Di antaranya, melalui upaya kritik poskolonial, menolak orientalisme, dengan melakukan “tafsir ulang” terhadap pandangan dan praktek sosial-budaya dalam masyarakat Muslim terkait kehidupan gender dan seksualitas.

Leila Ahmed salah satu yang paling aktif dan produktif melakukan kajian sejarah sosial tentang “situasi gender” dalam masyarakat Muslim. Kajian semacam ini menegaskan bahwa terdapat ideologi kolonialisme dalam konstruksi dan “imajinasi” relasi gender dan seksual dalam masyarakat Muslim. Meski demikian, kritik orientalisme dan poskolonialisme bukan berarti kita mengabaikan situasi yang memang menggambarkan ketidakadilan gender dan seksual. Kritik dekolonisasi memang seharusnya tidak membuat kalangan Muslim tidak kritis dalam melihat praktek-praktek sosial yang misogionis dan patriarkhal di dalam masyarakat sendiri.

Sementara feminis Muslim Amerika lainnya, Asma Gull Hasan, menegaskan bahwa dalam masyarakat Islam sendiri banyak seksisme yang menurutnya dipengaruhi budaya patriarkhi. Hasan sendiri memilih tidak menggunakan jilbab dengan alasan jilbab baginya merupakan bagian dari agenda politik Muslim konservatif dan memandang berjilbab sebagai kewajiban agama merupakan hal yang problematik (Hasan dalam Curtis IV, 208; Curtis IV, 179-180). Bagi Hasan, menutup aurat hanya disyaratkan ketika melakukan ibadah shalat. Yang penting di sini, kita tidak seharusnya melihat secara tunggal atau singular pandangan dan pengalaman terkait gender dan seksualitas dalam masyarakat Muslim, termasuk dalam kaitannya dengan jilbab.

 

Refleksi terhadap Feminis Aktivisme di Amerika

Feminis aktivisme di Amerika memang tidak semenonjol aktivisme di negara-negara “berkembang” seperti Indonesia. Namun sesungguhnya jalan aktivisme feminisme Muslim di Amerika juga tidak kalah dinamis dan ramai.

Sebagai contoh yang paling terlihat kasat mata, saya temui di lingkungan tempat tinggal saya, di kota Binghamton, New York. Ada dua masjid yang biasanya saya kunjungi, baik untuk keperluan shalat maupun kegiatan komunitas. Masjid di sini memang memiliki fungsi sosial yang cukup kuat. Yang menarik perhatian saya, kaum perempuan Muslim memiliki ruang cukup luas di dalam masjid, baik untuk melakukan kegiatan ibadah maupun kegiatan sosial. Segregasi atas dasar jenis kelamin tidak begitu terasa di masjid yang berlokasi di negeri Paman Sam ini. Perempuan juga menjadi ustadzah dalam berbagai pendidikan keislaman yang dikelola kedua masjid tersebut. Menariknya, di salah satu masjid, saya menemukan pamflet tentang tafsir berperspektif feminisme terhadap praktek poligami dalam Islam. Inilah salah satu contoh kecil dinamika aktivisme feminisme Islam di Amerika yang tidak banyak terekspos.

Salah satu yang paling khas dalam aktivisme gerakan feminisme Islam di Amerika terkait dengan gerakan melawan rasisme dan Islamo-phobia yang menjadikan identitas gender dan seksual sebagai bahan bakunya. Banyak perempuan yang dengan teguh menunjukkan identitas politik Islamnya, termasuk lewat jilbab atau menonjolkan nama “berbau” Islam. Gerakan melawan rasisme dan Islamo-phobia ini juga sering menjadi “media interseksional,” menjadi space bagi terbangunnya solidaritas di antara perempuan-perempuan Muslim dengan beragam ras. Tidak peduli identitas rasnya, entah Amerika Putih, Amerika Hitam, Asia, Arab, Karibia, Latin, kita bisa melihat perempuan Muslim berinteraksi bersama, menonjolkan “identitas politik Islam”, dan, salah satunya, menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan.

Di luar masjid, kita juga bisa menemukan aktivisme-feminis Muslim Amerika yang lain. Salah satunya adalah Khalida Said yang aktif memperjuangkan hak-hak kelompok lesbian Muslim (LGBTQ) dan mendukung mereka yang memutuskan “coming out of the closet” (Curtis IV, 231). Aktivisme juga berkembang di dunia kampus melalui Asosiasi Mahasiswa Muslim (Muslim Students Association) yang aktif mengadakan kegiatan seperti melakukan kegiatan sosial bersama, dialog antar agama dan sharing pandangan dan pengalaman tentang keislaman, termasuk isu-isu perempuan.

Sebagai catatan akhir, kerja intelektualisme maupun aktivisme dalam gerakan feminis Islam di Amerika sesungguhnya tidak menjadi segregasi yang menghalangi konsolidasi gerakan. Nyatanya, keduanya bisa saling “mengisi” dan “menguatkan” di saat masih banyak ketidakadilan gender dan seksualitas di kalangan masyarakat Muslim sendiri dengan menjadikan ajaran Islam sebagai alat legitimasi. {}

 

*) Penulis adalah mahasiswa Ph.D. Sociocultural Anthropology, SUNY-Binghamton, New York, Amerika Serikat.

Published in Teropong Dunia

INFO SR-51

Kerjasama UNICEF dengan Rumah KitaB dan Rahima untuk

Program Penghapusan Pernikahan Anak

Kampanye untuk mengakhiri perkawinan anak di Indonesia telah banyak dan masif dilakukan. Kegiatan itu melibatkan berbagai pihak seperti Pemerintah Pusat, Daerah dan para pemangku kepentingan. Jumlah kasus pernikahan anak kurang menunjukkan penurunan angka yang signifikan. Hal ini memperlihatkan masih ada kesenjangan antara kampanye/upaya untuk mengakhiri praktik ini dengan fakta-fakta lambannya penurunan angka perkawinan anak.

Atas dukungan dari UNICEF, BPS menyampaikan laporan berdasarkan data dari SUSENAS dan Sensus Penduduk 2010 tentang pernikahan anak di Indonesia 2008-2015. Data itu menunjukkan bahwa meskipun angka perkawinan anak menurun, namun 23% perempuan di Indonesia dewasa ini masih menikah di bawah umur 20 tahun. Faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan anak antara lain pendidikan, tempat tinggal (lokasi geografis), status ekonomi, serta perlindungan sosial dan kesehatan. Sementara itu penelitian Rumah Kitab di 9 wilayah di Jawa NTB dan Makassar menunjukkan bahwa perkawinan anak dapat terkondisikan karena adanya kelembagaan-kelembagaan yang memungkinkan terjadinya perkawinan anak. Lembaga formal, non-formal serta adanya kekuasaan-kekuasaan lain yang tersamar sepert perasaan orang tua yang khawatir atau lingkungan yang mendesak terjadinya perkawinan.

UU No 1/1974 tentang Perkawinan menyebutkan untuk menikah di bawah umur 21 tahun, seseorang memerlukan persetujuan dari orang tua. Secara hukum perempuan telah diperkenankan menikah pada saat berusia 16 dan laki-laki pada usia 19 tahun. Namun, orang tua dapat mengajukan permohonan kepada petugas KUA atau mengajukan permohonan dispensasi nikah kepada Pengadilan Agama di tingkat kabupaten/Kotamadya. Adanya ruang permohonan dispensasi ini, juga berarti anak-anak diijinkan menikah bahkan di usia yang lebih awal/ sebelum batasan usia minimum. Artinya, UU Perkawinan tidak hanya gagal memenuhi ambang usia 18 untuk menikah yang direkomendasikan oleh Human Rights Treaty Bodies, tetapi juga menetapkan usia menikah minimum untuk anak perempuan yang lebih rendah daripada untuk laki laki. Padahal anak perempuan lebih rentan terhadap konsekuensi berbahaya dari pernikahan anak. Dengan kata lain, UU Perkawinan sulit melindungi anak-anak perempuan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) dan Koalisi 18+ tentang dispensasi nikah menunjukkan bahwa sekitar 97 persen kasus pernikahan anak dikeluarkan oleh Peradilan Agama. Umumnya karena desakan orang tua yang kuatir terjadi hubungan seksual dan perbuaan dosa (akibat berhubungan seksual sebelum menikah). Hal ini jelas menunjukkan bahwa pernikahan anak terjadi tidak hanya karena persyaratan legal yang kurang, tetapi juga didasarkan pada argumentasi yang sangat subjektif.

Rumah Kitab telah menerbitkan 12 buku tentang studi pernikahan anak di lima provinsi di Indonesia. Studi ini melihat adanya pengaruh lembaga formal dan informal serta pandangan keagamaan yang diabadikan melalui kepercayaan dan praktek budaya yang dilembagakan, untuk mempengaruhi terjadinya pernikahan anak, di antaranya para pejabat dari KUA, Petugas P3N dan Penghulu. Negara memiliki mekanisme untuk menikahkan pasangan di bawah umur secara hukum melalui ‘dispensasi’ pernikahan, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Sementara, pendapat fiqih juga lebih sering digunakan sebagai sumber hukum daripada sumber hukum perdata. Dalam kaitannya dengan perkawinan, hukum fiqih dianggap sebagai sumber hukum yang juga punya kekuatan hukum

Kabupaten Sumenep dan Probolinggo di Jawa Timur menunjukkan praktik perkawinan anak yang relatif tinggi, 24,5 persen pada tahun 2015, di atas rata-rata angka nasional yang 23,6 persen. Oleh karena itu, Rumah KitaB dan Perhimpunan Rahima telah merancang sebuah program untuk memfasilitasi para Bupati agar berkomitmen untuk mengakhiri pernikahan anak di wilayahnya. Hal ini dilakukan melalui kegiatan yang berfokus di wilayah kerja di tingkat Kabupaten, melalui kerjasama dengan UNICEF. Progam ini dilaksanakan di Jawa Timur terutama di kabupaten Probolinggo dan kabupaten Sumenep sejak awal 2017 lalu.{} AD. Eridani

Published in Info

Khazanah SR 51

Saat Konsep ‘Hudud’ Dikaji dan Penerapannya Dikritisi

 

 

Judul Buku : Kajian tentang Hukum dan Penghukuman dalam Islam : Konsep Ideal Hudud dan Praktiknya (Serial Kertas Kerja tentang Pluralisme Hukum di Indonesia)

 

 

Penulis : Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm dan Imam Nahei, MHI.

 

 

Penerbit : Komnas Perempuan, Jakarta

 

 

Cetakan : Pertama

 

 

Jumlah Halaman : xxii + 286 halaman

 

 

ISBN : 978-602-330-017-4

 

 

Tahun Terbit : 2016

 

Geliat tuntutan penerapan Syariat Islam secara kaaffah yang mengemuka di berbagai daerah tidak terlepas dari fenomena fundamentalisme keagamaan (baca : Islam) yang juga marak akhir-akhir ini. Dalam pandangan gerakan kaum Islamis ini, aturan-aturan yang dibuat oleh manusia dipandang telah gagal menciptakan hukum yang berkeadilan dan berkemanusiaan. Sehingga jargon “Inna al-hukma illa li-Allah. Yaqush-al-haqq wa Huwa Khair al-Faashilin” (Hukum yang benar hanya milik dan dari Tuhan. Dialah Pemutus Yang Paling Baik) senantiasa dikobarkan dan disosialisasikan (hal. ix). Dan salah satu penanda akan tuntutan penerapan Syariat Islam itu, adalah melalui penerapan hukum tentang Hudud (Pidana Islam) terhadap kasus-kasus yang dipandang berdimensi kriminal dan moralitas, seperti pencurian, pembunuhan dan perzinahan. Dimana beragam bentuk hukuman seperti qishash, ta’zir, jilid, dan rajam diberlakukan.

Komnas Perempuan menerbitkan buku ini dalam seri kertas kerja tentang Pluralisme Hukum di Indonesia, untuk menjawab tantangan pluralism hukum dan bagian dari upayanya untuk ikut menjaga sistem hukum nasional dan mendorong dihapuskannya segala bentuk penghukuman yang kejam, tidka manusiawi, dan merendahkan martabat perempuan (hal vi dan vii). Selama ini, belum banyak buku dan ulasan yang secara komprehensif mempersoalkan isu Hudud tersebut. Oleh karenanya, tulisan yang disajikan oleh Dr. Nur Rofiah Bil Uzm dan Imam Nahe’i, MHI ini telah mengisi ruang kosong mengenai kajian kritis terhadap konsep-konsep dalam pidana Islam yang selama ini hanya dikenal sekilas dalam berbagai kitab Fiqh dan juga implementasi atau praktik-praktiknya di lapangan yang ternyata juga sangat beragam. Penting pula untuk dicatat, bahwa dalam isu Hudud selama ini perspektif perempuan kurang diperhitungkan. Sehingga persoalan mengenai kesaksian perempuan dalam kasus perkosaan, harapan pada perempuan sebagai penjaga moralitas, dll. seringkali menempatkan perempuan korban justru rentan dikriminalisasi.

Buku yang terdiri dari 7 bab ini (Bab I Bangunan Teologi Islam, Bab II Filosofi Hukum Islam, Bab III Hudud dalam Tatanan Hukum Islam, Bab IV Potret Hudud Pada Masa Kini, Bab V Refleksi Atas Penerapan Hudud, Bab VII Ikhtiar Pemahaman Ulang Hudud, dan Bab VIII Penutup) berusaha untuk menjelaskan dinamika konsep Hudud dalam konteks diskursus Fiqh yang berkembang di masa lalu, maupun implementasinya di beberapa negara muslim dalam perkembangan kontemporer. Penulis dalam buku ini juga menjelaskan perbedaan mendasar antara Syariah dan Fiqh (hal.49), dialektika antara teks dan konteks (hal 42), kaitannya dengan Tauhid dan Kemanusiaan sebagai misi profetik (hal 20) yang menjelma dalam maqashid syariat (hal.38) adalah beragam tema yang perlu dipahami sebelum Hudud diterapkan (hal 95 dan hal 180). Mengambil contoh penerapan hukum potong tangan, cambuk dan rajam di berbagai negara seperti Indonesia, Iran, Arab Saudi dan bagaimana posisinya di dalam hukum positif mereka, banyak dielaborasi di buku ini. Oleh karenanya, buku ini penting dipelajari sehingga kita bisa memahami isu hudud secara komprehensif, dan tentunya dengan perspektif yang adil gender.

Secara kritis, dalam buku ini juga diulas bagaimana politisasi agama melalui isu moralitas dilakukan dengan membuat aturan yang terkait dengan kontrol atas tubuh perempuan. Hadirnya ratusan perda dan kebijakan diskriminatif seperti dengan bahasa ‘larangan pelacuran’, ‘anti maksiat‘, pemberlakuan jam malam bagi perempuan, wajib berbusana muslimah dll. dapat menjadi indikasi awal bahwa Hudud secara perlahan hendak diberlakukan. Hal ini juga bisa ditelisik tentang hadirnya Qanun Jinayat di Aceh yang sangat patriarkhis dan mengabaikan maqashid syariat sebagaimana konteks sosio-kultural ini mewarnai perbincangan tentang konsep-konsep yang dirumuskan oleh para Fuqaha’ di masa lalu. Bila pengalaman perempuan diabaikan dan perspektif tentang tujuan agama (maqashid syariat) hilang dalam perbincangan hukum pidana Islam, kepada siapa lagikah mereka berharap bahwa keadilan bisa ditegakkan? {} AD. Kusumaningtyas

 

Published in Khazanah
Monday, 10 April 2017 18:02

Minta Cerai Karena SUami Berselingkuh

Tanya Jawab SR 51

Minta Cerai Karena Suami Berselingkuh

Diasuh oleh : KH.Muhyiddin Abdusshomad

Assalamu'alaikum, Pak Kyai.

Saya Dian 26 th. Suami 29 th. Saya menikah sudah 2 tahun 5 bulan. Di satu tahun pernikahan, saya sering ribut dengan suami karena ia sering pulang tengah malam dengan alasan yang nggak jelas. Karena sering ribut, dia jadi jarang pulang. Pernah satu minggu dia nggak pulang, lalu saya telpon dia memintanya untuk pulang. Saya katakan begini di telpon,“Kalau kamu nggak pulang malam ini, berarti kita cerai”. .Suami menjawab bahwa dia tidak mau pulang. Lalu saya bertanya sekali lagi,"Berarti kita cerai". Suami menjawab "Iya". Bagaimana hukumnya dengan perkataan seperti itu, apakah cerainya sah atau tidak?

Setelah satu bulan, suami pulang. Saya ingin ijab lagi karena takut perkataan cerai sebulan yang lalu itu sah. Tapi suami nggak mau, dia bilang karena bukan dia yang meminta cerai. Setelah 3 bulan dari masalah itu, tiba-tiba suami mengaku kalau dia selingkuh dan sudah berzina. Sekarang selingkuhannya minta dinikahi. Saya minta cerai ke suami tapi sampai sekarang dia nggak mau menceraikan saya. Sedangkan keluarga dari perempuan yang dia zinahi minta dia bertanggungjawab menikahi perempuan itu secepatnya. Saya bilang,” Kalau kamu mau nikahi perempuan itu, ceraikan dulu saya. Tapi kalau kamu nggak mau ceraikan saya, kamu selesaikan dulu masalah dengan perempuan itu dan keluarganya” "Mohon jalan keluar seperti apa yang harus saya ambi, Kyail?

Wassalam.

Jawaban:

Mbak Dian yang kami hormati..

Setiap pasangan yang menikah pasti yang diinginkan adalah kebahagiaan dan ketentraman. Rumah tangga yang didasari atas prinsip saling mencintai, menghargai, menghormati serta saling setia, percaya dan bermitra. Namun terkadang kita tidak bisa menolak kenyataan hidup yang sepenuhnya bertolak belakang dengan keinginan kita tersebut. Ada pengkhianatan, sikap superior, penghinaan, pelecehan dan lain sebagainya.

Dalam kondisi inilah Islam membolehkan perceraian sebagai solusi terakhir atas kemelut rumah tangga yang terjadi. Perceraian adalah perkara halal yang sangat dibenci Allah swt., namun dibolehkan untuk kemaslahatan pasangan yang berseteru. Dalam hal perceraian, Islam memberikan hak bercerai kepada suami. Suami yang melakukan akad nikah sebagai ikatan suci pernikahan, maka wajar kalau ia diberikan prioritas utama untuk memutus ikatan yang telah dikukuhkan itu.

Tetapi bukan berarti tertutup peluang bagi pihak istri untuk memutuskan hubungan pernikahan. Fiqh Islam memberikan hak kepada istri untuk meminta bercerai. Dalam istilah fiqh hak ini disebut khulu’. Namun keputusan akhir dari permintaan ini tetap pada suami. Bisa juga diputuskan oleh Hakim di pengadilan.

Kalimat yang digunakan oleh suami untuk melaksanakan thalaq ada dua kemungkinan. Pertama, kalimat yang jelas atau sharih, misalnya dengan perkataan, ”Aku ceraikan kamu” atau “Aku talak kamu.” Pada jenis ini, langsung jatuh talak. Kedua, berupa sindiran atau kinayah, misalnya “Pulanglah ke rumah orang tuamu” atau “Hubungan kita cukup sampai di sini.” Ucapan ini bisa berakibat jatuh talak ketika disertai niat dari suami untuk menceraikan istrinya.

Tentang jawaban “Iya” dari suami atas pertanyaan “Apakah kamu menceraikan istrimu?”, ulama memberikan beberapa klasifikasi. Pertama, Bagi orang yang bertanya bertujuan agar suami menjatuhkan cerai, maka terjadilah perceraian. Kedua, jika hanya meminta klarifikasi atas perceraian yang telah terjadi, maka talak tidak terjadi. (Bughyatul Mustarsyidin, 472).

Saudari Dian yang kami banggakan,

Mengikuti sesuai dengan kaidah fiqh yang telah kami sampaikan tadi, maka jawaban suami anda “iya” sebagai respon atas permintaan saudara sudah termasuk talak. Dengan mengatakan "iya" sebagai jawaban atas pertanyaan Anda "Berarti kita cerai?”, maka terjadilah perceraian yang sesungguhnya.

Selanjutnya, apakah perlu perlu nikah lagi? Jawabannya adalah anda tidak perlu ijab kabul lagi. Dalam hal ini ulama menyatakan bahwa apabila masih belum sampai talak tiga, maka suami bisa rujuk' tanpa harus akad lagi. Dengan catatan perempuan tersebut belum lepas masa iddah. Nikah ulang dilaksanakan manakala pasangan tersebut ingin kembali setelah masa iddah selesai.

Tentang tata cara rujuk, sebagian ulama mengharuskan adanya ucapan dari suami untuk rujuk. Misalnya dengan mengatakan “Aku rujuk padamu”. Namun ada pula yang tidak mewajibkannya. Cukup dengan kembali “berkumpul” lagi dengan istri sudah terjadi rujuk.

ولا تحصل بفعل كوطء وإن قصد به الرجعة؛ لأنه يوجب العدة فكيف يقطعها، وفي وجه: تصح بالوطء والقبلة والمباشرة بشهوة (النحم الوهاج في شرح المنهاج، 8/11)

“Rujuk tidak bisa terjadi dengan perbuatan misalnya hubungan seksual. Namun menurut pendapat lain, rujuk bisa sah dengan adanya hubungan seksual, mencium dan membelai istri disertai syahwat.” (An Najmul Wahhaj, 8 11).

Saudari Dian yang kami banggakan.

Hal terakhir yang ingin kami sampaikan di sini, secara pribadi kami memberikan apresiasi penuh terhadap ketegasan anda dalam memberikan opsi kepada suami anda. Memang itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri. Fakta bahwa persoalan poligami sudah disinggung dalam Alquran dan hadis, menurut sebagian ulama hal ini tidak berarti harus selalu diterima atau tidak bisa ditolak. Ketika di dalamnya berpotensi menyulut konflik yang besar dalam keluarga, maka istri bisa bahkan harus menolak.

Ibn Hajar al Asqallani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan:

وَمَعَ ذَلِكَ فَقَدْ مُنِعَ مِنْ ذَلِكَ فِي الْحَالِ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنَ الضَّرَرِ فِي الْمَآل

“Bersamaan dengan adanya kebolehan poligami, maka sungguh poligami itu dilarang karena menghindari mudorot yang akan terjadi di masa yang akan datang.“(Fathul Bari, 9/329).

Berdasarkan pendapat ibn Hajar ini, kebolehan istri menolak poligami adalah sebagai tindakan preventif (Saddu al Dzari’ah) untuk menghindari terjadinya potensi konflik yang sangat mungkin terjadi dalam keluarga poligami. Dan dengan alasan inilah Fathimah putri Nabi pernah menolak ketika Sayyidina Ali menikah lagi dengan putri Abu Jahal dan Nabi pun mendukung keputusan putrinya itu.

Demikian jawaban kami, Mbak Dian. Mudah-mudahan turut memberikan solusi atas persoalan yang sedang Anda hadapi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Published in Tanya jawab

Jaringan SR-51

PP. Al Manshur Popongan Klaten :

 

 

Pesantren Thariqat yang Peduli Perempuan

Pondok Pesantren Al-Manshur dinisbatkan kepada nama pendirinya, KH.M.Manshur atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Manshur. Berawal dari kisah perjuangan seorang putra mursyid Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Mujadadiyah Al-Kholidiyah, KH. Abdul Hadi dari Giri Kusumo Demak, KH. M. Manshur atau Mbah Manshur menuntut ilmu di pondok pesantren Jamsaren Solo. Beliau ditugaskan oleh KH.M.Idris Jamsaren untuk mengajar di sebuah dukuh bernama Popongan; yang masyarakatnya kala itu tergolong abangan dan kering akan ilmu agama.

Di sana Mbah Manshur mulai memperkenalkan dan mengajarkan ilmu-ilmu dasar agama meliputi pengajian Alquran, ilmu aqidah dan syariat sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat itu. Kemudian oleh H. Fadhil seorang tokoh masyarakat Popongan, Manshur muda dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Maryam (Nyai Kamilah) binti Fadlil serta diminta untuk mengajarkan agama di Popongan. Semakin lama semakin banyak orang yang tertarik untuk belajar agama Islam dari beliau bahkan dari luar daerah Popongan sendiri. Karena banyaknya santri dari luar daerah yang turut mengaji dengan beliau, maka didirikanlah sebuah pondok pesantren yang dinamakan Pondok Popongan.

PP. Al Manshur Popongan: Rujukan Thariqah Bidang Tasauf

Dalam berdakwah, KH.M. Manshur tidak setengah-setengah. Setelah mengajarkan ilmu-ilmu syariat, beliau pun mulai menyampaikan ilmu-ilmu thariqah sesuai dengan yang telah diwariskan oleh ayahanda beliau. Sebagai seorang mursyid, beliau tidak memaksakan namun menuntun santri-santri yang siap untuk berbaiat menjadi anggota jamaah Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Mujadadiyah Al-Kholidiyah. Jamaah thariqah ini berasal dari berbagai penjuru baik itu dari wilayah Klaten sendiri maupun luar daerah Klaten. Kemudian beliau mulai mengkader cucunya yang bernama KH.M. Salman Dahlawi (1935-2013) yang meneruskan perjuangan beliau mengasuh pondok pesantren dengan kekhususan di bidang tasawuf.

Sejak usia 18 tahun sepulang dari menuntut ilmu di pondok, Mbah Manshur mulai melihat potensi kemursyidan pada diri cucunya. Salman muda pun mulai diarahkan untuk berbaiat menjadi badal /pengganti mursyid thariqah sampai KH.M.Manshur wafat pada tahun 1955. KH.M. Salman Dahlawi melanjutkan posisi beliau sebagai mursyid. Keberlanjutan tersebut yang membuat nama besar Popongan menjadi rujukan pesantren thariqah dari berbagai daerah. Dakwah thariqah beliau ini lanjut ke berbagai daerah seperti Purwodadi, Demak, Rembang, Pati, Kudus, Ngawi, Riau dan sebagainya hingga mencapai ribuan jamaah.

Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Mujadadiyah Al-Kholidiyah Popongan memiliki kegiatan periodik yaitu suluk yang dilaksanakan selama 10 hari setiap bulan Muharram, Rajab, Rabiul Awwal dan Ramadhan. Suluk dalam Thariqah ini merupakan serangkaian kegiatan ibadah dalam rangka pendekatan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas iman yang antara lain dengan berpuasa, menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi, tawajjuhan dan lain-lain. Pengikut thariqah ini mayoritas adalah lansia, sehingga kawasan kompleks pondok ini biasa disebut dengan pondok sepuh.

Menjawab Kebutuhan Umat dan Tantangan Zaman

Selain memiliki spesialisasi di bidang tasawuf, pondok pesantren ini juga memiliki guru besar Alquran yaitu KH. A. Djablawi yang merupakan salah satu santri khusus KH. Abdul Qodir Munawwir Krapyak Yogyakarta. Bersama KH. M. Salman Dahlawi, beliau diberi kepercayaan oleh KH. M. Manshur untuk berdakwah di bidang ilmu Al-Qur’an. Pengajian Al-Qur’an dari ilmu dasar iqra’ sampai tahfidzul qur’an ditangani langsung oleh KH. A. Djablawi dan istri Ny. Hj. Sumairiyah Muqri (kakak kandung KH. M. Salman Dahlawi). Beliau membimbing para santriwan-santriwati dari berbagai kalangan dan usia, baik itu dari anak-anak sampai lansia, yang mondok maupun santri kalong dan penduduk setempat maupun luar daerah. Beliau membumikan Al-Qur’an dengan cara mengadakan simaan Al-Qur’an di beberapa daerah wilayah Klaten. Beliau juga telah berhasil melahirkan ratusan huffadzul Qur’an.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan masyarakat akan ilmu agama kian meningkat. Sepeninggal KH.M.Manshur, beliau berdua yakni KH. A.Djablawi dan KH. M. Salman Dahlawi sebagai tokoh agama bersama keluarga besar dan tokoh masyarakat lainnya saat itu bersepakat untuk mendirikan lembaga pendidikan formal pada tahun 1960-an dan mulai meresmikan nama pondok pesantren Al-Manshur pada tanggal 21 Juni 1980. Adapun lembaga pendidikan formal yang sampai saat ini dinaungi oleh pondok pesantren Al-Manshur antara lain: PAUD, TK, MTs dan MA.

Sedangkan pengembangan bangunan pondok sampai saat ini terdapat empat perkomplekan; 1) satu komplek pondok sepuh yang dulu diasuh oleh Alm.KH. M. Salman Dahlawi dan sekarang dilanjutkan oleh putranya kyai M. Multazam Al-Makky, 2) satu pondok putra yang dulu diasuh oleh Alm. KH. M. Salman Dahlawi dan sekarang dilanjutkan oleh putranya KH.M. Miftahul Hasan’, 3) dua pondok putri yang mana satu diasuh oleh KH. Nasrun Minallah (cucu KH.M. Manshur)’ dan yang satu dulu diasuh oleh Alm. KH. A. Djablawi yang sekarang diteruskan oleh putranya Kyai. M. Arwani. Oleh karena itu kegiatan pondok pesantren ini disinkronkan dengan jadwal sekolah. Di Pondok, para santri mengikuti pengajian Kitab Kuning, pengajian Alquran tiap Ba’da Shubuh dan kemudian waktu ba’da Maghrib sampai ba’da Isya’. Kemudian secara rutin mingguan, kegiatan yang lain adalah ziarah maqam masyayikh, pembacaan kitab Al-Barzanji, pelatihan khithabah(pidato), pelatihan seni Qiroatul Qur’an, kaligrafi, hadrah, pencak silat (Pagar Nusa) dan kegiatan lain yang mendukung keterampilan santri.

Peduli Jamaah Perempuan

Tidak hanya fokus di bidang tasawuf dan Al-Qur’an saja, kiprah dari pondok pesantren Al-Manshur ini mampu menghidupkan kegiatan keagamaan masyarakat di dukuh Popongan, desa-desa sekitar hingga ke tingkat wilayah Kabupaten Klaten. Di antaranya adalah pengajian umum, pengajian Al-Qur’an, pengajian Shalawat Nariyah dan pembacaan kitab Al-Barzanji yang sepenuhnya melibatkan masyarakat. Pertama, pengajian umum dilaksanakan setiap hari Ahad Wage dengan partisipan masyarakat dari berbagai penjuru wilayah Klaten dan para santri pondok pesantren Al-Manshur sendiri. Selanjutnya juga pengajian umum yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Rabiul Awwal bertepatan dengan Haul Mbah Manshur, yang menjadi momen berkumpulnya seluruh jamaah thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Mujadadiyah Al-Kholidiyah dan alumni santri PP. Al-Manshur dari berbagai luar daerah.

Kedua, Pengajian Alqur’an didesain dengan simaan Alquran, Muqaddaman dan Yasinan (pembacaan Surat Yasin). Simaan Alquran secara rutin diadakan oleh ibu-ibu setiap malam Selasa dan setiap hari Selasa Legi yang bekerjasama dengan Hidmat (Himpunan Daiyah Muslimat) Muslimat NU Klaten. Simaan Al-Qur’an secara berkala yang di beberapa daerah wilayah Kabupaten Klaten itu dahulu dipimpin oleh KH. A. Djablawi dan sekarang diteruskan oleh keluarga dan para santrinya. Pengajian Al-Qur’an ini sebenarnya bukan untuk santri saja, namun juga untuk masyarakat dari berbagai usia. Seperti KH. Nasrun Minallah dan istri, Nyai Nur Hidayah yang mengampu pengajian Al-Qur’an untuk usia anak sampai remaja dari masyarakat sekitar, (Alm) KH. A. Djablawi dan istri Nyai.Hj. Sumairiyah yang membuka pengajian Alquran untuk santri kalong atau santri yang tidak mondok dan datang hanya saat ngaji saja yang kini berlangsung setiap hari Rabu pagi diikuti oleh perempuan usia dewasa hingga lansia dari masyarakat luar daerah. Sedangkan untuk ibu-ibu masyarakat sekitar (Popongan) sendiri mengadakan tadarus Alquran di masjid setiap malam Sabtu.

Adapun Pengajian Yasinan adalah kegiatan rutin ibu-ibu yang diadakan setiap hari Jum’at diisi dengan pembacaan surat Yasin, tahlil dan kajian ilmu agama. Kegiatan ini dipelopori oleh para nyai seperti (Almh) Nyai Hj. Sumairiyah Djablawi, (Almh) Nyai Hj. Mu’ainatun Salman, Nyai. Nur Hidayah Nasrun Minallah dan lain-lain pada tahun 1986 sebagai bentuk pengabdian pesantren untuk masyarakat., Komunitas ibu-ibu juga membuat kegiatan untuk Pengajian Shalawat Nariyah yang dijadwal setiap hari Selasa Pon.

Ketiga, pengajian Al-Barzanji dirintis sejak 1984 oleh salah satu putri KH. M. Salman Dahlawi, Nyai Hj. Munifatul Barroh. Alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo, oleh ayahandanya diberikan kesempatan untuk mengabdikan diri di masyarakat dengan mengasuh pengajian kitab Al-Barzanji. Dalam rangka menghidupkan pengajian desa, beliau mengumpulkan keluarga, saudara dan teman sejawatnya dengan shalawat setiap malam Jum’at. Masyarakat menyambut dengan senang hati dan secara istiqamah kini mereka telah menelurkan beberapa kumpulan pengajian Al-Barzanji yang iikuti dari anak-anak, remaja, ibu-ibu dewasa serta lansia. Pada tahun 2009, Bu Nyai Munif mewadahi kegiatan keagamaan ini melalui Jamaah (Putri) Mahabbah Rasul atau dikenal dengan JAMARI. Jamaah yang dibina ini memiliki visi-misi membumikan shalawat dalam komunitas perempuan yang berhaluan ahlussnnah wal jamaah untuk membentengi pengaruh paham-paham radikalisme terutama yang sedang mewabah di daerah Solo Raya dan sekitarnya khususnya Kabupaten Klaten.

Beberapa tokoh perempuan Nahdliyyin dari pesantren lain pun juga turut andil dalam kegiatan ini seperti Nyai Hj. Kunti Fatimah Zahro dari PP. Nurudz Dzolam, Nyai Hj. Laili Jalaludin dari PP. Al-Muttaqin, Nyai Hj. Azizah ‘Adnan dari PP. Al-Barokah, Nyai Hj. Murtiah Sontaji dari PP. Darul Qur’an, Nyai Hj. Nadzirah Harissudin dari PP. Dawar dan lain-lain.

Selain di bidang spiritual, dalam bidang sosial Nyai Hj. Munifatul Barroh bersama komunitasnya juga mengadakan santunan anak yatim dan dhuafa setiap bulan Muharram dan momen Maulud Nabi ataupun even lain ketika dibutuhkan. Pondok pesantren Al-Manshur turut andil dalam mengelola pelaksanaan ibadah haji dengan mendirikan KBIH Nurul Ummah Klaten. Berbagai isu fiqh perempuan menjadi materi penting, karena kebutuhan khusus jamaah haji perempuan yang tidak bisa begitu saja diabaikan dalam pelaksanaan ibadah haji. Selain melalui berbagai upaya pendidikan di pesantren, Bu Nyai Hj. Munifatul Barroh juga mengedukasi masyarakat mengenai sosialisasi kesetaraan gender melalui radio Salma Klaten dan Al-Hidayah Sukoharjo. Beragam materi fiqh perempuan tersebut disampaikan di sela-sela proses mengajarnya di Madrasah Aliyah Al Manshur dan di Kampus UNU Surakarta.{} Misykah Nuzaila Birohmatika

 

Published in Jaringan

Profil SR 51

Nyai Hj. Shinto’ Nabilah :

 

 

Menebar Manfaat untuk Umat

“Saya selalu terkenang dengan masa kecil saya. Kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan oleh orang tua saya, baik Ibu maupun Abah, membentuk saya menjadi seperti sekarang ini.”

Penuturan itu menjadi awal pembicaraan kami dengan Ibu Nyai Hj. Sintho’ Nabilah Asrori. Putri kedua pasangan almarhum KH. Asrori Ahmad (Tempuran Magelang) dan Ibu Nyai Hj. Ma’munatun (Rembang) Kholil ini mengisahkan masa kecilnya dengan sesekali menitikkan air mata. Peran orangtuanya dalam hal pendidikan, merawat diri, menjaga kebersihan, unggah-ungguh (tata krama), bergaul dengan orang lain, beliau rasakan sangat membekas hingga usianya yang ke-56 ini. Kesemuanya menjadi modal utama dalam menjalani kehidupannya.

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Hidayat yang beralamatkan di Kedunglumpang, Salaman, Magelang, Jawa Tengah ini menamatkan pendidikan dasarnya di SD I Prajegsari Tempuran Magelang. Di usia belia,beliau sudah diajarkan membaca dan memahami isi kitab berbagai cabang ilmu. Salah satu alasan ketertarikannya dalam mendalami kitab-kitab tersebut karena sang ayah adalah seorang penerjemah puluhan kitab klasik. Inilah yang menjadi inspirasi beliau hingga akhirnya kini berhasil menyusun kitab panduan fiqh keseharian dan telah dipakai rujukan dalam pembelajaran fiqh di berbagai pesantren. Selain kitab Fasholatanbeliau juga menyusun buku syi‘iran berbahasa Jawa.

Sintho’ kecil sering diajak silaturrahim ke para ulama’ oleh orang tuanya. Sowan yang mentradisi hingga sekarang ini menjadikan beliau dikenal sebagai orang yang enthengan (senang bersilaturahim). “Harapan saya, sampai akhir hayat saya selalu dimudahkan untuk mengunjungi orang sakit, orang susah dan orang yang membutuhkan,” tutur perempuan yang pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja ini. “Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika diajak silaturahim ke Ibu Nyai Nuriyah Lasem Rembang Jawa Tengah, Ibunda KH.Ali Maksum Jogjakarta. Ibu saya asli Rembang, jadi ke Lasem lumayan sering. Bertemu dengan Ibu Nyai Nuriyah membuat kagum dan tergugah. Beliau perempuan yang hafal Tafsir Jalalain, ” lanjut Ibu Nyai.

Dalam sebuah kesempatan, pada tahun 1971 beliau ikut hadir dan mendengarkan pidato pengajian oleh Ibu Nyai Elok Faiqoh dari Jember. Duduk di barisan pertama, membuat beliau dengan jelas mendengarkan setiap kata dan gaya pidato penceramah perempuan itu. Dalam hati beliau berdoa agar suatu saat beliau juga mampu menyampaikan ilmu kepada masyarakat. Menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

Cerita lain penghafal al-Qur’an ini, pernah suatu kali Ayahnya mendatangkan KH. Hamdani seorang Hafidz Mangkuyudan Solo untuk sima’an Alquran. Alih-alih penyima’nya jama’ah laki-laki semua, Sintho’ kecil diminta menyima’ dekat dengan sang Hafidz. Kekagumannya terhadap bacaan Alquran yang indah, membuatnya bercita-cita menjadi seorang penghafal al-Qur’an.

Setamat pendidikan sekolah dasarnya, Sintho’ dipesantrenkan di Pesantren Mathaliul Falah Kajen, Pati pada tahun 1972. Saat itu beliau diantar oleh neneknya, Nyai Masfi’atun Kholil. Neneknya menghadap pengasuh sambil menyampaikan harapannya bahwa sang nenek ingin Sintho’ menjadi obor. Mendengarnya Sintho’ tidak bisa mengartikan maksud perkataan itu. Hingga akhirnya saat dewasa beliau mencoba mencerna kata-kata sang nenek. Obor beliau artikan sebagai penerang.

Selesai pendidikan Ibtidaiyah di Pati, beliau diminta KH. Ma’mun Kholil pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang yang juga pamannya untuk melanjutkan pendidikan di pesantrennya. Kyai Ma’mun mendidik Sintho’ menjadi pribadi yang kuat, sehingga selain mengikuti pendidikan formal di MTs dan MA Muallimat beliau juga aktif di organisasi intra sekolah. Bahkan beliau sempat terpilih menjadi ketua OSIS selama dua periode. Rupanya bermula dari organisasi ini mulai tumbuh semangat perjuangannya. Baginya perjuangan itu dimana saja dan tidak harus menjadi ketua.

Selain aktif di OSIS, beliau juga beberapa kali menjadi peserta terbaik dalam lomba Pramuka. “Berkah prestasi ini saya diberikan kesempatan study banding di sekolah unggulan di Kudus. Saat itu saya diminta memberikan sambutan. Saya bersyukur, meskipun saya orang ndeso, tapi diberikan pengalaman yang luar biasa,” kata Ibu Nyai Sintho’ dengan penuh semangat.

Di Rembang, manis pahit perjuangan beliau rasakan. Kiriman yang sering telat sudah menjadi hal biasa yang tidak menggugurkan semangat belajarnya. Beliau menyadari kondisi ekonomi orang tuanya yang memprihatinkan sehingga membuatnya berpikir keras agar tidak terlalu memberatkan orang tuanya yang juga membiayai ke-delapan saudaranya. Hal ini yang membuat beliau tidak gentar saat dicemooh teman-teman sekolahnya karena berjualan tape singkong dan kerupuk. Beliau selalu teringat perkataan ayahandanya, “Jika dicaci jangan benci, jika dipuja jangan bangga”.

Satu tahun di Rembang, Sintho’ mulai menjadi perbincangan masyarakat. Sosoknya mampu menarik perhatian. Permintaan mengajar privat dan undangan pengajian mulai berdatangan. Di saat mendengar kabar bahwa teman-teman di kampungnya sudah menikah bahkan sudah mempunyai anak, Sintho’ justru termotivasi untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin. “Bagaimana akan mempunyai generasi yang shalih dan shalihah solihah, kalau ibunya tidak berpendidikan?” kata perempuan yang lahir pada 18 Maret 1960 ini.

Tiba saatnya beliau meninggalkan Rembang untuk pulang ke kampung halamannya. Dalam hal pendidikan tidak ada kata diskriminasi dalam kamus keluarganya. Walaupun jenjang pendidikannya paling tinggi dibanding perempuan lain di desanya, Sintho’ dirasa belum cukup. Ayahnya pun membawa beliau ke pesantren al-Hidayat Berjan Purworejo bersama tiga adik laki-lakinya. Di sinilah Allah swt. mempertemukan jodohnya, KH. Ahmad Lazim Zaeni, laki-laki ‘alim yang humoris pembimbing adiknya di pesantren menjadi pilihan hatinya. Pada tahun 1983 beliau menikah dan menetap sementara di rumah mertuanya, sambil tetap melanjutkan perjuangannya di organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama.

Tempat baru tidak menjadikan beliau canggung dalam berorganisasi. Namanya pun lambat laun mulai dikenal oleh masyarakat. Kiprahnya di organisasi itu mejadikan perempuan-perempuan di masyarakatnya bangkit, baik dalam hal pendidikan, ekonomi, sosial dan lain sebagainya. “Berawal dari organisasi, dari teman-teman itu ada yang pengen jadi santri. Lha, bagaimana? saya saja belum punya pondok. Mereka ini agak memaksa, ya Alhamdulillah mertua menyediakan kamar untuk mereka,” tutur Ibu dari lima anak ini.

Pesantren di rumah mertuanya berlangsung selama 4 tahun. Pada tahun 1990 beliau boyong ke rumah sendiri dan membangun pemondokan sederhana. Keaktifannya bererorganisasi tidak mengurangi intensitasnya mengajar di pesantren. Manajemen waktu yang diajarkan orangtua, bekal pendidikan di pesantren dan dukungan suaminya turut memuluskan setiap aktivitasnya.

Seiring berkembangnya pesantren yang beliau asuh, beliau juga mempunyai santri perempuan lanjut usia. Berawal dari tiga orang yang ingin mengaji dari dasar, kini santri sepuhnya berjumlah kurang lebih 300 orang. Santri yang dikenal dengan sebutan S3 (Santri Sudah Sepuh) ini mengkaji berbagai kitab. Dari Fasholatan hingga tafsir Alquran. Adapun yang mengajar adalah dari santri-santri menetap yang dirasa sudah mampu.

Datang seminggu sekali di hari Selasa, tidak sedikit dari santri S3 ini yang juga meminta solusi berbagai persoalan. Meskipun direpotkan dengan berbagai keluhan mereka, Ibu Nyai Sintho’ tetap merasa bersyukur bahwa mereka menyadari bahwa setiap masalah harus dicarikan jalan keluar. Menurutnya, sekecil apapun masalahnya jika tidak langsung dicari solusinya akan menimbulkan masalah baru. “Terlebih persoalan-persoalan perempuan. Kalau perempuannya baik, dalam arti baik perilakunya dan baik kondisinya maka negaranya akan baik. Jadi kalau ada yang berlaku tidak baik pada perempuan atau perempuan tidak baik karena ada sesuatu yang tidak baik, maka kita berfikir bersama mencari jalan keluar,” imbuh perempuan yang senang mengajak jamaahnya untuk membaca wirid dan kini terpilih menjadi Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Kecamatan Salaman Magelang ini.

Ditanya soal pernikahan anak, beliau menjawab dengan cerita santrinya. “Ini salah satu dari kesekian banyak kasus yang saya hadapi. Ada santri lulus SMP. Ini kenapa anak kok murung terus. Baca Alquran belum bagus. Anaknya juga kurang tanggap dengan kebersihan. Kemproh kalau bahasa Jawanya. Ternyata sudah dijodohkan sama seorang calon kyai dan 1 tahun lagi dinikahkan. Bapaknya pengen ngalap berkah sama calon menantunya itu. Saya prihatin, saya panggil bapaknya. Padahal dia kyai juga. Saya bilang saja anaknya belum bisa baca Alquran. Lalu saya tanya, apa mau punya cucu yang bodoh? Akhirnya bapaknya nurut,” cerita alumni PUP Rahima angkatan pertama ini sambil tersenyum.

“Kalau masih kecil kok kebelet nikah, itu kan karena yang dia tahu cuma enaknya. Mungkin sering lihat pornografi atau pornoaksi di TV atau internet. Jadi harus kita ajak untuk berkegiatan yang positif, menyenangkan sesuai dengan usia mereka,” imbuh pengasuh pesantren dengan juara I Sanitasi se Jawa Tengah ini. {} Ulya Izzati

 

Published in Profil
Page 1 of 2